Wakaf: Antara Menanam & Godaan


Iman dan godaan. Ini adalah lagu pop kreatif populer tahun 90-an. Penulis sekaligus penyanyinya adalah Fariz RM. Liriknya bercerita tentang godaan yang selalu datang pada setiap langkah untuk kebaikan.  Bahkan godaan itu begitu megahnya sehingga benar-benar berat dalam upaya menjaga iman.

Lagu ini menjadi penenang hati saya mana kala pohon-pohon yang saya tanam sejak tahun 2017 di jalan akses menuju rumah ditebang orang. Jam kerja pagi itu saya pulang dari kantor untuk persiapan ke bandara. Di jalan beberapa puluh meter menuju rumah, ada  dua orang pekerja tampak sedang membersihkan dedaunan di pinggir jalan. Setelah saya  perhatikan ternya mereka sedang menyelesaikan proses penebangan pohon-pohon di pinggir jalan. Yang ditebang adalah pohon-pohon yang saya tanam sejak tahun 2017.

Sebagai orang yang lahir dan menjalani masa remaja di pedesaan, menanam pohon adalah kebahagiaan. Tapi bukan sekedar itu. Menanam pohon adalah ibadah jariah. Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu memakannya baik manusia atau keledai atau burung kecuali akan menjadi sedekah baginya hingga hari kiamat, demikian teks hadits  sahih yang diriwayatkan oleh Muslim.

Sejak tahun 2017 di setiap awal musim hujan saya membiasakan diri untuk membeli bibit-bibit pohon untuk dan menanamnya. Saya ingat persis tahunnya karena fotonya terdokumentasikan di media sosial. Pinggir jalan akses masuk rumah adalah salah satu tempat untuk melaksanakan niat memperoleh pahala jariah sampai hari kiamat itu.  Sukun, juwet, kelapa, jambu, alpukat, blimbing wuluh, mangga, adalah beberapa jenis tanaman yang saya pilih. Ada lebih dari 100 bibit yang sudah saya tanam dan rawat di jalan sepanjang sekitar 100 meter itu.

Kini, 9 tahun kemudian, hanya ada 10 tanaman yang bertahan. Satu pohon mangga, satu pohon kelapa, dua pohon juwet, dan 6 pohon sukun.  Sisanya ada yang dicabut, dirusak, dicuri, atau ditebang orang tidak bertanggung jawab.

Dari yang bertahan, dalam beberapa tahun ini sudah pohon-pohon itu sudah pada berbuah. Buahnya sudah dinikmati oleh siapa pun yang memetiknya. Saya juga.  Tentu juga dinikmati oleh binatang- binatang.  Persis seperti di teks hadits di atas.

Pagi itu, dua dari 10 pohon yang tersisa itu kembali dihabisi. Sedih. Kecewa. Yang menebang adalah petugas pemotong rumput dari Badan Riset Nasional alias BRIN. Jalan akses ke rumah saya kebetulan juga merupakan jalan akses ke lab Hidrodinamika BRIN. Jadi, petugas kebersihan BRIN itulah yang pagi itu memotong amal jariah itu.

&&&

Lilly Endowment Inc. secara resmi didirikan pada tahun 1937. Pendirinya menyetorkan saham Eli Lilly and Company. Perusahaan farmasi yang didirikan di Indianapolis pada tahun 1876 oleh Kolonel Eli Lilly. Donasi pertama adalah sebanyak 17.500 lembar saham. saat itu nilainya adalah  $262.500. tetapi pemberian dari J.K. J.K. Sr. dan kedua putranya tidak berhenti sampai di situ.

Pada tahun 1971 keluarga pendiri kembali menyerahkan  hampir 32 juta lembar saham senilai sekitar $94 juta kepada organisasi dana abadi itu. Beberapa anggota non-keluarga menyumbangkan 210.000 lembar saham lagi, senilai $1,1 juta. Dan Endowment tersebut termasuk dalam rencana warisan Ruth Lilly, putri J.K. Jr., yang menghasilkan sumbangan darinya mulai tahun 2003 dengan total lebih dari $200 juta.

Sebagaimana pada laporan keuangan terauditnya, akhir tahun 2024 lembaga dana abadi ini memiliki aset USD 79,9 miliar alias IDR 1 345 triliun.  Sebagian besar asetnya, USD 74,8 miliar alias 94% adalah saham Eli Lilly. Aset yang merupakan sumbangan dari para pendiri lembaga berbadan hukum yayasan ini.  Terbesar kedua adalah saham di berbagai perusahaan sebesar USD 2,8 miliar alis IDR 47 triliun alias 4% dari total aset. Dengan demikian 98% asetnya adalah berupa saham. Selebihnya, USD 2,1 miliar alias IDR 35 triliun alias 2% aset adalah berupa obligasi baik yang diterbitkan oleh pemerintah maupun oleh berbagai perusahaan.

Dari aset tersebut, sepanjang tahun 2024 menghasilkan dividen dan imbal hasil obligasi sebesar USD 714 juta alias IDR  12 triliun. Selain itu Lilly juga memperoleh pendapatan dari capital gain sebesar USD 19,3 miliar alias IDR xx triliun. Dari capital gain tersebut yang direalisasikan adalah USD 2,4 miliar alias IDR xxx triliun. Yang tidak direalisasikan (diuangkan) adalah  USD 17 miliar. Dengan demikian, total realisasi pendapatan adalah USD 3,1 miliar alias IDR 52 triliun.

Pendapatan tersebut digunakan untuk memberi hibah untuk berbagai program sebesar USD 2,4 miliar alias IDR 40 triliun. Selebihnya adalah untuk biaya operasional dan pajak sehingga total belanja adalah USD  2,7 miliar alias IDR 45 triliun. Ini adalah beberapa program yang mendapatkan hibah dana dari Lily Endowment: Kegiatan American Diabetes Association, pembiayaan pendidikan penduduk pribumi American Indian College Fund, program disaster relief American Red Cross, pembiayaan rohaniawan gereja Anglikan Amerika, dan sebagainya.

&&&

Iman dan godaan. Kondisi sebagaimana judul lagu ini juga tidak terpisahkan dari keberadaan Lilly Endowment. Ya, jika menanam pohon sampai berbuah sebagai amal jariah melalui berbagai godaan, demikian pula dengan โ€œtanamanโ€ bernama Lilly Endowment.

Tanamlah pohon. Tanamlah pabrik oksigen. Tanamlah “pohon” wakaf. Sebesar apapun godaanya. Bahkan ketika godaan itu datang dan datang lagi.

Aneka tantangan dan kesulitan yang dialami Lilly Endoment tidak bisa dipisahkan dari kehadiran Eli Lilly Company. Tahun 1970 didenda karena monopoli pasar cephalosporin. Tahun 2005 harus membayar denda untuk program pemasaran produk Evista. Tahun 2009 didenda oleh pengadilan atas pemasaran produk Zyprexa. Tahun 2013 didera  kasus obat Strattera and Zyprexa di Kanada. Itu adalah beberapa masalah uang dihadapi peruashaan yang kini menjadi penopang utama Lily Endoment.

Maka, terpotongnya amal jariah pohon sebagai sumber buah dan oksigen bagi alam adalah hal biasa dalam hidup. Kecewa memang. Sedih tentu saja. Apalagi yang memotong adalah petugas kebersihan dari instansi publik yang mestinya pro kepentingan publik. Tapi kekecewaan itu tidak boleh mematikan semangat untuk amal jariah.

Pembaca yang baik, saat ini sudah akhir musim hujan. Tidak tepat untuk menanam pohon lagi.  Tapi awal musim hujan tahun depan sudah saya niatkan untuk menanam kembali pohon-pohon baru. Menyembai kembali sumber buah bagi orang atau binatang apapun yang memakannya. Menyemai kembali sumber oksigen bagi siapa pun yang menghirupnya. Termasuk oksigen bagi petugas kebersihan BRIN itu. Tentu juga oksigen bagi pimpinan BRIN yang memberi perintah kepada petugas kebersihan itu.

Pembaca yang baik, menanam pohon jangan hanya diartikan secara leterlijk. Membangun endowment fund alias dana wakaf adalah bentuk modern yang lebih powerfull dari konsep menanam pohon. Jika menanam pohon menghasilkan buah dan oksigen, membangun dana wakaf alias endowment fund menghasilkan solusi masalah sosial sekaligus penguatan ekonomi umat dan bangsa.  Seperti Lily Endowment yang tidak bisa dipisahkan dari Eli Lily Company yang kini adalah perusahaan terbesar ke 138 dunia. Adalah salah satu dari penyumbang kekuatan ekonomi USA yang kini masih terbesar di dunia. Produksi barang dan jasa dari USA masih hampir dua kali produksi barang dan jasa RRC.

