Sederhana dan Percaya Diri Adalah Kamu


Ummi, kita memulai kehidupan bersama dari nol. Kau mahasiswi semester 7. Aku mahasiswa semester 7 juga. Sama-sama di kampus ITS. Sebuah kampus yang sangat kita nikmati lingkungan egaliter dan apa adanya. Tidak perlu jaim. Itu semua menjadikan kau dan aku biasa hidup sederhana.

Tetapi hidup sederhana itu sejatinya adalah jiwamu sejak kanak-kanak. Sejak kelas 1 SD kau sudah terpisah dari orang tua. Praktis kau sudah biasa pegang uang saku pribadi dari orang tuamu. Itupun nilainya pasti terbatas karena kondisi ekonomi ketika itu. Kesederhanaan itu adalah kamu.

Ummi, kesederhanaan adalah kamu. Adalah jiwamu sejak kecil. Bersamaku, kesederhanaan itu kau tampilkan dengan begitu baiknya. Kesederhanaan yang merupakan pilihan hidup. Kesederhanaan yang dilakukan dengan kesadaran penuh. Kau pilih secara sadar dengan percaya diri. Itu yang kusuka. Itu yang kau mau. Itu yang kumau.

Bersamaku, jiwa itu kau munculkan dalam aneka kreasi penghematan. Sulung kita hafal betul menu mujair belek. Mujair adalah ikan yang semua orang kenal. Belek adalah bahasa jawa yang artinya belah.  Mujair yang dibelah menjadi dua bagian tipis-tipis. Pada masa awal kebersamaan kita sebagai mahasiwa, kita tetap konsen dengan gizi untuk anak-anak. Kita ingin mereka menjadi generasi yang cerdas otaknya, kuat fisiknya, dan tentu saja kokoh dalam ketakwaannya. Nah, kebutuhan gizi itu kau penuhi dengan cara yang sangat berhemat.

Mujair adalah ikan yang populer. Ikan tambak. Rumah kita memang tidak jauh dari kawasan tambak pantai timur Surabaya. Maka awal-awal pernikahan kita mujair adalah menu populer nomor satu. Kau suka beli yang ukuran kecil sehingga harganya murah. Mujair itu kemudian kau belah tipis menjadi dua. Kau goreng kering sehingga bisa dinikmati sebagai ikan krispi dengan harga super murah. Tentu lengkap dengan sayur dan buah buahan yang juga bergizi tinggi nan sederhana.

Mujairnya murah. Mujair ukuran kecil lebih murah lagi. Dan kau bisa membelinya dengan lebih lebih lebih murah murah murah lagi dengan kemaduraanmu. Pedagang ikan di pasar pagi sekitar kita umumnya orang Madura. Kau membeli dengan bahasa Madura yang bagimu adalah bahasa ibu. Tentu para pedagang itu langsung menyikapimu sebagai tretan tibi alias sudara sendiri. Harga pun jatuh. Muraaah….

Nah, mujair hanya salah satu yang populer. Masih banyak ikan laut lain  yang kau bisa beli dengan harga super murah. Itu tadi, kau beli yang ukuran kecil yang orang-orang sudah tidak suka. Belinya di tretan tibih. Jadilah anak-anak kita kaya protein. Jauh sebelum orang orang berkampanye makan ikan laut. Dan kini kita menikmatinya dengan prestasi akademik anak-anak kita yang membanggakan. Kita menikmatinya dengan kesehatan fisik mereka yang membahagiakan.

&&&

Ummi, biaya sekolah adalah sesuatu yang menyedot anggaran tinggi pada keluarga modern ini. Begitu juga keluarga kita. Apalagi kita pasang target yang tinggi. Kita ingin anak kita sejak SMA sudah sekolah di luar negeri. Kita melarang anak-anak kita kuliah sarjana di dalam negeri. Disitu jiwa sederhanamu muncul. Disitu jurus penghematanmu keluar.

Sebagian besar anakmu kau sekolahkan di SD negeri yang terjangkau bersepeda pancal dari rumah. Sekolah negeri nyaris tanpa biaya. Pelajaran agamanya kau cukupi sendiri sebagai guru Al-Qur’an. Antar jemputnya naik motor. Terlalu ribet kalau harus naik mobil. Kita hanya mengantar mereka naik mobil kalau pagi hujan deras. Naik motor hemat dan tidak ribet. Apalagi jaraknya dekat. Jalan kaki pun masih terjangkau. Jalan kaki itu yang dilakukan anak-anak kita kalau kondisi emergency.

Dan masih ada lagi pilihan hidupmu terkait motor dan mobil untuk keluarga kita. Untuk kau dan aku. Sepanjang 27 tahun kebersamaan kita, sudah tak terhitung berapa motor dan mobil yang pernah kita beli. Tapi sepanjang itu pula kita sama sekali tidak pernah membeli motor atau mobil baru. Kita selalu membeli yang tangan kedua. Motor dan mobil second hand. Kita suka pilih motor dan mobil yang berusia beberapa tahun. Harganya jauh lebih murah dari pada beli baru. Kualitasnya kita pilih yang masih standar seperti baru Pelajaran keinsinyuran mesinku dari ITS masih berguna untuk memilih motor atau mobil second yang kualitasnya baik.

Ummi juga nyaris tidak pernah memberi uang saku kepada anak-anak. Aku sangat mendukung itu.  Kau ajari anak-anak untuk makan pagi yang cukup. Lalu ke sekolah bawa bekal makanan dari rumah. Makanannya kau kontrol kesehatan dan nilai gizinya. Jadilah ini penghematan dan sekaligus higienis.

Makanan sederhana, praktis, kaya gizi, dan tentu dijamin halal. Tentang ini junior kita pernah menulis di media sosial pengalaman hidupnya. Dalam suasana mudik idul fitri kita pernah jalan-jalan semobil di hutan-hutan lereng gunung Wilis. Di perjalanan kita bersama menikmati pecel pincuk daun pisang di sebuah warung kecil. Nikmat luar biasa. Apalagi bagi lidahku yang aseli Madiun ini. Begitu nikmatnya, sampai kita lupa menghitung sebiji pisang goreng yang kita makan. Dan malangnya, kita ingatnya ketika sudah tiba di rumah di Surabaya.

Maka, kita diskusikan itu dengan anak-anak. Dan kita sepakati dengan anak-anak rencana kita tahun depan saat mudik idul fitri. Kita akan kembali lagi ke warung itu. Untuk menikmati pecel lagi dan membayar sebiji  pisang goreng yang kita lupa membayarnya. Dan idul fitri tahun berikutnya, kita jalankan rencana itu dengan baik. Anak-anak kita mencatatnya sebagai pelajaran tentang menjaga agar yang masuk ke mulut kita terjaga 100% halal. Bahkan untuk sebiji pisang goreng yang harganya tak seberapa.

Hasilnya, kau dan aku benar-benar bersyukur manakala mendengar sulung kita yang bekerja sebagai procurement di sebuah perusahaan multinasional. Dia cerita bagaimana para pemasok selalu menawari fasilitas ini dan itu. Menawari uang. Dan kita bersyukur bahagia bahwa semua tawaran itu ditolaknya dengan baik. Junior kita yakin tanpa ragu bahwa itu bukan haknya sebagai pegawai seorang karyawan. Dia bisa tampil kokoh mewakili perusahaan untuk mendapatkan harga terbaik. Anti menerima fasilitas dari pemasok. Bosnya begitu senang dan bangga dengan junior kita. Kisah sebiji pisang goreng itu selalu dikenangnya.

&&&

Biaya baju keluarga adalah contoh lain caramu berhemat. Cara lain ekspresi kesederhanaanmu.  Apalagi kalau hari raya. Membeli baju untuk anak-anak sebanyak anak kita tentu mahal. Apalagi kau dan aku masih mahasiswa. Saat aku masih merintis berkarir sebagai seorang entrepreneur. Itu yang kau antisipasi dengan sangat cerdik. Saat anak-anak kita masih kecil-kecil, kau memutuskan ikut kursus menjahit. Bukan kursus untuk menjadi seorang pebisnis busana. Tapi kursus dalam rangka berhemat. Kau ikuti kursus itu sampai kau punya ketrampilan menjahit yang cukup.

Mesin jahit bekas: caramu berhemat sebagai ekspresi jiwa sederhanamu. Allahummarhamha

Langkah selanjutnya adalah membeli mesin jahit bekas di Pasar Turi ketika itu. Sekali lagi ini bukan untuk bisnis. Kau hanya mau menjadi guru Al-Qur’an. Kau tidak mau berbisnis atau bekerja apapun. Mesin jahit itu kau gunakan untuk membuat sendiri baju-baju untuk anak-anak. Maka, jika orang-orang umumnya membeli baju untuk anak-anaknya, kau membeli kain. Membelinya pun di toko kain yang terkenal murahnya itu. Toko kain kiloan di Kertajaya itu.

Kau  juga tidak mau belajar menjahit model macam-macam. Hanya model dasar gamis polos. Variasi hanya mengandalkan warna dan motif kain. Tanpa model busana berlebih walau akhirnya aku mengganti mesin jahit sederhana itu dengan yang modern dan bisa menjahit motif macam-macam. Mana sempat kau belajar untuk itu. Mana sempat kau melakukannya. Waktumu lebih banyak kau curahkan untuk menjadi guru Al-Qur’an. Sebuah karir pilihanmu yang aku dan anak-anakmu yakin menyebabkanmu meninggalkan dunia ini dengan sangat indah. Kata-kata terakhirmu menyebut nama Tuhanmu. Wajahmu berseri-seri saat aku menutupnya dan mengangkat ragamu menuju masjid untuk disholatkan.

Model baju gamis panjang standar itu ternyata menjadi kebiasaan keenam anak perempuanmu. Anak-anak kita.  Mereka  juga tidak pernah nampak mengenakan baju model macam-macam. Persis seperti kau sebagai ibunya. Sederhana. Percaya diri dan nyaman dengan kesederhanaan itu.

&&&

Percaya diri dengan kesederhanaan itu ternyata juga terbawa ke berbagai aspek kehidupan. Percaya diri dengan bekal makan dari rumah menjadikan anak anak kita memanfaatkan waktu istirahatnya bukan ke kantin. Tetapi ke perpustakaan. Makannya cukup menikmati dari kotak yang dibawanya dari rumah. Sudah biasa hidup berbeda dengan sebagian besar kawan-kawannya.

Kebiasaan hidup berbeda itu benar-benar kita nikmati saat menikahkan sulung kita. Jika orang suka menikahkan anaknya dengan mengangkat tema kemegahan ala ratu dan raja, kita tidak. Kita dan si sulung memilih mengangkat tema kesakralan sebuah pernikahan suci. Kita rancang prosesi pernikahan anak kita dengan detail. Undangan kepada mereka kita sampaikan sepenuhnya melalui media elektronik lengkap dengan link konfirmasi kehadiran melalu google doc. Hemat biaya cetak undangan. Jumlah yang hadir pun sudah pasti. Di undangan sudah tertulis run down acara menit demi menit. Total persis satu jam. Kita eksekusi itu semua dengan tepat on time.

Sesuai run down di undangan, jam enam pagi kita sekeluarga sudah di pintu masjid. Tidak ada buku tamu. Tidak ada kotak amplop. Tidak ada petugas penerima tamu. Penerima tamunya adalah kau, aku dan semua anak-anak kita. Kita berikan big hug kepada tamu-tamu itu. Tamu laki laki denganku. Tamu perempuan denganmu. Banyak diantara mereka yang datang sekeluarga bersama anak-anak mereka. Memang kita mengundang mereka sekeluarga. Bukan hanya ayah ibunya. Sekaligus sebagai media rekreatif keluarga mereka.

Setelah itu tamu-tamu langsung kita persilahkan masuk masjid. Melalui undangan kita mohon mereka yang muslim untuk melaksanakan sholat dhuha. Sambil menunggu kedatangan tamu lain dan acara ijab kabul dilaksanakan.

Sesuai undangan jam 7 pagi persis rangkaian acara ijab kabul dimulai. Sesuai undangan juga jam 8 persis acara ijab kabul berakhir. Undangan kita persilahkan langsung menikmati menu makan pagi sederhana. Jumlahnya diperkirakan cukup untuk seluruh undangan yang telah mengkonfirmasi kehadirannya melalui google doc. Nasi krawu bungkus daun pisang, nasi cumi Madura, nasi jagung, pisang rebus, kacang rebus, jadah alias tetel, wajik dan aneka panganan tradisional lain. Alhamdulillah mereka semua senang. Mereka semua menikmati acara kita. Beberapa tamu menulis tentang itu dan viral di media massa. Kita masih bisa membacanya hingga saat ini.

Yang menarik, kau, dan tentu aku mengamininya, sangat percaya diri dengan model acara yang tidak umum itu. Yang kita sajikan memang kesakralan dan kesederhanaan. Tapi itu semua murni suguhan dari kita. Sebagaimana yang kita sampaikan lewat undangan, tanpa mengurangi rasa hormat kepada para tamu, kita mohon mereka untuk tidak memberikan cendera mata berupa amplop, karangan bunga atau apapun. Kita jamu tamu murni dengan dana keluarga kita. Dan alhamdulillah tamu yang memenuhi masjid Manarul Ilmi ITS yang besar itu semua senang. Semua terkesan. Semua menikmati suguhan kesederhanaan, kesakralan dan tepat waktu kita. Semua bahagia.

Ummi, masih banyak apa yang kau lakukan dengan kesederhanaanmu. Banyak teknik penghematan yang kau praktekkan. Tidak mungkin abi menuliskan semuanya. Maka, aku akhiri obituari ketujuh ini dengan apresiasi setinggi-tingginya untukmu belahan jiwaku. Terimakasih tak terhingga untuk 27 tahun kebersamaan yang luar biasa. Terimakasih untuk keteladanan yang indah. Terimakasih untuk kepercayaan diri pada kesederhanaan. Terimakasih untuk keteladanan hanya mengambil yang 100% halal. Terimakasih untuk semuanya. Terimalah ridho dari suamimu untukmu. Bawalah itu sebagai bekal menghadap Tuhanmu. Pakailah itu untuk masuk Surga dari  pintu manapun yang kau suka sebagaimana hadis Nabimu. Kelak aku dan anak-anakmu pasti akan menyusul.  Bahagialah disisiNya. Duhai Penggenggam Jiwaku, beri kekuatan aku dan anak-anakku untuk meneladani dan meneruskan kebaikannya. Allahummarhamha…..

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkenal sang Insinyur

Obituari ketiga: Pernikahan, pertengkaran dan sepiring berdua kita
Obituari keempat: Kau, aku dan masjid
Obituari kelima: Sahabatmu sahabatku, sahabatku sahabatmu
Obituari keenam: Caramu memandirikan anak-anak kita
Obituari ketujuh: Sederhana dan percaya diri adalah kamu
Obituari kedelapan: Kau, aku dan adikku
Obituari kesembilan: Istriku editorku
Obituari kesepuluh: Musim durian tahun lalu
Obituari kesebelas: Ummi di mata Jo

*)Artikel ke-304 karya Iman Supriyono ini ditulis rumahnya di Surabaya pada tanggal 11 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari ketujuh untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020. Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.

11 responses to “Sederhana dan Percaya Diri Adalah Kamu

  1. Ping-balik: Kau, Aku dan Adikku | Catatan Iman Supriyono

  2. Kalau mau lebih hemat lagi pelihara ikan dan tanam sayuran seperti bayam, kangkung, dll sendiri di halaman. Masih mau lebih murah lagi..??? Ngutil di supermarket atau minimarket tapi jangan sampai ketahuan… haha

  3. Ping-balik: Istriku Editorku | Catatan Iman Supriyono

  4. Ping-balik: Musim Durian Tahun Lalu | Catatan Iman Supriyono

  5. Ping-balik: Ummi di Mata Jo | Catatan Iman Supriyono

  6. Ping-balik: Karir Tak Terkenal Insinyur Bergengsi | Catatan Iman Supriyono

  7. Ping-balik: Bangku Kosong: Pendidikan Terbaik Berbagai Bangsa | Catatan Iman Supriyono

  8. Ping-balik: Pernikahan, Pertengkaran & Sepiring Berdua Kita | Catatan Iman Supriyono

  9. Ping-balik: Kau, Aku dan Masjid | Catatan Iman Supriyono

  10. Ping-balik: Sahabatmu Sahabatku, Sahabatku Sahabatmu | Catatan Iman Supriyono

  11. Ping-balik: Caramu Memandirikan Anak-Anak Kita | Catatan Iman Supriyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s