Anda kenal Blue Bird? Menurut Anda perusahaan ini bagus atau tidak? Intangible assetnya bagus atau tidak? Saya yakin Anda akan menjawab bahwa perusahaan ini bagus dengan intanggilble asset bagus. Kecil kemungkinan Anda akan menjawab sebaliknya. Tapi bagaimanakah kenyataannya secara angka? Mari kita cermati.
Nilai pasar perusahaan taksi ternama ini saat penutupan transaksi di Bursa Efek Indonesia tanggal 1 Juli 2024 adalah Rp 3,69 triliun. Nilai buku sesuai laporan terbaru yaitu per tanggal 31 Maret 2024 adalah Rp 5,75 triliun. Secara matematis, nilai pasar adalah nilai buku ditambah dengan nilai intangible asset sebuah perusahaan. Dengan formula ini, nilai intangible asset Blue Bird adalah minus Rp 2,04 triliun.
Sesuai neraca terakhir, si taksi biru ini memiliki uang kas sebesar Rp 1,1 triliun. Piutang usaha Rp 264 miliar. Aset tetap berupa armada dan peralatannya Rp 3.36 triliun. Aset tetap berupa tanah senilai Rp 2,07 triliun. Total aset adalah Rp 7,72 trilin. Total utang adalah Rp 1,98 triliun. Angka inilah rincian dari nilai buku sebesar Rp 5,75 triliun di atas. Aset-asetnya sangat meyakinkan. Tapi nilai intangible assetnya minus.
&&&
Apa akibat dari intangible asset yang minus? Kita bisa melihatnya dari angka Blue Bird secara lebih detail. Jumlah lembar saham yang telah diterbitkan Blue Bird saat ini adalah 2,50 miliar lembar dengan nilai nominal Rp 100. Dengan demikian nilai buku per lembar saham adalah Rp 2 298.
Jika hari ini BIRD menerbitkan saham baru di pasar maka harganya adalah Rp 1 495. Misalkan saja menerbitkan 0,25 miliar lembar alias 10% dari saham beredar saat ini, BIRD akan menerima dana sebesar Rp 374 miliar. Akibat dari penerbitan saham ini adalah nilai buku perusahaan akan meningkat menjadi Rp 6,12 triliun. Tetapi karena jumlah lembar saham menjadi 2,75 miliar lembar maka nilai buku per lembar saham menjadi Rp 2 225. Mengalami penurunan sebesar 3%. Inilah yang mengalangi BIRD untuk tumbuh pesat melalui penerbitan saham baru. Harusnya dilusi justru meningkatkan nilai buku. Tapi ini sebaliknya.
Karena halangan itu, pertumbuhan perusahaan pun terdampak. Omzet tahun 2023 adalah Rp 4,42 triliun. Bandingkan dengan omzet tahun 2015 yang Rp 5,47 triliun. Justru mengalami penurunan. Nilai pasar pun begitu. Tahun 2015 nilai perusahaan adalah Rp 28,13 triliun. Saat ini tinggal Rp 3,69 triliun. Bukannya tumbuh tapi justru terpangkas sebesar 87%.
BIRD melakukan IPO tahun 2014. Laporan keuangan menunjukkan bahwa dari IPO itu perusahaan mencatatkan nilai agio saham sebesar Rp 2,51 triliun. Agio saham adalah hasil monetisasi intangible asset perusahaan saat itu. Agio saham alias tambahan modal disetor adalah selisih antara harga penjualan saham dengan nilai nominal saham saat penerbitan saham baru yaitu IPO pada saat itu. Setelah IPO BIRD belum pernah menerbitkan saham kembali. Wajar karena penerbitan saham justru menurunkan nilai buku.
&&&
Nilai Intangilble asset adalah hasil nyata dari corporate marketing sebuah perusahaan. Minusnya intangible asset menandakan hasil corporate marketing yang justru menggerogoti book value perusahaan. Dan itu terjadi pada Blue Bird. Sebuah perusahaan yang bisa dikatakantidak ada tandinganya di bisnis taksi tanah air.
Kok bisa? Narasi berikut ini bisa memberikan penjelasan. Dalam setahun terakhir ini paling tidak sebulan sekali saya datang ke Denpasar untuk rapat direksi perusahaan klien SNF Consulting.. Dari bandara mana pun menuju kota, Blue Bird adalah favorit saya. Termasuk saat dai bandara Ngurah Rai Denpasar setahun terakhir ini.
Di Ngurah Rai, Bllue Bird menggunakan armada mobil listrik BYD. Saya pun langganan naik mobil listrik dengan bodi seperti Nissan Evalia ini. Mobil yang sangat nyaman. Nah yang menarik, setiap datang ke konter Blue Bird di bandara pulau dewata ini, petugas konter selalu menawarkan tarip paket. Ke ke hotel Harris Cokroaminoto yang berada di kota Denpasar misalnya ditawarkan Rp 240 ribu. Karena saya tahu bahwa Blebird selalu tersedia argo maka saya selalu minta pakai argo. Dan setiap naik biayanya adalah sekitar Rp 150 ribu.
Saya pernah protes kepada Blue Bierd melalui DM instagram akun resminya. Saya protes karena itu bukan karakter Blue Bird yang saya kenal selama ini. Blue Bird selalu melayani pelanggan dengan fair. Tidak menjebak konsumen seperti di bandara Denpasar. Orang yang tidak tahu akan menerima saja tawaran tarip paket dan membayar jauh lebih mahal dari pada tarif argometer.
Tidak hanya sekali saya protes. Bahkan saya beri link beberapa tulisan positif lama saya tentang Bluebird. Saya juga sudah sampaikan kalau tidak ada perubahan saya akan menuliskannya lagi. Tapi sampai terakhir saya ke Denpasar bulan lalu masih belum ada perubahan. Maka muncullah tulisan yang Anda baca ini hehehehe.
Apa pelajarannya? Dalam kerangka corporate marketing 6C Balmer, Blue Bird melakukan kesalahan dalam 2 C yaitu poin covenant dan constituencies. Covenant artinya adalah bahwa perusahaan akan memiliki nilai tinggi jika mampu menjadikan pelanggan memiliki loyalitas atau kesetiaan kepada merek sampai seperti loyalitas dalam agama. Dalam islam disebut alwala’. Puncak kesetiaan. Nah, komplain saya yang tidak ditanggapi positif akan mengganggu aspek coevent.
Constituencies artinya adalah bahwa seorang pelanggan selalu memiliki komunitas masing-masing. Saya misalnya punya komunitas korporatisasi dari kantor saya, SNF Consulting. Komunitas ini terdiri dari para CEO, direksi, komisaris, pendiri dan pemegang saham berbagai perusahaan. Komunikasi dijalin melalui grup-grup WA, telegram dan media sosial. Tulisan ini juga di posting di komunitas itu. lalu dibaca oleh para anggotanya. Nah, dengan tidak adanya tanggapan positif dari Bllue Bird terhadap DM saya tersebut, para anggota komunitas saya jadi tahu permasalahan ini. Tentu akan mempengaruhi persepsi mereka terhadap Blue Bird.

Demikianlah contoh bagaimana Blue Bird melakukan kesalahan dalam mengelola dua dari 6C corporate marketing. Inilah sebagian penjelasan dari mengapa nilai intangible asset Blue Bird rendah bahkan negatif. Ikuti terus tulisan-tulisan berikutnya tentang corporate marketing sebagai upaya manajemen menumbuhkan intangible asset. Ikuti terus di web ini sampai pada seminar hasil riset SNF Consulting “Top 100 Intangible Aset Monetizing Company 2024 List” yang terjadwal tanggal 1 Agustus ini di Jakarta.
Artikel ke-451 karya Iman Supriyono ditulis di SNF Consulting house of management, Surabaya, pada tanggal 2 Juli 2024 dalam rangka persiapan semina “Top 100 Intangible Asset Monetizing Company 2024 list”
Baca juga
Buruknya Nilai Intangible Asset Ciputra
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Ping-balik: Corporate Marketing: Pelajaran Dari Ciputra | Korporatisasi
Sangat menarik..ini ilmu baru buat saya, terima kasih
Ping-balik: Lemahnya Kreativitas Korporat Pakuwon | Korporatisasi
Ping-balik: Rokok: Kreatif Walau Dikekang | Korporatisasi
Ping-balik: Kopi Pahit | Korporatisasi
Ping-balik: Korporatisasi 100 Versus Forbes 2000 | Korporatisasi
Ping-balik: Sandi Versus Buffet: Entrepreneur Masuk Politik? | Korporatisasi
Ping-balik: Inovatif: Mandi | Korporatisasi
Ping-balik: Amman: Sang Jawara Korporatisasi 100 | Korporatisasi
Ping-balik: PIK2: Uang Kecil IPO, Uang Besar Rights Issue | Korporatisasi
Ping-balik: NU Muhammadiyah Tidak Akan Mengelola Tambang | Korporatisasi
Ping-balik: Monetisasi Intangible Asset Lebih Mengutungkan Dari Pada Menjual Nikel: TPB Si Nomor 3 Korporatisasi 100 | Korporatisasi