Ini adalah pertanyaan yang muncul saat sesi seminar online tentang wakaf korporat kemarin. Intinya, adalah benar bahwa wakaf merupakan solusi terhadap masalah sosial sekaligus penguatan bisnis umat dan bangsa. Adalah benar bahwa wakaf akan memunculkan pemimpin bisnis besar sekelas Bill Gates. Adalah benar bahwa wakaf akan membuat pendidikan kita tidak transaksional. Adalah benar bahwa wakaf akan membuat masjid-masjid memiliki staf dan manajer full time dengan gaji tidak kalah dengan gajinya direktur Saratoga. Bahkan lebih besar.
Pertanyaannya, apa yang bisa “dijual” untuk mengumpulkan aset wakaf sebesar aset Saratoga atau The Church of Jesus Christ of Latter Day Saints yang Rp 2 ribu triliun itu?
Ini adalah pertanyaan marketing. Maka kita harus kembali pada rumus dasar marketing. Orang tidak akan membeli apapun kecuali apa yang dibelinya memberi manfaat lebih besar dari pada uang yang dikeluarkannya. Maka, berwakaf harus kita pandang sebagai “menjual” sesuatu. Orang mengeluarkan uang sebagai wakaf untuk “membeli” sesuatu.
Apa yang dibeli orang? Tentu saja adalah sesuatu yang dibutuhkannya. Dalam konteks “menjual” wakaf pasar yang paling mudah adalah pada orang-orang yang sudah terbiasa berinfak. Orang yang baisa berinfak tidak perlu lagi diyakinkan tentang pentingnya kehidupan di negeri abadi. Tidak perlu lagi dijelaskan bahwa satu-satunya penyebab orang yang telah mati menyesal dan ingin dihidupkan kembali barang sebentar adalah ketika saat meninggal orang masih punya harta yang belum diinfakkan.
Nah, maka, pada orang yang sudah biasa berinfak tinggal sedikit proses untuk menjadikannya sebagai wakif. Menjadi pewakaf. Hanya perlu meyakinkan bahwa harta yang diinfakkannya benar-benar akan lestari bahkan tumbuh untuk memberi manfaat kepada mereka-mereka yang membutuhkan. Memberi manfaat untuk kepentingan sosial, pendidikan atau dakwah. Memberi manfaat lebih besar bagi dirinya dibanding infak yang diakukan selama ini.
&&&
Iktikaf pertama saya adalah tahun 1994. Tidak lama setelah saya menikah pada tahun 1993. Yang saya pilih untuk tempat iktikaf ketika itu adalah masjid Manarul Ilmi kampus ITS. Ini Pertimbangannya karena dekat dengan tempat tinggal dan saya maupun nyonya adalah aktivis masjid itu. Saya sekretaris Jamaah Masjid Manarul Ilmi, organisasi semacam remaja masjid yang mengelola aktivitas keagamaan Islam di kampus teknologi itu. Istri adalah sekretaris keputrian di lembaga itu juga.
Tahun-tahun berikutnya saya mencari masjid lain. Saya niatkan sambil silaturahmi dengan pengurus masjid setempat. Karena hingga kini artinya sudah menjalani 32 kali iktikaf, tentu banyak masjid yang sudah saya pilih untuk tempat iktikaf. Sekitar sepuluh tahun terakhir ini saya jatuh cinta ke masjid Arroyan di Galaxi Bumi Permai. Tiap tahun ke masjid ini. Tidak pindah ke masjid lain mana pun.
Ada yang berbeda antara iktikaf tahun 90 an hingga saat ini. Dulu tantangan iktikaf adalah mencari makan sahur. Tidak ada masjid yang menyediakan makan sahur untuk iktikaf. Tidak ada go food. Maka ketika itu saya biasa menyimpan nasi bungkus yang disediakan untuk buka bersama. Lalu saya makan sekitar jam 12 malam sebelum makanan itu basi. Atau kadang membeli nasi goreng atau makanan apa saja yang dijajakan keliling dan lewat di depan masjid tempat iktikaf. Menghindari keluar dari masjid.
Kini beda. Banyak masjid yang menyediakan makanan sahur. Bahkan dukungan penuh untuk peserta iktikaf termasuk kue-kue dan kopi pencegah mengantuk. Iktikaf full time adalah mengikuti sunah nabi yang tidak pernah pulang dan sama sekali tidak tidur malam sepanjang 10 hari terakhir ramadan.
Tentu saja masjid menyediakan makanan bagi orang beriktikaf adalah atas sumbangan para jamaah. Artinya, ini adalah sesuatu yang “menjual” untuk wakaf. Prinsip dasarnya, apa yang “menjual” untuk infak akan “menjual” juga untuk wakaf.
Di masjid Arroyan ini, tiap malam ada sekitar 50 orang yang iktikaf. Sebagian besar mereka hanya datang pada malam hari dan meninggalkan masjid selepas subuh. Tidak banyak yang full time.
Jika harga setiap porsi makan sahur adalah Rp 20 ribu, maka untuk 50 porsi dibutuhkan Rp 1 juta. Untuk sepuluh hari dibutuhkan uang Rp 10 juta. Nah, dengan pendekatan infak, takmir masjid mencari donasi iktikaf dari para jamaah sebesar Rp 10 juta. Tahun depan akan mengulang lagi yang demikian.
Bagaimana mengonversinya menjadi wakaf? Berpikirnya harus begini, bagaimana mencari aset dengan jumlah tertentu sedemikian hingga jika diinvestasikan akan menghasilkan dana Rp 10 juta per tahun sebagai biaya makan sahur iktikaf.
Sebagai awal cara yang paling praktis adalah menghitungnya sebagai deposito bank syariah. Mudah karena tinggal datang ke bank syariah pilihan yang ada dimana mana. BPRS akan memberikan imbal hasil deposito lebih besar dari pada bank umum syariah. Aman karena dananya dijamin negara melalui LPS.
Misalnya saja imbal hasil deposito bank BPRS adalah 5% setahun. Maka, dibutuhkan aset Rp 200 juta untuk menghasilkan bagi hasil Rp 10 juta per tahun untuk biaya makan sahur iktikaf. Nah, tugas takmir masjid adalah mencari donatur iktikaf dari kalangan jamaah. Donatur untuk memberi makan sahur peserta iktikaf selamanya sampai hari kiamat. Saya kira ini bukan sesuatu yang sulit.
&&&
Investasi pada deposito secara akuntansi sifatnya utang piutang. Kelemahannya, nilai aset akan tergerus inflasi. Lama-lama bagi hasilnya pun tidak cukup untuk membeli 50 porsi makan sahur. Untuk itu ada PR berikutnya bagi takmir masjid yang mengonversi infak ke wakaf: membangun portofolio investasi yang tepat.

Benchmark pada pengelola aset investasi yang sudah berjalan puluhan tahun bahkan lintas abad, selalu ada keseimbangan antara skema utang dengan skema ekuitas. Harvard University misalnya fifty fifty. MIT 70% ekuitas 30% utang piutang. Blackrock sama dengan MIT. Nah, setelah sukses mengumpulkan aset Rp 200 juta untuk program makan sahur iktikaf sampai kiamat dan memasukan dana tersebut di deposito BPRS, selanjutnya adalah sedikit demi sedikit mengonversi dana dari deposito ke ekuitas. Mencari perusahaan yang telah memenuhi 8 syarat menjadi investee berkualitas. Sampai kelak portofolionya 50-50 atau 70-30. Cara inilah yang diterapkan oleh ACR sebagai “fulbright” dari timur berbasis wakaf.
&&&
Faidza froghta fanshob. Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Begitu urusan makan saur iktikaf sukses terkonversi menjadi wakaf, segera cari apa lagi yang bisa dikonversi dari infak menjadi wakaf. Gaji marbot, biaya listrik, biaya kebersihan, buka puasa, biaya akomodasi khatib jumat, gaji guru TPQ, dan sebagainya. Lama-lama semua akan terkonversi menjadi wakaf. Aset masjid akan terus menjadi besar. Sebagian kecil karena donasi yang terus masuk. Sebagian besar karena aset berskema ekuitas akan naik nilainya seiring dengan pertumbuhan perusahaan investee. Pada saat itulah akan muncul pemimpin-pemimpin bisnis besar dari masjid. Semua bermula dari iktikaf. Bismillah!
Karya ke 513 Iman Supriyono ini ditulis di Masjid Arroyan Surabaya selepas salat lohor 27 Ramadhan 1447 KHGT
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Baca Juga
iktikaf H6: Takmir Masjid Yayasan atau Perkumpulan?
Iktikaf H5: Wakaf dan Endowment Fund, Sama atau Beda?
Iktikaf H4: Perusahaan Yang Menolak Wakaf
Iktikaf H3: Family Office dan Wakaf
Iktikaf H2: Wakaf menanam pohon: Lily Endowment
Iktikaf H1: Wakaf dan Dana Abadi Sebagai Investing Company ala Saratoga
Fulbright Dari Timur: Wakaf ACR
Satu Lagi Dari Wakaf ACR: Apotek Titokita
Wakaf Pembiayaan Kambing Kurban
Wakaf Untuk Pensiunan Marbot dan Imam
Allah Sebagai Pemgang Saham Legal Formal
NUS: Kampus Berjati Diri Sosial Dengan Wakaf
NTU: Si Muda Mengalahkan Seniornya Dengan Wakaf
Berapa Indeks Wakafisasi Kampus Anda?