Saccharum Officinarum ACR: Prof. Juwari


Saccharum officinarum. Tebu. Ini adalah tanaman yang tidak bisa dilepaskan dari tumbuh kembang anak-anak sebaya saya di kawasan pedesaan sekitar kota Caruban, Madiun, kampung halaman saya.

Betapa tidak. Orang-orang kampung mendapatkan pekerjaan dari bekerja menanamnya, membersihkan daun-daun keringnya, menyianginya, menebangnya. Upahnya tentu tidak besar. Tapi itulah yang menjadi sumber pendapatan banyak warga desa untuk kebutuhan hidupnya. Tentu termasuk menyediakan makanan bagi anak-anak seperti saya sekitar akhir tahun 70-an.

Secara ekonomi bapak ibu saya memang sedikit lebih beruntung. Tidak termasuk orang yang harus bekerja sebagai buruh kebun tebu. Ada sawah sendiri untuk sumber pendapatan. Ada beberapa ekor sapi. Juga industri rumah tangga makanan tradisional brem di sela-sela bertani.

Tapi keberadaan Saccharum officinarum tetap mewarnai masa tumbuh kembang saya. Menyaksikan orang bekerja di kebun tebu adalah sebuah kenikmatan. Mengamati pertumbuhannya hari demi hari adalah kebahagiaan. Memetik bunganya dan kemudian membuatnya menjadi mainan mobil-mobilan adalah antusiasme tidak terperikan. Mencari batang tebu sisa panen untuk jadi kudapan adalah agenda tahunan yang selalu ditunggu-tunggu. Menyaksikan proses evakuasi truk pengangkut tebu yang terperosok di kebun adalah pembelajaran ilmu mekanik mewah. Menyaksikan pemasangan rel non permanen kereta lori pengangkut tebu adalah sebuah exitement. Menyaksikan traktor yang menarik rangkaian kereta lori sebelum akhirnya digantikan oleh lokomotif saat kereta sudah masuk rel permanen adalah wisata edukasi yang tidak tergantikan.

Nah, semua adalah tentang tebu. Saccharum officinarum. Sebegitu wauw-nya si tebu ini, sampai-sampai saya memanfaatkan lahan kecil di samping halaman rumah untuk menjadi kebun tebu mini. Saya olah lahan layaknya kebun tebu di olah. Saya tanam dengan cara mencontoh para pekerja kebun tebu menanamnya. Dan yang paling membuat exited adalah saat bibit tebu mulai bertunas. Setiap pagi sebelum kemana-mana saya akan melihat pertumbuhan senti demi senti tunas-tunas tebu itu. Hari ini mulai kelihatan tunas. Besok tunasnya memanjang. Lusa mulai kelihatan kuncup daun….dan seterusnya. Pertumbuhan yang sangat indah.

&&&

Organisasi itu seperti tanaman. Seperti Saccharum officinarum. Hari ini berupa tunas. Besok tunas memanjang. Lalu tumbuh kuncup daun. Dan seterusnya. Kelak akan berbunga. Dan selanjutnya masa panen. Maka, jika hari ini muncul tunas. Tapi besok tunasnya tidak memanjang. Lusa juga tetap saja. Maka, bisa dipastikan si tunas tebu mati.

Maka, sebagai ketua lembaga beasiswa berbasis dana abadi ACR, http://www.acrku.org, saya bersama para pengurus terus menjaga agar ACR juga selalu ada pertumbuhan. Bertambah jumlah perusahaan yang dipegang sahamnya. Bertambah jumlah mitra investasi berbasis non ekuitasnya. Bertambah jumlah penerima beasiswanya. Terus tumbuh.

Maka, hari itu, 28 Desember 2025, adalah hari munculnya tanda pertubuhan itu. Bertempat di Ahpek Kopitiam Park Shanghai, Pakuwon City Surabaya, seorang anggota baru ACR menyerahkan surat permohonan keanggotaan. Dia adalah Prof. Juwari, S.T., M.Eng., Ph.D. Seorang guru besar mantan aktivis mahasiswa yang berasal dari keluarga buruh kebun tebu sepeti di tulisan di atas.

Bergabungnya dekan Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem ITS itu adalah pertumbuhan yang sangat bermakna bagi ACR. Betapa tidak. Mimpi ACR adalah menjadi Fulbright dari timur. Tentu saja kelak akan memberi beasiswa kepada para mahasiswa S2 dan S3 untuk belajar di berbagai perguruan tinggi terbaik dunia. Penerima beasiswanya juga dari berbagai negeri. Nah, untuk urusan ini, tentu saja cak Juwari, demikian saya biasa memanggilnya, adalah ahlinya ahli. Dengan adik-adik penerima beasiswa yang merencanakan untuk lanjut S2 dan S3 dan bercita-cita menjadi guru besar bisa mendapatkan sentuhan langsung dari ahlinya. Terlebih, anak ke 6 dari 10 bersaudara ini pada masa kecilnya juga pernah menjadi pekerja borongan kepras tebu untuk membantu orang tuanya membiaya sekolah dan kuiah

Sebelumnya di dalam keanggotaan ACR sudah ada Prof. Dr. Nurdiono, S.E., M.M., Akt., CA., CPA. Maka, masuknya alumni University Teknologi Malaysia ini adalah guru besar kedua dari 30-an anggota ACR. Para anggota inilah yang  menjadi mentor bagi para penerima anugerah beasiswa ACR dalam belajar dan meniti karier.  Sekaligus secara rutin berdonasi sebagai iuran anggota. Niatnya adalah wakaf untuk dikelola sebagai dana investasi yang hasilnya untuk memberi anugerah beasiswa kepada para pelajar dan mahasiswa cemerlang dalam proses merangkai masa depan cerahnya.

Cak Juwari bukan orang baru bagi saya. Cah Magetan ini sudah bersahabat dengan saya sejak mahasiswa. Kini pun masih bersama menjadi anggota grup WA alumni Jamaah Masjid Manarul Ilmi ITS. Insyaallah akan terus bersahabat. Seperti tag line ACR. Sahabat di sekolah sahabat di surga. Sahabat dalam menjaga ACR terus tumbuh. Maasyaallah laa quwwata illa billah.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

𝘒𝘢𝘳𝘺𝘢 𝘬𝘦-502 𝘐𝘮𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘱𝘳𝘪𝘺𝘰𝘯𝘰 di laman ini, 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 di Jakarta pada tanggal 5 Februari 2026

Ancaman Bisnis MBG, Solusinya?


Bisnis dapur MBG lagi marak. Anggaran harian pemerintah untuk pembelian makanan dari dapur MBG saat ini hampir menyentuh angka triliun. Sebagai sebuah “madu” tentu akan banyak kumbang yang mendatanginya. Muncul banyak pelaku bisnis dapur MBG.

Pertanyaan-pertanyaan pun muncul. Baguskah bisnis MBG? Bagaimana prospeknya? Bagaimana masa depannya? Apa risikonya? Mari kita bahas.

Pembahasan tentang bisnis dapur MBG akan kita mulai dari 5 kekuatan yang bisa menghancurkan bisnis. Porter, seorang pakar strategi bisnis, menyebutnya dengan five forces. Pertama adalah dari pebisnis lain dengan bidang yang sama. Bisnis dapur MBG pada dasarnya adalah bisnis katering. Maka, ancaman pertama tentu saja dari pebisnis katering lain yang sudah lebih kokoh di pasar. Mereka punya kekuatan lebih untuk berebut kue.

Kedua adalah pendatang baru. Biasanya pendatang baru masuk pasar dengan banting harga. Secara keuangan yang semakna dengan banting harga adalah memberi fasilitas lebih kepada konsumen untuk harga yang sama, membayar pegawai atau manajer dengan harga lebih tinggi bahkan membajak pegawai ahli dari pesaing, membayar barang pasokan dengan harga lebih tinggi, dan sejenisnya.

Ketiga adalah kekuatan pemasok. Pelaku bisnis seperti MBG yang harga jual sudah ditentukan akan sangat terpengaruh  oleh harga barang pasokan. Pemasok yang kuat bisa memainkan harga. Contohnya adalah harga ayam sebagai kebutuhan pokok dapur MBG. Perusahaan penyedia daging ayam raksasa punya posisi jauh lebih kuat dari pada para pemain bisnis MBG.

Keempat adalah kekuatan pembeli. Pemain bisnis MBG menghadapi pembeli tunggal yaitu pemerintah. Bisnis apapun jika pembelinya hanya satu maka risikonya akan sangat tinggi. Pelaku bisnis hanya bisa mengikuti apapun kemauan pembeli. Jika pembeli menghentikan order maka bisnis akan gulung tikar.

Kelima adalah ancaman produk pengganti. Sudah ada yang menyuarakan bahwa MBG bagi anak sekolah lebih baik dikembalikan ke kantin masing-masing sekolah. Maka, kantin sekolah adalah contoh ancaman produk pengganti. Jika ide ini diadopsi oleh pemerintah, maka dapur MBG akan kehilangan pasar.

&&&

Pembaca yang baik, dari lima kekuatan yang mengancam pebisnis dapur MBG, yang paling harus diperhatikan adalah ancaman keempat. Ancaman kekuatan pembeli. Jika Anda sudah masuk atau akan masuk bisnis ini, maka perhatikan poin ini dengan seksama.

Yang harus ditata ulang adalah bagaimana memosisikan bisnis. Para pelaku bisnis dapur MBG mesti paham bahwa pada dasarnya mereka berada pad industri katering. Maka, mitigasi risiko kekuatan pemasok mesti berawal dari sini.

Bergabung? Hubungi SNF Consulting

Untuk menjadi kokoh berkelanjutan,  semua perusahaan akan menjalani proses pembelajaran untuk menemukan apa yang bisa disebut sebagai faktor kali. Sebagai contoh, faktor kali bisnis ritel modern adalah gerai, bisnis resto adalah gerai, bisnis rumah sakit adalah unit rumah sakit, bisnis barang konsumsi adalah produk-produk bermerek, bisnis pertanian adalah luas lahan, dan sebagainya. Faktor kali ini secara manajerial bisa disebut sebagai revenue and profit driver.

Nah, apa faktor kali bisnis katering? Tidak lain adalah jangkauan wilayah. Misalnya, sebuah dapur di suatu lokasi hanya akan efisien menjangkau wilayah dengan radius tertentu dari dapur tersebut. Maka, pebisnis katering mesti terus mengembangkan jumlah dapurnya. Tujuannya adalah memperluas wilayah yang bisa dilayani.

Maka, jika Anda pelaku bisnis MBG dan saat ini baru punya satu dapur, kumpulkan uang laba dari dapur pertama. Jangan dipakai untuk kepentingan lain. Segera bangun dapur kedua. Dan untuk dapur kedua ini jangan ambil pasar pemerintah lagi. Carilah pasar yang lain seperti katering untuk karyawan pabrik misalnya.

Laba dari dapur pertama dan kedua juga jangan diambil. Tetap kumpulkan untuk segera membangun dapur ketiga dengan mencari pasar baru  lagi. Begitu seterusnya sampai Anda menemukan pola dan standar bisnis yang tinggal di copy and paste. Pada saat itu, segera cari modal eksternal khususnya dari penerbitan saham baru. Uangnya dipakai untuk menambah dapur baru dengan konsumen baru dengan kecepatan yang lebih tinggi. Inilah yang disebut scale up.

Mendatangkan investor dengan menerbitkan saham juga jangan hanya sekali. Tapi secara terus menerus. Awalnya dengan mencari investor dari kalangan teman-teman dekat. Lalu diperluas. Sampai suatu saat ketika kebutuhan dana sudah sangat besar bisa melalukan penerbitan saham melalui IPO di lantai bursa. Lalu setelah itu tetap menerbitkan saham melalui lantai bursa lagi yang disebut sebagai rights issue. Begitu seterusnya sampai menjadi korporasi sejati.

Pembaca yang baik, contoh pelaku bisnis katering yang sudah sampai tahap seperti itu adalah Sodexo. Dalam laporan keuangan terbaru perusahaan asal Perancis ini mencatatkan omzet Rp 475 triliun. Omzet perusahaan tersebut  diperoleh dari 27 ribu lokasi klien di 43 negara, termasuk di Indonesia. Kini, perusahaan yang mulai berbisnis dengan melayani katering untuk French Research Institute for Atomic Energy pada tahun 1966 tersebut berada pada peringkat 1154 dari daftar 2000 perusahan terbesar dunia. Anda pebisnis dapur MBG? Contohlah langkah Sodexo.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

𝘒𝘢𝘳𝘺𝘢 𝘬𝘦-501 𝘐𝘮𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘱𝘳𝘪𝘺𝘰𝘯𝘰 di laman ini, 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Februari 2021

Investasi Kambing Kurban ACR: Keseimbangan Utang -Ekuitas


Bandar Lampung, 14 Januari 2026. Diskusi di kompleks kandang kambing dan sapi PT Agri Prima Integra malam itu menarik sekali. Bahwa kita sebagai bangsa agraris besar kalah telak di bidang peternakan kambing maupun sapi dengan Australia. Indonesia adalah pengimpor sapi dan kambing dari negeri kanguru itu.

Kawan diskusi saya tidak lain adalah sang direktur dan pendiri perusahaan penyedia sapi dan kambing kurban maupun akikah itu. itulah mengapa diskusinya tidak sekedar urusan data dan logika. Tapi langsung dengan orang yang telah bertahun-tahun menekuni bisnis peternakan kambing dan sapi.

Saya cerita tentang Australian Agricultutal Company. Sebuah perusahaan peternakan yang telah berusia 200 tahun. Pada laporan tahunan 2025, perusahaan yang juga dikenal sebagai AACo itu mencatatkan omzet sebesar AUD 643 juta alias IDR 7,3 triliun. Omzet tersebut dihasilkan dari hasil ternak di lahan seluas 6,5 juta hektar dengan sekitar 465 ribu ekor sapi. Tiap tahun memanen sekitar 52 ribu ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan pasar. Itulah yang menjadikan perusahaan ini bernilai pasar AUD 838 juta alias IDR 9,5 triliun.

&&&

Kokohnya Australia di industri peternakan tidak bisa dipisahkan dari peran investor.  Berikut ini adalah 10 pemegang saham terbesar AACo: Terbesar adalah Bryan A Glinton dengan , Tattarang, Neil Bruce Family, Barry Lambert, Donald Mc Gauchie, Warbug Invest, Rathvale, Joy Wilma Lillian Lambert, dan Lenard James Norris, dan terkecil adalah  Wykala dengan 0,1161%. Mereka adalah perusahaan-perusahaan investasi atau investor perorangan. Karena perusahaan ini berdiri dengan keputusan pemerintah kolonial Inggris maka bisa dipastikan mereka semua adalah murni investor. Bukan entrepreneur pendiri perusahaan.

