Bentoel Delisting Saat Marak IPO, Mengapa?


RUPS luar biasa Bentoel Internasional Investama Tbk. tanggal 28 September 2021 menyetujui rencana delisting dari Bursa Efek Indonesia. Banyak yang bertanya. Mengapa kebijakan delisting ini diambil di tengah maraknya perusahaan-perusahaan lain melakukan IPO? Tidak salahkah aksi korporasi ini? Mari kita cermati.

Penerbitan saham secara terus menerus baik di luar lantai bursa maupun melalui lantai bursa adalah proses yang harus dilalui sebuah perusahaan untuk menapaki delapan step corporate life cycle (CLC) menjadi sebuah fully corporatized company.  IPO adalah langkah awal penerbitan saham di lantai bursa. Setelah itu mesti dikuti right issue terus menerus membangun model gergaji korporatisasi

Bentoel yang beraset Rp 10,7 triliun itu sudah melakukan IPO tahun tahun 1990. Tapi memperhatikan laporan keuangannya, sebelum diakuisisi oleh BAT Bentoel tidak melakukan proses korporatisasi secara terus menerus. Sesuatu yang umum terjadi pada perusahaan di Indonesia menjadikan IPO sebagai tujuan akhir. Padahal mestinya IPO adalah awal dari proses korporatisasi lantai bursa.

Tahun 2009, perusahaan yang berdiri tahun 1930 ini diakuisisi oleh British American Tobbaco (BAT). Dengan akuisisi tersebut BAT menjadi pemegang saham 92,48%. Dengan demikian, status Bentoel adalah anak perusahaan (subsidiary) bagai BAT. Atau, BAT adalah induk perusahaan (parent) bagi Bentoel

Subsidiary adalah bagian tak terpisahkan dari parent. Direksi pada subsidiary pada dasarnya adalah manajer dari parent. Pindah, promosi atau pemberhentian manajer cukup dengan tanda tangan CEO induk.   Tapi hal ini tidak bisa bisa dilakukan ketika si subsidiary adalah perusahaan listed. Ada mekanisme lantai bursa yang tidak sederhana harus diikuti sehingga si manajer tidak dengan mudah bisa dipindah sesuai dengan strategi perusahaan.

Dengan demikian membiarkan subsidiary tetap listed adalah menghambat proses manajemen internal si parent. Oleh karena itu, sudah tepat apabila Bentoel melakukan delisted. Bahkan tidak masalah ketika parent harus melakukannya dengan harga mahal. Membeli saham yang dipegang publik melalui tender offer dengan harga jauh di atas harga pasar. BAT melakukan ini dengan harga sekitar 2x harga pasar.

Lalu jika Bentoel membutuhkan dana ekspansi, dari mana sumbernya? Tentu dari sang Induk. Saat ini misalnya, market value BAT adalah USD 58,61 miliar alias Rp 836 triliun. Menerbitkan saham 10% saja sudah menghasilkan dana sekitar Rp 84 triliun. Tidak perlu susah payaah menerbitkan saham kecil-kecil melalui  subsidiry yang tersebar di berbagai negara termasuk Bentoel. Market value Bentoel misalnya hanya Rp 11 triliun. Terlalu kecil BAT untuk menjadi sarana mencari uang melalui rights issue Bentoel.

Tidak hanya Bentoel. Aqua begitu diakuisisi oleh Danone juga melakukan hal serupa. Sarihusada juga delisted setelah diakuisisi oleh Nutricia. Bahkan tidak hanya di Indonesia. Mounth Elizabeth Hospital Singapura juga cabut dari lantai bursa Singapura begitu diakuisisi oleh IHH, sebuah perusahaan rumah sakit multinasional berpusat di Kuala Lumpur.

Delisting adalah keniscayaan bagi sebuah subsidiary company

Mungkin Anda bertanya, bagaimana ketika BUMN banyak melakukan IPO anak perusahaannya? Itu adalah kesalahan stratejik. Tapi karena mindset korporatisasi di negeri ini sangat lemah, aksi korporasi itu dianggap benar. Jika kesalahan ini tidak diperbaiki, jangan heran jika pasar negeri ini akan makin dikuasai asing. Salah satunya melalui akuisisi seperti yang dilakukan oleh BAT itu. Banyak diantara kita bangga menyebutnya investasi asing. Bahkan pemerintah ini selalu punya menteri atau pejabat setingkat menteri untuk mendorong investasi seperti ini. Mestinya sebaliknya, kita harus punya menteri yang mengurusi ekspansi perusahaan-perusahaan lokal di luar negeri dengan mengikut CLC. Menjadi bangsa investor.  Bagaimana pendapat Anda?

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga
Glorifikasi IPO Kioson
IPO Bukalapak Prospektif atau Buang Uang
Kepailitan Startup OFO Bike Hiring
Tesla Laba Setelah 16 Tahun Rugi
Corporate Life Cycle dalam Merger GoTo
Valuasi Merger Gojek Tokopedia
Sequoia VC Sejati


Artikel ke-352 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya pada tanggal 5 Oktober 2021

Rebranding Jangan Sembarangan


“Malang benar nasibku. Tiga dari empat almamaterku telah tiada. Dulu aku sekolah di SMP Negeri 1 Caruban. Kini tidak ada lagi nama sekolah itu. Kemudian saya melanjutkan belajar di SMA Negeri 1 Caruban. Kini, nama sekolah itu pun telah menghilang. Lalu saya melanjutkan pendidikan tinggi di IKIP Surbaya. Dan malang sekali, kini nama itu juga telah dihapus dari daftar perguruan tinggi milik pemerintah”

Rebranding: Jangan sembarangan…….

Itulah celoteh seorang adik saya saat kumpul-kumpul lima bersaudara. Memang betul. Tiga nama lembaga pendidikan tersebut telah hilang. Bukan karena bubar. Tetapi karena namanya telah diganti. SMP Negeri 1 CAruban, almamater saya juga, telah diubah namanya menjadi SMP Negeri 1 Mejayan. SMA Negeri 1 Caruban, tempat saya belajar juga, telah diganti namanya menjadi SMA Negeri 1 Mejayan. Dan terakhir, IKIP Surabaya, almamater kakak sulung saya juga, telah diganti menjadi UNESA alias Universitas Negeri Surabaya. Telah melakukan rebranding.

&&&

Adalah Ivan Petrovich Pavlov. Psikolog kelahiran Kerajaan Rusia tahun 1849 ini dikenal sebagai pencetus konsep classical conditioning. Sebuah teori yang penting sekali dalam dunia marketing. Sejak dicetuskannya. Sampai sekarang.

Pavlov meneliti anjing. Sekelompok anjing dipasangi alat pengukur kondisi air liur di mulutnya. Setelah itu kepada anjing-anjing tersebut diberikan makanan tertentu. Setiap memberi makanan, diperdengarkan juga suara bel tertentu. Sambil diberi makanan, dicatat pula alat ukur air liur di mulutnya. Pemberian makanan bersamaan dengan bel tersebut diluang-ulang terus.  Sambil terus dicatat kondisi air liurnya.

Setelah pemberian makanan bersamaan dengan suara bel dilakukan, selanjutnya Pavlov hanya membunyikan bel. Tanpa memberikan makanan. Sambil tetap diamati air liurnya. Dan kesimpulannya, kondisi air liur saat dibunyikan bel tanpa makanan sama dengan saat dibunyikan bel dengan makanan.

&&&

Penelitian Pavlov sangat relevan di era marketing modern. Era di mana konsumen mejadi sanggat percaya kepada merek alias brand. Produk bermerek perlahan tapi pasti menggeser yang tidak bermerek. Para ibu yang dulu memasak dengan santan tanpa merek kini tergantung pada Kara. Ibu saya yang dulu minum kopi tanpa merek kini minum Torabika. Tetangga desa saya yang dulu merokok tanpa merek kini menikmati Gudang Garam. Dan masih banyak lagi.

Santan kelapa analog dengan makanan anjing pada penelitian Pavlov. Kara analog dengan suara bel. Santan dan Kara adalah dua hal yang berbeda dan tidak ada hubungan. Seperti juga makanan anjing dengan bel yang juga tidak ada hubungan. Tetapi karena terus menerus-dipasangkan terjadilah proses pengondisian. Anjing pun mengasosiasikan bahwa bel itu identik dengan makanan. Para ibu pun mengalami pengondisian. Santan kelapa itu identik dengan Kara.

Ada dua hal penting dalam konsep karya penerima hadiah Nobel tersebut. Pertama adalah produk yang standar. Tidak berubah dalam karakteristiknya dengan pengulangan yang panjang. Kedua adalah merek yang tetap. Tidak berubah karakternya dalam pengulangan yang panjang juga. Makin banyak diulang makin kuat. Makin panjang waktu pengulangannya akan makin kuatlah posisi merek di benak konsumen.

&&&

Memperhatikan pentingnya frekuensi dan waktu pengulangan dalam penguatan merek, rebranding adalah sebuah kerugian. Begitu rebranding dilakukan, semua proses conditioning yang telah dilakukan bertahun-tahun terputus. Berganti menjadi merek baru. Apa yang dirasakan adik tentang kehilangan nama almamater itu juga saya rasakan. Benak saya tetap mengatakan bahwa saya adalah alumni SMA Negeri 1 CAruban. Bukan alumni SMA 1 Mejayan. 

Maka, jangan sembarangan melakukan rebranding. Jika memang benar-benar dibutuhkan, pastikan bahwa manfaat dari rebranding itu jauh lebih besar dari pada kerugian proses classical conditioning yang telah dilakukan puluhan tahun. Ingat bahwa brand adalah bagian penting dari Revenue and Prifit Driver alias RPD dan intangible asset perusahaan. Pastikan juga nama barunya belum pernah dipakai pihak lain. Hormati mereka yang sudah memakainya terlebih dulu. Hindari konflik yang memaksa rebranding ulang.

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga
RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
RPD Sebagai Pedal Gas
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle
Faktor kali alias RPD

Artikel ke-351 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk Majalah Matan edisi Oktober 2021, terbit di Surabaya, dengan sedikit pengeditan.

Funneling Marketing: Corong RPD


Ada milyaran orang di dunia ini. Ada lebih dari 250 juta orang di Indonesia. Bagi Anda para pemasar, pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah siapa saja yang akan Anda jadikan target pasar dari milyaran atau jutaan umat manusia itu. Maka Anda para pemasar harus melakukan proses segmentasi. Membagi pasar yang luas menurut variabel-variabel yang Anda pilih. Inilah tugas pertama para pemasar.

Variabel umur misalnya ada orang tua, orang dewasa, remaja, anak-anak, dan bayi. Mana yang Anda segmen yang Anda pilih dari mereka? Variabel jenis kelamin misalnya ada laki-laki ada perempuan. Segmen mana yang Anda pilih? Variabel status perkawinan misalnya ada yang orang yang menikah ada yang belum atau tidak menikah. Mana yang Anda pilih? Masih banyak lagi variabel. Anda harus memilih variabel yang menjadi dasar segmentasi dan kemudian memilih segmen atau segmen-segmen dari variabel itu untuk dijadikan target pasar.  Contoh hasil proses ini misalnya Anda memilih segmen perempuan dan menikah yang tingal di wilayah pulau Jawa misalnya untuk memasarkan sebuah produk.

Nah, pada target segmen yang telah dipilih, masih banyak sekali orang yang masuk di dalamnya. Jutaan orang. Dan yang menarik, pada jaman sekarang ini, hampir bisa dipastikan semua dari jutaan orang itu terkoneksi dengan internet. Semua memiliki nomor telepon seluler yang terkoneksi internet.

Maka, tugas kedua adalah mendapatkan nomor seluler dari orang yang masuk pada segmen yang Anda targetkan. Bagaimana caranya? Di sini lah dibutuhkan ketrampilan para pemasar untuk mendayagunakan internet sebagai sarana.

Ada cara berbayar ada cara gratis. Untuk sebuah perusahan, cara berbayar sangat direkomendasikan. Caranya dengan menggunakan berbagai metode iklan internet. Iklan di media sosial misalnya. Mengapa berbayar? Dengan cara berbayar, Anda para  pemasar bisa memiliki ukuran kinerja historis yang bersifat finansial. Akan muncul angka berapa rupiah biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu nomor kontak. Katakan Rp 5 ribu per nomor kontak. Pengalaman panjang akan menjadikan biaya per nomor kontak ini makin akurat.

Dengan biaya Rp 5 ribu per nomor kontak misalnya, Anda sudah bisa menghitung berapa biaya iklan yang dibutuhkan sesuai dengan target. Katakan, untuk satu bulan dibutuhkan 100 ribu nomor kontak maka dibutuhkan anggaran iklan Rp 500 juta. Gelontorkan Rp 500 juta dan 10 ribu nomor akan berada di tangan Anda bulan ini.

Setelah mendapatkan nomor kontak sesuai target segmen, tugas ketiga dari pemasar adalah menindaklanjuti setiap nomor itu satu demi satu. Menghubungi satu demi satu. Tentu saja dibutuhkan jumlah personel yang cukup untuk melakukannya. Katakan misalnya satu personel bisa memegang 100 nomor kontak sehari. Jika sebulan bekerja 25 hari maka tiap personel akan mampu memegang 2500 nomor per bulan. Dengan demikian untuk memproses 10 ribu nomor dibutuhkan 4 personel.

Pendaftaran kelas RPD http://www.klikwa.net/snfconsulting

Kinerja tugas ketiga ini bisa diukur dengan rasio konversi. Katakan tiap 100 orang yang dihubungi  akan menghasilkan 20 orang melakukan pembelian. Maka rasio konversinya adalah 20%. Dengan ini Anda bisa mengukur bahwa dari 10 ribu nomor kontak akan mendapatkan 2000 pembeli. Dengan demikian biaya untuk tiap pembeli adalah Rp 500 juta dibagi 2000 pembeli. Hasilnya Rp 250 ribu untuk tiap pembeli. Anda sudah bisa menghitung biaya marketing dengan akurasi tinggi.

&&&

Tiga langkah di atas adalah gambaran sederhana dari apa yang disebut sebagai funneling marketing. Corong pemasaran. Disebut corong karena sifatnya memang seperti corong. Di bagian atas diameternya besar makin ke bawah makin mengecil.  Yang paling bawah diameternya paling kecil. Jika Anda pernah membaca tulisan-tulisan saya tentang revenue and profit driver (RPD), corong ini adalah salah satu alat Anda untuk menemukan dan memperbaiki RPD. RPD adalah faktor kali sebuah bisnis. Bagi sebuah perusahaan resto misalnya, RPD-nya adalah gerai. Membangun gerai baru adalah cara untuk mengalikan omzet dan laba perusahaan. Gerai adalah faktor kali. Ketika membangun gerai baru, funneling marketing akan menjadi alat untuk menghitung berapa biaya marketing yang dibutuhkan dengan akurat. Apa RPD perusahaan Anda? Bagaimana funneling marketingnya? Anda sudah mempraktekkan

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga
RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
RPD Sebagai Pedal Gas
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle
Faktor kali alias RPD

Artikel ke-350 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk Majalah Matan edisi September 2021, terbit di Surabaya

Bank Jago Melangit: Karena Kinerja?


Bagaimana bisa nilainya naik fantastis? Kenaikan itu hasil gorengan para bandar atau memang sesuai kondisi perusahaan? Apakah Bank Jago berkarakter seperti perusahaan startup? Apakah bank Jago sukses menghadapi disrupsi? Ini adalah beberapa pertanyaan menarik. Saya akan menjawabnya dalam bentuk poin-poin.

Kelas Korporatisasi: Info dan pendaftaran http://www.klikwa.net/snfconsulting
  1. Sejak dulu kala, bank memiliki 2 segmen pendapatan. Segmen pertama adalah interest based income. Pendapatan ini berfilosofi menyemai. Seeding. Bank mendanai para pelaku bisnis untuk pertumbuhan mereka. Para pelaku bisnis menggunakan dana itu untuk scale up dengan melakukan copy paste terhadap RPD nya.  Bank konvensional mendapatkan pendapatan bunga atas dana tersebut. Bank syariah mendapatkan bagi hasil atau margin dari pendanaan tersebut. Para nasabah berkewajiban mengembalikan dana beserta bunga atau bagi hasilnya sesuai kesepakatan.
  2. Menurut saya, segmen pertama ini tidak akan terkena disrupsi. Mengapa? Dalam hal ini bank adalah perantara antara dua pihak yaitu masyarakat yang memiliki idle money jangka pendek dan para pelaku bisnis yang butuh scale up dengan membangun gergaji korporatisasi. Idle money jangka pendek misalnya adalah uang yang sudah disiapkan oleh orang uta untuk pendaftaran sekolah putra putrinya tahu depan. Masyarakat tidak mungkin disimpan di bawah bantal. Sementara perusahaan yang butuh dana untuk scale up juga tidak bisa langsung meminjam kepada masyarakat luas. Terlalu ribet. Jadi fungsi finansial intermediary ini tetap akan berjalan dengan kondisi apapun. Termasuk bank syariah. Yang berubah nanti hanya teknis pelayannya saja yang mungkin akan makin banyak berbasis digital.
  3. Segmen kedua adalah fee based income. Disebut juga non iterest based income. Bank memberi layanan kepada customer. Atas layanan itu bank mengenakan fee tertentu. Contoh layanan yang menjadi sumber fee based income bank misalnya adalah tranfer antar bank, biaya administrasi bulanan, pembayaran listrik, air, cicilan leasing, pulsa, paket data dan sebagainya. Segmen kedua ini juga tidak akan terdisrupsi. Justru akan makin berkembang dengan berkembangnya uang digital. Hanya saja model pelayanannya akan makin berbasis digital.
  4. Mari kita lihat bagaimana Jago dalam dua segmen pendapatan itu. Laporan keuangan semester pertama 2021 Jago melaporkan pendapatan bunga Rp 160 miliar.  Naik dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 41 miliar.  Dilihat dari profil neracanya, posisi kredit yang diberikan kepada pihak ketiga adalah Rp 1,92 triliun. Kredit kepada pihak berelasi Rp 250 miliar. Angka kredit kepada pihak ketiga hanya 19% dari total aset yang Rp 10,09 triliun. Jadi tidak sampai 1/5 yang produktif untuk mengatrol pendapatan seeding ini.  Memang angkanya meningkat 4 kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Tapi masih terlalu kecil untuk dikatakan bahwa Jago serius dalam memperoleh segmen pendapatan yang menjadi gacoan semua bank di negeri ini.
  5. Ketidakseriusan dalam interest based income juga bisa dibaca dari masuknya tabungan, deposito dan giro. Total hanya Rp 1,20 triliun. Padahal dengan ekuitas Rp 8,12 triliun dan aturan CAR yang ada, mestinya Jago berpotensi untuk menerima dana Rp 67 triliun dari akun ini. Jelas sekali betapa Jago membiarkan potensi pendapatan besar di segmen interest income berlalu begitu saja.
  6. Pada umumnya sebuah perbankan, revenue and profit driver (RPD)-nya adalah modal inti dalam istilah OJK. Nilai angkanya hampir sama dengan ekuitas. Tambahan ekuitas bagi sebuah bank adalah seperti tambahan gerai pada sebuah perusahaan resto. Pada perusahaan resto yang bagus, tambahan gerai akan langsung meningkatkan pendapatan dan laba dengan risiko kegagalan yang rendah. Inilah RPD. Pada perusahaan perbankan yang bagus pada umumnya, setiap tambahan modal inti akan langsung memicu peningkatan dana pihak ketiga yang ujung ujungnya adalah peningkatan pendapatan dan laba dengan tingkat kegagalan rendah. Itulah RPD bank. Jika tingkat kegagalan perusahaan resto adalah rugi dan tutupnya gerai, kegagalan pada perusahaan perbankan adalah NPL atau NPF pada bank syariah. Jika RPD adalah ibarat pedal gas, maka NPL adalah ibarat pedal rem. CEO bisa tancap gas sesukanya dengan catatan NPL nya aman. Tancap gas dengan rem pakem. Tapi hal ini tidak dilakukan oleh Jago.
  7. Mungkin hal tersebut adalah disengaja sesuai dengan konsep bank digital yang diusungnya. Mari kita lihat dari segmen fee based income. Ada pendapatan administrasi pinjaman Rp 2,45 miliar dan pendapatan administrasi dana pihak ketiga Rp 147 juta, dan pendapatan lain-lain Rp 175 juta. Ternyata juga kecil sekali. Tidak signifikan dibanding pendapatan bunga. Artinya, konsep bank digital yang usungnya juga belum tercermin dari kinerja keuangan semester pertama tahun 2021 ini
  8. Sebagai gambaran, bank yang dikenal piawai dalam fee based income adalah BCA. Semester pertama 2021 ini BCA membukukan non interest income Rp 10,60 triliun. Angka itu adalah 1/3 dari pendapatan bunga yang Rp 32,96. Angka non interest income BCA sudah cukup untuk menanggung seluruh beban karyawan yang sebesar Rp 6,98 triliun. Angka non interest income juga sudah lebih dari cukup untuk menanggulangi beban penyisihan kerugian penurunan nilai aset Rp 6,55 triliun. Artinya, risiko yang muncul dari kredit yang disalurkan oleh BCA sudah terlindungi oleh pendapatan non bunga.
  9. Perbandingan dengan BCA ini menunjukkan bahwa konsep bank digital yang diusung Jago juga belum jalan di lapangan. Maka, suntikan modal besar yang kini belum terdayagunakan bisa dipandang bahwa Jago adalah seperti sebuah perusahaan startup. Masih sedang mencari bentuk. Sedang mencari RPD yang tepat. Mencari model bisnis.
  10. Gelontoran modal dari menguangkan intangible asset sungguh luar biasa. Modal disetornya Rp 1,38 triliun. Kecil sekali dibanding agio sahamnya yang Rp 7,10 triliun. Agio saham adalah cara perusahaan menguangkan intangible asset melalui penerbitan saham baru dengan harga jauh lebih besar dari nilai nominal.  Memperhatikan nilai pasar saat ini yang sebesar Rp 219,48 triliun, berarti nilai intangible asset yang diakui oleh para investor adalah Rp 211,36 triliun. Andai saat ini Jago butuh tambahan modal lagi dan menerbitkan 10% saham baru dan dijual pada harga pasar, akan dihasilkan uang sekitar Rp 21,95 triliun. Luar biasa kekuatan modalnya.  Tetapi sayang belum diikuti dengan mendayagunakan kekuatan tersebut untuk scale up dengan melakukan copy paste  RPD. Saat ini sedang dalam proses menemukannya. Kita lihat saja apa yang dilakukan Jago setelah ini.

Kembali pada pertanyaan di awal tulisan ini, Anda sudah bisa menjawabnya sendiri kan? Untuk lebih detail, ikuti acara Bincang Santai Korporasi berikut ini

Bincang Santai Korporasi, Kamis malam, gratis dari SNF Consulting. Daftar http://www.klikwa.net/snfconsulting

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Klik untuk cek jadwal terdekat Kelas Korporatisasi

Baca Juga
Glorifikasi IPO Kioson
IPO Bukalapak Prospektif atau Buang Uang
Kepailitan Startup OFO Bike Hiring
Tesla Laba Setelah 16 Tahun Rugi
Corporate Life Cycle dalam Merger GoTo
Valuasi Merger Gojek Tokopedia
Sequoia VC Sejati

Artikel ke-349 karya Iman Supriyono ini ditulis di rumahnya di Surabaya pada tanggal 11 Agustur 2021

ARA ARB Bukalapak: Anda Penjudi atau Investor?


Hari pertama ditransaksikan di lantai bursa, Jumat 6 Agustus 2021, harga saham Bukalapak (BUKA) menyentuh auto rejection atas (ARA). Menguat 24,71% sehingga perdagangan secara otomatis dihentikan oleh sistem. Dari penawaran awal harga 850, BUKA naik menjadi Rp 1060.

Hari kedua, senin 9 Agustus 2021, kembali menyentuh angka ARA menjadi Rp 1 325. Transaksi dihentikan lalgi. Naik 25% dari harga pembukaan. Dengan demikian, karena BUKA total telah menerbitkan 103,06 miliar lembar, nilai pasar (MV) perusahaan startup tersebut pada saat sahamnya dihentikan di hari kedua transaksi adalah Rp 136,56 triliun.

Hari ketiga menjadi titik balik. BUKA justru terkena auto rejection bawah (ARB). Turun menjadi Rp 1035 dan transaksi dihentikan. Dengan demikian saat dihentikan nilai pasar BUKA menjadi Rp 106,67 triliun.

Nah, turunnya harga pada hari ketiga ini memunculkan berbagai macam reaksi. Yang menarik adalah reaksi kekecewaan. Salah satu bentuknya adalah dugaan adanya exit strategy dari para pemegang saham. Bahkan ada tuduhan bahwa para pemegang saham asing telah menguras uang masyarakat Indonesia. Exit strategy sebagai konspirasi menguras uang anak negeri. Menggoreng informasi sehingga saham bisa dijual jauh lebih tinggi dari nilai buku. Lalu pada saat sudah diperdagangkan mereka ramai-ramai melakukan exit strategi dengan menjual saham mereka. Mengantongi cuan triliunan.

Bagaimana bisa muncul tuduhan semacam itu? Menurut saya ini muncul karena mindset spekulan dari para penuduhnya. Atau bahkan mindset penjudi. Bumbu-bumbu teori konspirasi menjadi pemanis. Menyusun alur logika yang membenarkan tuduhan itu. Menjadikan tuduhan itu semakin mendapat pembenaran. Pengagumnya tetap percaya penuh walaupun teori konspirasi dibangun tanpa adanya data yang terkonfirmasi.

Benarkah tuduhan itu? Mari kita cermati.  Sebuah tuduhan yang tidak berdasar. Paling tidak ada 2 alasan ketidaklogisannya.  Alasan pertama adalah bahwa exit strategy itu tidak sesuai dengan karakteristik sebuah perusahaan investasi. Melihat prospektusnya, pemegang saham BUKA sebelum IPO isinya adalah perusahaan-perusahaan investasi. Karakter mereka adalah investor jangka panjang. Keputusannya didasarkan pada analisis pertumbuhan ROI jangka panjang.

Mereka masuk pada perusahaan startup seperti BUKA bukan dengan proporsi besar aset. Mereka hanya menggunakan proporsi kecil. Sekitar 1% dari nilai aset kelolaan. Tujuannya adalah mengamankan dana kelolaan (asset under management, AUM) mereka dalam jangka panjang dengan ROI yang bagus.

Ingat, sebuah perusahaan investasi yang bagus tiap tahun akan mendapatkan tambahan modal. Tumbuh dalam aset kelolaan karena aliran dana masyarakat. Ini terjadi karena kredibilitas yang telah dibangun dalam jangka panjang. Pertumbuhan aset itu harus diinvestasikan. Maka, tiap tahun mereka harus berburu investee. Jika tidak maka dana yang baru diterima dari masyarakat akan tidak terinvestasikan. Dan itu tentu saja akan menjadikan ROI dana kelolaan memburuk. Sesuatu yang akan menurunkan kredibilitas mereka.

Investement company memiliki kesabaran. Seperti kesabaran Berkshire Hathaway, perusahaan investasi besutan Warren Buffet, yang telah masuk sebagai pesaham Coca Cola tahun 1988. Saham itu tetap dipegang sampai saat ini. Perhitungan SNF Consulting, saat ini ROI saham tersebut adalah 78%. Bahkan investor Starbucks bisa menikmati ROI lebih dari 4000%. Sebuah angka yang tinggi. Kalau saham ini dijual, tentu harus mencari pengganti. Dan mencari pengganti dengan ROI sebesar itu tentu sangat amat sulit. Itulah maka saham itu tidak pernah dilepas sampai 33 tahun hingga saat ini.

Alasan kedua, OJK memiliki aturan lock up. Sesuai POJK no. 25 tahun 2017, seluruh pemegang saham yang memperoleh saham BUKA dengan harga dibawah Rp 850 dilarang menjual sebagian atau seluruh saham yang dimilikinya sampai 8 bulan ke depan. Aturan yang berlaku untuk semua pihak yang menjadi pemegang saham dalam rentang waktu 6 bulan sebelum penyampaian pendaftaran BUKA ke OJK ini menjadi penghambat pelaksanaan exit strategy.

Dengan dua alasan tersebut, exit strategy yang dituduhkan menjadi tidak benar. Tuduhan yang tampak benar dengan teori konspirasi itu hanya akan menutup peluang belajar bagi para pengagumnya. Padahal, dari apa yang terjadi di BUKA mengandung pembelajaran manajemen yang bagus. Mengandung pembelajaran corporate life cycle (CLC) yang bagus. Apalagi bari para entrepreneur, founder, direksi, komisaris dan para investor pemegang saham. Mental spekulan dan mental penjudi dibumbui teori konspirasi adalah sarana yang mujarab untuk mempertahankan kebodohan.

Maka, mari kita pelajari logika investment company. Apa yang dipikirkan mereka sehingga mau membeli saham BUKA dengan harga Rp 850 yang jauh diatas nilai buku?  Silakan baca perkembangan par value, book value dan market value BUKA sampai pada IPO di tulisan saya terdahulu.

Para investor membeli saham perusahan yang masih rugi dengan harapan ROI pada masa yang akan datang. Mari kita simulasikan. Misalkan para investor mengharapkan ROI 10% dari BUKA pada masa yang akan datang. Dengan harga Rp 850 maka ROI 10% bisa dipenuhi jika BUKA menghasilkan laba Rp 85 per lembar saham. Karena kini lembar sahamnya ada sebesar 103,06 lembar, maka laba perusahaan yang diharapkan adalah Rp 8,7 triliun.

Kapan laba sebesar itu kira-kira bisa dicapai? Mari kita proyeksikan.  Omzet triwulan pertama 2021 adalah Rp 424 miliar. Jika dalam 3 triwulan berikutnya omzet naik rata-rata 25% maka pada akhir tahun BUKA akan beromzet Rp 2,44 triliun. Jika tahun-tahun berikutnya naik 25% maka tahun 2022 omzetnya akan Rp 3,03 triliun. Dengan kenaikan yang sama maka tahun 2037 maka omzet akan menjadi 94,5 triliun. Jika margin bersihnya 10% maka labanya adalah Rp 9,45 triliun.

Saham bank Jago juga melejit jauh di atas nilai buku. Apa yang terjadi? Pelajari di Bincang Santai Korporasi kamis malam pekan ini. Gratis dari SNF Consulting. Daftar http://www.klikwa.net/snfconsulting

Dengan proyeksi itu, ROI 10% baru akan tercapai setelah 17 tahun dihitung dari tahun IPO. Lama atau singkat? Tesla bisa menjadi gambaran. Perusahaan yang dikomandani Elon Musk ini baru mencapai laba setelah 17 tahun sejak berdiri. Mencapai step ke-8 dalam CLC setelah 17 tahun.

Lamakah 17 tahun? Tidak. Perhatikan kesabaran Warren Buffett dengan Berkshire Hathaway sebagai pemegang saham Coca Cola. Menempuh 8 step CLC dalam 17 tahun itu termasuk cepat. Toyota misalnya, menempuhnya dalam waktu yang lebih lamaaaa. Dan untuk perjalanan itu BUKA telah mengantongi senjata Rp 21 triliun hasil IPO. Tugas manajemen adalah memenuhi harapan investor itu. Dan tentu saja investor akan terus mengawasi pelaksanaan tugas itu melalui komisaris yang telah mereka pilih melalui RUPS.

Jangan membiarkan kebodohan bersarang pada diri Anda dengan mempercayai teori konspirasi. Masuk KELAS KORPORATISASI mealui Zoom seperti bu Notaris ini. Amankan bangku Anda melalui nomor WA berikut http://www.klikwa.net/snfconsulting

Bagaimana? Jelas kan? Bagaimana mindset Anda? Penjudi atau investor? Mindset penjudi sibuk dengan hiruk pikuk fluktuasi di pasar sekunder dengan teori konspirasinya. Uang berputar-putar di antara para  investor tanpa efek terhadap perusahaan penerbit sahamnya. Mindset investor sibuk melakukan analisis fundamental perusahaan dan berinvestasi melalui pasar primer. Uangnya masuk ke perusahaan untuk pertumbuhan bisnis menapaki 8 step CLC.  Menjadi perusahaan yang bermanfaat luas untuk masyarakat tanpa sekat bangsa, agama, ataupun ras. Anda bagaimana?

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Klik untuk cek jadwal terdekat Kelas Korporatisasi

Baca Juga
Glorifikasi IPO Kioson
IPO Bukalapak Prospektif atau Buang Uang
Kepailitan Startup OFO Bike Hiring
Tesla Laba Setelah 16 Tahun Rugi
Corporate Life Cycle dalam Merger GoTo
Valuasi Merger Gojek Tokopedia
Sequoia VC Sejati

Artikel ke-348 karya Iman Supriyono ini ditulis di rumahnya di Surabaya pada tanggal 11 Agustur 2021

Investasi ROI 4000 % Lebih


Investasi aman itu adalah deposito. Itulah yang ada di benak banyak orang. Deposito bank konvensional maupun bank syariah. Aman karena dijamin oleh negara melalui LPS. Tapi benarkah demikian?

Mari kita bandingkan. Andai tahun 1992 punya uang Rp 100 juta. Lalu Anda simpan di bank sebagai deposito. Uang akan aman karena dijamin oleh LPS. Tiap tahun akan mendapatkan bunga (bank konvensional) atau bagi hasil (bank syariah). Tahun ini akan mendapatkan sekitar 3-4%.

Jangan lupa sepanjang periode itu nilai uang Anda tergerogoti inflasi. Sepuluh tahun terakhir ini rata-rata 4,23%. Jika angka itu digunakan untuk menghitung efek inflasi sejak tahun 1992 maka uang Rp 100 juta itu kini nilainya setara dengan Rp 30,8 juta. Jadi bunga atau bagi hasil deposito habis tergerus inflasi.

Bagaimana investasi yang aman? Misalkan uang Rp 100 juta itu diinvestasikan dengan masuk sebagai pemegang saham Starbuck. Tahun 1992  harga per lembar saham adalah USD 0,34. Saat itu juga USD 1 setara dengan Rp 1 977. Dengan demikian Rp 100 juta akan mendapatkan 148 770 lembar.

Hari ini laba per lembar saham perusahaan berbasis di USA itu adalah USD 2,01. Dengan demikian jika dihitung dalam USD ROI Anda adalah 2,01/0,34 alias 591%. Jika dihitung dalam Rupiah laba per lembar saham adalah Rp 28 920. Dengan demikian 148 770 lembar saham akan mendapatkan hak laba Rp 4 302 428 4000. Singkatnya Rp 4,3 miliar. Dengan investasi Rp 100 juta maka ROI nya adalah 4302%. Lebih dari 4 ribu %. Amankah? Aman karena perusahaan ini sudah memiliki peredam risiko yang berlapis dan kuat.

Dan yang menarik, ini tidak terkena inflasi. Kenapa? Karena aset Anda tidak berupa uang. Tapi berupa saham. Perhitungannya adalah berdasarkan persentase laba. Dan karena laba diperoleh dari aset perusahaan yang juga bukan berupa uang maka Starbucks pun tidak terkena inflasi. Aset terbesar starbucks adalah berupa resto dengan segala kelengkapannya.

Bahagia ROI 4 ribu persen lebih

Pelajaran pentingnya, selama ini banyak orang beranggapan bahwa deposito atau obligasi adalah investasi aman. investasi yang pasti. Tetapi sesungguhnya yang pasti adalah penyusutan nilai uang karena inflasi. Daya belinya turun. Tahun 1992 misalnya tanah di dekat rumah saya di kawasan Mulyorejo Surabaya ketika itu Rp 15 ribu per meter persegi. Saya ingat karena ketika itu ada tanah dijual yang saya ingin membelinya tetapi tidak bisa karena uang belum cukup. Berapa nilainya sekarang? Tidak kurang dari Rp 5 juta per meter persegi. Artinya nilai uang telah menyusut tinggal tersisa 1/333 nya. Alias tinggal 0,3 % dari nilai semula. Jadi deposito atau obligasi itu pasti…..pasti termakan inflasi.

Nah, lalu apakah semua perusahaan seperti Starbucks? Oh tentu tidak. Yang pertumbuhan ROI nya pesat hanyalah perusahaan yang pertumbuhannya juga pesat. Tumbuh dalam laba, omzet dan aset. Pertumbuhan pesat itu hanya bisa ditempuh melalui scale up. Scale up itu hanya bisa dilakukan melalui penerbitan saham baru secara terus menerus. Di lantai bursa maupunn di luar lantai bursa.  Dalam laporan keuangannya bisa dibaca dari akun “tambahan modal disetor” alias agio saham. Dalam bahasa Inggris disebut additional paid in capital alias APIC. Perusahaan akan tumbuh jika nilai akun APIC nya selalu bertambah dari waktu ke waktu. Di Indonesia contohnya adalah Alfamart. Artinya perusahaan melakukan korporatisasi berkelanjutan. Pelajari secara lebih detail tentang hal ini di Kelas Korporatisasi dari SNF Consuting. Monggo….

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Klik untuk cek jadwal terdekat Kelas Korporatisasi

Artikel ke-347 karya Iman Supriyono ini ditulis di rumahnya di Surabaya pada tanggal 9 Agustur 2021

Glorifikasi IPO Kioson: Lunglai Dalam Badai


Empat tahun sudah Kioson melantai di Bursa Efek Indonesia. IPO yang disebut sebagai fenomenal. IPO yang heroik. Disebut demikian karena Kioson adalah perusahaan start up pertama yang melakukan IPO. Startup pertama yang melakukan korporatisasi di lantai bursa.

Empat tahun sudah Kioson “berlayar” mengarungi “samudera” secondary market. Ya, secondary market alias transaksi antar para pemegang saham adalah realitas yang harus dihadapi oleh sebuah perusahaan sejak masuk lantai bursa. Disebut “samudera” karena “ombaknya” besar. Tidak seperti “selat” yang ombaknya kecil.

Pertanyaannya, bagaimana kinerja Kioson selama 4 tahun menghadapi “ombak besar”  itu?  Untuk membedahnya, SNF Consulting menyelanggarakan bincang santai korporasi melalui Zoom. Acara rutin mingguan yang dimulai on time pada 19.45 itu seru sekali. Diantara yang nimbrung diskusi ada cak Didin Nur Ali yang dikenal sebagai dedengkotnya fintech. Ada cak Eros yang sudah belasan tahun menjadi pemain bisnis pulsa. Ada cak Donny Kris yang kini menjadi kepala pasukan TDA.

Berikut ini poin-poin pembicaraan yang diawali dengan presentasi singkat tentang Kioson oleh Islambek Nurmamatov, konsultan SNF Consulting yang tinggal di kota Osh, Kyrgystan itu. Banyak pelajaran berharga bagi para pelaku startup, founder atau entrepreneur pada umumnya. Saya tuliskan dalam bentuk poin-poin. Tentu dengan tambahan analisa dan data yang lebih memperkaya analisis.

  1. Kioson melakukan IPO saat kondisi masih rugi. Dalam corporate life cycle (CLC), berari Kioson masih berada pada step kedua dari 8 step: berdiri, rugi, BEP, laba, menemukan revenue and profit driver (RPD), scale up, sistem manajemen dan fully corporatized company.
  2. Ini posisi keuangan Kioson per 30 April 2017, sesaat sebelum IPO, sebagaimana dinyatakan prospektusnya. Aset Rp 45 miliar dengan ekuitas Rp 32 miliar. Ekuitas terdiri dari modal disetor Rp 50 miliar, akumulasi kerugian Rp 18 miliar.
  3. Catatan Kinerja operasional perusahaan yang berdiri Agustus 2015 ini sebelum IPO adalah sebagai berikut. Omzet tahun 2015 Rp 2 miliar dengan rugi Rp 2,4 miliar. Tahun 2016 omzet naik menjadi Rp 26 miliar dengan rugi Rp 11 miliar. Empat bulan pertama 2017 omzet 26 miliar, naik lebih dari 5 kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang Rp 5 miliar. Tetapi sepanjang periode itu tetap mencatatkan kerugian yaitu sebesar Rp 5 miliar.
  4. Angka-angka tersebut menegaskan bahwa perusahaan masih berada pada step kedua dalam CLC. Bolehkah pada step seperti ini perusahaan melakukan korporatisasi dengan menerbitkan saham? Boleh dengan catatan pembeli sahamnya harus salah satu dari 3 kemungkinan berikut. Kemungkinan pertama pembeli sahamnya harus investment company atau pengelola dana wakaf korporat yang telah menanamkan portofolio sekitar 90% asetnya perusahaan mapan. Perudsahaan yang telah berada pada step scale up. Step ketujuh dalam CLC. Perusahaan yang telah memiliki peredam risiko yang aman bagi para pemegang sahamnya.
  5. Kemungkinan kedua adalah bahwa pemegang sahamnya adalah sebuah venture capitalist alias VC. Dan VC nya harus VC sejati. Bukan VC yang hanya sekedar label. Di negeri ini banyak sekali VC yang sekedar label. Labelnya VC tapi secara operasional karakternya adalah sebuah bank komersial. Atau, labelnya VC tapi sejatinya adalah perusahaan konglomerasi atau perusahaan “banci”. Tidak jelas antara investing company atau operating company.
  6. Kemungkinan ketiga, adalah para cofounder. Seorang corpopreneur yang membeli saham karena mau terlibat mengelola perusahaan sebagai direksi atau CEO. Seperti yang dilakukan oleh Elon Musk saat masuk Tesla.
  7. Dari informasi yang ada, terlihat bahwa pemegang saham Kioson bukan salah satu dari tiga kemungkinan tersebut. Ini adalah potensi masalah krusial pertama bagi Kioson.
  8. Memperhatikan kinerja Kioson hingga saat ini, potensi masalah ini benar-benar menjadi masalah. Penjualan tahun 2018 naik menjadi Rp 2,57 triliun dengan laba tahun berjalan Rp 1,56 miliar. Tahun 2019 penjualan Rp 2,90 triliun dengan rugi tahun berjalan Rp 5,33 miliar. Tahun 2020 omzet kembali terjerembab Rp 913 miliar dengan rugi Rp 42 miliar. Triwulan pertama 2021 omzet Rp 95 miliar alias terjerembab turun 84 % dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 590 miliar dengan rugi Rp 171 juta.
  9. Secara arus kas, tahun 2018 minus Rp 34 miliar. tahun 2019 minus Rp 21 miliar. Tahun 2020 positif 3 miliar. Triwulan pertama 2021 positif Rp 5 miliar. Secara akumulatif sepanjang periode tersebut minus Rp 47 miliar.  
  10. Memperhatikan kinerja operasional tersebut, tampak sekali bahwa memang Kioson masih pada step 2 dalam CLC. Tahapan rugi. Dan investor yang masuk tidak cocok dengan kondisi tersebut.
  11. Kioson IPO dengan menerbitkan 23% saham baru dihitung dari komposisi saham setelah IPO. Nilai dari presentasi tersebut adalah Rp 45 miliar. Dengan demikian nilai pasar (harga 100% saham) adalah Rp 196 miliar. Angka ini adalah kecil sekali untuk ukuran perusahaan IPO. Inilah potensi masalah krusial kedua. Perusahaan akan terancam terjebak pada IPO Trap.
  12. Mari kita periksa. Dengan kinerja operasional yang masih berat sebagaimana di atas, saham Kioson laris manis saat dilepas pada harga Rp 300 melalui IPO. Mengalami oversubscribed 10x.
  13. Oversubscribed dalam kondisi investor yang masuk bukan 1 dari 3 kemungkinan di atas menunjukkan bahwa yang masuk adalah investor yang tidak faham CLC. Juga tidak faham apa beda operating company dengan investing company. Investor khilaf hehehe. Ini makin memperkuat risiko terjebaknya Kioson pada fenomena IPO trap.
  14. Kita perhatikan lebih lanjut. Saham Kioson naik menjadi Rp 3 310 pada 19 oktober 2017. Terus melambung sejak transaksi pasar sekunder dibuka pertama tanggal 5 oktober 2017. Puncaknya adalah Rp 3, 530 pada 24 agustus 2018. Kemudian turun menjadi Rp 376 pada 3 Januari 2020. Terus berada pada posisi bawah hingga menjadi Rp 148 pada 30 Desember 2020. Lalu naik kembali ke posisi Rp 1 385 pada 23 Juli 2021. Harga terakhir tanggal 5 agustus 2021 adalah Rp 1 055.
  15. Terlihat jelas sekali bahwa fluktuasi harga pasar sekunder berfluktuasi ekstrem. Sementara kinerja operasional perusahaan tetap buruk. Baik secara laba rugi maupun arus kas. Ini bisa dibaca bahwa Kioson benar-benar seperti sebuah kapal boat berlayar di tengah samudra Atlantik yang ombaknya tinggi. Panjang kapal hanya 5 meter sementara ombaknya 10 meter. Bahkan badai. Terombang ambing dalam badi lautan luas tanpa tenaga. Powerless. Lunglai.
  16. Nah, dalam kondisi lunglai, arus kas operasional yang minus begitu dalam pasti membutuhkan suntikan dana. Peluang ,eminjam dana bank bisa dikatakan tertutup. Bank pasti takut dengan kondisi kinerjanya. Satu satunya pintu adalah dengan menerbitkan saham baru lagi melalui rights issue. Masalahnya, dengan kondisi perusahaan yang lunglai menghadapi “ombak samudera Atlantik” pasar sekunder lantai bursa tersebut, bisakah investor percaya?
  17. Investment Company seperti Blackrock, State Street, Fidelity, Berkshire Hathaway, atau sejenisnya bisa dikatakan mustahil masuk. Mereka tentu tahu persis CLC dan tidak akan melanggar  ilmunya sendiri. Mereka adalah investor yang bertindak berdasarkan sikap ilmiah. Bukan sikap jahiliah. Tidak mau menjadi investor khilaf.
  18. Berat kan? Ya, Kioson memang berat. Tetapi berat itu kan terjadi karena kesalahan kebijakan masa lalu. Ya sudah, tidak perlu disesali. Yang penting adalah bagaimana menyelesaikannya dan tidak mengulangi kesalahan serupa. Keledai tidak terperosok pada lubang yang sama. Perkuat kembali pemahaman pada CLC yang merupakan inti sari dari riset sejarah ratusan bahkan ribuan perusahaan di berbagai negara dalam periode lebih dari 2 abad terakhir i ini. CLC adalah hasil riset sejarah srategic finance dari SNF Consulting, kantor saya.
  19. Yakin bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa diatasi. Yakin bahwa setiap masalah ada solusinya. Tentu dengan ilmu yang cukup. Ingat nasihat Imam Syafii yang terkenal itu. Siapa yang ingin dunia capailah dengan ilmu. Siapa yang ingin akhirat capailah dengan ilmu. Siapa yang ingin keduanya capailah dengan ilmu. Bersikap ilmiah adalah key word nya.
  20. Ini juga menjadi pelajaran berharga bagi para entrepreneur dan founder. Jangan terjebak glorifikasi IPO. Menganggap IPO sebagai sesuatu yang luar biasa hebatnya. Bahkan menganggap IPO sebagai garis finish. Padahal sama sekali tidak. IPO harus ditempatkan pada satu titik dari perjalanan panjang perusahaan melakukan korporatisasi menapaki step by step dari 8 step CLC.
  21. Belajarlah dari Facebook, Microsoft, Tesla, Gojek, Gojek, Tokopedia, Ruang Guru dan sejenisnya. Mereka melakukan korporatisasi di luar lantai bursa sampai ukurannya cukup besar baru IPO. Mereka paham betul dan bertindak tepat dalam kerangka CLC. Bahkan belajarlah dari kepailitan OFO startup persewaan sepeda dari negeri Tiongkok itu. Masuk KELAS KORPORATISASI untuk mempelajarinya secara lebih cepat dan komprehensif dengan metode simulasi. Semangat!!!

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Klik untuk cek jadwal terdekat Kelas Korporatisasi

Artikel ke-346 karya Iman Supriyono ini ditulis di rumahnya di Surabaya pada tanggal 6 Agustur 2021

Arti Uang Dua Triliun


Hari ini sedang heboh benar tentang uang dua triliun.  Biar orang pada heboh dan menarik-nariknya ke masalah politik. Korporatisasi.com konsisten mengambil pelajarannya dari kaca mata bisnis dan investasi. Seperti apa sih uang sebanyak itu? Saya coba menarasikannya. Tentu dengan narasi korporasi. Semoga bermanfaat.

Dengan menganggap laju inflasi rata 5% per tahun, uang Rp 2 triliun hari ini itu setara dengan Rp 684 miliar pada tahun 1999. Pada tahun itu Djoko Susanto mendirikan Alfamart dengan modal setor Rp 215 miliar untuk mendapatkan 21,5 miliar lembar saham. Artinya, uang dua triliun itu bisa digunakan untuk mendirikan 3 perusahaan seperti Alfamart.

Laporan tahunan terakhir, laba per lembar saham perusahaan ritel yang punya jaringan gerai besar di Filipina itu adalah Rp 25,56. Dengan demikian Djoko Susanto memiliki hak laba sebesar Rp 550 miliar. Maka, uang dua triliun itu setara dengan hak laba sebesar Rp 1,65 triliun.

Dari laba per lembar saham perusahan pemilik lebih dari 16 ribu gerai tersebut, yang dibagikan sebagai dividen adalah Rp 19. Dengan demikian, Djoko Susanto menerima dividen tunai sebesar Rp 409 miliar. Uang dividen itu saat ini bisa dibelikan 400-an mobil Alphard baru. Maka, uang dua triliun itu setara dengan hak dividen tunai sebesar 3 kali itu yaitu Rp 1,227 triliun.

Saat ini saham berkode AMRT itu berharga Rp 1425. Dengan demikian kalau saham Djoko Susanto dijual, dia akan mengantongi uang Rp 30,6 triliun. Maka uang dua triliun itu setara dengan tiga kali uang penjualan saham pendiri Alfamart sebesar Rp 91,8 triliun.

Itu narasi dengan Alfamart. Mari kita narasikan dengan perusahaan lain. Dengan inflasi yang kita anggap konstan 5% per tahun, uang dua triliun itu setara dengan Rp 234 miliar pada tahun 1977. Saat itu perusahaan consumer good Mayora berdiri dengan modal setor Rp 20 per lembar saham. Artinya, uang 2 triliun itu setara dengan sekitar 12 miliar lembar saham perusahaan pemilik merek teh Pucuk Harum itu.

Uang dua triliun itu banyak lho….

Hak laba per lembar saham Mayora menutur laporan keuangan tahunan terbaru adalah Rp 92. Dengan demikian, yang dua triliun itu saat ini setara dengan hak laba Mayora sebesar Rp 1,1 triliun. Laba itu tidak semua dibagikan sebagai dividen. Hanya sekitar sepertiga dari laba. Dengan demikian uang dua triliun itu setara dengan dividen Mayora sebesar sekitar Rp 350 miliar. Uang dividen itu bisa dibelikan Alphard baru sebanyak sekitar 340 unit.

Harga per lembar saham perusahaan pemilik merek Torabika itu adalah Rp 2 230. Artinya, saham yang dibeli dengan uang dua triliun itu kin bisa dijual dengan harga Rp 27 triliun. Besar sekali bukan? Nikmat sekali bukan?

Itu narasi korporasi. Tapi bisa juga Anda biarkan saja sebagai deposito di bank. Baik bank konvensional maupun bank syariah.  Anda akan mendapatkan bunga atau bagi hasil sekitar Rp 60 miliar per tahun. Uang bagi hasil itu bisa Anda pakai untuk memberi beasiswa kepada 8 333 mahasiswa tidak mampu tanpa mengurangi pokoknya. Amal jariah yang luar biasa. Seperti yang dilakukan oleh lembaga beasiswa ACR. Hanya saja kalau ini Anda lakukan dalam jangka panjang uang Anda akan tergerus nilainya oleh inflasi. Makanya ACR tidak menempatkan uangnya dalam deposito untuk jangka panjang.

Agar tidak ketipu, masuk KELAS KORPORATISASI dweh…..turuti kata bu notaris ini

Nah, sudah tahu kan apa arti uang dua triliun? Besar kan? Maka, jika ada orang yang datang menyampaikan akan memberikan uang itu kepada Anda, jangan percaya. Kecuali Anda sudah menyelidikinya dengan cukup. Apalagi jika Anda orang berpangkat tinggi yang bisa memerintah para intel,  pejabat publik, tokoh masyarakat, mantan pejabat, penguasa media masa, atau lulusan lembaga pendidikan tinggi kelas atas yang seleksinya super ketat. Apalagi berita itu langsung di muat di media masa. Menyebar seperti virus ke grup-grup WA. Janganlah kesilauan pada uang sebesar itu menutupi akal sehat Anda. Kasihan masyarakat yang sudah terlanjut heboh dengan berita itu. Selamat belajar. Merdeka!

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Artikel ke-345 karya Iman Supriyono ini ditulis di rumahnya di Surabaya pada tanggal 2 Agustur 2021

Faktor Kali Alias RPD


Dalam rangka protokol kesehatan, semua orang harus memakai masker. Terutama saat keluar rumah. Atau bahkan di rumah ketika ada anggota keluarga yang terjangkit Covid.  Masker adalah perlindungan wajib terhadap infeksi virus yang penyebarannya begitu cepat itu.

Masalanya, penyebab covid adalah virus yang berukuran nano meter. Sepermilyar meter. Mahluk inilah yang harus ditangkal oleh masker. Dan, tentu sebagai orang awam Anda dan saya tidak akan mampu mengetahui secara persis apakah masker yang kita pakai mampu menangkalnya atau tidak. Padahal nyata-nyata virus corona itu sangat mudah menular.

Lalu bagaimana memilih masker? Sama dengan memilih barang untuk keperluan apapun. Jika Anda benar-benar faham tentang kualitasnya, silakan pilih sendiri. Tapi jika Anda tidak benar-benar faham tentang kualitasnya, cukup ambil merek yang terpercaya.

Nah, saya termasuk awam dalam urusan masker. Maka, ketika memilih masker di toko, saya hanya melihat merek yang ada. Dan…setalah mengamati satu demi satu merek yang tersedia, pilihan saya jatuh pada satu ini. Nexcare. Sebagai merek produk, nama ini memang tidak terkenal. Tetapi merek ini adalah besutan 3M. Sebuah korporasi global yang sudah sangat saya kenal dengan produk-produk berkualitasnya. Yang sering saya pakai misalnya adalah produk double isolative-nya. Atau Post It nya. Kualitasnya tidak tertandingi oleh merek lain. Maka, saya percaya pada 3M.

Singkat cerita, sejak tahu ada masker besutan 3M itu, saya tidak mau memakai masker merek lain. Pengalaman semobil hampir 24 jam dengan orang positif covid sangat berkesan. Alhamdulillah saya tetap diberiNya sehat hingga saat ini. Sepanjang di mobil itu saya sepenuhnya memakai masker 3M. Jika terpaksa melepasnya untuk untuk minum misalnya, saya menahan nafas. Tidak menarik nafas sampai kembali memakai masker. Saat makan saya naikkan masker untuk membuka mulut tapi tetap menutup hidung.

&&&

Lalu dimana membeli masker kepercayaan itu? Yang paling gampang adalah di gerai minimarket yang tersebar dimana-mana. Begitu persediaan di mobil, di rumah dan di tas menipis, saya segera mampir minimarket terdekat. Alfamart dan Indomaret adalah yang paling sering saya kunjungi. Faktor kehadirannya yang dimana-mana menjadi penentu. Tidak ada yang mengalahkan keduanya dalam hal ini.

Jika di sekitar lokasi ada keduanya, saya memilih Alfamart. Penyebabnya adalah karena saya punya saham minimarket yang hadir belakangan setelah Indomaret itu. Jadi saya akan kecipratan juga dari uang yang saya belanjakan di minimarket yang punya ratusan gerai di Filipina itu. Sesuai proporsi saham yang saya pegang.

Masalahnya, ternyata ketersediaan masker 3M di Alfamart tidak bagus. Beberapa kali mencoba, saya gagal menemukan masker 3M di Alfamart. Akhirnya terpaksa ke Indomaret. Dan akhirnya saya pun menjadi pelanggan Indomaret untuk mendapatkan masker kepercayaan itu.

&&&

Ketidaktersediaan masker 3M di Alfamart adalah fenomena RPD alias revenue and profit driver. RPD adalah aset yang merupakan satuan terkecil ekspansi perusahaan. Aset yang telah menjadi model dengan tingkat kegagalan yang rendah. Aset yang telah siap dicopy and paste kemana-mana dengan pertumbuhan yang masif. Aset yang menjadi faktor kali pertumbuhan perusahaan. Bagi sebuah perusahaan minimarket seperti Indomaret dan Alfamart itu, RPD-nya adalah gerai.