Pembaca yang baik, ayo terus menanam pohon. Ayo terus membangun endowment fund. Ayo terus membangun dana wakaf. Sebesar apapun godaanya. Bismillah!

Karya ke 508 Iman Supriyono ini ditulis di Masjid Arroyan Surabaya dini hari tanggal 22 Ramadhan 1447 KHGT

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga
Wakaf dan Dana Abadi Sebagai Investing Company ala Saratoga
Fulbright Dari Timur: Wakaf ACR
Satu Lagi Dari Wakaf ACR: Apotek Titokita
Wakaf Pembiayaan Kambing Kurban
Wakaf Untuk Pensiunan Marbot dan Imam
Allah Sebagai Pemgang Saham Legal Formal
NUS: Kampus Berjati Diri Sosial Dengan Wakaf
NTU: Si Muda Mengalahkan Seniornya Dengan Wakaf
Berapa Indeks Wakafisasi Kampus Anda?

Dividen Saratoga: Kampus, Sekolah, Pesantren, Masjid Harus Punya


Inilah dividen dari perusahaan-perusahaan yang sahamnya dipegang oleh Saratoga sepanjang lima tahun terakhir (2020-2024):  Rp 1,07 triliun, Rp 1,66 triliun, Rp 2,61 triliun, Rp 2,81 triliun, dan Rp 3,85 triliun. Untuk tahun 2024: dari Adaro Rp 3,12 triliun, dari MPM Rp 291 miliar, dari Tower Bersama Infrastructure  Rp 383 miliar, dari Nusa Raya Cipta Rp 5 miliar, dari Samator Gas Rp 3 miliar, dari investee lain-lain Rp 3 miliar.

Itulah yang ditampilkan pada item pendapatan pada laporan laba ruginya. Jadi pendapatannya adalah dari dividen. Bukan dari berjualan barang atau jasa. Mengapa demikian?  Saratoga. adalah perusahaan investasi. Kerjanya berinvestasi dengan skema saham pada perusahaan-perusahaan lain. Persentase sahamnya pasti kecil. Dibawah 50%. Dengan demikian Saratoga tidak mengkonsolidasikan laporan keuangan perusahaan yang sahamnya dipegang. Cukup melaporkannya sebagai pendapatan saat menerima dividen.

Berapa nilai aset Saratoga untuk menghasilkan dividen sebesar itu? Per 31 Desember 2024 nilai asetnya adalah Rp 57,84 triliun. Dengan demikian dividen yang diterima pada tahun tersebut adalah 6,6%. Angka ini disebut dividend yield.

Kampus sekolah pesantren lembaga sosial, jangan sia-siakan kepercayaan masyarakat untuk berdonasi. Segeralah memfotokopi Saratoga.

Kok persentasenya kecil? Kok beda tipis dengan imbal hasil ORI? Tidak beda jauh dengan dividen? Perlu diketahui, angka tersebut diperoleh dari nilai aset investasi Rp 57,84 triliun. Nilai adalah berdasar nilai pasar saham terakhir. Jadi uang yang benar-benar ditanamkan Saratoga pada masa lalu jauh lebih kecil dari pada angkat itu. Mari kita bedah.

Saratoga didirikan pada tahun 1991. Modal disetor pada neraca terakhir adalah Rp 271 miliar. Pemegang saham saat ini: Edwin Soeryadjaya 35,81%, PT Unitras Pertama 32,72%. Sandiaga Uno 21,51%, dan publik 9,81%. Karena Unitras adalah representasi Edwin, maka bisa disimpulkan bahwa pendiri memegang 90,04%. Artinya, dari modal setor Rp 271 triliun, yang disetor oleh pendiri adalah Rp 244 miliar. Artinya pendiri hanya berkontribusi 0,4% dari aset Saratoga saat ini.

Sebagai perusahaan investasi, biaya usaha Saratoga kecil sekali. Tidak ada operasional melayani customer. Tahun 2024 hanya mengeluarkan Rp 232 miliar untuk biaya usaha. Dengan demikian, masih ada pendapatan dividen bersih Rp 3,61 triliun. Hak pendiri adalah 90,04% dari angka itu alias Rp 3,26 triliun. Maka imbal hasil pendiri adalah 1 374%. Bandingkan jika Rp 244 milair yang disetor pendiri tahun 1991 itu diinvestasikan di ORI atau sejenisnya. Hari ini hanya mendapatkan imbal hasil sekitar 6%. Uang Rp 244 miliar tidak tumbuh. Bahkan tergerus inflasi super dalam.

Dari mana sumber aset lainnya? Yang terbesar adalah dari saldo laba yaitu Rp 46 triliun alias 80% dari total aset. Sebagian besar laba ditahan berasal dari kenaikan nilai saham-saham yang dipegang Saratoga. Sebagian kecil berasal dari uang tunai dividen investee yang tidak dibagikan. Pada tahun 2024 misalnya Saratoga membagi dividen kepada Sandi, Edwin dan para megang saham lain total sebesar Rp 297 miliar dari Rp 3,85 triliun dividen yang diterimanya dari Adaro dan investee lain. Tahun 2023 Rp 1,01 triliun dari Rp 2,81 triliun dividen yang diterima dari Adaro dll. Sisanya akan menjadi agio saham dan diinvestasikan lagi. Itulah mengapa Saratoga saat ini punya banyak sekali investee.

Dari mana sumber aset terbesar kedua? Tidak lain adalah dari tambahan modal disetor alias agio saham. Nilainya Rp 5,18 triliun. Ini adalah uang yang disetor publik sebagai saham saat Saratoga menerbitkan saham baru melalui IPO atau rights issue. Jika misalnya saat ini Saratoga melakukan penerbitan saham baru melalui rights issue, masyarakat akan membayar dengan harga Rp 1 545 per lembar saham. Dengan nilai nominal Rp 20, maka Rp 1 525 akan menjadi agio saham. Jika menerbitkan saham 10% saja dari jumlah lembar saham yang telah diterbitkan, Saratoga akan menerima agio saham sebesar Rp 2,1 triliun.

&&&

Perusahaan seperti Saratoga inilah yang harus dibuat oleh kampus, sekolah, pesantren, organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah atau NU, dan organisasi-organisasi sosial lain. Membuat perusahaan investasi. Investment company. Bukan operating company.

Kerjanya sederhana. Kumpulkan uang dari para donatur. Dalam bahasa umat Islam disebut wakaf. Lalu uang itu dipakai untuk mendirikan perusahaan investasi seperti Saratoga. Lalu perusahaan investasi itu berinvestasi seperti yang dilakukan Saratoga. Copy and paste Saratoga. Nanti akan menerima imbal hasil (ROI) 1 374 %j seperti Saratoga. Nilai aset akan tumbuh berlipat ganda seperti Saratoga. Bukan seperti ORI atau deposito.

Bukan hanya sederhana tetapi juga tidak mengganggu jati diri sosial lembaga pendidikan atau keagamaan. Perusahaan investasi tidak pernah bersaing dengan perusahaan mana pun. Tidak pernah mengalami proses pembelajaran panjang dengan menanggung rugi sebagai siklus hidup perusahaan. Lembaga keagamaan, pendidikan, dan sosial tetap bisa fokus ke visi dan misi keagamaan, sosial dan pendidikan. Tidak menjadi pelaku bisnis. Tidak bersaing dengan pelaku bisnis mana pun.

Itulah mengapa MIT sebagai kampus ranking 1 dunia mendirikan MITIMCo, Harvard University mendirikan Harvard Management Company, gereja mormon LDS Church sebagai organisasi keagamaan dengan aset terbesar dunia mendirikan Ensign Peak Advisor. King Abdullah University of Science and Technologi pun juga. Mendirikan investment company, bukan operating company. Anda pengelola kampus, sekolah, pesantren, lembaga keagamaan, atau lembaga sosial? Sudah memulai langkah untuk memfotokopi Saratoga? Gunakan dana abadi yang ada untuk itu. Jangan tunda-tunda waktu. Saratoga butuh sekitar 20 tahun untuk menikmatinya.

Karya ke 507 Iman Supriyono ini ditulis di Masjid Arroyan Surabaya selepas salat lohor  tanggal 21 Ramadhan 1447 KHGT

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga
Satu Lagi Dari Wakaf ACR: Apotek Titokita
Wakaf Pembiayaan Kambing Kurban
Wakaf Untuk Pensiunan Marbot dan Imam
Allah Sebagai Pemgang Saham Legal Formal
NUS: Kampus Berjati Diri Sosial Dengan Wakaf
NTU: Si Muda Mengalahkan Seniornya Dengan Wakaf
Berapa Indeks Wakafisasi Kampus Anda?

QRIS Hanyalah Permulaan


Yang paling nikmat setelah menuntaskan 7 kilometer lari pagi adalah menikmati susu sapi segar di Cak Nasor. Warung kaki lima yang menjual susu sapi segar. Demikianlah kebiasaan saya menikmati suasana pagi di sekitar rumah di kawasan Mulyorejo Surabaya. Menjaga kesehatan dengan membakar lemak yang masuk ke tumbuh melalui makanan dan minuman. Menambah protein segar alami tidak tercampur bahan pengawet atau sejanisnya.

Saya sudah menjalani ritme lagi pagi seperti itu lebih dari 20 tahun. Pemicunya adalah penjelasan Dokter Tjatur, sohib di PWM jatim. Ketika itu beliau menjelaskan bahwa siapa pun tidak bisa menghindari mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung lemak. Zat yang tidak larut di air itu akan terbawa oleh sistem pencernaan sampai pembuluh darah yang berukuran mikron. Layaknya sebuah pipa, jika dialiri cairan yang mengandung lemak lama-lama akan ada kerak menempel di dindingnya. Lama-lama akan buntu. Muncullah stroke atau jantung koroner. Sau-satunya cara untuk menanggulanginya adalah dengan membakarnya. Lari pagi atau olah raga sejenis selama setengah jam hanya akan membakar karbohidrat. Bila dilanjutkan barulah akan membakar lemak. Maka, dibutuhkan disiplin olah raga minimal dua kali seminggu masing-masing satu jam. Alhamdulillah saya bisa menjaganya selama lebih dari 20 tahun terakhir.

Ada yang berbeda dari awal-awal lari pagi dengan saat ini. Bukan lari paginya. Bukan susu segarnya. Yang berbeda adalah cara pembayaran susu segar. Dulu, selain telepon seluler,  saya selalu membawa dompet berisi uang saat berlari pagi. Agar bisa membayar susu Cak Nasor. Kini cukup membawa telepon seluler. Pembayaran susu Cak Nasor bisa dilakukan dengan mudah menggunakan fasilitas QRIS. Cukup pindai kode yang disedikan oleh Cak Nasor. Tulis nominal yang harus dibayar. Tekan OK. Muncul bukti bayar. Tunjukkan Cak Nasor. Cak Nasor melakukan verifikasi. Transaksi beres.

&&&

Pembaca yang baik, kini pembayaran dengan uang fisik sudah sangat berkurang. Adanya QRIS dan macam-macam dompet uang elektronik menjadi penyebabnya. Dalam kondisi seperti ini, para pelaku bisnis, besar atau kecil, tidak bisa menghindarinya. Sudah menjadi tuntutan para pembeli. Bukan lagi kemewahan atau kecanggihan. Apa lagi di kota-kota besar seperti Surabaya ini. Mau tidak mau para pelaku bisnis mesti mengadopsinya.

QRIS adalah sebuah realitas yang harus diadopsi di dunia bisnis

Adopsi QRIS sudah, lalu apa? Yang pertama adalah risiko. Sebagai sarana pembayaran elektronik, risikonya bagi pelaku bisnis adalah tertunda atau gagal menerima uang. Bisa jadi karena sistem yang eror. Atau bisa juga karena penipuan yang dilakukan oleh pembeli. Untuk risiko ini bisa diatasi dengan aplikasi yang bisa langsung mengkonfirmasi masuknya pembayaran.

Ada lagi risiko pajak. Dengan pembayaran secara elektronik, semua transaksi akan dengan mudah diketahui oleh institusi pajak. Maka, mau tidak mau para pelaku bisnis mesti memahami regulasi terkait pajak dan brproses menjadi bisnis yang tertib pajak.

Ada tuntutan konsumen. Ada risiko. Lalu apa peluangnya? Peluang akan muncul jika para pelaku bisnis memiliki visi besar. Jika tidak, risiko-risiko itulah yang menjadi satu-satunya isi otak. Akhirnya, mereka bertahan. Tidak mau mengadopsi perubahan teknologi yang sebenarnya tidak akan pernah bergerak mundur.

Nah, jika Anda pelaku bisnis yang sudah memilih untuk mengadopsi pembayaran elektronik dengan QRIS atau sejenisnya, saatnya untuk membangun visi besar. Visi besar seperti apa? Prestasi tertinggi dari bisnis apapun adalah menjadi korporasi sejati. Tandanya ada tiga. Yang pertama adalah menguasai pasar lebih dari 100 negara agar tidak bisa diganggu oleh kebijakan ekonomi politik negara mana pun karena omzet dari satu negara berkontribusi tidak lebih dari 1% omzet perusahaan. Kedua, tidak ada pemegang saham pengendali sehingga perusahaan murni bekerja berbasis sistem manajemen. Ketiga, biaya modal sekitar 2-3% per tahun. Anda bisa mempelajari lebih lanjut perusahaan seperti ini dengan googling dengan kata kunci โ€œkorporasi sejatiโ€.

Jika Anda pelaku bisnis kuliner misalnya, ketahuilah tidak ada korporasi multinasional yang tiba-tiba besar. Lebih dari 50 ribu gerai  McDonalds juga berawal dari satu gerai. Angka 50 ribu pastilah pernah melalui angka 1, 2, 3, 4, dan seterusnya. Tidak tiba-tiba 50 ribu.  

Jika Anda bervisi  besar, maka bisnis kaki lima seperti susu segar Cak Nasor adalah awalan. Setelah gerai pertama berjalan dengan baiki selanjutnya fokuskan uang laba untuk membuka gerai kedua, ketiga, dan seterusnya. Lama-lama nanti Anda akan piawai membuka gerai. Tandanya adalah kemampuan membuka gerai lebih besar dari pada laba yang telah dikumpulkan. Pada saat itu, tandanya bisnis perlu menata diri secara legalitas, akuntansi, perpajakan, operasional untuk masuknya investor.  Pada tahap ini, semua daya upaya dan pembayaran pajak akan terbalas. Bahkan berkali-kali lipat. Semua bermula dari QRIS. Anda siap?

Artikel ke 506 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan edisi Maret 2026, terbit di Surabaya.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Melahirkan Pemimpin Bisnis Besar Dari Masjid


Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur, selepas subuh, 13 Ramadhan 1447 KHGT. Melahirkan pemimpin besar dari masjid. Sebuah judul ceramah subuh yang sangat menarik.  Menantang. Ustadz Nirwan Syahfrin sebagai penceramah menyebutnya sebagai topik berat. Disebut demikian karena realitasnya saat ini sekitar semilyar umat Islam di muka bumi ini berjalan tanpa pemimpin.

Memang tiap negeri muslim ada pemimpin masing-masing. Tapi tentu tidak bisa disebut pemimpin besar yang sesungguhnya. Mengapa? Karena besar itu relatif. Tentu saja kita harus membandingkan dengan jumlah umat yang merupakan seperlima penghuni planet bumi ini. Mereka tinggal di hampir semua negara yang berjumlah sekitar 200 ini. PBB mengakui ada 195 negara. Tapi ada beberapa negara seperti Palestina yang belum diakui sebagai negara dan masuk anggota PBB.

Sebagai seorang konsultan manajemen, tentu lebih tepat bagi saya untuk memandang masalah kepemimpinan umat ini dari kaca mata bisnis. Maka judul ceramah subuh itu saya adaptasi menjadi โ€œMelahirkan pemimpin bisnis besar dari masjidโ€.

Kembali lagi bahwa besar itu relatif. Tergantung pembandingnya. Maka, kita harus mencari referensi. Majalah Forbes tahun ini telah merilis 2000 perusahaan terbesar dunia dari ukuran omzet, laba, aset dan nilai pasar. Total omzet 2000 perusahaan itu adalah USD 52,9 triliun alias IDR 8,9 kuintriliun. Kuintriliun artinya sejuta triliun. Angka itu setara dengan 52% dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh pelaku ekonomi di muka bumi.

Maka, melahirkan pemimpin bisnis besar artinya adalah melahirkan CEO atau dirut perusahaan yang omzet, aset, laba dan nilai pasarnya masuk pada 2000 perusahaan terbesar dunia itu.

Pertanyaannya, mungkinkah? Sebagaimana di bidang politik seperti diuraikan oleh penceramah berpendidikan doktor itu, di bidang bisnis saat ini realitasnya pun jauuuuuuuuuh di bawah itu. Tapi sejarah mencatat. Umat ini secara politik pernah jaya. Pernah menjadi super power. Tujuh abad. Maka, jika melahirkan pemimpin besar di dunia politik bukan tanpa preseden. Demikian pula di sektor bisnis.

