Category Archives: Uncategorized

Rugi Pertamina – PLN: Rumor atau Fakta?


Belakangan ramai menjadi pembicaraan di dunia maya. Pertamina dan PLN rugi. Benarkah? Atau hanya rumor? Mari kita telusuri kebenarannya. Saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin.

  1. Pertamina dan PLN keduanya adalah badan hukum Perseroan Terbatas alias. Dengan demikian, kita mesti menelusuri kebenaran informasi kerugian itu dari sumber yang sah bagi sebuah badan hukum PT
  2. Otoritas tertinggi dalam sebuah PT berada pada tangan para pemegang saham melalui RUPS. Tetapi otoritas tertinggi ini dalam tata kelola PT tidak dijalankan sendiri. Sejak PT berdiri para pemegang saham mendelegasikan otoritas ini kepada direksi yang dipimpin oleh direktur utama
  3. Sampai dengan saat saya menulis artikel ini, belum ada pencabutan wewenang direksi baik di Pertamina maupun di PLN. Dengan demikian sampai saat ini direksilah yang menjadi sumber valid kebenaran informasi bahwa Pertamina dan PLN mengalami kerugian. Semua informasi di luar informasi direksi sifatnya diluar otoritas. Dengan demikian sifatnya hanyalah rumor atau bahkan tidak valid.
  4. Apakah sumber dari direksi selalu bisa dipercaya? Ya. Mengapa demikian? Karena saat RUPS untuk menunjuk direksi, para pemegang saham telah memastikan bahwa direksi bisa dipercaya dengan dua cara. Pertama, para pemegang saham menunjuk komisaris yang berfungsi sebagai pengawas. Pengawas itu bekerja seperti polisi lalu lintas di jalan raya yang sedang mengawasi para pengemudi kendaraan. Para pengemudi ini analogi dengan direksi. Polisi lalu lintas tidak perlu dilapori oleh para pengemudi. Tapi tanpa laporan para pengemudi pun polisi lalu lintas bisa tahu jika terjadi pelanggaran. Peluitnya sewaktu waktu bisa berbunyi dan menghentikan pengemudi yang salah. Demikian juga komisaris. Tanpa dilapori oleh direksi, komisaris dituntut tahu jika direksi salah. Bahkan dalam Undang undang PT komisaris bisa menghentikan direksi sewaktu waktu jika ada kesalahan yang tidak bisa ditolerir. Penghentian ini dalam waktu 30 hari harus dilaporkan kepada pemenang saham melalui RUPS. Direksi diberi kesempatan untuk membela diri. RUPS kemudian mengesahkan atau  membatalkan pemberhentian tersebut
  5. Cara kedua, RUPS menetapkan kantor akuntan publik yang akan melakukan audit terhadap laporan keuangan. Jika hasil audit jelek, RUPS bisa sewaktu-waktu memberhentikan direksi.
  6. Ada sebagian orang yang mungkin karena termakan teori konspirasi membantahnya dengan mengatakan bahwa akuntan publik bisa diatur. Memang ada peluang untuk seperti ini. Tapi akuntan publik yang melakukan hal itu berarti  sedang melakukan bunuh diri. Mengapa? Hasil audit yang buruk bisa di-restate oleh akuntan publik yang mengaudit pada tahun berikutnya. Restate artinya hasil auditnya tidak dipakai. Jika ini terjadi maka kredibilitasnya akan jatuh. Padahal kredibilitas adalah “dagangan” utama akuntan publik
  7. Nah, sampai dengan saat ini otoritas baik PLN maupun Pertamina masih di tangan direksi. Dengan kondisi di atas,  maka mari kita cek kebenaran informasi bahwa PLN dan Pertamina rugi melalui laporan keuangan
  8. Sumber resmi laporan keuangan adalah di website resmi kedua perusahaan itu. Mari kita lihat pertamina. Laporan terakhir yang sudah dipublikasikan di web adalah semester pertama tahun 2021. Ini adalah sebuah keterlambatan karena saat ini sudah akhir bulan Mei. Artinya, waktu hampir 5 bulan tidak cukup bagi manajemen Pertamina untuk menyelesaikan laporan keuangan dan proses auditnya. Perusahaan besar lain seperti BRI misalnya bahkan sudah mempublikasikan laporan triwulan pertama tahun 2022. Mungkin akan dibantah bahwa BRI melakukan hal itu karena merupakan perusahaan tercatat di lantai bursa. Tapi bantahan ini tidak tepat karena mestinya perusahaan non-listed lebih sederhana untuk melakukannya.
  9. Laporan semester pertama 2021 Pertamina membukukan pendapatan USD 25,1 miliar alias Rp 367 triliun kurs hari ini. Setelah dikurangi seluruh biaya, omzet tersebut menyisakan laba komprehensif sebesar USD 239 juta alias Rp  3,5 triliun. Berdasarkan laporan ini, tidak benar jika dikatakan bahwa Pertamina rugi
  10. Tetapi memang ini adalah laporan semester pertama tahun 2021. Tapi mari kita lihat neracanya. Sampai akhir semester pertama 2021 Pertamina memiliki saldo laba sebesar USD 13,6 miliar alias Rp 199 triliun. Andai semester kedua 2021 dan triwulan pertama 2022 rugi, tidak akan mengurangi saldo laba sampai nol
  11. Mari kita lihat PLN. Idem dengan Pertamina, laporan terbaru yang ada adalah semester pertama 2021. Pendapatannya adalah Rp 176 triliun. Setelah dikurangi seluruh beban, omzet tersebut masih menyisakan laba komprehensif sebesar Rp 5,9 triliun. Saldo laba sampai dengan semester tersebut adalah Rp 143 triliun. Idem dengan Pertamina, juga tidak benar jika dikatakan bahwa PLN rugi.
  12. Secara arus kas operasional pun, pada periode tersebut PLN positif Rp 26 triliun. Sayang, Pertamina tidak menyampaikan laporan arus kas nya.
Rumor atau fakta?

Jadi, jika ada informasi yang mengatakan bahwa Pertamina dan PLN mengalami kerugian, itu sifatnya baru rumor. Bukan informasi yang keluar dari pemegang otoritas aset Pertamina maupun PLN.

Artikel ke-365 karya Iman Supriyono ini ditulis di SNF Consuliting House of Management, Surabaya, 24 Mei 2022

Baca juga:
Garuda, pailit atau korporatisasi?
Krakatau Steel: Tercekik Utang

Raja Utang: Mengapa Bunga Bank Selangit?
Garuda: Utang Melebihi Aset

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Ramadhan Eksekusi


Ketika ditanya tentang pekerjaan, secara agak berkelakar saya jawab begini: 50% rapat. Lalu yang 50% sisanya apa? Persiapan rapat….hehehehe.  Jadi kalau suatu saat saya sedang tidur-tiduran di teras sebuah masjid setelah selesai salat misalnya. Lalu ada yang protes terkait jawaban saya tersebut.  Saya akan menjelaskan bahwa tidur- tiduran itu adalah bagian dari persiapan rapat. Persiapan energi untuk rapat yang sudah terjadwal berikutnya heheheheh.

Selain kelakaran, jawaban tersebut juga mengandung sisi agak serius. Tidak lain berupa pertanyaan lanjutan. Jika kerjanya rapat melulu, lalu kapan eksekusinya? Nah ini menarik. Kerja seorang konsultan manajemen seperti saya ini memang dari satu meja rapat ke meja rapat lain. Jadi murni rapat. Lalu bagaimana eksekusinya? Eksekusi bukan tugas seorang konsultan. Eksekusi adalah tugasnya para direksi perusahaan.

Memang peserta dari rapat ke rapat umumnya adalah para direksi. Para direksi perusahaan klien kantor saya, SNF Consulting. Nah, direksi itu kalo di tata kelola korporasi USA disebut executive director. Pimpinan para executive director ini disebut chef executive officer alias CEO.  Pimpinanya para eksekutif. Sesuai namanya, tentu saja tugasnya adalah melakukan eksekusi. Eksekusi terhadap keputusan perusahaan.

