Triliuner Dunia: Berupa Apa Asetnya?


Tiap tahun Forbes meluncurkan daftar orang terkaya dunia. Untuk tahun ini, peringkat pertama adalah Bernard Arnault dan keluarganya dengan kekayaan USD 211 miliar. Dengan kurs hari ini nilainya adalah Rp 3 250 triliun. Peringkat terakhir alias peringkat ke-2540 diduduki oleh Inigo Zobel dengan kekayaan USD 1 miliar alias Rp 15 triliun.

Dari mana mereka memperoleh kekayaan? Forbes menjelaskan terdapat 10 industri yang menduduki posisi terbesar sebagai sumber kekayaan para triliuner. Industri pertama adalah keuangan dan investasi.  Terdapat  372 orang alias 14% dari 2540 orang terkaya berasal dari industri ini. Yang nomor satu adalah Warren Buffet, CEO dan pendiri Berkshire Hathaway, sebuah perusahaan investasi. Asetnya adalah USD 106 miliar alias Rp 1 626 triliun.

Berupa apa aset Buffet sebesar itu? Orang yang dijuluki the oracle of Omaha ini memiliki 14% saham seri A Berkshire Hathaway. Saat Forbes mempublikasikan peringkat itu, nilai pasar Berkshire Hathaway adalah USD 707 miliar. Kekayaan Buffet kurang lebih adalah sebesar 14% dari nilai Berkshire Hathaway.

Industri kedua adalah manufaktur. Industri ini mendudukkan 324 orang alias 12% dari orang terkaya tahun ini.  Reinhold Wuerth dan keluarga dengan kekayaan USD $29.7 miliar adalah yang tertinggi di industri ini. Kekayaan Wuerth berasal dari  Wuerth Group, sebuah perusahaan produsen skrup dan fastener dari Jerman.

Posisi ketiga adalah industri teknologi yang mendudukkan 313 orang alias 12% dari daftar orang terkaya tahun ini. Posisi puncak industri ini diduduki oleh Jeff Bezos pendiri Amazon. Kekayaannya adalah sebesar USD 114 miliar.  Kekayaannya berupa  saham Amazon. Saat Forbes meluncurkan daftar itu, nilai pasar Amazon adalah USD 1,08 triliun.

Indusrti ketiga sampai kesepuluh berturut-turut adalah fashion & retail, food & beverage, healthcare, real estate, diversified, energy, dan yang terakhir adalah media & entertaintment. Presentasi kontribusi masing-masing industri secara berturut-turut adalah 266 orang alias 10%, 212 orang alias 8%, 201 orang alias 8%, 193 orang alias 7%, 187 orang alias 7%, 100 orang alias 4%, dan 91 orang alias 3%.

&&&

Paling tidak ada empat pelajaran penting dari daftar itu. Pelajaran pertama, bahwa aset para triliuner adalah berupa lembaran-lembaran saham perusahaan. Bukan tabungan atau deposito. Bukan juga berupa kepemilikan pada properti berupa tanah atau bangunan. Tabungan atau deposito itu termakan inflasi. Properti juga sangat terbatas. Tidak ada properti yang nilainya triliunan. Hanya saham yang memungkinkannya. Jadi, orang tidak bisa menjadi triliuner sepanjang asetnya masih berupa tabungan, deposito, atau properti.

Pelajaran kedua, yang menjadi triliuner kelas dunia adalah para pendiri perusahaan atau ahli warisnya. Mengapa? Para pendiri perusahaan tentu memegang 100% saham saat perusahaan berdiri. Persentase itu hanya merupakan cara penyebutan. Aset yang sebenarnya bukanlah persentase itu. Melainkan sekian lembar saham. Sekian lembar saham itu tidak pernah dijual. Tapi perusahaan terus ditumbuhkan dengan terus-menerus menerbitkan saham baru yang disebut sebagai proses korporatisasi. Saham itu dibeli oleh investor dengan harga makin mahal dari waktu ke waktu.  Uangnya masuk ke perusahaan untuk modal ekspansi. Perusahaan pun membesar. Harga saham yang makin mahal inilah yang digunakan untuk menilai sekian lembar saham yang dimiliki oleh pendiri. Itulah yang membuat nilainya makin tinggi dan menjadi triliuner.

Berupa apa kekayaan mereka? Yang jelas bukan properti

Sebagai contoh adalah Djoko Susanto. Pendiri Alfamart itu berada di urutan No. 659 Forbes dengan kekayaan USD 4,2 miliar alias sekitar Rp 64 triliun. Angka itu diperoleh dari sekitar 21 miliar lembar saham Alfamart yang saat pengumuman Forbes itu harganya sekitar Rp 3000 per lembar. Nilai saham telah naik sekitar 300 kali dibanding saat Djoko Susanto mendirikan Alfamart. Ketika itu ia hanya menyetor Rp 10 per lembar saham.

Ketiga, angka aset besar itu tidak bisa langsung dinikmati dengan menjual saham. Pendiri menjual saham adalah sebuah insider trading. Insider trading akan mengacaukan lantai bursa. Itulah mengapa banyak negara melarangnya. Para pendiri menikmati sebagian laba yang dibagikan kepada para pemegang saham sebagai dividen. Tahun lalu Djoko Susanto misalnya menerima dividen sekitar Rp 300 miliar. Nikmat kan?

Keempat, para triliuner didominasi oleh mereka yang fokus pada satu bisnis. Bukan orang yang berbisnis macam-macam alias konglomerat. Hanya 7% dari para triliuner yang konglomerat alias diversified business. Selebihnya yaitu 93% adalah mereka yang fokus pada satu bisnis dan membesarkannya melalui proses korporatisasi.  Demikianlah 4 pelajaran pentingnya. Anda pendiri perusahaan? Anda mau jadi triliuner? Ambil 4 pelajaran tersebut.

Artikel ke-416 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk dan diterbitkan oleh majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi September 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

3 responses to “Triliuner Dunia: Berupa Apa Asetnya?

  1. Dari pelajaran ini didapat fokus vs diversified business ternyata unggul yang focus, sedangkan ada istilah dont put eggs on same basket. Nah kok tidak ketemu ya atau saya salah melihat sisi?

  2. Ping-balik: Crazy Rich Menyesatkan | Korporatisasi

Tinggalkan komentar