Perampok Budiman


Persis jam 08.25.  Kereta api Kertajaya yang aku tumpangi sudah tiba di Stasiun Pasar Senin. Tidak biasa aku naik kereta seperti ini. Selama ini Surabaya Jakarta kutempuh melalui perjalanan udara. Kadang melalui Cengkareng. Kadang melalui Halim. Tapi yang pasti aku selalu memilih Garuda. Sesekali saja jika terpaksa pakai Lion atau Citilink. Perjalanan kereta ekonomi kali ini aku tempuh karena keterpaksaan. Bisnisku hancur. Sehancur-hancurnya.

Aku tidak tahu. Sudah dua tahun terakhir ini bakso Karponak yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupanku dua puluh tahun ini hancur. Seolah tidak ada bekas dari keahlian yang kutekuni. Satu demi satu dari puluhan gerai rugi. Beberapa sudah tutup. Yang masih tersisa pada menanggung rugi.

Yang tutup pun tidak begitu saja tutup. Sebagai pendiri dan pemegang saham, aku masih bekerja keras menutupi kerugiannya. Awalnya dengan kas perusahaan. Ketika kas perusahaan habis, uang pribadi pun dipakai untuk menutup kerugiannya. Maka sedikit demi sedikit aset pribadiku ludes. Rumah tinggal pun terjual. Pilihan naik kereta ekonomi ini karena alasan itu.

Sudah tidak ada lagi uang bahkan untuk kereta kelas eksekutif sekalipun. Makan malam di kereta pun aku beli nasi bungkus seharga sepuluh ribu Rupiah di depan Stasiun Pasar Turi kemarin. Minumnya kubawa dari rumah dari galon air isi ulang di rumah kontrakan di gang sempit di kawasan Klampis Ngasem, Surabaya. Memanfaatkan botol aqua ukuran 600 cc  dari hantaran hajatan tetangga siang tadi. Air aslinya sudah aku minum bersama anak-anak. Botol yang kosong aku isi dengan air galon isi ulang di rumah.

Dari Senen aku putuskan jalan kaki menuju All Seasons Hotel. Jarak hampir 4 kilometer itu kutempuh dengan jalan kaki. Untuk berhemat uang di dompet yang hanya cukup untuk sekedar membeli nasi bungkus sampai pulang balik ke Surabaya besok.

Janji bertemu dengan African Capital alias AC, demikian perusahaan yang akan kutemui pagi ini, adalah jam 10. Jadi masih ada waktu untuk mampir di Masjid Cut Meutia nebeng mandi. Sekalian solat duha di masjid yang memang letaknya dilewati perjalanan dari Stasiun Senen ke All Seasons.

Tidak tahu dari mana, di suatu sore tiba-tiba AC menghubungiku. Sudah sebulan ini intensif komunikasi. Semula aku juga ragu, tapi WA chatt dan WA call intensif selama ini cukup meyakinkan. Maka, dengan sisa uang di saku yang serba terbatas, aku putuskan untuk menemuinya siang ini.

Sambil duduk di kloset menjalankan rutinitas pagi di kamar mandi Masjid pikiranku melayang kesana kemari.  Melayang tentang masa lalu. Saat terpuruk awal-awal merintis hidup di mana untuk membeli ban luar sepeda motor saja tidak mampu. Ban luar motor ditambal dari dalam dengan potongan ban bekas. Orang di kampung halamanku menyebutnya dikampas.

Ingatan juga melayang saat ekonomi lagi baik. Menikmati malam-malam indah bersama istri di Hilton Moscow Leningradskaya. Paginya jalan-jalan pagi menikmati awal musim panas yang udaranya terasa mulai nyaman untuk orang tropis menuju kawasan Istana Kremlin. Foto-foto di Gereja warna-warni yang kubahnya mirip masjid. Duduk santai berdua dengan istri di perengan Moscow River. Menikmati salat subuh berjamaah di Historical Mosque sambil menikmati menu halal di kantinnya. Menikmati hasil kerja keras dari Bakso Karponak. Sholat Jumat di Masjid KBRI yang memberi kesempatan kepadaku untuk menyampaikan khutbah. Ngobrol dengan para mahasiswa asal RI yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah Rusia. Semua serba indah.

Itulah hidup. Dipertukarkan antara senang dan susah. Antara kaya dan miskin. Dari bergelimang uang jalan-jalan ke tidak kurang dari 30 negara. Menjadi miskin semiskinnya. Tinggal di rumah kontrakan di gang sempit. Utang sepuluh milyar lebih. Dikejar kejar debt collector. Dan pagi ini naik kereta ekonomi lalu jalan kaki tidak kurang dari 5 kilo. Mandi pun nebeng di masjid. Demi sebuah harapan solusi utang dan kondisi yang terpuruk.

&&&

Afrianto Candrakarta. Demikian namanya. African Capital adalah nama perusahaan investasi yang dikelolanya. African adalah singkatan dari nama lelaki seumuranku dengan badan tegap nan kekar itu. Jam 10 persis aku sudah duduk berhadapan di teras Sky Loft Resto All Seasons Hotel. Afri, demikian nama lelaki berambut cepak itu biasa dipanggil, mempersilakanku pesan makanan. Tampaknya dia melihat akuyang sedang kelaparan. Aku pun memilih menu nasi goreng yang porsinya  besar. Agar kenyang. Aku tahu porsinya besar karena memang ketika masa jaya hotel ini merupakan hotel favorit kalau sedang berada di Jakarta. Dekat kemana-mana. Dekat stasiun MRT. Dekat stasiun KRL. Dekat Grand Indonesia. Di belakangnya ada masid kampung yang bisa ditempuh jalan kaki untuk sholat lima waktu berjamaah.

Sambil menikmati nasi goreng dan teh hangat, aku mendengarkan cerita Afri tentang rencana investasi di Karponak. Afri bercerita tentang masa lalunya yang juga terpuruk. Tentang pemecatannya secara tidak hormat dari institusi tempatnya berdinas.  Titik baliknya adalah tahun 2016 saat tax amnesty. Perkenalannya dengan seorang bos besar membuat dia dipercaya dititipi uang lima triliun. Dia pun daftarkan aset itu dengan membayar pajak sesuai aturan tax amnesty.

Uang itu sifatnya titipan. Tapi sang bos tidak mau ada dokumen apapun atas penitipan uang itu. Sang bos memberi contoh seseorang yang kemudian dibunuhnya karena mencederai kepercayaan. Dititipi uang seperti yang dititipkan kepada Afri kemudian mencederai kepercayaan. Uangnya digelapkan. Sang bos menceritakan bahwa orang itu kemudian dibunuhnya dengan skenario tingkat tinggi. Orang itu disekap beberapa hari. Kemudian ditembak di kepalanya. Lalu jenazahnya dimasukkan drum. Lalu drum dipenuhi adonan semen. Setelah semen kering jenazah dibuang ke laut bersama drumnya. Skenario tingkat tingginya membuat sampai sekarang tidak ada satu pun orang yang bisa mengungkap hilangnya orang ini. Semua kemungkinan pengungkapan ditutupnya dengan skenario seperti di film-film detektif. Maka Afri terus bekerja memastikan bahwa dia tidak menghianati amanat uang itu. Takut dibunuh dan mayatnya disemen dibuang ke laut.

Siang itu Afri menegaskan kembali penawaran yang diberikan padaku. AC akan mengakuisisi 95% sahamku di PT Korponak Dimana Mana yang kini terpuruk. Ditawarkan kepadaku harga Rp 15 miliar.

Rencananya, setelah akuisisi akutetap akan menjadi direktur operasional. Dirutnya orangnya Afri. Setelah itu AC akan menambah setoran modal ke  Korponak tanpa agio saham sebagai bagian dari restrukturisasi dan perbaikan kinerja. Tanpa agio saham ini artinya adalah tidak ada penghargaan sama sekali terhadap merek Karponak yang selama ini sudah sangat dikenal di masyarakat. Target selanjutnya adalah IPO. Aku pun menerima transaksi itu. Sebenarnya tidak mudah melepas Korponak. Tapi bagaimana lagi. Terpaksa. Aku tidak mau menanggung beban utang. Aku tidak mau mati meninggalkan utang setumpuk kepada anak istri.

Dan memang benar, begitu AC menjadi pemegang pengendali, Karponak menerbitkan saham kembali dengan harga par value. Pembelinya semuanya adalah AC. Total dana masuk adalah Rp 10 miliar. Dana inilah yang digunakan untuk mempercantik laporan keuangan Karponak. Cantik secara angka. Walaupun sebagai direktur operasional aku tahu persis bahwa kondisi gerai-gerai pada terpuruk. Menanggung rugi. Revenue and profit driver alias RPD nya sirna. Uang yang diinvestasikan perusahaan untuk membangun gerai bukan berbuah laba. Tapi justru berbuah rugi. Membuat gerai beru bermakna memfoto kopi kerugian.

&&&

Akhir Maret 2022. Itulah tanggal yang sangat bersejarah bagi Karponak. Tanggal mulainya saham Karponak dengan kode saham KARP diperdagangkan di lantai bursa. Beberapa menit sejak dibuka langsung menyentuh angka ARA. Auto Rejection Atas. Harga saham menjadi Rp 125 rupiah. Naik 25% dari harga IPO.

ARA ini dalam beberapa menit ini memang sudah menjadi bagian dari skenario AC. Skenario lengkapnya begini. KARP IPO dengan menerbitkan satu miliar lembar saham baru. Nilai nominal per lembar saham Rp 10. Dilepas dengan harga Rp 100. Dengan demikian target IPO adalah Rp 100 miliar.

Untuk menciptakan animo investor yang bagus, maka AC mengerahkan investor-investor lain. Ada belasan orang yang nasibnya seperti Afri. Mendapatkan titipan uang dari sang bos besar. Belasan orang  itulah juga membuat perusahaan-perusahaan investasi seperti AC. Perusahaan-perusahaan inilah yang saat book building ikut memesan saham. Total pemesanan pun menjadi Rp 1 triliun lebih. Over subscribe 10 x. Semua uang dari si bos besar. Inilah yang kemudian terbukti dalam beberapa hari IPO. ARA berkali kali Harga saham naik menjadi Rp 300.

Bukan hanya itu. AC dan kawan-kawannya juga memanfaatkan kekuatan media sosial dan endorsement. Beberapa pejabat memberi ucapan selamat saat KARP melantai. Beberapa menteri, beberapa gubernur, beberapa pengusaha top, artis dan macam-macam. Inilah yang membuat publik makin percaya kepada KARP. Untuk beberapa minggu saham stabil pada angka Rp 300.

Aku tahu beberapa mahasiswa yang tinggal di kampung tempatlku kontrak rumah juga ikut membeli. Kampung itu memang dekat dengan ITATS, Universitas Narotama dan STIESIA. Tentu uang mereka kecil. Namanya juga mahasiswa. Ada yang membeli dengan Rp 100 ribu. Bahkan ada yang hanya Rp 50 ribu. Mereka suka membelinya karena endorsement dari para pesohor. Juga karena mereka rata-rata adalah pelanggan bakso Karponak.

Nah, pada harga Rp 300 itulah perlahan lahan perusahaan-perusahaan investasi kawan-kawan Afri melepas sahamnya. Sampai habis. Mereka pun mendapatkan dana sekitar Rp 300 miliar. Angka itu nilainya 3x lipat dari dana yang masuk ke KARP saat IPO. Dengan demikian perusahaan-perusahaan investasi pengelola uang bos besar laba Rp 200 miliar.

Dan bukan hanya itu, pihak-pihak terkait IPO pun ternyata adalah orang-orang kepercayaan si bos besar. Dan pihak-pihak terkait IPO itu semua minta fee. Dan yang menyedihkan, Karponak harus membayar fee berbagai konsultan itu semua sekitar Rp 40 miliar. Cash back. Total Rp 240 miliar dikurangi dana akusisi dan penerbitan saham sebelum IPO Rp 25 miliar maka bos besar masih cwan Rp 215 miliar. Aku protes. Tapi aku tidak bisa berbuat banyak karena semua diputuskan di RUPS dan aku hanya menjadi pemegang saham tidak sampai 5% setelah masuknya dana 10 miliar sebelum IPO dari AC.

Cash back itu tentu membuat kinerja keuangan KARP  berat. Tentu akan dibukukan sebagai biaya atau biaya dibayar di muka. Selanjutnya diamortisasikan. Dan efeknya, saat amortisasi itu terjadi, kinerja keuangan KARP memburuk. Begitu laporan keuangan dipublikasikan, respons pasar langsung memburuk. Maka, dua tahun setelah IPO harga KARP berhenti di angka Rp 50. Menjadi saham gocap. Mengalami apa yang disebut IPO Trap. Tapi ini IPO Trap yang memang sudah dirancang oleh jaringan si bos besar. Afri dan kawan-kawan hanya pelaksana.

Dan sebagai direktur operasional, ak lah yang harus menghadapi kondisi buruk itu. Termasuk menghadapi para pemasok yang piutangnya sudah macet berbulan-bulan di Karponak. Di sini aku mengalami malu untuk kedua kalinya. Dua tahun lalu malu karena beban utang pribadi Rp 10 miliar. Lalu terselesaikan dengan akuisisi AC Rp 15 miliar. Kini malu dan dikejar-kejar pemasok karena utang Karponak. Dan aku tahu Undang Undang PT menyebut bahwa direktur, termasuk aku, bisa dituntut bertanggung jawab secara pribadi terhadap utang perusahaan.

Tepat 3 tahun setelah IPO, Karponak dinyatakan pailit oleh pengadilan. Aku terpukul bukan main. Bahkan beban ini jauh lebih berat dari pada saat-saat aku dihubungi Afri tiga tahun lalu. Kepailitan Karponak tidak berhenti pada harta Karponak. Para pemasok menuntut direksi bertanggung jawab secara pribadi. Dan di pengadilan aku kalah. Para lawyer pemasok membongkar cash back saat IPO. Aku pun harus menanggung secara pribadi. Uang sisa penjualan 95% saham habis untuk membayar utang perusahaan atas keputusan pengadilan.

Stress berat. Kontrakan habis. Uang sekolah anak-anak tertunggak beberapa bulan dan terancam tidak ikut ujian. Istri mengajukan gugatan cerai. Di ruang sidang pengadilan agama, aku berteriak sekeras-kerasnya stress berat menghadapi kenyataan.

&&&

“Abi-abi…bangun. Sudah hampir subuh. Ayo salat tahajud. Umi sudah ambil air wudhu. Ahmad, Fatimah, Aisyah, dan Ali sudah pada ambil air wudhu. Ayo abi segera ambil air wudhu dan menjadi imam salat tahajud.”

Subhanallah. Istri cantik salihahku membangunkan. Ternyata aku hanya bermimpi. Mimpi tentang sang bos besar yang menjadi perampok budiman. Melakukan pencucian uang hasil merampok uang negara melalui tax amnesty. Memanfaatkan orang-orang yang dalam keterpaksaan. Lalu duit yang sudah dicuci itu dilipat gandakan dengan merampok uang investor ritel di lantai bursa. Merampok perusahaan-perusahaan dari para founder yang terjerat masalah dari perbuatannya sendiri. Perusahaan belum menemukan RPD di-scale up dengan memanfaatkan uang para investor khilaf. Aset ditanam bukan menghasilkan laba. Tapi menghasilkan rugi. Memfoto kopi kerugian dengan uang para investor khilaf. Ujung ujungnya utang menumpuk. Mempertahankan gaya hidup tingginya dengan terus mencari investor khilaf baru. Dan suatu saat akan meledak dan menyerah ke pangkuan para perampok budiman di lantai bursa. Terlihat menolong tapi sebenarnya merampok. Disebut budiman karena secara legal tidak salah dan tidak bisa dituntut. Seperti mimpiku malam ini. Naudzubillah.

Alhamdulillah. Suara dan tangan lembut istri masih membangunkan dari mimpi burukku. Anak-anak masih setia ikut salat tahajud bersama di mushala rumah di lantai 2. Yang cowok salat wajibnya biasa berjamaah di masjid. Karponak masih menjadi perusahaan kuliner terbesar negeri ini. sedang bersiap masuk ke beberapa negara tetangga. Tiap tahun terus menerbitkan saham di luar lantai bursa. Ada pemegang sahamnya berupa nazir wakaf korporat. Menegaskan bahwa Karponak adalah perusahaaan dakwah. Perusahaan yang menjayakan umat dan bangsa di kancah percaturan bisnis global. Par value, book value, market value tetap tumbuh seperti yang direncanakan. Menjalani langkah demi langkah dari 8 langkah corporate life cycle. IPO nya nanti kalau sudah kesulitan mencari investor di luar lantai bursa karena besarnya kebutuhan dana ekspansi. Agar tidak terjebak glorifikasi IPO. Agar tidak terjebak IPO Trap. Agar tumbuh secara berekelanjutan sampai menjadi korporasi sejati. Itulah visiku, Karpo, sebagai founder can CEO bakso Karponak.

Cerpen ini adalah tulisan ke-392 Iman Supriyono di web ini. Ditulis pada tanggal 25 November 2022 di SNF Consulting House of Management. Cerpen ini adalah murni fiksi. Jika ada kesamaan atau kemiripan nama atau peristiwa, semua adalah kebetulan belaka.

Baca Juga
Cerpen: Si Tukang Bakso Triliuner

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Kebajikan Korporasi Zuckerberg


 “Sebab itu berlomba-lombalah kamu dalam serba kebaikan”. Jangan kamu berlarut-larut berpanjang-panjang  bertengkar perkara peralihan kiblat. Kalau orang-orang Yahudi dan Nasarani tidak mau mengikuti kiblat kamu, biarkanlah. Sama-sama setialah pada kiblat masing-masing. Dalam agama tidak ada paksaan. Cuma berlombalah berbuat serba kebajikan. Sama-sama beramal dan berbuat jasa di dalam peri kehidupan ini. “Di mana saja kamu berada, niscaya akan dikumpulkan Allah kamu sekalian.” Baik pun kamu dalam Yahudi, dalam Nasrani, dalam Shabiin, dan dalam iman kepada Muhammad SAW, berlombalah kamu berbuat berbagai kebajikan dalam dunia ini meskipun kiblat tempat kamu berhadap dalam sembahyang berlain-lain. Kalau kamu akan dipanggil menghadap kepada Allah, tidak peduli apakah dia dalam kalangan Yahudi, Nasrani, Islam dan lain-lain, berkiblat ke kabah atau baitul maqdis, di sana pertanggungjawabkanlah amalan yang telah kalian kerjakan di alam dunia ini.

Alinea di atas adalah kutipan tulisan Hamka saat menjelaskan ayat 148 dari surat ke-2 Al Qur’an. Ayat yang mengajarkan prinsip berlomba-lomba dalam kebajikan. Dalam bahasa arab disebut istabiq al kharirat. Berlomba-lomba melakukan kebaikan untuk sesama tanpa pandang suku, bangsa maupun agama.

Perlombaan tentu menghasilkan tingkatan-tingkatan. Termasuk perlombaan dalam kebaikan. Siapa yang terbaik? Siapa juaranya? Tidak lain adalah yang paling bermanfaat bagi umat manusia tanpa pandang suku, agama, maupun bangsa. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Demikian sebuah Hadits. Menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Di dunia bisnis, saat Anda membeli sesuatu pada dasarnya Anda sedang membeli manfaatnya. Anda membeli gadged misalnya, karena ada manfaatnya. Anda hanya akan membelinya jika manfaatnya lebih besar dari pada uang yang Anda keluarkan. Anda baru mau membelinya seharga Rp 5 juta misalnya, jika manfaatnya lebih dari angka itu. Manfaatnya Rp 10 juta atau Rp 20 juta misalnya.

&&&

Mark Zuckerberg, co founder Meta Platform Inc., terlahir sebagai Yahudi. Wikipedia menyebut bahwa Ia pernah teridentifikasi sebagai atheis. Tapi kemudian tahun 2016 menyatakan “I was raised Jewish and then I went through a period where I questioned things, but now I believe religion is very important”. “Saya dibesarkan sebagai orang Yahudi dan kemudian saya melewati masa di mana saya mempertanyakan banyak hal, tapi sekarang saya percaya agama sangat penting”.

Siapa yang tidak kenal Facebook, Istagram dan Whatsapp? Saya yakin Anda pengguna  setia minimal salah satunya. Anda terus setia menggunakannya karena terus menerima manfaatnya. terus menerima benefit. Untuk itu Anda rela mengorbankan memori di gawai Anda. Mengorbankan waktu berharga Anda. Tanpa manfaat itu, Anda sudah uninstall nya sejak dulu-dulu.

Bahkan mungkin Anda lebih dari sekedar pengguna. Anda rela mengeluarkan uang untuk membayar iklan di aplikasi itu. Sebagai direktur SNF Consulting, saya juga memutuskan untuk membayar iklan melalui aplikasi-aplikasi itu. Tentu karena manfaatnya jauh lebih besar dari pada uang yang dibayarkan.