&&&

Pembaca yang baik, eksekusi adalah masalah yang sangat krusial dalam kinerja sebuah perusahaan. Diibaratkan sorang yang sedang berjalan, eksekusi adalah langkah salah satu kaki. Kaki lainya adalah keputusan yang baik. Jadi, keputusan yang baik dengan eksekusi yang baik adalah ibarat sepasang kaki yang bisa membuat sesorang bisa berjalan dengan laju. Bisa berlari kencang.

Eksekusi dan keputusan: ibarat kaki kiri dan kanan

Keputusan yang baik dibuat di meja rapat perusahaan. Di situlah peran konsultan dibutuhkan. Konsultan manajemen memastikan keputusan terbaik baik dengan data dan benchmark berbagai perusahaan. Inilah bekal seorang konsultan. Inilah fungsi ruang rapat perusahaan dimana para konsultan bekerja.

Sedemikian pentingnya arti sebuah eksekusi, sampai banyak sekali buku ditulis tentang topik ini. Salah satunya adalah tulisan Larry Bossidi bersama Ram Charan. Keduanya adalah konsultan manajemen ternama di kalangan para direksi perusahaan-perusahaan penguasa utama berbagai negara. Judulnya adalah “Execution the Discipline of Gettng Things Done”. Pada buku yang populer di kalangan bisnis tersebut disebut bahwa perilaku pemimpin adalah building block pertama sebuah eksekusi yang baik. Pemimpin mestilah memiliki karakter yang kuat.

&&&

Karakter yang kuat. Nah….inilah yang mestinya diperoleh dari apa yang telah kita tempuh selama sebulan menjalankan puasa Ramadhan. Menegakkan salat tarawih pada saat mestinya kita sedang waktunya beristirahat nyaman. Makan sahur pada saat mestinya sedang lelap-lelapnya tidur. Tidak makan tidak minum dari terbit fajar sampai tenggelam matahari tanpa pengawasan siapa pun selain Allah. Itulah ritual sehari hari Ramadhan yang jika dijalani penuh kesadaran akan menjadi sarana penguatan karakter.

Maka, jika Anda sorang pelaku bisnis di perusahaan mana pun, Ramadhan yang kita jalani adalah bekal untuk perbaikan karakter. Sukses dan tidaknya puasa Ramadhan bisa kita lihat dari sejauh mana karakter setahun ke depan menjadi lebih baik. Bagi Anda para pelaku bisnis, batu ujinya sederhana. Sejauh mana eksekusi dari keputusan-keputusan perusahaan selama ini. jika eksekusinya baik maka itu adalah penanda bahwa karakter Anda sebagai pemimpin bisnis sudah memenuhi syarat. Jika ternyata eksekusi keputusan tidak baik, itu adalah penanda sebaliknya. Bahwa eksekusi pada perusahaan Anda sangat buruk. Memang bisa saja eksekusi yang buruk diakibatkan oleh keputusan yang buruk. Itu bisa saja terjadi. Tetapi, mari berintrospeksi. Sukseskah Ramadhan tahun ini?

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Artikel ke-364 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Mei 2022

Baca juga:

Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Garuda, pailit atau korporatisasi?
Krakatau Steel: Tercekik Utang

Raja Utang: Mengapa Bunga Bank Selangit?
Garuda: Utang Melebihi Aset

Kesetiaan Pearson: Penerbit Terbesar Dunia


“We are Pearson. Our purpose is to help everyone achieve their potential through learning”. Kami Pearson. Tujuan kami adalah untuk membantu setiap orang menggapai potensi mereka melalui belajar. Pearson adalah sebuah perusahaan penerbitan.  Itulah pernyataan pembuka laporan tahunan terbaru Pearson. Sebuah perusahaan penerbitan terbesar dunia yang pada tahun 2020 omzetnya Rp 63 triliun.

“We add life to a lifetime of learning. We’re the world’s leading learning company, dedicated to helping everyone realize the life they imagine”. Kami menambahkan kehidupan untuk pembelajaran seumur hidup. Kami adalah perusahaan pembelajaran terkemuka di dunia, berdedikasi untuk membantu semua orang mewujudkan kehidupan yang mereka bayangkan. Ini adalah kalimat-kalimat pada halaman depan website perusahaan yang melayani pembelajar di lebih dari 200 negara itu. Perusahaan yang mempekerjakan lebih dari 20 ribu karyawan.

Pada laporan tahunan terbarunya, Pearson benar-benar menunjukkan kedigdayaannya sebagai sebuah korporasi di bidang pembelajaran. Perusahaan yang melantai di London Stock Exchange dan New York Stock Exchange ini membukukan laba bersih sebesar  Rp 5,8 triliun. Nilai pasarnya Rp 108 triliun.

&&&

Sejarah Pearson berawal dari tahun 1724 ketika Thomas Longman mendirikan Longman sebagai sebuah perusahaan penerbitan. Tahun 1843 James Wilson, pembuat topi dari kota kecil di Skotlandia, Hewick, memulai The Economist untuk berkampanye menentang undang-undang jagung. Tahun 1844 Samuel Pearson & Son mendirikan perusahaan bangunan kecil di Huddersfield di utara Inggris. Tahun 1848 G. Putnam Broadway, cikal bakal Putnam didirikan. Tahun 1880 Westman Dickinson Pearson, cucu Samuel Pearson dan kemudian First Viscount Cowdray, mengambil alih perusahaan. Tahun 1887 The Financial Mining News, pendahulu dari Financial Times, didirikan.  Tahun 1890 Westman Pearson memindahkan Pearson ke London dan mulai mengerjakan proyek di luar negeri, termasuk partisipasi dalam Proyek Terowongan Sungai Timur di New York. Tahun 1987 Pearson didirikan sebagai S. Pearson & Sons, Inc.

Bacalah!

Tahun 1900-an Pearson mulai melakukan diversifikasi ke bidang lain selain konstruksi, terutama minyak dan tenaga listrik. Tahun 1907 Pearson & Son Ltd. menjadi perusahaan induk. Tahun 1909 Scott, Foresman mulai menerbitkan buku-buku sekolah dasar. Tahun 1911 Scott, Foresman menjadi penerbit pertama yang menggunakan proses empat warna untuk mencetak buku teks perguruan tinggi. Tahun 1913 Prentice-Hall didirikan oleh Profesor Charles W. Gerstenberg dan Richard P. Ettinger. Para pendiri mengambil nama dari nama gadis dari dua ibu mereka. Tahun 1920-an Pearson mulai mengakuisisi surat kabar provinsi Inggris yang akhirnya membentuk fondasi Westminster Press. Perusahaan juga masuk ke perbankan dan mengakuisisi saham substansial di Lazard Brothers & Company, bank dagang di London.

&&&

Pembaca yang baik, di atas adalah secarah tiga abad pertama dari sebuah perusahaan yang kini dikenal sebagai Pearson. Lengkapnya Pearson Plc. Tiga abad dilalui, masih banyak puzzle yang tidak nyambung. Memang benar. Kepingan-kepingan sejarah itu baru akan bersambung jika catatan sejarah kita lanjutkan satu abad lagi. Dilanjutkan sampai hari ini.

Satu abad terakhir sejarah Pearson dipenuhi dengan berbagai aksi konsolidasi. Divestasi, akuisisi dan merger. Longman, The Economist, Putnam, Prentice-Hall, adalah sebagian dari perusahaan-perusahaan yang akhirnya menjadi bagian dari Pearson saat ini melalui proses merger dan akuisisi. Jadilah Pearson sebagai perusahaan yang benar-benar digdaya dalam melayani proses pembelajaran masyarakat dunia. Divestasi dilakukan untuk bisnis yang tidak terkait dengan pembelajaran. Akuisisi dan merger dilakukan terhadap perusahaan-perusahaan di bidang pembelajaran. Fokus menjadi perusahaan layanan pembelajaran.

Bahkan pandemi dan teknologi online yang mengobrak-abrik dunia bisnis tidak menjatuhkan Pearson. Pearson tetap eksis. Teknologi online diadopsi melalui akusisi perusahaan pembelajaran online.  Jadilah Pearson tetap menghasilkan laba. Inilah hasil dari sebuah ketekunan. Hasil kesetiaan pada core competence. Kesetiaan pada revenue and profit driver yang dipilihnya. Mari belajar dari kesetiaan Pearson.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Artikel ke-363 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi April 2022

Baca juga:
Garuda, pailit atau korporatisasi?
Krakatau Steel: Tercekik Utang

Raja Utang: Mengapa Bunga Bank Selangit?
Garuda: Utang Melebihi Aset

Menjadi Korporasi Sejati


Ada 3 karakteristik utama korporasi sejati. Pertama, tidak ada pemegang saham pengendali. Pemegang saham pengendali artinya adalah satu entitas, bisa perorangan maupun badan hukum, yang memiliki saham lebih dari 50% pada perusahaan itu. Dan yang penting, tidak adanya saham pengendali ini tidak dicapai dengan penjualan saham yang dimiliki oleh pendiri atau para pendiri.

Tidak adanya penjualan oleh pendiri ini penting. Karena dengan demikian berarti proses penurunan persentase kepemilikan saham oleh pendiri atau para pendiri berjalan karena perusahaan terus menerus menerbitkan saham baru.

Misal, PT Nikmat Resto Mendunia (NRM) didirikan dengan 1000 lembar saham dengan nilai Rp 1 juta per lembar saham. Para pendirinya adalah pak A, dan pak B. Masing-masing memiliki saham 600 lembar dan 400 lembar.

NRM yang bergerak di bidan resto ini terus berekspansi dengan menambah jumlah gerai. Pertama berdiri hanya memiliki 1 gerai. Sepuluh tahun pertama terus mendirikan gerai baru dari laba gerai yang dimiliki. Akhir tahun ke 10 telah memiliki 10 gerai.

Nilai asetnya adalah Rp 10 miliar. Sumber aset tersebut sebagaimana terbaca dari sisi kanan neracanya adalah modal disetor Rp 1 miliar, laba ditahan Rp 6 miliar. Dan utang Rp 3 miliar.  Pendapatan alias omzetnya adalah 10 x Rp 3 miliar alias Rp 30 miliar. Labanya adalah 10 x Rp 400 juta alias Rp 4 miliar. Semua laba  menjadi hak A dan B sebagai pendiri. Dengan demikian ROI pendiri adalah Rp 4 miliar dari investasi Rp 1 miliar alias 400%.

Perhatikan hal pentingnya. Perusahaan telah mampu membuat hubungan linier antara aset, omzet (revenue), dan laba (profit). Artinya, perusahaan ini telah menemukan apa yang disebut sebagai Revenue and Profit Driver (RPD). Perusahaan telah siap untuk melakukan scale up dengan copy and paste gerai-gerainya.

Dalam rangka scale up, pada tahun ke-11, GHI berekspansi dengan menerbitkan saham baru sebesar 100 lembar. Saham dijual kepada perusahaan investasi C dengan harga Rp 50 juta per lembar. Dengan demikian NRM mendapatkan uang Rp 5 miliar dan semuanya digunakan untuk membangun gerai baru. Pada akhir tahun ke 11 perusahaan telah memiliki 15 gerai dengan nilai aset Rp 15 miliar. Omzet 15 x Rp 3 miliar alias Rp 45 miliar. Laba 15 x Rp 400 juta alias Rp 6 miliar.  Linieritas sebagai syarat RPD telah dicapainya.

Para pendiri yaitu A dan B semula memiliki 1000 lembar saham dari total 1000 lembar yang telah diterbitkan alias 100%. Kedatangan IC menjadikan saham A dan B sebagai pendiri terdilusi menjadi 1000 lembar dari 1100 lembar. Secara persentase turun menjadi 91%. Sisanya yaitu 100 dari 1100 alias 9% dimiliki oleh C.

Aksi korporasi ini mengakibatkan nilai pasar perusahaan (market value) menjadi 1100 x Rp 50 juta alias Rp 55 miliar. Hak laba A dan B menjadi 91% dari Rp 6 miliar alias Rp 5,46 miliar. ROI adalah Rp 5,46 miliar dari investasi Rp 1 miliar yaitu 546%. Naik drastis dibanding sebelum kedatangan perusahaan investasi C. Si C sendiri mendapatkan hak laba 9% dari Rp 6 miliar alias Rp 540 juta. ROI si C yaitu Rp 540 juta dari investasi Rp 5 miliar alias 10,8%.

Tahun ke-12 perusahaan berekspansi lagi dengan membangun 10 gerai baru. Scale up.  Kebutuhan modal Rp 10 miliar. GHI memperolehnya dengan menerbitkan saham baru sebesar 100 lembar lagi dengan harga Rp 100 juta per lembar. Pembelinya adalah investment company D. Dengan demikian total jumlah lembar saham perusahaan menjadi 1200 lembar. Kepemilikan A dan B sebagai pendiri menjadi 1000 dari 1200 alias 83%. Mengalami dilusi bukan karena menjual 1000 lembar saham yang dimilikinya, tetapi karena perusahaan menerbitkan saham baru. Kepemilikan C juga terdilusi menjadi 100 dari 1200 alias 8,3%.

Aksi korporasi ini menjadikan perusahaan memiliki 25 gerai. Asetnya Rp 25 miliar.  Laba menjadi 25 x Rp 400 juta alias Rp 10 miliar.  Nilai pasar menjadi 1200 x Rp 100 juta alias Rp 120 miliar. Nilai pasar aset A dan B menjadi 1000 X Rp 100 juta alias Rp 100 miliar. Nilai aset C menjadi 100 x Rp 100 juta alias Rp 10 miliar alias sudah naik 2x lipat dibanding saat C masuk.

Hak laba A dan B sebagai pendiri menjadi 83% dari Rp 10 miliar yaitu Rp 8,3 miliar alias ROI 8300%. Hak laba C menjadi 8,3% dari Rp 10 miliar yaitu Rp 830 juta. ROI si C menjadi Rp 830 juta dari investasi Rp 5 miliar alias 16,6%. Meningkat hampir 2x lipat dibanding ROI tahun sebelumnya.

Tahun-tahun berikutnya perusahaan terus menerus menambah gerai dengan menerbitkan 100 lembar saham. Harga tiap tahun naik dari Rp 100 juta pada tahun ke 12 menjadi 200 juta pada tahun ke 13. Menjadi Rp 400 juta pada tahun ke 14. Menjadi Rp 800 juta pada tahun ke 15 dan seterusnya hingga Rp 51,2 triliun pada tahun ke 21. Investornya adalah perusahaan investasi C, D, E dan seterusnya sampai dengan perusahaan investasi M pada tahun ke-21.

Singkat cerita, pada tahun ke 21 perusahaan telah 11 x menerbitkan saham masing-masing 100 lembar alias telah menerbitkan 1100 lembar. Dengan demikian total lembar saham menjadi 2100 lembar. Dengan demikian presentasi saham A dan B sebagai pendiri menjadi 1000 dari 2100 alias 47,6%. Dengan demikian perusahaan sudah tidak ada lagi yang namanya pemegang saham pengendali. Tidak ada lagi pemegang saham yang bisa membuat keputusan mutlak. Perusahaan telah memenuhi karakteristik pertama korporasi sejati. Tidak ada “raja” yang bisan mengambil keputusan mutlak. Tidak ada lagi “sabda pandita ratu” yang setiap kata-kata dan keputusannya menjadi “undang-undang”.

Tidak adanya raja menjadikan segala sesuatu dijalankan berbasis sistem. Kenaikan jabatan para pegawai murni ditentukan berdasarkan kinerja. Bukan like dislike si raja. Pemilihan direksi dilakukan di RUPS berdasarkan voting para pemegang saham kecil-kecil. Saham si C misalnya hanya memiliki suara 100 dari 2100 alias 4,8%. Dalam kondisi seperti ini para pemegang saham hanya akan melihat kinerja manajemen. Tidak ada like dislike. Saat inilah perusahaan benar benar-benar dijalankan berdasarkan sistem manajemen.

Yang menarik pada tahun ke 21 perusahaan telah memiliki 10 245 gerai. Total aset menjadi 10 235 x Rp 1 miliar alias Rp 10,245 triliun. Laba perusahaan menjadi 10 245 x Rp 400 juta yaitu Rp 4,098 triliun. Hak laba A dan B sebagai pendiri menjadi 47,6% dari Rp total laba perusahaan yaitu Rp 1,95 triliun.

