Kumowani: Blunder Nazir Menjadi Startup


Kumowani adalah bahasa jawa. Artinya adalah keberanian yang salah tempat. Mestinya tidak berani tetapi menjadi berani. Keberanian yang konyol.

Nazir wakaf adalah lembaga yang menerima amanah harta dari para wakif. Amanahnya ada empat. Amanah pertama adalah mengelola harta dengan aman. Amanah kedua adalah mengelola harta dengan aman. Amanah ketiga adalah mengelola harta dengan aman. Amanah keempat adalah mengelola harta untuk mendapatkan hasil.

Keempat amanah harus ditunaikan sejak awal sampai kapanpun. Tidak bisa ditinggalkan salah satupun. Aman aman aman hasil menjadi satu paket. Nah, atas amanah ini sebuah lembaga amil bisa melakukan tindakan kumowani. Keberanian konyol. Ini adalah kesalahan fatal.

Disebut kesalahan fatal karena keberadaan nazir di masyarakat kita masih pada tahap awal. Artinya, nazir belum bisa “menjual” bukti. Yang bisa “dijual” baru janji. Bukti adalah investasi yang aman aman aman dengan return on Investment (ROI) yang tinggi ratusan persen. Tentu ini tidak bisa dilakukan sejak awal. Butuh waktu panjang dengan langkat tepat untuk mencapainya. Fatal sekali jika pada masa awal sudah melakukan kesalahan. Akan menghabiskan kepercayaan masyarakat.

&&&

Apa tindakan kumowani itu? Nazir menjadi startup. Startup adalah perusahaan rintisan. Perusahaan yang masih berada di step pertama, kedua, atau ketiga dari delapan step dalam corporate life cycle (CLC). Delapan step itu adalah: berdiri, rugi, BEP, laba, RPD, scale up, sistem manejemen dan fully corporatized company.

Step pertama sampai ketiga adalah lembah kematian perusahaan startup. Dari ribuan bahkan jutaan startup, hanya segelintir yang sukses menjadi perusahaan sejati (fully corporatized company). Baca detailnya pada tulisan ini jika ingin detail dead valey ini. Tentang risiko pailit bagi sebuah perusahaan start up.

&&&

Paling tidak ada empat penjelasan mengapa nazir yang menjadi perusahaan start up adalah sebuah tindakan kumowani. Penjelasan pertama, mejadi start up artinya adalah menjadi operating company. Harusnya wakaf hanya menjadi investing company. Hanya investing company yang bisa mengelola dengan prinsip aman aman aman hasil. Baca penjelasan detail di link ini.

Penjelasan kedua, untuk bertahan hidup sampai mencapai laba, sebuah start up butuh waktu yang panjang. Tesla misalnya butuh waktu 16 tahun untuk sampai laba sebagai step keempat dalam CLC. Sepanjang waktu rugi itu sebuah start up butuh gelontoran dana agar tidak mati. Para pendirinya perlu puasa. Puasanya senin kamis jumat sabtu minggu selasa dan rabu. Tidak cukup puasa senin kamis.

Siapa yang menggelontor dana? Tidak lain adalah perusahaan-perusahaan investasi raksasa. Mereka menganggarkan tidak sampai 1% dari aset kelolaanya untuk start up. Tap ingat, 1% dari aset BlackRock investment misalnya nilainya tidak kurang dari 1300 triliun. Andai uang itu hilang semua pun, mereka akan tetap aman karena 99% aset lainnya bekerja di perusahaan-perusahaan yang sudah berada pada step ke enam, tujuh atau delapan dalam CLC.  

Investment company mau melakukan penggelontoran ini karena memang start up benar-benar baik untuk masa depan. Kriteria sederhananya adalah start tersebut sudah diasuh oleh venture capitalist sejati seperti Sequoia. Jika belum diasuh Sequoia atau sejanisnya, risikonya masih terlalu besar. Gambling.

Nah, ketika sebuah nazir wakaf menjadi start up company, siapa yang akan melakukan penggelontoran dana itu? ini masalahnya. Nazir yang berangkat dari sebuah amil (pengelola dana zakat dan infaq) akan terpaksa menutup kesalahan tersebut dengan melakukan kesalahan yang lain. Apa itu? menggunakan dana infaq atau zakat untuk keperluan menghidupi start up. Ini adalah kesalahan fatal. Sekaligus kesalahan syar’i. Masuk blunder.

Penjelasan ketiga, mejadi start up yang artinya menjadi operating company berarti “mencari musuh”. Memasuki persaingan bisnis yang super ketat dan brutal. Sebuah lembaga sosial keagamaan seperti nazir harusnya tidak bersaing dengan siapa pun. Merangkul siapa pun. Dan posisi itu hanya mungkin jika nazir menjadi investing company.

Misalnya. Beberapa nazir menjadi start up dengan mendirikan rumah sakit. Rumah sakit adalah dunia bisnis yang penuh persaingan. Persaingan yang paling terasa adalah dalam mencari dokter terbaik. Antar rumah sakit bisa jor-joran dan bahkan saling bajak dalam memperoleh dokter terbaik. Bahkan sesama rumah sakit yang memosisikan diri sebagai rumah sakit Islam pun. Persaingan memperoleh dokter yang bagus tidak terelakkan.

Dengan rumah sakit lain yang tidak berlabel Islam pun persaingan ini akan berefek negatif. Misal, selama ini ada banyak karyawan rumah sakit XYZ menjadi donatur amil atau nazir  ABC. Begitu ABC masuk bisnis rumah sakit dan rebutan dokter bagus dengan XYZ, maka tentu saja manajemen XYZ akan melarang karyawannya menjadi donatur ABC. Dan sesungguhnya tanpa dilarang oleh manejemen pun, karyawan XYZ yang menjadi donatur ABC sama dengan menusuk diri sendiri. Berat kaan?

Nazir jangan mencari musuh

Penjelasan keempat, bagi nazir, menjadi start up berarti adalah langkah awal menjadi konglomerasi. Konglomerasi adalah perusahaan atau organisasi yang bisnisnya macam-macam. Teknisnya adalah dengan menjadi pemegang saham pengendali pada berbagai perusahaan dengan berbagai bidang. Ini membayankan umat dan bangsa.

Interaksi antara umat atau bangsa di dunia modern ini adalah seperti interaksi antar kesebelasan dalam sebuah pertandingan sepak bola. Umat atau bangsa yang para pelaku bisnisnya konglomerasi ibarat kesebelasan yang semua pemainnya bebas bergerak kemana saja. Tidak ada keeper, tidak ada back kiri, tidak ada stricker kanan. Tidak ada posisi spesifik. Semua pemain mengejar bola yang sama dimana pun bola berada.

Umat atau bangsa seperti ini akan sangat rapuh. Ekonominya akan dikuasai bangsa lain. Karena para konglomerat kerjanya cenderung mendatangkan kekuatan asing untuk mengalahkan pesaing lokalnya. Misal, ada konglomerat besar yang untuk bersaing dengan gerai kopi modern karya anak bangsa seperti Coffee Toffee, Excelso, atau Kopi Kenangan harus mendatangkan jaringan kedai kopi modern dari negeri adidaya. Ini ibarat sebuah kerajaan yang menggandeng Belanda untuk berperang dengan kerajaan lain sebelum era NKRI. Malangnya, sudah begitu masih suka bicara nasionalisme hehehehe.

Harusnya, ibarat kesebelasan, umat atau bangsa ini berbagi peran. Ada stricker kiri, stricker kanan, back kiri, back kanan, keeper dan sebagainya. Masing-masing memiliki peran spesifik. Lalu antara mereka saling lempar umpan bola. Tujuan akhirnya adalah kemenangan kesebelasan. Bukan keberhasilan si back kanan untuk mencetak gol.

Demikian empat penjelasan kesalahan fatal nazir wakaf yang menjadi start up. Anda nazir wakaf? Mari pelajari ilmunya dengan baik. Iqro. Memahami dunia bisnis. Memahami CLC. Memahami Revenue and Profit Driver (RPD), memahami ROI dan ROE, memahami korporatisasi, memahami korporasi. Iqro! Agar bisa menjaga amanah besar dari para wakif. Agar umat dan bangsa ini kokoh secara ekonomi. Menjadi umat dan bangsa produsen. Bukan konsumen. Aamin.

Nazir, pelajari ilmunya dengan baik. Daftar https://bit.ly/InvestasiNazhirWakaf

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Artikel ke-360 karya Iman Supriyono ini ditulis  di Surabaya pada tanggal 3 Pebruari 2022

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s