Nah, ini semua bermakna bahwa Zuckerburg telah memberi manfaat kepada sesama. Bahkan sebagai orang Yahudi dia tidak membatasi manfaat itu hanya untuk orang seagamanya. Dia yang warga USA tidak membatasi manfaat itu untuk orang sebangsanya. Semua bisa memanfaatkannya.

Yang dilakukan oleh Zuckerberg itu seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW saat memimpin pemerintahan Madinah mulai tahun 622 Masehi.  Semua warga diberikan perlindungan sepanjang tunduk pada aturan yang telah disepakati. Termasuk orang Yahudi, Nasrani, Majusi atau apapun. Mereka ini disebut dzimmi yang artinya mendapatkan perlindungan.

Anda yang bukan orang Yahudi tetap boleh memakai Facebook, Instagram atau Whatsapp. Syaratnya adalah tunduk pada aturan. Untuk apa saja. Termasuk untuk menyiarkan agama Anda.  Menjadi  dzimmi dalam istilah pemerintahan Madinah. Anda baru akan dikeluarkan dari aplikasi milik Meta jika melawan aturan. Menjadi harbi, kebalikan dari dzimmi.

Nah, Zuckerburg telah memberi manfaat dengan Meta Platofms Inc. yang didirkan dan dipimpinnya. Menjadi juara dalam kebaikan baik bagi Yahudi maupun “dzimmi”. Sebagaimana tulisan Hamka di atas, Anda yang bukan Yahudi ditantang untuk menandinginya. Ditantang berlomba-lomba. Membangun korporasi yang produknya bermanfaat besar bagi umat manusia tanpa batas suku, bangsa dan agama. Tentu di bidang masing-masing. Menjadi rahmat bagi seluruh alam. Menjadi korporasi sejati. Bisa!

Artikel ke-391 karya Iman Supriyono ini ditulis di SNF Consulting House of Management pada tanggal 23 November 2022

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Baca juga:

Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporasi Pancasilais Nasionalis
Perusahaan Dakwah: Hayyu

Perusahaan Yang Menua


Adakah perusahaan yang menua? Apakah perusahaan tempat Anda berkarya juga menua? Bahayakah perusahaan yang menua? Saya akan menjelaskannya dengan sebuah contoh. Misalkan DEF adalah sebuah perusahaan restoran besar. Didirikan di atas lahan seluas satu hektar di sebuah kota kabupaten. Menunya enak. Desain interior dan eksterior bagus.  Pembelinya nyaman. Parkirnya luas sehingga para tamu menyukainya.

DEF berdiri sepuluh tahun lalu. Tahun 2012. Karena didirikan oleh seorang profesional bermodal kuat maka sejak awal resto sudah didesain beroperasi penuh. Jumlah karyawan penuh. Sejak awal karyawannya 30 orang. Menu lengkap. Pimpinannya dipilih dari orang yang berpengalaman bekerja di resto sebuah hotel besar.

Dari 30 orang karyawan yang direkrut pada saat pembukaan, sebagian besar adalah anak-anak muda usia 20-an. Hanya beberapa orang senior yang direkrut seperti pimpinan resto tadi. Ketika itu dari 30 orang rata-rata usianya adalah 24,2 tahun. Rata-rata dihitung dengan menjumlahkan usia seluruh karyawan dibagi dengan jumlah total karyawan yaitu 30 orang. Jumlah usia seluruh karyawan saat itu adalah 726 tahun dibagi 30 orang menghasilkan rata-rata di atas.

Tahun 2013 tidak ada perubahan karyawan. Dengan demikian tepat ketika usia resto satu tahun rata-rata usia karyawannya adalah 25,2. Mereka semua bekerja dengan baik karena memang perekrutannya dilakukan oleh lembaga perekrutan profesional. Mereka pun loyal-loyal. Lima tahun pertama semua mereka bertahan. Dengan demikian rata-rata usia mereka pada tahun 2017 adalah 29,2 tahun.

Waktu berjalan terus. Tibalah tahun 2019. Sampai tahun ini tidak ada perubahan karyawan. Rata-rata usia naik menjadi 31,2 tahun. Tahun 2020 puncak pandemi ada 2 karyawan yang meninggal karena Covid. Masing-masing berusia 30 dan 32 tahun. Dengan demikian dari 28 karyawan yang tersisa usianya adalah 28 x 31,2 tahun yaitu 873,6 tahun.

Pada era pandemi perusahaan bisa menyesuaikan diri dengan cepat. Transaksi online nya kencang. Maka begitu ada 2 karyawan meninggal langsung direkrut karyawan baru masing-masing usia 20 dan 22 tahun. Dengan demikian jumlah usia seluruh karyawan adalah 873,6 ditambah 20 dan 22 yaitu 915,6. Dibagi 30 maka rata-rata usia karyawan adalah 30,52 tahun. Sedikit menurun dari sebelumnya yaitu 31,2 tahun.

&&&

Pembaca yang baik, jika sebuah perusahaan tidak tumbuh, tiap tahun akan ada peningkatan rata-rata usia karyawan. Andai Resto DEF tidak menambah jumlah gerai dan tidak ada karyawan yang diganti karena meninggal atau pensiun seperti narasi di atas, usia rata-rata karyawan pada tahun 2030 adalah 40,52 tahun. Tahun 2040 menjadi 50,52 tahun. Terus menua.

Orang memang pasti menua. Tapi perusahaan tidak boleh menua.

Terus menua. Itulah bahaya perusahaan yang tidak tumbuh. Untuk menghindarinya perusahaan mesti tumbuh pesat. Misalkan Resto DEF tahun 2020 menambah satu gerai lagi dengan jumlah karyawan juga 30 dengan rata-rata usia 20 tahun, maka tahun itu juga rata-rata karyawan dari 2 gerai akan menjadi 25,6 tahun.

Bagi manusia, menua itu adalah kenyataan. Tapi bagi perusahaan, menua itu bahaya. Akan kalah cekatan dengan pesaingnya yang usia karyawannya rata-rata muda. Akan kalah lincah. Akan kalah bersaing. Maka, tumbuh pesat dan scale up adalah sebuah keharusan bagi perusahaan untuk tetap unggul di dunia bisnis. Perusahaan tempat Anda berkarya bagaimana?

Artikel ke-390 karya Iman Supriyono ini ditulis di SNF Consulting House of Management pada tanggal 11 November 2022

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Baca juga:

Modal Alfamart Mengejar Indomaret
Modal Murah Mitra Keluarga Menyalip Siloam
Pedal Gas Revenue and Profit Driver
RPD Sebagai Faktor Kali
RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle

Bom Waktu PDAM Surabaya


Sebagai konsultan manajemen, salah satu aktivitas keseharian adalah menjadi sparring partner manajemen perusahaan. Akhir bulan lalu dengan direktur utama PDAM Surabaya. Suasananya santai. Di sebuah gerai kopi modern sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya Timur, tidak jauh dari tempat tinggal saya.

Sebelum pertemuan, Dirut PDAM mengirim laporan keuangan tahun 2021. Lalu pada saat diskusi, disampaikan juga data tentang aset utama PDAM dalam melayani masyarakat yaitu jaringan perpipaan. Data itu kemudian didiskusikan lumayan serius. Berikut ini saya tuliskan poin-poin diskusi malam itu.

