Samuel Moore Walton lahir tanggal 29 Maret 1918dari pasangan petani Thomas Gibson Walton dan Nancy Lee di Kingfisher, Oklahoma, USA. Tahun 1940 ia lulus sebagai sarjana ekonomi dari Universitas Misouri. Sepanjang kuliah Sam aktif di berbagai kegiatan. Termasuk kegiatan berbisnis mencari uang.
Tiga hari setelah lulus Sam bekerja di JC Penny sebagai management trainee dengan gaji USD 75 per bulan. Ia bertahan di perusahaan ritel ini selama 18 bulan sebelum akhirnya masuk dinas militer dalam perang dunia kedua. Tahun 1945 Sam mundur dari militer dan mulai bisnis toko ritel pertamanya dengan cara membeli toko serba ada Ben Franklin di Newport, Arkansas . Toko tersebut merupakan waralaba dari jaringan Butler Brothers. Modal USD 20 ribu diperoleh dari pinjaman mertuanya plus USD 5 ribu dari uang yang dikumpulkannya selama dinas militer.
Perjalanan bisnis tidak mulus. Toko pertama ini akhirnya tidak bisa dilanjutkan. Pemilik gedung tidak mau memperpanjang sewa toko. Sam harus meninggalkan toko ini. Tapi pemilik gedung mau membeli inventaris dan hak waralaba toko dengan harga USD 50 ribu. Uang ini cukup menjadi modal Sam untuk mendirikan toko pengganti. Singkat cerita, Sam terus bergerak hingga akhirnya menjadi Walmart seperti yang kita kenal saat ini.
April 1992 Sam meninggal. Tahun itu omzet Walmart adalah USD 43,9 miliar alias IDR 675 triliun dengan kurs hari ini. Labanya USD 1,6 miliar alias IDR 24,6 triliun. Hasil itu diperoleh dari 1720 gerai. Sepeninggal Sam tahun berikutnya omzet naik 26% menjadi USD 55,5 miliar alias IDR. Laba naik 25% menjadi USD 2 miliar alias IDR 30,8 triliun. Jumlah gerai naik 9% dari 1720 menjadi 1880. Nilai pasar naik 12% USD 36,7 miliar menjadi USD 41,04 alias IDR 631 trlliun.
Saat ini Walmart adalah perusahaan peringkat ke-23 dunia dalam hal laba, omzet, aset dan nilai pasar. Labanya USD 11,68 alias IDR 180 triliun. Omzetnya USD 611,3 miliar alias IDR 9 403 triliun. Asetnya USD 243,2 miliar alias IDR 3 741 triliun. Nilai pasarnya adalah USD 439,86 miliar alias IDR 6 766 triliun. Jumlah gerainya adalah lebih dari 10 500 di 20 negara.
&&&
Pembaca yang baik, ajal pasti datang. Waktunya tidak ada yang tahu. Demikian juga ajal pendiri perusahaan. Seperti juga ajal bagi Sam Walton pendiri Walmart. Data di atas menunjukkan bahwa kematian pendiri tidak berpengaruh apapun bagi Walmart. Walmart tetap tumbuh dalam omzet, laba, aset dan nilai pasar. Dan bahkan terus tumbuh sampai hari ini. Menebar manfaat kepada umat manusia tanpa dibatasi suku, bangsa dan agama.
Bagaimana bisa seperti Walmart? Bagaimana perusahaan tidak mengalami penurunan kinerja ketika meninggalnya sang pendiri? Syarat utamanya adalah terbentuknya sistem manajemen. Ciri utama sistem manajemen adalah jumlah level jabatan yang cukup sedemikian hingga perbedaan kemampuan antar level menjadi kecil.
Dengan 1720 gerai saat pendiri meninggal, level jabatan dari CEO sampai kasir di toko tentu sudah cukup. Hitungan secara simulasi begini. Untuk sebuah gerai sekelas hipermarket, paling tidak ada kepala gerai, asisten kepala gerai, dan pelaksana. Jadi di tiap gerai ada 3 level. Karena ada 1720 gerai tentu ada 1720 kepala gerai. Jika tiap 10 gerai dikontrol oleh seorang supervisor maka akan ada 172 supervisor. Jika setiap 10 supervisor dikontrol oleh seorang manajer area maka akan ada 17 manajer area. Manajer area dibagi 3 kelompok dan masing-masing dipimpin oleh seorang general manager. General manager melapor kepada direktur. Para direktur dipimpin oleh seorang CEO. Dengan demikian total secara simulasi level jabatannya dari paling atas adalah: CEO, direktur, general manager, area manager, supervisor, kepala gerai, asisten kepala gerai, dan pelaksana. Total ada 9 level.
Memang belum sejumlah level jabatan pada sistem manajemen ideal. Tapi jumlah yang cukup untuk membuat perbedaan keahlian antar level menjadi kecil. Dengan demikian ketika ada manajer level mana pun meninggal, mati atau pensiun manajer level persis di bawahnya bisa naik menggantikan tanpa ada penurunan kinerja. Dan ini terkonfirmasi dengan tidak adanya penurunan kinerja Walmart setelah meninggalnya sang pendiri.

Pembaca yang baik, pada perusahaan mana pun terjadi adu cepat antara terbentuknya sistem manajemen dengan ajal sang pendiri. Jika sang pendiri meninggal saat sistem manajemen sudah cukup kuat seperti Walmart, perusahaan akan tetap tumbuh dan unggul dari generasi ke generasi. Jika sebaliknya maka perusahaan akan terganggu kinerjanya bahkan hancur. Muncul fenomena kutukan generasi ketiga. Generasi pertama mendirikan. Generasi kedua menikmati. Generasi ketiga menghancurkan.
Bagaimana mempercepat menguatnya sistem manajemen agar tidak kalah dengan datangnya ajal sang pendiri? Tidak ada lain kecuali dengan melakukan korporatisasi. Intinya adalah scale up setelah perusahan menemukan revenue and profit driver alias RPD. Bagaimana perusahaan tempat Anda berkarya?
Artikel ke-419 karya Iman Supriyono ini ditulis pada tanggal 20 September 2023 di SNF House of Manaagement, Surabaya
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi