Ada seorang sahabat penulis produktif. Dulu jaman kejayaan koran. Tulisannya sering menghiasi halaman opini Kompas, Jawa Pos, Bisnis Indonesia. Tiga koran elite jaman itu. Ketiganya selalu dikirim ke rumah saya setiap pagi. Plus koran berbahasa Inggris The Jakarta Post. Sahabat ini adalah penulis elite di koran-koran elite.
Kini koran elite kehilangan tajinya. Oplah turun drastis. Orang tidak lagi membaca koran. Sudah lama saya menghentikan semua langganan koran. Jaman berubah. Sahabat si penulis elite di koran-koran elite pun tidak lagi produktif.
Pada era koran saya juga penulis. Kompas dan Jawa Pos. Tapi saya kalah jauh dengan sahabat penulis elite koran elite itu. Itu dulu. Kini, semua berubah. Saya tetap produktif menulis. Artikel demi artikel tetap hadir setiap ada isu bisnis menarik. Kadang sehari bisa menulis dua artikel.
Saat ketemu si sahabat ini, saya sampaikan. Jaman telah berubah. Bahkan berbalik. Dulu, pembaca membayar penulis. Sebagai penulis elite koran elite, sahabat saya ini dibayari oleh pembaca koran. Caranya dengan membayar uang langganan koran. Uang itu diterima penerbit koran. Lalu penerbit menggunakan uang itu untuk berbagai biaya. Salah satunya adalah membayar penulis.
Kini penulis membayar pembaca. Saya terus menulis. Tulisan-tulisan saya posting di web korporatisasi.com. Web ini harus dibayar biaya hosting maupun domain. Yang membayar adalah PT SNF Consulting, consulting firm yang saya dirikan. Bahkan tulisan-tulisan itu juga dipromosikan lewat media sosial. Tentu saya dengan membayar biaya iklan. Yang membayar SNF Consulting, perusahaan yang saya dirikan untuk kepentingan itu.
Lalu dari mana para penulis mendapatkan uang? Dari jutaan orang yang membaca tulisan yang telah dipromosikan, ada beberapa yang menghubungi SNF Consuting. Orang-orang ini kemudian akan diproses untuk menjadi klien SNF Consulting. Tentu saja dengan membayar. SNF Consulting lalu membayar saya sebagai konsultan.
&&&
Royalti lagu. Inilah topik yang kini lagi ramai dibicarakan. Resto yang memutar lagu wajib membayar royalti kepada penciptanya. Pendengar membayar pencipta lagu. Pendengar membayar restoran. Restoran menggunakan uang tersebut untuk membayar berbagai biaya. Termasuk biaya royalti. Paradigmanya sama dengan pembaca membayar penulis era berkibarnya koran-koran elite.
Mestinya paradigma lagu pun berubah. Pencipta lagu membayar pendengar. Pencipta mengeluarkan biaya alat musik, latihan, waktu, tenaga dan keahlian untuk menghasilkan sebuah lagu. Lagu kemudian dinikmati oleh pendengar. Mestinya bebaskan saja para pendengar menikmatinya. Bahkan menyanyikannya. Mereka bisa mendengarkan di restoran, radio, media streaming, atau apa pun. Biarkan mereka mendengar. Semua biaya ditanggung pencipta.
Lalu dari mana pencipta mendapatkan uang? Cukup sebagian kecil saja pendengar yang membayar. Sebagian besar gratis. Yang gratis fungsinya adalah untuk mempopulerkan lagu.
Coba bayangkan kalau setiap orang hanya boleh mendengar lagu jika mau membayar. Maka lagu tidak akan populer. Bahkan tidak akan pernah didengarkan orang. Apa artinya lagu yang tidak pernah didengarkan atau dinyanyikan orang?
Sama seperti penulis. Apa artinya tulisan yang tidak pernah dibaca orang? Sebagai penulis, saya senang jika tulisan saya dibaca orang. Apalagi jika isi tulisan dipraktikkan oleh pembaca di bisnis yang mereka lakukan. Saya lebih senang lagi. Saya niatkan sebagai amal jariyah.
Saya pernah menulis beberapa lagu. Tapi karena saya tidak menekuni lagu saya tidak pernah didengar orang. Apalagi dinyanyikan. Hanya saya nyanyikan sendiri. Apa arti lagu seperti ini? Karya yang tidak bermakna.
Bagaimana andai lagu lagu Bengawan Solo tidak pernah didengar orang? Tidak pernah dinyanyikan orang? Tentu Gesang bukanlah siapa-siapa. Tapi karena Bengawan Solo didengarkan dan dinyanyikan orang dimana-mana, maka Gesang menjadi sosok kelas atas. Maka, orang yang mendengarkan dan menyanyikan Bengawan Solo membantu Gesang menjadi sosok kelas atas.
Lalu siapa yang membayar Gesang? Tidak semua pendengar atau orang yang menyanyikan lagu Bengawan Solo. Hanya sebagian saja. Bahkan hanya sebagian kecil yang membayar. Tapi itu sudah cukup untuk kehidupan Gesang.
Nah, tantangan di era yang berubah saat ini adalah memilih. Siapa sebagian besar orang yang mendengar lagu secara gratis. Bagaimana agar jumlah mereka makin besar. Jutaan. Bahkan milyaran. Lalu siapa sebagian kecil yang harus membayar dari pendengar. Siapa sebagian kecil yang harus membayar dari mereka yang menyanyikan lagu. Itulah yang dalam marketing dikenal dengan funneling. Jangan salah pilih. Anda tidak akan menjadi siapa-siapa jika salah pilih.
Para penulis dan pencipta lagu bisa belajar dari Microsoft. Tidak sedikit orang yang menggunakan software secara gratis. Bahkan memaikai software bajakan. Tapi mereka justru menciptakan kondisi seolah-olah di dunia ini tidak ada alternatif software selain Microsoft. Microsoft bernilai Rp 63 ribu triliun lebih dari kondisi itu.
Anda para pencipta lagu. Juga para penulis. Atau Anda membuat karya apapun. Kuasai keahlian funneling. Jangan sekedar menulis. Jangan sekedar mencipta lagu. Dunia sudah berubah.
Karya ke-485 Iman Supriyono yang ditulis Surabaya pada tanggal 12 Agustus 2025.
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
kereennn, benar sekali ini..
sekarang yang membayar adalah layanan premium bebas iklan atau gratis tetapi pemasang iklan yang membayarnya.
berebut atensi