  1. Untuk tidak mengalami penurunan kualitas layanan, sebuah perusahaan yang layanannya berbasis aset seperti PDAM harus melakukan peremajaan aset secara terus menerus sesuai dengan umur ekonomis aset yang dimilikinya. Layanan PDAM adalah berupa air minum yang mengalir melalui jaringan perpipaan
  2. Laju peremajaan minimal sama dengan laju depresiasi secara nilai riil, bukan nilai finansial. Mengapa? Karena nilai finansial mengalami inflasi.
  3. Sebagai contoh, sebuah perusahaan, sebut saja PT ABC, yang memiliki nilai aset Rp 150 dan usia ekonomis aset 15 tahun. Nilai depresiasi adalah 150/15 yaitu Rp 10 per tahun. Misalkan aset dibangun ada tahun 2020. Dengan depresiasi itu, pada tahun 2021 nilai aset akan menjadi Rp 140. Karena nilai Rp 10 sebagai depresiasi telah dimasukkan sebagai beban dan beban tersebut tidak dibayar secara tunai maka pada tahun 2021 (jika variabel lain dianggap tidak berbeda) akan ada penambahan kas Rp 10 dari depresiasi
  4. Jika tahun tiap tahun kas senilai depresiasi disisihkan yaitu Rp 10, pada tahun ke 15 yaitu tahun 2035 akan ada kas dari hasil depresiasi sebesar  Rp 150. Persis seperti nilai aset tahun 2020 saat aset itu dibeli.  Namun demikian pada saat itu perusahaan tidak bisa membangun aset serupa untuk menggantikan aset yang telah habis usia ekonominya. Kenapa? Karena ada faktor inflasi. Harga aset tidak lagi Rp 150
  5. Dengan koreksi inflasi diasumsikan 5%, harga aset Rp 150 pada tahun ke 15 akan menjadi Rp 297. Dengan hitungan garis lurus, tiap tahun perusahaan harus menyisihkan kas Rp 297/15 yaitu Rp 19,8. Dengan demikian harus ada kenaikan posisi kas tahunan sebesar Rp 19,8 dengan rincian Rp 10 sebagai penyeimbang depresiasi dan sisanya Rp 9,8 murni laba ditahan yang merupakan penyeimbang inflasi
  6. Jika tiap tahun PT ABC menyisihkan kas Rp 19,8 maka tiap tahun nilai kas akan naik sebesar itu dan pada tahun ke 15 akan ada kas Rp 297 siap untuk membangun aset baru sebagai pengganti aset lama yang telah habis masa ekonomisnya
  7. Bagaimana untuk kasus PDAM? Aset utama untuk pelayanan pelanggan PDAM ada dua jenis yaitu sarana produksi dan pipa distribusi
  8. Per 31 September 2022 aset distribusi tercatat berupa pipa sepanjang 6 180 km. Pipa sepanjang itu dikelompokkan menjadi 4 kelompok usia aset. Aset dengan usia 50 tahun sepanjang 380 km. Usia 30-50 tahun 2020 km. Aset usia 17-29 tahun 2 399 km. Aset usia dibawah 17 tahun sepanjang 1381 km.
  9. Posisi neraca PDAM akhir 2021 menyebut nilai aset tetap Rp 2,40 triliun. Diskusi dengan dirut PDAM menyebut andaikan saat ini dibangun instalasi produksi air yang sama sekali baru dengan kapasitas persis fasilitas yang ada saat ini,  dibutuhkan dana sekitar Rp 2 triliun. Andai juga seluruh jaringan pipa diganti baru dibutuhkan dana sekitar Rp 1 miliar per kilometer sehingga untuk  6 180 km dibutuhkan Rp 6,18 triliun. Dengan demikian, total nilai aset baru adalah Rp 8,18 triliun.
  10. Jika diasumsikan usia ekonomis rata-rata aset adalah 20 tahun maka agar nanti 20 tahun yang akan datang bisa membangun lagi aset yang sama maka nilai depresiasi tahunan adalah Rp 409 miliar.
  11. Pada laporan laba rugi PDAM tahun 2020, biaya depresiasi amortisasi adalah Rp 100 miliar. Pada tahun yang sama aliran kas untuk investasi adalah Rp 85 miliar. Menarik sekali. Depresiasi amortisasi PDAM masih jauh dibawah nilai yang semestinya yaitu Rp 409 miliar. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya aset yang sudah tidak didepresiasikan karena masa depresiasinya sudah habis. Sudah begitu kas untuk investasinya lebih rendah dari laju depresiasi
  12. Laba tahun 2021 adalah Rp 206 miliar. Laba ini muncul karena biaya depresiasi amortisasinya di bawah nilai yang semestinya dibutuhkan untuk mempertahankan kualitas aset. Jika depresiasi disesuaikan menjadi Rp 409 miliar maka PDAM akan rugi Rp 103 miliar.
  13. Laporan arus kas menunjukkan bahwa tahun 2021 PDAM membagi dividen sebesar Rp 257 miliar. Tahun sebelumnya juga bagi dividen Rp 255 miliar.
  14. Berdasarkan biaya depresiasi, kas untuk investasi, laba dan dividen PDAM, bisa ditarik paling tidak tiga kesimpulan. Kesimpulan pertama, jika kebijakan depresiasi, arus kas untuk investasi dan dividen dilanjutkan, maka dari waktu ke waktu usia peralatan akan menua dan kualitas air juga menurun secara konsisten. Nanti ada masanya alat-alat itu akan habis masa ekonominya dan PDAM tidak bisa memasok kebutuhan air kepada konsumen. PDAM sedang menyimpan bom waktu. Suatu saat pasti meledak. Saat meledak itu segalanya akan kacau dan tentu saja pemerintah akhirnya akan melakukan penanggulangan dengan dana yang besar.
  15. Kesimpulan kedua, adanya dividen yang besar menunjukkan bahwa paradigma PDAM selama ini adalah institusi profit. Ini mestinya salah dan harus dikoreksi. PDAM mestinya dipandang sebagai institusi yang menjadi sarana bagi warga Surabaya untuk memenuhi kebutuhan air minum. Jika paradigmanya seperti ini, maka masyarakat melalui perwakilan yang memutuskan, kualitas air seperti apa yang dikehendaki.
  16. Jika masyarakat ingin kualitas air siap minum langsung dari kran yang  mengalir 24 jam ke setiap rumah seperti di kota-kota modern negara maju, maka dibutuhkan depresiasi yang kemudian menjadi aliran arus kas untuk investasi sebesar sekitar Rp 409 miliar per tahun. Agar PDAM impas (tidak rugi dan juga tidak laba) maka masyarakat harus meningkatkan uang yang dibayarkan kepada PDAM (menjadi tambahan omzet bagi PDAM) sebesar Rp 103 miliar per tahun. Caranya adalah dengan peningkatan tarif.
  17. Angka tambahan omzet Rp 103 miliar itu dihitung dengan kondisi uang saat ini. Tahun-tahun selanjutnya mesti disesuaikan dengan laju inflasi.
  18. Itu rutinitas tahunan. Masih ada lagi kebutuhan di awal yaitu dana untuk memperbaharui seluruh aset baik aset produksi maupun distribusi yang sudah berusia diatas 20 tahun. Sesuai data pipa di atas, untuk pipa jaringan dibutuhkan 2400 km alias Rp 2,4 triliun. Untuk fasilitas produksi asumsikan separuh dari nilai  baru Rp 1 triliun. Total 3,4 triliun.
  19. Dari mana uang Rp 3,4 triliun? Jika masyarakat surabaya melalui perwakilan memang mau menerima air minum mengalir 24 jam ke setiap rumah sehingga semua rumah tidak perlu menyediakan tandon atas, tandon bawah dan pompa, maka DPRD lah yang harus memutuskan uang itu diperoleh dari mana. Bisa dengan penerbitan obligasi yang kemudian dibayar dengan dana dari PDAM hasil peningkatan tarif sesuai standar air yang dikehendaki masyarakat. Dengan demikian peningkatan tarifnya tidak bisa hanya senilai peningkatan pendapatan Rp 109 miliar per tahun sebagaimana hitungan di atas. Mesti lebih tinggi
  20. Lebih tinggi seberapa? Misalkan saja PDAM menerbitkan obligasi senilai Rp 3,4 triliun dengan bunga 7% per tahun maka dibutuhkan pembayaran bunga Rp 238 miliar. Untuk pokoknya dibutuhkan tabungan pelunasan pokok Rp 340 miliar per tahun. Jadi total dalam dibutuhkan Rp 578 per tahun. Ditambah dengan angka Rp 109 miliar di atas maka dibutuhkan kenaikan omzet PDAM sebesar Rp 687 miliar per tahun. Mengacu omzet tahun 2021 Rp 843 miliar maka total omzet menjadi Rp 1,53 triliun plus koreksi inflasi untuk tahun-tahun yang akan datang. Omzet ini akan mengakibatkan PDAM mampu menyediakan air siap minum langsung dari kran yang mengalir 24 jam ke semua rumah di Surabaya. PDAM tidak ada laba, tidak ada rugi, dan tidak membagikan dividen.
  21. Kesimpulan ketiga, jika masyarakat menginginkan kualitas air seperti saat ini, tanpa ada perbaikan tapi juga tidak makin menurun, maka dibutuhkan peningkatan tarif yang akan membuat pendapatan PDAM naik sebesar Rp 109 miliar dan PDAM bisa mengalokasikan arus kas untuk investasi sebesar Rp 409 miliar untuk peremajaan fasilitas produksi dan pipa tanpa mengakibatkan PDAM rugi. Tapi juga tidak laba. Jadi tidak ada lagi dividen kepada pemegang saham

Itulah tiga kesimpulan. Kini, PDAM dan seluruh pemangku kepentingan harus mengambil keputusan. Membiarkan bom waktu itu berjalan dan suatu saat akan meledak? Atau perbaikan agar PDAM mampu menyediakan air siap diminum langsung dari kran seperti kota kota modern di negara maju? Atau sekedar mempertahankan kualitas air seperti sekarang yang hanya mengalir pada malam hari dan tidak bisa diminum? Monggo para pemangku kepentingan memutuskan.

Artikel ke-389 karya Iman Supriyono ini ditulis Jogjakarta pada tanggal 4 November 2022

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Baca juga:
Giant Tutup: Menemukan kembali RPD
Korporatisasi perusahaan keluarga
Korporatisasi menghindari pseudo CEO
Waskita Beton digugat pailit: anak sakit induk sakit
Harapan BSI, nyata atau fatamorgana
BUMN berjamaah merger akuisisi
Wika gali lobang tutup lobang
SWF antara harapan dan belenggu
Corporate life cycle
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Mitra Keluarga Menyalip Siloam: Modal Murah 2% Per Tahun


Revenue and profit driver (RPD) bagi sebuah  perusahaan rumah sakit seperti PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. alias RS Mitra Keluarga adalah jumlah unit rumah sakit. Ekspansi artinya adalah membelanjakan kas untuk membangun baru atau mengakuisisi rumah sakit lain dengan dana lebih dari 5 x laba.

Laba tahun 2021 Mitra Keluarga adalah Rp 1,4 triliun. Scale up artinya membelanjakan kas untuk investasi dengan nilai minimal Rp 7 triliun. Artinya, jika saat ini aset Rp 6,9 triliun perusahaan mengoperasikan 26 uniit, tambahan Rp 7 triliun akan meningkatkan jumlah unit sekitar dua kali lipat.

Pertanyaannya, duit dari mana? Mari kita lihat. Nilai pasar perusahaan saat ini adalah Rp 37,7 triliun.  Right issue (menerbitkan saham baru) sebesar 1,4 miliar lembar (10% dari jumlah lembar saham saat ini), akan menghasilkan dana segar sekitar Rp  3,8 triliun. Yang menarik, investor hanya menuntut ROI 2,9%. Bagi Mitra Keluarga, 2,9% ini adalah cost of capital. Artinya, Mitra bisa memperoleh dana Rp 3,8 dan investor hanya membutuhkan imbal hasil  2,9% per tahun dari dana itu. Murah sekali kan? Inilah hasil menguangkan intangible asset. Dana Rp 3,8 triliun itu hanya akan dicatat sebagai saham sebesar Rp 280 miliar. Sisanya yaitu Rp 3,250 trilun akan menjadi agio saham. Kedudukannya sama dengan laba ditahan. Cermin penghargaan investor terhadap intangible asset perusahaan.

Untuk scale up  (Rp 7 triliun) masih kurang Rp 3,2 triliun. Dari mana? Urang Mitra saat ini adalah Rp 936 miliar. Jika menambah utang Rp 3,2 triliun, utang akan menjadi 4,1 triliun. Ekuitas saat ini Rp 5,9 triliun. Setelah rights issue akan menjadi Rp 9,7 triliun. Artinya, utang Rp 3,2 triliun hanya akan menaikkan rasio utang (DER) menjadi 0,42.  Masih jauh dari angka 1. Masih sangat aman.

Ikuti KELAS KORPORATISASI untuk mempelajari lebih lanjut konsep dan eksekusi materi di artikel ini

Dengan kombinasi antara penerbitan saham dan utang di atas, berarti Mitra telah menerapkan konsep gergaji korporatisasi dari SNF Consulting. Menjaga angka rasio utang aman dengan saling bergantian antara penerbitan saham baru dan penambahan utang. Hasilnya untuk scale up. Bisa paduan antara mendirikan unit sendiri dengan mengakuisisi rumah sakit lain untuk direbranding menjadi RS Mitra Keluarga. Jika ini dilakukan tahun depan, maka Mitra akan langsung mendahului Siloam. Menjadi rumah sakit swasta terbesar. Mendapatkan crowding efffect di mata konsumenmaupun carrer choice effect di mata kandidat SDM terbaik khususnya para dokter terbaik.  Mitra Keluarga, maukah scale up? Maukah tancap gas?

Artikel ke-388 karya Iman Supriyono ini ditulis di SNF Consulting House of Management pada tanggal 3 November 2022

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Baca juga
Korporasi Raket Yonex
Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia

Intangible Asset Persyarikatan


Intangible asset adalah aset yang tidak bisa dicatat dalam sistem akuntansi. Contohnya berupa merek yang kuat, nama besar, sejarah yang panjang, manajemen yang kuat, pelanggan yang loyal, pemasok yang berkualitas dan sebagainya. Perusahaan yang bekerja keras menguatkan merek misalnya dengan menjaga kualitas dan standard produk dalam jangka panjang tidak bisa menuangkan upaya itu sebagai aset secara akuntansi. Perusahaan yang memiliki sistem manajemen yang kuat juga tidak bisa menuliskannya sebagai aset dalam akuntansi. Perusahaan yang melakukan pembinaan terhadap karyawan tidak bisa menuliskannya secara akuntansi sebagai aset. Dan sebagainya. Padahal, apa yang dilakukan itu jelas-jelas memperbaiki kinerja perusahaan.

Untuk gambaran, mari kita lihat sebagai contoh. Siloam Internasional Hospitals Tbk, perusahaan menaungi Rumah Sakit Siloam, per 31 Desember 2021 membukukan aset bersih alias ekuitas Rp 6,5 triliun. Pada saat yang sama, nilai seluruh saham (nilai pasar) perusahaan adalah Rp 14,5 triliun. Rp 6,5 triliun adalah seluruh aset bersih (aset dikurangi utang) perusahaan berdasarkan catatan  historis akuntansi. Rp 14,5 triliun adalah nilai perusahaan menurut transaksi saham di pasar. Selisihnya yaitu Rp 8 triliun adalah penghargaan para investor terhadap intangible asset perusahaan.

Jika membutuhkan modal untuk ekspansi, perusahaan dapat menerbitkan saham baru. Katakan perusahaan menerbitkan 10% saham, maka dana yang akan diterima oleh perusahaan adalah Siloam adalah Rp 1,45 triliun. Padalah menurut akuntansi, nilai 10% itu adalah Rp 650 miliar. Maka, penerbitan 10% itu bermakna perusahaan telah menguangkan intangible asset. Memperoleh Rp 800 miliar dari intangible asset.

Atas uang yang diterima itu, perusahaan hanya memberikan hak laba kepada investor sebesar Rp 66,5 miliar. Dalam pandangan para investor, mereka hanya bersedia hanya akan menerima return on ivesment (R0I) sebesar  4,5% per tahun. Jauh lebih rendah dari pada bunga bank yang di atas 10%. Mereka mau diberi ROI kecil karena adanya intangible asset tadi. Inilah yang menjadi modal Siloam untuk tumbuh pesat.

&&&

Muktamar bagi Persyarikatan adalah sebuah hajatan besar. Hajatan besar tentu saja sekaligus menjadi momentum evaluasi. Kali ini saya mengajak pembaca untuk melakukan evaluasi tentang kemampuan persyarikatan dalam mendayagunakan intangible aset di sektor kesehatan. Mendayagunakan nama besar, sejarah, kepercayaan masyarakat dan sebagainya untuk menumbuhkan layanan kesehatan berupa rumah sakit sebagai pilar utama persyarikatan.

Sistem hukum Indonesia mengenal 4 badan hukum yaitu perkumpulan, yayasan, perseroan terbatas dan koperasi. Persyarikatan sejak awal telah memilih badan hukum perkumpulan sesuai Staatsblad nomor 64 tahun 1870. Memang NKRI belum menerbitkan undang-undang perkumpulan sendiri hingga saat ini.

Empat badan hukum tersebut memiliki karakter masing-masing. Tapi kali ini kita akan membahas dari kacamata karakter terkait intangilble aset. Dari 4 badan hukum tersebut, hanya perseroan terbatas yang bisa mengakomodasi adanya intangible asset dan mengonversikannya menjadi uang untuk modal pertumbuhan organisasi. Itulah mengapa PT adalah badan hukum berperan paling besar dalam menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat.

Apa yang saya gambarkan pada bagian awal tulisan ini adalah bagaimana Siloam yang memang berbadan hukum perseroan terbatas menguangkan intangible assetnya. Membangun rumah sakit baru dimana-mana. Menjadi tempat yang nyaman bagi para dokter terbaik untuk berkarir. Pertumbuhan adalah salah satu syarat kenyamanan bagi SDM terbaik.

Nah, karena karena persyarikatan berbadan hukum perkumpulan, maka tidak ada tempat untuk melakukan seperti yang dilakukan Siloam. Apakah tidak ada cara lain? Ada. Rumah sakit adalah industri yang terbuka bagi badan hukum PT untuk masuk. Untuk bisa tumbuh pesat dengan menjual intangible aset dengan nilai triliunan seperti Siloam, persyarikatan dapat mendirikan badan hukum PT untuk mewadahi layanan kesehatan. Setelah itu ditata sedemikian rupa agar bisa memilki nilai intangible asset yang tinggi untuk diuangkan menjadi modal pertumbuhan. Agar tidak ada dokter rumah sakit persyarikatan yang pindah ke Siloam karena tergiur oleh pertumbuhannya.  Tinggal pertanyaan besarnya nya, maukah pengambil keputusan di muktamar nanti mengambil peluang ini? Semoga.

Artikel ke-387 karya Iman Supriyono ini ditulis dan diterbitkan oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi November 2022

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Baca Juga
Pilar Ketiga Muhammadiyah Era Korporasi
Investment Company on Waiting Muhammadiyah
Toyota Camri Mobil Dinas PWM Jatim
Perumahan Muhammadiyah Babat

Obituari Pak Nadjikh Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammaadiyah
Obituari Pak Nadjikh Yang Supportif
Uang Kasir Uang Kasur Pak Sis Sesepuh Majelis Ekonomi Muhammadiyah

Tinggalkan Mentalitas Business Owner


Robert Kiyosaki membagi manusia menjadi 4 kuadran. Empoyee (E), self employed (SE), business owner (BO) dan investor (I). Konsep yang disebut empat kuadran ini banyak dijadikan referensi. Dalam kosepnya, Kiyosaki menyarankan orang untuk berpindah dari kuadran employee menjadi self employed, lalu business owner, lalu investor.

Seorang pegawai yang menjalankan saran ini akan segera keluar dari pekerjaannya. Berubah kuadran dari employee menjadi self employed. Misalkan si Fulan adalah seorang guru di sebuah sekolah pemerintah yang berstatus pegawai negeri. Mengikuti saran Kiyosaki maka Fulan akan mengundurkan diri dari posisinya sebagai pegawai negeri dan berubah posisi menjadi self employed. Caranya misalnya ditempuh oleh Fulan dengan menjadi guru les privat. Dengan demikian ia tidak lagi dipekerjakan oleh pihak lain. Posisinya menjadi dipekerjakan oleh dirinya sendiri dan karenanya disebut self employee.

Jika menuruti saran Kiyosaki, yang harus dilakukan fulan adalah mengumpulkan uang hasil les privat untuk membangun bisnis. Misalkan saja kemudian dia mendirikan warung sate. Honor dari mengajar privat dikumpulkan untuk mendirikan warung sate dengan mempekerjakan beberapa orang lain. Nah, berarti posisi Fulan kini sudah menjadi business owner. Meninggalkan profesinya sebagai guru privat untuk menjadi pemilik warung sate.

Selanjutnya, jika mengikuti saran Kiyosaki, maka laba dari bisnis warung satenya harus ditabung. Setelah cukup maka uang digunakan untuk berinvestasi. Fulan membeli ruko untuk disewakan. Persis mengikuti saran Kiyosaki untuk memilih properti sebagai bentuk investasi. Dengan demikian posisi Fulan sudah berubah dari kuadran investor. Fulan terus menerus memanfaatkan hasil laba warung satenya untuk menambah investasi. Suatu saat hasil investasi berupa sewa ruko sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saat itulah Fulan mencapai apa yang oleh Kiyosaki disebut sebagai kebebasan finansial.

&&&

Pembaca, apa yang disarankan oleh Kiyosaki bisa disebut sebagai pengelolaan keuangan dengan paradigma business owner (BO). Paradigma ini dianggap benar oleh banyak orang. Mungkin Anda juga termasuk di dalamnya. Tetapi sejatinya, paradigma ini salah secara fatal. Paling tidak ada lima argumen atas kesalahannya.

Argumen pertama, paradigma BO adalah masa lalu umat manusia. BO terjadi karena ketika itu umat manusia tidak mengenal apa yang di era modern ini disebut sebagai badan hukum alias legal entity. Di dunia bisnis dikenal adanya 2 bentuk legal entity yaitu korporasi (perusahaan) dan koperasi. Badan hukum seperti VOC yang didirikan pada tahun 1602 menjadi perintis era ditinggalkannya konsep BO. Setelah VOC muncul badan hukum lain yang sampai kini masih eksis dan melayani kebutuhan barang jasa umat manusia. Era berikutnya misalnya adalah Tyssenkrupp produsen kapal selam KRI Nenggala 402 berdiri sebagai korporasi tahun 1811.  Tyssenkrupp berdiri sebelum terjadinya perang Diponegoro (1825-1830).

Sejak adanya korporasi di dunia bisnis, perlahan-lahan peran perorangan dalam dunia bisnis menurun. Jika pada sebuah industri sudah ada pemain korporasi, pemain perorangan akan ditinggalkan konsumen. Contoh yang sekarang masih sangat terlihat adalah tutupnya toko kelontong perorangan dimana-mana setelah hadirnya korporasi di bidang itu yaitu Indomaret (1988) disusul Alfamart (1999). Korporasi menggantikan peran perorangan karena adanya fenomena crowding effect dan career choice efffect.

Argumen kedua, dalam korporasi tidak ada business owner atau pemilik. Korporasi berdiri berdasarkan undang-undang di negara tempatnya berada. Di Indonesia berdiri sesuai Undang Undang No. 40 tahun 2007 yang kemudian dilebur dalam UU Ciptaker. Maka, segala sesuatu tentang PT harus mengacu kepadanya. UU PT menyebut bahwa organ pada sebuah PT adalah direksi, komisaris dan pemegang saham. Tidak ada organ pemilik (business owner) dalam PT.

Mungkin Anda segera membantah dengan mengatakan bahwa pemegang saham sama dengan pemilik. Tetapi tidak. Perhatikan narasi berikut ini. Misalnya si saya punya seekor sapi. Jika sapi itu mangamuk dan merusak mobil Anda, maka Anda tidak bisa menuntut si sapi. Mengapa? Karena sapi bukan legal entity. Dan karena bukan legal entity maka sapi ada pemiliknya. Pemiliknya adalah saya. Sebagai pemilik saya bertanggung jawab sepenuhnya terhadap apa yang saya miliki. Maka atas kerusakan mobil Anda, sayalah yang bertanggung jawab. Sayalah yang bisa Anda tuntut, bukan sapi.

Tetapi misalnya, saya adalah pemegang 1000 lembar saham PT ABC yang bergerak di bidang taksi. Total lembar saham yang telah diterbitkan PT ABC misalnya 1500 lembar. Yang 500 dipegang oleh kawan saya si B misalnya. Lalu PT ABC melakukan sebuah tindakan hukum yang merugikan Anda. Misalnya saja taksi dari PT ABC menabrak mobil Anda yang sedang diparkir.  Mobil Anda rusak parah. Maka Anda tidak bisa menuntut saya. Atau si B. Anda harus menuntut PT ABC karena PT ABC adalah badan hukum alias legal entity. Dalam Undang Undang PT diatur bahwa yang mewakili PT sebagai badan hukum dalam urusan tuntutan seperti itu adalah direkturnya. Bukan saya. Saya bertanggung jawab sebatas uang yang telah saya setor sebagai modal di PT itu yang ditukar dengan sekian lembar saham PT ABC. Dirktur bisa bertanggung jawab sampai harta pribadinya, demikian menurut undang Undang PT.

Badan hukum itu punya hak dan kewajiban seperti manusia. Badan hukum tidak bisa dimiliki sebagaimana manusia juga tidak bisa dimiliki. Sebagai gambaran Eva Celia adalah anak Sophia Latjuba. Sekali lagi, statusnya anak. Tidak bisa dikatakan bahwa Eva adalah milik Sophia Latjuba. Manusia tidak bisa dimiliki.  Demikian juga PT. PT ABC tidak bisa dimiliki oleh saya atau siapa pun.

Argumen ketiga, dengan adanya lembar saham pada sebuah korporasi, konsekuensinya akan muncul yang namanya par value, book value dan market value dan valuasi. Selisih antara antara market value dan book value adalah intangible asset. Intangible aset bisa diuangkan melalui penerbitan saham baru. Hasilnya adalah uang dengan biaya modal (cost of capital) yang murah. Hanya sekitar 2-3% per tahun.  Inilah yang menjadikan sebuah perusahaan bisa melakukan scale up untuk tumbuh pesat secara eksponensial. Menjadi korporasi sejati. Hal ini tidak bisa dilakukan jika Anda masih berpandangan business owner.

Mengapa tidak bisa? Karena business owner memandang yang dimiliki adalah perusahaan. Bahkan aset perusahaan. Misal dalam contoh PT ABC di atas, dengan paradigman business owner maka aset saya adalah PT ABC itu sendiri. Bahkan aset yang ada di dalam PT ABC itu. Misalnya PT ABC membeli mobil untuk operasional maka dengan paradigma business owner mobil itu menjadi milik saya. Kesalahan ini pernah dilakukan oleh Pak Jokowi dan pak Prabowo pada debat Capres tahun 2019 tentang kepelikan tanah. Pak Jokowi mengatakan bahwa pak Prabowo punya tanah 250 ribu hektar di Aceh dan 150 ribu hektar di Kalimantan Timur. Pak Prabowo juga membenarkannya. Bahkan pak JK sebagai wapres ketika itu juga membenarkannya. Padahal sebenarnya tanah itu bukan milik Pak Prabowo. Tapi milik sebuah badan hukum PT.

Dalam korporasi, yang dimiliki orang adalah lembaran saham. Bukan PT atau aset PT. Dalam contoh PT ABC di atas, aset saya adalah lembaran saham PT ABC. Aset ini memiliki par value, book value dan market value. Jika saya membayar zakat, yang dizakati adalah harta saya berupa lembar saham. Zakat saham dikiaskan dengan zakat lahan pertanian tanpa biaya pengairan yaitu 10% dari hasil panen. Maka zakat harta saham saya adalah 10% dividen.

Mengapa saya tidak dikenai zakat atas mobil atau uang kas PT ABC? Karena mobil dan uang kas itu bukan milik saya. Orang tidak bisa dikenai zakat atas sesuatu yang bukan miliknya. Yang menjadi milik saya adalah lembar saham. Bukan mobil atau uang kas PT ABC.

Argumen keempat, dalam ekonomi modern, setiap orang adalah pekerja dan setiap orang adalah investor. Bahkan seorang pendiri PT dan direktur atas PT yang didirikannya pun bekerja secara profesional. Mengapa? Karena hanya dengan bekerja secara profesional sesuai tata kelola perusahaan yang digariskan Undang Undang maka PT bisa melakukan korporatisasi. Teknisnya dengan terus-menerus menerbitkan saham baru untuk tumbuh secara eksponensial menjadi korporasi sejati.

Ketika perusahaan melakukan korporatisasi, dibutuhkan banyak investor sebagai pemegang saham baru. Siapa investor itu? Tentu saja para profesional dan karyawan. Yang disebut bebas finansial dalam ekonomi modern adalah bagaimana hasil investasi mendatangkan imbal hasil yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mencapai Return on Invetment (ROI) bahkan sampai ratusan persen.

Argumentasi kelima, korporasi adalah ujung tombak daya saing sebuah bangsa. Korea selatan tampil sebagai bangsa unggul karena ada Hyundai, KIA, Samsung, LG dan sebagainya. Jepang karena ada Toyota, Nissan, Mazda, Suzuki, Yamaha dan sebagainya. USA karena ada Alphabet (Google), Meta (Facebook), Western Union, Chiquita, Boeing, dan sebagainya. Bangsa yang besar menghasilkan korporasi besar yang produknya dimanfaatkan oleh masyarakat berbagai bangsa. Korporasi seperti ini mustahil hadir jika para pelaku bisnis di negeri itu masih berparadigma business owner.

Pelajari tuntas di KELAS KORPORATISASI. Daftar http://www.klikwa.net/snfconsulting.

Mengapa? Paradigma business owner menghambat pelaksanaan korporatisasi. Menerbitkaan saham baru dianggap berbagi kepemilikan PT. Paradigma business owner mengira bahwa korporatisasi adalah menjual kepemilikan perusahaan. Padahal bukan. Korporatisasi adalah menjual saham baru yang baru diterbitkan oleh sebuah perusahaan. Saat PT ABC sebagai contoh di atas menerbitkan 200 lembar saham baru misalnya, saham yang saya miliki tetap 1000 lembar. Saham yang dimiliki si B tatap 500 lembar. Tidak berkurang saham sekali. Yang terjadi justru book value dan market valuenya meningkat. Jika saat pendirian saya hanya setor Rp 1 juta per lembar, lalu saham baru ini laku dijual dengan Rp 5 juta perlembar, maka market value saham saya kini menjadi Rp 5 juta dikalikan 1000 lembar alias Rp 5 miliar. ROI saya juga meningkat karena ada agio saham Rp 4 juta per lebar yang kedudukannya sama dengan laba di tahan. Sebagai modal pengembangan bisnis PT ABC.

&&&

Pembaca yang baik, saatnya kita tinggalkan mentalitas business owner. Kita enyahkan paradigma business owner. Kita buang jauh-jauh mindset business owner. Jangan bangga disebut business owner. Ubah menjadi paradigma korporasi. Pelajari dengan baik sejarah dan strategi korporasi, par value, book value, market value, agio saham, cost of capital, corporate live cycle, korporatisasi, gergaji korporatisasi, intangible aset, valuasi, wakaf korporat, dan segala seluk beluk korporasi. Jadikan dunia bisnis sebagai ibadah sekaligus sebagai saran menjayakan negeri ini di kancah pergaulan internasional. Menjadi bangsa investor. Bukan bangsa yang mencari investor.

Jangan posesif seperti anak kecil….

Kembali pada si Fulan pada bagian awal tulisan ini. Dengan paradigma korporasi, Fulan tetap menjadi guru secara profesional. Tekuni sedemikian hingga dikenal luas sebagai orang yang menguasai bidangnya. Sering diminta menjadi nara sumber untuk bidang yang dicintainya itu. Gajinya diinvestasikan sesuai kaidah investasi modern. Sekitar 50% diinvestasikan sebagai saham di berbagai perusahaan. Bebas finansial dicapai ketika hasil investasi sudah cukup untuk biaya hidupnya. Tetapi tidak lantas membuat si Fulan harus mundur sebagai guru. Fulan tetap menjadi guru profesional sampai pensiun. Bahkan sampai pensiun pun masih diundang menjadi pembicara seminar di berbagai tempat. Bukan untuk mencari uang. Tetapi untuk memberi makna hidup sesuai bidang yang ditekuni, dicintai dan dikuasainya.

Menjadi investor artinya menjadi pendukung pertumbuhan korporasi besar negeri ini melalu korporatisasi. Akan muncul korporasi besar di berbagai bidang. Korporasi sejati yang mengibarkan sang merah putih di berbagai bangsa. Menjayakan Rupiah karena juga dicari di berbagai bangsa untuk membayar royalti dan dividen kepada korporasi besar dari negeri ini. Indonesia menjadi negeri kaya raya. Sekelas Korea Selatan, atau Jepang, atau bahkan USA. Merdeka!

Artikel ke-386 karya Iman Supriyono ini ditulis di SNF House of Managment pada tanggal 6 Oktober 2022

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Baca juga:
Garuda, pailit atau korporatisasi?
Krakatau Steel: Tercekik Utang

Raja Utang: Mengapa Bunga Bank Selangit?
Garuda: Utang Melebihi Aset

Glorifikasi IPO Kioson
IPO Bukalapak Prospektif atau Buang Uang
Kepailitan Startup OFO Bike Hiring
Tesla Laba Setelah 16 Tahun Rugi
Corporate Life Cycle dalam Merger GoTo
Valuasi Merger Gojek Tokopedia
Sequoia VC Sejati

Korporasi Sepak Bola: Bali United


Duka menyelimuti dunia persepakbolaan tanah air. Saat tepat untuk merenung. Untuk berkontemplasi. Mengambil hikmah dan pembelajaran. Sudah banyak tulisan tentang pembelajaran berbagai aspek. Kali ini saya akan mengajak Anda mengambil pelajaran dari sisi korporasinya.

Dunia bola tanah air sedang berduka. Saatnya merenung. Saatnya mengambil pelajaran.

Adalah Bali United. Inilah korporasi bola yang pertama kali melantai di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan ini menarik untuk menjadi pelajaran. Kini, 3 tahun setelah melantai, bagaimana perkembangannya? Bagaimana kinerjanya? Bagaimana proses korporatisasinya? Bagaimana masa depannya? Saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin:

  1. Bali United dimiliki oleh PT Bali Bintang Sejahtera, selanjutnya disebut BBS, didirikan pada tanggal 3 Desember 2014. BBS bergerak di bidang-bidang jasa keolahragaan, termasuk tetapi tidak terbatas pada klub sepakbola profesional, bersama dengan kegiatan tambahan terkait.
  2. Pada akhir tahun 2014, BBS mengakuisisi bisnis klub sepakbola Putra Samarinda (Pusam). BBS kemudian mengubah nama klub dan mendaftarkannya kepada liga sepakbola Indonesia dengan nama “Bali United Pusam”. BBS juga memindahkan homebase klub dari awalnya di Stadion Utama Palaran (Stadion Utama Kalimantan Timur) ke Stadion ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Indonesia. Pada tahun 2016, Perseroan mengubah pendaftaran nama klub menjadi “Bali United”.
  3. Tahun 2019 BBS melakukan IPO. Prospektus saat itu menyebut bahwa sebelum IPO modal disetor BBS adalah Rp 40 miliar. Pemegang sahamnya terdiri dari 4 perusahaan dan 13 orang.  Pemegang saham terbesar adalah PT Bali Peraga Bola dengan 25% saham.  Posisi kedua ditempati Pieter Tanuri dengan 20,16% saham. Posisi ketiga dan keempat masing-masing adalah Ayu Patricia Rachmat dan Miranda dengan persentase sama yaitu 9,45%. Selebihnya memegang saham dengan persentase lebih kecil lagi.
  4. Per 31 Desember 2018 perseroan melaporkan posisi aset sebesar Rp 147 miliar dengan utang Rp 28 miliar. Dengan demikian ekuitasnya adalah Rp 118 miliar yang terdiri dari modal disetor Rp 40 miliar, tambahan modal disetor Rp 90 miliar dan rugi ditahan Rp 13 miliar. Adanya tambahan modal disetor (agio saham) Rp 90 miliar ini menunjukkan bahwa BBS telah melakukan korporatisasi di luar lantai bursa sebelum IPO. Ini pula yang menjelaskan mengapa pemegang sahamnya ada 17 pihak dengan tidak ada pemegang saham pengendali.
  5. Adanya rugi ditahan bisa dilihat lebih detail dari laporan laba ruginya. Data yang tersedia di prospektus adalah mulai tahun 2016 dengan omzet Rp 26 miliar dan rugi tahun berjalan Rp 8 miliar. Tahun 2017 omzet naik menjadi Rp 53 miliar dengan laba Rp 479 juta. Tahun 2018 omzet kembali naik menjadi Rp 115 miliar dengan laba tahun berjalan Rp 5 miliar. Jadi bisa disimpulkan bahwa rugi ditahan sebagaimana disebut di atas sebesar Rp 5 milyar terjadi sejak perseroan berdiri sampai tahun 2015. Ini menunjukkan perkembangan yang sangat bagus sebagai sebuah perusahaan rintisan dalam menapaki corporate life cycle.
  6. Pertengahan tahun 2019 BBS melantai dengan menerbitkan 2 juta lembar saham dengan nilai  nominal Rp 20 miliar. Saham tersebut laku di pasar dengan nilai Rp 350 miliar. Dengan demikian ada agio saham sebesar Rp 330 miliar dari penerbitan saham melalui IPO ini.  Total agio saham menjadi Rp 408 miliar pada neraca akhir 2019.
  7. Hasil dana IPO cukup mendongkrak kinerja. Omzet tahun 2019 Rp 215 miliar alias naik 87% dibanding tahun sebelumnya.  Kenaikannya bagus, tetapi sejatinya ini kalah jauh dibanding pertumbuhan aset yang naik 369% dari Rp 147 miliar menjadi Rp 543 miliar. Laba naik 140% dari Rp 5 miliar menjadi Rp 7 miliar. Kenaikan laba juga belum sebanding dengan kenaikan aset. Dengan demikian, BBS belum bisa mempertahankan ROA. Sebelum IPO adalah 3,4% yaitu laba Rp 5 miliar dari aset Rp 147 miliar. ROA setelah IPO adalah 1,3% yaitu laba Rp 7 miliar dari aset Rp 543 miliar. Belum bisa mempertahankan ROA adalah salah satu penanda bahwa perusahaan belum menemukan Revenue and Profit Driver (RPD). Menemukan RPD artinya perusahaan sudah mampu mengonversi aset menjadi omzet dan laba dengan kenaikan yang linier.
  8. Tapi mungkin ada alasan waktu mengingat dana IPO baru diterima pada pertengahan tahun. Untuk itu bisa kita lihat pada periode berikutnya. Tahun 2020 omzetnya Rp 76 miliar dengan laba tahun berjalan Rp 3 miliar. Posisi aset akhir tahun adalah Rp 550 miliar. Asetnya relatif tetap. Artinya, tahun 2020 pun BBS belum bisa menunjukkan kemampuan mengonversi aset menjadi omzet dan laba. Kondisi pandemi menjadi faktor eksternal bisa menjadikan para pemangku kepentingan memahaminya.  
  9. Ditelusuri lebih dalam, ternyata sebenarnya secara operasional perusahaan rugi. Omzet Rp 76 miliar tetapi biaya operasi Rp 157 miliar. Akhirnya perusahaan masih membukukan laba walaupun kecil karena ada pendapatan dari hasil investasi aset finansial sebesar Rp 62 miliar plus ada pendapatan keuangan (sebagian besar dari bunga deposito dan obligasi) sebesar Rp 18 miliar
  10. Tahun 2021 omzet naik menjadi Rp 199 miliar. Tapi kondisinya masih seperti tahun sebelumnya. Biaya operasional Rp 190 miliar. Perusahaan mencatatkan laba tahun berjalan Rp 194 miliar karena ada pendapatan hasil investasi Rp 171 miliar.
  11. Bagaimana tahun 2022? Semester pertama perusahaan membukukan pendapatan Rp 175 miliar. Biaya operasional Rp 156 miliar. Tidak ada pendapatan investasi signifikan sehingga laba tahun berjalan Rp 26 miliar. Sumbangan pendapatan keuangan adalah Rp 6 miliar. Ini ada tanda-tanda kondisi membaik. ROA dengan laba setengah tahun 3,3%.  Lebih baik dari sebelum IPO. Padahal baru satu semester.  Kalau semester kedua kinerjanya serupa ROA akan menjadi 2x IPO.
  12. Itulah kinerja BBS setelah IPO. Kondisi pandemi masih jadi kendala untuk membuktikan bahwa perusahaan mampu mendayagunakan dana hasil IPO untuk melalui corporate life cycle menjadi korporati sejati. Mampukah BBS? Kita tunggu tahun-tahun yang akan datang.

Artikel ke-385 karya Iman Supriyono ini ditulis di SNF House of Managment pada tanggal 4 Oktober 2022

Ikuti diskusinya melalui Zoom. Daftar: http://www.bit.ly/DaftarBSK23

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga
Korporasi Raket Yonex
Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia

Chiquita: Sejarah Korporasi Pisang


Ini adalah sejarah tentang pisang. Bukan sembarang pisang. Tetapi pisang yang menjelma menjadi sebuah korporasi global. Chiquita namanya.  Sejarahnya berawal dari tahun 1870 saat pengiriman pisang segar pertama melalui kapal laut. Tantangannya adalah mengatasi masalah pematangan yang berlanjut pada pembusukan sepanjang menempuh perjalanan.  Agar pisang sampai di tempat tujuan dalam kondisi segar.

Hampir dua dasawarsa berlalu setelah pengiriman pertama, tepatnya tahun 1899, United Fruit Company didirikan.  Perusahaan ini adalah hasil penggabungan antara Boston Fruit Company besutan Captain Baker dengan Andrew Preston dengan perusahaan kereta api Minor C Keith yang telah menanam pisang sepanjang jalur rel kereta api miliknya.

Tahun 1944 maskot Miss Chiquita diluncurkan. Maskot animasi ini menjadi terkenal pada tahun-tahun berikutnya.  Miss Chiquita adalah hasil karya kartunis dan ilustrator Hagar the Horrible dan Hi and Lois Comics.  Miss Chiquita memberikan kesan bersahabat dan hubungan personal bagi para pelanggan. Tahun yang sama juga jingle Chquita diluncurkan ke pasar. Makin memperkuat Chiquita sebagai merek pisang. Sepanjang sejarah periklanan, Chiquita adalah adalah salah satu merek terkenal di dunia karena keberhasilan iklan-iklannya.

Chiquita: korporasi pisang dari negeri non pisang

Tahun 1990 nama perusahaan berubah menjadi Chiquita Brand Internasional Inc.  Tujuannya adalah untuk mendapatkan manfaat dari merek Chiquita yang telah terkenal secara internasional.

Tahun 2000 Chiguita mengadopsi seperangkat nilai Inti dan memperbarui kode etiknya untuk mengikuti Social Accountability Internatioanal’s SA8000 Labor Standard. Chiquita juga menerima sertifikat dari Rainforest Alliance untuk semua kebun pisangnya di Amerika Latin.

Pada tahun 2015 Chiquita meluncurkan kampanye iklan “Just Smile”. Secara kreatif, Chiquita menampilkan pisang warna kuning segar dalam posisi horizontal menyerupai bibir yang sedang tersenyum. Di atas bibir dipasang dua logo Chiquita warna biru yang berposisi seperti dua mata. Iklan ini menuai kesuksesan besar.

Tahun 2017 Chiquita meluncurkan tag line “we are bananas” secara internasional. Dimulai dari Amerika dan dilanjutkan ke Eropa pada tahun 2018.

Hingga kini, pisang adalah makanan terpenting keempat di dunia tanaman setelah padi, gandum dan jagung. Lebih dari 10 miliar buah pisang Chiquita dimakan masyarakat setiap tahun. Chiquita mempekerjakan lebih dari 18 ribu orang di 25 negara untuk melayani pasar di hampir 70 negara.

&&&

Pada setiap kebutuhan barang atau jasa, dibutuhkan satu, dua atau tiga korporasi yang menonjol untuk melayaninya. Lihatlah di kebutuhan akan toko kelontong misalnya. Dulu toko kelontong hadir melalui toko-toko kecil di berbagai sudut perumahan. Tiga puluh tahun terakhir muncul Indomaret dan kemudian Alfamart sebagai sebuah korporasi besar toko kelontong. Masyarakat lebih suka berbelanja pada keduanya karena standard yang dijaga pada belasan ribu gerai dalam naungan merek yang kuat. Masyarakat sudah hafal lokasi barang yang mereka cari di rak-rak toko tersebut. Hafal karena standar yang dijaga pada belasan ribu toko. Itulah fenomena crowding effect.

Dulu apotek hadir dengan macam-macam merek di berbagai sudut kota. Sekitar sepuluh tahun terakhir ini ada K-24 yang hadir sebagai korporasi. Masyarakat pun lebih suka membeli obat-obatan di apotek ini karena standard yang dijaga. Meninggalkan apotek berbagai merek yang semula melayani mereka.

Kelas KORPORATISASI adalah tempat yang tepat untuk belajar ilmu korporasi menapaki 8 langkah corporate life cycle menjadi korporasi sejati.

Pisang adalah salah satu kebutuhan umat manusia berbagai bangsa. Chiquita hadir sebagai korporasi pisang dunia. Melayani kebutuhan masyarakat untuk mengkonsumsi pisang yang standar dalam naungan merek yang kuat. Dari kantor pusatnya di North Carolina, USA, Chiquita melayani pasar hampir 70 negara. Dengan volume penjualan 10 miliar buah, jika satu buah harganya Rp 2 ribu saja omzet Chiquita adalah Rp 20 triliun. Besar sekali untuk ukuran bisnis pisang. Masih ada peluang untuk hadirnya satu atau dua lagi korporasi pisang yang melayani pasar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Masih ada peluang hadirnya satu atau dua lagi merek kuat pisang mendampingi Chiquita.  Korporatisasi adalah jalannya. Melalui 8 langkah corporate life cycle sampai menjadi korporasi sejati. Siapa mau menangkap lebih dahulu? Siapa cepat, dia yang dapat.

Artikel ke-384 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Oktober 2022

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:

Sejarah Bata dan Kalibata Batavile Batanagar
Sejarah Raket Yonex
Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia
Sejarah Kalsiboard dan Etex Group
Sejarah Embraer si “PTDI” Brazil

Merger & Akuisisi: Transaksi RPD


Merger dan akuisisi pada dasarnya adalah transaksi Revenue and Profit Driver alias RPD. Sebagaimana  pada tulisan-tulisan sebelumnya, RPD dalah satuan terkecil ekspansi berupa aset yang jika ditambahkan pada sebuah perusahaan akan langsung meningkatkan revenue (pendapatan) dan profit (laba)nya. RPD adalah langkah ke-5 dari 8 langkah dalam Corporate Life Cycle (CLC) untuk menjadi sebuah korporasi sejati.

Contoh RPD adalah gerai bagi sebuah perusahaan minimarket. Perusahaan minimarket seperti Alfamart atau Indomaret jika berekspansi yang dilakukan adalah menambah gerai. Gerai adalah satuan terkecil ekspansinya. Sebagai narasi, misalkan satu gerai membutuhkan investasi sekitar Rp 1 miliar. Tiap gerai kurang lebih menghasilkan pendapatan tahunan Rp 5 miliar. Pendapatan tersebut menghasilkan laba sekitar Rp 150 juta. Maka, jika ingin meningkatkan omzet sebesar Rp 5 triliun perusahaan harus membuka 1000 gerai baru. Dari ekspansi tersebut perusahaan akan mendapatkan tambahan laba sebesar Rp 150 miliar.

Merger adalah transaksi RPD

Paling tidak ada tiga karakteristik saat perusahaan sudah menemukan RPD. Pertama, ada hubungan linier antara aset, omzet dan laba. Contohnya adalah perusahaan minimarket di atas. Peningkatan aset Rp 1 triliun akan meningkatkan omzet Rp 5 triliun dan laba Rp 150 miliar. Jika perusahaan ingin meningkatkan omzet Rp 10 triliun dan laba Rp 300 miliar maka perusahaan harus menambahkan aset sebesar Rp 2 triliun. Ini mengandung pelajaran bahwa peningkatan target berlipat tanpa membicarakan konsekuensi kebutuhan aset adalah omong kosong.

Kedua, karakteristik RPD adalah standar pada variabel-variabel penting. Pada contoh perusahaan minimarket di atas variabel penting yang distandarkan antara lain adalah luasan gerai, jumlah kasir dalam sebuah gerai, jumlah dan jenis item barang dagangan yang ada pada gerai, tampilan gerai, jumlah karyawan dalam tiap berai dan sebagainya.

Itulah mengapa misalnya pada sebuah rest area tol bisa terdapat dua, tiga bahkan lebih gerai alfamart atau Indomaret. Mengapa? Karena untuk mempertahankan standar. Kasir tetap 2 misalnya. Luasan gerai tetap sama. Mengapa? Karena inilah yang dibutuhkan pelanggan. Dengan standar itu pelanggan sudah hafal dimana letak dan posisi rak barang yang dibutuhkannya. Tidak perlu bertanya lagi kepada petugas gerai. Jika misalnya ramainya rest area direspon dengan memperbesar gerai yang ada sehingga ada 1 gerai besar di rest area itu, maka standar letak ini tidak bisa dipertahankan. Konsumen akan bingung.

Ketiga, telah ditemukan angka kegagalan yang akurat. Tingkat kegagalan diukur dalam persentase dan angkanya akurat. Contoh, Starbucks (SBUX) tahun 2021 menutup 1066 alias 3,3% gerai dari total 32 660 gerai pada akhir tahun buku sebelumnya. Angka inilah yang sudah diketahui oleh sebuah perusahaan yang telah menemukan RPD. Jadi, salah satu agenda rutin tahunan perusahaan yang telah menemukan RPD adalah memutuskan gerai mana yang akan ditutup. Perusahaan yang belum bisa menemukan angkat tingkat kegagalannya berarti belum menemukan RPD.

Dengan menemukan tingkat kegagalan dan tingkat pertumbuhan yang dikehendaki, maka kemudian perusahaan bisa menentukan berapa gerai baru yang akan dibuka. Tahun 2021 misalnya Starbucks membuka 2 239 gerai alias 6,9% dari jumlah gerai tahun buku sebelumnya. Membuka  6,9% dan menutup 3,3%. Dengan demikian pertumbuhan perusahaan dalalah 3,6%.

&&&

Merger dan akuisisi adalah transaksi RPD. Contoh, Unilever melakukan akuisisi terhadap kecap Bango dan teh Sariwangi. RPD Unilever adalah branded fast moving consumer good (FMCG). Ekspansi atau scale up bagi Unilever artinya adalah menambah merek FMCG. Nah, karena Unilever belum masuk ke industri kecap di Indonesia maka akuisisi kecap Bango adalah menambah branded FMCG. Transaksi ini adalah seperti Alfmart atau Indomaret atau Starbucks membuka gerai baru. Tujuannya  adalah untuk meningkatkan omzet dan laba. Aset berupa uang untuk akuisisi berakibat meningkatkan omzet dan laba. Omzet dan labanya tingkat kepastiannya tinggi karena merek yang diakuisisi sudah jalan puluhan tahun di pasar. Sudah punya angka historis omzet dan laba yang stabil.

Sebenarnya  bisa saja Unilever membuat sendiri merek kecap dengan riset sendiri. Unilever memiliki kemampuan itu. Tapi jika ini yang dilakukan Unilever butuh waktu yang lama untuk mengkonversi aset menjadi omzet dan laba. Seperti Wings yang membuat sendiri merek kecap Sedaap. Atau seperti Mayora yang membuat sendiri merek teh Pucuk Harum atau AMDK Le Mineral. Butuh waktu sekitar sepuluh tahun agar merek yang dibuatnya menghasilkan omzet dan laba.

Hal serupa terjadi ketika Meta mengakuisisi Instagram dan Whatsapp. Alphabet mangakuisisi Youtube. Meta dan Alphabet adalah perusahaan yang RPD nya berupa platform. Ekspansi bagi mereka dalah membuat platform baru. Dan itu akan membutuhkan waktu lama jika membuat sendiri. Lebih cepat dilakukan dengan akuisisi.

Lalu bagaimana dengan merger. Pada hakikatnya sama. Merger adalah transaksi RPD. Akuisisi dilakukan oleh perusahaan yang besar kepada perusahaan yang lebih kecil. Uang untuk akuisisi bisa diperoleh dengan menerbitkan saham baru sebagai proses korporatisasi. Merger dilakukan oleh dua atau lebih perusahaan yang RPD nya sama yang ukurannya hampir sama. Dengan ukuran hampir sama, tidak mungkin salah satunya menerbitkan saham baru untuk mengakuisisi yang lain. Contohnya adalah merger antara Lafarge dan Holcim. Keduanya adalah perusahaan yang RPD nya sama yaitu pabrik semen. Keduanya ukurannya bisa disebut setara. Tidak mungkin Lafarge menerbitkan saham baru untuk mengakusisi Holcim. Juga tidak mungkin sebaliknya.

Pelajari Merger dan Akuisisi dengan mengikuti KELAS KORPORATISASI. Dapatkan info jadwal terdekat melalui kontak http://www.klikwa.net/snfconsulting

Yang memutuskan akuisisi atau merger adalah para pemegang saham melalui RUPS. Jadi sebenarnya merger dan akuisisi adalah transaksi konsolidasi. Jauh dari kata kerakusan. Bagi para pemegang saham, ukurannya jelas. Apa itu? Merger dan Akuisisi akan dilakukan jika menghasilkan peningkatan ROI dan value bagi mereka dengan risiko yang lebih rendah. Meningkatnya ROI dan market value terjadi karena sinergi dan efisiensi. Menurunnya risiko karena RPD yang makin besar. RPD adalah peredam risiko investasi bagi para pemegang saham. Anda telah mendapatkan pelajaran?

Artikel ke-383 karya Iman Supriyono ini ditulis di SNF Consulting House of Management pada tanggal 21 September 2022

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:

Merger dan Akusisi: Mengapa Ekonomi Kita Dikuasai Asing
Merger Gojek Tokopedia
Valuasi dan Merger Tokopedia
Merger dan Akusisi BUMN
Filosofi Merger Akuisisi
Akuisisi Super Mahal Holcim oleh Semen Indonesia
Sejarah Raket Yonex
Sejarah Heinekken Hadir di Indonesia
Sejarah Revlon dan Kepailitannya
Sejarah Korporasi
Sejarah Lions Club
Sejarah Hyundai versus Astra
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal
Sejarah Danone Dari Turki Usmani Hadir ke Indonesia