Bisnis dapur MBG lagi marak. Anggaran harian pemerintah untuk pembelian makanan dari dapur MBG saat ini hampir menyentuh angka triliun. Sebagai sebuah “madu” tentu akan banyak kumbang yang mendatanginya. Muncul banyak pelaku bisnis dapur MBG.
Pertanyaan-pertanyaan pun muncul. Baguskah bisnis MBG? Bagaimana prospeknya? Bagaimana masa depannya? Apa risikonya? Mari kita bahas.
Pembahasan tentang bisnis dapur MBG akan kita mulai dari 5 kekuatan yang bisa menghancurkan bisnis. Porter, seorang pakar strategi bisnis, menyebutnya dengan five forces. Pertama adalah dari pebisnis lain dengan bidang yang sama. Bisnis dapur MBG pada dasarnya adalah bisnis katering. Maka, ancaman pertama tentu saja dari pebisnis katering lain yang sudah lebih kokoh di pasar. Mereka punya kekuatan lebih untuk berebut kue.
Kedua adalah pendatang baru. Biasanya pendatang baru masuk pasar dengan banting harga. Secara keuangan yang semakna dengan banting harga adalah memberi fasilitas lebih kepada konsumen untuk harga yang sama, membayar pegawai atau manajer dengan harga lebih tinggi bahkan membajak pegawai ahli dari pesaing, membayar barang pasokan dengan harga lebih tinggi, dan sejenisnya.
Ketiga adalah kekuatan pemasok. Pelaku bisnis seperti MBG yang harga jual sudah ditentukan akan sangat terpengaruh oleh harga barang pasokan. Pemasok yang kuat bisa memainkan harga. Contohnya adalah harga ayam sebagai kebutuhan pokok dapur MBG. Perusahaan penyedia daging ayam raksasa punya posisi jauh lebih kuat dari pada para pemain bisnis MBG.

Keempat adalah kekuatan pembeli. Pemain bisnis MBG menghadapi pembeli tunggal yaitu pemerintah. Bisnis apapun jika pembelinya hanya satu maka risikonya akan sangat tinggi. Pelaku bisnis hanya bisa mengikuti apapun kemauan pembeli. Jika pembeli menghentikan order maka bisnis akan gulung tikar.
Kelima adalah ancaman produk pengganti. Sudah ada yang menyuarakan bahwa MBG bagi anak sekolah lebih baik dikembalikan ke kantin masing-masing sekolah. Maka, kantin sekolah adalah contoh ancaman produk pengganti. Jika ide ini diadopsi oleh pemerintah, maka dapur MBG akan kehilangan pasar.
&&&
Pembaca yang baik, dari lima kekuatan yang mengancam pebisnis dapur MBG, yang paling harus diperhatikan adalah ancaman keempat. Ancaman kekuatan pembeli. Jika Anda sudah masuk atau akan masuk bisnis ini, maka perhatikan poin ini dengan seksama.
Yang harus ditata ulang adalah bagaimana memosisikan bisnis. Para pelaku bisnis dapur MBG mesti paham bahwa pada dasarnya mereka berada pad industri katering. Maka, mitigasi risiko kekuatan pemasok mesti berawal dari sini.

Untuk menjadi kokoh berkelanjutan, semua perusahaan akan menjalani proses pembelajaran untuk menemukan apa yang bisa disebut sebagai faktor kali. Sebagai contoh, faktor kali bisnis ritel modern adalah gerai, bisnis resto adalah gerai, bisnis rumah sakit adalah unit rumah sakit, bisnis barang konsumsi adalah produk-produk bermerek, bisnis pertanian adalah luas lahan, dan sebagainya. Faktor kali ini secara manajerial bisa disebut sebagai revenue and profit driver.
Nah, apa faktor kali bisnis katering? Tidak lain adalah jangkauan wilayah. Misalnya, sebuah dapur di suatu lokasi hanya akan efisien menjangkau wilayah dengan radius tertentu dari dapur tersebut. Maka, pebisnis katering mesti terus mengembangkan jumlah dapurnya. Tujuannya adalah memperluas wilayah yang bisa dilayani.
Maka, jika Anda pelaku bisnis MBG dan saat ini baru punya satu dapur, kumpulkan uang laba dari dapur pertama. Jangan dipakai untuk kepentingan lain. Segera bangun dapur kedua. Dan untuk dapur kedua ini jangan ambil pasar pemerintah lagi. Carilah pasar yang lain seperti katering untuk karyawan pabrik misalnya.
Laba dari dapur pertama dan kedua juga jangan diambil. Tetap kumpulkan untuk segera membangun dapur ketiga dengan mencari pasar baru lagi. Begitu seterusnya sampai Anda menemukan pola dan standar bisnis yang tinggal di copy and paste. Pada saat itu, segera cari modal eksternal khususnya dari penerbitan saham baru. Uangnya dipakai untuk menambah dapur baru dengan konsumen baru dengan kecepatan yang lebih tinggi. Inilah yang disebut scale up.
Mendatangkan investor dengan menerbitkan saham juga jangan hanya sekali. Tapi secara terus menerus. Awalnya dengan mencari investor dari kalangan teman-teman dekat. Lalu diperluas. Sampai suatu saat ketika kebutuhan dana sudah sangat besar bisa melalukan penerbitan saham melalui IPO di lantai bursa. Lalu setelah itu tetap menerbitkan saham melalui lantai bursa lagi yang disebut sebagai rights issue. Begitu seterusnya sampai menjadi korporasi sejati.
Pembaca yang baik, contoh pelaku bisnis katering yang sudah sampai tahap seperti itu adalah Sodexo. Dalam laporan keuangan terbaru perusahaan asal Perancis ini mencatatkan omzet Rp 475 triliun. Omzet perusahaan tersebut diperoleh dari 27 ribu lokasi klien di 43 negara, termasuk di Indonesia. Kini, perusahaan yang mulai berbisnis dengan melayani katering untuk French Research Institute for Atomic Energy pada tahun 1966 tersebut berada pada peringkat 1154 dari daftar 2000 perusahan terbesar dunia. Anda pebisnis dapur MBG? Contohlah langkah Sodexo.
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
𝘒𝘢𝘳𝘺𝘢 𝘬𝘦-501 𝘐𝘮𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘱𝘳𝘪𝘺𝘰𝘯𝘰 di laman ini, 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Februari 2021