Adanya 10 245 gerai juga memunculkan piramida manajemen yang alami. Terbentuk sistem manajemen secara alami. Perusahaan memiliki 10 245 kepala toko. Jika setiap 10 toko disupervisi oleh seorang kepala wilayah maka akan ada 1 024 kepala wilayah. Jika tiap 10 kepala wilayah disupervisi oleh seorang GM maka masih akan ada 102 GM. jika setiap 10 GM disupervisi oleh seorang senior manager maka masih ada 10 senior manajer. Terbentuklah piramida manajemen secara alami. Pada saat yang sama mengakibatkan gap antara level menjadi lebih kecil. Jika ada seorang GM meninggal, tinggal dipilih dari 10 kepala wilayah terbaik yang selama ini menjadi bawahannya untuk menggantikannya. Dan seterusnya di mana pun ada sorang karyawan atau direksi meninggal pada posisi apapun, cukup mengambil salah satu anak buah terbaiknya untuk menggantikannya. Tidak perlu mengimpor personel atau direksi dari luar. Kaderisasi benar-benar berjalan dengan baik. Seperti di militer. Tidak pernah sebuah negara mengimpor jenderal dari negara lain saat seorang jenderal gugur di medan tempur.

&&&

Karakteristik kedua korporasi sejati adalah perusahaan mampu menarik investor dengan tuntutan ROI rendah yaitu sekitar 2-3% (per tahun). Saat C masuk, perusahaan investasi ini masih mengharapkan ROI 10,8%. Tapi, pada tahun ke-21 perusahaan investasi M mau membayar 100 lembar saham dengan harga total Rp 52,2 triliun. saat itu hak laba yang diproyeksikan adalah Rp 195 miliar. ROI adalah Rp 195 miliar dari investasi Rp 52,2 triliun alias 3,8%. Artinya, biaya modal (cost of capital) pada tahun ke 21 adalah 3,8%.

Jika diteruskan maka pada tahun ke-27 perusahaan investasi S masuk sebagai investor baru dengan ROI 3%. Pada saat inilah NRM telah memenuhi karakteristik kedua dari sebuah korporasi sejati.

Dengan biaya modal (cost of capital)  yang hanya 3% inilah NRM mampu berekspansi secara anorganik melalui akuisisi. Mengapa? Perusahaan ini bisa menawari para founder perusahaan target akuisisi dengan harga akuisisi sampai 33 laba. Bahkan menjdai 50x laba saat biaya modalnya 2%.

Misalkan perusahaan target akuisisi memiliki laba Rp 100 miliar. Perusahaan bisa menggelontorkan dana 33x laba alias Rp 3,3 triliun untuk mengakuisisinya. Dengan angka akuisisi ini maka perusahaan akan mendapatkan imbal hasil Rp 100 miliar dari dana Rp 3,3 triliun alias 3%. Persis sama dengan yang diharapkan oleh perusahaan investasi S yang berharap ROI 3%.

Pemegang saham perusahaan target akuisisi tergiur dengan harga akuisisi yang 33 x laba alias laba 33 tahun. Bahkan laba 50 tahun saat biaya modal perusahaan 2%.  Inilah alasan mengapa satu demi satu perusahaan lokal diakuisisi perusahaan asing. Susu SGM, Aqua, kecap bango, teh Sariwangi, bak BII, Astra International dan sebagainya.  Ekonomi kita satu demi satu jatuh ke tangan perusahaan asing dengan cara yang sangat smooth. Pemerintah mencatatnya sebagai masuknya investasi asing. Dipandang sebagai kinerja positif. Padahal mestinya terbalik. Mestinya pemerintah mendorong perusahaan negeri ini untuk menjadi seperti NRM yang melakukan akuisisi perusahaan sejenis di luar negeri. Menjadi bangsa investor. Bukan sebaliknya.

&&&

Karakteristik ketiga korporasi sejati adalah hadir dan menguasai pasar lebih dari 100 negara. Dengan demikian omzet dari satu negara rata-rata hanya berkontribusi tidak sampai 1% dari total omzet perusahaan. Maka seandainya ada gejolak politik atau ekonomi di sebuah negara dan terpaksa harus angkat kaki, akibatnya NRM hanya kehilangan omzet tidak sampai 1%. Pada saat inilah NRM sudah mampu memitigasi dari risiko ekonomi politik terburuk di negara mana pun.

Hadir dan menguasai pasar luar negeri dilakukan secara anorganik melalui akuisisi. Ini bisa terjadi karena cost of capital yang rendah. Karena perusahaan telah memenuhi karakteristik kedua korporasi sejati. Artinya, penguasaan pasar lebih dari 100 negara sebagai karakteristik ketiga korporasi sejati adalah konsekuensi logis dari karakteristik kedua.

&&&

Yes we can!

Anda para pendiri alias founder, CEO, komisaris, pemegang saham dan manajer perusahan negeri ini? Anda punya nasionalisme? Anda ingin mengibarkan sang merah putih tingi-tinggi di lebih dari 100 negara? Anda ingin Rupiah diterima di lebih dari 100  negara? Anda ingin memberi manfaat untuk umat manusia di lebih dari 100 bangsa dengan produk perusahaan Anda? Menjadi rahmatan lil alamin tanpa membeda-bedakan suku, agama dan bangsa mana pun? Menjadi perusahaan dakwah? Jadikan perusahaan Anda sebagai korporasi sejati.  Ada total 8 tahapan untuk mencapainya. Semua terangkum dalam apa yang oleh SNF Consulting dinamai corporate life cyecle. Pelajari secara serius di kelas korporatisi. Allahuakbar! Merdeka!

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Artikel ke-362 karya Iman Supriyono ini ditulis  di SNF Consulting House of Management pada tanggal 13 Maret 2022

Baca juga:
Garuda, pailit atau korporatisasi?
Krakatau Steel: Tercekik Utang

Raja Utang: Mengapa Bunga Bank Selangit?
Garuda: Utang Melebihi Aset

Glorifikasi IPO Kioson
IPO Bukalapak Prospektif atau Buang Uang
Kepailitan Startup OFO Bike Hiring
Tesla Laba Setelah 16 Tahun Rugi
Corporate Life Cycle dalam Merger GoTo
Valuasi Merger Gojek Tokopedia
Sequoia VC Sejati

Japfa, Bangun!


Untuk ukuran sebuah perusahaan yang berdiri sejak 1971, PT Japfa Comfeed Tbk termasuk lambat dalam pertumbuhan. Singa yang sedang tidur. Singa memang galak. Perkasa. Tapi kalau sedang tidur ya tidak berbeda dengan kancil yang sedang tidur.

Bagaimana tidurnya perusahaan yang pabrik pertamanya hadir di Sidoarjo ini? Mari kita cermati angka-angka keuangannya. Pada laporan teraudit terbarunya, tahun 2020, Japfa membukukan laba Rp 1,22 triliun. Dengan laba tersebut arus kas untuk investasi Japfa adalah Rp 1,98 triliun. Hanya sekitar 2x laba. Besarkah? Mari cermati potensinya.

Laba memang Rp 1,22 triliun. Tapi arus kas dari operasi  adalah Rp 4,10 triliun. inilah sumber potensi pertama.  Jadi pada tahun tersebut Japfa hanya menggunakan separuh dari potensi dana pertama.

Berdasarkan catatan lantai bursa, nilai pasar Japfa hari ini adalah Rp 18,53 triliun. Jika menerbitkan saham baru 10% maka perusahaan besutan keluarga Santosa ini akan memperoleh dana Rp 1,85 triliun. inilah potensi kedua untuk ekspansi perusahaan.

Masih ada lagi. Berdasarkan neraca akhir tahun tersebut, utang Japfa adalah Rp 14,54 triliun. Pada saat itu ekuitasnya adalah Rp 11,41. Dengan demikian rasio utang terhadap ekuitas alias DER Japfa adalah 1,27. Angka ini masih cukup aman.

Jika potensi kedua digunakan, Rp 1,85 triliun akan ditambahkan pada ekuitas. Dengan demikian ekuitas akan menjadi Rp 13,26 triliun. Dengan mempertahankan DER sebesar 1,27 maka utang bisa ditingkatkan menjadi Rp 16,84 triliun. Dengan posisi utang yang masih Rp 14,54 triliun maka ada potensi dana dari penambahan utang sebesar Rp 2,30 triliun. Inilah potensi ketiga dana untuk ekspansi.

Total ketiga potensi adalah Rp 8,25 triliun. Jadi arus kas investasi Japfa yang Rp 1,98 triliun hanya menggunakan 24% dari potensinya. Bisa dikatakan bahwa perusahaan perunggasan terbesar kedua di tanah air ini sedang tidur.

&&&

Ada dua pemegang saham besar PT Japfa Comfeed Tbk. Pertama adalah Japfa Holdings Pte Ltd  57,51%. Kedua adalah KKR Jade Investments Pte Ltd  11.98%. Keduanya adalah entitas yang berkedudukan di Singapura. Artinya, posisi PT Japfa Comfeed Tbk adalah sebagai anak perusahaan Japfa Holdings Pte Ltd.

Secara stratejik, anak perusahaan yang berupa perusahaan terbuka adalah sebuah kesalahan. Posisi PT Japfa Comfeed sebagai perusahaan terbuka membuat sang induk tidak bisa mengendalikannya dengan cukup. Idealnya anak perusahaan bisa diatur sesuai kebijakan induk tanpa melibatkan pihak luar mana pun. Anak perusahaan adalah satu kesatuan tak terpisahkan dari sang induk. Posisi sebagai perusahaan terbuka mengacaukannya. Itulah kenapa Aqua melakukan delisting begitu diakuisisi oleh Danone. Sarihusada juga melakukan hal yang sama begitu diakuisisi oleh Nitricia. Di Singapura, Mount Elizabeth Hospital juga delisting setelah diakuisisi oleh IHH Helath dari Malaysia.

Kesalahan stratejik ini adalah salah satu penyebab mengapa Japfa Comfeed tidur. Kesalahan ini mesti dikoreksi jika Japfa Comfeed mau bangun. Caranya, Japfa Comfeed harus menerbitkan saham baru sebesar sekitar 10%. Akibatnya proporsi saham Japfa Holdings Pte Ltd akan terdilusi menjadi sekitar 47%. Dengan demikian maka Japfa Comfeed akan menjadi fully corporatized company. Menjadi korporasi sejati. Salah satu cirinya adalah tidak ada pemegang saham pengendali.

Tidur pulas…….

Mengapa tidak mengambil opsi delisting? Untuk melakukan ini Japfa Holdings Pte Ltd harus membeli seluruh saham pihak lain. Ini tidak mungkin karena nilai pasar sang induk hanya Rp 13,70 triliun. Terlalu berat untuk menerbitkan saham hinga mampu mengambil alih 42,49% saham pihak lain.

Jadi, penerbitan saham baru PT Japfa Comfeed Tbk adalah satu satunya cara untuk bangun. Tumbuh pesat menjadi korporasi sejati. Uang hasil penerbitan saham lebih dari cukup untuk mengakuisisi Malindo Feedmill dan Sreeya Sewu Indonesia. Keduanya adalah perusahaan perunggasan terbuka di tanah air.  Bangun untuk konsolidasi kekuatan industri perunggasan tanah air. Mengibarkan merah putih tinggi-tinggi. Menyalip  Charoen Pokphand si juara pertama perunggasan tanah air asal negeri gajah. Japfa, bangun!

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Artikel ke-361 karya Iman Supriyono ini ditulis  untuk dan dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Maret 2022

Baca juga:
Garuda, pailit atau korporatisasi?
Krakatau Steel: Tercekik Utang

Raja Utang: Mengapa Bunga Bank Selangit?
Garuda: Utang Melebihi Aset

Glorifikasi IPO Kioson
IPO Bukalapak Prospektif atau Buang Uang
Kepailitan Startup OFO Bike Hiring
Tesla Laba Setelah 16 Tahun Rugi
Corporate Life Cycle dalam Merger GoTo
Valuasi Merger Gojek Tokopedia
Sequoia VC Sejati

Kumowani: Blunder Nazir Menjadi Startup


Kumowani adalah bahasa jawa. Artinya adalah keberanian yang salah tempat. Mestinya tidak berani tetapi menjadi berani. Keberanian yang konyol.

Nazir wakaf adalah lembaga yang menerima amanah harta dari para wakif. Amanahnya ada empat. Amanah pertama adalah mengelola harta dengan aman. Amanah kedua adalah mengelola harta dengan aman. Amanah ketiga adalah mengelola harta dengan aman. Amanah keempat adalah mengelola harta untuk mendapatkan hasil.

Keempat amanah harus ditunaikan sejak awal sampai kapanpun. Tidak bisa ditinggalkan salah satupun. Aman aman aman hasil menjadi satu paket. Nah, atas amanah ini sebuah lembaga amil bisa melakukan tindakan kumowani. Keberanian konyol. Ini adalah kesalahan fatal.

Disebut kesalahan fatal karena keberadaan nazir di masyarakat kita masih pada tahap awal. Artinya, nazir belum bisa “menjual” bukti. Yang bisa “dijual” baru janji. Bukti adalah investasi yang aman aman aman dengan return on Investment (ROI) yang tinggi ratusan persen. Tentu ini tidak bisa dilakukan sejak awal. Butuh waktu panjang dengan langkat tepat untuk mencapainya. Fatal sekali jika pada masa awal sudah melakukan kesalahan. Akan menghabiskan kepercayaan masyarakat.

&&&

Apa tindakan kumowani itu? Nazir menjadi startup. Startup adalah perusahaan rintisan. Perusahaan yang masih berada di step pertama, kedua, atau ketiga dari delapan step dalam corporate life cycle (CLC). Delapan step itu adalah: berdiri, rugi, BEP, laba, RPD, scale up, sistem manejemen dan fully corporatized company.

Step pertama sampai ketiga adalah lembah kematian perusahaan startup. Dari ribuan bahkan jutaan startup, hanya segelintir yang sukses menjadi perusahaan sejati (fully corporatized company). Baca detailnya pada tulisan ini jika ingin detail dead valey ini. Tentang risiko pailit bagi sebuah perusahaan start up.

&&&

Paling tidak ada empat penjelasan mengapa nazir yang menjadi perusahaan start up adalah sebuah tindakan kumowani. Penjelasan pertama, mejadi start up artinya adalah menjadi operating company. Harusnya wakaf hanya menjadi investing company. Hanya investing company yang bisa mengelola dengan prinsip aman aman aman hasil. Baca penjelasan detail di link ini.

Penjelasan kedua, untuk bertahan hidup sampai mencapai laba, sebuah start up butuh waktu yang panjang. Tesla misalnya butuh waktu 16 tahun untuk sampai laba sebagai step keempat dalam CLC. Sepanjang waktu rugi itu sebuah start up butuh gelontoran dana agar tidak mati. Para pendirinya perlu puasa. Puasanya senin kamis jumat sabtu minggu selasa dan rabu. Tidak cukup puasa senin kamis.

Siapa yang menggelontor dana? Tidak lain adalah perusahaan-perusahaan investasi raksasa. Mereka menganggarkan tidak sampai 1% dari aset kelolaanya untuk start up. Tap ingat, 1% dari aset BlackRock investment misalnya nilainya tidak kurang dari 1300 triliun. Andai uang itu hilang semua pun, mereka akan tetap aman karena 99% aset lainnya bekerja di perusahaan-perusahaan yang sudah berada pada step ke enam, tujuh atau delapan dalam CLC.  

Investment company mau melakukan penggelontoran ini karena memang start up benar-benar baik untuk masa depan. Kriteria sederhananya adalah start tersebut sudah diasuh oleh venture capitalist sejati seperti Sequoia. Jika belum diasuh Sequoia atau sejanisnya, risikonya masih terlalu besar. Gambling.

Nah, ketika sebuah nazir wakaf menjadi start up company, siapa yang akan melakukan penggelontoran dana itu? ini masalahnya. Nazir yang berangkat dari sebuah amil (pengelola dana zakat dan infaq) akan terpaksa menutup kesalahan tersebut dengan melakukan kesalahan yang lain. Apa itu? menggunakan dana infaq atau zakat untuk keperluan menghidupi start up. Ini adalah kesalahan fatal. Sekaligus kesalahan syar’i. Masuk blunder.

Penjelasan ketiga, mejadi start up yang artinya menjadi operating company berarti “mencari musuh”. Memasuki persaingan bisnis yang super ketat dan brutal. Sebuah lembaga sosial keagamaan seperti nazir harusnya tidak bersaing dengan siapa pun. Merangkul siapa pun. Dan posisi itu hanya mungkin jika nazir menjadi investing company.

Misalnya. Beberapa nazir menjadi start up dengan mendirikan rumah sakit. Rumah sakit adalah dunia bisnis yang penuh persaingan. Persaingan yang paling terasa adalah dalam mencari dokter terbaik. Antar rumah sakit bisa jor-joran dan bahkan saling bajak dalam memperoleh dokter terbaik. Bahkan sesama rumah sakit yang memosisikan diri sebagai rumah sakit Islam pun. Persaingan memperoleh dokter yang bagus tidak terelakkan.

Dengan rumah sakit lain yang tidak berlabel Islam pun persaingan ini akan berefek negatif. Misal, selama ini ada banyak karyawan rumah sakit XYZ menjadi donatur amil atau nazir  ABC. Begitu ABC masuk bisnis rumah sakit dan rebutan dokter bagus dengan XYZ, maka tentu saja manajemen XYZ akan melarang karyawannya menjadi donatur ABC. Dan sesungguhnya tanpa dilarang oleh manejemen pun, karyawan XYZ yang menjadi donatur ABC sama dengan menusuk diri sendiri. Berat kaan?

Nazir jangan mencari musuh

Penjelasan keempat, bagi nazir, menjadi start up berarti adalah langkah awal menjadi konglomerasi. Konglomerasi adalah perusahaan atau organisasi yang bisnisnya macam-macam. Teknisnya adalah dengan menjadi pemegang saham pengendali pada berbagai perusahaan dengan berbagai bidang. Ini membayankan umat dan bangsa.

Interaksi antara umat atau bangsa di dunia modern ini adalah seperti interaksi antar kesebelasan dalam sebuah pertandingan sepak bola. Umat atau bangsa yang para pelaku bisnisnya konglomerasi ibarat kesebelasan yang semua pemainnya bebas bergerak kemana saja. Tidak ada keeper, tidak ada back kiri, tidak ada stricker kanan. Tidak ada posisi spesifik. Semua pemain mengejar bola yang sama dimana pun bola berada.

Umat atau bangsa seperti ini akan sangat rapuh. Ekonominya akan dikuasai bangsa lain. Karena para konglomerat kerjanya cenderung mendatangkan kekuatan asing untuk mengalahkan pesaing lokalnya. Misal, ada konglomerat besar yang untuk bersaing dengan gerai kopi modern karya anak bangsa seperti Coffee Toffee, Excelso, atau Kopi Kenangan harus mendatangkan jaringan kedai kopi modern dari negeri adidaya. Ini ibarat sebuah kerajaan yang menggandeng Belanda untuk berperang dengan kerajaan lain sebelum era NKRI. Malangnya, sudah begitu masih suka bicara nasionalisme hehehehe.

Harusnya, ibarat kesebelasan, umat atau bangsa ini berbagi peran. Ada stricker kiri, stricker kanan, back kiri, back kanan, keeper dan sebagainya. Masing-masing memiliki peran spesifik. Lalu antara mereka saling lempar umpan bola. Tujuan akhirnya adalah kemenangan kesebelasan. Bukan keberhasilan si back kanan untuk mencetak gol.

Demikian empat penjelasan kesalahan fatal nazir wakaf yang menjadi start up. Anda nazir wakaf? Mari pelajari ilmunya dengan baik. Iqro. Memahami dunia bisnis. Memahami CLC. Memahami Revenue and Profit Driver (RPD), memahami ROI dan ROE, memahami korporatisasi, memahami korporasi. Iqro! Agar bisa menjaga amanah besar dari para wakif. Agar umat dan bangsa ini kokoh secara ekonomi. Menjadi umat dan bangsa produsen. Bukan konsumen. Aamin.

Nazir, pelajari ilmunya dengan baik. Daftar https://bit.ly/InvestasiNazhirWakaf

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Artikel ke-360 karya Iman Supriyono ini ditulis  di Surabaya pada tanggal 3 Pebruari 2022

Garuda, Evergrande: Beresi Utang Sebelum Terlambat


“Saldo Anda masih cukup. Tetapi maaf, uang Anda masih dipinjam oleh Pak Fulan. Silakan coba kembali sampai pak Fulan membayar uang Anda”. Coba jika kalimat seperti ini muncul di mesin ATM saat Anda mengambil uang dari rekening Anda. Bagaimana kira-kira tanggapan Anda?

Saya yakin Anda akan marah. Sebagai penabung di sebuah bank, Anda menginginkan bisa mengambil uang kapan saja. Sewaktu-waktu Anda membutuhkan uang, Anda datang ke ATM. Uang itu harus bisa Anda ambil. Itulah yang ada dalam benak para penabung.

&&&

Delapan belas Juni 2021. Saat itu otoritas lantai bursa menghentikan perdagangan saham Garuda. Alasannya karena maskapai penerbangan pelat merah ini gagal melakukan pembayaran utang yang telah jatuh tempo. Utangnya berupa sukuk alias obligasi syariah.

Sukuk alias obligasi syariah adalah sebuah transaksi utang piutang. Pihak yang memberikan utangan kepada Garuda akan berpikir seperti Anda saat mengambil uang di mesin ATM. Bedanya, di mesin ATM Anda mengambil uang dari tabungan. Akad dalam sebuah transaksi tabungan di bank adalah uan uang bisa diambil sewaktu waktu. Sedangkan transaksi sukuk uang harus bisa diambil pada saat yang pembayaran bagi hasil atau pokok saat perjanjian sukuk berakhir. Jika Garuda tidak menepati janji maka para pemegang obligasi pun kecewa. Nah, sanksi berupa penghentian transaksi saham Garuda itu jadi masuk akal.

&&&

September 2021 dunia bisnis global ramai membicarakan Evergrande. Beritanya viral dimana-mana. Termasuk berita berita media sosial di negeri ini. Rakasasa properti China itu mengalami gagal bayar. Membaca laporan keuangannya, Perusahaan yang dengan omzet terbesar nomor 122 global dalam ranking Fortune itu utangnya besar sekali. Rasio utang terhadap ekuitasnya hampir 10x.

Memang porsi besar utanganya adalah berupa uang muka konsumen. Utang yang tidak berbunga. Juga tidak perlu diangsur. Tapi namanya utang ya tetap utang. Jika tidak didukung dengan uang sendiri (ekuitas) yang cukup, rawan meledak. Kurangnya modal sendiri akan menyulitkan perusahaan memenuhi progres pembangunan unit yang telah dibayar uang mukanya oleh konsumen. Kesulitan ini bisa berimbas pada kesulitan perusahaan memenuhi janji pembayaran utang-utang lainnya.  Dan gagal bayar Evergrande adalah ledakan itu.

&&&

Pembaca yang baik, utang piutang adalah transaksi yang umum terjadi di masyarakat. Bisa jadi usia transaksi ini juga sama umurnya dengan usia peradaban umat manusia itu sendiri. Jauh sebelum era korporasi, urang piutang sudah ada di masyarakat.

Garuda dan Evergrande adalah korporasi. Keduanya adalah badan hukum yang memiliki hak dan kewajiban seperti layaknya manusia. Oleh karenanya, keduanya juga bisa melakukan transaksi utang piutang.

Yang harus diperhatikan oleh siapa pun yang memiliki utang adalah kewajiban menepati janji. Ini penting dan tidak bisa ditawar. Mengapa tidak bisa ditawar? Penjelasannya ada pada narasi saya tentang Anda yang mengambil uang di mesin ATM di atas. Pihak pemberi utang sudah mengharapkan uang itu sesuai perjanjian. Jika janji itu tidak ditepati yang terjadi adalah kekecewaan.

Maka, camkan itu wahai Anda para pengelola perusahaan. Bahwa janji pembayaran utang harus ditepati. Tidak boleh ada alasan apapun untuk tidak menepatinya. Oleh karena itu, yang bisa dilakukan para pengelola perusahaan adalah mengelola utang agar jangan terlalu besar.

Bereskan utang sebelum segala sesuatunya terlambat

Banyak perusahaan yang menjaga agar rasio utang kurang dari satu. Maksudnya, utangnya lebih kecil dari ekuitas. lebih kecil dari modal sendiri. Jika modal sendiri 100 maka utangnya tidak sampai 100. Pertumbuhan perusahaan tidak didasarkan pada utang. Tapi dari mendatangkan investor melalui penerbitan saham baru. Melalui proses korporatisasi.

Bagaimana jika terlanjur rasio utang lebih besar dari 1? Bahkan sekitar sepuluh seperti Garuda atau Evergrande? Segera selesaikan senyampang kondisi masih belum terlambat. Sebelum gagal bayar. Uangkan intangible asset perusahaan untuk menurunkan rasio utang. Yang dialami Garuda dan Evergrande sudah terlambat. Menjadi sangat rumit untuk menyelesaikannya.

Baca juga:
Garuda, pailit atau korporatisasi?
Krakatau Steel: Tercekik Utang

Raja Utang: Mengapa Bunga Bank Selangit?
Garuda: Utang Melebihi Aset

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Artikel ke-359 karya Iman Supriyono ini ditulis  untuk Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Pebruari 2022

Spekulan Crypto


Ada rencana bahwa di Penajam akan dibangun ibu kota baru. Maka, banyak orang berbondong-bondong memburu lahan. Berlomba membeli properti berupa tanah. Harapannya, rencana ibu kota benar-benar terjadi. Pada saat itu tanah yang telah dibeli bisa dijual kembali dengan harga yang jauh lebih mahal.

Apakah ibukota itu benar-benar akan ada? Ya tidak ada yang bisa memastikan. Banyak variabel yang menjadi penentunya. Bisa benar-benar terjadi. Bisa juga sama sekali tidak terjadi. Bisa juga sempat dimulai tetapi mangkrak karena tidak cukupnya sumber daya untuk mewujudkannya. Jika ibukota benar-benar ada maka si si pembeli tanah tadi akan untung. Jika tidak terjadi maka si pembeli tanah akan rugi.

Nah, pembeli tanah itu dalam istilah keseharian disebut sebagai spekulan. Orang yang melakukan spekulasi. Membeli lahan lalu tidak melakukan apapun selain berharap atau mungkin berdoa agar ibukota benar-benar terwujud. Jika terwujud dia akan untung. Jika tidak terwujud dia akan rugi.

Berharap dan tidak melalukan apapun inilah karakter menonjol aktivitas spekulasi. Tidak melakukan apapun karena variabel untuk terwujud atau tidak terwujudnya ibukota sepenuhnya tidak bisa dia kendalikan. Jadi berharap atau berdoa adalah satu-satunya yang bisa dilakukan oleh seorang spekulan.

$$$

Bitcoin. Lengkapnya: Bitcoin,  Litecoin, Namecoin, Peercoin, Dogecoin, Gridcoin, Primecoin, Ripple, Nxt, Verga, Stellar, NEO, Auroracoin, Dash, Mazacoin, Monero, Vertcoin, Titcoin, Ethereum, Ethereum Classic, Nano, Tether, Firo, Zcash, Bitcoin Cash, EOS.IO, Cardano, TRON, Ambacoin, Algorand, Shiba Inu, DeSo, SafeMoon, Internet Computer. Itu adalah deretan nama-nama Cryptocurency alias mata uang Crypto yang aktif pada saat ini yang ada pada situs Wikipeda berbahasa Inggris. Banyak sekali. Bitcoin adalah yang paling banyak disebut. Salah satu sebabnya adalah karena memang yang paling awal hadir sebagai mata uang Crypto.

Spekulan: Beli dan hanya bisa berharap harga naik

Sebagai sebuah mata uang, Crypto pada dasarnya adalah surat utang. Utang dari penerbitnya kepada yang memegangnya. Seperti juga Rupiah pada dasarnya adalah surat utang dari penerbitnya kepada para pemegang. Penerbitnya adalah Bank Indonesia. Maka, jika kita membaca neraca pada catatan akuntansi BI, jumlah rupiah yang telah diterbitkan muncul di bagian kanan atas neraca. Muncul sebagai utang.

Mengapa surat utang bisa untuk membeli barang? Karena si penjual barang mau menerima surat utang itu. Mengapa si pedagang mau menerima? Karena ia bisa menggunakan uang itu untuk kulakan barang dagangan kepada pemasok. Si pemasok mau menerima karena bisa menggunakan surat utang itu untuk menyediakan barang pasokan. Demikian seterusnya. Makin diterima sebuah mata uang oleh para penyedia barang dan jasa, makin tinggilah nilai mata uang itu.

Makin diterima para pedagang, makin kuatlah posisi mata uang itu. harganya makin tinggi. Nilai tukarnya terhadap mata uang lain juga makin tinggi. Nah, naik turunnya nilai mata uang ini bisa menjadi daya tarik para spekulan. Persis seperti tertariknya spekulan tanah di calon ibu kota baru itu.

Mengapa disebut spekulan? Setelah memegang mata uang, seseorang tidak bisa mempengaruhi pada pedagang barang dan jasa untuk bisa menerima uang tersebut. Misalnya Anda memprediksi bahwa nilai Bitcoin pada masa yang akan datang akan naik. Maka Anda menukarkan uang Rupiah Anda menjadi Bitcoin. Setelah itu satu satunya yang Anda bisa lakukan adalah berharap dan berdoa agar nilai Bitcoin naik. Jika benar-benar naik Anda bisa menukarkan kembali Bitcoin dengan rupiah dan Anda mendaptkan laba. Tapi jika turun, Anda rugi. Jika melakukan seperti ini Anda telah menjadi seorang spekulan.

&&&

Pembaca yang baik, investasi berbeda dengan spekulasi. Contoh investasi adalah misalnya ada seorang kawan Anda mendirikan sebuah PT sepuluh tahun lalu. Sat itu ia menyetor Rp 1 miliar untuk 1000 lembar saham PT.  Bisnisnya adalah restoran. Tahun ini kawan Anda itu akan membangun 5 gerai baru. Anda ditawari berinvestasi menyetor Rp 5 milyar dengan ditukar 100 lembar saham yang baru diterbitkan. Anda menangkap tawaran itu. begitu Anda setor uang, maka PT tersebut langsung membangun 5 gerai resto baru. Ada pertumbuhan jumlah tenaga kerja, pertumbuhan omzet dan pertumbuhan laba. Anda berhak atas laba itu dengan proporsi sesuai proporsi saham yang Anda miliki yaitu 100/1100. Proporsi sebesar 1000/1100 dari laba akan menjadi hak kawan Anda Anda itu. Inilah investasi. Memunculkan nilai tambah. Memperbesar manfaat. Jadi, Anda investor atau spekulan?

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Bacaan-bacaan tentang investasi dan investment company
Peredam Risiko Investasi
Emas Perak Investasi atau Spekulasi
Investment Company versus Operating Company
Mendirikan Investment Company, Bagaimana?
Investment Company Sebagai Solusi Konflik Harta Waris
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Artikel ke-358 karya Iman Supriyono ini ditulis  untuk Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Januari 2022

Uang Kasur Uang Kasir Pak Sis


Sebut saja PT DEF. Sebuah perusahaan makanan klien SNF Consulting, kantor konsultan dimana saya beraktivitas.  Sebagaimana perusahaan lain, setelah penandatanganan perjanjian menjadi klien, saya pun mengikuti rapat direksi rutin bulanan. Seperti biasa juga, rapat-rapat awal selalu bicara tentang arah masa depan perusahaan. Wajar karena memang yang saya ikuti adalah rapat direksi. Sesuai nama, direksi itu menentukan direction alias arah perusahaan. 

Pisahkan uang kasir dan uang kasur

Saya suka memicu visi besar klien pada saat rapat awal seperti ini. Saya sampaian tentang bagaimana sejarah tumbuh kembang perusahaan-perusahan yang kini menguasai pasar dunia. Memperhatikan milestone lengkap dengan aspek keuagannya. Menjadi benckmark proses tumbuh kembang perusahaan.

Puncaknya adalah menjadi apa yang disebut sebagai fully corporatized company. Korporasi sejati. Cirinya ada 3. Pertama menguasai pasar lebih dari 100 negara sehingga tahan terhadap risiko politik karena rata-rata omzet dari tiap negara tidak lebih dari 1%. Kedua tidak ada lagi pemegang saham pengendali sehingga semua dijalankan sesuai sistem. Tidak ada raja. Ketiga jika membutuhkan modal untuk ekspansi, investor mau diberi imbal hasil 2-3% per tahun. Perusahaan yang bukan hanya mejadi sekedar tempat mencari duit. Lebih dari itu, menjadi sarana membangun manfaat yang seluas-luasnya bagi sesama tanpa pandang sekat bangsa maupun agama. Menjadi sarana beribadah.

Setelah itu, rapat berikutnya adalah tentang sistem manajemen. Yang selalu menjadi bahasan dasar adalah sistem akuntansi. Nah, di poin ini PT DEF amburadul. Akuntan tidak pernah bisa membuat laporan yang memadai. Mengapa? Karena sang bos tidak bisa memisahkan antara uang pribadi dangan uang perusahaan. Uang perusahaan diambil untuk membeli banyak aset pribadi. Mustahil akuntan bisa bekerja.

Selamat jalan Pak Sis. Terima kasih atas segala kebaikanmu. Ridho Ilahi membersamaimu. Surga untukmu. Aamin yaa Rabb

Maka, agenda rapat bulan-bulan selanjutnya adalah perbaikan masalah dasar ini. Langkah-langkah menuju perubahan sudah diputuskan.  Siap dilaksanakan. Tetapi sayang, keputusan rapat selalu gagal dieksekusi karena sang bos tidak berubah. Uang pribadi dan uang perusahaan tetap camput. Singkat cerita, proses konsultasi pun berhenti. Tidak ada gunanya keputusan rapat sebagus apapun jika tidak ada eksekusi.

&&&

Ada uang kasur. Ada uang kasir. Untuk sukses, seorang pengusaha harus mampu memisahkan keduanya. Itu adalah nasihat super penting dari Almarhum Pak Marmin Siswoyo, saya memanggilnya Pak Sis. Sebuah bahasa yang sangat memudahkan siapa saja untuk menangkapnya.

Jika nasihat itu diterjemahkan secara operasional, maka PT DEF pada awal tulisan ini tidak akan menghentikan proses konsultasi. Konsultan bisa menjadi sparting partner tim direksi PT DEF untuk membangun sistem akuntansi yang akurat untuk pengambilan keputusan stratejik.

Tapi apa boleh buat. Terlalu berat untuk meninggalkan kebiasaan lama. Kebiasaan yang menghasilkan banyak aset properti pribadi dari hasil laba perusahaan. Perusahaan sekedar menjadi sapi perah. Tidak bisa tumbuh mengikuti corporate life cycle menjadi perusahaan sejati sebagaimana deskripsi di atas.

Jika nasihat Pak Sis ini dijalankan, itu akan menjadi pintu untuk melaksanakan nasihat Pak Sis berikutnya “Jika Anda memelihara ayam dan bertelur, jangan nikmati telur itu. Biarkan menetas menjadi banyak ayam”. Uang perusahaan adalah “telur” yang harus “menetas” untuk pertumbuhan eksponensial perusahaan. Seperti Pak Sis yang bisnis telur ayamnya juga tumbuh membesar.

Pembaca yang baik, ada uang kasir. Ada uang kasur. Pisahkan secara tegas. Demikian nasihat dahsyat mantan ketua PDM Kabupaten Blitar yang telah berpulang Nopember 2021 ini. Mari  kita praktikkan nasihat yang kerap disampaikan di berbagai kesempatan itu. Allahummarhamhu. Agar bisnis tumbuh menjadi korporasi sejati. Agar bisa meneladani kedermawanan Pak Sis yang luar biasa. Agar menjadi amal Jariyah. Aamin.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Bacaan-bacaan pemicu amal jariyah Anda
Wakaf Korporat
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal & Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Artikel ke-357 karya Iman Supriyono ini ditulis sebagai obituari untuk Pak Marmin Siswoyo, mantan ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Blitar. Tulisan ini juga dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Desember 2021

Bisnis PCR Pejabat: Hipokrisi Pengusaha Berpolitik


Terbongkarnya kasus para pejabat yang berbisnis PCR viral di jagat internet.  Netizen protes. Tidak layak bagi seorang pejabat berbisnis. Apalagi dalam suasana pandemi yang dampaknya sangat berat bagi masyarakat luas. Pendek kata, publik tidak suka pejabat  berbisnis.

Tapi banyak yang tidak menyadari bahwa pada fenomena protes itu terkandung hipokrisi. Hipokrit? Ya. Mari mundur ke belakang. Saat proses pemilihan presiden yang baru berlalu. Di kubu pemenang ada Pak Jokowi yang dikenal sebagai pengusaha meubel. Pentolan kampanyenya adalah Erick Thohir yang juga pengusaha ternama. Di kubu yang kalah ada Prabowo yang bisnisnya bernilai triliunan. Ada Sandiaga Uno yang idem.

Hampir 50% pemilih mendukung Prabowo Sandi. Lebih dari 50% pemilih mendukung Jokowi. Kedua kubu sama-sama mendukung masuknya pebisnis ke dunia politik. Dan politisi yang sukses dalam kontestasi politik akan menjadi pejabat. Bahkan yang kalah pun kemudian dirangkul dan menjadi pejabat juga.

Pertanyaannya, setelah menjadi pejabat publik, apakah merekah harus membuang bisnisnya? Tentu tidak mungkin. Bisnis akan terus berjalan.

Jangan hipokrit

Lalu, mengapa orang-orang pada protes saat para pejabat berbisnis? Mengapa protes terhadap pejabat yang berbisnis PCR? Bukankah itu konsekuensi logis dari masuknya para pebisnis pada kontestasi politik? Ingat, politik adalah pintu untuk menjadi pejabat publik. Mendukung pebisnis masuk politik sama dengan mendukung pejabat berbisnis. Di sinilah letak hipokrisinya. Coba renungkan diri Anda sendiri. Anda hipokrit tidak?

Kalau saya tidak begitu. Sejak awal menolak masuknya para pebisnis ke dunia politik. Juga menolak para pejabat berbisnis. Secara pribadi saya memilih dunia bisnis. Fokus di bisnis. Bertauhid bisnis “Aku berlindung kepada-Nya dari godaan syetan dan poltik”. Bukan karena politik jelek. Tetapi karena hidup itu pilihan.

Hidup itu pilihan. Jika memilih menjadi pebisnis, jadilah pebisnis yang sukses. Pebisnis yang membangun korporasi besar melampaui sekat-sekat negara. Membesarkan perusahaan yang didirikannya mencapai step kedelapan dalam corporate life cycle. Menjadi perusahaan yang mengibarkan merah putih di berbagai belahan dunia.

Jika memilih politik, jadilah politisi yang sukses. Seperti Bung Karno, Bung Hatta, Natsir, dan sebagainya. Yang menekuni perjuangan politik sejak mahasiswa.  Yang mempertaruhkan seluruh risiko hidupnya di politik. Yang tidak pernah punya interes bisnis.  Yang bisa mengambil keputusan negara tanpa confilct of interest. Menjadikan negeri ini jaya dalam percaturan berbagai bangsa melalui dunia politik.

Hidup itu pilihan.  Anda bagaimana? Masih mendukung pebisnis masuk dunia politik? Masih menolak pejabat berbisnis PCR? Hindari hipokrit!

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga tulisan lain tentang Investment Company:

Kemustahilan Jokowi: Bunga Bank 3% Tanpa Investment Banking
Pandemi dan Dekorporatisasi BUMN
Investment Company BUMN
Investment Company berbasis lembaga keagamaan
Peran Investment Company untuk kemerdekaan ekonomi
Korporatisasi butuh Investment Company

Artikel ke-356 karya Iman Supriyono ini ditulis pada tanggal 7 Nopember 2021 di kabin pesawat Airbus 320 dalam penerbangan Jakarta Surabaya