Kau, Aku dan Adikku


Ummi, sejak awal kita sepakat bahwa pernikahan bukan hanya antara kau dan aku. Lebih dari itu, pernikahan ini adalah antara keluargaku dan keluargamu. Dan untuk ini, abi benar-benar bersyukur memilikimu. Kau pandai menjalin persaudaraaan dengan kakak adikku. Kau cakap berinteraksi dengan ayah ibuku.

Karena kau perempuan, tentu saja interaksi dengan saudara-saudaraku yang perempuanlah yang lebih menonjol. Dan karena kedekatan tempat tinggal, yang paling kompak tentu saja dengan adik perempuanku si nomor 4 yang rumahnya tidak sampai sejam perjalanan bermobil dari rumah kita. Kau biasa memanggilnya dengan panggilan sayang anak-anakmu kepada adikku itu, Amah Bud.  

Sesungguhnya, kedekatan itu sudah kau bangun sejak Amah Bud kuliah. Kebetulan dia adalah adik kelas kita di ITS. Adik kelas sangat jauh. Selisih 9 tahun dengan kita. Karena kita juga tinggal di kawasan tidak jauh dari kampus kita itu, maka, jadilah Amah Bud praktis seperti “ikut” kita saat kuliah.

Apalagi masuknya ke ITS pun atas arahan dan bimbingan kita. Mulai dari pemilihan jurusan sampai bagaimana belajar mempersiapkan diri untuk bisa tembus ujian masuknya. Praktis selama proses pembelajaran juga rajin berdiskusi dengan kita. Bahkan saat menulis tugas akhir alias skripsi untuk kelulusannya pun berdiskusi dengan kita. Aku masih ingat di Jurusan Biologi itu ia membuat tugas akhir tentang obat nyamuk.

Kedekatan Amah Bud denganmu itu kau wariskan dengan sempurna ke anak-anak kita. Jika sedang ada masalah, anak-anak kita itu mengadu kepada amah Bud seperti mengadu kepada ibunya sendiri. Bahkan ketika masalah itu begitu berat dan mereka perlu bantuan orang lain diluar bapak ibunya, Amah Bud adalah tempat yang nyaman bagi mereka untuk mencurahkan masalahnya.

Bukan hanya kau yang merasa dekat dengan amah Bud. Tetapi juga sebaliknya. Amah Bud juga merasa sangat dekat denganmu. Ini jelas terbaca pada saat adikku itu dilamar seorang pemuda. Ketika itu, dia mantap bulat untuk menyerahkan keputusannya kepadamu. Adikku percaya penuh pada ketajaman jiwamu. Pada kekuatan hatimu. “Jika menurut mbak Anni iya aku akan memutuskan iya. Jika mbak Anni tidak, aku akan menolaknya”. Demikian sikapnya.

Kau bersama dua adik perempuanku

Setelah mempertimbangkannya dengan seksama, kau memutuskan iya. Subhanallah, ayahku, ibuku, aku, kakakku, adik-adikku semua percaya kepada keputusanmu. Dan itulah yang dijalani oleh Amah Bud hingga kini. Kini dua buah hati nan cantik shalihah terlahir dari pernikahan yang keputusannya didasarkan pada ketajaman hatimu itu. Semoga keputusan itu akan mengantarkan keluarga Amah Bud untuk juga mengikuti jejakmu kelak ketika sewaktu-waktu dipanggil-Nya. Menghadap-Nya dengan cara yang indah. Menyebut nama Sang Khaliq pada kalimat terakhirnya. Menghadap-Nya dengan wajah berseri-seri. Pada hari Jumat yang di agama kita adalah penanda husnul khotimah. Aamin.

Kau ringan sekali membantu adikku itu manakala ia membutuhkan. Saat-saat kau sudah sakit berat dan adikku itu ada masalah, kau dengan ringan hati bersamaku datang ke rumahnya. Kau turun dari mobil dengan berat untuk naik ke undak-undakan di depan rumahnya itu. Dengan penderitaan sakit yang sebenarnya tak tertahankan. Ragamu terasa berat. Tetapi hatimu terasa ringan untuk membantunya. Kau adalah kakak sejati baginya.

