Jelang magrib, 30 Ramadhan 1447 KHGT. Sebentar lagi masa iktikaf berakhir. Tahun- tahun lalu, jam begini artinya adalah saatnya segera datangnya kebahagiaan tahunan. Selepas salat magrib pulang ke rumah. Berkemas. Lalu tancap gas menuju kampung halaman dengan hati berbunga-bunga. Kumpul dengan ayah ibu dan saudara-saudara di kampung kelahiran. Kampung tempat menikmati masa kecil yang penuh kebahagiaan.
Kumpul seru. Ayah, ibu, lima bersaudara, para ponakan, para cucu. Banyak sekali. Bapak ibu punya 22 cucu. Bapak adalah satu-satunya bersaudara yang masih ada. Sudara-saudara bapak semua sudah meninggal. Ibu adalah anak tunggal. Jadi praktis bapak ibu menjadi tempat berkumpulnya anak cucu saudara-saudara.
Ungkep mentok. Atau ungkep entok. Ini adalah menu tradisi lebaran ibu. Mentoknya sembelihan dari kandang sendiri. Bapak ibu memang selalu punya peliharaan binatang bernama latin cairina moschata itu untuk konsumsi sendiri. Telurnya yang besar adalah sumber protein bagi kami bersaudara. Dagingnya apa lagi. Masih ada lagi: bulu mentok laku dijual. Secara periodik ada pengepul datang ke rumah untuk membeli bulu mentok.
Ungkep mentok. Mirip rica-rica. Tapi beda. Jauh lebih lezat. Tiada duanya. Anak ponakan cucu cicit semua menyukainya. Makan dengan lahap. Dinikmati sepulang salat id. Sebelum tetangga dan kerabat berdatangan menemui ibu bapak. Wow…..nikmatnya. Wow….lezatnya.
&&&
Ramadhan lima tahun lalu bapak dipanggil-Nya. Pejuang luar biasa bagi kami anak-anaknya. Bekerja keras menghadapi segala kesulitan. Menghadapi masa-masa kritis keluarga dengan kesatria. Akhirnya sukses mengantar kami berlima dengan pendidikan terbaik. Kakak saya adalah orang pertama di kampung kami yang kuliah. Kami adik-adiknya mengikuti jalan yang ketika itu ditempuh dengan kesulitan yang amat sangat.
Beberapa tahun sepeninggal bapak masih ada Ibu. Tapi tahun ini beda lagi. Karena kondisi, ibu harus pindah tinggal di rumah kakak. Meninggalkan rumah berstruktur kayu jati yang penuh kenangan. idul fitri tahun ini sudah tidak seperti tahun-tahun lalu. Keindahannya tinggal kenangan.
&&&
Desa Kaliabu, 1 Syawal 1447 KHGT. Waktu berlalu dengan cepat. Lebaran ini saya bersama keluarga masih mudik di wilah Kecamatan Mejayan, Caruban, Madiun itu. Memang tidak ideal seperti dulu. Tapi masih ada sisa-sisa kebahagiaan. Ibu didatangkan kembali. Rumah dengan struktur 20 terbil dibersihkan kembali untuk ditinggali selama beberapa hari idul fitri. Adik bungsu masih memasak ungkep mentok. Mentoknya beli di pasar. Mengais sisa kebahagiaan. Ini bisa disebut lebaran transisi. Kebahagiaan transisi.

Kini saya adalah kakek dari Nasywa Integral Bratandari dan Kafkania Bil Jihadi. Dua cucu nan lucu menggemaskan. Insyaallah akan terus bertambah. Insyaallah kelak akan ada cicit. Bahkan anaknya cicit. Ketika kebahagiaan idul fitri di Caruban kelak akan benar-benar sirna, akan muncul kebahagiaan baru bersama Nasywa dan Kafkania.
Tapi itu tidak bisa sekarang. Saat ini masih masa transisi. Si kembar masih kuliah di tempat yang jauh. Penerbangan pulang beserta transitnya di beberapa bandara butuh waktu hampir 24 jam. Hari raya ini mereka tidak pulang. Suasana seperti ini nyaris selalu terjadi dari tahun ke tahun. Ada saja dari delapan anak-anak saya yang tidak bisa pulang meninggalkan tempat belajarnya yang jauh. Masih ada 2 lagi adik si kembar yang kelak insyaallah juga mengikuti jejak kakak-kakaknya. Keseruan lebaran yang baru belum benar-benar muncul. Tapi alhamdulillah masih ada masa transisi. Menikmati sisa-sisa keseruan lebaran di kampung.
Pembaca yang baik, itulah hidup. Ungkep mentok pergi. Kebahagiaan akan pergi. Ada masa transisi. Akan ada kebahagiaan pengganti insyaallah. Silih berganti. Bahkan kehidupan juga datang dan pergi. Silih berganti.
Bisnis pun silih berganti. Dulu ada pasta gigi Odol. Kini hilang dari pasar. Korporasi juga. Dulu ada Jamu Nyonya Meneer. Kini tiada. Banyak perusahaan yang dulu digdaya kini sirna. Datang dan pergi. Sesuatu yang memang diciptakan-Nya untuk menguji kualitas manusia. Maka dalam datang perginya hidup, dalam datang dan perginya kebahagiaan, sudahkah kita menjadi hamba-Nya yang lebih baik? Selamat idul Fitri 1447 Hijriah. Taqobalallahu minna wa minkum. Mohon maaf atas segala khilaf. Dari kami, Iman supriyono sekeluarga.
Artikel spesial Idul Fitri ini adalah Karya ke 517 Iman Supriyono yang ditulis di Desa Kaliabu, sekitar 5 km arah selatan Kota Caruban, ibu kota Kabupaten Madiun, 1 Syawal 1447 KHGT