Penulis bersama Direktur PT Agri Prima Integra menandatangani perjanjian investasi

Bagaimana dengan industri peternakan tanah air? Malam itu saya datang sebagai ketua ACR, http://www.acrku.org, sebuah badan hukum perkumpulan pemberi beasiswa. Dana beasiswanya berasal dari hasil investasi aset dana abadi organisasi. Malam itu, ACR sedang mengikat kerja sama investasi penyediaan modal untuk kambing kurban bagi PT Agri Prima Integra. Saya datang untuk menandatangani perjanjian sebagai ketua ACR.

Skema investasi adalah bagi hasil. ACR menyediakan dana untuk membeli kambing yang dipersiapkan untuk kurban. Prima Integra melakukan pembelian, mengelola dan menjual kambing-kambing tersebut. Pada saat akhir perjanjian, Agri Prima akan mengembalikan dana investasi tersebut beserta bagi hasilnya.

Transaksi yang dalam perjanjian disebut sebagai syirkah tersebut mau tidak mau akan dicatat oleh Agri Prima sebagai utang. Para akuntan sering membahasakannya sebagai “kas pada utang”. Nanti saat pengembalian akan dibalik. Utang pada kas dan bagi hasil. Artinya, skema investasi ACR malam itu adalah berupa utang piutang.

Sebagai pengelola dana abadi modern, ACR memang mengelola asetnya dengan proporsi fifty fifty. Separuh aset diinvestasikan melalui skema ekuitas melalui private placement. separuh sisanya melalui skema utang piutang. Kedua skema tetap dilakukan dengan prinsip “tidak menaruh telur pada satu keranjang”. Maka, Agri Prima adalah salah satu dari investee ACR yang berskema utang piutang.

Mengapa harus fifty fifty? Agar keduanya saling melengkapi. Utang piutang bagus untuk cash flow saat ini tapi termakan inflasi. Saham tidak bagus untuk cas flow saat ini. Tapi dividen maupun nilainya tumbuh. Pertumbuhan ini akan menanggulangi dampak inflasi dari skema utang piutang. Pengelola dana abadi terbesar dunia juga menggunakan skema seperti ini. Harvard University misalnya menggunakan porsi 50-50 ini. MIT menggunakan 70% ekuitas dan 30% utang piutang.

Pembaca yang baik, tahun ini adalah kali ketiga ACR berinvestasi pada PT Agri Prima. Tentu harapannya akan terus berlanjut seiring pertumbuhan perusahaan peternakan itu. Harapannya kelak Agri Prima akan melakukan proses korporatisasi untuk scale up seperti AACo. Dengan demikian ACR bisa berinvestasi dengan skema saham. Saat ini ACR memiliki 4 investee dengan skema saham. Terakhir adalah Apotek Tito Kita yang juga berada di provinsi Lampung. Rencananya ke depan akan terus ditumbuhkan. Seiring tumbuhnya anggota sebagai donatur. Tentu juga akan berdampak pada jumlah penerima beasiswa yang kini 14. Bismillah.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

𝘒𝘢𝘳𝘺𝘢 𝘬𝘦-500 𝘐𝘮𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘱𝘳𝘪𝘺𝘰𝘯𝘰 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘥𝘪 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘣𝘢𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 19 𝘑𝘢𝘯𝘶𝘢𝘳𝘪 2026

Indeks Wakafisasi NTU Dibanding ITB & MIT


Sejarah Nanyang Technological University, NTU, bermula dengan berdirinya Nanyang University pada tahun 1955. Nanyang University adalah universitas Tionghoa pertama yang berdiri di luar China. Tan Lark Sye pertama kali mengemukakan ide pendirian universitas Tionghoa pada tanggal 16 Januari 1953. Pada tanggal 23 Maret 1953, Huay Kuan menyumbangkan 523 hektar tanah untuk universitas tersebut.  Tan sendiri menyumbangkan SGD 5 juta. Seruannya untuk mendirikan universitas Tionghoa mendapat dukungan antusias dari berbagai komunitas di seluruh Asia Tenggara.

Pada tahun 1955 dibuka kelas pra-universitas untuk mempersiapkan siswa memasuki universitas baru tersebut. Angkatan pertama yang terdiri dari 584 siswa diterima pada tanggal 15 Maret 1956. Terdapat tiga fakultas: seni, sains, dan perdagangan. Kegiatan penelitian dimulai sejak tahun 1957. Lulusan pertama yang terdiri dari 437 orang dihasilkan pada tahun 1959. Tujuh tahun kemudian, pada tahun 1963, jumlah mahasiswa mencapai 2.324.

Pada tahun 1980, Nanyang University digabung dengan University of Singapore (NUS) sesuai undang-undang. Pada tahun 1981, Nanyang Technological Institute didirikan di lokasi bekas Nanyang University.

Dalam kurun waktu empat tahun beroperasi, Nanyang Technological Institute (NTI) terpilih sebagai salah satu institusi teknik terbaik di dunia oleh Commonwealth Engineering Council. Lembaga  tersebut memberi penilaian ini setelah melakukan studi ekstensif selama empat tahun terhadap program studi yang ditawarkan oleh institusi teknik di seluruh dunia.

Pada tahun 1982, NTI menerima 582 mahasiswa sarjana pertamanya dalam tiga disiplin ilmu teknik – teknik sipil dan struktur, teknik elektro dan elektronik, serta teknik mesin dan produksi. Mahasiswa pascasarjana pertama diterima pada tahun 1986. Pada tahun akademik 1990/1991, jumlah mahasiswa sarjana di institut tersebut telah meningkat menjadi 6.832 dan jumlah mahasiswa pascasarjana meningkat menjadi 169.

NTI digabung dengan National InstItute of Education menjadi NTU pada tahun 1991. Daftar alumni bekas Nanyang University dipindahkan ke NTU pada tahun 1996. NTU menjadi lembaga otonom pada tahun 2006.

&&&

Laporan keuangan NTU tahun 2024 (teraudit KPMG) mengungkap bahwa total asetnya adalah SGD 8,6 miliar alias IDR 112 triliun. Dari aset tersebut yang berupa tanah dan bangunan adalah SGD 1,56 miliar (IDR 20 triliun). Hanya 18% dari total aset. Komponen aset terbesarnya adalah berupa aset investasi yaitu sebesar SDG 4,87 miliar (IDR 63 triliun) alias 57% dari total aset. Selebihnya kas operasional dan aset lancar lain. Proporsi aset ini menunjukkan keseriusan NTU untuk melepaskan diri dari ketergantungan kampus pada pendapatan dari uang kuliah dari mahasiswa. Sebagai pembanding, aset investasi MIT (teraudit PWC) adalah sebesar 79%. Aset investasi ITB (termasuk properti investasi, teraudit RSM) adalah 17%.

Laporan laba rugi NTU menyatakan bahwa total pendapatan kampus adalah SGD 1.52 miliar (IDR 19,8 triliun). Pendapatan dari pembayaran mahasiswa hanya berkontribusi SGD 446 juga alias IDR 5,8 triliun. Dengan demikian indeks ketergantungan NTU terhadap pendapatan dari mahasiswa adalah 29%. Masih jauh dari MIT, kampus teknologi nomor satu dunia, yang sebesar 8%. Lebih bagus dari ITB yang 33%.

Pendapatan dari investasi adalah sebesar SGD 490 juta (IDR 6,2 triliun). Dengan demikian kontribusi hasil investasi terhadap pendapatan kampus adalah 32%. Angka yang disebut sebagai indeks wakafisasi ini melebihi prestasi MIT yang 29%. Angka ini jauh lebih baik dari  ITB yang 0,6 %.

Bagi sebuah perguruan tinggi teknik, kemampuan risetnya dibutuhkan oleh pihak lain. Pihak-pihak yang membutuhkan akan menggunakan jasa riset tersebut dan kemudian membayarnya. Pendapatan NTU dari riset adalah SGD 238 juta yaitu 16% dari total pendapatan. Angka ini lebih rendah dari MIT yang 26%. Juga jauh lebih rendah dari ITB yang 41%.

&&&

Pembaca yang baik, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan secara umum adalah institusi sosial. Bukan bisnis. Maka para pengelolanya mesti terus bekerja keras untuk menurunkan ketergantungan kampus pada pendapatan dari mahasiswa (tuition fee). Menurunkan indeks ketergantungan.

Caranya adalah dengan terus menggalang masuknya donasi dana abadi alias dana wakaf  dari masyarakat. Tahun 2024 posisi dana abadi NTU naik sebesar SGD 273 juta alias IDR 3,5 triliun. Pada tahun yang sama, ITB menggalang donasi dana abadi sebesar Rp 14 miliar dan donasi bersyarat Rp 70 miliar alias total 84 miliar.

Dana abadi itu kemudian dikelola sebagai investasi. Cara pengelolaannya persis perusahaan-perusahaan investasi Blackrock, State Street, Saratoga, dan sebagainya. Menjadi Investing, bukan operating company. Lembaga pendidikan itu berinvestasi, bukan berbisnis. Berinvestasi tidak melunturkan jati diri sosial. Sebaliknya, berbisnis akan memunculkan persaingan dengan perusahaan lain dan menggerus jati diri sosial lembaga pendidikan.

NTU sebagai perguruan tinggi yang relatif muda sangat progresif dalam menumbuhkan indeks wakafisasi. Kampus berusia 71 tahun ini berada pada ranking 74 dari 100 besar endowment fund dunia menurut SWF institute. Mengejar MIT, kampus berusia 161 tahun, yang berada di peringkat 9. Jauh meninggalkan ITB, kampus berusia 106 tahun yang tidak masuk daftar tersebut. Anda pengelola kampus? Anda pengelola lembaga pendidikan? Saatnya membangun endowment fund atau dana wakaf.

Karya ke-499 Iman Supriyono ditulis di Surabaya pada tanggal 4 Januari 2026

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Toko Ruwet: Melawan Minimarket Modern


Kampus ITS tahun 1990. Dari asrama mahasiswa sepeda angin saya kayuh menyusuri jalan keluar kampus. Sesampai di jalan Arif Rahman Hakim saya belokan setir ke arah timur. Jalanan selepas magrib itu gelap. Kiri kanan jalan masih berupa semak belukar. Belum ada rumah. Cahaya lampu listrik baru bisa dinikmati manakala sepeda sudah memasuki wilayah perkampungan Keputih yang kiri kanan jalan sudah ada rumah.

Tujuan saya adalah toko Abadi. Sebuah toko yang menjadi tumpuan harapan para mahasiwa ITS dan kampus-kampus di kawasan Keputih ketika itu. Termasuk saya. Apa saja yang dibutuhkan para mahasiswa selalu tersedia. Mulai barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti mie instan, sabun, sampo. Sampai barang-barang spesifik seperti kalkulator berbagai tipe, baterai kalkulator aneka tipe, pipa kertas panjang untuk membawa kertas gulungan kalkir pekerjaan gambar teknik, kertas strimin untuk menggambar grafik, tinta berbagai jenis pena, dan sebagainya.

Toko Abadi memang lengkap. Dengan ukuran ruangan toko yang tidak seberapa besar, jadilah barang-barang dagangan itu ditata pada rak-rak tinggi. Ditumpuk-tumpuk dengan susunan sedemikan ruwetnya. Itulah kenapa oleh para mahasiswa tempat belanja favorit itu dijuluki toko ruwet.

Ruwet dalam pandangan para mahasiswa sebagai konsumen. Tapi tentu saja tidak ruwet bagi si pemilik toko itu. Dia yang hafal betul dengan letak barang-barang yang dijualnya. Dan tentu saja beserta harganya.  Semua ada di memori otaknya. Itulah toko ruwet tahun 1990. Sebuah supporting system untuk para mahasiswa kampus ITS. Tentu saja juga mahasiswa Universitas Hang Tuah yang juga berlokasi di Jalan Arief Rahman Hakim, seberang kampus ITS.

Kampus ITS maupun Hang Tuah terus berkembang. Jumlah mahasiswa makin banyak. Dengan demikian penghuni rumah-rumah kos di Keputih juga semakin banyak. Masih ditambah kehadiran perumahan-perumahan di sekitar kampus yang juga mulai hadir bertebaran. Semak belukar dan rawa-rawa di sekitar kampus perlahan berubah menjadi perumahan. Itu semua menjadikan Keputih menjadi tempat yang menarik bagi pelaku bisnis yang menyediakan aneka kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Satu demi satu toko ritel berkonsep modern hadir. Paling awal adalah Sakinah Mini Market. awalnya kecil dengan barang dagangan yang terbatas. Kalah lengkap dengan toko ruwet. Tapi seiring berkembangnya pasar, Sakinah pun tumbuh. Luasan toko pun makin berkembang. Makin lama makin besar. Barang-barang yang dulu hanya bisa diperoleh di toko ruwet selanjutnya dengan mudah bisa diperoleh di Sakinah. Bahkan akhirnya jauh lebih lengkap.

Kemudian juga hadir beberapa gerai jaringan minimarket nasional yaitu Indomaret dan Alfamart. Sakinah pun menambah beberapa gerai minimarket selain minimarket pertama yang membesar dan berubah menjadi supermarket. Itu semua menjadikan konsumen ada pilihan. Anak-anak muda tentu saja lebih nyaman berbelanja dengan konsep swalayan. Apalagi beberapa di antara toko-toko itu buka 24 jam. Mahasiswa yang malam-malam sedang lembur mengerjakan tugas dengan mudah bisa berbelanja sekedar makanan ringan atau minuman untuk menemani begadang.

Singkat cerita, toko ruwet pun makin kehilangan konsumen. Makin lama makin sepi. Dan tidak bisa dihindari pada akhirnya harus menyerah. Tutup.

&&&

Pembaca yang baik, bisnis selalu penuh persaingan. Wasitnya adalah para pembeli. Mereka akan menentukan toko mana yang menjadi pilihan. Begitu memilih salah satu toko, yang lain tentu saja tidak kebagian omzet. Misalnya ketika seorang mahasiswa butuh baterai untuk jam tangan. Dia akan memilih di mana tempat membeli. Katakan kemudian memilih di toko A. Maka, tentu saja toko lain tidak menikmati omzet dari kebutuhan si mahasiswa tersebut. Itulah kekuasaan pembeli.

Karenanya, para pelaku bisnis perlu terus menjaga agar menjadi pilihan bagi para pembeli yang menjadi target pasarnya. Pelajaran penting dari tutupnya toko ruwet adalah perubahan budaya belanja. Di era keemasan toko ruwet, masyarakat datang ke toko menyebutkan barang yang akan dibeli. Selanjutnya petugas toko mengambilkan barang tersebut. Kini kondisi berubah. Masyarakat lebih memilih toko swalayan. Pembeli datang mengambil sendiri barang-barang yang akan dibelinya. Barang-barang tersebut kemudian dibawa ke kasir untuk proses pembayaran.

Dengan konsep swalayan, belanja bukan sekedar sarana memperoleh barang-barang kebutuhan hidup. Lebih dari itu, belanja bisa mengandung unsur refreshing. Wisata tipis-tipis di setelah penat bekerja atau beraktivitas seharian. Ini yang tidak disediakan oleh toko tradisional seperti toko ruwet.

Anda pebisnis? Pastikan bahwa selalu mampu mengidentifikasi perubahan yang ada di pasar. Pastikan Anda mengantisipasi perubahan yang ada dengan strategi yang tepat. Ingat, saat bisnis berada di puncak kejayaan, selalu anggarkan uang yang ada untuk melakukan mitigasi risiko. Termasuk risiko perubahan perilaku konsumen yang makin menyukai ritel modern. Jangan terlambat. Jadikan toko ruwet sebagai pelajaran penting.

Karya ke-498 Iman Supriyono ditulis untuk dan dimuat oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya edisi Januari 2026

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Jati Diri Sosial National University of Singapore


Sejarah National University of Singapore, NUS, berawal dari tahun 1905 sebagai The Straits and Federated Malay States Government Medical School.  Para pengusaha yang dipimpin oleh Tan Jiak Kim sebagai pendiri memulainya dengan 23 mahasiswa. Tahun 1913 namanya diubah menjadi King Edward VII Medical School sebagai perguruan tinggi pertama di Singapura. Tahun 1921 status sebagai  Medical School ditingkatkan menjadi  King Edward VII College of Medicine. Tahun 1928 Raffles College didirikan sebagai pendidikan tersier di bidang seni dan sains. Tahun 1949 Raffles College digabung dengan King Edward VII College of Medicine menjadi University of Malaya, universitas pertama bagi masyarakat Singapura dan Federasi Malaya.  Tahun 1955 didirikan Nanyang University, sebuah universitas swasta  berbasis komunitas chinese. Tahun 1962 University of Malaya kampus Singapura menjadi institusi otomom bernama University of Singapore. Tahun 1980 The National University of Singapore didirikan sebagai hasil penggabungan antara University of Singapore dan Nanyang University.

Kini, NUS adalah kampus terkemuka dunia. Dalam QS Universities 2026 berada di urutan ke 8. Hanya kalah oleh MIT, Imperial College London, Standford University, UNiversity of Oxford, Harvard University, University of Cambridge, dan ETH Zurich. Jauh di atas Universitas Indonesia yang berada pada urutan 189 pada daftar tersebut. UI berdiri sebagai STOVIA pada tahun 1849.

&&&

Kampus haruslah berjati diri sosial. Jati diri sosial ini tidak cukup hanya klaim internal. Tapi harus sampai pada masyarakat. Bentuknya adalah partisipasi masyarakat dengan memberikan donasi untuk kampus. Jika masyarakat belum mau berdonasi, artinya mereka masih menganggap kampus lebih berjati diri bisnis.

Pada laporan tahunan 2024 NUS menyebut bahwa asetnya adalah SGD 18,55 alias IDR 242 triliun. Yang menarik, dari aset tersebut, komponen terbesarnya yaitu sebesar 76% yaitu SGD 14,1 alias IDR 184 triliun adalah berupa aset investasi. Yang berupa aset operasional (gedung, alat lab, dan sebagainya) hanya 24%. Profil aset ini tidak jauh berbeda dengan MIT, si peringkat 1 QS, yang aset investasinya adalah 79%.

Aset investasi NUS berkontribusi pendapatan sebesar SGD 425 juta alias IDR 5,5 triliun. Pendapatan investasi berkontribusi 19% terhadap total pendapatan kampus yang sebesar SGD 2,9 miliar alias IDR 30 triliun. Angka persentase yang disebut juga sebagai indeks wakafisasi ini hanya sedikit dibawah MIT yang 29%.

Uang kuliah (tuition fee) NUS menghasilkan SGD 828 juta alias 10,8 triliun. Pendapatan dari pembayaran mahasiswa ini berkontribusi sebesar 36% pendapatan kampus. Angka persentase yang disebut juga sebagai indeks ketergantungan ini masih agak jauh dibanding angka MIT yang sebesar 8%. Tapi dari proporsi aset investasinya, tampak bahwa NUS sedang mengejar MIT.

Tahun 2024 kampus dengan nilai endowment fund terbesar ke 32 dunia menurut SWFI ini menerima donasi sebesar SGD 210,5 juta alias IDR 2,7 triliun dari 9 312 donatur. Rata-rata per donatur adalah Rp 293 juta. Donasi itulah yang terakumulasi menjadi aset investasi. Tentu saja juga dari capital gain investasinya.

Mengapa capital gain? Karena dari aset investasi di atas, NUS hanya mengalokasikan SGD 2 miliar (IDR 26 triliun) alias 14% berupa obligasi. Obligasi tidak mendapatkan capital gain bahkan sebaliknya termakan inflasi. Selebihnya sebesar SGD 12 (IDR 156 triliun) alias 86% adalah berupa ekuitas (saham) berbagai perusahaan. Inilah penghasil capital gain. Angka ini lebih besar dari MIT berada pada 79%. Artinya, aset investasi NUS berpotensi tumbuh lebih pesat dari pada aset MIT si juara pertama.

Bergabung ke ekosistem dana abadi-wakaf korporat? Hubungi bit.ly/mysnf4

Pembaca yang baik, angka-angka di atas menunjukkan jati diri sosial NUS yang sudah sangat nyata. Jati diri sosial artinya adalah bahwa kampus mesti membebaskan diri dari jati diri transaksional. Jati diri transaksional nampak dari indeks ketergantungan yaitu seberapa besar kampus tergantung dari pendapatan yang berasal dari uang kuliah para mahasiswa.

Investasi NUS dari laporan keuangan terauidit

Siapa yang mesti berkontribusi untuk mengokohkan jati diri sosial dunia pendidikan? Pertama tentu saja para pengelola lembaga pendidikan. Di kampus tentu saja para rektor, wakil rektor, dekan, wakil dekan, kepala departemen dan sebagainya. Mereka berkontribusi dengan program donasi yang menarik. Yang kedua adalah para pelaku bisnis yang melakukan proses korpoatisasi. Terus menerus melakukan scale up dengan dana yang diperoleh dari penerbitan saham. Kampus atau institusi pendidikan lain masuk sebagai investor dengan skema primary market. Meneguhkan jati diri sosial, sekaligus menumbuhkan ekonomi. Anda pengelola kampus? Anda pengelola pendidikan? Anda pelaku bisnis? Saatnya berkontribusi.

Karya ke-497 Iman Supriyono yang ditulis di Surabaya pada tanggal 31 Desember 2025.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Hud Abdullah Musa: Jangan Lupakan Pesantren


Trowulan, pekan terakhir tahun 2025. Kopi hitam menemani pembicaraan pagi itu. Yang menghidangkan tidak lain adalah Gus Surur, pengasuh Pesantren Hidayatul Mubtadiin Walisongo. Tepatnya berada di dusun Kepiting, desa Temon, kecamatan Trowulan, kabupaten Mojokerto.

Enam tahun proses belajar pemilik nama lengkap Muhammad Surur Zainuddin di Kairo menjadikan diskusi tentang dana abadi pesantren pagi itu sangat kaya. Universitas Al Azhar, almamater pimpinan pesantren di kawasan situs Mojopahit itu, adalah kampus yang tidak diragukan lagi dalam hal wakaf. Kampus tertua di dunia itu telah menjadikan wakaf sebagai sumber pendapatan untuk membiayai proses belajar mengajar ratusan ribu mahasiswa dari berbagai penjuru dunia. Para mahasiswa, termasuk Gus Surur ketika itu, bisa belajar tanpa harus membayar uang kuliah sepeser pun.

Yang menonjol dirasakan oleh Gus Surur dari pada dosen di almamaternya adalah keikhlasannya. Mereka mendidik untuk menyebarluaskan ilmu. Tidak ada pamrih finansial. Tidak berharap mahasiswa menjadi sumber finansial bagi kampus. Apalagi bagi dirinya.

Penulis bersama Gus Surur, pengasuh pesantren Hidayatul Mubtadiin Walisongo, Trowulan, Mojokerto

Yang menonjol diceritakan oleh Gus Surur dari para mahasiswa Al Azhar adalah takzimnya kepada para dosen. Para mahasiswa dari berbagai penjuru dunia datang untuk belajar dengan semangat tinggi. Setinggi-tingginya. Sementara mereka tahu bahwa kampus dan dosennya tidak menerima sepeser pun uang dari dirinya. Jadilah para mahasiswa benar-benar takzim terhadap para dosen. Terhadap almamaternya.

Pagi itu, Gus Surur menegaskan bahwa Pesantren Hidayatul Mubtadiin Walisongo yang diasuhnya harus seperti Al Azhar. Memiliki aset investasi yang sangat besar. Sebegitu besarnya sedemikian hingga hasil investasinya cukup untuk biaya operasional kampus. Sekali lagi aset investasi, bukan berbisnis. Pesantren adalah institusi pendidikan yang berkarakter sosial. Bukan pelaku bisnis.

&&&

“Iman nanti jangan sampai melupakan pesantren ya”. Ini adalah pesan terakhir Ustadz Hud Abdullah Musa beberapa hari sebelum dipanggil-Nya pada tanggal 14 September 2001. Pesan itu disampaikan kepada saya saat jalan kaki dari rumah beliau menuju ruang kelas di pesantren Persis, Bangil. Beliau menyampaikan sambil beberapa kali menepuk bahu saya. Gaya seorang ayah kepada anaknya. Ketika itu saya adalah guru mata pelajaran fisika dan matematika di Persis Putra.

Interaksi saya dengan pimpinan pesantren sarjana syariah dari Universitas Bagdad itu terbangun sejak tahun awal 90-an. Tepatnya di Masjid Manarul Ilmi ITS. Ketika itu saya dalah aktivis dan pengurus Jamaah Masjid Manarul Ilmi, sebuah unit kegiatan keislaman di kampus teknologi itu. Ustadz Hud adalah salah satu nara sumber utama kajian-kajian di Masjid Manarul Ilmi ketika itu.

Sejak sekitar tahun 1995 saya menjadi berkesempatan mengajar di pesantren yang beliau pimpin. Jadilah interaksi itu makin intens. Apalagi rumah tinggal beliau terletak persis di samping pesantren. Pendidikan dan pengelolaan pesantren tentu saja menjadi topik utama.

Menjaga Silaturahim: Penulis bersama Ihab Hud (kanan), salah satu putra ust. Hud Abdullah Musa, di kantor SNF Consulting

Master Sosiologi dari Universitas Islam Karachi itulah yang menandatangani rekomendasi beasiswa S2 saya di Universitas Airlangga. Dengan demikian, peran cucu A Hasan ini tidak bisa dipisahkan dari proses pembelajaran metode penelitian sosial yang kemudian saya pakai untuk riset manajemen hingga saat ini.

&&&

Pesan terakhir Ustadz Hud itulah yang menyemangati saya untuk datang ke Pesantren Hidayataul Mubtadiin pagi itu. Riset manajemen yang saya lakukan melalui SNF Consulting mengarahkan saya tentang betapa pentingnya peran dana abadi alias endowment fund alias dana wakaf. Satu sisi akan menjadikan pesantren dan lembaga pendidikan secara umum untuk tidak tergantung pada uang bayaran dari para peserta didik. Sisi lain, endowment fund berkontribusi besar terhadap scale up berbagai perusahaan. Itulah mengapa lebih dari 600 dari 2000 perusahaan terbesar dunia dalam hal omzet, laba, aset dan market value berasal dari USA. Maka, kemandirian pesantren dan institusi pendidikan lain juga akan berdampak pada membesarnya perusahaan-perusahaan di negeri ini. Saat ini hanya 13 dari 2000 perusahan terbesar dunia berasal dari RI.

Penulis bersama Ustadz Hud Abdullah Musa di mushola pesantren Persis Bangil, sekitar tahun 1995

Pesantren Hidayatul Mubtadiin menutup agenda raod show saya ke berbagai pesantren tahun ini.  Tahun-tahun yang akan  yang akan datang insyaallah akan terus berlanjut. Dengan fasilitas SNF Consulting, saya akan terus mendatangi berbagai pesantren untuk mendorong penggalangan dana abadi yang selanjutnya diinvestasikan ke berbagai perusahaan dengan prinsip portofolio modern. Menggelorakan wakaf korporat dari kalangan pesantren dan dunia pendidikan pada umumnya. Terus menjalankan pesan terakhir Ustadz Hud untuk tidak melupakan pesantren. Penggalangan dan pengelolaan dana abadi menjadi fokus perhatian saya. Moga menjadi salah satu amal jariyah beliau. Aamin.

Karya ke-496 Iman Supriyono yang ditulis di kantor pusat SNF Consulting pada tanggal 29 Desember 2025.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Nasib Pensiunan Amil Marbot Imam


Tanggal 1 Maret 1987 berdirilah YDSF. Sebuah badan hukum yang menjadi pelopor amil modern. Jika sebelumnya zakat infak dan sedekah hanya dikelola secara sporadis oleh takmir masjid dan musala, lembaga bernama lengkap Yayasan Dana Sosial Al Falah itu telah melakukan perubahan luar biasa.

Apa yang dirintis oleh YDSF kemudian berbuah luar biasa. Kini muncul banyak sekali lembaga amil modern seperti DD, Yatim Mandiri, Rumah Zakat, LazisMu, LazisNU, LMI dan sebagainya. Laporan Baznas menyebut bahwa sepanjang tahun 2024 telah terkumpul zakat infak sedekah senilai Rp 40,5 triliun. Sebuah angkat yang tidak kecil. Jumlah itu didistribusikan untuk mereka yang berhak di berbagai penjuru.

Lembaga amil zakat modern berbentuk badan hukum formal. Ada yayasan seperti YDSF. Atau perkumpulan seperti LazisMu dan LazisNU. Sebagai badan hukum dengan pengelolaan dana sebesar itu tentu mereka memiliki banyak karyawan yang bekerja penuh waktu.

Misalkan saja seorang fresh graduate sarjana memilih bekerja full time di YDSF tahun 1987. Jika saat itu usianya 22 tahun, saat ini tentu telah berusia 60 tahun. Usia pensiun. Masa senja. Mengingat ada ribuan orang yang bekerja sebagai karyawan penuh waktu di lembaga amil modern, tentu akan ada ribuan pensiunan amil.

Pertanyaannya, setelah mereka pensiun, bagaimana kesejahteraannya? Jika selama bekerja mereka mendorong masyarakat untuk menjadi pembayar zakat alias muzaki, haruskah mereka bernasib menjadi mustahiq alias orang yang berhak menerima zakat saat pensiun?

Belum lagi para marbot dan imam penuh waktu di masjid-masjid. Jika ada 800 ribu masjid, tentu ada ratusan ribu pensiunan marbot dan imam ful time. Pertanyaannya idem. Bagaimana kesejahteraan mereka saat pensiun? Sudah adakah yang memikirkannya?

&&&

New York 1914. Para pengelola The Episcopal Church berpikir jauh ke depan. Bagaimana nasib para pendeta dan karyawan yang telah mengabdikan dirinya di gereja sepanjang usia produktif mereka?  Haruskah mereka terlantar di hari tuanya? Pertanyaan itu dijawab dengan mendirikan Church Pension Fund dengan badan hukum non profit corporation. Badan hukum yang di Indonesia disebut perkumpulan (seperti Muhammadiyah dan NU) ini mulai beroperasi sejak tahun 1917. Kegiatannya adalah mengumpulkan donasi non konsumtif yang disebut sebagai endowment fund. Dalam terminologi Islam disebut weakaf. Dana yang terkumpul kemudian diinvestasikan. Hasil investasinya digunakan untuk memberi uang pensiun bulanan kepada para pendeta dan pekerja full time gereja.

Laporan resmi mereka per 31 Maret 2025 nilai asetnya adalah USD 17,7 miliar alias setara dengan Rp 296 triliun. Sebagaimana pada laporan yang diaudit oleh Ernst & Young, dana itu diinvestasikan dengan portofolio modern melalui perusahaan-perusahaan investasi seperti  Blackrock, State Sreet, VAnguard, dan sebagainya.  Sebagian besar portofolio investasinya adalah berupa saham di berbagai perusahaan.

Tahun  buku 2024,  imbal hasil atas investasi adalah 7,2%. Artinya, hasil investasi atas aset lembaga pengelola dana abadi terbesar ke-26 dunia tersebut  adalah sekitar Rp 21 triliiun. Dana itulah yang digunakan untuk memberi uang pensiun kepada puluhan ribu pendeta dan pekerja gereja lainnya.

&&&

Pembaca yang baik, siapa yang memikirkan masa tua para amil, marbot dan imam yang saat usia produktif bekerja penuh waktu di lembaga-lembaga amil dan masjid-masjid? Dibutuhkan tindakan seperti yang dilakukan oleh Episcopal Church lebih dari seabad yang lalu. Mengumpulkan dan mengelola endowment fund (dana wakaf) dan menginvestasikannya dengan manajemen dan tata kelola modern.

Gabung di group whatsapp untuk mendapatkan link zoom:
https://chat.whatsapp.com/LD7h338hoJSGLYYQuIYX00?mode=hqrt1

Manajemen modern artinya adalah mengelola dana abadi/wakaf sebagai investing company. Bukan operating company. Dampaknya adalah mendorong perusahaan-perusahaan operating company di berbagai bidang untuk tumbuh melakukan scale up. Menguatkan ekonomi. Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Mengamankan masa senja para amil, marbot dan imam sekaligus menumbuhkan ekonomi. Anda profesional di bidang amil zakat, wakaf atau takmir masjid? Siap mengambil fardhu kifayah ini?

Karya ke-495 Iman Supriyono yang ditulis di Surabaya pada tanggal 19 Desember 2025.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Satu Lagi dari ACR: Wakaf Saham Apotek Titokita


Sebagai salah satu pendiri dan kemudian ketua ACR, www.acrku.org,  sejak awal saya menyadari bahwa ini adalah proses yang panjaaaang. Berdasarkan catatan sejarah,  membangun pengelola zakat infak sekelas YDSF yang berdiri tahun 1987 butuh waktu sekitar 20-30 tahun untuk menjadi organisasi kokoh. Dompet Dhuafa yang berdiri tahun 1993 pun demikian. Kini lebih dari 30 tahun kemudian masyarakat benar-benar merasakan kehadirannya.

ACR didesain berkonsep dana abadi alias wakaf. Dalam konteks ekonomi modern, dana abadi alias dana wakaf hanya tepat dikelola dengan model investing company, bukan operating company. Di Indonesia, Ini adalah sesuatu yang baru. Tidak banyak yang memahaminya. Maka, poin pertama yang dipikirkan oleh para pendiri adalah bahwa ACR butuh proses panjaaaang. Perkiraan juga butuh waktu sekitar 20-30 tahun.

Bagaimana gambaran ACR saat sudah jadi nanti? Kurang lebih begini. ACR memiliki aset dalam bilangan triliun. Aset itu dikelola model investing company dengan proporsi sekitar 50% adalah ekuitas alias saham di berbagai perusahaan. Semuanya saham minoritas sehingga ACR tidak mengkonsolidasikan laporan keuangan perusahaan tempatnya berinvestasi. Ada ratusan perusahaan investeee berkualitas.  

Selanjutnya, sekitar 30% aset adalah berupa sukuk atau deposito syariah di berbagai bank. Selebihnya sekitar 20% adalah lain-lain seperti kepemilikan properti untuk disewakan, pembiayaan murobahah proyek dan sebagainya. Jadi pekerjaan pengurus ACR ketika itu adalah dari RUPS ke RUPS.

Karena memiliki aset saham yang secara akuntansi dilaporkan berdasarkan nilai pasar, maka aset bilangan triliun bukan berarti para donatur yaitu anggota ACR (ACR adalah ormas berbadan hukum perkumpulan yang asetnya berasal dari iuran anggota) benar-benar menyetor sejumlah itu. Sebagian besar asetnya akan berasal dari pertumbuhan nilai pasar dari saham-saham yang dimilikinya. Bukan hanya dari setoran pra anggota. Ini terjadi karena pada umumnya ACR masuk sebagai pemegang saham melalui skema private placement perusahaan-perusahaan terpilih jauh sebelum IPO. Harganya masih murah dan pertumbuhannya tinggi. Kriteria teknisnya adalah perusahaan sudah pada tahap revenue and profit driver, tahap kelima dari 8 siklus perusahaan. Ini adalah cara yang biasa dikerjakan pengelola dana abadi raksasa seperti pada Harvard University, MIT, The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints (LDS Church) si organisasi agama dengan aset lebih dari Rp 4 ribu triliun, dan sebagainya.

Ketua ACR menandatangani akta masuknya ACR sebagai pemegang saham PT Titokita Farma Sejahtera

ACR adalah program besar. Maka, mengelola ACR adalah perjalanan panjang. Tidak boleh grusa grusu. Tidak boleh tergesa gesa. Tapi juga tidak boleh diam. Maka, sore itu, perjalanan saya mengemudikan mobil dari Natar, Lampung Selatan, menuju Banjar Agung, Tulang Bawang, adalah sesuatu yang sangat saya syukuri. Sore itu, 11-12-25, saya menikmati perjalanan di tol lintas sumatera untuk penandatanganan masuknya ACR sebagai pemegang saham PT Titokita Farma Sejahtera, sebuah perusahaan apotek yang telah memiliki 8 gerai. Masuknya ACR menandai awal proses scale up untuk menjadi korporasi sejati. Menjadi perusahaan yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Rahmatan lil alamin.

Satu lagi dari ACR. Itulah spiritnya. Di kantor notaris Tria Agustia, mewakili ACR saya melakukan penandatanganan akta bersama dengan pemegang saham Titokita lainnya. Bismilah….ini adalah saham ke-4 ACR. Insyaallah akan disusul saham ke-5, ke-6 dan seterunya sampai lebih dari seribu seperti LDS Church. Moga berkah bagi keluarga besar Titokita, berkah bagi keluarga besar ACR dan tentu saja berkah bagi adik-adik cemerlang kader umat yang sedang rajin belajar dengan fasilitas beasiswa ACR.

Karya ke-494 Iman Supriyono yang ditulis di Bandar Lampung pada tanggal 12 Desember 2025.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Warung Madura: Jual Bensin di Depan SPBU


Jalan Sedap Malam, Denpasar, suatu siang. Siant itu saya sedang rapat dengan direksi salah satu klien SNF Consulting, kantor tempat saya berkarya. Sebagaimana biasa, jam 12 siang adalah saat para karyawan rehat selama satu jam untuk makan siang. Jam 12 waktu Denpasar sama dengan jam 11 waktu di Surabaya, tempat tinggal saya. Beberapa menit kemudian adalah saat sholat dhuhur.

Begitu saat istirahat siang, saya bergegas ke masjid untuk menunaikan sholat dhuhur berjamaah. Masjid terdekat berada di lokasi yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari tempat rapat. Artinya, butuh waktu sekitar 15 menit jika ditempuh dengan jalan kaki.

Jalan kaki bukan  pilihan yang tepat untuk menuju masjid. Waktu istirahat hanya satu jam. Sementara masih dibutuhkan waktu juga untuk makan siang. Maka, yang paling realistis adalah naik kendaraan. Bisa motor atau mobil. Motor lebih tepat karena bisa menghindari kepadatan lalu lintas Denpasar.

Pada awal-awal meeting, saya order ojek online untuk ke masjid. Tapi lama-lama para direksi peserta rapat melihat kebiasaan saya. Akhirnya mereka menawarkan saya untuk pinjam motor salah satu karyawan. Jadilah ini menjadi kebiasaan. Setiap istirahat siang rapat saya dipinjami motor untuk pergi ke masjid terdekat.

Nah, sepulang dari masjid saya harus mengisi bensin. Bukan semata untuk megganti bensin yang terpakai. Lebih dari itu, saya niat saya adalah untuk sedikit membalas kebaikan pemilik motor yuang telah mempermudah perjalanan saya menuju dan dari masjid.

Di mana mesti beli bensin? Sepanjang perjalanan ke masjid tidak terlhat ada SPBU. Yang ditemukan adalah kios penjual bensin. Ada yang menggunakan mesin  mesin dispeneser ala SPBU. Ada yang menjual bensin dalam botol-botol.

Pilihan saya adalah penjualn bensin yang menggunakan mesin dispenser. Mekanisme transaksi persis di SPBU Pertamina, Shell atau BP.  Sebut nilai pembelian, lalu penjual akan menekan angka-angka yang keumdian tampil di layar display warna merah.

Nah, dari komunikasi dengan penjual segera saya mengambil kesimpulan: ternyata saya membeli bensin warung madura. Saya tau persis dari logat sang penjual. Logat madura memang khas. Tidak banyak orang Madura yang bisa meninggalkan logat khas nya saat bicara dengan bahasa lain.

Kios penjual bensin dengan mesin dispenser kecil seperti ini sering disebut sebagai ”pertamini”. Seperti SPBU Pertamina tapi dalam ukuran mini. Di Denpasar bisnis seperti ini bisa dengan mudah kita jumpai di mana-mana. Bahkan di lokasi depan SPBU Pertamina. Di lokasi seperti ini, sasaran konsumennya adalah motor yang tidak mau antri panjang di SPBU Pertamina. MereKa mungkin dikejar waktu harus segera ke kantor atau keperluan lain. Jadinya tetap memilih ”pertamini” walaupun tentu saja harganya lebih mahal dari pada SPBU Pertamina.

Dari mana ”pertamini” mendapatkan pasokan bensin? Bukankah ada larangan membeli bensin di SPBU Pertamina dengan jerigen? Bukankah pembelian hanya boleh dilakukan dengan motor atau mobil? Para pebisnis ”pertamini” tidak kurang akal. Mereka membeli bensin di SPBU Pertamina dengan motor yang bertanki besar. Motor Honda GL Pro misalnya memiliki kapasitas tangki bahan bakar 12 liter. Beli di SPBU dengan tanki penuh. Selanjutnya tinggal membuka kran tanki dan memasukkan bensin yang ada ke mesin dispenser.

&&&

Pembaca  yang baik, bensin adalah salah satu dagangan unggulan warung madura di mana-mana. Tentu ada dagatngan unggulan lain yang menjadikan sebuah warung madura memperoleh mozet cukup. Cukup untuk menanggung seluruh biaya dan ada laba yang menarik bagi pelaku bisnsinya. Tanpa laba yang menarik, bisnis apapun tidak akan ada yang menjalani.

Warung madura muncul dimana-mana. Tapi mengapa tidak bisa menghasilkan pelaku bisnis terkaya nasional seperti Djoko Susanto pendiri Alfamart? jawabannya sederhana. Warung madura yang jumlahnya bisa jadi puluhan ribu gerai itu berdiri sendiri-sendiri. Ibarat orang sholat warung madura sholat sendirian. Sedangkan Alfamart yang sekitar 20 ribu gerai adalah satu kesatuan. Satu rekaning, satu manajemen, dan satu komando. Ibarat orang sholat Alfamart adalah berjamaah. Pahalanya 27 kali lipat.

Ada ribuan bahkan puluhan ribu pemain bisnis warung madura. Mereka berdiris sendiri. Ada ribuan bahkan puluhan ribu pemegang saham Alfamart. Mereka bersatu dalam satu kesatuan. Seperti sholat berjamaah dalam satu komando imam. Yang bertindak sebagai ”imam” dalam ekonomi berjamaah Alfamrt adalah si direktur utama yang saat ini dijabat oleh Anggara Hans Prawira. Orang inilah yang menajdi ”Imam” dalam ”sholat berjamaah” Alfamart. Dia lah yang memegang tongkat komando dan menentukan apapun yang dilakukan oleh Alfamart.

Warung Madura: Jual Bensin di Depan SPBU

Anda pelaku bisnis warung madura? Atau bisnis apapun yang masih ”sholat sendirian” seperti warung madura? segera pelajari mekanisme ilmu dan keahlian korporasi. Ilmu yang dibutuhkan untuk menarik puluhan ribu orang bahkan lebih untuk bergabung menjadi satu kesatuan. Satu kekuatan ekonomi yang kokoh dalam dunia bisnis yang penuh persaingan ketat.

Karya ke-493 Iman Supriyono yang ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Desember 2025

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi