Bermula Dari QRIS


Yang paling nikmat setelah menuntaskan 7 kilometer lari pagi adalah menikmati susu sapi segar di Cak Nasor. Warung kaki lima yang menjual susu sapi segar. Demikianlah kebiasaan saya menikmati suasana pagi di sekitar rumah di kawasan Mulyorejo Surabaya. Menjaga kesehatan dengan membakar lemak yang masuk ke tumbuh melalui makanan dan minuman. Menambah protein segar alami tidak tercampur tanpa bahan pengawet atau sejanisnya.

Saya sudah menjalani ritme lagi pagi seperti itu lebih dari 20 tahun. Pemicunya adalah penjelasan Dokter Tjatur, sohib di PWM jatim. Ketika itu beliau menjelaskan bahwa siapa pun tidak bisa menghindari mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung lemak. Zat yang tidak larut di air itu akan terbawa oleh sistem pencernaan sampai pembuluh darah yang berukuran mikron. Layaknya sebuah pipa, jika dialiri cairan yang mengandung lemak lama-lama akan ada kerak menempel di dindingnya. Lama-lama akan buntu. Muncullah stroke atau jantung koroner. Sau-satunya cara untuk menanggulanginya adalah dengan membakarnya. Lari pagi atau olah raga sejenis selama setengah jam hanya akan membakar karbohidrat. Bila dilanjutkan barulah akan membakar lemak. Maka, dibutuhkan disiplin olah raga minimal dua kali seminggu masing-masing satu jam. Alhamdulillah saya bisa menjaganya selama lebih dari 20 tahun terakhir.

Ada yang berbeda dari awal-awal lari pagi dengan saat ini. Bukan lari paginya. Bukan susu segarnya. Yang berbeda adalah cara pembayaran susu segar. Dulu, selain telepon seluler,  saya selalu membawa dompet berisi uang saat berlari pagi. Agar bisa membayar susu Cak Nasor. Kini cukup membawa telepon seluler. Pembayaran susu Cak Nasor bisa dilakukan dengan mudah menggunakan fasilitas QRIS. Cukup pindai kode yang disedikan oleh Cak Nasor. Tulis nominal yang harus dibayar. Tekan OK. Muncul bukti bayar. Tunjukkan Cak Nasor. Cak Nasor melakukan verifikasi. Transaksi beres.

&&&

Pembaca yang baik, kini pembayaran dengan uang fisik sudah sangat berkurang. Adanya QRIS dan macam-macam dompet uang elektronik menjadi penyebabnya. Dalam kondisi seperti ini, para pelaku bisnis, besar atau kecil, tidak bisa menghindarinya. Sudah menjadi tuntutan para pembeli. Bukan lagi kemewahan atau kecanggihan. Apa lagi di kota-kota besar seperti Surabaya ini. Mau tidak mau para pelaku bisnis mesti mengadopsinya.

QRIS adalah sebuah realitas yang harus diadopsi di dunia bisnis

Adopsi QRIS sudah, lalu apa? Yang pertama adalah risiko. Sebagai sarana pembayaran elektronik, risikonya bagi pelaku bisnis adalah tertunda atau gagal menerima uang. Bisa jadi karena sistem yang eror. Atau bisa juga karena penipuan yang dilakukan oleh pembeli. Untuk risiko ini bisa diatasi dengan aplikasi yang bisa langsung mengkonfirmasi masuknya pembayaran.

Ada lagi risiko pajak. Dengan pembayaran secara elektronik, semua transaksi akan dengan mudah diketahui oleh institusi pajak. Maka, mau tidak mau para pelaku bisnis mesti memahami regulasi terkait pajak dan brproses menjadi bisnis yang tertib pajak.

Ada tuntutan konsumen. Ada risiko. Lalu apa peluangnya? Peluang akan muncul jika para pelaku bisnis memiliki visi besar. Jika tidak, risiko-risiko itulah yang menjadi satu-satunya isi otak. Akhirnya, mereka bertahan. Tidak mau mengadopsi perubahan teknologi yang sebenarnya tidak akan pernah bergerak mundur.

Nah, jika Anda pelaku bisnis yang sudah memilih untuk mengadopsi pembayaran elektronik dengan QRIS atau sejenisnya, saatnya untuk membangun visi besar. Visi besar seperti apa? Prestasi tertinggi dari bisnis apapun adalah menjadi korporasi sejati. Tandanya ada tiga. Yang pertama adalah menguasai pasar lebih dari 100 negara agar tidak bisa diganggu oleh kebijakan ekonomi politik negara mana pun karena omzet dari satu negara berkontribusi tidak lebih dari 1% omzet perusahaan. Kedua, tidak ada pemegang saham pengendali sehingga perusahaan murni bekerja berbasis sistem manajemen. Ketiga, biaya modal sekitar 2-3% per tahun. Anda bisa mempelajari lebih lanjut perusahaan seperti ini dengan googling dengan kata kunci “korporasi sejati”.

Jika Anda pelaku bisnis kuliner misalnya, ketahuilah tidak ada korporasi multinasional yang tiba-tiba besar. Lebih dari 50 ribu gerai  McDonalds juga berawal dari satu gerai. Angka 50 ribu pastilah pernah melalui angka 1, 2, 3, 4, dan seterusnya. Tidak tiba-tiba 50 ribu.  

Jika Anda bervisi  besar, maka bisnis kaki lima seperti susu segar Cak Nasor adalah awalan. Setelah gerai pertama berjalan dengan baiki selanjutnya fokuskan uang laba untuk membuka gerai kedua, ketiga, dan seterusnya. Lama-lama nanti Anda akan piawai membuka gerai. Tandanya adalah kemampuan membuka gerai lebih besar dari pada laba yang telah dikumpulkan. Pada saat itu, tandanya bisnis perlu menata diri secara legalitas, akuntansi, perpajakan, operasional untuk masuknya investor.  Pada tahap ini, semua daya upaya dan pembayaran pajak akan terbalas. Bahkan berkali-kali lipat. Semua bermula dari QRIS. Anda siap?

Artikel ke 506 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan edisi Maret 2026, terbit di Surabaya.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Tinggalkan komentar