&&&

Untuk menggambarkannya secara lebih konkrit bagaimana melahirkan pemimpin besar bisnis, saya akan mengajak Anda mengambil pelajaran dari Bill Gates. Pendiri Microsoft ini memulai debut bisnisnya pada tahun 1975. Ketika itu usianya baru 19 tahun. Seumur mahasiswa tahun pertama. Pelajaran pertamanya: pemimpin besar bisnis dilahirkan sejak muda. Sejak masa kuliah.

Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur

Bill Gates tidak sendirian dalam mendirikan perusahaan yang kini terbesar ke-9 dalam hal omzet, laba, aset dan nilai pasar itu. Ia melakukannya bersama sahabat masa kecilnya, Paul Allen. Jadi pelajaran yang kedua adalah: pemimpin besar bisnis tidak muncul sendirian. Dia lahir melalui kolaborasi.

Sebagai pendiri, tentu Bill Gates dan Paul Allen adalah pemegang seluruh saham Microsoft ketika itu. Seratus persen. Tapi hari ini saham keduanya secara persentase sangat kecil. Bil Gates memegang  1,38%. Kecil sekali dalam persen. Tidak masuk 10 besar. Tapi nilainya sekitar Rp 800 triliun. Dividen yang diterima sekitar Rp 6 triliun per tahun.

Kecilnya persentase saham Bill Gates bukan karena penjualan. Tapi karena Microsof terus menerus menerbitkan saham. Baik melalui private placement maupun. Bill Gates memegang  104 juta lembar. Nilai nominalnya sekitar USD 640 alias IDR 10 juta. Dengan demikian Bill Gates berkontribusi 0.00000012% terhadap aset Microsoft yang saat ini sebesar USD 533,9 miliar alias IDR 8997 triliun. Selebihnya adalah kontribusi para investor. Mereka menyuntik dana besar kepada Microsoft dengan imbalan saham baru yang diterbitkan Microsoft setiap membutuhkan tambahan modal untuk ekspansi.

Siapa para pemodal itu? Berikut ini adalah 10 pemegang saham terbesar Microsoft saat ini: Vanguard Fiduciary Trust Co., BlackRock Advisors LLC, STATE STREET CORPORATION, Fidelity Management & Research Co. LLC, Geode Capital Management LLC, JPMorgan Investment Management, Inc., BlackRock Life Ltd., T. Rowe Price International Ltd., Eaton Vance Management, dan Norges Bank. Semuanya adalah perusahaan-perusahaan investasi yang kerjanya mengumpulkan dana dari masyarakat, menginvestasikannya ke berbagai perusahaan, menerima dividen dan kemudian membagikan sebagian dividen tersebut kepada masyarakat yang mempercayakan dananya.

Masih ada lagi jenis investor yang lain: investor sosial. Mereka adalah perusahaan-perusahaan pengelola dana abadi (endowment fund) lembaga-lembaga sosial, keagamaan dan pendidikan. Contohnya adalah Ensign Peak Advisor yang mengelola dana dari LJS Church, sebuah ormas keagamaan berbasis USA beranggotakan para jemaat gereja beraliran Mormon.

Perusahaan investasi gereja yang mengelola aset sebesar USD 124 miliar itu menginvestasikan dananya sebagai saham di sekitar 1600 perusahaan. Salah satunya adalah Microsoft. Berdasarkan laporan kepada otoritas lantai bursa USA, perusahaan investasi gereja itu memiliki saham Microsof senilai USD 2,35 miliar alias IDR 38 triliun. Tahun ini lalu menerima dividen sebesar sekitar IDR 2 triliun. Uang dividen itulah yang digunakan sebagai biaya operasional gereja mereka di seluruh dunia. Kristen Mormon juga memiliki gereja di Indonesia.

Maka, pelajaran ketiga adalah bahwa pemimpin besar di dunia bisnis lahir dari dukungan para investor. Ada investor komersial yaitu perusahaan-perusahaan investasi. Ada investor sosial yaitu pengelola dana abadi lembaga-lembaga sosial keagamaan. Dalam terminologi islam disebut sebagai dana wakaf.

&&&

Tiga pelajaran dari sejarah Microsoft itulah penjelasan dari ceramah subuh di Masjdi Megah di Kota Wisata Cibubur pagi itu. Untuk bisa melahirkan pemimpin besar di dunia bisnis, masjid mesti menemukan para pemuda yang berjiwa entrepreneur dengan visi besar. berbisnis bukan sekedar mencari uang. Mereka saling berkolaborasi dalam membangun korporasi besar yang melayani kebutuhan barang dan jasa masyarakat di seluruh dunia. Korporasi rahmatan lil alamin.

Ini bisa dihadirkan  melalui aktivitas masjid yang menyasar anak muda. Masjid Darussalam misalnya sebagaimana informasi pak Budi, bendahara yayasan yang menaungi masjid tersebut, memiliki program beasiswa. Anak-anak muda penerima beasiswa yang berminat bisa diarahkan untuk menjadi entrepreneur.

Tidak cukup hanya membina secara mental dan kemampuan. Lebih dari itu, sebagaimana yang dilakukan oleh gereja Mormon, masjid mesti menggalang dana wakaf. Lalu sesuai karakternya, dana wakaf diinvestasikan melalui skema full profit and lost sharing yaitu penyertaan saham. Perusahaan yang didirikan oleh entrepreneur binaan menerbitkan saham. Dana wakaf masuk. Dananya digunakan untuk pengembangan perusahaan. Masjid Darussalam bisa langsung melakukannya karena memang sudah punya unit pengelola wakaf alias nazir.

Dengan memiliki saham, dana wakaf akan mendapatkan dividen. Tapi bukan hanya itu. pemegang saham akan menikmati kenaikan harga saham. Menikmati capital gain. Jadi aset LDS Church yang lebih dari 2000 triliun itu bukan berarti para jemaat gereja benar-benar berdonasi sebesar itu. Nilai saham LDS yang kini IDR 38 triliun itu adalah sebesar sekitar 5,9 juta lembar. Jika gereja itu masuk dengan harga 10 kali lipat dari harga saat Bill Gates setor modal, nilainya adalah USD 369 alias IDR 6,2 juta. Kecil sekali.

Nah, jika masjid melakukan hal serupa, 51 tahun yang akan datang akan hadir perusahaan sekelas microsoft. Seperti yang dilakukan LDS Church saat awal-awal kehadiran Microsoft di dunia bisnis. Saat itulah muncul pemimpin besar umat di dunia bisnis. Semoga. Ramadhan berkah. Aamin.

Bagi masjid, peran melahirkan pemimpin bisnis besar ini sekaligus solusi terhadap biaya operasional masjid. Saat ini biaya operasional bulanan masjid Darrusalam sekitar Rp 700 juta. Semuanya dipenuhi dari infak jamaah. Jika pekerjaan besar melahirkan pemimpin bisnis besar ini sukses, dana operasional itu terpenuhi dari dividen perusahaan-perusahaan raksasa yang muncul dari anak-anak muda binaan masjid. Aamin yaa Rabb.

Artikel ke 505 Iman Supriyono ini ditulis pada tanggal di Artotel Kota Wisata Cibubur pada tanggal 3 Maret 2026

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI

Baca juga:
Hayyu x ACR: Perusahaan Dakwah
Kumowani: Blunder Nazir Sebagai Start Up
ACR X Hayyu: RUPS dan Dividen Pertama
Wakaf Korporat: Model Bisnis Sociopreneur
Wakaf Uang
RPD: Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Agar Rp 10 T Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Alumni: Sahabat di Sekolah Sahabat di Surga
Kesalahan Wakaf Saham dan Perbaikannya
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Wakaf Modern: Keabadian Amal dan Pertumbuhan Ekonomi
Penyesalan Pemilik Aset
Investee Wakaf Berkualitas
Beasiswa LPDP: Dana Abadi atau Dana Menguap?
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Artikel ke-340 karya Iman Supriyono ini ditulis sambil WFH di Surabaya pada tanggal 14 Juli 2021

Kuliah ke Luar Negeri Tanpa Ganti Paspor


Science and Technloogy for Industrial Development.  STAID. Itulah beasiswa impian saya saat menempuh bangku SMA. Sudah membayangkan betapa bahagianya melalui musim dingin di Jerman, Perancis, Inggris, Jepang atau USA di sela-sela proses pembelajaran. Sudah bekerja keras untuk persiapannya. Belajar bahasa Inggris secara serius. Menyiapkan segala macam piagam dan sertifikat pendukung. Dan tentu berdoa dengan segala kekhusukan. Tapi takdir berkata lain. Saya gagal dalam seleksi beasiswa besutan pak Habibie itu.

Tapi alhamdulillah mimpi itu terbayar oleh para bocil. Si sulung lulus cemerlang dari sastra Mandarin jianxi Normal Universitu, RRC. Si nomor dua lulusan terbaik ย aktuaria Universiti Sains Malaysia. ย Si nomor tiga juga lulusan terbaik juga dari akuntansi Vietnam National University. Ketiganya adalah lulusan SMA dari negeri jiran. Si nomor empat mendapatkan kesempatan belajar sastra Rusia Kazan Federal university Rusia. ย SI kembar sedang belajar ilmu psikologi di Sivas University Turki dan Desain Komunikasi Visual Kutahya University, Turki. Dua adiknya, masih SMP dan SD, yang kini dalam asuhan ibu sambungnya, insyaallah juga akan mengikuti jalur pendikan kakak-kakaknya.

Bagi saya, menyekolahkan para bocil ke luar negeri pada jenjang S1 bahkan SMA bukan untuk ganti paspor. Tapi untuk meneladani nabi Muhammad SAW yang pada usia remaja sudah belajar di negeri yang jauh dari tanah airnya. Meneladani seorang ayah yang mengirim Ahmad Dahlan remaja belajar di Saudi yang kemudian melahirkan Muhammadiyah. Meneladani seorang ayah  yang mengirim Hasyim Asyari remaja ke Saudi yang kemudian melahirkan NU. Mereka semua melakukan itu sebelum pesawat terbang menjadi alat transportasi antar negara. Sebelum ada WA yang bisa menjadi sarana komunikasi antar negara. Komunikasi masih melalui surat yang dikirim lewat perjalanan darat atau laut yang memakan waktu berbulan-bulan.

Alhamdulillah berbekal pendidikan luar negeri mereka bisa menjalani berkarir dengan baik di negeri ini. Mereka bekerja bukan semata karena ilmunya, tapi juga karena ketangguhan yang terbentuk saat belajar menghadapi berbagai tantangan berat di negeri orang, penguasaan mereka terhadap bahasa dan budaya negeri tempat mereka belajar, serta tentu saja jejaring dengan negeri tempat mereka belajar.

Saya menyekolahkan anak-anak ke luar negeri bukan dengan beasiswa LPDP. Bukan beasiswa pemerintah RI. Tapi murni hasil kerja keras banting tulang jungkir balik saya bersama ibunya anak-anak. Sebagian juga dari beasiswa prestasi dari negara tempat mereka belajar. Tentu semua adalah bentuk dari rezeki dari-Nya. SNF Consulting, consulting firm yang saya dirikan pimpin, adalah sarananya.

Tahun 2011: Melepas si sulung di Bandara Juanda untuk berangkat belajar ke Sekolah Menengah Islam Hidayah, Johor Bahru, Malaysia. Saat itu si sulung umur 17 tahun. Saat ini ibu yang melahirkan 8 anak tersebut telah tiada.

Saya menyekolahkan anak-anak ke luar negeri bukan agar mereka ganti paspor. Tapi agar mereka bisa berkontribusi besar bagi sesama. Tentu juga bagi negeri merah putih ini. Alhamdulillah saat ini yang sudah pada lulus semua tetap berpaspor RI. Bekerja di RI. Membayar pajak untuk RI.

Memang negeri ini banyak sekali masalah. Korupsinya. Tipu tipunya. Suapnya. Manipulasi hukumnya. Mengambil hak orang lain. Mengambil hak publik untuk kepentingan pribadi. Dan segala keberengsekan itu dipertontonkan di depan umum.

Tapi saya dan ibunya anak-anak selalu menekankan agar anak-anak tetap menjadi orang baik walaupun harus sendirian. Tetap jujur walaupun semua orang menipu. Tetap tidak mengambil hak orang lain walaupun semua orang mencuri. Paling tidak itulah kontribusi untuk perbaikan di negeri ini. Tidak terlarut pada keburukan yang sudah berurat berakar sedemikian rupa. Syukur-syukur bisa mengajak orang sekitarnya untuk menjadi orang baik juga. Agar makin banyak orang baik di negeri tercinta ini. Karier dan ekonominya baik. Jaringan internasionalnya baik. Dan tentu saja agamanya baik. Meneladani Rasulullah SAW. Meneladani Kiai Ahmad Dahlan. Meneladani Kiai Hasyim Asyari. Aamin. Tanpa harus ganti paspor.

Tulisan ke 504 Iman Supriyono ini ditulis pada tanggal 22 Februari 2026 dalam perjalanan kereta api Mutiara Timur dari Surabaya untuk agenda meeting klien SNF Consulting di Banyuwangi keesokan harinya.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga:
Berbisnis sejak bangku sekolah: Kardus Kardus Besar
Bangku Kosong: Pendidikan Terbaik
Menang Melawan si Curang

Mengapa Gudang Garam Kalah Oleh Sampoerna?


Akar sejarah PT Gudang Garam Tbk, GG,  bermula pada tahun 1956 ketika Tjoa Ing-Hwie atau Surya Wonowidjojo membeli lahan dengan luas sekitar 1.000 meter persegi milik Muradioso di Jl. Semampir II/l, Kediri. Di atas lahan tersebut, Tjoa Ing-Hwie lalu mulai memproduksi rokok sendiri.

Sementara itu, akar sejarah PT Hanjaya MandalaSampoerna Tbk., HMS, berawal pada tahun 1913 ketika Liem Seeng Tee memproduksi sigaret keretek tangan bermerek Dji Samm Soe di rumahnya di Surabaya, Jawa Timur.

Sampoerna lebih senior. Tapi keduanya dimulai dari sesuatu yang sederhana. Bagaimana kondisinya kini? Mari kita lihat perkembangan dua dasawarsa terakhir.

Tahun 2005 HMS diakuisisi oleh Philips Morris Internasional. ย Ketika itu omzet perusahaan berkantor pusat di Rungkut, Surabaya ini beromzet Rp 25,7 triliun. Labanya Rp 2,4 T. Laba tersebut diperoleh dari aset Rp 11,9 triliun yang berasal dari utang sebesar Rp 7,1 triliun dan ekuitas Rp 4,6 triliun.

Ketika itu omzet GG  Rp 24,8 triliun. Labanya Rp 1,9 triliun. aset Rp 22,1 triliun yang diperoleh dari utang Rp 9 triliun dan ekuitas Rp 13,1 triliun. Tampak bahwa perusahaan ini unggul dalam aset dibanding HM Sampoerna. Struktur modalnya juga lebih kokoh dengan rasio utang dibawah 1 yaitu 0,69 . Sementara rasio utang Sampoerna di atas 1 yaitu 1,54.

Altria mengakuisisi HMS dengan nilai sekitar Rp 18 triliun. Pada tahun itu Altria beromzet USD 97,9 miliar dengan laba USD 10,7miliar. Omzet dan laba tersebut diperoleh dari aset sebesar USD 106 miliar yang berasal dari utang USD 23,9 miliar dan ekuitas USD 35,7 miliar.

Kini, 21 tahun kemudian, bagaimana kondisi mereka? Sebuah pertanyaan menarik terlebih beberapa waktu lalu tersiar kabar bahwa Gudang Garam mengalami kinerja yang kurang menggembirakan. Viral di media sosial. Bagaimana sebenarnya? Mari kita lihat datanya.

Laporan keuangan teraudit 2025 belum keluar. Maka mari kita lihat tahun 2024. Tahun tersebut omzet GG adalah IDR 98,6 triliun. Pertumbuhan rata-rata tahunan (CAGR) sejak 2005 adalah 7,53%. Pertumbuhan tersebut kalah dengan HMS. Omzet 2024 adalah IDR IDR 118 triliun. Jauh meninggalkan GG dengan CAGR 8,35%.

Aset GG 2024 adalah IDR 84,9 triliun yang berasal dari utang IDR 23 triliun dan ekuitas IDR 61,9 triliun. Rasio utang 0,37. Sampoerna tetap lebih berani berutang. Asetnya IDR 54,3 triliun dengan utang IDR 25,9 triliun dan ekuitas IDR 28,4 triliun. Rasio utang yang secara umum disebut aman pada angka  0,91.

