Muhammadiyah mulai merintis pendirian perguruan tinggi di luar negeri tahun 2017. Pilihannya di Malaysia. Negara bagian Perlis. Butuh waktu 4 tahun pengurusan untuk akhirnya berdiri secara resmi Universiti Muhammadiyah Malaysia pada tahun 2021.
Sebagaimana di tanah air, kampus baru ini pun harus bersaing dengan kampus-kampus lain. Negeri maupun swasta. Kampus yang namanya disingkat UMAM ini pasti bersaing dengan Universiti Malaya (UM), University Sains Malasya (USM), dan Universiti Teknologi Malaysia(UTM) misalnya. Masing-masing adalah kampus terbaik ke 58, 134 dan 153 dalam peringkat QS World University.Rank. Bandingkan dengan pesaing-pesaing kampus-kampus persyarikatan di Indonesia seperti UI, UGM, ITB, Unair, dan IPB yang masing-masing berada di urutan ke 189, 224, 255, 287 dan 399. Persaingan di Malaysia jauh lebih berat.
Maka, wajar jika hingga saat ini jumlah mahasiswa UMAM masih sangat kecil. Bandingkan dengan UM misalnya yang memiliki lebih dari 27 ribu mahasiswa. Lebih dari sepertiganya adalah mahasiswa pascasarjana. Tapi tentu tetap harus optimis. Kelak UMAM akan sejajar dengan mereka.
&&&
Wamaa arsanlnaaka illa rahmatan lil alamin. Kami tidak mengutusmu kecuali untuk menjadi rahmat bagai seluruh alam. Surat Al Ambiya ayat 7 ini adalah inspirasi bagi persyarikatan untuk mendunia. UMAM adalah permulaan. Ada juga Australia Muhammadiyah Collega juga.
Pendidikan dan kesehatan adalah pilar utama Muhammadiyah sejak berdiri. Pada muktamar di Makassar 2015, persyarikatan mencanangkan penguatan pilar ekonomi.
Pilar pendidikan telah mulai mendunia. Lalu bagaimana pilar ekonomi? Kita bisa mengambil pelajaran dari The Church of Jesus Crist of Latter Days Saints. Organisasi gereja beraliran mormon ini memiliki pilar ekonomi yang sangat kuat. Bahkan kekuatannya sedang kita rasakan. Saya menulis artikel ini dengan Microsoft Word. Gereja yang biasa disebut LDS Church ini adalah salah satu pemegang sahamnya. Jumlahnya 595 juta lembar. Nilainya sekitar IDR 38 triliun. Tahun terakhir menghasilkan dividen sekitar IDR 2 triliun.
Tidak hanya di Microsoft. Gereja yang juga hadir Indonesia ini juga memegang saham Freeport, McDonalds, Visa, Airbnb, Tesla, Citibank, Boeing, Blackrock, General Electric dan sebagainya. Total ada sekitar 1600 perusahaan. Semua sektor dimasukinya. Nilai keseluruhan sekitar IDR 2100 triliun.
&&&
Anda kenal Wardah? Ya, ini adalah perusahaan yang didirikan oleh bu Nurhayati Subakat. Beliau adalah pengurus majelis ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat ketuanya dijabat oleh almarhum Pak Nadjikh.
Pilar ekonomi LDS Church kokoh dengan menggandeng Freeport, Microsoft, McDonald, Visa, Tesla, Citibank, Blackrock dan sbagainya. Persyarikatan juga harus menggandeng Wardah. Tentu juga pengusaha-pengusaha Muhammadiyah yang lain.
Salah satu pesaing kuat Wardah di tanah air adalah L’oreal, perusahaan kosmetik asal Perancis. Di tanah air, keduanya adalah pemegang pangsa pasar utama industri kosmetik. Sama-sama kuat.
Bedanya, L’oreal tidak hanya kuat di Indonesia. Perusahaan terbesar ke 182 dalam hal omzet, laba, aset dan nilai pasar ini juga kokoh hampir di semua negara di dunia. Salah satunya di Korea Selatan.
Di negeri Gingeng ini, Loreal menjadi pemain utama melalui akuisisi. Tidak membangun dari nol. Tahun 2018 L’oreal mengakuisisi Nanda Co. Ltd. senilai sekitar IDR 3,5 triliun. Tahun 2024 mengakuisisi Gowoonsesang Cosmetics Co. Keduanya adalah pemain kuat industri kosmetik Korea.
Adakah peluang Wardah masuk ke pasar Korea Selatan melalui akuisisi? Tentu. Di sana ada Clio Cosmetics misalnya. Perusahaan kosmetik yang berdiri tahun 1993 ini sudah tercatat di lantai bursa. Saat ini nilainya adalah KRW 218 miliar alias IDR 2,54 triliun. Misal saja perusahaan ini bisa diakuisisi dengan nilai IDR 4 triliun.

Bagaimana Wardah dan Muhammadiyah bergandengan tangan untuk melakukannya? Wardah tentu punya uang dari labanya untuk ekspansi. Misalkan saja bisa menyediakan IDR 2 triliun. Muhammadiyah bisa menutup kekurangan itu melalui penggalangan wakaf uang dari para anggota. Persis seperti LDS Church yang menggalang wakaf uang yang dalam bahasa mereka disebut endowment fund.
Katakan Muhammadiyah menggalang dana Rp 2 triliun. Uang itu kemudian diinvestasikan ke Wardah melalui private placement. Wardah menerbitkan sekian lembar dan saham baru untuk dibeli oleh persyarikatan. Jadilah Muhammadiyah menjadi pemegang saham Wardah. Uang itu kemudian digunakan untuk mengakuisisi Clio Cosmetics.
Muhammadiyah dan Wardah tidak perlu takut gagal karena Clio adalah perusahaan bagus. Mereknya kokoh. Wardah tidak perlu memulai dari nol. Muhammadiyah juga tidak perlu skill mengelola perusahaan kosmetik karena sahamnya minoritas. Sama seperti LDS Church yang juga selalu memegang saham minoritas. Cukup menerima dividen. Menjadi investor murni. Tidak menjadi pelaku bisnis.
Dengan akuisisi ini, Wardah bisa memanfaatkan demam K-pop dunia untuk masuk ke pasar negara-negara lain. Caranya juga dengan akuisisi lagi. Sampai menguasai bisnis kosmetik di berbagai negara. Sementara Muhammadiyah juga terus menggalang dana wakaf uang lagi. Untuk menjadi pemegang saham di perusahaan-perusahaan lain. Sampai 1600 perusahaan. bahkan lebih. Pilar ekonomi kokoh. Perusahaan-perusahaan umat kokoh. Bersama-sama menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Artikel Karya ke 520 Iman Supriyono ini ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan edisi Mei 2026, terbit di Surabaya
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Baca Juga
Dana Abadi Yale: Kedermawaanan 300 Tahun
Investasi Wakaf Bagaiama Kalau Rugi?
Semangat Tumbuah Dalam Keprihatinan Panjang
Wakaf “Menjual” Dari Nol
Takmir Masjid Yayasan atau Perkumpulan?
Wakaf dan Endowment Fund, Sama atau Beda?
Perusahaan Yang Menolak Wakaf
Family Office dan Wakaf
Wakaf menanam pohon: Lily Endowment
Wakaf dan Dana Abadi Sebagai Investing Company ala Saratoga







