Awam: Kaki Lima Lalu Rahmatan Lil Alamin.


Jombang-Nganjuk, 1940-an. Debut bisnis pertama Ahmad Wasil Maksum adalah sebagai pedagang keliling di kawasan sekitar Ngimbang, Mojosari, dan Kertosono. Yang dijual adalah lampu semprong. Lampu dengan bahan bakar minyak tanah itu adalah kebutuhan pokok setiap rumah tangga pada jamannya. Lampu yang nyala apinya dilindungi tabung kaca gendut di bagian bawah itu adalah andalan keluarga saat jaringan kabel listrik belum menyebar seperti sekarang.

Modal kecil risiko kecil. Itulah rintisan bisnis Wasil. Modal kecil karena tidak dibutuhkan investasi berupa gedung atau tempat usaha. Investasi yang mestinya menyedot dana jauh lebih besar di banding modal untuk pengadaan stok barang. Apalagi jika gedung atau bangunannya dibeli. Akan butuh modal berlipat.

Risiko kecil karena tidak ada waktu daluwarsa untuk barang dagangannya. Tidak juga basi. Satu-satunya kemungkinan adalah pecah atau rusak. Tabung kaca pelindung nyala api memang tipis dan mudah pecah. Tangki minyak tanah pun terbuat dari kaca yang juga masih rawan pecah. Walaupun tidak serawan pelindung nyala api karena terbuat dari bahan kaca yang jauh lebih tebal.

Masih ada risiko rusak pada alat pengatur besar kecil nyala api. Pegangan pemutar berupa plat berbentuk bulat bisa terlepas. Tangkai logam penghubung pegangan pemutar dengan roda gigi penggerak sumbu bisa lepas. Sumbu yang berfungsi untuk menyerap minyak tanah untuk dibakar dan menghasilkan nyala terang bisa sobek. Tapi itu semua bisa diperbaiki. Bahkan ketika itu ada tukang yang bekerja melayani jasa perbaikan lampu minyak tanah.

Singkat cerita, bisnis Wasil pun menghasilkan laba. Tapi sebagaimana dalam delapan siklus  hidup perusahaan, laba yang merupakan tahap keempat merupakan persimpangan jalan. Banyak pengusaha yang menjadikan bisnisnya sebagai sapi perah. Semua laba digunakan untuk kebutuhan di luar bisnis. Tidak banyak yang meneruskan tahap laba ini menuju tahap-tahap berikutnya.

Dalam persimpangan ini Wasil tidak salah jalan. Laba digunakan untuk pertumbuhan bisnis. Laba digunakan untuk menambah barang dagangan. Perkakas rumah tangga yang lain pun menjadi stok dagangannya. Piring, cendok, gelas, panci, baskom, wajan dan sebagainya.

Sebagaimana yang selalu diceritakan ke anak-anaknya, Wasil berprinsip “Kalau hari ini saya biasa makan Rp 10 ribu,  besok untung 40 ribu saya  tetap makan 10 ribu. Jika untung 100 ribu saya tetap makan 10 ribu. Jika untung  Rp 1 juta saya tetap makan 10 ribu. Jika untung 5 juta, baru saya makan 20 ribu sampai 30 ribu”. Laba digunakan untuk menambah barang dagangan.

Karena dagangan yang makin banyak maka tidak bisa lagi dijajakan secara berkeliling. Wasil pun menggelar dagangan  di pasar Ngimbang, Jombang. Dengan demikian status bisnis Wasil meningkat dari pedagang keliling menjadi pedagang yang menetap.

Strategi pedagang yang menetap di suatu lokasi berbeda dengan pedagang keliling. Maka, pada saat itu Wasil pun terus berpikir dan berstrategi agar dagangannya laris. Dalam istilah saat ini, Wasil harus memikirkan bagaimana meningkatkan foot trafc yaitu jumlah orang datang ke tokonya. Ia juga harus memikirkan strategi bagaimana mengonversi dari foot trafic untuk benar-benar bertransaksi. Bagi yang sudah bertransaksi Wasil harus memasang strategi untuk melakukan upsellling yaitu meningkatkan nilai transaksi tiap pembeli.

