Uang Kasur Uang Kasir Pak Sis


Sebut saja PT DEF. Sebuah perusahaan makanan klien SNF Consulting, kantor konsultan dimana saya beraktivitas.  Sebagaimana perusahaan lain, setelah penandatanganan perjanjian menjadi klien, saya pun mengikuti rapat direksi rutin bulanan. Seperti biasa juga, rapat-rapat awal selalu bicara tentang arah masa depan perusahaan. Wajar karena memang yang saya ikuti adalah rapat direksi. Sesuai nama, direksi itu menentukan direction alias arah perusahaan. 

Pisahkan uang kasir dan uang kasur

Saya suka memicu visi besar klien pada saat rapat awal seperti ini. Saya sampaian tentang bagaimana sejarah tumbuh kembang perusahaan-perusahan yang kini menguasai pasar dunia. Memperhatikan milestone lengkap dengan aspek keuagannya. Menjadi benckmark proses tumbuh kembang perusahaan.

Puncaknya adalah menjadi apa yang disebut sebagai fully corporatized company. Korporasi sejati. Cirinya ada 3. Pertama menguasai pasar lebih dari 100 negara sehingga tahan terhadap risiko politik karena rata-rata omzet dari tiap negara tidak lebih dari 1%. Kedua tidak ada lagi pemegang saham pengendali sehingga semua dijalankan sesuai sistem. Tidak ada raja. Ketiga jika membutuhkan modal untuk ekspansi, investor mau diberi imbal hasil 2-3% per tahun. Perusahaan yang bukan hanya mejadi sekedar tempat mencari duit. Lebih dari itu, menjadi sarana membangun manfaat yang seluas-luasnya bagi sesama tanpa pandang sekat bangsa maupun agama. Menjadi sarana beribadah.

Setelah itu, rapat berikutnya adalah tentang sistem manajemen. Yang selalu menjadi bahasan dasar adalah sistem akuntansi. Nah, di poin ini PT DEF amburadul. Akuntan tidak pernah bisa membuat laporan yang memadai. Mengapa? Karena sang bos tidak bisa memisahkan antara uang pribadi dangan uang perusahaan. Uang perusahaan diambil untuk membeli banyak aset pribadi. Mustahil akuntan bisa bekerja.

Selamat jalan Pak Sis. Terima kasih atas segala kebaikanmu. Ridho Ilahi membersamaimu. Surga untukmu. Aamin yaa Rabb

Maka, agenda rapat bulan-bulan selanjutnya adalah perbaikan masalah dasar ini. Langkah-langkah menuju perubahan sudah diputuskan.  Siap dilaksanakan. Tetapi sayang, keputusan rapat selalu gagal dieksekusi karena sang bos tidak berubah. Uang pribadi dan uang perusahaan tetap camput. Singkat cerita, proses konsultasi pun berhenti. Tidak ada gunanya keputusan rapat sebagus apapun jika tidak ada eksekusi.

&&&

Ada uang kasur. Ada uang kasir. Untuk sukses, seorang pengusaha harus mampu memisahkan keduanya. Itu adalah nasihat super penting dari Almarhum Pak Marmin Siswoyo, saya memanggilnya Pak Sis. Sebuah bahasa yang sangat memudahkan siapa saja untuk menangkapnya.

Jika nasihat itu diterjemahkan secara operasional, maka PT DEF pada awal tulisan ini tidak akan menghentikan proses konsultasi. Konsultan bisa menjadi sparting partner tim direksi PT DEF untuk membangun sistem akuntansi yang akurat untuk pengambilan keputusan stratejik.

Tapi apa boleh buat. Terlalu berat untuk meninggalkan kebiasaan lama. Kebiasaan yang menghasilkan banyak aset properti pribadi dari hasil laba perusahaan. Perusahaan sekedar menjadi sapi perah. Tidak bisa tumbuh mengikuti corporate life cycle menjadi perusahaan sejati sebagaimana deskripsi di atas.

Jika nasihat Pak Sis ini dijalankan, itu akan menjadi pintu untuk melaksanakan nasihat Pak Sis berikutnya “Jika Anda memelihara ayam dan bertelur, jangan nikmati telur itu. Biarkan menetas menjadi banyak ayam”. Uang perusahaan adalah “telur” yang harus “menetas” untuk pertumbuhan eksponensial perusahaan. Seperti Pak Sis yang bisnis telur ayamnya juga tumbuh membesar.

Pembaca yang baik, ada uang kasir. Ada uang kasur. Pisahkan secara tegas. Demikian nasihat dahsyat mantan ketua PDM Kabupaten Blitar yang telah berpulang Nopember 2021 ini. Mari  kita praktikkan nasihat yang kerap disampaikan di berbagai kesempatan itu. Allahummarhamhu. Agar bisnis tumbuh menjadi korporasi sejati. Agar bisa meneladani kedermawanan Pak Sis yang luar biasa. Agar menjadi amal Jariyah. Aamin.

Bacaan-bacaan pemicu amal jariyah Anda
Wakaf Korporat
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal & Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Artikel ke-357 karya Iman Supriyono ini ditulis sebagai obituari untuk Pak Marmin Siswoyo, mantan ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Blitar. Tulisan ini juga dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Desember 2021

Bisnis PCR Pejabat: Hipokrisi Pengusaha Berpolitik


Terbongkarnya kasus para pejabat yang berbisnis PCR viral di jagat internet.  Netizen protes. Tidak layak bagi seorang pejabat berbisnis. Apalagi dalam suasana pandemi yang dampaknya sangat berat bagi masyarakat luas. Pendek kata, publik tidak suka pejabat  berbisnis.

Tapi banyak yang tidak menyadari bahwa pada fenomena protes itu terkandung hipokrisi. Hipokrit? Ya. Mari mundur ke belakang. Saat proses pemilihan presiden yang baru berlalu. Di kubu pemenang ada Pak Jokowi yang dikenal sebagai pengusaha meubel. Pentolan kampanyenya adalah Erick Thohir yang juga pengusaha ternama. Di kubu yang kalah ada Prabowo yang bisnisnya bernilai triliunan. Ada Sandiaga Uno yang idem.

Hampir 50% pemilih mendukung Prabowo Sandi. Lebih dari 50% pemilih mendukung Jokowi. Kedua kubu sama-sama mendukung masuknya pebisnis ke dunia politik. Dan politisi yang sukses dalam kontestasi politik akan menjadi pejabat. Bahkan yang kalah pun kemudian dirangkul dan menjadi pejabat juga.

Pertanyaannya, setelah menjadi pejabat publik, apakah merekah harus membuang bisnisnya? Tentu tidak mungkin. Bisnis akan terus berjalan.

Jangan hipokrit

Lalu, mengapa orang-orang pada protes saat para pejabat berbisnis? Mengapa protes terhadap pejabat yang berbisnis PCR? Bukankah itu konsekuensi logis dari masuknya para pebisnis pada kontestasi politik? Ingat, politik adalah pintu untuk menjadi pejabat publik. Mendukung pebisnis masuk politik sama dengan mendukung pejabat berbisnis. Di sinilah letak hipokrisinya. Coba renungkan diri Anda sendiri. Anda hipokrit tidak?

Kalau saya tidak begitu. Sejak awal menolak masuknya para pebisnis ke dunia politik. Juga menolak para pejabat berbisnis. Secara pribadi saya memilih dunia bisnis. Fokus di bisnis. Bertauhid bisnis “Aku berlindung kepada-Nya dari godaan syetan dan poltik”. Bukan karena politik jelek. Tetapi karena hidup itu pilihan.

Hidup itu pilihan. Jika memilih menjadi pebisnis, jadilah pebisnis yang sukses. Pebisnis yang membangun korporasi besar melampaui sekat-sekat negara. Membesarkan perusahaan yang didirikannya mencapai step kedelapan dalam corporate life cycle. Menjadi perusahaan yang mengibarkan merah putih di berbagai belahan dunia.

Jika memilih politik, jadilah politisi yang sukses. Seperti Bung Karno, Bung Hatta, Natsir, dan sebagainya. Yang menekuni perjuangan politik sejak mahasiswa.  Yang mempertaruhkan seluruh risiko hidupnya di politik. Yang tidak pernah punya interes bisnis.  Yang bisa mengambil keputusan negara tanpa confilct of interest. Menjadikan negeri ini jaya dalam percaturan berbagai bangsa melalui dunia politik.

Hidup itu pilihan.  Anda bagaimana? Masih mendukung pebisnis masuk dunia politik? Masih menolak pejabat berbisnis PCR? Hindari hipokrit!

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga tulisan lain tentang Investment Company:

Kemustahilan Jokowi: Bunga Bank 3% Tanpa Investment Banking
Pandemi dan Dekorporatisasi BUMN
Investment Company BUMN
Investment Company berbasis lembaga keagamaan
Peran Investment Company untuk kemerdekaan ekonomi
Korporatisasi butuh Investment Company

Artikel ke-356 karya Iman Supriyono ini ditulis pada tanggal 7 Nopember 2021 di kabin pesawat Airbus 320 dalam penerbangan Jakarta Surabaya

Aset Emas: Zakat Bagi Orang Pelit


Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat berkeluh kesah dan pelit. Ini adalah terjemahan Al Qur’an Surat ke 70 (Al Maarij) ayat ke-19. Dan adalah manusia itu sangat pelit. Yang ini adalah terjemahan surat ke 17 ayat ke 100. Jadi kalau Anda pelit, maka memang itulah salah satu sifat dasar manusia yang harus Anda kelola.

Mari bernarasi. Andai Anda memiliki uang untuk membeli emas 100 kg. Maka, setahun setelah emas itu Anda miliki, Anda harus membayar zakat 2,5% dari 100 kg emas. Membayar 2,5 kg emas. Maka, pada awal tahun kedua emas Anda tinggal 97,5kg. Akhir tahun kedua emas Anda mencapai haul lagi. Anda harus membayar lagi 2,5% dari 97 kg alias 2,44 kg emas. Dengan demikian pada awal tahun ketiga emas Anda tinggal 95,1 kg. Awal akhir tahun ketiga haul lagi dan emas Anda akan  berkurang lagi. Demikian seterusnya proses ini baru akan berhenti setelah emas Anda kurang dari 85 gram sebagai batas minimum (nishab) zakat emas.

Menyimpan harta berupa emas itu adalah sebuah kesalahan

Nah, manusia itu pada dasarnya kikir. Maka, tentu sanga Khaliq sangat paham itu. Oleh karena itu, dibuatlah cara yang baik agar Anda yang kikir tidak kehilangan harta seperti itu. Bagaimana caranya? Juallah emas Anda dan belikan lahan pertanian yang produktif. Maka, sejak itu lahan pertanian Anda yang nilainya setara dengan 100 kg emas itu tidak terkena zakat. Utuh. Anda bisa memuas-muaskan kekikiran Anda hahahahah.

Lalu apa tidak dosa? Tidak. Memang lahan pertanian tidak terkena zakat. Berapa pun nilai harta Anda.  Berapa pun luas lahan pertanian Anda. Anda hanya wajib berzakat atas hasil pertanian. Besarnya 5 atau 10% dari hasil panen. Dan itu sama sekali tidak mengurangi nilai harta Anda. Bahkan ketika lahan pertanian itu nilainya meningkat berkali kali lipat karena kenaikan nilainya sebagai sebuah aset properti.

Apa pesan di dalamnya? Ini adalah sejenis “kebijakan fiskal” dari Sang Khaliq. Tujuannya agar orang tidak mendiamkan hartanya. Agar orang mengalihkan aset diamnya menjadi aset produktif. Aset yang menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

Aturan itu dibuat saat kehidupan masih sangat tradisional. Kebutuhan umat manusia masih sangat sederhana. Belum butuh kuota data. Belum butuh mobil. Belum butuh pesawat terbang. Belum butuh frozen food. Belum butuh bandara. Belum butuh media sosial. Dan lain-lain.

Di era modern, lahan pertanian itu telah menjadi meluas menjadi korporasi-korporasi yang menghasilkan kuota data, mobil, pesawat, frozen food, dan berbagai kebutuhan umat manusia. Ekspansi “lahan pertanian” era modern itu artinya adalah korporasi-korporasi itu berekspansi dengan menambah aset pemicu pertumbuhan omzet dan laba alias RPD.

Maka, jika Anda ingin agar aset Anda tidak berkurang terus menurus, ubahlah aset Anda dari emas atau yang sejenis dengan emas menjadi modal korporasi-korporasi itu. caranya adalah masuk sebagai investor korporasi-korporasi itu saat mereka melakukan penerbitan saham. Baik di luar lantai bursa sebelum IPO. Atau IPO dan rights issue terus menerus setelah IPO. Maka, sejak itu aset Anda berupa saham utuh. Persis seperti lahan pertanian. Anda hanya wajib membayar 10% dari hasilnya. Membayar 10% dari dividen yang Anda terima.

Harta tanda tidak berkurang. Anda senang. Tapi bukan hanya Anda yang senang. Kaum duafa juga akan makin senang. Karena dividen perusahaan akan terus  tumbuh seiring pertumbuhan laba perusahaan. ROI Anda akan tumbuh bisa sampai ribuan persen. Demikian juga hak kaum duafa juga akan tumbuh bahkan sampai ribuan persen. Anda tersenyum. Kaum duafa pun tersenyum.

Ada lagi yang lebih penting. Ada tujuan yang lebih stratejik dari “kebijakan fiskal” ala Sang Khaliq ini. yaitu……agar ekonomi tumbuh. Agar aset Anda bermanfaat bagi sesama. Agar negeri ini menang dalam persaingan dengan bangsa lain. Persaingan yang ujung tombaknya adalah korporasi yang melakukan proses korporatisasi. Anda siap?

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga….

Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Artikel ke-355 karya Iman Supriyono ini ditulis di Bandara Depati Amir Pangkalpinang pada tanggal 5 Nopember 2021

Pemerintah Yang Menenggelamkan Rumah Rakyatnya


Pagi tadi saya ada agenda meeting klien kantor saya, SNF Consulting. Lokasi meeting berada di kawasan Sedati, Sidoarjo. Meeting dijadwalkan dimulai jam 9 pagi. Tepat waktu adalah corporate culuture SNF Consulting. Maka, karena ada informasi adanya proyek perbaikan jalan di kawasan Sedati, saya sudah mempersiapkan berangkat 75 menit sebelum acara dimulai. Waktu yang sudah saya cek berdasarkan perkiraan Google Map. Itu pun sudah saya lebihi. Perjalanan normal hanya butuh waktu sekitar 45 menit.

Malang. Ternyata terjadi kemacetan luar biasa. Jam 09.27 saya baru tiba di kantor klien. Saya amati, penyebabnya adalah para pengendara motor yang cenderung tidak mau antri dengan baik. Saling serobot. Mendahului kendaraan  lain menggunakan ruang yang mestinya untuk kendaraan arah sebaliknya. Jadilah macet parah.

