Japfa, Bangun!


Untuk ukuran sebuah perusahaan yang berdiri sejak 1971, PT Japfa Comfeed Tbk termasuk lambat dalam pertumbuhan. Singa yang sedang tidur. Singa memang galak. Perkasa. Tapi kalau sedang tidur ya tidak berbeda dengan kancil yang sedang tidur.

Bagaimana tidurnya perusahaan yang pabrik pertamanya hadir di Sidoarjo ini? Mari kita cermati angka-angka keuangannya. Pada laporan teraudit terbarunya, tahun 2020, Japfa membukukan laba Rp 1,22 triliun. Dengan laba tersebut arus kas untuk investasi Japfa adalah Rp 1,98 triliun. Hanya sekitar 2x laba. Besarkah? Mari cermati potensinya.

Laba memang Rp 1,22 triliun. Tapi arus kas dari operasi  adalah Rp 4,10 triliun. inilah sumber potensi pertama.  Jadi pada tahun tersebut Japfa hanya menggunakan separuh dari potensi dana pertama.

Berdasarkan catatan lantai bursa, nilai pasar Japfa hari ini adalah Rp 18,53 triliun. Jika menerbitkan saham baru 10% maka perusahaan besutan keluarga Santosa ini akan memperoleh dana Rp 1,85 triliun. inilah potensi kedua untuk ekspansi perusahaan.

Masih ada lagi. Berdasarkan neraca akhir tahun tersebut, utang Japfa adalah Rp 14,54 triliun. Pada saat itu ekuitasnya adalah Rp 11,41. Dengan demikian rasio utang terhadap ekuitas alias DER Japfa adalah 1,27. Angka ini masih cukup aman.

Jika potensi kedua digunakan, Rp 1,85 triliun akan ditambahkan pada ekuitas. Dengan demikian ekuitas akan menjadi Rp 13,26 triliun. Dengan mempertahankan DER sebesar 1,27 maka utang bisa ditingkatkan menjadi Rp 16,84 triliun. Dengan posisi utang yang masih Rp 14,54 triliun maka ada potensi dana dari penambahan utang sebesar Rp 2,30 triliun. Inilah potensi ketiga dana untuk ekspansi.

Total ketiga potensi adalah Rp 8,25 triliun. Jadi arus kas investasi Japfa yang Rp 1,98 triliun hanya menggunakan 24% dari potensinya. Bisa dikatakan bahwa perusahaan perunggasan terbesar kedua di tanah air ini sedang tidur.

&&&

Ada dua pemegang saham besar PT Japfa Comfeed Tbk. Pertama adalah Japfa Holdings Pte Ltd  57,51%. Kedua adalah KKR Jade Investments Pte Ltd  11.98%. Keduanya adalah entitas yang berkedudukan di Singapura. Artinya, posisi PT Japfa Comfeed Tbk adalah sebagai anak perusahaan Japfa Holdings Pte Ltd.

Secara stratejik, anak perusahaan yang berupa perusahaan terbuka adalah sebuah kesalahan. Posisi PT Japfa Comfeed sebagai perusahaan terbuka membuat sang induk tidak bisa mengendalikannya dengan cukup. Idealnya anak perusahaan bisa diatur sesuai kebijakan induk tanpa melibatkan pihak luar mana pun. Anak perusahaan adalah satu kesatuan tak terpisahkan dari sang induk. Posisi sebagai perusahaan terbuka mengacaukannya. Itulah kenapa Aqua melakukan delisting begitu diakuisisi oleh Danone. Sarihusada juga melakukan hal yang sama begitu diakuisisi oleh Nitricia. Di Singapura, Mount Elizabeth Hospital juga delisting setelah diakuisisi oleh IHH Helath dari Malaysia.

Kesalahan stratejik ini adalah salah satu penyebab mengapa Japfa Comfeed tidur. Kesalahan ini mesti dikoreksi jika Japfa Comfeed mau bangun. Caranya, Japfa Comfeed harus menerbitkan saham baru sebesar sekitar 10%. Akibatnya proporsi saham Japfa Holdings Pte Ltd akan terdilusi menjadi sekitar 47%. Dengan demikian maka Japfa Comfeed akan menjadi fully corporatized company. Menjadi korporasi sejati. Salah satu cirinya adalah tidak ada pemegang saham pengendali.

Tidur pulas…….

Mengapa tidak mengambil opsi delisting? Untuk melakukan ini Japfa Holdings Pte Ltd harus membeli seluruh saham pihak lain. Ini tidak mungkin karena nilai pasar sang induk hanya Rp 13,70 triliun. Terlalu berat untuk menerbitkan saham hinga mampu mengambil alih 42,49% saham pihak lain.

Jadi, penerbitan saham baru PT Japfa Comfeed Tbk adalah satu satunya cara untuk bangun. Tumbuh pesat menjadi korporasi sejati. Uang hasil penerbitan saham lebih dari cukup untuk mengakuisisi Malindo Feedmill dan Sreeya Sewu Indonesia. Keduanya adalah perusahaan perunggasan terbuka di tanah air.  Bangun untuk konsolidasi kekuatan industri perunggasan tanah air. Mengibarkan merah putih tinggi-tinggi. Menyalip  Charoen Pokphand si juara pertama perunggasan tanah air asal negeri gajah. Japfa, bangun!

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Artikel ke-361 karya Iman Supriyono ini ditulis  untuk dan dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Maret 2022

Baca juga:
Garuda, pailit atau korporatisasi?
Krakatau Steel: Tercekik Utang

Raja Utang: Mengapa Bunga Bank Selangit?
Garuda: Utang Melebihi Aset

Glorifikasi IPO Kioson
IPO Bukalapak Prospektif atau Buang Uang
Kepailitan Startup OFO Bike Hiring
Tesla Laba Setelah 16 Tahun Rugi
Corporate Life Cycle dalam Merger GoTo
Valuasi Merger Gojek Tokopedia
Sequoia VC Sejati

Kumowani: Blunder Nazir Menjadi Startup


Kumowani adalah bahasa jawa. Artinya adalah keberanian yang salah tempat. Mestinya tidak berani tetapi menjadi berani. Keberanian yang konyol.

Nazir wakaf adalah lembaga yang menerima amanah harta dari para wakif. Amanahnya ada empat. Amanah pertama adalah mengelola harta dengan aman. Amanah kedua adalah mengelola harta dengan aman. Amanah ketiga adalah mengelola harta dengan aman. Amanah keempat adalah mengelola harta untuk mendapatkan hasil.

Keempat amanah harus ditunaikan sejak awal sampai kapanpun. Tidak bisa ditinggalkan salah satupun. Aman aman aman hasil menjadi satu paket. Nah, atas amanah ini sebuah lembaga amil bisa melakukan tindakan kumowani. Keberanian konyol. Ini adalah kesalahan fatal.

Disebut kesalahan fatal karena keberadaan nazir di masyarakat kita masih pada tahap awal. Artinya, nazir belum bisa “menjual” bukti. Yang bisa “dijual” baru janji. Bukti adalah investasi yang aman aman aman dengan return on Investment (ROI) yang tinggi ratusan persen. Tentu ini tidak bisa dilakukan sejak awal. Butuh waktu panjang dengan langkat tepat untuk mencapainya. Fatal sekali jika pada masa awal sudah melakukan kesalahan. Akan menghabiskan kepercayaan masyarakat.

&&&

Apa tindakan kumowani itu? Nazir menjadi startup. Startup adalah perusahaan rintisan. Perusahaan yang masih berada di step pertama, kedua, atau ketiga dari delapan step dalam corporate life cycle (CLC). Delapan step itu adalah: berdiri, rugi, BEP, laba, RPD, scale up, sistem manejemen dan fully corporatized company.

Step pertama sampai ketiga adalah lembah kematian perusahaan startup. Dari ribuan bahkan jutaan startup, hanya segelintir yang sukses menjadi perusahaan sejati (fully corporatized company). Baca detailnya pada tulisan ini jika ingin detail dead valey ini. Tentang risiko pailit bagi sebuah perusahaan start up.

&&&

Paling tidak ada empat penjelasan mengapa nazir yang menjadi perusahaan start up adalah sebuah tindakan kumowani. Penjelasan pertama, mejadi start up artinya adalah menjadi operating company. Harusnya wakaf hanya menjadi investing company. Hanya investing company yang bisa mengelola dengan prinsip aman aman aman hasil. Baca penjelasan detail di link ini.

Penjelasan kedua, untuk bertahan hidup sampai mencapai laba, sebuah start up butuh waktu yang panjang. Tesla misalnya butuh waktu 16 tahun untuk sampai laba sebagai step keempat dalam CLC. Sepanjang waktu rugi itu sebuah start up butuh gelontoran dana agar tidak mati. Para pendirinya perlu puasa. Puasanya senin kamis jumat sabtu minggu selasa dan rabu. Tidak cukup puasa senin kamis.

Siapa yang menggelontor dana? Tidak lain adalah perusahaan-perusahaan investasi raksasa. Mereka menganggarkan tidak sampai 1% dari aset kelolaanya untuk start up. Tap ingat, 1% dari aset BlackRock investment misalnya nilainya tidak kurang dari 1300 triliun. Andai uang itu hilang semua pun, mereka akan tetap aman karena 99% aset lainnya bekerja di perusahaan-perusahaan yang sudah berada pada step ke enam, tujuh atau delapan dalam CLC.  

Investment company mau melakukan penggelontoran ini karena memang start up benar-benar baik untuk masa depan. Kriteria sederhananya adalah start tersebut sudah diasuh oleh venture capitalist sejati seperti Sequoia. Jika belum diasuh Sequoia atau sejanisnya, risikonya masih terlalu besar. Gambling.

Nah, ketika sebuah nazir wakaf menjadi start up company, siapa yang akan melakukan penggelontoran dana itu? ini masalahnya. Nazir yang berangkat dari sebuah amil (pengelola dana zakat dan infaq) akan terpaksa menutup kesalahan tersebut dengan melakukan kesalahan yang lain. Apa itu? menggunakan dana infaq atau zakat untuk keperluan menghidupi start up. Ini adalah kesalahan fatal. Sekaligus kesalahan syar’i. Masuk blunder.

Penjelasan ketiga, mejadi start up yang artinya menjadi operating company berarti “mencari musuh”. Memasuki persaingan bisnis yang super ketat dan brutal. Sebuah lembaga sosial keagamaan seperti nazir harusnya tidak bersaing dengan siapa pun. Merangkul siapa pun. Dan posisi itu hanya mungkin jika nazir menjadi investing company.

Misalnya. Beberapa nazir menjadi start up dengan mendirikan rumah sakit. Rumah sakit adalah dunia bisnis yang penuh persaingan. Persaingan yang paling terasa adalah dalam mencari dokter terbaik. Antar rumah sakit bisa jor-joran dan bahkan saling bajak dalam memperoleh dokter terbaik. Bahkan sesama rumah sakit yang memosisikan diri sebagai rumah sakit Islam pun. Persaingan memperoleh dokter yang bagus tidak terelakkan.

Dengan rumah sakit lain yang tidak berlabel Islam pun persaingan ini akan berefek negatif. Misal, selama ini ada banyak karyawan rumah sakit XYZ menjadi donatur amil atau nazir  ABC. Begitu ABC masuk bisnis rumah sakit dan rebutan dokter bagus dengan XYZ, maka tentu saja manajemen XYZ akan melarang karyawannya menjadi donatur ABC. Dan sesungguhnya tanpa dilarang oleh manejemen pun, karyawan XYZ yang menjadi donatur ABC sama dengan menusuk diri sendiri. Berat kaan?

Nazir jangan mencari musuh

Penjelasan keempat, bagi nazir, menjadi start up berarti adalah langkah awal menjadi konglomerasi. Konglomerasi adalah perusahaan atau organisasi yang bisnisnya macam-macam. Teknisnya adalah dengan menjadi pemegang saham pengendali pada berbagai perusahaan dengan berbagai bidang. Ini membayankan umat dan bangsa.

Interaksi antara umat atau bangsa di dunia modern ini adalah seperti interaksi antar kesebelasan dalam sebuah pertandingan sepak bola. Umat atau bangsa yang para pelaku bisnisnya konglomerasi ibarat kesebelasan yang semua pemainnya bebas bergerak kemana saja. Tidak ada keeper, tidak ada back kiri, tidak ada stricker kanan. Tidak ada posisi spesifik. Semua pemain mengejar bola yang sama dimana pun bola berada.

Umat atau bangsa seperti ini akan sangat rapuh. Ekonominya akan dikuasai bangsa lain. Karena para konglomerat kerjanya cenderung mendatangkan kekuatan asing untuk mengalahkan pesaing lokalnya. Misal, ada konglomerat besar yang untuk bersaing dengan gerai kopi modern karya anak bangsa seperti Coffee Toffee, Excelso, atau Kopi Kenangan harus mendatangkan jaringan kedai kopi modern dari negeri adidaya. Ini ibarat sebuah kerajaan yang menggandeng Belanda untuk berperang dengan kerajaan lain sebelum era NKRI. Malangnya, sudah begitu masih suka bicara nasionalisme hehehehe.

Harusnya, ibarat kesebelasan, umat atau bangsa ini berbagi peran. Ada stricker kiri, stricker kanan, back kiri, back kanan, keeper dan sebagainya. Masing-masing memiliki peran spesifik. Lalu antara mereka saling lempar umpan bola. Tujuan akhirnya adalah kemenangan kesebelasan. Bukan keberhasilan si back kanan untuk mencetak gol.

Demikian empat penjelasan kesalahan fatal nazir wakaf yang menjadi start up. Anda nazir wakaf? Mari pelajari ilmunya dengan baik. Iqro. Memahami dunia bisnis. Memahami CLC. Memahami Revenue and Profit Driver (RPD), memahami ROI dan ROE, memahami korporatisasi, memahami korporasi. Iqro! Agar bisa menjaga amanah besar dari para wakif. Agar umat dan bangsa ini kokoh secara ekonomi. Menjadi umat dan bangsa produsen. Bukan konsumen. Aamin.

Nazir, pelajari ilmunya dengan baik. Daftar https://bit.ly/InvestasiNazhirWakaf

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Artikel ke-360 karya Iman Supriyono ini ditulis  di Surabaya pada tanggal 3 Pebruari 2022

Garuda, Evergrande: Beresi Utang Sebelum Terlambat


“Saldo Anda masih cukup. Tetapi maaf, uang Anda masih dipinjam oleh Pak Fulan. Silakan coba kembali sampai pak Fulan membayar uang Anda”. Coba jika kalimat seperti ini muncul di mesin ATM saat Anda mengambil uang dari rekening Anda. Bagaimana kira-kira tanggapan Anda?

Saya yakin Anda akan marah. Sebagai penabung di sebuah bank, Anda menginginkan bisa mengambil uang kapan saja. Sewaktu-waktu Anda membutuhkan uang, Anda datang ke ATM. Uang itu harus bisa Anda ambil. Itulah yang ada dalam benak para penabung.

&&&

Delapan belas Juni 2021. Saat itu otoritas lantai bursa menghentikan perdagangan saham Garuda. Alasannya karena maskapai penerbangan pelat merah ini gagal melakukan pembayaran utang yang telah jatuh tempo. Utangnya berupa sukuk alias obligasi syariah.

Sukuk alias obligasi syariah adalah sebuah transaksi utang piutang. Pihak yang memberikan utangan kepada Garuda akan berpikir seperti Anda saat mengambil uang di mesin ATM. Bedanya, di mesin ATM Anda mengambil uang dari tabungan. Akad dalam sebuah transaksi tabungan di bank adalah uan uang bisa diambil sewaktu waktu. Sedangkan transaksi sukuk uang harus bisa diambil pada saat yang pembayaran bagi hasil atau pokok saat perjanjian sukuk berakhir. Jika Garuda tidak menepati janji maka para pemegang obligasi pun kecewa. Nah, sanksi berupa penghentian transaksi saham Garuda itu jadi masuk akal.

&&&

September 2021 dunia bisnis global ramai membicarakan Evergrande. Beritanya viral dimana-mana. Termasuk berita berita media sosial di negeri ini. Rakasasa properti China itu mengalami gagal bayar. Membaca laporan keuangannya, Perusahaan yang dengan omzet terbesar nomor 122 global dalam ranking Fortune itu utangnya besar sekali. Rasio utang terhadap ekuitasnya hampir 10x.

Memang porsi besar utanganya adalah berupa uang muka konsumen. Utang yang tidak berbunga. Juga tidak perlu diangsur. Tapi namanya utang ya tetap utang. Jika tidak didukung dengan uang sendiri (ekuitas) yang cukup, rawan meledak. Kurangnya modal sendiri akan menyulitkan perusahaan memenuhi progres pembangunan unit yang telah dibayar uang mukanya oleh konsumen. Kesulitan ini bisa berimbas pada kesulitan perusahaan memenuhi janji pembayaran utang-utang lainnya.  Dan gagal bayar Evergrande adalah ledakan itu.

&&&

Pembaca yang baik, utang piutang adalah transaksi yang umum terjadi di masyarakat. Bisa jadi usia transaksi ini juga sama umurnya dengan usia peradaban umat manusia itu sendiri. Jauh sebelum era korporasi, urang piutang sudah ada di masyarakat.

Garuda dan Evergrande adalah korporasi. Keduanya adalah badan hukum yang memiliki hak dan kewajiban seperti layaknya manusia. Oleh karenanya, keduanya juga bisa melakukan transaksi utang piutang.

Yang harus diperhatikan oleh siapa pun yang memiliki utang adalah kewajiban menepati janji. Ini penting dan tidak bisa ditawar. Mengapa tidak bisa ditawar? Penjelasannya ada pada narasi saya tentang Anda yang mengambil uang di mesin ATM di atas. Pihak pemberi utang sudah mengharapkan uang itu sesuai perjanjian. Jika janji itu tidak ditepati yang terjadi adalah kekecewaan.

Maka, camkan itu wahai Anda para pengelola perusahaan. Bahwa janji pembayaran utang harus ditepati. Tidak boleh ada alasan apapun untuk tidak menepatinya. Oleh karena itu, yang bisa dilakukan para pengelola perusahaan adalah mengelola utang agar jangan terlalu besar.

Bereskan utang sebelum segala sesuatunya terlambat

Banyak perusahaan yang menjaga agar rasio utang kurang dari satu. Maksudnya, utangnya lebih kecil dari ekuitas. lebih kecil dari modal sendiri. Jika modal sendiri 100 maka utangnya tidak sampai 100. Pertumbuhan perusahaan tidak didasarkan pada utang. Tapi dari mendatangkan investor melalui penerbitan saham baru. Melalui proses korporatisasi.

Bagaimana jika terlanjur rasio utang lebih besar dari 1? Bahkan sekitar sepuluh seperti Garuda atau Evergrande? Segera selesaikan senyampang kondisi masih belum terlambat. Sebelum gagal bayar. Uangkan intangible asset perusahaan untuk menurunkan rasio utang. Yang dialami Garuda dan Evergrande sudah terlambat. Menjadi sangat rumit untuk menyelesaikannya.

Baca juga:
Garuda, pailit atau korporatisasi?
Krakatau Steel: Tercekik Utang

Raja Utang: Mengapa Bunga Bank Selangit?
Garuda: Utang Melebihi Aset

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Artikel ke-359 karya Iman Supriyono ini ditulis  untuk Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Pebruari 2022

Spekulan Crypto


Ada rencana bahwa di Penajam akan dibangun ibu kota baru. Maka, banyak orang berbondong-bondong memburu lahan. Berlomba membeli properti berupa tanah. Harapannya, rencana ibu kota benar-benar terjadi. Pada saat itu tanah yang telah dibeli bisa dijual kembali dengan harga yang jauh lebih mahal.

Apakah ibukota itu benar-benar akan ada? Ya tidak ada yang bisa memastikan. Banyak variabel yang menjadi penentunya. Bisa benar-benar terjadi. Bisa juga sama sekali tidak terjadi. Bisa juga sempat dimulai tetapi mangkrak karena tidak cukupnya sumber daya untuk mewujudkannya. Jika ibukota benar-benar ada maka si si pembeli tanah tadi akan untung. Jika tidak terjadi maka si pembeli tanah akan rugi.

Nah, pembeli tanah itu dalam istilah keseharian disebut sebagai spekulan. Orang yang melakukan spekulasi. Membeli lahan lalu tidak melakukan apapun selain berharap atau mungkin berdoa agar ibukota benar-benar terwujud. Jika terwujud dia akan untung. Jika tidak terwujud dia akan rugi.

Berharap dan tidak melalukan apapun inilah karakter menonjol aktivitas spekulasi. Tidak melakukan apapun karena variabel untuk terwujud atau tidak terwujudnya ibukota sepenuhnya tidak bisa dia kendalikan. Jadi berharap atau berdoa adalah satu-satunya yang bisa dilakukan oleh seorang spekulan.

$$$

Bitcoin. Lengkapnya: Bitcoin,  Litecoin, Namecoin, Peercoin, Dogecoin, Gridcoin, Primecoin, Ripple, Nxt, Verga, Stellar, NEO, Auroracoin, Dash, Mazacoin, Monero, Vertcoin, Titcoin, Ethereum, Ethereum Classic, Nano, Tether, Firo, Zcash, Bitcoin Cash, EOS.IO, Cardano, TRON, Ambacoin, Algorand, Shiba Inu, DeSo, SafeMoon, Internet Computer. Itu adalah deretan nama-nama Cryptocurency alias mata uang Crypto yang aktif pada saat ini yang ada pada situs Wikipeda berbahasa Inggris. Banyak sekali. Bitcoin adalah yang paling banyak disebut. Salah satu sebabnya adalah karena memang yang paling awal hadir sebagai mata uang Crypto.

Spekulan: Beli dan hanya bisa berharap harga naik

Sebagai sebuah mata uang, Crypto pada dasarnya adalah surat utang. Utang dari penerbitnya kepada yang memegangnya. Seperti juga Rupiah pada dasarnya adalah surat utang dari penerbitnya kepada para pemegang. Penerbitnya adalah Bank Indonesia. Maka, jika kita membaca neraca pada catatan akuntansi BI, jumlah rupiah yang telah diterbitkan muncul di bagian kanan atas neraca. Muncul sebagai utang.

Mengapa surat utang bisa untuk membeli barang? Karena si penjual barang mau menerima surat utang itu. Mengapa si pedagang mau menerima? Karena ia bisa menggunakan uang itu untuk kulakan barang dagangan kepada pemasok. Si pemasok mau menerima karena bisa menggunakan surat utang itu untuk menyediakan barang pasokan. Demikian seterusnya. Makin diterima sebuah mata uang oleh para penyedia barang dan jasa, makin tinggilah nilai mata uang itu.

Makin diterima para pedagang, makin kuatlah posisi mata uang itu. harganya makin tinggi. Nilai tukarnya terhadap mata uang lain juga makin tinggi. Nah, naik turunnya nilai mata uang ini bisa menjadi daya tarik para spekulan. Persis seperti tertariknya spekulan tanah di calon ibu kota baru itu.

Mengapa disebut spekulan? Setelah memegang mata uang, seseorang tidak bisa mempengaruhi pada pedagang barang dan jasa untuk bisa menerima uang tersebut. Misalnya Anda memprediksi bahwa nilai Bitcoin pada masa yang akan datang akan naik. Maka Anda menukarkan uang Rupiah Anda menjadi Bitcoin. Setelah itu satu satunya yang Anda bisa lakukan adalah berharap dan berdoa agar nilai Bitcoin naik. Jika benar-benar naik Anda bisa menukarkan kembali Bitcoin dengan rupiah dan Anda mendaptkan laba. Tapi jika turun, Anda rugi. Jika melakukan seperti ini Anda telah menjadi seorang spekulan.

&&&

Pembaca yang baik, investasi berbeda dengan spekulasi. Contoh investasi adalah misalnya ada seorang kawan Anda mendirikan sebuah PT sepuluh tahun lalu. Sat itu ia menyetor Rp 1 miliar untuk 1000 lembar saham PT.  Bisnisnya adalah restoran. Tahun ini kawan Anda itu akan membangun 5 gerai baru. Anda ditawari berinvestasi menyetor Rp 5 milyar dengan ditukar 100 lembar saham yang baru diterbitkan. Anda menangkap tawaran itu. begitu Anda setor uang, maka PT tersebut langsung membangun 5 gerai resto baru. Ada pertumbuhan jumlah tenaga kerja, pertumbuhan omzet dan pertumbuhan laba. Anda berhak atas laba itu dengan proporsi sesuai proporsi saham yang Anda miliki yaitu 100/1100. Proporsi sebesar 1000/1100 dari laba akan menjadi hak kawan Anda Anda itu. Inilah investasi. Memunculkan nilai tambah. Memperbesar manfaat. Jadi, Anda investor atau spekulan?

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Bacaan-bacaan tentang investasi dan investment company
Peredam Risiko Investasi
Emas Perak Investasi atau Spekulasi
Investment Company versus Operating Company
Mendirikan Investment Company, Bagaimana?
Investment Company Sebagai Solusi Konflik Harta Waris
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Artikel ke-358 karya Iman Supriyono ini ditulis  untuk Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Januari 2022

Uang Kasur Uang Kasir Pak Sis


Sebut saja PT DEF. Sebuah perusahaan makanan klien SNF Consulting, kantor konsultan dimana saya beraktivitas.  Sebagaimana perusahaan lain, setelah penandatanganan perjanjian menjadi klien, saya pun mengikuti rapat direksi rutin bulanan. Seperti biasa juga, rapat-rapat awal selalu bicara tentang arah masa depan perusahaan. Wajar karena memang yang saya ikuti adalah rapat direksi. Sesuai nama, direksi itu menentukan direction alias arah perusahaan. 

Pisahkan uang kasir dan uang kasur

Saya suka memicu visi besar klien pada saat rapat awal seperti ini. Saya sampaian tentang bagaimana sejarah tumbuh kembang perusahaan-perusahan yang kini menguasai pasar dunia. Memperhatikan milestone lengkap dengan aspek keuagannya. Menjadi benckmark proses tumbuh kembang perusahaan.

Puncaknya adalah menjadi apa yang disebut sebagai fully corporatized company. Korporasi sejati. Cirinya ada 3. Pertama menguasai pasar lebih dari 100 negara sehingga tahan terhadap risiko politik karena rata-rata omzet dari tiap negara tidak lebih dari 1%. Kedua tidak ada lagi pemegang saham pengendali sehingga semua dijalankan sesuai sistem. Tidak ada raja. Ketiga jika membutuhkan modal untuk ekspansi, investor mau diberi imbal hasil 2-3% per tahun. Perusahaan yang bukan hanya mejadi sekedar tempat mencari duit. Lebih dari itu, menjadi sarana membangun manfaat yang seluas-luasnya bagi sesama tanpa pandang sekat bangsa maupun agama. Menjadi sarana beribadah.

Setelah itu, rapat berikutnya adalah tentang sistem manajemen. Yang selalu menjadi bahasan dasar adalah sistem akuntansi. Nah, di poin ini PT DEF amburadul. Akuntan tidak pernah bisa membuat laporan yang memadai. Mengapa? Karena sang bos tidak bisa memisahkan antara uang pribadi dangan uang perusahaan. Uang perusahaan diambil untuk membeli banyak aset pribadi. Mustahil akuntan bisa bekerja.

Selamat jalan Pak Sis. Terima kasih atas segala kebaikanmu. Ridho Ilahi membersamaimu. Surga untukmu. Aamin yaa Rabb

Maka, agenda rapat bulan-bulan selanjutnya adalah perbaikan masalah dasar ini. Langkah-langkah menuju perubahan sudah diputuskan.  Siap dilaksanakan. Tetapi sayang, keputusan rapat selalu gagal dieksekusi karena sang bos tidak berubah. Uang pribadi dan uang perusahaan tetap camput. Singkat cerita, proses konsultasi pun berhenti. Tidak ada gunanya keputusan rapat sebagus apapun jika tidak ada eksekusi.

&&&

Ada uang kasur. Ada uang kasir. Untuk sukses, seorang pengusaha harus mampu memisahkan keduanya. Itu adalah nasihat super penting dari Almarhum Pak Marmin Siswoyo, saya memanggilnya Pak Sis. Sebuah bahasa yang sangat memudahkan siapa saja untuk menangkapnya.

Jika nasihat itu diterjemahkan secara operasional, maka PT DEF pada awal tulisan ini tidak akan menghentikan proses konsultasi. Konsultan bisa menjadi sparting partner tim direksi PT DEF untuk membangun sistem akuntansi yang akurat untuk pengambilan keputusan stratejik.

Tapi apa boleh buat. Terlalu berat untuk meninggalkan kebiasaan lama. Kebiasaan yang menghasilkan banyak aset properti pribadi dari hasil laba perusahaan. Perusahaan sekedar menjadi sapi perah. Tidak bisa tumbuh mengikuti corporate life cycle menjadi perusahaan sejati sebagaimana deskripsi di atas.

Jika nasihat Pak Sis ini dijalankan, itu akan menjadi pintu untuk melaksanakan nasihat Pak Sis berikutnya “Jika Anda memelihara ayam dan bertelur, jangan nikmati telur itu. Biarkan menetas menjadi banyak ayam”. Uang perusahaan adalah “telur” yang harus “menetas” untuk pertumbuhan eksponensial perusahaan. Seperti Pak Sis yang bisnis telur ayamnya juga tumbuh membesar.

Pembaca yang baik, ada uang kasir. Ada uang kasur. Pisahkan secara tegas. Demikian nasihat dahsyat mantan ketua PDM Kabupaten Blitar yang telah berpulang Nopember 2021 ini. Mari  kita praktikkan nasihat yang kerap disampaikan di berbagai kesempatan itu. Allahummarhamhu. Agar bisnis tumbuh menjadi korporasi sejati. Agar bisa meneladani kedermawanan Pak Sis yang luar biasa. Agar menjadi amal Jariyah. Aamin.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Bacaan-bacaan pemicu amal jariyah Anda
Wakaf Korporat
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal & Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Artikel ke-357 karya Iman Supriyono ini ditulis sebagai obituari untuk Pak Marmin Siswoyo, mantan ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Blitar. Tulisan ini juga dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Desember 2021

Bisnis PCR Pejabat: Hipokrisi Pengusaha Berpolitik


Terbongkarnya kasus para pejabat yang berbisnis PCR viral di jagat internet.  Netizen protes. Tidak layak bagi seorang pejabat berbisnis. Apalagi dalam suasana pandemi yang dampaknya sangat berat bagi masyarakat luas. Pendek kata, publik tidak suka pejabat  berbisnis.

Tapi banyak yang tidak menyadari bahwa pada fenomena protes itu terkandung hipokrisi. Hipokrit? Ya. Mari mundur ke belakang. Saat proses pemilihan presiden yang baru berlalu. Di kubu pemenang ada Pak Jokowi yang dikenal sebagai pengusaha meubel. Pentolan kampanyenya adalah Erick Thohir yang juga pengusaha ternama. Di kubu yang kalah ada Prabowo yang bisnisnya bernilai triliunan. Ada Sandiaga Uno yang idem.

Hampir 50% pemilih mendukung Prabowo Sandi. Lebih dari 50% pemilih mendukung Jokowi. Kedua kubu sama-sama mendukung masuknya pebisnis ke dunia politik. Dan politisi yang sukses dalam kontestasi politik akan menjadi pejabat. Bahkan yang kalah pun kemudian dirangkul dan menjadi pejabat juga.

Pertanyaannya, setelah menjadi pejabat publik, apakah merekah harus membuang bisnisnya? Tentu tidak mungkin. Bisnis akan terus berjalan.

Jangan hipokrit

Lalu, mengapa orang-orang pada protes saat para pejabat berbisnis? Mengapa protes terhadap pejabat yang berbisnis PCR? Bukankah itu konsekuensi logis dari masuknya para pebisnis pada kontestasi politik? Ingat, politik adalah pintu untuk menjadi pejabat publik. Mendukung pebisnis masuk politik sama dengan mendukung pejabat berbisnis. Di sinilah letak hipokrisinya. Coba renungkan diri Anda sendiri. Anda hipokrit tidak?

Kalau saya tidak begitu. Sejak awal menolak masuknya para pebisnis ke dunia politik. Juga menolak para pejabat berbisnis. Secara pribadi saya memilih dunia bisnis. Fokus di bisnis. Bertauhid bisnis “Aku berlindung kepada-Nya dari godaan syetan dan poltik”. Bukan karena politik jelek. Tetapi karena hidup itu pilihan.

Hidup itu pilihan. Jika memilih menjadi pebisnis, jadilah pebisnis yang sukses. Pebisnis yang membangun korporasi besar melampaui sekat-sekat negara. Membesarkan perusahaan yang didirikannya mencapai step kedelapan dalam corporate life cycle. Menjadi perusahaan yang mengibarkan merah putih di berbagai belahan dunia.

Jika memilih politik, jadilah politisi yang sukses. Seperti Bung Karno, Bung Hatta, Natsir, dan sebagainya. Yang menekuni perjuangan politik sejak mahasiswa.  Yang mempertaruhkan seluruh risiko hidupnya di politik. Yang tidak pernah punya interes bisnis.  Yang bisa mengambil keputusan negara tanpa confilct of interest. Menjadikan negeri ini jaya dalam percaturan berbagai bangsa melalui dunia politik.

Hidup itu pilihan.  Anda bagaimana? Masih mendukung pebisnis masuk dunia politik? Masih menolak pejabat berbisnis PCR? Hindari hipokrit!

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga tulisan lain tentang Investment Company:

Kemustahilan Jokowi: Bunga Bank 3% Tanpa Investment Banking
Pandemi dan Dekorporatisasi BUMN
Investment Company BUMN
Investment Company berbasis lembaga keagamaan
Peran Investment Company untuk kemerdekaan ekonomi
Korporatisasi butuh Investment Company

Artikel ke-356 karya Iman Supriyono ini ditulis pada tanggal 7 Nopember 2021 di kabin pesawat Airbus 320 dalam penerbangan Jakarta Surabaya

Aset Emas: Zakat Bagi Orang Pelit


Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat berkeluh kesah dan pelit. Ini adalah terjemahan Al Qur’an Surat ke 70 (Al Maarij) ayat ke-19. Dan adalah manusia itu sangat pelit. Yang ini adalah terjemahan surat ke 17 ayat ke 100. Jadi kalau Anda pelit, maka memang itulah salah satu sifat dasar manusia yang harus Anda kelola.

Mari bernarasi. Andai Anda memiliki uang untuk membeli emas 100 kg. Maka, setahun setelah emas itu Anda miliki, Anda harus membayar zakat 2,5% dari 100 kg emas. Membayar 2,5 kg emas. Maka, pada awal tahun kedua emas Anda tinggal 97,5kg. Akhir tahun kedua emas Anda mencapai haul lagi. Anda harus membayar lagi 2,5% dari 97 kg alias 2,44 kg emas. Dengan demikian pada awal tahun ketiga emas Anda tinggal 95,1 kg. Awal akhir tahun ketiga haul lagi dan emas Anda akan  berkurang lagi. Demikian seterusnya proses ini baru akan berhenti setelah emas Anda kurang dari 85 gram sebagai batas minimum (nishab) zakat emas.

Menyimpan harta berupa emas itu adalah sebuah kesalahan

Nah, manusia itu pada dasarnya kikir. Maka, tentu sanga Khaliq sangat paham itu. Oleh karena itu, dibuatlah cara yang baik agar Anda yang kikir tidak kehilangan harta seperti itu. Bagaimana caranya? Juallah emas Anda dan belikan lahan pertanian yang produktif. Maka, sejak itu lahan pertanian Anda yang nilainya setara dengan 100 kg emas itu tidak terkena zakat. Utuh. Anda bisa memuas-muaskan kekikiran Anda hahahahah.

Lalu apa tidak dosa? Tidak. Memang lahan pertanian tidak terkena zakat. Berapa pun nilai harta Anda.  Berapa pun luas lahan pertanian Anda. Anda hanya wajib berzakat atas hasil pertanian. Besarnya 5 atau 10% dari hasil panen. Dan itu sama sekali tidak mengurangi nilai harta Anda. Bahkan ketika lahan pertanian itu nilainya meningkat berkali kali lipat karena kenaikan nilainya sebagai sebuah aset properti.

Apa pesan di dalamnya? Ini adalah sejenis “kebijakan fiskal” dari Sang Khaliq. Tujuannya agar orang tidak mendiamkan hartanya. Agar orang mengalihkan aset diamnya menjadi aset produktif. Aset yang menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

Aturan itu dibuat saat kehidupan masih sangat tradisional. Kebutuhan umat manusia masih sangat sederhana. Belum butuh kuota data. Belum butuh mobil. Belum butuh pesawat terbang. Belum butuh frozen food. Belum butuh bandara. Belum butuh media sosial. Dan lain-lain.

Di era modern, lahan pertanian itu telah menjadi meluas menjadi korporasi-korporasi yang menghasilkan kuota data, mobil, pesawat, frozen food, dan berbagai kebutuhan umat manusia. Ekspansi “lahan pertanian” era modern itu artinya adalah korporasi-korporasi itu berekspansi dengan menambah aset pemicu pertumbuhan omzet dan laba alias RPD.

Maka, jika Anda ingin agar aset Anda tidak berkurang terus menurus, ubahlah aset Anda dari emas atau yang sejenis dengan emas menjadi modal korporasi-korporasi itu. caranya adalah masuk sebagai investor korporasi-korporasi itu saat mereka melakukan penerbitan saham. Baik di luar lantai bursa sebelum IPO. Atau IPO dan rights issue terus menerus setelah IPO. Maka, sejak itu aset Anda berupa saham utuh. Persis seperti lahan pertanian. Anda hanya wajib membayar 10% dari hasilnya. Membayar 10% dari dividen yang Anda terima.

Harta tanda tidak berkurang. Anda senang. Tapi bukan hanya Anda yang senang. Kaum duafa juga akan makin senang. Karena dividen perusahaan akan terus  tumbuh seiring pertumbuhan laba perusahaan. ROI Anda akan tumbuh bisa sampai ribuan persen. Demikian juga hak kaum duafa juga akan tumbuh bahkan sampai ribuan persen. Anda tersenyum. Kaum duafa pun tersenyum.

Ada lagi yang lebih penting. Ada tujuan yang lebih stratejik dari “kebijakan fiskal” ala Sang Khaliq ini. yaitu……agar ekonomi tumbuh. Agar aset Anda bermanfaat bagi sesama. Agar negeri ini menang dalam persaingan dengan bangsa lain. Persaingan yang ujung tombaknya adalah korporasi yang melakukan proses korporatisasi. Anda siap?

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga….

Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Artikel ke-355 karya Iman Supriyono ini ditulis di Bandara Depati Amir Pangkalpinang pada tanggal 5 Nopember 2021

Pemerintah Yang Menenggelamkan Rumah Rakyatnya


Pagi tadi saya ada agenda meeting klien kantor saya, SNF Consulting. Lokasi meeting berada di kawasan Sedati, Sidoarjo. Meeting dijadwalkan dimulai jam 9 pagi. Tepat waktu adalah corporate culuture SNF Consulting. Maka, karena ada informasi adanya proyek perbaikan jalan di kawasan Sedati, saya sudah mempersiapkan berangkat 75 menit sebelum acara dimulai. Waktu yang sudah saya cek berdasarkan perkiraan Google Map. Itu pun sudah saya lebihi. Perjalanan normal hanya butuh waktu sekitar 45 menit.

Malang. Ternyata terjadi kemacetan luar biasa. Jam 09.27 saya baru tiba di kantor klien. Saya amati, penyebabnya adalah para pengendara motor yang cenderung tidak mau antri dengan baik. Saling serobot. Mendahului kendaraan  lain menggunakan ruang yang mestinya untuk kendaraan arah sebaliknya. Jadilah macet parah.

Sepanjang menunggu jalan macet di belakang kemudi, pikiran saya tertuju pada proyek yang memacetkan itu. Sebuah proyek pembetonan jalan. Sebagai orang yang pernah mengemnyam pendidikan insinyur, ada sesuatu yang mengganjal dari proyek itu. Pengecoran dilakukan dengan meninggikan badan jalan sekitar 30-40 cm. Selokan di kiri kanan jalan pun mengikuti. Tinggi bibir selokan sama dengan ketinggian jalan.

Maka, seluruh rumah di kiri kanan jalan menjadi lebih rendah dari badan jalan. Juga lebih rendah dari selokan. Maka, mereka mau tidak mau harus ikut meninggikan lantai rumah lebih tinggi dari badan jalan baru. Jika tidak rumah mereka akan kebanjiran saat musim penghujan. Praktis kira-kira harus meninggikan lantai rumah sekitar setengah meter.

Saya cek di Google Map, panjang ruas jalan yang dicor dengan proyek tersebut adalah sekitar 4,3 km. Jika persil di kiri kanan jalan rata-rata lebarnya adalah 10 meter, maka akan ada 860 rumah terdampak langsung. Belum yang berada di belakang yang terdampak langsung tersebut.

Masih ada dampak yang tidak ternilai. Di ruas jalan ada beberapa masjid yang secara fisik bangunannya berusia sudah tua. Sudah memiliki nilai sejarah. Dengan peninggian badan jalan, masjid pun jadi tenggelam. Untuk menanggulanginya masjid harus direhab total. Bangunan lama dihancurkan diganti dengan bangunan baru. Maka, nilai kesejarahan masjid akan hilang.

Pemerintah tidak boleh mengambil kebijakan yang merugikan rakyat banyak.

Coba kita hitung, jika satu rumah harus mengeluarkan dana Rp 200 juta untuk meninggikan rumah, untuk 860 rumah tersebut dibutuhkan dana Rp 172 miliar. Besar sekali. Bandingkan misalnya dengan anggaran untuk peningkatan seluruh jalan di kabupaten Sidoarjo tahun 2019 hanya 150 miliar. Biaya yang harus ditanggung masyarakat terdampak jauh lebih besar dari pada anggaran pemerintah. Pertanyaannya, apakah dampak seperti itu tidak dipikirkan? Apakah tidak ada analisis AMDAL?

Hal serupa pernah saya amati terjadi pada rumah pahlawan HOS Cokroaminoto yang berada di jalan Ngagel Jaya, Surabaya. Rumah pahlawan itu kini tenggelam oleh jalan Ngagel Jaya yang terus menerus ditinggikan.

Rumah saya sendiri pun terdampak hal serupa. Saya sudah protes ke pemkot Surabaya saat proyek berjalan. Sudah menulis surat ke walikota sebagaimana yang disarankan oleh staf di pemkot. Tapi proyek tetap saja berjalan dan rumah saya bernasib seperti rumah HOS Cokroaminoto.  Untungnya beberapa tahun belakangan ini pemerintah kota surabaya sudah mengoreksi kebijakan peninggian jalannya. Jadi rumah pahlawan itu tidak makin tenggelam. Moga rumah saya juga tidak makin tenggelam.

Dulu perbaikan aspal jalan dilakukan dengan menumpuki aspal yang rusak dengan lapisan aspal baru di atasnya. Otomatis badan jalan akan terus-menerus meninggi. Menenggelamkan bangunan di kiri kanan jalan. Kini cara itu dikoreksi. Perbaikan lapisan aspal jalan dilakukan dengan mengerok lapisan aspal yang rusak dengan mesin khusus.  Setelah itu baru diganti dengan lapisan aspal baru. Ketinggian jalan tidak berubah dengan perbaikan jalan. Jalan yang langganan banjir diatasi dengan memperdalam selokan di kiri kannnya menjadi sekitar 2 meter. Bukan dengan meninggikan badan jalan. Sebuah koreksi yang bagus walaupun sudah terlambat.

&&&

Anda pengambil keputusan proyek jalan? Ayo peduli terhadap nasib rakyat terdampak. Pedulikan bangunan-bangunan bersejarah terdampak. Biaya yang ditanggung rakyat terdampak bahkan lebih besar dari pada anggaran pemerintah untuk peninggian jalan itu. Andai proyek yang sudah jadi itu dikoreksi dengan pembongkaran dan mengembalikan ketinggian badan jalan seperti sedia kala, itu akan lebih baik. Biaya koreksi masih jauh lebih murah dibanding biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat terdampak. Apalagi dampak terhadap gedung bersejarah. Nilainya tidak terhitung. Mari kembali pada hati nurani. Agar tidak ada lagi pemerintah yang menenggelamkan rumah rakyatnya. Aamin.

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga tulisan lain tentang Investment Company:

Kemustahilan Jokowi: Bunga Bank 3% Tanpa Investment Banking
Pandemi dan Dekorporatisasi BUMN
Investment Company BUMN
Investment Company berbasis lembaga keagamaan
Peran Investment Company untuk kemerdekaan ekonomi
Korporatisasi butuh Investment Company

Artikel ke-354 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya pada tanggal 30 Oktober 2021

Konflik Waris: Solusi Investment Company


Lama saya tidak mendengar kabar orang ini. Sekali mendengar adalah berita duka. Innalillah. Orang yang bisnisnya menjadi langganan saya lebih dari 30 tahun ini telah berpulang. Allahummarhamhu. Semoga Allah mengampuni dosanya dan menempatkannya ditempat yang mulia. Aamin.

Berita duka itu ternyata masih berlanjut. Sumber informasi yang bisa saya percaya ini juga mengabarkan bahwa anak-anak orang itu kini sedang bertengkar. Memperebutkan puluhan properti warisan. Naudzubillah.

Padalah bisnis orang ini adalah bisnis yang mulia. Bisnis yang jika saya ceritakan bidangnya saja Anda akan langsung bisa tahu siapa orang ini. Maka saya sengaja tidak menceritakan itu. Saya hanya ingin mengajak Anda para pembaca mengambil pelajaran penting.

Anda keluarga kaya? Kelola dengan baik harta keluarga sehingga meminimalisir risiko konflik ahli waris di kemudian hari

Pelajaran apa itu? Pelajaran tentang bagaimana mengelola harta keluarga supaya ketika ditinggal mati anak cucu tidak bertengkar. Beberapa waktu lalu saya berdiskusi dengan seorang notaris senior di Surabaya. Diskusi tentang mengapa banyak toko-toko terbengkalai sampai rusak di kawasan jalan Tunjungan Surabaya. Padahal itu adalah segi tiga emas. Ternyata jawabnya menarik. Bangunan itu dibiarkan rusak karena ada sengketa antara para ahli waris.

Pembaca yang baik, ada dilema menarik. Seseorang mati meninggalkan anak-anak yang miskin berkekurangan salah. Tetapi orang mati meninggalkan warisan yang banyak juga bisa menjadi bahan pertengkaran. Bahkan pembunuhan. Salah juga.

Lalu bagaimana mengatasinya? Kita bisa belajar dari keluarga-keluarga kaya di barat. Jika kita buka daftar pemegang saham perusahaan-perusahaan besar di barat, kita akan menjumpai nama-nama investment company yang banyak. Ada yang besar dengan nama sangat tenar seperti Blackrock, State Street, Fidelity dan sebagainya.  Blackrock asetnya USD 8,3 triliun. Tentu sangat kesohor di dunia bisnis. Tapi tidak sedikit nama-nama yang tidak terkenal.

Menariknya adalah, hampir tidak ada nama orang pada daftar pemegang saham itu. Selalu yang muncul adalah nama perusahaan. Pelajaran apa ini? Jika kita telusuri lebih dalam, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa aset pribadi orang-orang kaya di barat adalah berupa saham perusahaan-perusahaan investasi.

Apa manfaatnya? Gambarannya begini. Misalkan ada si A orang kaya. Meninggal dengan mewariskan 20 persil properti berupa tanah dan bangunan berbagai ukuran. Si A memiliki ahli waris 4 orang yaitu si B, C, D, dan E. Dengan cara tradisional, maka 20 persil tanah dan bangunan itu harus dibagi sesuai hukum waris yang diyakini ahli waris. Karena ukuran dan kualitas properti berbeda, maka tentu  tidak bisa langsung 20 persil dibagi empat. Harus disepakati nilai dari masing-masing properti. Lalu dibagi empat ahli waris.

Di sini muncul potensi konflik yang luar biasa. Sumbernya adalah penilaian atas properti itu, bagaimana membaginya, siapa mendapatkan properti mana, siapa yang harus membayar kelebihan atas properti yang diterimanya kepada ahli waris lain. Dan masih banyak lagi. Wajar jika akhirnya terjadi konflik. Jika nanti ketika si B, C,D dan E itu meninggal. Akan terjadi masalah serupa kepada ahli waris mereka.

Belum lagi membicarakan masalah biaya. Balik nama dari si A kepada B, C, D, dan E membutuhkan biaya. Besarnya sekitar 10% dari nilai properti. Belum tentu mereka punya uang untuk itu. Akhirnya balik nama ditunda. Bisa jadi sampai B,C,D,E mati balik nama belum dilakukan. Rumit. Bahan kalaupun balik nama dari A ke  B,C,D,E sudah terjadi, masalah belum selesai. Saat B,C,D,E meninggal harus dilakukan balik nama lagi ke ahli waris mereka. Butuh biaya lagi. Makin rumit.

Nah, investment company alias IC adalah solusinya. Bagaimana caranya? Si A mesti mendirikan IC. Seluruh aset dimasukkan sebagai modal setor kepada IC tersebut. Lalu IC dikelola sebagaimana layaknya sebuah IC modern. Harta si A adalah sekian ribu lembar saham di IC tersebut.

Saat si A meninggal, bagi waris dilakukan dengan membagi lembar saham milik si A kepada B, C, D, dan E. Tidak ada biaya balik nama seperti balik nama properti. Tidak ada perbedaan nilai antar lembar saham. Dengan demikian pembagiannya juga sederhana. Cukup melalui RUPS IC itu dengan disaksikan notaris. Simple. Murah. Aman dari konflik. Dan yang lebih penting, akan mendorong pertumbuhan perusahaan operating company tumbuh melalui korporatisasi. Seperti perusahaan-perusahaan barat yang produknya mememberi manfaat untuk umat manusia berbagai bangsa. Tumbuh memberi manfaat untuk sesama dari generasi ke generasi. Menjadi salah satui pilar dari enam pilar kekuatan ekonomi umat dan bangsa. Mendorong negeri ini menjadi bangsa investor. Keluarga Anda bisa!

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga tulisan lain tentang Investment Company:
Investment company apa dan bagaiana membuatnya
Investing company versus operating company
Investment Company BUMN
Investment Company berbasis lembaga keagamaan
Peran Investment Company untuk kemerdekaan ekonomi
Korporatisasi butuh Investment Company

Artikel ke-353 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk dan juga dimuat oleh majalah Matan edisi Nopember 2021

Bentoel Delisting Saat Marak IPO, Mengapa?


RUPS luar biasa Bentoel Internasional Investama Tbk. tanggal 28 September 2021 menyetujui rencana delisting dari Bursa Efek Indonesia. Banyak yang bertanya. Mengapa kebijakan delisting ini diambil di tengah maraknya perusahaan-perusahaan lain melakukan IPO? Tidak salahkah aksi korporasi ini? Mari kita cermati.

Penerbitan saham secara terus menerus baik di luar lantai bursa maupun melalui lantai bursa adalah proses yang harus dilalui sebuah perusahaan untuk menapaki delapan step corporate life cycle (CLC) menjadi sebuah fully corporatized company.  IPO adalah langkah awal penerbitan saham di lantai bursa. Setelah itu mesti dikuti right issue terus menerus membangun model gergaji korporatisasi

Bentoel yang beraset Rp 10,7 triliun itu sudah melakukan IPO tahun tahun 1990. Tapi memperhatikan laporan keuangannya, sebelum diakuisisi oleh BAT Bentoel tidak melakukan proses korporatisasi secara terus menerus. Sesuatu yang umum terjadi pada perusahaan di Indonesia menjadikan IPO sebagai tujuan akhir. Padahal mestinya IPO adalah awal dari proses korporatisasi lantai bursa.

Tahun 2009, perusahaan yang berdiri tahun 1930 ini diakuisisi oleh British American Tobbaco (BAT). Dengan akuisisi tersebut BAT menjadi pemegang saham 92,48%. Dengan demikian, status Bentoel adalah anak perusahaan (subsidiary) bagai BAT. Atau, BAT adalah induk perusahaan (parent) bagi Bentoel

Subsidiary adalah bagian tak terpisahkan dari parent. Direksi pada subsidiary pada dasarnya adalah manajer dari parent. Pindah, promosi atau pemberhentian manajer cukup dengan tanda tangan CEO induk.   Tapi hal ini tidak bisa bisa dilakukan ketika si subsidiary adalah perusahaan listed. Ada mekanisme lantai bursa yang tidak sederhana harus diikuti sehingga si manajer tidak dengan mudah bisa dipindah sesuai dengan strategi perusahaan.

Dengan demikian membiarkan subsidiary tetap listed adalah menghambat proses manajemen internal si parent. Oleh karena itu, sudah tepat apabila Bentoel melakukan delisted. Bahkan tidak masalah ketika parent harus melakukannya dengan harga mahal. Membeli saham yang dipegang publik melalui tender offer dengan harga jauh di atas harga pasar. BAT melakukan ini dengan harga sekitar 2x harga pasar.

Lalu jika Bentoel membutuhkan dana ekspansi, dari mana sumbernya? Tentu dari sang Induk. Saat ini misalnya, market value BAT adalah USD 58,61 miliar alias Rp 836 triliun. Menerbitkan saham 10% saja sudah menghasilkan dana sekitar Rp 84 triliun. Tidak perlu susah payaah menerbitkan saham kecil-kecil melalui  subsidiry yang tersebar di berbagai negara termasuk Bentoel. Market value Bentoel misalnya hanya Rp 11 triliun. Terlalu kecil BAT untuk menjadi sarana mencari uang melalui rights issue Bentoel.

Tidak hanya Bentoel. Aqua begitu diakuisisi oleh Danone juga melakukan hal serupa. Sarihusada juga delisted setelah diakuisisi oleh Nutricia. Bahkan tidak hanya di Indonesia. Mounth Elizabeth Hospital Singapura juga cabut dari lantai bursa Singapura begitu diakuisisi oleh IHH, sebuah perusahaan rumah sakit multinasional berpusat di Kuala Lumpur.

Delisting adalah keniscayaan bagi sebuah subsidiary company

Mungkin Anda bertanya, bagaimana ketika BUMN banyak melakukan IPO anak perusahaannya? Itu adalah kesalahan stratejik. Tapi karena mindset korporatisasi di negeri ini sangat lemah, aksi korporasi itu dianggap benar. Jika kesalahan ini tidak diperbaiki, jangan heran jika pasar negeri ini akan makin dikuasai asing. Salah satunya melalui akuisisi seperti yang dilakukan oleh BAT itu. Banyak diantara kita bangga menyebutnya investasi asing. Bahkan pemerintah ini selalu punya menteri atau pejabat setingkat menteri untuk mendorong investasi seperti ini. Mestinya sebaliknya, kita harus punya menteri yang mengurusi ekspansi perusahaan-perusahaan lokal di luar negeri dengan mengikut CLC. Menjadi bangsa investor.  Bagaimana pendapat Anda?

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga
Glorifikasi IPO Kioson
IPO Bukalapak Prospektif atau Buang Uang
Kepailitan Startup OFO Bike Hiring
Tesla Laba Setelah 16 Tahun Rugi
Corporate Life Cycle dalam Merger GoTo
Valuasi Merger Gojek Tokopedia
Sequoia VC Sejati


Artikel ke-352 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya pada tanggal 5 Oktober 2021