NU & Muhammadiyah: Perceived Membership


Deny JA melalui akun media sosialnya mengungkap hasil survei menarik dalam sebuah video. Topiknya adalah tentang bagaimana orang merasa menjadi bagian dari dua organisasi keagamaan terbesar. Dalam survei ditanyakan, “Apakah Anda merasa sebagai bagian dari organisasi keagamaan ini?” 

Survei dilakukan dua kali. Pertama tahun 2005. Hasilnya, 27,5% orang menyatakan sebagai bagian dari NU. Sedangkan yang merasa bagian dari Muhammadiyah proporsinya 9,4%. Artinya, selebihnya yaitu 63,1% menyatakan bahwa dirinya bukan bagian dari NU maupun Muhammadiyah.

Survei serupa dilakukan lagi pada tahun ini. Hasilnya ada perubahan yang sangat menarik. Yang merasa bagian dari NU naik menjadi 56,9%. Sedangkan yang merasa bagian dari Muhammadiyah turun menjadi 5,7%. Dengan demikian yang tidak merasa bagian dari NU maupun Muhammadiyah turun tinggal 37,4%.

&&&

Ada kualitas alias quality. Ada persepsi tentang kualitas alias perceived quality. Mana yang lebih penting dalam keputusan pembelian? Pengalaman kecil saya ini bisa menjadi narasi.

Lebih dari 10 tahun lalu ada bagian dari lantai keramik rumah saya yang pecah. Saya pun pergi ke toko bangunan dekat rumah. Dengan berbekal pecahan lantai, saya mencari keramik yang warnanya cocok dengan warna keramik rumah saya. Hasilnya ada dua pilihan. Masing-masing berharga Rp 32 ribu dan Rp 36 ribu.

Saya bukan ahli bangunan. Jadi saya tidak tahu persis mana di antara dua keramik tersebut yang lebih baik. Dalam kondisi seperti itu, saya berpikir sederhana. Saya pilih yang harganya lebih mahal. Dalam benak saya yang tidak tahu kualitas keramik, yang lebih mahal tentulah yang lebih baik. Inilah contoh bagaimana saya menggunakan perceived quality sebagai dasar dalam melakukan pembelian produk.

Mana lebih penting, quality atau perceived quality? Tentu saja keduanya penting. Quality adalah tentang bagaimana produsen menghasilkan produk yang memang berkualitas. Dalam sebuah perusahaan, baik buruknya tergantung antara lain pada riset produk, pemilihan bahan, pengendalian rantai pasokan bahan baku, SOP dan pengendalian  kualitas. Ini adalah pekerjaan divisi atau departemen operasional.

Perceived quality adalah tentang bagaimana perusahaan melakukan komunikasi dengan orang yang menjadi target pasar.  Dalam sebuah perusahaan, baik buruknya tergantung paling tidak pada promosi, komunikasi, pembuatan konten, pemilihan segmen, dan positioning produk. Ini adalah pekerjaan divisi atau departemen pemasaran.

Produk sebagus apapun tidak akan laku kecuali produsen sukses membangun perceived quality. Ketika produsen tidak bisa membangun perceived quality yang cukup, maka konsumen akan mencari caranya sendiri untuk menilai kualitas. Dalam kasus pembelian keramik di atas,  harga menjadi patokan persepsi kualitas di benak saya.

&&&

Secara legal, Muhammadiyah dan NU berbadan hukum perkumpulan. Berbeda dengan yayasan, perkumpulan memiliki anggota. Karena sifatnya adalah badan hukum resmi, keanggotaan juga resmi. Yang disebut anggota adalah orang yang secara resmi menyatakan kehendaknya untuk menjadi anggota dan kemudian pengurus perkumpulan menerimanya. Penerimaannya juga dilakukan secara formal dengan menerbitkan dokumen keanggotaan lengkap dengan nomor anggota.

Ada membership. Ada perceived membership. Keduanya penting.

Survei Deny bukan tentang keaggotaan alias membership. Tapi tentang persepsi keanggotaan atau perceived membership. Logikanya mirip quality versus perceived quality. Bagi persyarikatan, ini mesti direspon secara “marketing”. Bentuknya adalah mengevaluasi unit-unit organisasi yang terkait dengan fungsi “marketing”.

Misalnya adalah majelis tabligh. Perlu dievaluasi program-program komunikasi dengan masyarakat. Majelis tabligh perlu mendefinisikan dengan jelas apa yang dalam istilah internet marketing disebut sebagai funneling dengan customer journey-nya. Langkah demi langkahnya harus terstruktur dan terukur. Dan jangan lupa salah satu ukuran finalnya adalah dengan melakukan kembali survei seperti yang telah dilakukan oleh Deny JA. Tentu secara lebih komprehensif. Hasilnya menjadi sarana perbaikan berikutnya.

Memang dalam videonya Deny tidak menyebutkan tentang metode surveinya. Tidak juga menyebut margin of error-nya. Tapi biarlah itu menjadi pertaruhan kredibilitas Deny JA bersama LSI. Kita gunakan saja temuan survei itu sebagai pemicu perbaikan. Bisa!

Artikel ke-429 karya Iman Supriyono ini ditulis untuk dan dimuat di Majalah Matan terbitan PW Muhammadiyah Jawa Timur, terbit di Surabaya, edisi November 2023

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

2 responses to “NU & Muhammadiyah: Perceived Membership

  1. avatar Suwatno Ibnu Sudihardjo Suwatno Ibnu Sudihardjo

    selalu inspiratif Ustadz, perlu dikomunikasikan lebih intens

Tinggalkan komentar