Sepanjang menunggu jalan macet di belakang kemudi, pikiran saya tertuju pada proyek yang memacetkan itu. Sebuah proyek pembetonan jalan. Sebagai orang yang pernah mengemnyam pendidikan insinyur, ada sesuatu yang mengganjal dari proyek itu. Pengecoran dilakukan dengan meninggikan badan jalan sekitar 30-40 cm. Selokan di kiri kanan jalan pun mengikuti. Tinggi bibir selokan sama dengan ketinggian jalan.

Maka, seluruh rumah di kiri kanan jalan menjadi lebih rendah dari badan jalan. Juga lebih rendah dari selokan. Maka, mereka mau tidak mau harus ikut meninggikan lantai rumah lebih tinggi dari badan jalan baru. Jika tidak rumah mereka akan kebanjiran saat musim penghujan. Praktis kira-kira harus meninggikan lantai rumah sekitar setengah meter.

Saya cek di Google Map, panjang ruas jalan yang dicor dengan proyek tersebut adalah sekitar 4,3 km. Jika persil di kiri kanan jalan rata-rata lebarnya adalah 10 meter, maka akan ada 860 rumah terdampak langsung. Belum yang berada di belakang yang terdampak langsung tersebut.

Masih ada dampak yang tidak ternilai. Di ruas jalan ada beberapa masjid yang secara fisik bangunannya berusia sudah tua. Sudah memiliki nilai sejarah. Dengan peninggian badan jalan, masjid pun jadi tenggelam. Untuk menanggulanginya masjid harus direhab total. Bangunan lama dihancurkan diganti dengan bangunan baru. Maka, nilai kesejarahan masjid akan hilang.

Pemerintah tidak boleh mengambil kebijakan yang merugikan rakyat banyak.

Coba kita hitung, jika satu rumah harus mengeluarkan dana Rp 200 juta untuk meninggikan rumah, untuk 860 rumah tersebut dibutuhkan dana Rp 172 miliar. Besar sekali. Bandingkan misalnya dengan anggaran untuk peningkatan seluruh jalan di kabupaten Sidoarjo tahun 2019 hanya 150 miliar. Biaya yang harus ditanggung masyarakat terdampak jauh lebih besar dari pada anggaran pemerintah. Pertanyaannya, apakah dampak seperti itu tidak dipikirkan? Apakah tidak ada analisis AMDAL?

Hal serupa pernah saya amati terjadi pada rumah pahlawan HOS Cokroaminoto yang berada di jalan Ngagel Jaya, Surabaya. Rumah pahlawan itu kini tenggelam oleh jalan Ngagel Jaya yang terus menerus ditinggikan.

Rumah saya sendiri pun terdampak hal serupa. Saya sudah protes ke pemkot Surabaya saat proyek berjalan. Sudah menulis surat ke walikota sebagaimana yang disarankan oleh staf di pemkot. Tapi proyek tetap saja berjalan dan rumah saya bernasib seperti rumah HOS Cokroaminoto.  Untungnya beberapa tahun belakangan ini pemerintah kota surabaya sudah mengoreksi kebijakan peninggian jalannya. Jadi rumah pahlawan itu tidak makin tenggelam. Moga rumah saya juga tidak makin tenggelam.

Dulu perbaikan aspal jalan dilakukan dengan menumpuki aspal yang rusak dengan lapisan aspal baru di atasnya. Otomatis badan jalan akan terus-menerus meninggi. Menenggelamkan bangunan di kiri kanan jalan. Kini cara itu dikoreksi. Perbaikan lapisan aspal jalan dilakukan dengan mengerok lapisan aspal yang rusak dengan mesin khusus.  Setelah itu baru diganti dengan lapisan aspal baru. Ketinggian jalan tidak berubah dengan perbaikan jalan. Jalan yang langganan banjir diatasi dengan memperdalam selokan di kiri kannnya menjadi sekitar 2 meter. Bukan dengan meninggikan badan jalan. Sebuah koreksi yang bagus walaupun sudah terlambat.

&&&

Anda pengambil keputusan proyek jalan? Ayo peduli terhadap nasib rakyat terdampak. Pedulikan bangunan-bangunan bersejarah terdampak. Biaya yang ditanggung rakyat terdampak bahkan lebih besar dari pada anggaran pemerintah untuk peninggian jalan itu. Andai proyek yang sudah jadi itu dikoreksi dengan pembongkaran dan mengembalikan ketinggian badan jalan seperti sedia kala, itu akan lebih baik. Biaya koreksi masih jauh lebih murah dibanding biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat terdampak. Apalagi dampak terhadap gedung bersejarah. Nilainya tidak terhitung. Mari kembali pada hati nurani. Agar tidak ada lagi pemerintah yang menenggelamkan rumah rakyatnya. Aamin.

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga tulisan lain tentang Investment Company:

Kemustahilan Jokowi: Bunga Bank 3% Tanpa Investment Banking
Pandemi dan Dekorporatisasi BUMN
Investment Company BUMN
Investment Company berbasis lembaga keagamaan
Peran Investment Company untuk kemerdekaan ekonomi
Korporatisasi butuh Investment Company

Artikel ke-354 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya pada tanggal 30 Oktober 2021

Konflik Waris: Solusi Investment Company


Lama saya tidak mendengar kabar orang ini. Sekali mendengar adalah berita duka. Innalillah. Orang yang bisnisnya menjadi langganan saya lebih dari 30 tahun ini telah berpulang. Allahummarhamhu. Semoga Allah mengampuni dosanya dan menempatkannya ditempat yang mulia. Aamin.

Berita duka itu ternyata masih berlanjut. Sumber informasi yang bisa saya percaya ini juga mengabarkan bahwa anak-anak orang itu kini sedang bertengkar. Memperebutkan puluhan properti warisan. Naudzubillah.

Padalah bisnis orang ini adalah bisnis yang mulia. Bisnis yang jika saya ceritakan bidangnya saja Anda akan langsung bisa tahu siapa orang ini. Maka saya sengaja tidak menceritakan itu. Saya hanya ingin mengajak Anda para pembaca mengambil pelajaran penting.

Anda keluarga kaya? Kelola dengan baik harta keluarga sehingga meminimalisir risiko konflik ahli waris di kemudian hari

Pelajaran apa itu? Pelajaran tentang bagaimana mengelola harta keluarga supaya ketika ditinggal mati anak cucu tidak bertengkar. Beberapa waktu lalu saya berdiskusi dengan seorang notaris senior di Surabaya. Diskusi tentang mengapa banyak toko-toko terbengkalai sampai rusak di kawasan jalan Tunjungan Surabaya. Padahal itu adalah segi tiga emas. Ternyata jawabnya menarik. Bangunan itu dibiarkan rusak karena ada sengketa antara para ahli waris.

Pembaca yang baik, ada dilema menarik. Seseorang mati meninggalkan anak-anak yang miskin berkekurangan salah. Tetapi orang mati meninggalkan warisan yang banyak juga bisa menjadi bahan pertengkaran. Bahkan pembunuhan. Salah juga.

Lalu bagaimana mengatasinya? Kita bisa belajar dari keluarga-keluarga kaya di barat. Jika kita buka daftar pemegang saham perusahaan-perusahaan besar di barat, kita akan menjumpai nama-nama investment company yang banyak. Ada yang besar dengan nama sangat tenar seperti Blackrock, State Street, Fidelity dan sebagainya.  Blackrock asetnya USD 8,3 triliun. Tentu sangat kesohor di dunia bisnis. Tapi tidak sedikit nama-nama yang tidak terkenal.

Menariknya adalah, hampir tidak ada nama orang pada daftar pemegang saham itu. Selalu yang muncul adalah nama perusahaan. Pelajaran apa ini? Jika kita telusuri lebih dalam, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa aset pribadi orang-orang kaya di barat adalah berupa saham perusahaan-perusahaan investasi.

Apa manfaatnya? Gambarannya begini. Misalkan ada si A orang kaya. Meninggal dengan mewariskan 20 persil properti berupa tanah dan bangunan berbagai ukuran. Si A memiliki ahli waris 4 orang yaitu si B, C, D, dan E. Dengan cara tradisional, maka 20 persil tanah dan bangunan itu harus dibagi sesuai hukum waris yang diyakini ahli waris. Karena ukuran dan kualitas properti berbeda, maka tentu  tidak bisa langsung 20 persil dibagi empat. Harus disepakati nilai dari masing-masing properti. Lalu dibagi empat ahli waris.

Di sini muncul potensi konflik yang luar biasa. Sumbernya adalah penilaian atas properti itu, bagaimana membaginya, siapa mendapatkan properti mana, siapa yang harus membayar kelebihan atas properti yang diterimanya kepada ahli waris lain. Dan masih banyak lagi. Wajar jika akhirnya terjadi konflik. Jika nanti ketika si B, C,D dan E itu meninggal. Akan terjadi masalah serupa kepada ahli waris mereka.

Belum lagi membicarakan masalah biaya. Balik nama dari si A kepada B, C, D, dan E membutuhkan biaya. Besarnya sekitar 10% dari nilai properti. Belum tentu mereka punya uang untuk itu. Akhirnya balik nama ditunda. Bisa jadi sampai B,C,D,E mati balik nama belum dilakukan. Rumit. Bahan kalaupun balik nama dari A ke  B,C,D,E sudah terjadi, masalah belum selesai. Saat B,C,D,E meninggal harus dilakukan balik nama lagi ke ahli waris mereka. Butuh biaya lagi. Makin rumit.

Nah, investment company alias IC adalah solusinya. Bagaimana caranya? Si A mesti mendirikan IC. Seluruh aset dimasukkan sebagai modal setor kepada IC tersebut. Lalu IC dikelola sebagaimana layaknya sebuah IC modern. Harta si A adalah sekian ribu lembar saham di IC tersebut.

Saat si A meninggal, bagi waris dilakukan dengan membagi lembar saham milik si A kepada B, C, D, dan E. Tidak ada biaya balik nama seperti balik nama properti. Tidak ada perbedaan nilai antar lembar saham. Dengan demikian pembagiannya juga sederhana. Cukup melalui RUPS IC itu dengan disaksikan notaris. Simple. Murah. Aman dari konflik. Dan yang lebih penting, akan mendorong pertumbuhan perusahaan operating company tumbuh melalui korporatisasi. Seperti perusahaan-perusahaan barat yang produknya mememberi manfaat untuk umat manusia berbagai bangsa. Tumbuh memberi manfaat untuk sesama dari generasi ke generasi. Menjadi salah satui pilar dari enam pilar kekuatan ekonomi umat dan bangsa. Mendorong negeri ini menjadi bangsa investor. Keluarga Anda bisa!

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga tulisan lain tentang Investment Company:
Investment company apa dan bagaiana membuatnya
Investing company versus operating company
Investment Company BUMN
Investment Company berbasis lembaga keagamaan
Peran Investment Company untuk kemerdekaan ekonomi
Korporatisasi butuh Investment Company

Artikel ke-353 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk dan juga dimuat oleh majalah Matan edisi Nopember 2021

Bentoel Delisting Saat Marak IPO, Mengapa?


RUPS luar biasa Bentoel Internasional Investama Tbk. tanggal 28 September 2021 menyetujui rencana delisting dari Bursa Efek Indonesia. Banyak yang bertanya. Mengapa kebijakan delisting ini diambil di tengah maraknya perusahaan-perusahaan lain melakukan IPO? Tidak salahkah aksi korporasi ini? Mari kita cermati.

Penerbitan saham secara terus menerus baik di luar lantai bursa maupun melalui lantai bursa adalah proses yang harus dilalui sebuah perusahaan untuk menapaki delapan step corporate life cycle (CLC) menjadi sebuah fully corporatized company.  IPO adalah langkah awal penerbitan saham di lantai bursa. Setelah itu mesti dikuti right issue terus menerus membangun model gergaji korporatisasi

Bentoel yang beraset Rp 10,7 triliun itu sudah melakukan IPO tahun tahun 1990. Tapi memperhatikan laporan keuangannya, sebelum diakuisisi oleh BAT Bentoel tidak melakukan proses korporatisasi secara terus menerus. Sesuatu yang umum terjadi pada perusahaan di Indonesia menjadikan IPO sebagai tujuan akhir. Padahal mestinya IPO adalah awal dari proses korporatisasi lantai bursa.

Tahun 2009, perusahaan yang berdiri tahun 1930 ini diakuisisi oleh British American Tobbaco (BAT). Dengan akuisisi tersebut BAT menjadi pemegang saham 92,48%. Dengan demikian, status Bentoel adalah anak perusahaan (subsidiary) bagai BAT. Atau, BAT adalah induk perusahaan (parent) bagi Bentoel

Subsidiary adalah bagian tak terpisahkan dari parent. Direksi pada subsidiary pada dasarnya adalah manajer dari parent. Pindah, promosi atau pemberhentian manajer cukup dengan tanda tangan CEO induk.   Tapi hal ini tidak bisa bisa dilakukan ketika si subsidiary adalah perusahaan listed. Ada mekanisme lantai bursa yang tidak sederhana harus diikuti sehingga si manajer tidak dengan mudah bisa dipindah sesuai dengan strategi perusahaan.

Dengan demikian membiarkan subsidiary tetap listed adalah menghambat proses manajemen internal si parent. Oleh karena itu, sudah tepat apabila Bentoel melakukan delisted. Bahkan tidak masalah ketika parent harus melakukannya dengan harga mahal. Membeli saham yang dipegang publik melalui tender offer dengan harga jauh di atas harga pasar. BAT melakukan ini dengan harga sekitar 2x harga pasar.

Lalu jika Bentoel membutuhkan dana ekspansi, dari mana sumbernya? Tentu dari sang Induk. Saat ini misalnya, market value BAT adalah USD 58,61 miliar alias Rp 836 triliun. Menerbitkan saham 10% saja sudah menghasilkan dana sekitar Rp 84 triliun. Tidak perlu susah payaah menerbitkan saham kecil-kecil melalui  subsidiry yang tersebar di berbagai negara termasuk Bentoel. Market value Bentoel misalnya hanya Rp 11 triliun. Terlalu kecil BAT untuk menjadi sarana mencari uang melalui rights issue Bentoel.

Tidak hanya Bentoel. Aqua begitu diakuisisi oleh Danone juga melakukan hal serupa. Sarihusada juga delisted setelah diakuisisi oleh Nutricia. Bahkan tidak hanya di Indonesia. Mounth Elizabeth Hospital Singapura juga cabut dari lantai bursa Singapura begitu diakuisisi oleh IHH, sebuah perusahaan rumah sakit multinasional berpusat di Kuala Lumpur.

Delisting adalah keniscayaan bagi sebuah subsidiary company

Mungkin Anda bertanya, bagaimana ketika BUMN banyak melakukan IPO anak perusahaannya? Itu adalah kesalahan stratejik. Tapi karena mindset korporatisasi di negeri ini sangat lemah, aksi korporasi itu dianggap benar. Jika kesalahan ini tidak diperbaiki, jangan heran jika pasar negeri ini akan makin dikuasai asing. Salah satunya melalui akuisisi seperti yang dilakukan oleh BAT itu. Banyak diantara kita bangga menyebutnya investasi asing. Bahkan pemerintah ini selalu punya menteri atau pejabat setingkat menteri untuk mendorong investasi seperti ini. Mestinya sebaliknya, kita harus punya menteri yang mengurusi ekspansi perusahaan-perusahaan lokal di luar negeri dengan mengikut CLC. Menjadi bangsa investor.  Bagaimana pendapat Anda?

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga
Glorifikasi IPO Kioson
IPO Bukalapak Prospektif atau Buang Uang
Kepailitan Startup OFO Bike Hiring
Tesla Laba Setelah 16 Tahun Rugi
Corporate Life Cycle dalam Merger GoTo
Valuasi Merger Gojek Tokopedia
Sequoia VC Sejati


Artikel ke-352 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya pada tanggal 5 Oktober 2021

Rebranding Jangan Sembarangan


“Malang benar nasibku. Tiga dari empat almamaterku telah tiada. Dulu aku sekolah di SMP Negeri 1 Caruban. Kini tidak ada lagi nama sekolah itu. Kemudian saya melanjutkan belajar di SMA Negeri 1 Caruban. Kini, nama sekolah itu pun telah menghilang. Lalu saya melanjutkan pendidikan tinggi di IKIP Surbaya. Dan malang sekali, kini nama itu juga telah dihapus dari daftar perguruan tinggi milik pemerintah”

Rebranding: Jangan sembarangan…….

Itulah celoteh seorang adik saya saat kumpul-kumpul lima bersaudara. Memang betul. Tiga nama lembaga pendidikan tersebut telah hilang. Bukan karena bubar. Tetapi karena namanya telah diganti. SMP Negeri 1 CAruban, almamater saya juga, telah diubah namanya menjadi SMP Negeri 1 Mejayan. SMA Negeri 1 Caruban, tempat saya belajar juga, telah diganti namanya menjadi SMA Negeri 1 Mejayan. Dan terakhir, IKIP Surabaya, almamater kakak sulung saya juga, telah diganti menjadi UNESA alias Universitas Negeri Surabaya. Telah melakukan rebranding.

&&&

Adalah Ivan Petrovich Pavlov. Psikolog kelahiran Kerajaan Rusia tahun 1849 ini dikenal sebagai pencetus konsep classical conditioning. Sebuah teori yang penting sekali dalam dunia marketing. Sejak dicetuskannya. Sampai sekarang.

Pavlov meneliti anjing. Sekelompok anjing dipasangi alat pengukur kondisi air liur di mulutnya. Setelah itu kepada anjing-anjing tersebut diberikan makanan tertentu. Setiap memberi makanan, diperdengarkan juga suara bel tertentu. Sambil diberi makanan, dicatat pula alat ukur air liur di mulutnya. Pemberian makanan bersamaan dengan bel tersebut diluang-ulang terus.  Sambil terus dicatat kondisi air liurnya.

Setelah pemberian makanan bersamaan dengan suara bel dilakukan, selanjutnya Pavlov hanya membunyikan bel. Tanpa memberikan makanan. Sambil tetap diamati air liurnya. Dan kesimpulannya, kondisi air liur saat dibunyikan bel tanpa makanan sama dengan saat dibunyikan bel dengan makanan.

&&&

Penelitian Pavlov sangat relevan di era marketing modern. Era di mana konsumen mejadi sanggat percaya kepada merek alias brand. Produk bermerek perlahan tapi pasti menggeser yang tidak bermerek. Para ibu yang dulu memasak dengan santan tanpa merek kini tergantung pada Kara. Ibu saya yang dulu minum kopi tanpa merek kini minum Torabika. Tetangga desa saya yang dulu merokok tanpa merek kini menikmati Gudang Garam. Dan masih banyak lagi.

Santan kelapa analog dengan makanan anjing pada penelitian Pavlov. Kara analog dengan suara bel. Santan dan Kara adalah dua hal yang berbeda dan tidak ada hubungan. Seperti juga makanan anjing dengan bel yang juga tidak ada hubungan. Tetapi karena terus menerus-dipasangkan terjadilah proses pengondisian. Anjing pun mengasosiasikan bahwa bel itu identik dengan makanan. Para ibu pun mengalami pengondisian. Santan kelapa itu identik dengan Kara.

Ada dua hal penting dalam konsep karya penerima hadiah Nobel tersebut. Pertama adalah produk yang standar. Tidak berubah dalam karakteristiknya dengan pengulangan yang panjang. Kedua adalah merek yang tetap. Tidak berubah karakternya dalam pengulangan yang panjang juga. Makin banyak diulang makin kuat. Makin panjang waktu pengulangannya akan makin kuatlah posisi merek di benak konsumen.

&&&

Memperhatikan pentingnya frekuensi dan waktu pengulangan dalam penguatan merek, rebranding adalah sebuah kerugian. Begitu rebranding dilakukan, semua proses conditioning yang telah dilakukan bertahun-tahun terputus. Berganti menjadi merek baru. Apa yang dirasakan adik tentang kehilangan nama almamater itu juga saya rasakan. Benak saya tetap mengatakan bahwa saya adalah alumni SMA Negeri 1 CAruban. Bukan alumni SMA 1 Mejayan. 

Maka, jangan sembarangan melakukan rebranding. Jika memang benar-benar dibutuhkan, pastikan bahwa manfaat dari rebranding itu jauh lebih besar dari pada kerugian proses classical conditioning yang telah dilakukan puluhan tahun. Ingat bahwa brand adalah bagian penting dari Revenue and Prifit Driver alias RPD dan intangible asset perusahaan. Pastikan juga nama barunya belum pernah dipakai pihak lain. Hormati mereka yang sudah memakainya terlebih dulu. Hindari konflik yang memaksa rebranding ulang.

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga
RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
RPD Sebagai Pedal Gas
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle
Faktor kali alias RPD

Artikel ke-351 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk Majalah Matan edisi Oktober 2021, terbit di Surabaya, dengan sedikit pengeditan.

Funneling Marketing: Corong RPD


Ada milyaran orang di dunia ini. Ada lebih dari 250 juta orang di Indonesia. Bagi Anda para pemasar, pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah siapa saja yang akan Anda jadikan target pasar dari milyaran atau jutaan umat manusia itu. Maka Anda para pemasar harus melakukan proses segmentasi. Membagi pasar yang luas menurut variabel-variabel yang Anda pilih. Inilah tugas pertama para pemasar.

Variabel umur misalnya ada orang tua, orang dewasa, remaja, anak-anak, dan bayi. Mana yang Anda segmen yang Anda pilih dari mereka? Variabel jenis kelamin misalnya ada laki-laki ada perempuan. Segmen mana yang Anda pilih? Variabel status perkawinan misalnya ada yang orang yang menikah ada yang belum atau tidak menikah. Mana yang Anda pilih? Masih banyak lagi variabel. Anda harus memilih variabel yang menjadi dasar segmentasi dan kemudian memilih segmen atau segmen-segmen dari variabel itu untuk dijadikan target pasar.  Contoh hasil proses ini misalnya Anda memilih segmen perempuan dan menikah yang tingal di wilayah pulau Jawa misalnya untuk memasarkan sebuah produk.

Nah, pada target segmen yang telah dipilih, masih banyak sekali orang yang masuk di dalamnya. Jutaan orang. Dan yang menarik, pada jaman sekarang ini, hampir bisa dipastikan semua dari jutaan orang itu terkoneksi dengan internet. Semua memiliki nomor telepon seluler yang terkoneksi internet.

Maka, tugas kedua adalah mendapatkan nomor seluler dari orang yang masuk pada segmen yang Anda targetkan. Bagaimana caranya? Di sini lah dibutuhkan ketrampilan para pemasar untuk mendayagunakan internet sebagai sarana.

Ada cara berbayar ada cara gratis. Untuk sebuah perusahan, cara berbayar sangat direkomendasikan. Caranya dengan menggunakan berbagai metode iklan internet. Iklan di media sosial misalnya. Mengapa berbayar? Dengan cara berbayar, Anda para  pemasar bisa memiliki ukuran kinerja historis yang bersifat finansial. Akan muncul angka berapa rupiah biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu nomor kontak. Katakan Rp 5 ribu per nomor kontak. Pengalaman panjang akan menjadikan biaya per nomor kontak ini makin akurat.

Dengan biaya Rp 5 ribu per nomor kontak misalnya, Anda sudah bisa menghitung berapa biaya iklan yang dibutuhkan sesuai dengan target. Katakan, untuk satu bulan dibutuhkan 100 ribu nomor kontak maka dibutuhkan anggaran iklan Rp 500 juta. Gelontorkan Rp 500 juta dan 10 ribu nomor akan berada di tangan Anda bulan ini.

Setelah mendapatkan nomor kontak sesuai target segmen, tugas ketiga dari pemasar adalah menindaklanjuti setiap nomor itu satu demi satu. Menghubungi satu demi satu. Tentu saja dibutuhkan jumlah personel yang cukup untuk melakukannya. Katakan misalnya satu personel bisa memegang 100 nomor kontak sehari. Jika sebulan bekerja 25 hari maka tiap personel akan mampu memegang 2500 nomor per bulan. Dengan demikian untuk memproses 10 ribu nomor dibutuhkan 4 personel.

Pendaftaran kelas RPD http://www.klikwa.net/snfconsulting

Kinerja tugas ketiga ini bisa diukur dengan rasio konversi. Katakan tiap 100 orang yang dihubungi  akan menghasilkan 20 orang melakukan pembelian. Maka rasio konversinya adalah 20%. Dengan ini Anda bisa mengukur bahwa dari 10 ribu nomor kontak akan mendapatkan 2000 pembeli. Dengan demikian biaya untuk tiap pembeli adalah Rp 500 juta dibagi 2000 pembeli. Hasilnya Rp 250 ribu untuk tiap pembeli. Anda sudah bisa menghitung biaya marketing dengan akurasi tinggi.

&&&

Tiga langkah di atas adalah gambaran sederhana dari apa yang disebut sebagai funneling marketing. Corong pemasaran. Disebut corong karena sifatnya memang seperti corong. Di bagian atas diameternya besar makin ke bawah makin mengecil.  Yang paling bawah diameternya paling kecil. Jika Anda pernah membaca tulisan-tulisan saya tentang revenue and profit driver (RPD), corong ini adalah salah satu alat Anda untuk menemukan dan memperbaiki RPD. RPD adalah faktor kali sebuah bisnis. Bagi sebuah perusahaan resto misalnya, RPD-nya adalah gerai. Membangun gerai baru adalah cara untuk mengalikan omzet dan laba perusahaan. Gerai adalah faktor kali. Ketika membangun gerai baru, funneling marketing akan menjadi alat untuk menghitung berapa biaya marketing yang dibutuhkan dengan akurat. Apa RPD perusahaan Anda? Bagaimana funneling marketingnya? Anda sudah mempraktekkan

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga
RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
RPD Sebagai Pedal Gas
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle
Faktor kali alias RPD

Artikel ke-350 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk Majalah Matan edisi September 2021, terbit di Surabaya

Bank Jago Melangit: Karena Kinerja?


Bagaimana bisa nilainya naik fantastis? Kenaikan itu hasil gorengan para bandar atau memang sesuai kondisi perusahaan? Apakah Bank Jago berkarakter seperti perusahaan startup? Apakah bank Jago sukses menghadapi disrupsi? Ini adalah beberapa pertanyaan menarik. Saya akan menjawabnya dalam bentuk poin-poin.

Kelas Korporatisasi: Info dan pendaftaran http://www.klikwa.net/snfconsulting
  1. Sejak dulu kala, bank memiliki 2 segmen pendapatan. Segmen pertama adalah interest based income. Pendapatan ini berfilosofi menyemai. Seeding. Bank mendanai para pelaku bisnis untuk pertumbuhan mereka. Para pelaku bisnis menggunakan dana itu untuk scale up dengan melakukan copy paste terhadap RPD nya.  Bank konvensional mendapatkan pendapatan bunga atas dana tersebut. Bank syariah mendapatkan bagi hasil atau margin dari pendanaan tersebut. Para nasabah berkewajiban mengembalikan dana beserta bunga atau bagi hasilnya sesuai kesepakatan.
  2. Menurut saya, segmen pertama ini tidak akan terkena disrupsi. Mengapa? Dalam hal ini bank adalah perantara antara dua pihak yaitu masyarakat yang memiliki idle money jangka pendek dan para pelaku bisnis yang butuh scale up dengan membangun gergaji korporatisasi. Idle money jangka pendek misalnya adalah uang yang sudah disiapkan oleh orang uta untuk pendaftaran sekolah putra putrinya tahu depan. Masyarakat tidak mungkin disimpan di bawah bantal. Sementara perusahaan yang butuh dana untuk scale up juga tidak bisa langsung meminjam kepada masyarakat luas. Terlalu ribet. Jadi fungsi finansial intermediary ini tetap akan berjalan dengan kondisi apapun. Termasuk bank syariah. Yang berubah nanti hanya teknis pelayannya saja yang mungkin akan makin banyak berbasis digital.
  3. Segmen kedua adalah fee based income. Disebut juga non iterest based income. Bank memberi layanan kepada customer. Atas layanan itu bank mengenakan fee tertentu. Contoh layanan yang menjadi sumber fee based income bank misalnya adalah tranfer antar bank, biaya administrasi bulanan, pembayaran listrik, air, cicilan leasing, pulsa, paket data dan sebagainya. Segmen kedua ini juga tidak akan terdisrupsi. Justru akan makin berkembang dengan berkembangnya uang digital. Hanya saja model pelayanannya akan makin berbasis digital.
  4. Mari kita lihat bagaimana Jago dalam dua segmen pendapatan itu. Laporan keuangan semester pertama 2021 Jago melaporkan pendapatan bunga Rp 160 miliar.  Naik dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 41 miliar.  Dilihat dari profil neracanya, posisi kredit yang diberikan kepada pihak ketiga adalah Rp 1,92 triliun. Kredit kepada pihak berelasi Rp 250 miliar. Angka kredit kepada pihak ketiga hanya 19% dari total aset yang Rp 10,09 triliun. Jadi tidak sampai 1/5 yang produktif untuk mengatrol pendapatan seeding ini.  Memang angkanya meningkat 4 kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Tapi masih terlalu kecil untuk dikatakan bahwa Jago serius dalam memperoleh segmen pendapatan yang menjadi gacoan semua bank di negeri ini.
  5. Ketidakseriusan dalam interest based income juga bisa dibaca dari masuknya tabungan, deposito dan giro. Total hanya Rp 1,20 triliun. Padahal dengan ekuitas Rp 8,12 triliun dan aturan CAR yang ada, mestinya Jago berpotensi untuk menerima dana Rp 67 triliun dari akun ini. Jelas sekali betapa Jago membiarkan potensi pendapatan besar di segmen interest income berlalu begitu saja.
  6. Pada umumnya sebuah perbankan, revenue and profit driver (RPD)-nya adalah modal inti dalam istilah OJK. Nilai angkanya hampir sama dengan ekuitas. Tambahan ekuitas bagi sebuah bank adalah seperti tambahan gerai pada sebuah perusahaan resto. Pada perusahaan resto yang bagus, tambahan gerai akan langsung meningkatkan pendapatan dan laba dengan risiko kegagalan yang rendah. Inilah RPD. Pada perusahaan perbankan yang bagus pada umumnya, setiap tambahan modal inti akan langsung memicu peningkatan dana pihak ketiga yang ujung ujungnya adalah peningkatan pendapatan dan laba dengan tingkat kegagalan rendah. Itulah RPD bank. Jika tingkat kegagalan perusahaan resto adalah rugi dan tutupnya gerai, kegagalan pada perusahaan perbankan adalah NPL atau NPF pada bank syariah. Jika RPD adalah ibarat pedal gas, maka NPL adalah ibarat pedal rem. CEO bisa tancap gas sesukanya dengan catatan NPL nya aman. Tancap gas dengan rem pakem. Tapi hal ini tidak dilakukan oleh Jago.
  7. Mungkin hal tersebut adalah disengaja sesuai dengan konsep bank digital yang diusungnya. Mari kita lihat dari segmen fee based income. Ada pendapatan administrasi pinjaman Rp 2,45 miliar dan pendapatan administrasi dana pihak ketiga Rp 147 juta, dan pendapatan lain-lain Rp 175 juta. Ternyata juga kecil sekali. Tidak signifikan dibanding pendapatan bunga. Artinya, konsep bank digital yang usungnya juga belum tercermin dari kinerja keuangan semester pertama tahun 2021 ini
  8. Sebagai gambaran, bank yang dikenal piawai dalam fee based income adalah BCA. Semester pertama 2021 ini BCA membukukan non interest income Rp 10,60 triliun. Angka itu adalah 1/3 dari pendapatan bunga yang Rp 32,96. Angka non interest income BCA sudah cukup untuk menanggung seluruh beban karyawan yang sebesar Rp 6,98 triliun. Angka non interest income juga sudah lebih dari cukup untuk menanggulangi beban penyisihan kerugian penurunan nilai aset Rp 6,55 triliun. Artinya, risiko yang muncul dari kredit yang disalurkan oleh BCA sudah terlindungi oleh pendapatan non bunga.
  9. Perbandingan dengan BCA ini menunjukkan bahwa konsep bank digital yang diusung Jago juga belum jalan di lapangan. Maka, suntikan modal besar yang kini belum terdayagunakan bisa dipandang bahwa Jago adalah seperti sebuah perusahaan startup. Masih sedang mencari bentuk. Sedang mencari RPD yang tepat. Mencari model bisnis.
  10. Gelontoran modal dari menguangkan intangible asset sungguh luar biasa. Modal disetornya Rp 1,38 triliun. Kecil sekali dibanding agio sahamnya yang Rp 7,10 triliun. Agio saham adalah cara perusahaan menguangkan intangible asset melalui penerbitan saham baru dengan harga jauh lebih besar dari nilai nominal.  Memperhatikan nilai pasar saat ini yang sebesar Rp 219,48 triliun, berarti nilai intangible asset yang diakui oleh para investor adalah Rp 211,36 triliun. Andai saat ini Jago butuh tambahan modal lagi dan menerbitkan 10% saham baru dan dijual pada harga pasar, akan dihasilkan uang sekitar Rp 21,95 triliun. Luar biasa kekuatan modalnya.  Tetapi sayang belum diikuti dengan mendayagunakan kekuatan tersebut untuk scale up dengan melakukan copy paste  RPD. Saat ini sedang dalam proses menemukannya. Kita lihat saja apa yang dilakukan Jago setelah ini.

Kembali pada pertanyaan di awal tulisan ini, Anda sudah bisa menjawabnya sendiri kan? Untuk lebih detail, ikuti acara Bincang Santai Korporasi berikut ini

Bincang Santai Korporasi, Kamis malam, gratis dari SNF Consulting. Daftar http://www.klikwa.net/snfconsulting

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Klik untuk cek jadwal terdekat Kelas Korporatisasi

Baca Juga
Glorifikasi IPO Kioson
IPO Bukalapak Prospektif atau Buang Uang
Kepailitan Startup OFO Bike Hiring
Tesla Laba Setelah 16 Tahun Rugi
Corporate Life Cycle dalam Merger GoTo
Valuasi Merger Gojek Tokopedia
Sequoia VC Sejati

Artikel ke-349 karya Iman Supriyono ini ditulis di rumahnya di Surabaya pada tanggal 11 Agustur 2021

ARA ARB Bukalapak: Anda Penjudi atau Investor?


Hari pertama ditransaksikan di lantai bursa, Jumat 6 Agustus 2021, harga saham Bukalapak (BUKA) menyentuh auto rejection atas (ARA). Menguat 24,71% sehingga perdagangan secara otomatis dihentikan oleh sistem. Dari penawaran awal harga 850, BUKA naik menjadi Rp 1060.

Hari kedua, senin 9 Agustus 2021, kembali menyentuh angka ARA menjadi Rp 1 325. Transaksi dihentikan lalgi. Naik 25% dari harga pembukaan. Dengan demikian, karena BUKA total telah menerbitkan 103,06 miliar lembar, nilai pasar (MV) perusahaan startup tersebut pada saat sahamnya dihentikan di hari kedua transaksi adalah Rp 136,56 triliun.

Hari ketiga menjadi titik balik. BUKA justru terkena auto rejection bawah (ARB). Turun menjadi Rp 1035 dan transaksi dihentikan. Dengan demikian saat dihentikan nilai pasar BUKA menjadi Rp 106,67 triliun.

Nah, turunnya harga pada hari ketiga ini memunculkan berbagai macam reaksi. Yang menarik adalah reaksi kekecewaan. Salah satu bentuknya adalah dugaan adanya exit strategy dari para pemegang saham. Bahkan ada tuduhan bahwa para pemegang saham asing telah menguras uang masyarakat Indonesia. Exit strategy sebagai konspirasi menguras uang anak negeri. Menggoreng informasi sehingga saham bisa dijual jauh lebih tinggi dari nilai buku. Lalu pada saat sudah diperdagangkan mereka ramai-ramai melakukan exit strategi dengan menjual saham mereka. Mengantongi cuan triliunan.

Bagaimana bisa muncul tuduhan semacam itu? Menurut saya ini muncul karena mindset spekulan dari para penuduhnya. Atau bahkan mindset penjudi. Bumbu-bumbu teori konspirasi menjadi pemanis. Menyusun alur logika yang membenarkan tuduhan itu. Menjadikan tuduhan itu semakin mendapat pembenaran. Pengagumnya tetap percaya penuh walaupun teori konspirasi dibangun tanpa adanya data yang terkonfirmasi.

Benarkah tuduhan itu? Mari kita cermati.  Sebuah tuduhan yang tidak berdasar. Paling tidak ada 2 alasan ketidaklogisannya.  Alasan pertama adalah bahwa exit strategy itu tidak sesuai dengan karakteristik sebuah perusahaan investasi. Melihat prospektusnya, pemegang saham BUKA sebelum IPO isinya adalah perusahaan-perusahaan investasi. Karakter mereka adalah investor jangka panjang. Keputusannya didasarkan pada analisis pertumbuhan ROI jangka panjang.

Mereka masuk pada perusahaan startup seperti BUKA bukan dengan proporsi besar aset. Mereka hanya menggunakan proporsi kecil. Sekitar 1% dari nilai aset kelolaan. Tujuannya adalah mengamankan dana kelolaan (asset under management, AUM) mereka dalam jangka panjang dengan ROI yang bagus.

Ingat, sebuah perusahaan investasi yang bagus tiap tahun akan mendapatkan tambahan modal. Tumbuh dalam aset kelolaan karena aliran dana masyarakat. Ini terjadi karena kredibilitas yang telah dibangun dalam jangka panjang. Pertumbuhan aset itu harus diinvestasikan. Maka, tiap tahun mereka harus berburu investee. Jika tidak maka dana yang baru diterima dari masyarakat akan tidak terinvestasikan. Dan itu tentu saja akan menjadikan ROI dana kelolaan memburuk. Sesuatu yang akan menurunkan kredibilitas mereka.

Investement company memiliki kesabaran. Seperti kesabaran Berkshire Hathaway, perusahaan investasi besutan Warren Buffet, yang telah masuk sebagai pesaham Coca Cola tahun 1988. Saham itu tetap dipegang sampai saat ini. Perhitungan SNF Consulting, saat ini ROI saham tersebut adalah 78%. Bahkan investor Starbucks bisa menikmati ROI lebih dari 4000%. Sebuah angka yang tinggi. Kalau saham ini dijual, tentu harus mencari pengganti. Dan mencari pengganti dengan ROI sebesar itu tentu sangat amat sulit. Itulah maka saham itu tidak pernah dilepas sampai 33 tahun hingga saat ini.

Alasan kedua, OJK memiliki aturan lock up. Sesuai POJK no. 25 tahun 2017, seluruh pemegang saham yang memperoleh saham BUKA dengan harga dibawah Rp 850 dilarang menjual sebagian atau seluruh saham yang dimilikinya sampai 8 bulan ke depan. Aturan yang berlaku untuk semua pihak yang menjadi pemegang saham dalam rentang waktu 6 bulan sebelum penyampaian pendaftaran BUKA ke OJK ini menjadi penghambat pelaksanaan exit strategy.

Dengan dua alasan tersebut, exit strategy yang dituduhkan menjadi tidak benar. Tuduhan yang tampak benar dengan teori konspirasi itu hanya akan menutup peluang belajar bagi para pengagumnya. Padahal, dari apa yang terjadi di BUKA mengandung pembelajaran manajemen yang bagus. Mengandung pembelajaran corporate life cycle (CLC) yang bagus. Apalagi bari para entrepreneur, founder, direksi, komisaris dan para investor pemegang saham. Mental spekulan dan mental penjudi dibumbui teori konspirasi adalah sarana yang mujarab untuk mempertahankan kebodohan.

Maka, mari kita pelajari logika investment company. Apa yang dipikirkan mereka sehingga mau membeli saham BUKA dengan harga Rp 850 yang jauh diatas nilai buku?  Silakan baca perkembangan par value, book value dan market value BUKA sampai pada IPO di tulisan saya terdahulu.

Para investor membeli saham perusahan yang masih rugi dengan harapan ROI pada masa yang akan datang. Mari kita simulasikan. Misalkan para investor mengharapkan ROI 10% dari BUKA pada masa yang akan datang. Dengan harga Rp 850 maka ROI 10% bisa dipenuhi jika BUKA menghasilkan laba Rp 85 per lembar saham. Karena kini lembar sahamnya ada sebesar 103,06 lembar, maka laba perusahaan yang diharapkan adalah Rp 8,7 triliun.

Kapan laba sebesar itu kira-kira bisa dicapai? Mari kita proyeksikan.  Omzet triwulan pertama 2021 adalah Rp 424 miliar. Jika dalam 3 triwulan berikutnya omzet naik rata-rata 25% maka pada akhir tahun BUKA akan beromzet Rp 2,44 triliun. Jika tahun-tahun berikutnya naik 25% maka tahun 2022 omzetnya akan Rp 3,03 triliun. Dengan kenaikan yang sama maka tahun 2037 maka omzet akan menjadi 94,5 triliun. Jika margin bersihnya 10% maka labanya adalah Rp 9,45 triliun.

Saham bank Jago juga melejit jauh di atas nilai buku. Apa yang terjadi? Pelajari di Bincang Santai Korporasi kamis malam pekan ini. Gratis dari SNF Consulting. Daftar http://www.klikwa.net/snfconsulting

Dengan proyeksi itu, ROI 10% baru akan tercapai setelah 17 tahun dihitung dari tahun IPO. Lama atau singkat? Tesla bisa menjadi gambaran. Perusahaan yang dikomandani Elon Musk ini baru mencapai laba setelah 17 tahun sejak berdiri. Mencapai step ke-8 dalam CLC setelah 17 tahun.

Lamakah 17 tahun? Tidak. Perhatikan kesabaran Warren Buffett dengan Berkshire Hathaway sebagai pemegang saham Coca Cola. Menempuh 8 step CLC dalam 17 tahun itu termasuk cepat. Toyota misalnya, menempuhnya dalam waktu yang lebih lamaaaa. Dan untuk perjalanan itu BUKA telah mengantongi senjata Rp 21 triliun hasil IPO. Tugas manajemen adalah memenuhi harapan investor itu. Dan tentu saja investor akan terus mengawasi pelaksanaan tugas itu melalui komisaris yang telah mereka pilih melalui RUPS.

Jangan membiarkan kebodohan bersarang pada diri Anda dengan mempercayai teori konspirasi. Masuk KELAS KORPORATISASI mealui Zoom seperti bu Notaris ini. Amankan bangku Anda melalui nomor WA berikut http://www.klikwa.net/snfconsulting

Bagaimana? Jelas kan? Bagaimana mindset Anda? Penjudi atau investor? Mindset penjudi sibuk dengan hiruk pikuk fluktuasi di pasar sekunder dengan teori konspirasinya. Uang berputar-putar di antara para  investor tanpa efek terhadap perusahaan penerbit sahamnya. Mindset investor sibuk melakukan analisis fundamental perusahaan dan berinvestasi melalui pasar primer. Uangnya masuk ke perusahaan untuk pertumbuhan bisnis menapaki 8 step CLC.  Menjadi perusahaan yang bermanfaat luas untuk masyarakat tanpa sekat bangsa, agama, ataupun ras. Anda bagaimana?

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Klik untuk cek jadwal terdekat Kelas Korporatisasi

Baca Juga
Glorifikasi IPO Kioson
IPO Bukalapak Prospektif atau Buang Uang
Kepailitan Startup OFO Bike Hiring
Tesla Laba Setelah 16 Tahun Rugi
Corporate Life Cycle dalam Merger GoTo
Valuasi Merger Gojek Tokopedia
Sequoia VC Sejati

Artikel ke-348 karya Iman Supriyono ini ditulis di rumahnya di Surabaya pada tanggal 11 Agustur 2021