Caruban, tahun 80-an. Atik Suryangsih, Lus Hadi, Ipung, Tatik, Mamik, Jon Jiyono. Itu adalah beberapa insan radio ternama dekade 80-an di wilayah yang kini menjadi ibu kota kabupatan Madiun. Nama-nama yang yang masih kokoh berada di memori saya sampai saat ini. Nama pertama adalah penyiar RRI Madiun. Empat nama di belakangnya adalah penyiar radio Moderato Madiun. Nama terakhir adalah operator radio Moderato Madiun. Ketika itu saya adalah seorang remaja pendengar setia radio.
Bukan hanya radio lokal. Tapi juga radio luar negeri. BBC, Radio Australia dan Voice of America adalah menu sehari hari. Gelombang short wave yang timbul tenggelam adalah kenikmatan yang tiada tara. Tujuan utamanya dalah mengasah kemampuan bahasa Inggris. Ya, masa SMP dan SMA adalah masa di mana saya sangat bersemangat belajar bahasa Inggris dengan radio sebagai satu-satunya media yang tersedia. Di siaran radio luar negeri ini ada nama Ebet Kadarisman si penyiar kenamaan yang namanya sampai saat in jugai masih melekat di memori.
Kecintaan pada dunia radio bahkan sudah muncul saat kanak-kanak. Ada nama Pak Har dan pak Imam RRI madiun yang sangat berbekas. Pak Har adalah pengasuh acara dongeng kanak-kanak yang disiarkan tiap jumat jam 5 sore. Bisa dipastikan setiap jumat sebelum jam 5 saya sudah nguping di radio Philips berbatrei 4 di rumah saya.
Pak Har juga ditunggu-tunggu setiap ramadhan. Pak Har tiap hari mengisi acara pengantar makan sahur. Sampai sekarang saya masih menyimpan insrumentalia lagu selayang pandang yang menjadi musik pembuka dan penutup acara itu. Pak Har mengisi acara tanya jawab agama islam itu sampai udzur dan kemudian diganti oleh Pak Imam. Bagi Iman Supriyono kecil, Pak Har dan kemudian Pak Imam adalah sumber ilmu agama luar biasa ketika itu.
&&&
Rokoke reco pentung weton pabrik tulung agung tuku rokok ojo bingung miliho cap reco pendung. Sopo yo sing durung. Ngrokok reco pentung yen durung menyango warung tuku rokok reco pentung. Ini adalah lirik sebuah iklan berupa tembang gamelan dengan irama lagu Sluku sluku batok. Sebuah lagu anak-anak yang sangat populer ketika itu. Iklan itu sangat sering di putar di radio. Sebagai penggemar radio, saya hafal teks iklan itu sampai saat ini.
Itulah dekade 80-an. Kegemaran saya mendengarkan radio sebagai sarana belajar dan hiburan tidak bisa dipisahkan dari keberadaan iklan. Iklan itulah yang membiayai siaran radio swasta yang saya dengarkan ketika itu.
Siapa pengiklan itu? Tidak lain adalah perusahaan rokok cap Redjo Pentung dari Tulungagung. Sebuah pabrik rokok nyang memang mengalami masa jaya pada dekade itu. Pada puncaknya, bisnis keluarga Soemiran Karsodiwirjo ini mempekerjakan sekitar 4500 orang.
Kejayaan Redjo Pentung saya saksikan dari dekat di bangku kuliah. Salah satu teman seangkatan di jurusan Teknik Mesin ITS adalah keluarga Redjo Pentung. Saat itu saya tinggal di rumah kos di kawasan Gebang, sebelah barat kampus ITS. Kamar kos saya berukuran sekitar 2,5 x 3 meter dengan ranjang tingkat. Satu kamar berisi dua mahasiswa.
Persis di sebelah barat kampung Gebang, ada komplek perumahan Kertajaya Indah. Komplek perumahan besutan PT Sinar Galaxy ini adalah hunian termewah di Surabaya ketika itu. Nah, kawan saya yang keluarga Redjo Pentung tinggal di kawasan ini. Saat saya berkunjung ke kawan ini, yang saya rasakan adalah perbedaan langit dan sumur. Rumah super mewah dengan perabotan kelas atas versus kamar indekos sempit dengan perabotan seadanya. itulah Redjo Pentung jaman itu.
Sepeninggal Soemiran tahun 1997, pengelolaan bisnis dilanjutkan oleh Ismanu Soemiran, putra sulungnya. Bisnis rokok ini berada dalam kendali lelaki kelahiran tahun 1949 ini sampai pailit pada awal tahun 2000-an.
&&&
Mengapa pailit? Tentu saja ada banyak penyebab. Dalam kaca mata siklus hidup perusahaan, ada kesalahan fatal yang dilakukan oleh manajemen Redjo Pentung. Sebagai sebuah perusahaan rokok, begitu memiliki satu merek produk yang tekenal, mestinya harus segera meluncurkan merek baru yang dibiayai dari laba merek pertama. Begitu merek kedua sukses, dilanjut dengan peluncuran merek ketiga dan seterusnya. Atau bisa juga uang laba digunakan untuk mengakuisisi merek rokok lain yang sudah terkenal.
Contoh ideal untuk bisnis rokok adalah PT HM Sampoerna yang memiliki Djid Sam Soe, Sampoerna Ijo, dan A Mild. Bahkan kini di era rokok elektrik anak perusahaan Philips Moris ini juga hadir dengan Veev. Bagi Philips Morris, Akuisisi HM Sampoerna senilai Rp 18 Triliun pada tahun 2005 adalah dalam rangka menambahkan 3 merek rokok terkenal tadi dengan sekali gebrak. Inilah bagian dari proses korporatisasi. Ini yang tidak dilakukan oleh Redjo Pentung pada masa jayanya.

Nah, kesalahan ini menjadikan Redjo Pentung hanya bertahan sampai generasi kedua. Berbeda dengan Philips Morris yang telah hadir di Industri rokok sejak tahun 1847. Jika jarak antar generasi adalah sekitar 25-30 tahun, maka Philips Morris masih eksis hingga generasi ke-7. Kini merek-merek rokok perusahaan bernilai lebih dari Rp 4 ribu triliun ini hadir di lebih dari 180 negara, termasuk Indonesia.
Pembaca yang baik, jika Anda pelaku bisnis, pastikan perusahaan Anda melakukan proses korporatisasi. Pelajari dengan baik 8 tahap siklus hidup perusahaan. Lakukan dengan segenap sumber daya. Seperti Philips Morris. Agar perusahaan tetap unggul dari generasi ke generasi. Agar perusahaan terhindar dari kutukan generasi ketiga. Generasi pertama mendirikan, generasi kedua menikmati, generasi ketiga menghancurkan.
Karya ke-491 Iman Supriyono yang ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi November 2025
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi