Akar sejarah PT Martina Berto Tbk. berawal dari tahun 1975 saat Martha Tilaar mendirikan sebuah salon kecantikan di Menteng, 1970. Tahun 1977 resmi berdiri sebagai perusahaan kosmetik. Tahun 1981 membuka pabrik kosmetik modern pertama di Pulogadung Industrial Estate. Pabrik ini memproduksi kosmetik dan jamu dengan merek Sariayu Martha Tilaar. Pada tahun 1986 bisnis berkembang. Martina Berto mendirikan pabrik kedua di kawasan industri yang sama.
Pertumbuhan pasar begitu pesat. Perusahaan pun mengalihkan ke fasilitas produksi yang lebih besar di kawasan Gunung Putri, Bogor pada tahun 1995. Fasilitas lama dipakai untuk memproduksi kosmetik merek Mirabella dan Cempaka.
Tahun 1995 perusahaan mengakuisisi Cedefindo, sebuah perusahaan makloon produk-produk kosmetik. Bisnisnya adalah melayani kontrak manufaktur produk-produk kosmetik kering, semi padat, cair maupun aerosol.
Tahun 2011 perusahaan melakukan IPO. Dengan menerbitkan 355 juta lembar alias 33% saham, perusahaan memperoleh dana Rp 263 miliar. Dana IPO digunakan untuk membangun pabrik baru di Cikarang, modal kerja dan pelunasan sebagian utang.

Dalam prospektusnya perusahaan melaporkan bahwa omzet 2007 sampai 2009 berturut-turut adalah Rp 335 miliar, Rp 430 miliar dan Rp 516 miliar. Tumbuh 28% dan 54%. Pertumbuhan yang sangat mengesankan. Tahun 2010 omzetnya Rp 566 miliar. Naik 10% dibanding tahun sebelumnya. Tahun 2011 Rp 648 miliar. Naik 14% dari tahun sebelumnya.
Tahun 2012 omzetnya Rp 718 miliar. Naik 11% dari tahun sebelumnya. Labanya Rp 46 miliar. Ini bisa dipandang sebagai dampak IPO.
Tahun 2013 omzetnya Rp 641 miliar. Turun 11% dari tahun sebelumnya. Tapi perusahaan masih menghasilkan laba sebesar Rp 16 miliar. Tahun 2014 omzetnya naik tipis menjadi Rp 671 miliar dengan laba Rp 4 miliar.
Tahun 2015 perusahaan mulai bermasalah secara finansial. Omzet masih naik tipis menjadi Rp 695 miliar tapi perusahaan menderita kerugian Rp 14 miliar. Arus kas operasional masih positif tapi sangat tipis yaitu Rp 1 miliar.
Tahun 2016 omzetnya turun tipis menjadi Rp 685 miliar. Perusahaan masih mencatatkan laba tipis sebesar Rp 9 miliar. Tahun berikutnya omzetnya naik tipis lagi menjadi Rp 732 miliar. Tapi perusahaan menderita kerugian sebesar Rp 25 miliar. Arus kas operasionalnya minus 33 miliar. Sebuah penanda masalah yang cukup serius pada perusahaan ini.
Tahun 2018 omzetnya turun lagi menjadi Rp 503 miliar. Perusahaan pun menderita kerugian Rp 114 miliar. Arus kas operasional minus Rp 100 miliar. Ekuitas perusahaan tergerogoti tinggal Rp 300 miliar. Bandingkan posisi 2014 saat perusahaan masih sehat yaitu Rp 443 miliar. Sudah tergerogoti Rp 143 miliar.
Tahun 2019 omzetnya kembali naik tipis menjadi Rp 538 miliar dan menderita rugi Rp 67 miliar. Arus kas operasionalnya minus Rp 10 miliar. Tahun 2020 omzetnya menukik tajam tinggal 297 miliar dengan kerugian Rp 203 miliar.
Rugi tentu saja menggerogoti ekuitas. Tapi perusahaan berusaha mempercantik angka neraca dengan melakukan revaluasi aset properti menghasilkan kenaikan ekuitas 548 miliar. Ekuitas pun naik menjadi Rp 590 miliar. Tapi ini benar-benar hanya bersifat kosmetik. Sama sekali tidak memperbaiki fundamental bisnis. Justru menyedot kas untuk proses dan pajaknya.
Tahun 2021 hingga tahun 2025 omzetnya berturut-turut adalah Rp 211 miliar, Rp 360 miliar, Rp 419 miliar, Rp 432 dan Rp 402 miliar. Pada periode tersebut perusahaan mencatatkan rugi secara berturut-turut adalah Rp 150 miliar, Rp 42 miliar, Rp 31 miliar, Rp 4 miliar dan Rp 28 miliar. Rugi terus menerus bertahun-tahun adalah masalah besar.
&&&
Puncak prestasi Martina Berto adalah tahun 2012 yaitu tepat setelah memperoleh dana IPO pada tahun sebelumnya. Labanya Rp 46 miliar. Setelah itu perusahaan omzetnya cenderung terus turun dan terus menerus menderita kerugian.
Akumulasi kerugian per akhir 2025 adalah Rp 371 miliar. Ini adalah akibat kerugian bertahun-tahun. Angka ini sudah menggerus seluruh modal setor plus agio saham yang totalnya sebesar Rp 321 miliar. Jadi praktis ekuitas perusahaan ini sudah minus. Artinya utangnya sudah lebih besar dari asetnya. Ekuitas masih positif Rp 340 miliar adalah sekedar angka di atas kertas sebagai hasil revaluasi aset pada tahun 2020.
Mari kita lihat kondisi detailnya tahun 2025. Perusahaan masih mencatatkan laba kotor sebesar Rp 159 miliar. Jadi penjualan masih menghasilkan uang. Mesin utamanya masih hidup. Bahkan setelah dikurangi biaya pemasaran sebesar Rp 87 miliar, hasilnya masih positif sebesar Rp 72 miliar. Perusahaan menderita kerugian karena biaya umum administrasinya adalah Rp 79 miliar. Adanya beban dan pendapatan lainnya mengakibatkan perusahaan rugi Rp 4 miliar.
Tapi itu belum keseluruhan cerita. Perusahaan masih menganggung beban finansial sebesar Rp 18 miliar. Ini adalah buah utang total sebesar Rp 301 miliar yang didominasi oleh utang bank jangka pendek sebesar Rp 154 miliar. Jadilah rugi tahun berjalan sebesar Rp 28 miliar.
Apakah tidak ada solusi? Kalau melihat tren omzet dalam lima tahun terakhir, harapan itu masih ada. Pasar masih bisa menerima. Tapi apalah artinya peningkatan omzet jika tidak dibarengi dengan laba.
Maka, mau tidak mau perusahaan harus menelan pil pahit. Paling tidak ada 2 pil pahit. Pil pahit pertama adalah melakukan efisiensi biaya operasional. Yang paling terasa pahit adalah pemotongan biaya gaji. Tapi, menurunkan biaya operasional dari Rp 79 misalnya saja menjadi Rp 70 miliar misalnya sudah akan mengakibatkan perusahaan mencatatkan laba sebelum beban finansial sebesar Rp 5 miliar.
Pil pahit kedua adalah mengurangi utang dengan menjual aset. Aset tetapnya Rp 430 miliar. Jika perusahaan melego sebagian aset tetap ini untuk melunasi utang bank jangka pendek Rp 154 miliar dan utang jangka pendek lainnya Rp 9 miliar sedemikian hingga beban finansial Rp 18 miliar bisa dieliminasi, perusahaan akan mencatatkan laba Rp 23 miliar.
Tantangannya adalah bagaimana melego aset tetap. Tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Tapi namanya pil pahit tentu tidak mudah. Tapi ini adalah jalan penyelamatan perusahaan.
Periksa detail aset tetapnya. Jika bisa dijual tanpa mengganggu operasional perusahaan maka harus segera dijual. Jika aset tetap ternyata benar-benar dibutuhkan perusahaan sedemikian rupa sehingga tidak bisa dijual, masih ada pintu DIRE alias REIT. Perusahaan menjual aset kepada perusahaan DIRE untuk kemudian menyewa aset tersebut.
&&&

Martha Tilaar sebagai pendiri dan tokoh kunci Martina Berto baru saja tutup usia. Jangan sampai perusahaan yang didirikan dengan susah payah pailit. Tanpa menelan dua pil pahit di atas, risiko kepailitan sangat besar. Ada utang uang muka pelanggan sebesar Rp 13 miliar. Ada beban yang belum dibayar sebesar Rp 24 miliar. Ada liabilitas imbalan kerja karyawan Rp 42 miliar. Ini adalah lampu merah sewaktu-waktu bisa berubah menjadi gugatan pailit di pengadilan. Maka, jangan ragu menelan pil pahit itu.
Artikel Karya ke 536 Iman Supriyono ini ditulis di kantor pusat SNF Consulting di Jantung Kota Surabaya
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi










