“Ini koperku kondisi terkunci dan aku lupa nomor kuncinya. Tolong bereskan ya. Kamu kan calon insinyur mesin”. Begitu kurang lebih yang disampaikan Pak Rohim pada tahun 90-an saat saya menjadi mahasiswa Teknik Mesin ITS. Saya sanggupi tantangan beliau. Saya pun membawa koper itu ke rumah kontrakan.
Yang menarik, itu adalah kesempatan saya pertama memegang koper. Di kampung halaman saya tidak ada orang punya koper. Kalaupun bepergian yang digunakan untuk mengemasi barang bawaan bukan koper. Mereka memakai tas seadanya. Koper terlalu mewah bagi warga kampung halaman saya ketika itu.
Di rumah kontrakan saya pelajari kunci koper itu. ketika itu tidak ada internet. Jadi saya hanya mempelajarinya berdasarkan ilmu mekanik dasar dari kampus plus naluri teknik yang memang saya punya sejak di kampung halaman. Misalnya saja saya pernah merancang sebuah alat untuk keperluan produksi makanan tradional brem Madiun. Alat itu pernah saya demonstrasikan di lomba dan mengantarkan saya menjadi pelajar teladan tingkat kabupaten Madiun.
Modal utamanya satu: yakin bisa. Saya mulai mencoba memutar satu demi satu roda angka pengunci koper. Saya dengarkan suaranya. Saya rasakan gerakannya. Terus saya pelajari dengan mencoba ini dan itu. Dan akhirnya, koper itu pun berhasil dibuka tanpa merusakkan kuncinya. Saya bisa menemukan nomor sandinya. Dengan hati berbunga-bunga saya kembalikan koper ke Pak Rohim, kini sudah almarhum, allahummarhamhu. Berbunga-bunga karena berhasil menyelesaikan tantangan bagi seorang calon insinyur mesin.
&&&
Itu adalah pengalaman pertama menemukan nomor sandi kunci yang terlupa. Setelah itu tidak sekali dua kali saya dimintai tolong kasus serupa. Juga bukan hanya nomor sandi kunci koper. Tetapi juga kunci-kunci lain seperti kunci sepeda berbentuk rantai yang juga menggunakan pengaman sandi angka. Dan, saya senang sekali karena sampai saat ini belum pernah gagal ketika dimintai tolong keluarga, kawan atau siapa pun yang lupa kunci bersandi angkanya. Termasuk kunci sepeda bapak ibu mertua beberapa hari lalu yang menginspirasi saya menulis artikel ini. Modal utamanya satu: keyakinan bahwa tidak ada alat pengaman yang sempurna. Selalu ada celah. Tantangannya adalah bagaimana menemukan celah itu.
&&&
Ada dua pelajaran penting dari pengalaman saya menemukan nomor sandi kunci koper yang terlupa. Pelajaran pertama adalah tentang mitigasi risiko. Di dunia bisnis, keamanan terhadap risiko adalah faktor krusial. Setiap perusahaan menghadapi banyak risiko. Dan setiap risiko perlu dimitigasi. Perlu diamankan. Dan setiap pengamanan selalu mengandung celah. Ketika sebuah celah telah ditemukan lalu diantisipasi dengan pengamanan yang lebih baik, maka akan muncul celah berikutnya. Tidak pernah ada pengamanan yang sempurna. Itulah mengapa perusahaan ternama sekelas Revlon misalnya pun masuk dalam putusan kepailitan oleh pengadilan.

Tugas manajemen sebuah perusahaan adalah terus mengidentifikasi risiko dan kemudian memitigasi risiko itu dengan baik. Membuat pengamanan yang cukup. Menyiapkan diri jika sewaktu-waktu risiko itu terjadi. Contoh risiko yang belakangan ini sering menjadi isu penting adalah disrupsi. Sebuah perusahaan bisa dihabisi di pasar karena munculnya teknologi atau inovasi baru yang disruptif. Contohnya adalah munculnya teknologi e-mail yang menghabisi bisnis telegram dari Western Union. Dengan kesiapan yang bagus kini Western Union bertransformasi menjadi perusahaan remitansi terbesar dunia. Memanfaatkan jaringan telegram yang telah kokoh di lebih dari 200 negara. Jaringan inilah rahasia sukses Western Union menghadapi disrupsi.
Contoh lain adalah Fuji film yang menghadapi disrupsi karena munculnya teknologi fotografi digital. Fuji image plaza yang dulu menjamur kemudian semua lenyap. Tapi Fuji kini tetap jaya. Kini nilai pasarnya JPY 3.57 triliun alias Rp 372 triliun. Kuncinya adalah menggunakan core competence di bidang imaging untuk masuk ke bisnis fotografi medis.
Pelajaran kedua adalah tentang saat Anda terkunci dalam sebuah masalah yang luar biasa pelik. Jangan menyerah, kunci sepelik apapun pasti ada kelemahannya. Yakini. Hadapi dengan tenang. Pelajari segala sesuatunya sampai Anda menemukan “nomor sandi”-nya. Persis seperti pengalaman saya dimintai bantuan kawan dan keluarga untuk membuka kunci yang lupa nomor sandinya. Selalu ada kelemahan di setiap kunci apapun.
Artikel ke-417 karya Iman Supriyono ini ditulis pada tanggal 31 Agustus 2023 di dalam kabin pesawat Boeing 737 ER dalam penerbangan Surabaya Jakarta,
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi