Bertumpu Pada Dana Abadi: Sekolah Alam


St. Paul’s School for Boys didirikan tahun 1849 sebagai sekolah Episkopal. Episkopal adalah bagian dari gereja Anglikan yang berpusat di Inggris hasil memisahkan diri dari otoritas gereja Katolik di Roma. Sebuah sekolah yang ditujukan untuk keluarga berpenghasilan rendah di wilayah Paroki St. Paul Lama di Baltimore, USA. Pendirinya adalah Pendeta William Edward Wyatt.

St. Paul telah memindahkan lokasi sekolah empat kali sebelum akhirnya berada di lokasi saat ini pada tahun 1952. Gedung administrasi utama di kampus adalah Brooklandwood, sebuah rumah besar yang dibangun pada tahun 1793 oleh Charles Carroll dari Carrollton (1737-1832), salah deklarator kemerdekaan USA.

Sementara itu, ekolah Putri St. Paul memiliki akar sejarah sejak 1799 saat Perkumpulan Amal Baltimore mendirikan sebuah lembaga untuk perawatan dan pendidikan anak perempuan yang yatim piatu atau miskin. Pendiri perkumpulan adalah sekelompok jemaat Gereja St. Paul Lama.

Selama tahun 1800-an dan 1900-an, sekolah tersebut beberapa kali ditutup dan dibuka kembali dengan nama dan lokasi yang berbeda. Pada tahun 1958, anggota Perkumpulan Amal Baltimore memutuskan untuk mendirikan sekolah persiapan perguruan tinggi baru yang secara resmi dibuka pada tahun 1959. Lokasinya berdekatan dengan Sekolah Putra St.Paul.

Sekolah Putri St. Paul berbagi kampus dengan Sekolah Putra St. Paul dan dengan pendidikan Pra-Sekolah dan Sekolah Dasar St. Paul. Pada Juli 2018, sekolah-sekolah tersebut bersatu di bawah naungan The St. Paul’s Schools.

Kini, St. Pauls’s Shools adalah sekolah menengah ternama di USA. Para alumninya banyak diterima di kampus-kampus utama USA seperti Harvard Univerisy, Yale University, Princeton Unversity dan lain-lain.

Laporan keuangan tahun 2025 menunjukkan sekolah ini membutuhkan biaya operasional USD 70,6 juta alias IDR 1,2 triliun. Yang menarik, sumber pendapatan utamanya adalah hasil investasi dana abadi sebesar USD 35,2 juta alias IDR 606 miliar. Artinya, hasil investasi dana abadi berkontribusi 50% terhadap total biaya sekolah. Lebih besar dari kontribusi uang pembayaran siswa  yang sebesar USD 25,6 juta (IDR 441 miliar) alias 36% kebutuhan operasional. Masih ada sumber sumbangan langsung yang berkontribusi 12% terhadap biaya sekolah.

Aset sekolah berbadan hukum non profit corporation alias perkumpulan itu adalah USD 1,05 miliar alias IDR 18 triliun. Sebagian besar yaitu 77% adalah berupa aset investasi (dana abadi) yaitu USD 807 juta alias IDR 13,9 triliun.  Aset tetap (tanah dan bangunan)  hanya bernilai USD 225 juta alias IDR 3,9 triliun. Hanya 21% dari total aset. Jadi ini adalah sekolah yang lebih fokus pada melepaskan ketergantungan uang  siswa  dari pada megahnya gedung.

&&&

Kantor SNF Consulting suatu pagi akhir April 2026. Tiga menit sebelum jam 9 saya masuk ruang tamu kantor. Ternyata di ruang tamu sudah duduk Rizky Tajudin dua menit sebelumnya. Beliau adalah direktur operasional Sekolah Sahabat Alam Palangkaraya. Sebuah sekolah yang sejak berdiri pada tahun 2010 tidak ingin menjadikan sekolah sebagai sarana berjualan apa pun.

Bertumpu pada dana abadi, bukan kemegahan gedung

Kedatangannya adalah untuk berkonsultasi tentang dana Abadi. Sejak tahun 2020 sekolah ini mulai merintis dana wakaf alias dana abadi. Pria dengan 6 ring jantung yang kemudian mengubah gaya hidup dan kini bisa berlari 7 km itu memang sudah lama terus berdiskusi dengan saya tentang dana abadi bagi lembaga pendidikan. Tahun 2022 mulai lebih profesional dalam membangkitkan dan mengelola dana wakaf.

Saat ini sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Mutiara Tarbiah ini memiliki dana abadi sekitar Rp 1,6 miliar. Dana itu diinvestasikan pada beberapa perusahaan. Tahun lalu sekolah yang didirikan oleh Mugiyono, Ahmad Hidriyani, dan Amanto Surya Langka ini memperoleh pendapatan investasi sebesar sekitar Rp 100 juta. Artinya ROI-nya 6%. Sebuah angka yang cukup bagus dan masih bisa ditingkatkan. Lebih dari separuh dana abadi masih diparkir di bank. Dibutuhkan perbaikan portofolio investasi. Makin besar dana maka portofolio akan cenderung makin bagus.

Biaya operasional pengusung konsep sekolah alam adalah sekitar Rp 1,2 miliar per tahun. Untuk bisa seperti St. Paul yang hasil investasinya berkontribusi 50%, sekolah dengan 200-an murid ini butuh dana abadi Rp 10 miliar. Angka ini dihitung berdasarkan kinerja investasi selama ini. Jadi kurang Rp 8,4 miliar lagi. Ini tidak sulit bagi sekolah dengan bangunan sederhana ini. Sebagian besar dari kekurangan itu nanti akan tertutup dari pertumbuhan aset berupa ekuitas (saham) di berbagai perusahaan.

Tapi tidak hanya berhenti di situ. Gaji guru mesti ditingkatkan. Semua guru mesti bisa punya rumah dan mobil. Anak-anak mereka harus bisa kuliah di tempat terbaik. Bahkan ke luar negeri seperti Ustadz Amanto, salah satu pendiri. Bahkan persentase kontribusi pembayaran murid harus diturunkan sampai hanya 8% seperti MIT. Kokoh secara finansia tanpa bermegah-megah gedung.

Pagi itu di dibicarakan bagaimana mencapainya. Bagaimana memupuk dana abadi, Bagaimana menginvestasikannya dengan portofolio yang modern. Bagaimana fondasi aspek legalnya dikuatkan sejak dini. Bagaimana menghindari fenomena guru dibayari murid. St. Paul’s School adalah salah satu benchmark dari banyak lembaga pendidikan lain yang telah sukses menerapkannya. Anda pengelola sekolah, pesantren atau kampus? Bagaimana sekolah Anda? Bagaimana perjalanan menuju lembaga pendidikan yang bertumpu pada dana abadi?

Artikel Karya ke 519 Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya pada tanggal 27 April 2026

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga
Dana Abadi Yale: Kedermawaanan 300 Tahun
Investasi Wakaf Bagaiama Kalau Rugi?
Semangat Tumbuah Dalam Keprihatinan Panjang
Wakaf “Menjual” Dari Nol
Takmir Masjid Yayasan atau Perkumpulan?
Wakaf dan Endowment Fund, Sama atau Beda?
Perusahaan Yang Menolak Wakaf
Family Office dan Wakaf
Wakaf menanam pohon: Lily Endowment
Wakaf dan Dana Abadi Sebagai Investing Company ala Saratoga

Tinggalkan komentar