Mengapa dalam dua dasawarsa terakhir ini GG kalah dengan HMS?  HMS fokus dalam bisnis rokok. Asetnya sepenuhnya untuk bisnis rokok. Hanya IDR 9,4 triliun alias 17% persen asetnya berupa aset tetap. Selebihnya adalah aset untuk bisnis berupa kas, piutang, persediaan dan sejenisnya sebesar 83%.  Sementara GG tidak fokus. Penyumbang lebih dari 50% PDB kota dan kabupaten Kediri ini mengalokasikan IDR 14,3 triliun alias 17% asetnya untuk konsesi bandara dan jalan tol. Tidak ada hubungannya dengan rokok. Bahkan bandaranya sepi.  Sementara aset tetapnya sebesar IDR 22 triliun alias 26% aset. Jadi yang berupa aset bisnis kas, piutang dan persediaan terkait bisnis rokok hanya 57%.

Adai GG fokus, aset 57% aset tersebut lebih dari cukup untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan rokok di luar negeri. Seperti yang dilakukan oleh Philips Morris di Indonesia. GG akan menjadi perusahaan multinasional di bidang rokok dari Indonesia. Omzetnya lebih besar dari HMS. Menjadi korporasi sejati. Mengibarkan sang merah putih di berbagai negara. Tapi peluang itu tidak diambil oleh GG.

Fokus. Begitulah bisnis yang unggul. Begitu diakuisisi Philips Morris, HMS melepas bisnis properti yang ketika itu bernama Taman Dayu. Mengoreksi langkah sebelumnya yang tidak fokus. Anda pelaku bisnis? Sudah mendapatkan pelajaran dari GG versus HMS?

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Karya ke-503 Iman Supriyono ini ditulis di Bandar Lampung pada tanggal 13 Februari 2026.

Baca juga:
Palugada versus Fokus: Astra versus Hyundai

Saccharum Officinarum ACR: Prof. Juwari


Saccharum officinarum. Tebu. Ini adalah tanaman yang tidak bisa dilepaskan dari tumbuh kembang anak-anak sebaya saya di kawasan pedesaan sekitar kota Caruban, Madiun, kampung halaman saya.

Betapa tidak. Orang-orang kampung mendapatkan pekerjaan dari bekerja menanamnya, membersihkan daun-daun keringnya, menyianginya, menebangnya. Upahnya tentu tidak besar. Tapi itulah yang menjadi sumber pendapatan banyak warga desa untuk kebutuhan hidupnya. Tentu termasuk menyediakan makanan bagi anak-anak seperti saya sekitar akhir tahun 70-an.

Secara ekonomi bapak ibu saya memang sedikit lebih beruntung. Tidak termasuk orang yang harus bekerja sebagai buruh kebun tebu. Ada sawah sendiri untuk sumber pendapatan. Ada beberapa ekor sapi. Juga industri rumah tangga makanan tradisional brem di sela-sela bertani.

Tapi keberadaan Saccharum officinarum tetap mewarnai masa tumbuh kembang saya. Menyaksikan orang bekerja di kebun tebu adalah sebuah kenikmatan. Mengamati pertumbuhannya hari demi hari adalah kebahagiaan. Memetik bunganya dan kemudian membuatnya menjadi mainan mobil-mobilan adalah antusiasme tidak terperikan. Mencari batang tebu sisa panen untuk jadi kudapan adalah agenda tahunan yang selalu ditunggu-tunggu. Menyaksikan proses evakuasi truk pengangkut tebu yang terperosok di kebun adalah pembelajaran ilmu mekanik mewah. Menyaksikan pemasangan rel non permanen kereta lori pengangkut tebu adalah sebuah exitement. Menyaksikan traktor yang menarik rangkaian kereta lori sebelum akhirnya digantikan oleh lokomotif saat kereta sudah masuk rel permanen adalah wisata edukasi yang tidak tergantikan.

Nah, semua adalah tentang tebu. Saccharum officinarum. Sebegitu wauw-nya si tebu ini, sampai-sampai saya memanfaatkan lahan kecil di samping halaman rumah untuk menjadi kebun tebu mini. Saya olah lahan layaknya kebun tebu di olah. Saya tanam dengan cara mencontoh para pekerja kebun tebu menanamnya. Dan yang paling membuat exited adalah saat bibit tebu mulai bertunas. Setiap pagi sebelum kemana-mana saya akan melihat pertumbuhan senti demi senti tunas-tunas tebu itu. Hari ini mulai kelihatan tunas. Besok tunasnya memanjang. Lusa mulai kelihatan kuncup daun….dan seterusnya. Pertumbuhan yang sangat indah.

&&&

Organisasi itu seperti tanaman. Seperti Saccharum officinarum. Hari ini berupa tunas. Besok tunas memanjang. Lalu tumbuh kuncup daun. Dan seterusnya. Kelak akan berbunga. Dan selanjutnya masa panen. Maka, jika hari ini muncul tunas. Tapi besok tunasnya tidak memanjang. Lusa juga tetap saja. Maka, bisa dipastikan si tunas tebu mati.

Maka, sebagai ketua lembaga beasiswa berbasis dana abadi ACR, http://www.acrku.org, saya bersama para pengurus terus menjaga agar ACR juga selalu ada pertumbuhan. Bertambah jumlah perusahaan yang dipegang sahamnya. Bertambah jumlah mitra investasi berbasis non ekuitasnya. Bertambah jumlah penerima beasiswanya. Terus tumbuh.

Maka, hari itu, 28 Desember 2025, adalah hari munculnya tanda pertubuhan itu. Bertempat di Ahpek Kopitiam Park Shanghai, Pakuwon City Surabaya, seorang anggota baru ACR menyerahkan surat permohonan keanggotaan. Dia adalah Prof. Juwari, S.T., M.Eng., Ph.D. Seorang guru besar mantan aktivis mahasiswa yang berasal dari keluarga buruh kebun tebu sepeti di tulisan di atas.

Bergabungnya dekan Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem ITS itu adalah pertumbuhan yang sangat bermakna bagi ACR. Betapa tidak. Mimpi ACR adalah menjadi Fulbright dari timur. Tentu saja kelak akan memberi beasiswa kepada para mahasiswa S2 dan S3 untuk belajar di berbagai perguruan tinggi terbaik dunia. Penerima beasiswanya juga dari berbagai negeri. Nah, untuk urusan ini, tentu saja cak Juwari, demikian saya biasa memanggilnya, adalah ahlinya ahli. Dengan adik-adik penerima beasiswa yang merencanakan untuk lanjut S2 dan S3 dan bercita-cita menjadi guru besar bisa mendapatkan sentuhan langsung dari ahlinya. Terlebih, anak ke 6 dari 10 bersaudara ini pada masa kecilnya juga pernah menjadi pekerja borongan kepras tebu untuk membantu orang tuanya membiaya sekolah dan kuiah

Sebelumnya di dalam keanggotaan ACR sudah ada Prof. Dr. Nurdiono, S.E., M.M., Akt., CA., CPA. Maka, masuknya alumni University Teknologi Malaysia ini adalah guru besar kedua dari 30-an anggota ACR. Para anggota inilah yang  menjadi mentor bagi para penerima anugerah beasiswa ACR dalam belajar dan meniti karier.  Sekaligus secara rutin berdonasi sebagai iuran anggota. Niatnya adalah wakaf untuk dikelola sebagai dana investasi yang hasilnya untuk memberi anugerah beasiswa kepada para pelajar dan mahasiswa cemerlang dalam proses merangkai masa depan cerahnya.

Cak Juwari bukan orang baru bagi saya. Cah Magetan ini sudah bersahabat dengan saya sejak mahasiswa. Kini pun masih bersama menjadi anggota grup WA alumni Jamaah Masjid Manarul Ilmi ITS. Insyaallah akan terus bersahabat. Seperti tag line ACR. Sahabat di sekolah sahabat di surga. Sahabat dalam menjaga ACR terus tumbuh. Maasyaallah laa quwwata illa billah.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ-502 ๐˜๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜บ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฐ di laman ini, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด di Jakarta pada tanggal 5 Februari 2026

Ancaman Bisnis MBG, Solusinya?


Bisnis dapur MBG lagi marak. Anggaran harian pemerintah untuk pembelian makanan dari dapur MBG saat ini hampir menyentuh angka triliun. Sebagai sebuah โ€œmaduโ€ tentu akan banyak kumbang yang mendatanginya. Muncul banyak pelaku bisnis dapur MBG.

Pertanyaan-pertanyaan pun muncul. Baguskah bisnis MBG? Bagaimana prospeknya? Bagaimana masa depannya? Apa risikonya? Mari kita bahas.

Pembahasan tentang bisnis dapur MBG akan kita mulai dari 5 kekuatan yang bisa menghancurkan bisnis. Porter, seorang pakar strategi bisnis, menyebutnya dengan five forces. Pertama adalah dari pebisnis lain dengan bidang yang sama. Bisnis dapur MBG pada dasarnya adalah bisnis katering. Maka, ancaman pertama tentu saja dari pebisnis katering lain yang sudah lebih kokoh di pasar. Mereka punya kekuatan lebih untuk berebut kue.

