Saccharum officinarum. Tebu. Ini adalah tanaman yang tidak bisa dilepaskan dari tumbuh kembang anak-anak sebaya saya di kawasan pedesaan sekitar kota Caruban, Madiun, kampung halaman saya.
Betapa tidak. Orang-orang kampung mendapatkan pekerjaan dari bekerja menanamnya, membersihkan daun-daun keringnya, menyianginya, menebangnya. Upahnya tentu tidak besar. Tapi itulah yang menjadi sumber pendapatan banyak warga desa untuk kebutuhan hidupnya. Tentu termasuk menyediakan makanan bagi anak-anak seperti saya sekitar akhir tahun 70-an.
Secara ekonomi bapak ibu saya memang sedikit lebih beruntung. Tidak termasuk orang yang harus bekerja sebagai buruh kebun tebu. Ada sawah sendiri untuk sumber pendapatan. Ada beberapa ekor sapi. Juga industri rumah tangga makanan tradisional brem di sela-sela bertani.
Tapi keberadaan Saccharum officinarum tetap mewarnai masa tumbuh kembang saya. Menyaksikan orang bekerja di kebun tebu adalah sebuah kenikmatan. Mengamati pertumbuhannya hari demi hari adalah kebahagiaan. Memetik bunganya dan kemudian membuatnya menjadi mainan mobil-mobilan adalah antusiasme tidak terperikan. Mencari batang tebu sisa panen untuk jadi kudapan adalah agenda tahunan yang selalu ditunggu-tunggu. Menyaksikan proses evakuasi truk pengangkut tebu yang terperosok di kebun adalah pembelajaran ilmu mekanik mewah. Menyaksikan pemasangan rel non permanen kereta lori pengangkut tebu adalah sebuah exitement. Menyaksikan traktor yang menarik rangkaian kereta lori sebelum akhirnya digantikan oleh lokomotif saat kereta sudah masuk rel permanen adalah wisata edukasi yang tidak tergantikan.
Nah, semua adalah tentang tebu. Saccharum officinarum. Sebegitu wauw-nya si tebu ini, sampai-sampai saya memanfaatkan lahan kecil di samping halaman rumah untuk menjadi kebun tebu mini. Saya olah lahan layaknya kebun tebu di olah. Saya tanam dengan cara mencontoh para pekerja kebun tebu menanamnya. Dan yang paling membuat exited adalah saat bibit tebu mulai bertunas. Setiap pagi sebelum kemana-mana saya akan melihat pertumbuhan senti demi senti tunas-tunas tebu itu. Hari ini mulai kelihatan tunas. Besok tunasnya memanjang. Lusa mulai kelihatan kuncup daun….dan seterusnya. Pertumbuhan yang sangat indah.
&&&
Organisasi itu seperti tanaman. Seperti Saccharum officinarum. Hari ini berupa tunas. Besok tunas memanjang. Lalu tumbuh kuncup daun. Dan seterusnya. Kelak akan berbunga. Dan selanjutnya masa panen. Maka, jika hari ini muncul tunas. Tapi besok tunasnya tidak memanjang. Lusa juga tetap saja. Maka, bisa dipastikan si tunas tebu mati.
Maka, sebagai ketua lembaga beasiswa berbasis dana abadi ACR, http://www.acrku.org, saya bersama para pengurus terus menjaga agar ACR juga selalu ada pertumbuhan. Bertambah jumlah perusahaan yang dipegang sahamnya. Bertambah jumlah mitra investasi berbasis non ekuitasnya. Bertambah jumlah penerima beasiswanya. Terus tumbuh.
Maka, hari itu, 28 Desember 2025, adalah hari munculnya tanda pertubuhan itu. Bertempat di Ahpek Kopitiam Park Shanghai, Pakuwon City Surabaya, seorang anggota baru ACR menyerahkan surat permohonan keanggotaan. Dia adalah Prof. Juwari, S.T., M.Eng., Ph.D. Seorang guru besar mantan aktivis mahasiswa yang berasal dari keluarga buruh kebun tebu sepeti di tulisan di atas.
Bergabungnya dekan Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem ITS itu adalah pertumbuhan yang sangat bermakna bagi ACR. Betapa tidak. Mimpi ACR adalah menjadi Fulbright dari timur. Tentu saja kelak akan memberi beasiswa kepada para mahasiswa S2 dan S3 untuk belajar di berbagai perguruan tinggi terbaik dunia. Penerima beasiswanya juga dari berbagai negeri. Nah, untuk urusan ini, tentu saja cak Juwari, demikian saya biasa memanggilnya, adalah ahlinya ahli. Dengan adik-adik penerima beasiswa yang merencanakan untuk lanjut S2 dan S3 dan bercita-cita menjadi guru besar bisa mendapatkan sentuhan langsung dari ahlinya. Terlebih, anak ke 6 dari 10 bersaudara ini pada masa kecilnya juga pernah menjadi pekerja borongan kepras tebu untuk membantu orang tuanya membiaya sekolah dan kuiah
Sebelumnya di dalam keanggotaan ACR sudah ada Prof. Dr. Nurdiono, S.E., M.M., Akt., CA., CPA. Maka, masuknya alumni University Teknologi Malaysia ini adalah guru besar kedua dari 30-an anggota ACR. Para anggota inilah yang menjadi mentor bagi para penerima anugerah beasiswa ACR dalam belajar dan meniti karier. Sekaligus secara rutin berdonasi sebagai iuran anggota. Niatnya adalah wakaf untuk dikelola sebagai dana investasi yang hasilnya untuk memberi anugerah beasiswa kepada para pelajar dan mahasiswa cemerlang dalam proses merangkai masa depan cerahnya.
Cak Juwari bukan orang baru bagi saya. Cah Magetan ini sudah bersahabat dengan saya sejak mahasiswa. Kini pun masih bersama menjadi anggota grup WA alumni Jamaah Masjid Manarul Ilmi ITS. Insyaallah akan terus bersahabat. Seperti tag line ACR. Sahabat di sekolah sahabat di surga. Sahabat dalam menjaga ACR terus tumbuh. Maasyaallah laa quwwata illa billah.
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
𝘒𝘢𝘳𝘺𝘢 𝘬𝘦-502 𝘐𝘮𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘱𝘳𝘪𝘺𝘰𝘯𝘰 di laman ini, 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 di Jakarta pada tanggal 5 Februari 2026
Masha Allah, selamat datang Prof