Kampus ITS tahun 1990. Dari asrama mahasiswa sepeda angin saya kayuh menyusuri jalan keluar kampus. Sesampai di jalan Arif Rahman Hakim saya belokan setir ke arah timur. Jalanan selepas magrib itu gelap. Kiri kanan jalan masih berupa semak belukar. Belum ada rumah. Cahaya lampu listrik baru bisa dinikmati manakala sepeda sudah memasuki wilayah perkampungan Keputih yang kiri kanan jalan sudah ada rumah.
Tujuan saya adalah toko Abadi. Sebuah toko yang menjadi tumpuan harapan para mahasiwa ITS dan kampus-kampus di kawasan Keputih ketika itu. Termasuk saya. Apa saja yang dibutuhkan para mahasiswa selalu tersedia. Mulai barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti mie instan, sabun, sampo. Sampai barang-barang spesifik seperti kalkulator berbagai tipe, baterai kalkulator aneka tipe, pipa kertas panjang untuk membawa kertas gulungan kalkir pekerjaan gambar teknik, kertas strimin untuk menggambar grafik, tinta berbagai jenis pena, dan sebagainya.
Toko Abadi memang lengkap. Dengan ukuran ruangan toko yang tidak seberapa besar, jadilah barang-barang dagangan itu ditata pada rak-rak tinggi. Ditumpuk-tumpuk dengan susunan sedemikan ruwetnya. Itulah kenapa oleh para mahasiswa tempat belanja favorit itu dijuluki toko ruwet.
Ruwet dalam pandangan para mahasiswa sebagai konsumen. Tapi tentu saja tidak ruwet bagi si pemilik toko itu. Dia yang hafal betul dengan letak barang-barang yang dijualnya. Dan tentu saja beserta harganya. Semua ada di memori otaknya. Itulah toko ruwet tahun 1990. Sebuah supporting system untuk para mahasiswa kampus ITS. Tentu saja juga mahasiswa Universitas Hang Tuah yang juga berlokasi di Jalan Arief Rahman Hakim, seberang kampus ITS.
Kampus ITS maupun Hang Tuah terus berkembang. Jumlah mahasiswa makin banyak. Dengan demikian penghuni rumah-rumah kos di Keputih juga semakin banyak. Masih ditambah kehadiran perumahan-perumahan di sekitar kampus yang juga mulai hadir bertebaran. Semak belukar dan rawa-rawa di sekitar kampus perlahan berubah menjadi perumahan. Itu semua menjadikan Keputih menjadi tempat yang menarik bagi pelaku bisnis yang menyediakan aneka kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Satu demi satu toko ritel berkonsep modern hadir. Paling awal adalah Sakinah Mini Market. awalnya kecil dengan barang dagangan yang terbatas. Kalah lengkap dengan toko ruwet. Tapi seiring berkembangnya pasar, Sakinah pun tumbuh. Luasan toko pun makin berkembang. Makin lama makin besar. Barang-barang yang dulu hanya bisa diperoleh di toko ruwet selanjutnya dengan mudah bisa diperoleh di Sakinah. Bahkan akhirnya jauh lebih lengkap.
Kemudian juga hadir beberapa gerai jaringan minimarket nasional yaitu Indomaret dan Alfamart. Sakinah pun menambah beberapa gerai minimarket selain minimarket pertama yang membesar dan berubah menjadi supermarket. Itu semua menjadikan konsumen ada pilihan. Anak-anak muda tentu saja lebih nyaman berbelanja dengan konsep swalayan. Apalagi beberapa di antara toko-toko itu buka 24 jam. Mahasiswa yang malam-malam sedang lembur mengerjakan tugas dengan mudah bisa berbelanja sekedar makanan ringan atau minuman untuk menemani begadang.
Singkat cerita, toko ruwet pun makin kehilangan konsumen. Makin lama makin sepi. Dan tidak bisa dihindari pada akhirnya harus menyerah. Tutup.
&&&
Pembaca yang baik, bisnis selalu penuh persaingan. Wasitnya adalah para pembeli. Mereka akan menentukan toko mana yang menjadi pilihan. Begitu memilih salah satu toko, yang lain tentu saja tidak kebagian omzet. Misalnya ketika seorang mahasiswa butuh baterai untuk jam tangan. Dia akan memilih di mana tempat membeli. Katakan kemudian memilih di toko A. Maka, tentu saja toko lain tidak menikmati omzet dari kebutuhan si mahasiswa tersebut. Itulah kekuasaan pembeli.
Karenanya, para pelaku bisnis perlu terus menjaga agar menjadi pilihan bagi para pembeli yang menjadi target pasarnya. Pelajaran penting dari tutupnya toko ruwet adalah perubahan budaya belanja. Di era keemasan toko ruwet, masyarakat datang ke toko menyebutkan barang yang akan dibeli. Selanjutnya petugas toko mengambilkan barang tersebut. Kini kondisi berubah. Masyarakat lebih memilih toko swalayan. Pembeli datang mengambil sendiri barang-barang yang akan dibelinya. Barang-barang tersebut kemudian dibawa ke kasir untuk proses pembayaran.
Dengan konsep swalayan, belanja bukan sekedar sarana memperoleh barang-barang kebutuhan hidup. Lebih dari itu, belanja bisa mengandung unsur refreshing. Wisata tipis-tipis di setelah penat bekerja atau beraktivitas seharian. Ini yang tidak disediakan oleh toko tradisional seperti toko ruwet.
Anda pebisnis? Pastikan bahwa selalu mampu mengidentifikasi perubahan yang ada di pasar. Pastikan Anda mengantisipasi perubahan yang ada dengan strategi yang tepat. Ingat, saat bisnis berada di puncak kejayaan, selalu anggarkan uang yang ada untuk melakukan mitigasi risiko. Termasuk risiko perubahan perilaku konsumen yang makin menyukai ritel modern. Jangan terlambat. Jadikan toko ruwet sebagai pelajaran penting.
Karya ke-498 Iman Supriyono ditulis untuk dan dimuat oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya edisi Januari 2026
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi