Starbucks: Kegagalan Yang Baik


Per tanggal 3 Oktober 2021,  Starbucks hadir dengan 33 833 gerai. Pada laporan tahunan 2021 tersebut, perusahaan gerai kopi global itu juga menyebut bahwa per tanggal 20 September 2020 perusahaan berpusat di USA tersebut hadir dengan total 32 660 gerai. Artinya, terjadi pertumbuhan total gerai sebesar 3,6%.

Yang menarik, sepanjang periode setahun, perusahaan yang sudah tidak ada pemegang saham pengendalinya ini melaporkan telah menutup total sebesar 1066 gerai. Dihitung secara persentase, selama setahun Starbucks menutup 3,3% dari gerainya di seluruh dunia. Baik yang dioperasikan sendiri maupun dioperasikan oleh mitranya melalui lisensi atau waralaba.

Menariknya, pada tahun tersebut, Starbucks melaporkan telah membuka 2 239  gerai baru. Angka ini secara persentase adalah 6,9% dari gerai yang ada pada akhir tahun sebelumnya. Dengan demikian, pertumbuhan 36% diperoleh dari pembangunan gerai baru 6,9% dikurangi penutupan gerai 3,3%.

Secara finansial, omzet tahun 2021 adalah USD 29,1 miliar alias Rp 422,7 triliun. Naik sebesar 23,6% dari pendapatan tahun sebelumnya yang USD 23,5 miliar 341,3 triliun. Dengan pertumbuhan omzet yang fantastis tersebut, Starbucks membukukan laba bersih sebesar USD 4,2 miliar alias Rp 61 Triliun.

&&&

Pembaca yang baik, setiap bisnis ada risikonya. Nah, tugas para pelaku bisnis adalah mengenali risiko tersebut. Terutama risiko terburuknya. Setelah mengenali, lalu menyiapkan segala sesuatunya agar ketika risiko terburuk itu terjadi bisa ditangani dengan baik. Tidak merusakkan bisnis. Tidak juga merusakkan reputasi yang telah dengan susah payah dibangun.

Kegagalan yang baik adalah kegagalan yang bisa ditanggulangi dan perusahaan tetap memperoleh laba

Apa risiko terburuk mendirikan sebuah gerai kopi? Tentu saja adalah tutup. Risiko ini bisa terjadi karana berbagai sebab. Bisa penyebab internal bisa juga penyebab eksternal. Yang internal misalnya adalah ketidakmampuan manajemen dalam mengelola gerai. Bisa kualitas kopi yang buruk, standar kebersihan yang buruk, ketidaknyamanan gerai dan sebagainya.  Yang eksternal misalnya tiba-tiba jalan di depan gerai tiba-tiba dibangun fly over.   Gerai yang semula nyaman disinggahi menjadi tidak nyaman. Pengunjung pun berkurang, rugi dan akhirnya tutup.

Pertanyaannya, bisakah sebuah perusahaan menghilangkan risiko tutup tersebut? Tidak bisa. Coba perhatikan angka-angka Starbusks di atas. Perusahaan ini bukan anak kemarin sore dalam bisnis gerai kopi. Perusahaan sudah beroperasi sejak tahun 1971. Artinya saat ini sudah berpengalaman 51 tahun menjalankan bisnis gerai. Jumlah gerainya pun bukan main-main. Hampir 34 ribu gerai. Tersebar di 84 negara. Sebuah pengalaman yang luar bisa.

Tapi, ternyata Starbucks pun terpaksa harus menutup 1066 gerai sepanjang tahun 2021. Jika mau didramatisir, tiap hari rata-rata mentup 3 gerai di berbagai negara. Jadi, sejak Anda bangun tidur tadi pagi sampai Anda bangun tidur besok pagi starbucks talah menutup 3 gerainya. Ini menunjukkan bahwa pengalaman panjang dan luas di berbagai negarai tidak mampu menghindarkan dari kegagalan dalam mengoperasikan gerai.

Kegagalan adalah sesuatu yang manusiawi. Maka, jangan pernah menuntut untuk menjadi 100% berhasil. Manajemen tidak bisa menunut itu kepada para staf di lapangan. Investor yaitu para pemegang saham juga tidak bisa menuntut hal itu kepada manajemen. Kalau mau tetap menuntut, maka seluruh karyawan harus diganti malaikat hehehe. Hanya malaikat yang jika diberi tugas bisa melakukannya dengan 100% berhasil.

Lalu apa yang harus dilakukan? Perusahaan harus memahami tingkat kegagalannya. Starbucks di atas menunjukkan angka kegagalan 3,3%. Selanjutnya, perusahaan harus memperhitungkan tingkat kegagalan itu dalam pengelolaan keuangannya. Lalu mempersiapkan penanggulangannya. Ujungnya perusahaan harus tetap laba. Starbucks melakukannya dengan baik. Kegagalan 3,3% itu telah ditanggulangi dengan baik dan akhirnya perusahaan memperoleh laba Rp 61 triliun.  Inilah kegagalan yang baik. Dibutuhkan jumlah gerai besar  untuk itu. Perusahaan yang hanya memiliki 1 gerai tidak mungkin melakukannya. Maka, tumbuh membesar adalah cara agar mampu menciptakan kegagalan yang baik. Perusahaan Anda bagaimana?

Artikel ke-366 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk Majalan Matan edisi Juni, terbit di Suragbaya

Baca juga:

RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
RPD Sebagai Pedal Gas
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle
Faktor kali alias RPD
Garuda, pailit atau korporatisasi?
Krakatau Steel: Tercekik Utang

Raja Utang: Mengapa Bunga Bank Selangit?
Garuda: Utang Melebihi Aset

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

2 responses to “Starbucks: Kegagalan Yang Baik

  1. Luar Biasa Artikelnya, Cak Iman.
    Saya dulu juga pernah punya Gerai Kopi… Ada 2 cabang. Namun hanya bertahan 3 tahun, dan setelahnya tutup total…
    Punya juga Depot Masakan Jawa, juga tak lama bertahan.. hanya 3,5 tahun… trus tutup juga…

    Hahaha… Sepertinya saya tidak cocok dengan bisnis kuliner atau pun minuman…

    Namun, sekarang anak pertama saya justru mengembamgkan bisnis kuliner, depot dan catering… InsyaAllah lancar dan terus menguntungkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s