Kedua adalah pendatang baru. Biasanya pendatang baru masuk pasar dengan banting harga. Secara keuangan yang semakna dengan banting harga adalah memberi fasilitas lebih kepada konsumen untuk harga yang sama, membayar pegawai atau manajer dengan harga lebih tinggi bahkan membajak pegawai ahli dari pesaing, membayar barang pasokan dengan harga lebih tinggi, dan sejenisnya.

Ketiga adalah kekuatan pemasok. Pelaku bisnis seperti MBG yang harga jual sudah ditentukan akan sangat terpengaruh  oleh harga barang pasokan. Pemasok yang kuat bisa memainkan harga. Contohnya adalah harga ayam sebagai kebutuhan pokok dapur MBG. Perusahaan penyedia daging ayam raksasa punya posisi jauh lebih kuat dari pada para pemain bisnis MBG.

Keempat adalah kekuatan pembeli. Pemain bisnis MBG menghadapi pembeli tunggal yaitu pemerintah. Bisnis apapun jika pembelinya hanya satu maka risikonya akan sangat tinggi. Pelaku bisnis hanya bisa mengikuti apapun kemauan pembeli. Jika pembeli menghentikan order maka bisnis akan gulung tikar.

Kelima adalah ancaman produk pengganti. Sudah ada yang menyuarakan bahwa MBG bagi anak sekolah lebih baik dikembalikan ke kantin masing-masing sekolah. Maka, kantin sekolah adalah contoh ancaman produk pengganti. Jika ide ini diadopsi oleh pemerintah, maka dapur MBG akan kehilangan pasar.

&&&

Pembaca yang baik, dari lima kekuatan yang mengancam pebisnis dapur MBG, yang paling harus diperhatikan adalah ancaman keempat. Ancaman kekuatan pembeli. Jika Anda sudah masuk atau akan masuk bisnis ini, maka perhatikan poin ini dengan seksama.

Yang harus ditata ulang adalah bagaimana memosisikan bisnis. Para pelaku bisnis dapur MBG mesti paham bahwa pada dasarnya mereka berada pad industri katering. Maka, mitigasi risiko kekuatan pemasok mesti berawal dari sini.

Bergabung? Hubungi SNF Consulting

Untuk menjadi kokoh berkelanjutan,  semua perusahaan akan menjalani proses pembelajaran untuk menemukan apa yang bisa disebut sebagai faktor kali. Sebagai contoh, faktor kali bisnis ritel modern adalah gerai, bisnis resto adalah gerai, bisnis rumah sakit adalah unit rumah sakit, bisnis barang konsumsi adalah produk-produk bermerek, bisnis pertanian adalah luas lahan, dan sebagainya. Faktor kali ini secara manajerial bisa disebut sebagai revenue and profit driver.

Nah, apa faktor kali bisnis katering? Tidak lain adalah jangkauan wilayah. Misalnya, sebuah dapur di suatu lokasi hanya akan efisien menjangkau wilayah dengan radius tertentu dari dapur tersebut. Maka, pebisnis katering mesti terus mengembangkan jumlah dapurnya. Tujuannya adalah memperluas wilayah yang bisa dilayani.

Maka, jika Anda pelaku bisnis MBG dan saat ini baru punya satu dapur, kumpulkan uang laba dari dapur pertama. Jangan dipakai untuk kepentingan lain. Segera bangun dapur kedua. Dan untuk dapur kedua ini jangan ambil pasar pemerintah lagi. Carilah pasar yang lain seperti katering untuk karyawan pabrik misalnya.

Laba dari dapur pertama dan kedua juga jangan diambil. Tetap kumpulkan untuk segera membangun dapur ketiga dengan mencari pasar baru  lagi. Begitu seterusnya sampai Anda menemukan pola dan standar bisnis yang tinggal di copy and paste. Pada saat itu, segera cari modal eksternal khususnya dari penerbitan saham baru. Uangnya dipakai untuk menambah dapur baru dengan konsumen baru dengan kecepatan yang lebih tinggi. Inilah yang disebut scale up.

Mendatangkan investor dengan menerbitkan saham juga jangan hanya sekali. Tapi secara terus menerus. Awalnya dengan mencari investor dari kalangan teman-teman dekat. Lalu diperluas. Sampai suatu saat ketika kebutuhan dana sudah sangat besar bisa melalukan penerbitan saham melalui IPO di lantai bursa. Lalu setelah itu tetap menerbitkan saham melalui lantai bursa lagi yang disebut sebagai rights issue. Begitu seterusnya sampai menjadi korporasi sejati.

Pembaca yang baik, contoh pelaku bisnis katering yang sudah sampai tahap seperti itu adalah Sodexo. Dalam laporan keuangan terbaru perusahaan asal Perancis ini mencatatkan omzet Rp 475 triliun. Omzet perusahaan tersebut  diperoleh dari 27 ribu lokasi klien di 43 negara, termasuk di Indonesia. Kini, perusahaan yang mulai berbisnis dengan melayani katering untuk French Research Institute for Atomic Energy pada tahun 1966 tersebut berada pada peringkat 1154 dari daftar 2000 perusahan terbesar dunia. Anda pebisnis dapur MBG? Contohlah langkah Sodexo.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ-501 ๐˜๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜บ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฐ di laman ini, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Februari 2021

Investasi Kambing Kurban ACR: Keseimbangan Utang -Ekuitas


Bandar Lampung, 14 Januari 2026. Diskusi di kompleks kandang kambing dan sapi PT Agri Prima Integra malam itu menarik sekali. Bahwa kita sebagai bangsa agraris besar kalah telak di bidang peternakan kambing maupun sapi dengan Australia. Indonesia adalah pengimpor sapi dan kambing dari negeri kanguru itu.

Kawan diskusi saya tidak lain adalah sang direktur dan pendiri perusahaan penyedia sapi dan kambing kurban maupun akikah itu. itulah mengapa diskusinya tidak sekedar urusan data dan logika. Tapi langsung dengan orang yang telah bertahun-tahun menekuni bisnis peternakan kambing dan sapi.

Saya cerita tentang Australian Agricultutal Company. Sebuah perusahaan peternakan yang telah berusia 200 tahun. Pada laporan tahunan 2025, perusahaan yang juga dikenal sebagai AACo itu mencatatkan omzet sebesar AUD 643 juta alias IDR 7,3 triliun. Omzet tersebut dihasilkan dari hasil ternak di lahan seluas 6,5 juta hektar dengan sekitar 465 ribu ekor sapi. Tiap tahun memanen sekitar 52 ribu ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan pasar. Itulah yang menjadikan perusahaan ini bernilai pasar AUD 838 juta alias IDR 9,5 triliun.

&&&

Kokohnya Australia di industri peternakan tidak bisa dipisahkan dari peran investor.  Berikut ini adalah 10 pemegang saham terbesar AACo: Terbesar adalah Bryan A Glinton dengan , Tattarang, Neil Bruce Family, Barry Lambert, Donald Mc Gauchie, Warbug Invest, Rathvale, Joy Wilma Lillian Lambert, dan Lenard James Norris, dan terkecil adalah  Wykala dengan 0,1161%. Mereka adalah perusahaan-perusahaan investasi atau investor perorangan. Karena perusahaan ini berdiri dengan keputusan pemerintah kolonial Inggris maka bisa dipastikan mereka semua adalah murni investor. Bukan entrepreneur pendiri perusahaan.

Penulis bersama Direktur PT Agri Prima Integra menandatangani perjanjian investasi

Bagaimana dengan industri peternakan tanah air? Malam itu saya datang sebagai ketua ACR, http://www.acrku.org, sebuah badan hukum perkumpulan pemberi beasiswa. Dana beasiswanya berasal dari hasil investasi aset dana abadi organisasi. Malam itu, ACR sedang mengikat kerja sama investasi penyediaan modal untuk kambing kurban bagi PT Agri Prima Integra. Saya datang untuk menandatangani perjanjian sebagai ketua ACR.

Skema investasi adalah bagi hasil. ACR menyediakan dana untuk membeli kambing yang dipersiapkan untuk kurban. Prima Integra melakukan pembelian, mengelola dan menjual kambing-kambing tersebut. Pada saat akhir perjanjian, Agri Prima akan mengembalikan dana investasi tersebut beserta bagi hasilnya.

Transaksi yang dalam perjanjian disebut sebagai syirkah tersebut mau tidak mau akan dicatat oleh Agri Prima sebagai utang. Para akuntan sering membahasakannya sebagai โ€œkas pada utangโ€. Nanti saat pengembalian akan dibalik. Utang pada kas dan bagi hasil. Artinya, skema investasi ACR malam itu adalah berupa utang piutang.

Sebagai pengelola dana abadi modern, ACR memang mengelola asetnya dengan proporsi fifty fifty. Separuh aset diinvestasikan melalui skema ekuitas melalui private placement. separuh sisanya melalui skema utang piutang. Kedua skema tetap dilakukan dengan prinsip โ€œtidak menaruh telur pada satu keranjangโ€. Maka, Agri Prima adalah salah satu dari investee ACR yang berskema utang piutang.

Mengapa harus fifty fifty? Agar keduanya saling melengkapi. Utang piutang bagus untuk cash flow saat ini tapi termakan inflasi. Saham tidak bagus untuk cas flow saat ini. Tapi dividen maupun nilainya tumbuh. Pertumbuhan ini akan menanggulangi dampak inflasi dari skema utang piutang. Pengelola dana abadi terbesar dunia juga menggunakan skema seperti ini. Harvard University misalnya menggunakan porsi 50-50 ini. MIT menggunakan 70% ekuitas dan 30% utang piutang.

Pembaca yang baik, tahun ini adalah kali ketiga ACR berinvestasi pada PT Agri Prima. Tentu harapannya akan terus berlanjut seiring pertumbuhan perusahaan peternakan itu. Harapannya kelak Agri Prima akan melakukan proses korporatisasi untuk scale up seperti AACo. Dengan demikian ACR bisa berinvestasi dengan skema saham. Saat ini ACR memiliki 4 investee dengan skema saham. Terakhir adalah Apotek Tito Kita yang juga berada di provinsi Lampung. Rencananya ke depan akan terus ditumbuhkan. Seiring tumbuhnya anggota sebagai donatur. Tentu juga akan berdampak pada jumlah penerima beasiswa yang kini 14. Bismillah.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ-500 ๐˜๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜บ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฐ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜š๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ 19 ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช 2026

Indeks Wakafisasi NTU Dibanding ITB & MIT


Sejarah Nanyang Technological University, NTU, bermula dengan berdirinya Nanyang University pada tahun 1955. Nanyang University adalah universitas Tionghoa pertama yang berdiri di luar China. Tan Lark Sye pertama kali mengemukakan ide pendirian universitas Tionghoa pada tanggal 16 Januari 1953. Pada tanggal 23 Maret 1953, Huay Kuan menyumbangkan 523 hektar tanah untuk universitas tersebut.  Tan sendiri menyumbangkan SGD 5 juta. Seruannya untuk mendirikan universitas Tionghoa mendapat dukungan antusias dari berbagai komunitas di seluruh Asia Tenggara.

Pada tahun 1955 dibuka kelas pra-universitas untuk mempersiapkan siswa memasuki universitas baru tersebut. Angkatan pertama yang terdiri dari 584 siswa diterima pada tanggal 15 Maret 1956. Terdapat tiga fakultas: seni, sains, dan perdagangan. Kegiatan penelitian dimulai sejak tahun 1957. Lulusan pertama yang terdiri dari 437 orang dihasilkan pada tahun 1959. Tujuh tahun kemudian, pada tahun 1963, jumlah mahasiswa mencapai 2.324.

Pada tahun 1980, Nanyang University digabung dengan University of Singapore (NUS) sesuai undang-undang. Pada tahun 1981, Nanyang Technological Institute didirikan di lokasi bekas Nanyang University.

Dalam kurun waktu empat tahun beroperasi, Nanyang Technological Institute (NTI) terpilih sebagai salah satu institusi teknik terbaik di dunia oleh Commonwealth Engineering Council. Lembaga  tersebut memberi penilaian ini setelah melakukan studi ekstensif selama empat tahun terhadap program studi yang ditawarkan oleh institusi teknik di seluruh dunia.

Pada tahun 1982, NTI menerima 582 mahasiswa sarjana pertamanya dalam tiga disiplin ilmu teknik โ€“ teknik sipil dan struktur, teknik elektro dan elektronik, serta teknik mesin dan produksi. Mahasiswa pascasarjana pertama diterima pada tahun 1986. Pada tahun akademik 1990/1991, jumlah mahasiswa sarjana di institut tersebut telah meningkat menjadi 6.832 dan jumlah mahasiswa pascasarjana meningkat menjadi 169.

NTI digabung dengan National InstItute of Education menjadi NTU pada tahun 1991. Daftar alumni bekas Nanyang University dipindahkan ke NTU pada tahun 1996. NTU menjadi lembaga otonom pada tahun 2006.

&&&

Laporan keuangan NTU tahun 2024 (teraudit KPMG) mengungkap bahwa total asetnya adalah SGD 8,6 miliar alias IDR 112 triliun. Dari aset tersebut yang berupa tanah dan bangunan adalah SGD 1,56 miliar (IDR 20 triliun). Hanya 18% dari total aset. Komponen aset terbesarnya adalah berupa aset investasi yaitu sebesar SDG 4,87 miliar (IDR 63 triliun) alias 57% dari total aset. Selebihnya kas operasional dan aset lancar lain. Proporsi aset ini menunjukkan keseriusan NTU untuk melepaskan diri dari ketergantungan kampus pada pendapatan dari uang kuliah dari mahasiswa. Sebagai pembanding, aset investasi MIT (teraudit PWC) adalah sebesar 79%. Aset investasi ITB (termasuk properti investasi, teraudit RSM) adalah 17%.

Laporan laba rugi NTU menyatakan bahwa total pendapatan kampus adalah SGD 1.52 miliar (IDR 19,8 triliun). Pendapatan dari pembayaran mahasiswa hanya berkontribusi SGD 446 juga alias IDR 5,8 triliun. Dengan demikian indeks ketergantungan NTU terhadap pendapatan dari mahasiswa adalah 29%. Masih jauh dari MIT, kampus teknologi nomor satu dunia, yang sebesar 8%. Lebih bagus dari ITB yang 33%.

Pendapatan dari investasi adalah sebesar SGD 490 juta (IDR 6,2 triliun). Dengan demikian kontribusi hasil investasi terhadap pendapatan kampus adalah 32%. Angka yang disebut sebagai indeks wakafisasi ini melebihi prestasi MIT yang 29%. Angka ini jauh lebih baik dari ย ITB yang 0,6 %.

Bagi sebuah perguruan tinggi teknik, kemampuan risetnya dibutuhkan oleh pihak lain. Pihak-pihak yang membutuhkan akan menggunakan jasa riset tersebut dan kemudian membayarnya. Pendapatan NTU dari riset adalah SGD 238 juta yaitu 16% dari total pendapatan. Angka ini lebih rendah dari MIT yang 26%. Juga jauh lebih rendah dari ITB yang 41%.

&&&

Pembaca yang baik, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan secara umum adalah institusi sosial. Bukan bisnis. Maka para pengelolanya mesti terus bekerja keras untuk menurunkan ketergantungan kampus pada pendapatan dari mahasiswa (tuition fee). Menurunkan indeks ketergantungan.

Caranya adalah dengan terus menggalang masuknya donasi dana abadi alias dana wakaf  dari masyarakat. Tahun 2024 posisi dana abadi NTU naik sebesar SGD 273 juta alias IDR 3,5 triliun. Pada tahun yang sama, ITB menggalang donasi dana abadi sebesar Rp 14 miliar dan donasi bersyarat Rp 70 miliar alias total 84 miliar.

Dana abadi itu kemudian dikelola sebagai investasi. Cara pengelolaannya persis perusahaan-perusahaan investasi Blackrock, State Street, Saratoga, dan sebagainya. Menjadi Investing, bukan operating company. Lembaga pendidikan itu berinvestasi, bukan berbisnis. Berinvestasi tidak melunturkan jati diri sosial. Sebaliknya, berbisnis akan memunculkan persaingan dengan perusahaan lain dan menggerus jati diri sosial lembaga pendidikan.

NTU sebagai perguruan tinggi yang relatif muda sangat progresif dalam menumbuhkan indeks wakafisasi. Kampus berusia 71 tahun ini berada pada ranking 74 dari 100 besar endowment fund dunia menurut SWF institute. Mengejar MIT, kampus berusia 161 tahun, yang berada di peringkat 9. Jauh meninggalkan ITB, kampus berusia 106 tahun yang tidak masuk daftar tersebut. Anda pengelola kampus? Anda pengelola lembaga pendidikan? Saatnya membangun endowment fund atau dana wakaf.

Karya ke-499 Iman Supriyono ditulis di Surabaya pada tanggal 4 Januari 2026

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi