Inilah dividen dari perusahaan-perusahaan yang sahamnya dipegang oleh Saratoga sepanjang lima tahun terakhir (2020-2024): Rp 1,07 triliun, Rp 1,66 triliun, Rp 2,61 triliun, Rp 2,81 triliun, dan Rp 3,85 triliun. Untuk tahun 2024: dari Adaro Rp 3,12 triliun, dari MPM Rp 291 miliar, dari Tower Bersama Infrastructure Rp 383 miliar, dari Nusa Raya Cipta Rp 5 miliar, dari Samator Gas Rp 3 miliar, dari investee lain-lain Rp 3 miliar.
Itulah yang ditampilkan pada item pendapatan pada laporan laba ruginya. Jadi pendapatannya adalah dari dividen. Bukan dari berjualan barang atau jasa. Mengapa demikian? Saratoga. adalah perusahaan investasi. Kerjanya berinvestasi dengan skema saham pada perusahaan-perusahaan lain. Persentase sahamnya pasti kecil. Dibawah 50%. Dengan demikian Saratoga tidak mengkonsolidasikan laporan keuangan perusahaan yang sahamnya dipegang. Cukup melaporkannya sebagai pendapatan saat menerima dividen.
Berapa nilai aset Saratoga untuk menghasilkan dividen sebesar itu? Per 31 Desember 2024 nilai asetnya adalah Rp 57,84 triliun. Dengan demikian dividen yang diterima pada tahun tersebut adalah 6,6%. Angka ini disebut dividend yield.

Kok persentasenya kecil? Kok beda tipis dengan imbal hasil ORI? Tidak beda jauh dengan dividen? Perlu diketahui, angka tersebut diperoleh dari nilai aset investasi Rp 57,84 triliun. Nilai adalah berdasar nilai pasar saham terakhir. Jadi uang yang benar-benar ditanamkan Saratoga pada masa lalu jauh lebih kecil dari pada angkat itu. Mari kita bedah.
Saratoga didirikan pada tahun 1991. Modal disetor pada neraca terakhir adalah Rp 271 miliar. Pemegang saham saat ini: Edwin Soeryadjaya 35,81%, PT Unitras Pertama 32,72%. Sandiaga Uno 21,51%, dan publik 9,81%. Karena Unitras adalah representasi Edwin, maka bisa disimpulkan bahwa pendiri memegang 90,04%. Artinya, dari modal setor Rp 271 triliun, yang disetor oleh pendiri adalah Rp 244 miliar. Artinya pendiri hanya berkontribusi 0,4% dari aset Saratoga saat ini.
Sebagai perusahaan investasi, biaya usaha Saratoga kecil sekali. Tidak ada operasional melayani customer. Tahun 2024 hanya mengeluarkan Rp 232 miliar untuk biaya usaha. Dengan demikian, masih ada pendapatan dividen bersih Rp 3,61 triliun. Hak pendiri adalah 90,04% dari angka itu alias Rp 3,26 triliun. Maka imbal hasil pendiri adalah 1 374%. Bandingkan jika Rp 244 milair yang disetor pendiri tahun 1991 itu diinvestasikan di ORI atau sejenisnya. Hari ini hanya mendapatkan imbal hasil sekitar 6%. Uang Rp 244 miliar tidak tumbuh. Bahkan tergerus inflasi super dalam.
Dari mana sumber aset lainnya? Yang terbesar adalah dari saldo laba yaitu Rp 46 triliun alias 80% dari total aset. Sebagian besar laba ditahan berasal dari kenaikan nilai saham-saham yang dipegang Saratoga. Sebagian kecil berasal dari uang tunai dividen investee yang tidak dibagikan. Pada tahun 2024 misalnya Saratoga membagi dividen kepada Sandi, Edwin dan para megang saham lain total sebesar Rp 297 miliar dari Rp 3,85 triliun dividen yang diterimanya dari Adaro dan investee lain. Tahun 2023 Rp 1,01 triliun dari Rp 2,81 triliun dividen yang diterima dari Adaro dll. Sisanya akan menjadi agio saham dan diinvestasikan lagi. Itulah mengapa Saratoga saat ini punya banyak sekali investee.
Dari mana sumber aset terbesar kedua? Tidak lain adalah dari tambahan modal disetor alias agio saham. Nilainya Rp 5,18 triliun. Ini adalah uang yang disetor publik sebagai saham saat Saratoga menerbitkan saham baru melalui IPO atau rights issue. Jika misalnya saat ini Saratoga melakukan penerbitan saham baru melalui rights issue, masyarakat akan membayar dengan harga Rp 1 545 per lembar saham. Dengan nilai nominal Rp 20, maka Rp 1 525 akan menjadi agio saham. Jika menerbitkan saham 10% saja dari jumlah lembar saham yang telah diterbitkan, Saratoga akan menerima agio saham sebesar Rp 2,1 triliun.
&&&
Perusahaan seperti Saratoga inilah yang harus dibuat oleh kampus, sekolah, pesantren, organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah atau NU, dan organisasi-organisasi sosial lain. Membuat perusahaan investasi. Investment company. Bukan operating company.
Kerjanya sederhana. Kumpulkan uang dari para donatur. Dalam bahasa umat Islam disebut wakaf. Lalu uang itu dipakai untuk mendirikan perusahaan investasi seperti Saratoga. Lalu perusahaan investasi itu berinvestasi seperti yang dilakukan Saratoga. Copy and paste Saratoga. Nanti akan menerima imbal hasil (ROI) 1 374 %j seperti Saratoga. Nilai aset akan tumbuh berlipat ganda seperti Saratoga. Bukan seperti ORI atau deposito.
Bukan hanya sederhana tetapi juga tidak mengganggu jati diri sosial lembaga pendidikan atau keagamaan. Perusahaan investasi tidak pernah bersaing dengan perusahaan mana pun. Tidak pernah mengalami proses pembelajaran panjang dengan menanggung rugi sebagai siklus hidup perusahaan. Lembaga keagamaan, pendidikan, dan sosial tetap bisa fokus ke visi dan misi keagamaan, sosial dan pendidikan. Tidak menjadi pelaku bisnis. Tidak bersaing dengan pelaku bisnis mana pun.
Itulah mengapa MIT sebagai kampus ranking 1 dunia mendirikan MITIMCo, Harvard University mendirikan Harvard Management Company, gereja mormon LDS Church sebagai organisasi keagamaan dengan aset terbesar dunia mendirikan Ensign Peak Advisor. King Abdullah University of Science and Technologi pun juga. Mendirikan investment company, bukan operating company. Anda pengelola kampus, sekolah, pesantren, lembaga keagamaan, atau lembaga sosial? Sudah memulai langkah untuk memfotokopi Saratoga? Gunakan dana abadi yang ada untuk itu. Jangan tunda-tunda waktu. Saratoga butuh sekitar 20 tahun untuk menikmatinya.
Karya ke 507 Iman Supriyono ini ditulis di Masjid Arroyan Surabaya selepas salat lohor tanggal 21 Ramadhan 1447 KHGT
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Baca Juga
Satu Lagi Dari Wakaf ACR: Apotek Titokita
Wakaf Pembiayaan Kambing Kurban
Wakaf Untuk Pensiunan Marbot dan Imam
Allah Sebagai Pemgang Saham Legal Formal
NUS: Kampus Berjati Diri Sosial Dengan Wakaf
NTU: Si Muda Mengalahkan Seniornya Dengan Wakaf
Berapa Indeks Wakafisasi Kampus Anda?