Indeks Wakafisasi NTU Dibanding ITB & MIT


Sejarah Nanyang Technological University, NTU, bermula dengan berdirinya Nanyang University pada tahun 1955. Nanyang University adalah universitas Tionghoa pertama yang berdiri di luar China. Tan Lark Sye pertama kali mengemukakan ide pendirian universitas Tionghoa pada tanggal 16 Januari 1953. Pada tanggal 23 Maret 1953, Huay Kuan menyumbangkan 523 hektar tanah untuk universitas tersebut.  Tan sendiri menyumbangkan SGD 5 juta. Seruannya untuk mendirikan universitas Tionghoa mendapat dukungan antusias dari berbagai komunitas di seluruh Asia Tenggara.

Pada tahun 1955 dibuka kelas pra-universitas untuk mempersiapkan siswa memasuki universitas baru tersebut. Angkatan pertama yang terdiri dari 584 siswa diterima pada tanggal 15 Maret 1956. Terdapat tiga fakultas: seni, sains, dan perdagangan. Kegiatan penelitian dimulai sejak tahun 1957. Lulusan pertama yang terdiri dari 437 orang dihasilkan pada tahun 1959. Tujuh tahun kemudian, pada tahun 1963, jumlah mahasiswa mencapai 2.324.

Pada tahun 1980, Nanyang University digabung dengan University of Singapore (NUS) sesuai undang-undang. Pada tahun 1981, Nanyang Technological Institute didirikan di lokasi bekas Nanyang University.

Dalam kurun waktu empat tahun beroperasi, Nanyang Technological Institute (NTI) terpilih sebagai salah satu institusi teknik terbaik di dunia oleh Commonwealth Engineering Council. Lembaga  tersebut memberi penilaian ini setelah melakukan studi ekstensif selama empat tahun terhadap program studi yang ditawarkan oleh institusi teknik di seluruh dunia.

Pada tahun 1982, NTI menerima 582 mahasiswa sarjana pertamanya dalam tiga disiplin ilmu teknik – teknik sipil dan struktur, teknik elektro dan elektronik, serta teknik mesin dan produksi. Mahasiswa pascasarjana pertama diterima pada tahun 1986. Pada tahun akademik 1990/1991, jumlah mahasiswa sarjana di institut tersebut telah meningkat menjadi 6.832 dan jumlah mahasiswa pascasarjana meningkat menjadi 169.

NTI digabung dengan National InstItute of Education menjadi NTU pada tahun 1991. Daftar alumni bekas Nanyang University dipindahkan ke NTU pada tahun 1996. NTU menjadi lembaga otonom pada tahun 2006.

&&&

Laporan keuangan NTU tahun 2024 (teraudit KPMG) mengungkap bahwa total asetnya adalah SGD 8,6 miliar alias IDR 112 triliun. Dari aset tersebut yang berupa tanah dan bangunan adalah SGD 1,56 miliar (IDR 20 triliun). Hanya 18% dari total aset. Komponen aset terbesarnya adalah berupa aset investasi yaitu sebesar SDG 4,87 miliar (IDR 63 triliun) alias 57% dari total aset. Selebihnya kas operasional dan aset lancar lain. Proporsi aset ini menunjukkan keseriusan NTU untuk melepaskan diri dari ketergantungan kampus pada pendapatan dari uang kuliah dari mahasiswa. Sebagai pembanding, aset investasi MIT (teraudit PWC) adalah sebesar 79%. Aset investasi ITB (termasuk properti investasi, teraudit RSM) adalah 17%.

Laporan laba rugi NTU menyatakan bahwa total pendapatan kampus adalah SGD 1.52 miliar (IDR 19,8 triliun). Pendapatan dari pembayaran mahasiswa hanya berkontribusi SGD 446 juga alias IDR 5,8 triliun. Dengan demikian indeks ketergantungan NTU terhadap pendapatan dari mahasiswa adalah 29%. Masih jauh dari MIT, kampus teknologi nomor satu dunia, yang sebesar 8%. Lebih bagus dari ITB yang 33%.

Pendapatan dari investasi adalah sebesar SGD 490 juta (IDR 6,2 triliun). Dengan demikian kontribusi hasil investasi terhadap pendapatan kampus adalah 32%. Angka yang disebut sebagai indeks wakafisasi ini melebihi prestasi MIT yang 29%. Angka ini jauh lebih baik dari  ITB yang 0,6 %.

Bagi sebuah perguruan tinggi teknik, kemampuan risetnya dibutuhkan oleh pihak lain. Pihak-pihak yang membutuhkan akan menggunakan jasa riset tersebut dan kemudian membayarnya. Pendapatan NTU dari riset adalah SGD 238 juta yaitu 16% dari total pendapatan. Angka ini lebih rendah dari MIT yang 26%. Juga jauh lebih rendah dari ITB yang 41%.

&&&

Pembaca yang baik, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan secara umum adalah institusi sosial. Bukan bisnis. Maka para pengelolanya mesti terus bekerja keras untuk menurunkan ketergantungan kampus pada pendapatan dari mahasiswa (tuition fee). Menurunkan indeks ketergantungan.

Caranya adalah dengan terus menggalang masuknya donasi dana abadi alias dana wakaf  dari masyarakat. Tahun 2024 posisi dana abadi NTU naik sebesar SGD 273 juta alias IDR 3,5 triliun. Pada tahun yang sama, ITB menggalang donasi dana abadi sebesar Rp 14 miliar dan donasi bersyarat Rp 70 miliar alias total 84 miliar.

Dana abadi itu kemudian dikelola sebagai investasi. Cara pengelolaannya persis perusahaan-perusahaan investasi Blackrock, State Street, Saratoga, dan sebagainya. Menjadi Investing, bukan operating company. Lembaga pendidikan itu berinvestasi, bukan berbisnis. Berinvestasi tidak melunturkan jati diri sosial. Sebaliknya, berbisnis akan memunculkan persaingan dengan perusahaan lain dan menggerus jati diri sosial lembaga pendidikan.

NTU sebagai perguruan tinggi yang relatif muda sangat progresif dalam menumbuhkan indeks wakafisasi. Kampus berusia 71 tahun ini berada pada ranking 74 dari 100 besar endowment fund dunia menurut SWF institute. Mengejar MIT, kampus berusia 161 tahun, yang berada di peringkat 9. Jauh meninggalkan ITB, kampus berusia 106 tahun yang tidak masuk daftar tersebut. Anda pengelola kampus? Anda pengelola lembaga pendidikan? Saatnya membangun endowment fund atau dana wakaf.

Karya ke-499 Iman Supriyono ditulis di Surabaya pada tanggal 4 Januari 2026

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Tinggalkan komentar