“Baiklah. Aset wakaf memang harus diinvestasikan. Nazir tidak boleh menjadi operating company. Tapi bagaimana jika investee (perusahaan tempat berinvestasi) pailit? Apakah ini tidak menyalahi konsep dasar bahwa aset wakaf tidak boleh berkurang apalagi hilang?”
&&&
Tidak ada gonjang-ganjing di dunia bisnis melebihi kepailitan Enron , Desember 2001. Nilai perusahaan sebelum pailit sekitar USD 40 miliar. Aset dalam laporan keuangan sebelum pailit sebesar USD 63 miliar lebih. Tiba tiba hancur. Kepailitan menjadi sangat fenomenal karena setelah itu diikuti oleh kepailitan Arthur Andersen sebagai auditornya. Big five pun menjadi big four.
Setelah kasus Enron memang ada beberapa kepailitan yang nilainya lebih besar. Tapi tidak ada yang sampai menghabisi auditor eksternalnya. Sampai saat ini tetap ada big four: KPMG, Deloitte, EY dan PwC.
Saat pailit, ada sekitar 59 ribu pemegang saham perusahaan yang akar sejarahnya mulai hadir di dunia bisnis sejak tahun 1930 itu. Mereka adalah investor institusi maupun investor perorangan. Salah satu investor institusi adalah University of California dengan nilai investasi USD 145 juta. Artinya, kampus itu memegang 0,36% dari saham Enron.
Berdasarkan laporan keuangan terauditnya, per 30 Juni 2001, nilai aset investasi kampus yang berdiri pada tahun 1868 itu adalah USD 55,5 miliar. Dengan kurs saat ini setara dengan IDR 939 triliun. Aset itu terdiri dari dana pensiun USD 38,7, dana pensiun khusus USD 6,4 miliar, endowment fund USD 5,1 miliar, dan investasi jangka pendek USD 3,3 miliar. Dana tersebut menjadi satu kesatuan portofolio investasi kampus.
Dengan angka tersebut, nilai aset yang hilang saat Enron sebagai investee pailit adalah 0,26% dari total aset investasi kampus. Berdasar laporan keuangan, ROI tahunan dalam 20 tahun terakhir adalah 7,8%. Jika angka ini dikurangi 0,26% maka penurunannya tidak signifikan.
Ketika perusahaan pailit, pemegang saham masih akan menerima uang dari hasil likuidasi aset perusahaan setelah dikurangi seluruh utangnya. Setelah proses likuidasi Enron, University of California masih menerima USD 22 juta. Artinya, kehilangan bersihnya adalah USD 123 juta atau 0,22% dari total aset investasi. Aman sekali.
&&&
Kembali ke pertanyaan di alinea pertama tulisan ini. Pengelola dana abadi atau nazir wakaf tidak akan pernah bisa menjamin aset yang dikelolanya sama sekali tidak berkurang atau hilang. Bahkan ketika aset itu berupa tanah pun. Ingat saat banjir lumpur Lapindo di Sidoarjo? Ada berapa aset wakaf berupa masjid yang hilang?
Yang bisa dilakukan pengelola dana abadi atau nazir wakaf adalah mengelola portofolio aman. Jangan taruh telur pada satu keranjang. Seperti pengelola dana abadi University of California yang hanya menaruh 0,3% dari dana kelolaannya di Enron.
Sebelum pailit, Enron adalah sebuah perusahaan energi terkemuka. Auditornya adalah Arthur Andersen. Siapa yang tidak percaya pada kredibilitas salah satu big five itu? Auditor yang sudah mengaudit berbagai perusahaan sejak berdiri tahun 1913. Artinya, ketika Enron meledak, Arthur Andersen sudah berpengalaman 88 tahun tanpa cacat. Cacat bagi perusahaan auditor artinya adalah tertipu oleh direksi perusahaan yang diaudit. Enron adalah cacat pertama sekaligus terakhir Arthur Andersen. Setelah itu perusahaan besutan E. Andersen ini pun pailit.
Maka, sehebat apapun investee, sehebat apapun auditornya, pengelola dana abadi atau nazir wakaf hanya boleh berinvestasi pada proporsi kecil dari asetnya. Sedemikian kecil sehingga kalau investasi itu hilang karena kepailitan maka imbal hasil investasi dana abadi atau aset wakaf secara keseluruhan tidak terganggu secara signifikan.
Maksud tidak boleh rugi bukan pada semua investee satu demi satu. Tapi total. Selalu ada risiko kegagalan pada investee. Dengan portofolio yang meneyebar, kegagalan atau kepailitan satu atau beberapa investee tidak akan mengganggu kinerja investasi secara keseluruhan. Anda pengelola lembaga sosial, pendidikan atau keagamaan? Jangan takut menggalang dana abadi atau dana wakaf lalu menginvestasikannya. Agar lembaga pendidikan, sosial atau keagamaan bisa kokoh dan mandiri secara finansial.
Karya ke 515 Iman Supriyono ini ditulis di Masjid Arroyan Surabaya selepas salat lohor 29 Ramadhan 1447 KHGT
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Baca Juga
Iktikaf H8: Semangat Tumbuah Dalam Keprihatinan Panjang
Iktikaf H7: Wakaf “Menjual” Dari Nol
iktikaf H6: Takmir Masjid Yayasan atau Perkumpulan?
Iktikaf H5: Wakaf dan Endowment Fund, Sama atau Beda?
Iktikaf H4: Perusahaan Yang Menolak Wakaf
Iktikaf H3: Family Office dan Wakaf
Iktikaf H2: Wakaf menanam pohon: Lily Endowment
Iktikaf H1: Wakaf dan Dana Abadi Sebagai Investing Company ala Saratoga