Pada fase ini pun Wasil bisa melaluinya dengan baik.  Laba terus dikumpulkan untuk menambah modal. Sampai suatu saat Wasil bisa membuka toko di depan pasar Babat. Di tempat baru tentulah Wasil harus memutar otak untuk strategi terbaik.

Pengalaman panjang sebagai pedagang perkakas rumah tangga dan perkakas dapur tentu saja menjadikan Wasil punya hubungan yang baik dengan para pemasok. Mereka adalah para pedang grosir di Surabaya. Intinya adalah bagaimana mendapatkan barang dagangan dengan kualitas baik dengan harga yang bersaing. Inilah yang dijadikan senjata kunci  Wasil dalam strategi bisnisnya.

Di samping menjual barang kepada konsumen akhir di tokonya, Wasil juga menjual barang dagangannya kepada para pedagang lain di pasar Babat. Harganya sama dengan harga kulakan di Surabaya. Akibatnya, satu demi satu para pedagang perkakas rumah tangga di pasar Babat berpindah kulakan ke Wasil. Tidak perlu jauh-jauh ke Surabaya.  

Ahmad Wasil Maksum bersama istri

Maka, omzet Wasil pun meningkat drastis. Dengan demikian, Wasil pun bisa membeli barang dagangan di para pedagang grosir di Surabaya dengan harga yang lebih rendah lagi. Wasil pun bisa menurunkan harga lagi. Maka, para pedagang dari Babat, Bojonegoro, Tuban Jombang dan sekitarnya pun banyak berkulakan di toko Wasil. Omzet pun terus tumbuh. Bisnis pun terus tumbuh.

Kini tokoh Muhammadiyah kecamatan Babat, Lamongan, ini telah tiada. Tapi generasi keduanya terus mewarisi semangat dan integritas Wasil. Laba terus digunakan untuk pertumbuhan bisnis. Keluarga tetap hidup bersahaja. Tetap menjaga kepercayaan pelanggan. Juga kepercayaan pemasok. Awam yang merupakan singkatan dari Ahmad Wasil Maksum kini menjadi merek ritel ternama dengan puluhan gerai di kawasan Babat dan sekitarnya.

Bisnis yang memperoleh laba adalah tahap keempat dalam siklus hidup korporasi. Semoga generasi penerus Wasil bisa mengembangkan Awam menjadi korporasi sejati. Ciri pokoknya adalah perusahaan yang menjadi rahmatan lil alamin. Wa maa arsalnaka illa rahmatan lil alamin. Dan Kami tidak menyuruhmu kecuali menjadi rahmat bagi seru sekalian alam. Demikian ayat ke 107 dari Surat Al Anbiya.

Semoga kelak Awam akan menjadi perusahaan rahmatan lil alamin. Menjadi sarana menebar rahmat bagi seluruh dunia. Bukan hanya untuk Indonesia. Bukan hanya untuk Babat.  Masih butuh melalui tahap kelima, keenam, ketujuh sebelum akhirnya berada pada tahap kedelapan yaitu sebagai korporasi sejati. Sukses selalu untuk Awam.

Karya ke-490 Iman Supriyono yang ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi Oktober 2025

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

One response to “Awam: Kaki Lima Lalu Rahmatan Lil Alamin.

  1. akhirnya ada yang baru artikelnya. sangat inspiratif bahwa ada pedagang sukses dari warlok. dan menghapus stereotip bahwa hanya bisa jadi pegawai, dan kalau dapat 10 yang dimakan 11 juga kalo pendapatan naik jadi 100 maka pengeluaran ikut naik. terima kasih

Tinggalkan Balasan ke miss sigi Batalkan balasan