Arti Uang Dua Triliun


Hari ini sedang heboh benar tentang uang dua triliun.  Biar orang pada heboh dan menarik-nariknya ke masalah politik. Korporatisasi.com konsisten mengambil pelajarannya dari kaca mata bisnis dan investasi. Seperti apa sih uang sebanyak itu? Saya coba menarasikannya. Tentu dengan narasi korporasi. Semoga bermanfaat.

Dengan menganggap laju inflasi rata 5% per tahun, uang Rp 2 triliun hari ini itu setara dengan Rp 684 miliar pada tahun 1999. Pada tahun itu Djoko Susanto mendirikan Alfamart dengan modal setor Rp 215 miliar untuk mendapatkan 21,5 miliar lembar saham. Artinya, uang dua triliun itu bisa digunakan untuk mendirikan 3 perusahaan seperti Alfamart.

Laporan tahunan terakhir, laba per lembar saham perusahaan ritel yang punya jaringan gerai besar di Filipina itu adalah Rp 25,56. Dengan demikian Djoko Susanto memiliki hak laba sebesar Rp 550 miliar. Maka, uang dua triliun itu setara dengan hak laba sebesar Rp 1,65 triliun.

Dari laba per lembar saham perusahan pemilik lebih dari 16 ribu gerai tersebut, yang dibagikan sebagai dividen adalah Rp 19. Dengan demikian, Djoko Susanto menerima dividen tunai sebesar Rp 409 miliar. Uang dividen itu saat ini bisa dibelikan 400-an mobil Alphard baru. Maka, uang dua triliun itu setara dengan hak dividen tunai sebesar 3 kali itu yaitu Rp 1,227 triliun.

Saat ini saham berkode AMRT itu berharga Rp 1425. Dengan demikian kalau saham Djoko Susanto dijual, dia akan mengantongi uang Rp 30,6 triliun. Maka uang dua triliun itu setara dengan tiga kali uang penjualan saham pendiri Alfamart sebesar Rp 91,8 triliun.

Itu narasi dengan Alfamart. Mari kita narasikan dengan perusahaan lain. Dengan inflasi yang kita anggap konstan 5% per tahun, uang dua triliun itu setara dengan Rp 234 miliar pada tahun 1977. Saat itu perusahaan consumer good Mayora berdiri dengan modal setor Rp 20 per lembar saham. Artinya, uang 2 triliun itu setara dengan sekitar 12 miliar lembar saham perusahaan pemilik merek teh Pucuk Harum itu.

Uang dua triliun itu banyak lho….

Hak laba per lembar saham Mayora menutur laporan keuangan tahunan terbaru adalah Rp 92. Dengan demikian, yang dua triliun itu saat ini setara dengan hak laba Mayora sebesar Rp 1,1 triliun. Laba itu tidak semua dibagikan sebagai dividen. Hanya sekitar sepertiga dari laba. Dengan demikian uang dua triliun itu setara dengan dividen Mayora sebesar sekitar Rp 350 miliar. Uang dividen itu bisa dibelikan Alphard baru sebanyak sekitar 340 unit.

Harga per lembar saham perusahaan pemilik merek Torabika itu adalah Rp 2 230. Artinya, saham yang dibeli dengan uang dua triliun itu kin bisa dijual dengan harga Rp 27 triliun. Besar sekali bukan? Nikmat sekali bukan?

Itu narasi korporasi. Tapi bisa juga Anda biarkan saja sebagai deposito di bank. Baik bank konvensional maupun bank syariah.  Anda akan mendapatkan bunga atau bagi hasil sekitar Rp 60 miliar per tahun. Uang bagi hasil itu bisa Anda pakai untuk memberi beasiswa kepada 8 333 mahasiswa tidak mampu tanpa mengurangi pokoknya. Amal jariah yang luar biasa. Seperti yang dilakukan oleh lembaga beasiswa ACR. Hanya saja kalau ini Anda lakukan dalam jangka panjang uang Anda akan tergerus nilainya oleh inflasi. Makanya ACR tidak menempatkan uangnya dalam deposito untuk jangka panjang.

Agar tidak ketipu, masuk KELAS KORPORATISASI dweh…..turuti kata bu notaris ini

Nah, sudah tahu kan apa arti uang dua triliun? Besar kan? Maka, jika ada orang yang datang menyampaikan akan memberikan uang itu kepada Anda, jangan percaya. Kecuali Anda sudah menyelidikinya dengan cukup. Apalagi jika Anda orang berpangkat tinggi yang bisa memerintah para intel,  pejabat publik, tokoh masyarakat, mantan pejabat, penguasa media masa, atau lulusan lembaga pendidikan tinggi kelas atas yang seleksinya super ketat. Apalagi berita itu langsung di muat di media masa. Menyebar seperti virus ke grup-grup WA. Janganlah kesilauan pada uang sebesar itu menutupi akal sehat Anda. Kasihan masyarakat yang sudah terlanjut heboh dengan berita itu. Selamat belajar. Merdeka!

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Artikel ke-345 karya Iman Supriyono ini ditulis di rumahnya di Surabaya pada tanggal 2 Agustur 2021

Faktor Kali Alias RPD


Dalam rangka protokol kesehatan, semua orang harus memakai masker. Terutama saat keluar rumah. Atau bahkan di rumah ketika ada anggota keluarga yang terjangkit Covid.  Masker adalah perlindungan wajib terhadap infeksi virus yang penyebarannya begitu cepat itu.

Masalanya, penyebab covid adalah virus yang berukuran nano meter. Sepermilyar meter. Mahluk inilah yang harus ditangkal oleh masker. Dan, tentu sebagai orang awam Anda dan saya tidak akan mampu mengetahui secara persis apakah masker yang kita pakai mampu menangkalnya atau tidak. Padahal nyata-nyata virus corona itu sangat mudah menular.

Lalu bagaimana memilih masker? Sama dengan memilih barang untuk keperluan apapun. Jika Anda benar-benar faham tentang kualitasnya, silakan pilih sendiri. Tapi jika Anda tidak benar-benar faham tentang kualitasnya, cukup ambil merek yang terpercaya.

Nah, saya termasuk awam dalam urusan masker. Maka, ketika memilih masker di toko, saya hanya melihat merek yang ada. Dan…setalah mengamati satu demi satu merek yang tersedia, pilihan saya jatuh pada satu ini. Nexcare. Sebagai merek produk, nama ini memang tidak terkenal. Tetapi merek ini adalah besutan 3M. Sebuah korporasi global yang sudah sangat saya kenal dengan produk-produk berkualitasnya. Yang sering saya pakai misalnya adalah produk double isolative-nya. Atau Post It nya. Kualitasnya tidak tertandingi oleh merek lain. Maka, saya percaya pada 3M.

Singkat cerita, sejak tahu ada masker besutan 3M itu, saya tidak mau memakai masker merek lain. Pengalaman semobil hampir 24 jam dengan orang positif covid sangat berkesan. Alhamdulillah saya tetap diberiNya sehat hingga saat ini. Sepanjang di mobil itu saya sepenuhnya memakai masker 3M. Jika terpaksa melepasnya untuk untuk minum misalnya, saya menahan nafas. Tidak menarik nafas sampai kembali memakai masker. Saat makan saya naikkan masker untuk membuka mulut tapi tetap menutup hidung.

&&&

Lalu dimana membeli masker kepercayaan itu? Yang paling gampang adalah di gerai minimarket yang tersebar dimana-mana. Begitu persediaan di mobil, di rumah dan di tas menipis, saya segera mampir minimarket terdekat. Alfamart dan Indomaret adalah yang paling sering saya kunjungi. Faktor kehadirannya yang dimana-mana menjadi penentu. Tidak ada yang mengalahkan keduanya dalam hal ini.

Jika di sekitar lokasi ada keduanya, saya memilih Alfamart. Penyebabnya adalah karena saya punya saham minimarket yang hadir belakangan setelah Indomaret itu. Jadi saya akan kecipratan juga dari uang yang saya belanjakan di minimarket yang punya ratusan gerai di Filipina itu. Sesuai proporsi saham yang saya pegang.

Masalahnya, ternyata ketersediaan masker 3M di Alfamart tidak bagus. Beberapa kali mencoba, saya gagal menemukan masker 3M di Alfamart. Akhirnya terpaksa ke Indomaret. Dan akhirnya saya pun menjadi pelanggan Indomaret untuk mendapatkan masker kepercayaan itu.

&&&

Ketidaktersediaan masker 3M di Alfamart adalah fenomena RPD alias revenue and profit driver. RPD adalah aset yang merupakan satuan terkecil ekspansi perusahaan. Aset yang telah menjadi model dengan tingkat kegagalan yang rendah. Aset yang telah siap dicopy and paste kemana-mana dengan pertumbuhan yang masif. Aset yang menjadi faktor kali pertumbuhan perusahaan. Bagi sebuah perusahaan minimarket seperti Indomaret dan Alfamart itu, RPD-nya adalah gerai.

Seleksi barang yang disediakan di gerai adalah salah satu variabel dari RPD mereka. Keduanya telah mempelajari dari belasan ribu gerai dalam waktu lebih dari 20 tahun. Mempelajari dengan proses trial eror dengan umpan balik langsung dari pelanggan. Dan hasilnya, Indomaret menyimpulkan bahwa masker 3M harus hadir di setiap gerai. Sebagai bagian dari pengisi rak-rak mereka yang terbatas. Alfamart menyimpulkan bahwa masker 3M tidak termasuk seleksi produk yang harus dipajang di rak-rak mereka yang juga terbatas.

RPD Adalah salah satu langkah dalam Corporate Life Cycle alias CLC. CLC adalah sari dari sejarah lintas abad berbagai perusahaan yang disimpulkan oleh para periset SNF Consulting. Pelajari CLC secara komprehensif dengan metode simulasi melalui KELAS KORPORATISASI

Dengan pilihan itu, pada puncak masa pandemi triwulan pertama 2021 ini, Alfamart membukukan laba Rp 507 miliar. Naik 42% dari laba periode yang sama tahun 202O yang sebesar Rp 356 miliar. Ingat, triwulan pertama 2020 pandemi belum mulai. Jadi, keberadaan pandemi yang kini menggila tidak membuat Alfamart rugi tanpa 3M. Itulah fenomena RPD. Itulah faktor kali. Itulah pedal gas. Bagaimana RPD perusahaan Anda? Bagaimana faktor kali perusahaan Anda?

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga
RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
RPD Sebagai Pedal Gas
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle

Artikel ke-344 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya untuk Majalah Matan edisi Agustus 2021, terbit di Surabaya

Entrepreneur CEO Komisaris, Amankan Uang Investor!


Investor mana pun prinsipnya sama. Investor institusi komersial yaitu investment company. Atau institusi sosial yaitu pengelola dana wakaf korporat alias endowment fund. Ataupun perorangan. Prinsipnya: aman, aman, aman, hasil. Aman menjadi prioritas pertama, kedua, dan ketiga. Yang keempat baru hasil.

Maka…. para entreprneur atau pendiri perusahaan. Para direksi berbagai perusahaan. Para komisaris berbagai perusahaan. Para corpopreneur. Ketika deal dengan investor, Anda mengemban empat tugas utama. Tugas pertama mereka adalah menjaga keamanan uang investor. Tugas kedua adalah menjaga keamanan dana investor. Tugas ketiga adalah menjaga keamanan dana investor. Tugas keempatnya adalah memberi imbal hasil (ROI) terbaik bagi investor. Ingat uang investor memang manis. Pemicu pertumbuhan perusahaan. Tapi jangan main-main dengan uang investor jika tidak ingin menggali kubur sendiri.

Lalu bagaimana melakukannya? Paling tidak ada enam cara yang harus anda lakukan secara bersama-sama. Cara pertama, pastikan keamanan legalitas. Legalitas perusahaan maupun legalitas aset. Legalitas perusahaan artinya seluruh persyaratan legal telah dipenuhi sesuai dengan regulasi. Tidak boleh ada satu pun persyaratan legal yang dilanggar atau tidak dipenuhi.

Jangan main-main dengan uang investor jika Anda tidak ingin menggali kubur sendiri.

Legalitas aset artinya adalah bahwa seluruh aset yang beratas nama tidak ada yang beratas nama pihak lain. Semua harus sudah atas nama perusahaan. Contoh aset beratas nama adalah tanah dan bangunan alias properti, kendaraan, dan rekening bank. Pastikan semuanya sudah atas nama perusahaan sesuai dengan dokumen legal perusahaan.

Mengapa demikian? Karena mereka masuk sebagai investor tidak seperti menaruh dana di bank. Di bank uang mereka dijamin LPS. Di perusahaan Anda, satu-satunya yang bisa dipegang jika terjadi sesuatu, termasuk kepailitan, adalah aset yang dimiliki secara sah oleh perusahaan.

Kedua, pastikan keamanan pajak. Artinya, perusahaan harus memastikan bahwa seluruh aturan pajak telah dipenuhi.  Mengapa? Karena pengelolaan pajak makin membaik. Makin tidak mungkin untuk menyembunyikan harta atau transaksi apapun dari jangkauan pihak otoritas pajak. Perusahaan yang punya visi besar harus taat pajak.

Ketiga, keamanan akuntansi. Pastikan bahwa setiap pergerakan aset perusahaan satu demi satu telah dibukukan secara cukup sesuai standar akuntansi. Tandanya adalah audit akuntan publik dengan opini wajar tanpa perkecualian. Inilah tanda bahwa Anda dan perusahaan yang Anda kelola telah menjalankan amanat. Dan menjalankan amanat adalah syarat bagi kepercayaan investor-investor selanjutnya.

Keempat, pastikan bahwa perusahaan telah memiliki peredam risiko. Gambarannya, misalkan saja perusahaan Anda bergerak di bidang resto yang telah berdiri sepuluh tahun lalu. Kini memiliki 10 gerai. Lima tahun terakhir perusahaan selalu menghasilkan laba. Secara bersama-sama, dari 10 gerai tersebut menghasilkan omzet dan laba yang tumbuh stabil.

Katakan tahun ini perusahan berekspansi dengan membangun 3 gerai baru hasil menguangkan intangible asset kepada investor. Maka jika dari 3 gerai baru tersebut 2 rugi dan 1 laba, investor yang menjadi pemegang saham masih aman. Dalam kaca mata investor, perusahaan memiliki 13 gerai dengan 11 gerai laba dan 2 gerai rugi. Kerugian dari 2 gerai masih ringan ditutup dari 11 gerai yang laba. Secara keseluruhan perusahaan masih laba dan membagi dividen kepada para pemegang saham sebagai investor. Inilah yang dikatakan bahwa perusahaan telah memiliki revenue and profit driver alias RPD. RPD adalah peredam risiko bagi perusahaan. Memenuhi kebutuhan investor akan syarat aman aman aman dan hasil.

Kelima, pastikan perusahaan Anda terus menerus melakukan scale up dengan proses korporatisasi menapaki Corporate Life Cycle. Dengan demikian maka akan terjamin pertumbuhan ROI bagi investor. Masuknya investor baru akan menguntungkan bagi pendiri maupun investor yang telah ada.  Dari semula 2-3% atau bahkan lebih, bisa tumbuh menjadi 400% bahkan lebih.

Keenam, jika investor masuk ketika perusahaan masih rugi alias masih berada pada step kedua dalam Corporate Life Cycle (CLC), pastikan satu dari dua kemungkinan berikut ini. Kemungkinan pertama adalah bahwa mereka adalah investor (perorangan maupun institusi) hanya menggunakan maksimal 1% dari aset kelolaanya. Dengan demikian jika perusahaan Anda pailit sekalipun, investor hanya kehilangan maksimum 1% asetnya. Dan itu akan tertutup dari ROI atas investasi 99% aset mereka di tempat lain.

Kemungkinan kedua, mereka sejatinya bukan investor. Tetapi adalah sorang corpopreneur atau cofounder. Corporeneur dan cofounder sejatinya adalah entrepreneur seperti Anda para pendiri perusahaan. Bedanya mereka tidak mendirikan perusahaan. Mereka datang untuk membantu Anda dengan uang dan keahliannya. Seperti saat Elon Musk datang ke Tesla. Memperpanjang nafas perusahaan sampai kemudian mencapai  BEP dan akhirnya laba dalam CLC.

Nah, Anda para entrepreneur, founder, corpopreneur, direksi atau komisaris perusahaan, sudahkah enam cara itu Anda lakukan? Jika belum, segera berbenah. Jika sudah, selamat, Anda sudah layak didatangi dana berlimpah dari investor. Pastikan perusahaan Anda memiliki management sparring partner untuk tiap keputusan stratejiknya. Yes we can!

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Artikel ke-343 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya sambil istirahat di belakang kemudi menunggu buah hatinya menjalani rapid test untuk keperluam kembali ke pesantrennya.

Tes Kelayakan Insan Korporasi


Yang dimaksud insan korporasi adalah para entrepreneur, founder atau pendiri perusahaan, direktur utama atau CEO, direktur, komisaris, pemegang saham, investor, manajer, para pegawai perusahaan yang masih ada peluang untuk peningkatan karier, pengelola dana wakaf korporat (endowment fund), dan pejabat publik yang terkait dengan regulasi perusahaan. Anda insan korporasi? Silakan menguji diri dengan menjawab 10 pertanyaan tes kelayakan berikut ini. Pertanyaan ini sifatnya adalah pengetahuan paling mendasar bagai para insan korporasi.

Sebelum menjawab, perhatikan informasi berikut ini. XYZ adalah perusahaan bergerak di bidang resto berbadan hukum PT yang berdiri pada awal Januari tahun 2010. Saat pendirian pak A dan pak B menyetor modal masing-masing Rp 600 juta dan Rp 400 juta. Disepakati juga pak A menjadi direktur. Karena pak B sudah sangat sibuk dengan profesinya sebagai dokter maka ditunjuk pak C yang merupakan keluarga pak C untuk posisi komisaris. Saat pendirian, di hadapan notaris pak A dan pak B menyatakan bahwa modal dasar XYZ  adalah Rp 2 miliar dengan Rp 1 juta per lembar saham.

Awal januari 2010 XYZ mendirikan sebuah gerai resto pertamanya. Aktivitasnya dimulai dengan menyewa ruko, melakukan renovasi, merekrut pegawai, membeli alat-alat, bahan bahan-bahan dan sebagainya. Resto mulai buka dan melayani pelanggan pada awal Maret 2010.  Persis sebelum buka pada hari pertama, di rekening bank  ABC masih ada kas senilai Rp 300 juta.

