Dari Marketplace ke Produk Bermerek


Yang saya cari adalah jaket semi jas. Kainya harus tipis sedemikian hingga tidak makan tempat ketika dilipat dan masuk tas. Sudah lama saya meninggalkan kopor. Kemana-mana saya hanya membawa tas ransel ukuran 21 liter.  Maka, jaket berbahan kain tipis adalah keharusan.

Beberapa toko busana sudah saya ubek-ubek. Toko busana besar berjaringan nasional. Juga supermarket Sakinah di dekat rumah saya di kawasan kampus ITS yang menjual aneka busana. Bahkan saya juga sudah ke Thamrin City yang dikenal sebagai pusatnya busana. Jaket yang saya maksud tidak ada.

Setelah menyerah mencari secara offline, saya kemudian mencoba mencarinya secara online. Saya  buka marektplace Tidak butuh waktu terlalu lama saya sudah mendapatkan barang yang saya butuhkan. Saya baca komentar dari konsumen terdahulu. Juga ratingnya Singkat kata saya yakin dengan barang tersebut. klik keranjang. Bayar dengan mengisi deposit. Klik OK.

Beberapa hari kemudian barang yang saya beli sudah terkirim di rumah. Saya  buka kemasannya. Tidak lupa merekam dengan video untuk jaga-jaga kalau ada komplain. Dan alhamdulillah ternyata barang yang saya beli sesuai harapan. Tidak ada keluhan.

&&&

Saya yakin Anda pernah mengalami seperti yang saya ceritakan di atas. Membutuhkan barang tertentu. Sudah mencari ke berbagai toko dan tidak menemukannya. Maka, dengan mudah Anda bisa mencarinya si marketplace. Shopee, Tokopedia, Lazada, atau sejenisnya.

Nah, sebagai pelaku bisnis, coba Anda berpikir dari sisi lain. Yaitu dari sisi penjual. Bagaimana kalau Anda adalah pebisnis jaket? Saya adalah hot prospect bagi Anda. Saya butuh jaket. Kalau ada barang yang sesuai kriteria, pasti akan saya beli. Pertanyaannya, bagaimana Anda memastikan bahwa produk Anda bisa saya akses dengan mudah?

Di era digital ini, ketika mencari sesuatu, gawai adalah sumber informasi terbaik. Anda bisa googling. Belakangan Anda juga bisa bertanya pada AI. Bahkan jika Anda kesulitan mencarinya dengan kata-kata, Anda cukup mengarahkan lensa gawai ke foto atau barang yang Anda maksud. Maka gawai akan memberi informasi lengkap dan akurat kepada Anda.

Nah, itulah yang saya lakukan saat butuh jaket. Maka, kalau Anda tidak menampilkan produk Anda supaya bisa saya cari dan beli dengan cukup menggerakkan jempol, Anda akan dikalahkan oleh produsen lain yang melakukannya. Maka, hadir di Marketplace adalah sebuah keharusan.

&&&

Ada dua jenis produk di pasar. Ada komoditas. Ada barang bermerek. Pada awalnya semua produk itu adalah komoditas. Tapi kemudian ada pebisnis yang mampu mengubahnya menjadi barang bermerek. Ciri utama barang bermerek adalah memiliki kekuatan monopolistik. Seperti monopoli. Seolah-olah tidak ada penggantinya.

Marketplace dulu, branded produck kemudian

Contoh sempurna dari produk monopolistik adalah kecap. Coba lihat di dapur. Perhatikan kecap yang dipilih oleh ibu-ibu dari waktu ke waktu. Anda akan melihat bahwa di dapur Anda hanya ada satu merek kecap. Dari waktu ke waktu tidak pernah berganti merek. Bahkan ketika harganya naik. Para  ibu tidak akan pernah mau berpindah ke kecap merek lain. Seolah olah ada monopoli.

Contoh perubahan dari komoditas ke barang bermerek bisa kita amati di produk gula pasir. Dulu, orang beli gula pasir selalu polos tanpa merek. Kalaupun ada merek tapi sekedar label yang tidak masuk ke benak konsumen. Tapi kini ada Gulaku. Inilah contoh perubahan gula dari komoditas menjadi produk bermerek.

Prosesnya panjang. Merek ini diluncurkan oleh Sugar Group Companies pada tahun 2002.  Perusahaan berbasis di Lampung ini baru meluncurkan Gulaku di usianya yang ke-19 dari pendirianya pada tahun 1983. Mulai memproduksi gula sebagai komoditas pada tahun 1987. Artinya, merek Gulaku diluncurkan setelah 15 tahun bergelut di bisnis gula.

Kini, 24 tahun setelah hadir di pasar, Gulaku tampil seolah sendirian sebagai gula bermerek. Memang di pasar sudah muncul merek-marek lain yang mencoba ikut menikmati manisnya berjualan gula bermerek. Tapi belum mampu mengalahkan Gulaku sebagai pioner. Merek lain masih dianggap sebagai komoditas. Konsumen tetap setia walaupun harganya lebih mahal dari pada gula tanpa merek. Atau dibanding merek lain.

&&&

Mampu menjual di marketplace bukan garis finish. PR berikutnya adalah membangun merek. Merek yang benar-benar berfungsi. Merek yang memunculkan efek monopolistik di mata konsumen. Seperti merek kecap  bagi kaum perempuan. Tidak akan pernah mau berganti merek lain dalam kondisi apapun. Monopolistik. Seperti ada monopoli.

Mengubah komoditas menjadi produk bermerek dibutuhkan dua hal. Pertama adalah memberi merek dalam bentuk tulisan, gambar atau label. Kedua adalah kemampuan menghasilkan produk dengan kualitas konsisten dan standar dalam jangka panjang. Tidak pernah berubah. Nah, inti proses penguatan merek adalah pengulangan. Maksudnya, merek yang sama diulang-ulang dimasukkan pada benak konsumen dengan produk tidak pernah berubah kualitasnya. Gulaku butuh waktu 24 tahun untuk mencapai kondisi merek seperti yang kita ketahui saat ini.

Tanpa transformasi dari komoditas ke produk bermerek, kemampuan menjual di marketplace akan mudah hilang. Konsumen akan mudah berpindah ke produk pesaing. Tidak ada loyalitas.

Artikel Karya ke 518 Iman Supriyono ini ditulis untuk dan diterbitkan oleh majalah Matan edisi April 2026

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca Juga
Dari Monopoli ke Monopolistik, Anda Siap?

Tinggalkan komentar