Sebaliknya, saat-saat sakitmu, adikku itulah orang yang paling banyak membantuku merawatmu. Mengantarmu ke rumah sakit dan gantian denganku menjagamu. Mengurusi penyewaan ranjang pasien untukmu ketika kau minta keluar dari rumah sakit dan memilih perawatan di rumah. Mencarikan tenaga profesional untuk perawatanmu di rumah. Dan tentu saja menjaga Jo dan kakak-kakaknya agar tetap dalam kondisi baik dalam segala hal manakala kita berdua tinggal di rumah sakit.

Saat-saat sakitmu makin memberat, adikku itulah yang menjadi temanku mengambil berbagai keputusan penting tentangmu.  Mengambil keputusan-keputusan penting tentang perawatanmu pada detik-detik terakhirmu berada di dunia ini. Dan akhirnya, air mata adikku itupun meleleh deras manakala kau pergi. Larut bersama air mata anak-anakmu. Larut bersama air mataku. Kau pergi dipangkuanku, di pangkuan anak-anakmu, dan di pangkuan adikku itu.

Dalam kondisiku galau sepeninggalmu, adikku itu yang membesarkan hatiku. Disampaikanya bahwa kau telah meninggalkan dunia dengan cara yang sangat baik. “Justru kita yang ditinggalkan ini yang tanda tanya. Bisakah kita meninggal dunia dengan amal jariyah sebanyak  yang Mbak Anni telah lakukan? Bisakah kita meninggal dengan cara yang sangat indah seperti Mbak Anni?”. Subhanallah. Ummi, air mataku kembali meleleh deras saat sepuluh jemariku menulis obituari kedelapan untukmu ini. Allahumarhamha. Duhai Dzat yang menggenggam jiwaku, berilah aku husnul khotimah saat Engkau takdirkanku menyusul almarhumah kelak. Berikan juga itu untuk anak-anakku. Pula untuk adikku itu.  Aamin yaa Rabb.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga
Obituari pertama: Pendidikan terbaik berbagai bangsa
Obituari kedua: Pekerjaan tak terkenal sang Insinyur

Obituari ketiga: Pernikahan, pertengkaran dan sepiring berdua kita
Obituari keempat: Kau, aku dan masjid
Obituari kelima: Sahabatmu sahabatku, sahabatku sahabatmu
Obituari keenam: Caramu memandirikan anak-anak kita
Obituari ketujuh: Sederhana dan percaya diri adalah kamu
Obituari kedelapan: Kau, aku dan adikku
Obituari kesembilan: Istriku editorku
Obituari kesepuluh: Musim durian tahun lalu
Obituari kesebelas: Ummi di mata Jo

*)Artikel ke-305 karya Iman Supriyono ini ditulis kantornya di Surabaya pada tanggal 14 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari kedelapan untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020. Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.

12 responses to “Kau, Aku dan Adikku

  1. Allahumaghfirlaha warhamha wa’afihi wa’fuanha.
    Semoga Husnul khotimah.kebaikan tetap terukir di dunia.semoga Jannah menunggu disana.aamiin🤲🤲🤲😭

  2. Ping-balik: Istriku Editorku | Catatan Iman Supriyono

  3. Ping-balik: Musim Durian Tahun Lalu | Catatan Iman Supriyono

  4. Ping-balik: Ummi di Mata Jo | Catatan Iman Supriyono

  5. Ping-balik: Karir Tak Terkenal Insinyur Bergengsi | Catatan Iman Supriyono

  6. Ping-balik: Bangku Kosong: Pendidikan Terbaik Berbagai Bangsa | Catatan Iman Supriyono

  7. Ping-balik: Pernikahan, Pertengkaran & Sepiring Berdua Kita | Catatan Iman Supriyono

  8. Ping-balik: Kau, Aku dan Masjid | Catatan Iman Supriyono

  9. Ping-balik: Sahabatmu Sahabatku, Sahabatku Sahabatmu | Catatan Iman Supriyono

  10. Ping-balik: Caramu Memandirikan Anak-Anak Kita | Catatan Iman Supriyono

  11. Ping-balik: Sederhana dan Percaya Diri Adalah Kamu | Catatan Iman Supriyono

Tinggalkan Balasan ke Iman Supriyono Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s