Seleksi barang yang disediakan di gerai adalah salah satu variabel dari RPD mereka. Keduanya telah mempelajari dari belasan ribu gerai dalam waktu lebih dari 20 tahun. Mempelajari dengan proses trial eror dengan umpan balik langsung dari pelanggan. Dan hasilnya, Indomaret menyimpulkan bahwa masker 3M harus hadir di setiap gerai. Sebagai bagian dari pengisi rak-rak mereka yang terbatas. Alfamart menyimpulkan bahwa masker 3M tidak termasuk seleksi produk yang harus dipajang di rak-rak mereka yang juga terbatas.

RPD Adalah salah satu langkah dalam Corporate Life Cycle alias CLC. CLC adalah sari dari sejarah lintas abad berbagai perusahaan yang disimpulkan oleh para periset SNF Consulting. Pelajari CLC secara komprehensif dengan metode simulasi melalui KELAS KORPORATISASI

Dengan pilihan itu, pada puncak masa pandemi triwulan pertama 2021 ini, Alfamart membukukan laba Rp 507 miliar. Naik 42% dari laba periode yang sama tahun 202O yang sebesar Rp 356 miliar. Ingat, triwulan pertama 2020 pandemi belum mulai. Jadi, keberadaan pandemi yang kini menggila tidak membuat Alfamart rugi tanpa 3M. Itulah fenomena RPD. Itulah faktor kali. Itulah pedal gas. Bagaimana RPD perusahaan Anda? Bagaimana faktor kali perusahaan Anda?

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga
RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
RPD Sebagai Pedal Gas
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle

Artikel ke-344 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya untuk Majalah Matan edisi Agustus 2021, terbit di Surabaya

Entrepreneur CEO Komisaris, Amankan Uang Investor!


Investor mana pun prinsipnya sama. Investor institusi komersial yaitu investment company. Atau institusi sosial yaitu pengelola dana wakaf korporat alias endowment fund. Ataupun perorangan. Prinsipnya: aman, aman, aman, hasil. Aman menjadi prioritas pertama, kedua, dan ketiga. Yang keempat baru hasil.

Maka…. para entreprneur atau pendiri perusahaan. Para direksi berbagai perusahaan. Para komisaris berbagai perusahaan. Para corpopreneur. Ketika deal dengan investor, Anda mengemban empat tugas utama. Tugas pertama mereka adalah menjaga keamanan uang investor. Tugas kedua adalah menjaga keamanan dana investor. Tugas ketiga adalah menjaga keamanan dana investor. Tugas keempatnya adalah memberi imbal hasil (ROI) terbaik bagi investor. Ingat uang investor memang manis. Pemicu pertumbuhan perusahaan. Tapi jangan main-main dengan uang investor jika tidak ingin menggali kubur sendiri.

Lalu bagaimana melakukannya? Paling tidak ada enam cara yang harus anda lakukan secara bersama-sama. Cara pertama, pastikan keamanan legalitas. Legalitas perusahaan maupun legalitas aset. Legalitas perusahaan artinya seluruh persyaratan legal telah dipenuhi sesuai dengan regulasi. Tidak boleh ada satu pun persyaratan legal yang dilanggar atau tidak dipenuhi.

Jangan main-main dengan uang investor jika Anda tidak ingin menggali kubur sendiri.

Legalitas aset artinya adalah bahwa seluruh aset yang beratas nama tidak ada yang beratas nama pihak lain. Semua harus sudah atas nama perusahaan. Contoh aset beratas nama adalah tanah dan bangunan alias properti, kendaraan, dan rekening bank. Pastikan semuanya sudah atas nama perusahaan sesuai dengan dokumen legal perusahaan.

Mengapa demikian? Karena mereka masuk sebagai investor tidak seperti menaruh dana di bank. Di bank uang mereka dijamin LPS. Di perusahaan Anda, satu-satunya yang bisa dipegang jika terjadi sesuatu, termasuk kepailitan, adalah aset yang dimiliki secara sah oleh perusahaan.

Kedua, pastikan keamanan pajak. Artinya, perusahaan harus memastikan bahwa seluruh aturan pajak telah dipenuhi.  Mengapa? Karena pengelolaan pajak makin membaik. Makin tidak mungkin untuk menyembunyikan harta atau transaksi apapun dari jangkauan pihak otoritas pajak. Perusahaan yang punya visi besar harus taat pajak.

Ketiga, keamanan akuntansi. Pastikan bahwa setiap pergerakan aset perusahaan satu demi satu telah dibukukan secara cukup sesuai standar akuntansi. Tandanya adalah audit akuntan publik dengan opini wajar tanpa perkecualian. Inilah tanda bahwa Anda dan perusahaan yang Anda kelola telah menjalankan amanat. Dan menjalankan amanat adalah syarat bagi kepercayaan investor-investor selanjutnya.

Keempat, pastikan bahwa perusahaan telah memiliki peredam risiko. Gambarannya, misalkan saja perusahaan Anda bergerak di bidang resto yang telah berdiri sepuluh tahun lalu. Kini memiliki 10 gerai. Lima tahun terakhir perusahaan selalu menghasilkan laba. Secara bersama-sama, dari 10 gerai tersebut menghasilkan omzet dan laba yang tumbuh stabil.

Katakan tahun ini perusahan berekspansi dengan membangun 3 gerai baru hasil menguangkan intangible asset kepada investor. Maka jika dari 3 gerai baru tersebut 2 rugi dan 1 laba, investor yang menjadi pemegang saham masih aman. Dalam kaca mata investor, perusahaan memiliki 13 gerai dengan 11 gerai laba dan 2 gerai rugi. Kerugian dari 2 gerai masih ringan ditutup dari 11 gerai yang laba. Secara keseluruhan perusahaan masih laba dan membagi dividen kepada para pemegang saham sebagai investor. Inilah yang dikatakan bahwa perusahaan telah memiliki revenue and profit driver alias RPD. RPD adalah peredam risiko bagi perusahaan. Memenuhi kebutuhan investor akan syarat aman aman aman dan hasil.

Kelima, pastikan perusahaan Anda terus menerus melakukan scale up dengan proses korporatisasi menapaki Corporate Life Cycle. Dengan demikian maka akan terjamin pertumbuhan ROI bagi investor. Masuknya investor baru akan menguntungkan bagi pendiri maupun investor yang telah ada.  Dari semula 2-3% atau bahkan lebih, bisa tumbuh menjadi 400% bahkan lebih.

Keenam, jika investor masuk ketika perusahaan masih rugi alias masih berada pada step kedua dalam Corporate Life Cycle (CLC), pastikan satu dari dua kemungkinan berikut ini. Kemungkinan pertama adalah bahwa mereka adalah investor (perorangan maupun institusi) hanya menggunakan maksimal 1% dari aset kelolaanya. Dengan demikian jika perusahaan Anda pailit sekalipun, investor hanya kehilangan maksimum 1% asetnya. Dan itu akan tertutup dari ROI atas investasi 99% aset mereka di tempat lain.

Kemungkinan kedua, mereka sejatinya bukan investor. Tetapi adalah sorang corpopreneur atau cofounder. Corporeneur dan cofounder sejatinya adalah entrepreneur seperti Anda para pendiri perusahaan. Bedanya mereka tidak mendirikan perusahaan. Mereka datang untuk membantu Anda dengan uang dan keahliannya. Seperti saat Elon Musk datang ke Tesla. Memperpanjang nafas perusahaan sampai kemudian mencapai  BEP dan akhirnya laba dalam CLC.

Nah, Anda para entrepreneur, founder, corpopreneur, direksi atau komisaris perusahaan, sudahkah enam cara itu Anda lakukan? Jika belum, segera berbenah. Jika sudah, selamat, Anda sudah layak didatangi dana berlimpah dari investor. Pastikan perusahaan Anda memiliki management sparring partner untuk tiap keputusan stratejiknya. Yes we can!

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Artikel ke-343 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya sambil istirahat di belakang kemudi menunggu buah hatinya menjalani rapid test untuk keperluam kembali ke pesantrennya.