Tahun 2010 XYZ menderita kerugian. Setelah tutup buku, laporan akuntansinya menyebut bahwa Total pendapatan ABC adalah Rp 2,5 miliar. Total beban adalah Rp 2,8 miliar. Dari total beban tersebut yang berupa beban non cash (berupa depresiasai, amortisasi, sewa, dan sebagainya) adalah Rp 80 juta.

Tahun 2011 sampai tahun 2020 XYX selalu membukukan laba. Akhir tahun 2017 XYZ telah memiliki 5 gerai dan sudah bisa mempertahankan laba rata-rata per gerai sebesar Rp 300 juta. Tahun 2020 XYZ  telah memiliki 10 gerai dengan laba total Rp 3 miliar. Pada akhir tahun 2020 dalam laporan akuntansinya XYZ menyebut adanya utang Rp 3 miliar dengan total aset Rp 10 miliar.

Karena sepanjang sepuluh tahun rata-rata ABC hanya membangun 1 gerai per tahun, maka awal tahun 2021 ABC memutuskan untuk tumbuh lebih baik. Diputuskan untuk menerima tawaran pak D untuk menjadi investor dengan memasukkan dana Rp 5 miliar. Pak D masuk sebagai pemegang saham baru dan namanya dicatatkan di akta perubahan pada sebuah kantor notaris. Disepakati dana tersebut akan digunakan untuk membangun 5 gerai baru sampai akhir tahun 2021.

Untuk pertumbuhan pesat alias scale up sebuah perusahaan, setiap insan korporasi terkait harus memahami konsep dasar dari sebuah korporasi. Bagaimana perusahaan Anda?

Silakan jawab 10 pertanyaan-pertanyaan berikut.

  1. Saat pendirian A memegang 600 lembar saham. Betul atau salah?
  2. Saat pendirian B memegang 1400 lembar saham. Betul atau salah?
  3. Saat akan menyewa ruko awal tahun 2020 senilai Rp 100 juta maka si A wajib minta ijin kepada Si C. Betul atau salah?
  4. Nilai nominal (par value) XYZ saat berdiri adalah Rp 2 miliar. Betul atau salah?
  5. Si D masuk sebagai pemegang saham  XYZ pada tahun 2021 dengan menerima 5 ribu lembar saham. Betul atau salah?
  6. Sepanjang tahun 2018 hingga 2020 XYZ telah melakukan scale up. Betul atau salah?
  7. Pada akhir tahun 2020 secara pribadi pak B memiliki harta senilai Rp 10 miliar. Salah satu hartanya adalah berbentuk saham XYZ. Jika disebut bahwa nilai saham (value, market value) tersebut adalah Rp 400 juta, betul atau salah?
  8. Berapa uang kas XYZ pada akhir tahun 2010?
  9. Berapa ROE (return on equity) XYZ pada tahun 2020?
  10. Berapa ROI (return on investment) bagi B sebagai investor XYZ pada tahun 2020?

Kirimkan  jawaban atas 10 pertanyaan tersebut  ke nomor nomor WA SNF Consulting dengan link berikut ini: www.klikwa.net/snfconsulting. Jawab dengan menyebut nama dan bidang usaha/profesi Anda.  Beri nomor soal untuk setiap jawaban Anda. Beri keterangan “pass” untuk nomor yang Anda tidak bisa menjawabanya. SNF Consulting sebagai pengelola web korporatisasi ini akan memberikan skor kelayakan Anda secara gratis. Selamat mencoba! Semoga Anda lulus uji kelayakan insan korporasi!

Mematematikakan Untuk Memudahkan: Obituari Pak Towik


SMPN 1 Caruban suatu pagi tahun 1984. Hari itu mestinya sekolah libur. Tetapi kami sekelas datang ke sekolah. Keperluannya adalah untuk mengerjakan proyek kelas pelajaran Matematika. Dipimpin dan dibimbing langsung oleh Pak Partiwikanto, guru mata pelajaran Matematika ketika itu.

Proyeknya adalah mengukur tinggi pohon yang ada di sekolah. Dibagi dalam beberapa kelompok, saya kelompok yang mengukur tinggi sebuah pohon cemara. Lokasinya di halaman timur sekolah. Dekat lokasi dimana saya dan kawan-kawan biasa memarkir sepeda.

Ini adalah proyek kecil mempraktekkan konsep mematematikakan untuk mempermudah. Tepatnya bab tentang segitiga sebangun yang telah diajarkan di kelas sebelumnya. Pak Towik, demikian beliau biasa dipanggil, mengambil waktu sekitar jam 9. Jam dimana antara tapak pohon di tanah, puncak pohon dan titik bayangan puncak pohon di tanah membentuk sebuah segitiga siku-siku. Kami pun menggambar skema segitiga ini dan memberi ukuran untuk panjang bayangan pohon.

Selanjutnya dalah membuat segitiga pembanding. Kami pun menggunakan obyek lain berupa penggaris. Penggaris dipegang dalam posisi tegak di bawah sinar matahari. Lalu diukur panjang bayangan yang terbentuk. Kami pun menggambarkan skemanya dalam selembar kertas. Ujung bawah penggaris yang menyentuh tanah, ujung atas penggaris dan bayangan ujung atas penggaris di tanah membentuk segitiga siku-siku.

Segitiga bayangan penggaris ini adalah sebangun dengan segitiga bayangan pohon cemara. Dengan rumus yang telah diajarkan di kelas sebelumnya, kami pun dengan mudah bisa menghitung tinggi pohon cemara yang menjulang itu. Mengetahui tinggi pohon cukup dengan persamaan alias model matematika.  Tanpa harus memanjatnya ataupun menebangnya.  Mematematikakan untuk memudahkan.

&&&

Selepas SMA saya melanjutkan studi di ITS. Di kampus teknologi tersebut saya mengambil jurusan teknik mesin. Setelah mengikuti proses pendidikan hingga lulus, saya menyimpulkan satu hal penting. Bahwa apa yang saya pelajari bertahun-tahun di kampus yang berlokasi di surabaya itu intinya adalah mematikakan fenomena mekanik. Tujuannya adalah agar kita bisa merencanakan hal-hal yang bersifat mekanik dengan cara yang mudah.

Tugas akhir alias skripsi saya adalah merancang sayap pesawat terbang. Sulitkah? Biasa saja. Skripsi ini pada dasarnya adalah mematematikakan fenomena mekanik pada sebuah sayap pesawat. Hasilnya adalah sebuah model matematika. Sebuah persamaan matematika. Model matematika inilah yang kemudian menjadi alat untuk menghitung besaran-besaran penting pada sayap pesawat terbang. Mematematikakan fenomena mekanik terkait sayap untuk memudahkan perancangan.

Begitu lulus pendidikan insinyur mesin, saya melanjutkan belajar di Unair. Pilihan saya adalah ilmu manajemen. Apa yang saya pelajari? Salah satu poin pentingnya adalah mematematikakan fenomena manajerial. Angka-angka finansial sebuah perusahaan pada dasarnya adalah variabel matematika. Variabel ini menjadi obyek yang menarik untuk dipelajari.  Bukan hanya sebagai angka. Tetapi apa yang ada di balik angka. Di sana ada fenomena strategi dan manajemen perusahaan.

Berpadu dengan metode studi kasus dan etnografi, variabel-variabel itu menghasilkan kesimpulan berupa konsep-konsep manajemen yang menarik. Korporatisasi, gergaji korporatisasi, scale up, revenue and profit driver, wakaf korporat, adalah beberapa diantaranya. Konsep-konsep itulah yang digunakan oleh kantor konsultan manejemen tempat saya berkarya, SNF Consulting, sebagai sarana untuk memudahkan klien dalam pengelolaan bisnis.

&&&

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Pukul 09.21 hari Kamis tanggal 15 Juli 2021 saya mendapatkan kiriman teks WA. Isinya berupa kabar berpulangnya pak Towik. Allahummaghfirlahu warhamhu waafiihi wafuanhu. Segeralah pikiran saya menerawang pada suasana di pengukuran tinggi pohon cemara tahun 1984 itu. Suasana pembelajaran tentang mematematikakan sesuatu untuk memudahkan.

Apa yang diajarkan Pak Towik kemudian diperdalam di jurusan teknik mesin ITS. Mematematikakan fenomena mekanik untuk memudahkan perancangan sayap pesawat. Masih kemudian dilanjutkan dengan di program Magister Manajemen. Mematematikakan fenomena finansial untuk memudahkan pengelolaan perusahaan. Bahkan terus berlanjut sampai pekerjaan yang saya tekuni sebagai konsultan manajemen. Itulah pelajaran penting dari Pak Towik sebagai guru matematika.

Di luar matematika, saya masih mendapatkan sentuhan Pak Towik saat kelas 3 SMA. Interaksi dengan beliau menjadi intens karena saya membantu beliau dalam pendidikan pramuka untuk adik-adik siswa SMP 1 Caruban. Melalui interaksi itu pak Towik mengajarkan bagaimana menjadi pendidik sejati. Mendidik yang bukan hanya terikat pada kurikulum formal. Tetapi mendidik melalui interaksi dalam sebuah aktivitas. Setelah belajar lebih lanjut, saya mengenalnya sebagai proses pendidikan melalui hidden curricullum.

Selamat jalan Pak Towik. Ilmu bermanfaatmu menjadi pahala yang terus mengalir. Aamin yaa Rabb.

Aktivitasnya memang bari berbaris, upacara, memasang tenda, kerja bakti, bersepeda dan sejenisnya khas Pramuka. Tetapi melalui aktivitas itu terjadi interaksi. Interaksi itulah yang menjadi sarana menularkan nilai-nilai. Ini yang sangat berguna bagi saya dalam mendidik anak-anak di rumah, para yunior di dunia kerja, ataupun yunior di aktivitas sosial.

Tidak berhenti sampai di situ. Bahkan belakangan ini pun interaksi dengan pak Towik masih terus berlangsung. Terakhir adalah melalui aktivitas saya di Muhammadiyah saat beliau menjadi kepala sekolah SMP Muhammadiyah di Caruban.

Maka, ketika ada acara penganugerahan beasiswa ACR kepada di almamater tercinta bulan lalu, saya mengirim WA undangan kepada beliau. Beliau hanya menjawab salam tanpa merespons undangan dari organisasi dana abadi beasiswa untuk anak-anak Caruban yang beralamat web http://www.acrku.org itu. Tidak menyangka ternyata ketika itu beliau sudah dalam kondisi sakit akibat pandemi. Saya baru tahu hal itu setelah beliau meninggal. Selamat jalan Pak Towik. Allahummarhamhu. Didikanmu selalu dihatiku. Amal jariahmu abadi. Pahala untukmu terus mengalir. Aamin.

Bacaan-bacaan pemicu amal jariyah Anda
Wakaf Korporat
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal & Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Artikel ke-342 karya Iman Supriyono ini ditulis saat WFH di Surabaya pada tanggal 21 Juli 2021 dengan niat untuk memperpanjang amal jariyah berupa ilmu yang bermanfaat dari almarhum Pak Partiwikanto alias Pak ‘Towik, guru Matematika penulis saat di SMPN 1 Caruban

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI

Deep Dive: CEO Sejati Ala Jack Welch


John Francis Welch Jr. alias Jack Welch lahir tahun 1935. Menjalani proses pendidikan sambil bekerja, ia menyelesaikan program sarjana, master dan akhirnya doktor bidang teknik kimia dari University of Illinois pada usia 25 tahun.  

Sejak lulus pada tahun 1960 ia langsung berkarir di General Electric. Di perusahaan besutan Thomas Edison ini, posisi pertamanya adalah junior chemical engineer di pabrik plastik. Tahun 1961 sempat mau keluar dari perusahan dengan nick name GE ini karena merasa tidak cocok dengan lingkungan kerjanya. Tapi GE merayu dia dengan membuatkan anak perusahaan yang sesuai dengan yang dinginkannya. Akhirnya ia bertahan. Kariernya tumbuh cemerlang sampai akhirnya menjadi CEO pada 1981. Menempati karier tertinggi pada usia 46 tahun alias setelah 21 tahun menjadi karyawan GE. CEO termuda sepanjang sejarah GE.

Kepemimpinannya di GE sangat istimewa. Posisi manajerial tertinggi itu didudukinya selama 20 tahun. Ia benar-benar menjalani apa yang disebut sebagai CEO Life Cycle oleh Citrin dan kawan-kawan dalam Harvard Buseness Review. Menjalani siklus honeymoon, sophomore trap, recovery dan complecency trap selama 10 tahun pertama masa jabatan. Dilanjutkan dengan 10 tahun kedua sebagai golden years. Hasilnya, nilai (market value) GE melesat dari USD 12 miliar saat ia mulai menjabat menjadi USD 410 miliar saat ia pensiun. Luar biasa.

&&&

Mendongkrak nilai perusahaan 34 kali lipat selama 20 tahun. Apa rahasianya? Maka, menarik sekali untuk membaca buku tulisannya “Jack Straight from the Gut”. Salah satu poin penting yang dituliskannya pada buku terbitan 2001 itu adalah deep dive. Menyelam dalam.

Jack Welch melakukannya misalnya ketika mendapatkan komplain dari pelanggan tentang kualitas tabung untuk peralatan CT scan dan X ray. Dimulai tahun 1993, ia telah serius memperhatikan salah satu produk unggulan GE ini. Ia serius berdiskusi dengan pelanggan di berbagai kota. Mereka mengakui keunggulan mesin buatan GE. Tetapi mengeluh tentang kualitas tabung, salah satu komponen utama alat itu.

Mengamati lebih dalam, Jack mendapati bahwa tabung tersebut hanya mampu bertahan untuk 25 000 kali pemakaian. Sementara tabung produk pesaing mampu digunakan untuk dua kali lipatnya. Kelemahan tabung itu selama ini telah tertutup oleh kekuatan sistem teknologi CT.

Dengan deep dive, Jack menemukan dan menangani langsung masalah itu. Segera ia datang langsung ke Milwaukee, lokasi pabrik tabung. Dengan menyelam kedalam, ia menilai bahwa pabrik tabung selama ini telah diperlakukan seperti anak yatim. Kalah jauh dengan fasilitas produksi untuk komponen ultrasound yang hanya terpisah dinding.

Untuk menanganinya, ia minta agar masalah kualitas tabung ini langsung dilaporkan kepadanya. Segala keperluan untuk perbaikannya dibicarakan dan didukungnya secara penuh. Ditargetkan agar tabung mampu digunakan untuk 100 ribu kali. Empat kali dari kondisi sekarang. Untuk itu ia dukung penuh dengan sumber daya yang dibutuhkan. Baik kebutuhan personel maupun dananya.

Ia minta agar laporan mingguan produksi tabung dikirim langsung melalui fax ke dirinya. Saat itu belum ada email. Dengan slogan “Tabung adalah jantung dari sistem” ia mempertahankan pengiriman laporan mingguan itu selama 4 tahun. Ia terus merespon laporan itu dengan kebijakan yang tepat. Juga dengan semangat yang menyala. Tahun kelima, kemampuan tabung telah meningkat menjadi 200 ribu kali pemakaian. Dengan menerapkan six sigma, usianya bahkan menjadi 500 ribu kali pemakaian dan menjadi standard industri pada tahun 2000.

&&&

Dalam kerangka corporate life cycle, deep dive harus dilakukan oleh seorang CEO untuk menangani revenue and profit driver (RPD). Mengapa demikian? RPD adalah jantung hidup mati perusahaan. Adalah jantung pertumbuhan perusahaan. CT scan dan X ray adalah RPD bagi GE. Kegagalan dalam RPD adalah alarm kematian bagi sebuah perusahaan.

Pada sebuah kesempatan, sebagai konsultan saya pernah berdebat seru dengan dewan direksi sebuah perusahaan klien SNF Consulting. Dengan berbagai cara, saya berargumentasi keras bahwa sang CEO harus menyelam dalam. Harus langsung menangani RPD nya yang sedang bermasalah. RPD-nya tidak mampu menghasilkan laba untuk mendukung pencapaian ROE dan ROI perusahaan.

Saya sampaikan bahwa selama ini kebijakan yang digerakkan dari kantor pusat tidak efektif untuk semua titik RPD. Saya buktikan dengan data internalnya bahwa sejauh ini strategi kantor pusat apapun tidak bisa meningkatkan kinerja RPD yang bermasalah. Singkat cerita, Si CEO ngotot tetap menangani masalah dari kantor pusat. Dan karena tidak ada titik temu, SNF Consulting pun angkat tangan. Tidak melanjutkan kerja sama sebagai management sparring partner bagi klien tersebut.  Pantauan dari jauh menunjukkan bahwa si CEO tetap ngotot tidak mau melakukan deep dive dan kinerja perusahaan pun terus menurun.

&&&

Pembaca yang baik, seorang CEO harus mampu dan mau melakukan deep dive. RPD adalah jantung dari core competence sebuah perusahaan. Dengan demikian maka deep dive memperbaiki kinerja RPD adalah langkah top urgent. Jack Welch mampu melakukannya. Kemampuan  ini dimungkinkan karena memang ia pernah berada di posisi menjadi garda depan RPD perusahaan. Itu dilakukan saat menjadi junior chemical engineer pada tahun awal kariernya di GE.

Pelajari bagaimana deep dive sebagai seorang CEO sejati melalui KELAS CEO DIREKSI KOMISARIS. Info dan Pendaftaran http://www.klikwa.net/snfconsulting

Mampu dan mau. Kemauan dimungkinkan karena sorang CEO memang bertugas mengelola dan memastikan RPD tetap efektif sebagai titik keunggulan daya saing perusahaan. Howard Shultz, CEO Starbucks, pernah kembali mengambil kendali perusahaan setelah sebelumnya mundur dari posisi CEO. Keputusannya pegang kemudi lagi itu karena pertumbuhan pendapatan existing store memburuk. Pendapatan perusahaan masih tumbuh, tapi pertumbuhannya hanya diperoleh dari gerai baru. Dari new build store. Ini masalah bagi perusahaan dengan RPD berupa gerai seperti Starbucks ini. Kembali menjadi CEO adalah cara Howard untuk melakukan deep dive.

Untuk para CEO atau dewan direksi, apa RPD perusahaan Anda? Sudahkah Anda benar-benar memahami RPD tersebut? Sudahkah Anda membuktikan pemahaman tersebut dengan deep dive menyelesaikan maslah RPD? Ingat bahwa RPD perusahaan bisa kehilangan taji di pasar yang berubah. Pandemi ini menjadi batu uji untuk menjadi seorang CEO sejati.. Anda siap deep dive?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI

Baca Juga
Jean Paul Agon CEO L’oreal


Artikel ke-341 karya Iman Supriyono ini ditulis sambil WFH di Surabaya pada tanggal 21 Juli 2021

Wakaf Korporat: Model Bisnis Sociopreneur


Tahun 1990-an mulai dirintis amil zakat modern. Di Surabaya berdiri YDSF tahun 1987.  Yatim Mandiri berdiri 1994. Di Jakarta berdiri Dompet Dhuafa tahun 1994.  Rumah Zakat tahun 1996. Dan lain-lain. Lembaga-lembaga ini bergerak sebagai amil modern. Model bisnis utamanya adalah mengumpulkan zakat atau sedekah atau infak dari masyarakat. Lalu mengambil hak amil sebesar 1/8 dari dana yang dikumpulkan untuk biaya organisasi seperti gaji pegawai, sewa atau pembelian kantor, biaya promosi, dan sebagainya.

Model ini terbukti berjalan dan diterima masyarakat. Dari waktu ke waktu dana yang dikumpulkan dari masyarakat baik berupa zakat maupun sedekah terus tumbuh. Laporan Bazis terbaru, tahun 2019 amil zakat infak nasional mengumpulkan dana Rp 10,2 triliun. Tentu bukan angka yang kecil. Hasil kerja istiqomah sejak tahun 90-an.

Lebih dari 3 dekade organisasi amil eksis bahkan berkembang. Amil telah membuktikan diri sepanjang sejarah sebagai model bisnis sociopreneur yang kokoh. Bahkan makin kokoh. Makin besar dana yang bisa dikumpulkan dari masyarakat. Makin banyak pula masyarakat yang merasakan manfaatnya.

Nah, kali ini saya akan membandingkan amil dengan nazir. Keduanya adalah model bisnis sociopreneur. Keduanya adalah badan hukum non profit. Badan hukum yang labanya tidak boleh diambil oleh siapa pun. Saya begitu kemecer dengan wakaf.  Sebagai periset manajemen, rasa ingin tahu saya tentang wakaf begitu besarnya. Maka setelah menulis banyak artikel tentang wakaf, kali ini saya ingin menggali angka perbandingan antara pengelola zakat infak dengan wakaf. Berolit ini hasilnya. Saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin.

Simulasi amil versus nazir selama 40 tahun dengan kemampuan mengumupulkan dana masyarakat dan biaya operasional yang sama
  1. Perhatikan tabel di atas. Ada dua lembaga. Satu lembaga amil alias pengelola zakat infak. Sebut saya ABC. Satunya lembaga nazir alias pengelola wakaf. Sebut saja DEF. ABC dan DEF memiliki kemampuan yang sama dalam mengumpulkan dana masyarakat di bidangnya masing-masing. ABC mengumpulkan dana zakat infak dari masyarakat sebesar Rp 100 miliar tiap tahun. DEF mengumpulkan dana wakaf sebesar Rp 100 miliar juga. Keduanya juga membutuhkan biaya operasional untuk gaji pegawai, sewa gedung dan sebagainya Rp 12,5 miliar. Mari kita bandingkan keduanya dalam waktu 40 tahun. Sepanjang periode itu kemampuan mengumpulkan uang dan biaya operasional keduanya dibuat tetap.
  2. Tahun pertama, ABC mengumpulkan dan zakat infak Rp 100 miliar. Maka, hak ABC sebagai amil adalah 12,5% dari dana yang dikumpulkannya. Nominalnya adalah Rp 12,5 miliar dan tepat untuk memenuhi biaya operasional. Tidak ada defisit juga tidak ada surplus. Sementara itu para mustahik mendapatkan Rp 87,5 miliar.
  3. Tahun pertama juga, DEF mengumpulkan dana wakaf dari masyarakat Rp 100 miliar. Karena dana wakaf, maka seluruh dana diinvestasikan. Dengan demikian pada tahun pertama ABC mengalami defisit sebesar biaya operasionalnya yaitu Rp 12,5 miliar. Para maukuf alaihi, para penerima manfaat wakaf, juga sama tidak menerima uang sepeser pun.
  4. Tahun kedua, kondisi  ABC tetap seperti tahun pertama. Tetap mengumpulkan dana infak zakat Rp 100 miliar. Menerima jatah amil Rp 12,5 miliar. Para mustahik juga tetap menerima Rp 87,5 miliar.
  5. DEF juga tatap mengumpulkan dana wakaf Rp 100 miliar. Dana tersebut juga diinvestasikan. Tapi sudah menerima hasil investasi dari dana wakaf tahun pertama. Katakan ROI nya adalah 10%. Maka hasil investasi aset wakaf yang dikumpulkan pada tahun pertama adalah Rp 10 miliar. Dari dana hasil investasi tersebut, 90% yaitu Rp 9 miliar disalurkan kepada maukuf alaihi. Sebesar 10% yaitu Rp 1 miliar diterima sebagai pendapatan DEF. Dengan demikian untuk membayar biaya operasional Rp 12,5 DEF masih mengalami defisit Rp 11,5 miliar. Dengan demikian akumulasi defisit tahun pertama dan kedua adalah Rp 24 miliar.
  6. Dan seterusnya. Tiap tahun ABC terus-menerus mengumpulkan Rp 100 miliar, menyalurkan Rp 87,5 miliar untuk kaum duafa, dan menerima Rp 12,5 miliar sebagai hak amil lalu menggunakannya untuk biaya operasional. Tidak ada surplus. Pun tidak ada defisit. Itu terjadi sampai tahun ke-40. Semua konstan. Termasuk dana yang diterima oleh para duafa sebagai mustahik.
  7. DEF berbeda. Defisit biaya operasional masih terus terjadi sampai tahun ke-13. Tapi nilai defisitnya menurun.  Sepanjang waktu itu, hak kaum duafa yang menerima hasil investasi dana wakaf terus tumbuh. Dari nol pada tahun pertama, Rp 9 miliar pada tahun kedua, dan seterusnya menjadi Rp 90 miliar pada tahun ke-11. Inilah tonggak luar biasa pertama bagi wakaf. Saat dimana hak kaum duafa atau maukuf alaihi sudah melampai hak yang diterima kaum duafa sebagai mustahik dana infak zakat.
  8. Tahun ke-14 adalah tonggak luar biasa kedua bagi DEF. Mengapa? Pada saat itu DEF sudah bisa membiayai seluruh kebutuhan operasionalnya. Sudah tidak lagi defisit. Saat dimana gaji para pegawai, biaya transportasi, biaya sewa ruangan dan seluruh biaya operasional telah mampu dibayar dari hak nazir dalam mengelola wakaf. Saat dimana kesejahteraan para karyawan DEF sama persis dengan karyawan ABC.
  9. Tahun ke-21 adalah tonggak luar biasa ketiga bagi DEF. Saat dimana DEF sudah bisa mempersembahkan kesejahteraan bagi kaum duafa yang menjadi maukuf alaihi lebih dari 2x lipat dari yang dipersembahkan oleh ABC. Saat ABC tetap mempersembahkan Rp 87,5 miliar bagi kaum duafa, DEF mempersembahkan Rp 180 miliar. Lebih dari 2x lipat.
  10. Tahun ke-26 adalah tonggak luar biasa keempat bagi DEF. Saat dimana akumulasi defisit untuk biaya operasional sudah nol. Artinya, andai untuk membayar defisit tahun-tahun sebelumnya DEF harus berutang kepada lembaga lain melalui qord al hasan misalnya, tahun itu semua utang sudah lunas. Andai untuk membayar defisit digunakan modal setor dari para pendiri, modal itu sudah kembali berada ditangan DEF sepenuhnya. Bisa digunakan untuk perkembangan DEF berikutnya. Misal, membangun gedung kantor pusat yang representatif.
  11. Tahun ke-26 juga saat dimana hak DEF dari investasi dana wakaf mencapai dua kali lipat hak ABC sebagai amil. Dengan demikian, kesejahteraan untuk karyawan DEF juga akan menjadi 2x lipat karyawan ABC. Sebagai catatan, karena ABC dan DEF keduanya adalah organisasi non profit, tidak ada dividen atau sejenisnya yang diberikan kepada para pendiri, pengurus, pembina (jika badan hukumnya yayasan), pengawas maupun anggota (jika badan hukumnya perkumpulan). Tapi, para karyawan yang bekerja tetap mendapatkan hak layaknya karyawan pada umumnya. Karyawan mendapatkan gaji, bonus kinerja, THR, fasilitas BPJS kesehatan, BPJS ketenagakerjaan dan sebagainya.
  12. Tahun ke-31 adalah tonggak luar biasa  kelima bagi DEF. Saat itu DEF sudah bisa mempersembahkan dana manfaat bagi kaum duafa yang menjadi maukuf alaihi lebih dari 3x lipat dibanding dana serupa yang dipersembahkan oleh ABC. DEF mempersembahkan dana Rp 270 miliar sementara ABC tetap mempersembahkan Rp 87,5.
  13. Tahun ke-39 adalah tonggak luar biasa keenam bagi DEF. Saat itu pendapatan DEF dari hak sebagai nazir adalah Rp 38 miliar. Sudah lebih dari 3x lipat hak yang diterima ABC sebagai amil yang konstan pada angka Rp 12,5.
  14. Yang menarik lagi, apa yang dikumpulkan DEF sebesar Rp 100 miliar per tahun terus terakumulasi. Pada tahun ke-40, akumulasi dana wakaf sudah Rp 4 triliun. Setara dengan sekitar 4 ribu gerai minimarket seperti Alfamart atau Indomaret. Sebuah kekuatan ekonomi yang luar biasa. Bayangkan kalau per tahun adalah Rp 10 triliun seperti yang dilaporkan oleh Bazis pada pengantar tulisan ini dan sudah berjalan ratusan tahun. Sebuah kekuatan ekonomi luar biasa.
  15. Begitulah enam tonggak luar biasa sebuah lembaga nazir wakaf. Tapi apa yang disimulasikan di atas baru bisa berjalan jika pengelolaannya bermodel wakaf korporat. Paling tidak ada empat prinsip dasar wakaf korporat. Prinsip pertama, dana wakaf hanya boleh diinvestasikan pada korporasi yang telah  mencapai tahap scale up dalam corporate life cycle (CLC) untuk tumbuhnya perusahaan dakwah. Dengan demikian dana wakaf akan aman karena sudah ada peredam risiko sebagai pengaman investasi. Investasi pada perusahaan start up hanya boleh maksimum menggunakan 1% dari total dana wakaf. Silakan klik link-link warna biru jika Anda belum familier dengan istilah-istilah tersebut.
  16. Prinsip kedua, dana wakaf hanya boleh diinvestasikan dengan prinsip portofolio sebagaimana layaknya sebuah investment company. Pengeloa wakaf seperti DEF sama sekali tidak boleh menjadi operating company apalagi “banci” company. Strictly prohibited! Berbahaya sekali baik secara stratejik maupun teknis.
  17. Prinsip ketiga, lembaga pengelola wakaf harus tunduk terhadap seluruh kaidah fikih dan peraturan perundangan yang berlaku. Ini penting karena organisasi pengelola wakaf bersifat jangka panjang. Jangan sampai membuat blunder dengan melakukan pelanggaran baik terhadap syariat maupun peraturan perundangan yang berlaku.
  18. Prinsip keempat, dana wakaf harus dikelola dengan manajemen dan tata kelola organisasi modern. Fungsi pengawas harus benar-benar efektif. Fungsinya persis seperti fungsi komisaris dalam perseroan terbatas. Hanya berbeda dalam kompensasi. Komisaris dibayar. Pengawas organisasi wakaf tidak dibayar. Murni hanya untuk membangun amal jariah. Laporan keuangan harus standar akuntansi, diaudit, dan dipublikasikan untuk bisa diakses oleh masyarakat luas.
Pelajari lebih lanjut di KELAS WAKAF KORPORAT melalui zoom full day full interactive terbatas untuk 15 peserta pada tanggal 17 Juli 2021. Info dan pendaftaran http://www.klikwa.net/snfconsulting

Itulah wakaf korporat. Peluang membangun amal jariah luar biasa bagi para entrepreneur, founder, direksi, komisaris, manajer, profesional,  pemegang saham dan Anda yang peduli.  Peduli terhadap kehidupan di negeri abadi. Peduli terhadap nasib kaum duafa. Peduli untuk memperkuat ekonomi umat dan bangsa. Wakaf adalah salah satu pilarnya. Wakaf korporat adalah solusi sosial sekaligus solusi ekonomi. Jika tahun 1990-an para sociopreneur melahirkan amil modern. Kini saatnya melahirkan nazir wakaf modern. Saaatnya wakaf korporat. Kita bisa!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI

Baca juga:
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Artikel ke-340 karya Iman Supriyono ini ditulis sambil WFH di Surabaya pada tanggal 14 Juli 2021

IPO Bukalapak: Prospektif atau Buang Uang?


Bukalapak IPO. Menarik sekali. Selama ini start up aplikasi seperti ini selalu jadi misteri. Bagaimana prospeknya? Bagaimana risikonya? Bagaimana bisa muncul value yang besar? Tidak ada angka yang bisa dibaca, disimpulkan dan diambil pelajaran. Maka, diskusi diskusi yang ada cenderung tidak berbasis data. Hanya prasangka.

IPO Bukalapak menjadikan semuanya jadi clear. Bagaimana prospeknya? Bagaimana risikonya? Perusahaan rugi bisa bernilai besar, bagaimana intangible assetnya? Amankah membeli sahamnya? Prospektif atau buang uang? Mari kita cermati. Saya akan menuliskannya dengan format poin-poin.

  1. Dalam IPO ini Bukalapak, selanjutnya disebut BL, akan menerbitkan  25.765.504.851 lembar saham dengan nilai nominal (par value, PV) per lembar saham Rp 50. Degan demikian PV atas seluruh saham yang akan diterbitkan ini adalah Rp 1,29 triliun. Saham tersebut ditawarkan dengan harga Rp 750 sampai dengan Rp 850 per lembar. Dengan demikian nilai pasar (market value, MV) dari lembar saham IPO itu adalah antara Rp 19,32 triliun hingga Rp 21,90 triliun.
  2. Jumlah lembar saham yang akan diterbitkan melalui IP tersebut adalah 25% dari total saham (dihitung dari total jumlah saham setelah penerbitan saham tersebut). Dengan demikian PV setelah penerbitan saham adalah 4 kali Rp 1,29 triliun yaitu Rp 5,15 triliun (dengan pembulatan). MV setelah penerbitan saham adalah 4 kali Rp 19,32 triliun sampai 4 kali Rp 21,90 triliun yaitu Rp 77,30 triliun sampai dengan Rp 87,60 triliun.
  3. Sebelum IPO, nilai ekuitas (alias book value, BV) keseluruhan perusahaan adalah Rp 1,71 triliun. Dengan jumlah lembar saham sebagaimana tersebut maka BV per lembar saham adalah Rp 22. Nilai inilah yang mestinya dibayar oleh pemegang saham baru jika hanya didasarkan pada aset yang dimiliki perusahaan yang dicatat secara historis melalui akuntansi. Dibanding dengan PV saja setiap pemegang saham baru langsung harus menanggung akumulasi rugi Rp 50 dikurangi Rp 22 yaitu Rp 28  per lembar saham.
  4. Padahal sesuai rencana, saham ditawarkan dengan harga Rp 750 sampai Rp 850 per lembar. Dengan demikian pemegang saham baru harus membayar intangible aset sebesar antara Rp 728 sampai Rp 828 per lembar saham. Jika seluruh saham yang ditawarkan nanti terjual, maka para pemegang saham baru secara keseluruhan harus membayar intangible asset perusahaan antara Rp 18,8 hingga Rp 21,3 triliun. Angka tersebut masing-masing untuk harga saham Rp 750 dan Rp 850.
  5. Pendapatan perusahaan pada tahun 2020 adalah Rp 1,35 triliun. Naik 25% dari tahun 2019 yang 1,08 triliun. Tahun 2019 pun naik drastis 370% dari tahun sebelumnya yang Rp 292 miliar. Tahun 2021 pertumbuhan masih berlanjut. Hingga Maret (unaudited) pendapatannya adalah Rp 424 miliar alias naik 32% dari tahun sebelumnya Rp 320 miliar. Pertumbuhan omzet adalah penanda positif.
  6. Sampai saat ini, omzet sebagaimana di atas tidak cukup untuk menanggung seluruh beban perusahaan. Akibatnya, tahun 2020 perusahaan menderita rugi Rp 1,35 triliun. Rugi tersebut membaik dari pada rugi tahun 2019 yang Rp 2,80 triliun. Bahkan juga lebih baik dari rugi tahun 2018 yang Rp 2,24 triliun.
  7. Untuk tahun 2021 ini, sampai Maret perusahaan mencatatkan rugi sebesar Rp 324 miliar. Kerugian itu membaik tipis dari kerugian periode yang sama tahun sebelumnya yang Rp 393 miliar.  Jika diasumsikan 3 triwulan tahun 2021 yang masih tersia perusahaan mengalami kerugian yang sama dengan triwulan pertama maka kerugian setahun akan menjadi Rp 1,30 triliun. Membaik dari tahun sebelumnya tetapi perbaikannya tipis sekali.
  8. Kerugian yang terus dialami ini mengakibatkan akumulasi kerugian perusahaan yang berdiri tahun 2010 sampai akhir Maret 2021 adalah Rp 7,98 triliun. Nilai BV yang sebesar Rp 1,71 triliun sebagaimana disebut di atas berasal dari total modal disetor Rp 2,78 triliun dan agio saham (tambahan modal disetor) sebesar Rp 6,77 triliun setelah digerogoti oleh akumulasi kerugian tersebut.
  9. Pertanyaannya, bagaimana perusahaan ke depan? Dalam kerangka corporate life cycle (CLC), hingga tahun kesebelas kehidupannya masih berada pad step kedua yaitu rugi. Masih ada 6 step lagi yang harus dilalui perusahaan untuk menjadi sebuah korporasi modern. Enam step itu adalah break event point, laba, revenue and profit driver (RPD), scale up, sistem manajemen dan fully corporatized company.
  10. Apa risiko untuk melalui 6 step tersebut? Mari kita cermati. Paling tidak ada tiga risiko.  Risiko pertama, sebagaimana sebuah start up pada umumnya, adalah kepailitan. Ini adalah risiko terbesar.  Kapan itu terjadi? Ketika perusahaan tidak mampu membayar kewajibannya sesuai dengan komitmen baik kepada karyawan maupun kepada kreditur. Penyebabnya adalah rugi dalam jangka panjang dan tidak ada lagi investor yang mau membeli ketika perusahaan menerbitkan saham baru.  Pada batas tertentu kreditur seperti ini bisa menggugat pailit. Seperti kasus pailitnya OFO di Tiongkok.
  11. IPO BL ini akan menghasilkan dana sekitar Rp 20 triliun. Dana itu setara dengan 15 kali kerugian tahun 2020. Artinya, jika IPO ini berhasil dan dalam 15 tahun ke depan BL masih terus menderita kerugian seperti pada tahun 2020 maka perusahaan masih bisa hidup. Tampaknya cukup aman. Tesla butuh waktu 17 tahun sejak berdiri untuk mencapai laba. BL harus bekerja keras untuk bisa mencapai laba lebih cepat dari pada Tesla. Tapi pertanyaannya, apakah ada jaminan terhadap hal itu? Tentu tidak ada yang bisa menjamin. Bahkan sekeder peredam risiko pun tidak ada. Peredam risiko hanya dimiliki oleh perusahaan yang paling tidak telah berada pada step ke 6 dalam CLC.
  12. Risiko kedua adalah fluktuasi harga saham di pasar sekunder. Pasar sekunder adalah pasar jual beli saham antara para investor di lantai bursa. Fluktuasi ini sebenarnya tidak masalah bagi BL jika perusahaan ini tidak ada rencana penerbitan saham baru. Tapi posisi perusahaan yang masih berada pada step kedua CLC ini menjadikan penerbitan saham baru akan terus menerus menjadi kebutuhan perusahaan sampai mencapai step kedelapan.
  13. Saat sebelum IPO, jika butuh menerbitkan saham baru untuk menambah modal, harga sepenuhnya dalam kontrol manajemen. Memang, perusahaan dituntut agar setiap menerbitkan saham harga jualnya harus lebih tinggi dari pada harga sebelumnya. Dengan demikian maka akan berdampak positif terhadap book value. Juga terhadap nilai saham investor sebelumnya.
  14. Sebelum IPO, Kontrol harga ini sepenuhnya berada di tangan perusahaan. Perusahaan memiliki kekuatan negosiasi dengan calon investor tanpa ada referensi harga di pasar sekunder di lantai bursa. Tapi, begitu IPO, otomatis akan terbentuk harga di pasar sekunder.  Begitu harga di pasar sekunder lebih rendah dari pada harga penerbitan saham terakhir, maka perusahaan akan sangat berat untuk bisa melakukan penerbitan saham baru. Merugikan book value. Juga merugikan investor yang telah membeli saham pada penerbitan saham sebelumnya. Jika risiko kedua ini terjadi dalam jangka panjang perusahaan bisa tergelincir pada risiko pertama.
  15. Risiko kedua ini sebenarnya bisa diamankan jika perusahaan telah memiliki value yang besar. Ibaratnya masuk samudera atlantik dengan kapal dengan kapal pesiar besar. Tepat sekali ketika Goto merger dan belum IPO. Nanti ketika IPO ukurannya sudah sekelas “kapal pesir”. Ukuran BL saat ini sebagaiman disebut di atas baru sekelas “kapal very”. Jadi belum aman.
  16. Risiko ketiga adalah memburuknya kinerja penjualan dan laba. Sebagaimana pembahasan di atas, sejauh ini tren penjualan laba masih bagus. Terus tumbuh. Tapi tidak ada yang bisa menjamin karena kinerja ini sangat dipengaruhi oleh persaingan. “Bakar uang” yang dilakukan oleh pesaing utama akan sangat mengganggunya. Apalagi Tokopedia misalnya yang merger dengan Gojek menjadi Goto akan makin kuat. Kuat juga dalam kemampuan pendanaan dengan cost of capital yang lebih rendah. Maka kinerja penjualan dan laba BL menghadapi risiko besar.
  17. Memburuknya kinerja penjualan dan laba sebenarnya bisa diatasi. Ada peredamnya yaitu berupa platform sejenis yang sudah menghasilkan uang. Contohnya adalah ketika misalnya kinerja pendapatan Whatsapp sebagai sebuah platform menurun. Peredamnya adalah Facebook dan Instagram yang telah menghasilkan uang. Ini penting karena RPD bagi sebuah perusahaan aplikasi internet adalah platform. Sayangnya BL adalah platform pertama bagi perusahaan dan belum menghasilkan uang. Maka, tidak ada peredam ketika terjadi penurunan kinerja pendapatan dan laba. Jika berlarut-larut, ini dapat menjadi pemicu terjadinya risiko pertama tadi.
  18. Masih ada risiko-risiko lain. Tetapi tiga itu adalah yang paling krusial. Calon investor harus memahami dan memitigasinya sebelum membeli saham IPO BL. Apakah itu artinya membeli saham IPO BL adalah sesuatu yang berbahaya bagi setiap investor? Tidak semua. Ada investor yang sudah sangat aman untuk melakukannya. Bahkan bisa memutuskannya dengan terpejam mata. Merem. Siapa itu?  Tidak lain adalah investor yang dananya besar dengan portofolio standar sebuah investment company. Bisa juga pengelola dana wakaf (nazir) yang dananya besar dengan portofolio standar sebuah pengelola dana wakaf. Cirinya, dari total aset yang dimiliki atau dikelolanya, sebesar 99% telah ditanamkan pada aset yang aman. Sekitar 20% ditanamkan pada aset jangka panjang berupa properti sewaan atau sejenisnya. Sekitar 30% ditanamkan pada fixed income aset yaitu obligasi, sukuk atau deposito. Sekitar 49% ditanamkan pada saham perusahaan yang telah mapan yaitu yang telah mencapai tahapan keenam pada CLC. Tahapan scale up. Sisanya yaitu sekitar 1% ditanamkan pada start up yang belum mencapai step kelima dalam CLC.
Wakaf korporat adalah pedang bermata dua. Menyelesaikan masalah sosial secara berkelanjutan sekaligus menumbuhkan bisnis. Membangun perusahaan dakwah. Nazir adalah sebuah model bisnis bagi para social entrepreneur. Butuh para founder untuk mengambil kesempatan ini. Bagaimana A to Z nya? Ayo masuk kelasnya. Full day full interactive for 15 pax only. Info dan pendaftaran http://www.klikwa.net/snfconsulting

Pada perusahaan investasi atau nazir seperti ini, rata-rata ROI adalah sekitar 10%. Maka jika 1% yang ditanamkan pada perusahaan start up pailit dan hilang sama sekali, perusahaan hanya akan mengalami penurunan ROI dari 10% menjadi 9%. Masih sangat aman. itu pun yang 1% tidak ditaruh pada satu startup. Tetapi diinvestasikan pada puluhan bahkan ratusan start up. Perusahaan investasi yang masuk kategori ini misalnya adalah BlackRock. Aset kelolaannya adalah USD 7,4 triliun alias sekitar Rp 130 ribu triliun. Alokasi 1% dari aset artinya adalah Rp 1300 triliun. Tentu mudah untuk menyebar pada ratusan start up di berbagai negara. Tidak mungkin semua start up pailit. Jadi sangat-sangat aman

Anda investor perorangan, investment company atau nazir? Sudah memahami risiko diatas? Sudah memitigasinya? Jika sudah, selamat untuk Anda. Ada peluang sangat bagus untuk masuk sebagai pemegang saham BL. Tapi jika belum, pikirkan kembali untuk melakukannya. Salam cuan!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI

Baca juga:
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Bakar Uang dan Pailit Startup

Artikel ke-339 karya Iman Supriyono ini ditulis di SNF Consulting House of Management, Surabaya, pada tanggal 11 Juli 2021

Sapi Perah atau Scale Up: 4 Level Pertumbuhan Bisnis


Ada 4 level pertumbuhan bisnis sebuah perusahaan. Saya akan menjelaskan dengan contoh. Sebuah perusahaan bergerak di bisnis resto dengan ratusan gerai. Sebut saja PT ABC atau singkatnya ABC. ABC dalam setahun menghasilkan laba Rp 100 M.

Sapi perah adalah julukan untuk sebuah perusahaan yang berada pada level pertumbuhan paling bawah. ABC pada contoh di atas disebut sapi perah jika seluruh laba diambil sebagai dividen oleh pemegang saham. Angkanya bisa dibaca dari laporan arus kaas perusahaan. Seluruh laba yaitu Rp 100 M sebagaimana contoh di atas dibagi sebagai dividen. Sama sekali tidak ada yang dialokasikan untuk investasi. Inilah level terburuk dalam pertumbuhan perusahaan. Level sapi perah. Inilah level pertama pertumbuhan perusahaan.

Sapi perah. Sapinya tidak dikembangkan. Hanya diambil susunya.

Level pertama ini juga bisa terjadi tanpa pengambilan dividen. Caranya adalah dengan menggunakan seluruh laba untuk berbisnis lain. Kembali ke ABC di atas. Laba tidak untuk menumbuhkan bisnis resto dengan membuka gerai baru. Tetapi untuk membuka bisnis rental mobil, kebun buah, laundry, atau apapun selain resto. Hasilnya adalah perusahaan konglomerasi. Sebuah perusahaan yang “banci”.

Level kedua lebih baik dari level pertama. ABC pada contoh di atas akan menjadi perusahaan level kedua jika dari laba Rp 100M selurunya digunakan untuk berinvestasi. Untuk membangun gerai resto baru. Sama sekali tidak diambil sebagai dividen. Pemegang saham melakukan puasa. Puasa senin kamis jumat sabtu minggu selasa rabu. Hehehe.

Mengencangkan ikat pinggang. Itulah nama yang tepat untuk perusahaan yang berada di level kedua ini. seluruh laba dikonsentrasikan untuk pertumbuhan. Pemegang sahamnya hidup sederhana. Para pengusaha Tionghoa generasi awal terkenal dengan karakter ini. Mereka dikenal dengan kesuksesannya membangun bisnis.

Berikutnya dalah level ketiga. ABC akan disebut berada pada level pertumbuhan ketiga jika dari laba Rp 100 M tetap dibiarkan sebagai laba ditahan. Tidak ada yang diambil sebagai dividen. Tetapi tidak cukup hanya dengan laba ditahan. Adanya tambahan aset dari laba tersebut juga memberi peluang ABC untuk mendapatkan tambahan utang. Jika Rp 100 M menjadi agunan maka bank akan memberi pinjaman sekitar Rp 70M. Maka, total dana investasi untuk ekspansi adalah Rp 170 M. Atau 1,7 x laba.

Jika setiap perolehan laba diperlakukan seperti itu, maka perusahaan seperti ini akan memiliki rasio utang terhadap ekuitas (DER) sebesar 0,7. Dalam berbagai industri angka DER  seperti ini masih aman. Cukup memberi ruang pertumbuhan. Tetapi masih cukup aman dari risiko gagal bayar.

Level keempat adalah level tertinggi. Dicapai dengan melakukan seperti yang dilakukan sampai level ketiga, plus dengan penerbitan saham baru. Level keempat ini disebut sebagai scale up. Yaitu berekspansi membangun resto baru dengan dana lebih dari 5x laba. Sebesar 1,7 x laba diperoleh dari laba ditahan dan pinjaman. Sisanya yaitu 3,3 x laba diperoleh dari menerbitkan saham baru. Baik secara private placement di luar lantai bursa. Maupun di lantai bursa melalui IPO maupun rights issue setelahnya.

Utang kan riba? Tidak selalu. Ada yang tidak riba. Seperti utang dagang, atau penerbitan sukuk, atau utang dengan skema murabahah kepada bank syariah. Memberi tempat kepada bank syariah untuk ikut tumbuh melayani masyarakat. Mengelola idle money jangka pendek milik masyarakat.

Apakah scale up bisa dilakukan tanpa utang? Bisa. Bahkan juga bisa dilakukan dengan tetap membagikan dividen. Perusahaan tetap bisa berekspansi dengan 5x laba bahkan lebih. Kembali pada contoh ABC di atas. Ekstermnya, scale up tetap bisa dilakukan dengan seluruh laba dibagikan sebagai dividen sekaligus tanpa utang. Caranya adalah dengan menerbitkan saham baru dengan nilai 5x laba. Duit dari hasil menguangkan intangible asset. Duit dari hasil proses korporatisasi. Bagaimana perusahaan Anda? Sapi perah, mengencangkan ikat pinggang, berani utang, atau scale up?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI

Baca juga:
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi

Artikel ke-338 karya Iman Supriyono ini ditulis di SNF Consulting House of Management pada tanggal 2 Juli 2021

Bunga 10% Murah Atau Mahal?


Ketika mendapatkan sebuah peluang bisnis, yang dilakukan para pelaku bisnis adalah berhitung. Berapa proyeksi pendapatannya, berapa biaya-biayanya, dan terakhir berapa labanya. Namanya proyeksi, akurasinya sangat tergantung kepada keahlian si pelaku bisnis. Makin ahli makin akurat.

Tidak akurat artinya risiko penyimpangan dari proyeksi sangat tinggi. Diproyeksikan pendapatan 100 misalnya, realisasinya hanya 50. Diproyeksikan biaya 60 misalnya, realisasinya ternyata 70. Jika demikian maka yang terjadi adalah kerugian.

Siapa yang mau berbisnis dengan mengakibatkan kerugian? Tentu tidak ada. Maka, keahlian adalah kunci dari keberhasilan. Makin ahli makin akuratlah dalam membuat proyeksi. Makin akurat proyeksi, makin akurat pulalah keputusan untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan peluang bisnis tersebut. Makin berpeluang menghasilkan lab.

&&&

Biaya uang adalah salah satu faktor penting dalam membuat proyeksi. Biasanya dinyatakan dalam persen. Dalam bahasa Inggris disebut sebagai cost of fund. Bahkan bukan sekedar penting, tapi menjadi dasar seluruh perhitungan peluang bisnis. Untuk sebuah proyek besar, semua proyeksi pendapatan dan biaya yang terjadi pada waktu yang akan datang dikoreksi dengan angka ini.

Misal, proyeksi pendapatan Rp 100 juta yang terjadi pada setahun yang akan datang harus dikoreksi dengan biaya uang. Katakan biaya uang adalah 10%. Maka, pendapatan Rp 100 juta yang beru diterima tahun depan dikoreksi menjadi Rp 90 juta untuk perhitungan yang dilakukan hari ini.

Dengan koreksi ini, biaya modal menjadi sangat krusial dalam perhitungan bisnis. Akurasi yang telah dimiliki oleh seorang pebisnis yang merupakan hasil pemupukan keahlian bertahun-tahun tidak akan ada artinya jika ada masalah dalam biaya modal ini.

Bunga alias margin bank syariah 10% murah atau mahal? Mahal bangettsss!

Apa masalah dalam biaya modal? Nilanya yang terlalu tinggi. Terlalu mahal. Untuk lebih jelas, mari kita melihat biaya modal AMDK Cleo alias PT Sariguna Primatirta Tbk. Data per tanggal 17 Juni 2020 harga sahamnya adalah Rp 442 per lembar. Artinya, jika saat ini Cleo membutuhkan dana untuk berekspansi membangun pabrik, perusahaan ini bisa menerbitkan saham sebagai langkah teknis korporatisasi dengan harga itu. Harga itu adalah 38,12 x laba per lembar saham yang sebesar Rp 11,6.

Artinya, para investor mau membayar Rp 442 untuk mendapatkan hak laba sebesar Rp 11,6. Dengan kata lain, investor mau mengeluarkan uang sebesar harga saham tersebut untuk mendapatkan return on investment (ROI) 2,6% per tahun. Diperolah dari Rp 11,6 dibagi Rp 442.

Dengan angka ROI tersebut, katakan Cleo mendapatkan peluang untuk berekspansi ke sebuah wilayah dan perlu membangun pabrik. Maka, seluruh pendapatan, beban dan laba yang akan diterima pada masa yang akan datang dikoreksi dengan biaya modal 2,62% per tahun. Laba Rp 100 juta tahun depan dikoreksi menjadi Rp 97,4 juta untuk perhitungan saat ini.

Nah, bandingkan misalnya dengan perusahaan AMDK lain merek XYZ misalnya yang mendapatkan uang modalnya dari bank. Jika XYX mendapatkan fasilitas pembiayaan bank dengan bunga atau margin bank syariah 10%, laba  Rp 100 juta tahun depan hanya setara dengan Rp 90 pada saat ini. Artinya, Cleo jauh lebih murah biaya uangnya dari pada XYZ. Maka, dengan peluang yang sama, kemungkinan CLEO untuk mengantongi laba jauh lebih besar dari pada XYZ. Biaya modal CLEO hanya sekitar ¼ biaya modal XYZ.

Belum lagi kalu dibandingkan secara arus kas. XYZ harus mengeluarkan uang untuk angsuran pokok pinjaman bank. Sementara dengan penerbitan saham, CLEO tidak perlu mengembalikan uang pokok investor. Cukup membayar dividen yang jauh lebih kecil dari labanya. Angka terakhir Cleo, investor sudah senang menerima dividen yang hanya 0,57% dari uang yang disetorkannya sebagai saham. Hanya 21% dari laba yang diperoleh perusahaan. Murah sekali.

Jadi bunga bank konvensional atau margin bank syariah 10% mahal atau murah? Mahal sekali. Itulah mengapa perusahaan-perusahaan kita kalah bersaing dengan pemain global. Pertamina misalnya hanya menguasai sekitar 15% ladang minyak. Sisanya dikuasai asing. Pertamina menghitung proyek penambangan minyak seperti XYZ. Pesaing asing menghitungnya seperti Cleo yang melakukan korporatisasi. Perusahaan Anda seperti siapa?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI

Baca juga:
Kemustahilan Jokowi: Bunga Bank 3% Tanpa Investment Banking
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Artikel ke-337 karya Iman Supriyono ini ditulis dan diterbitkan untuk Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Juli 2021