Dari Pikulan Ke Juragan


Mbah Anu, sebut saja begitu. Sebagaimana umumnya para pemuda di kampungnya, selulus SD mbah Anu muda langsung lungo. Sebuah istilah di kampung mbah Anu yang artinya adalah pergi ke luar kota  meninggalkan kampung halaman dengan menjual jajanan tradisional produksi kampungnya. Secara harfiah lungo berarti pergi.

Ada beberapa kota favorit menjadi tujuan lungo. Yang dipilih mbah Anu adalah Semarang. Sebuah kota yang bisa dijangkau dengan bus dengan sekitar 5 jam perjalanan. Tentu saja tanpa tol karena ketika itu belum ada tol.

Barang dagangan mbah Anu dibeli dari para juragan. Sebuah istilah khas kampung mbah Anu untuk menyebut orang-orang yang berprofesi sebagai pengusaha home industry produsen jajanan tradisional khas kampung itu.

Dari juragan, barang dagangan itu dimasukan pada dua kotak kayu. Keduanya kemudian diangkat dengan pikulan.  Kedua kotak digantung pada ujung pikulan. Pikulan adalah  batang bambu sepanjang sekitar 1,5 m yang sudah dibentuk sedemikian rupa.

Dengan memikul barang dagangan, mbah Anu dan kawan-kawan seprofesi berjalan kaki menuju jalan raya yang dilalui bus antar kota. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk mencapai lokasi pemberhentian bus. Tentu saja keringat akan menemani perjalanan  memikul kotak sampai naik bus.

Sesampai di Semarang, mbah Anu dan kawan-kawan akan menuju pondok mboro. Ini adalah istilah yang digunakan untuk menyebut sebuah rumah sederhana yang bisa menampung orang-orang seperti mbah Anu  untuk menginap. Mbah Anu dan kawan-kawan mesti membayar pondok mboro secara tunai tiap  hari dengan rupiah tertentu.

Jangan bayangkan pondok mboro seperti hotel dengan kamar-kamar. Tidak, pondok mboro adalah ruangan besar yang bisa digunakan tidur bersama-sama mbah Anu dan kawan-kawan dengan menggelar tikar sekedarnya.

Rutinitas mbah anu setiap pagi adalah keluar dari pndok mboro memikul kotak. Tujuannya adalah sekolah-sekolah di sekitar. Di sekolah-sekolah itulah mbah Anu dan kawan-kawan menjajakan panganan tradisionalnya untuk anak-anak sekolah.

Selepas jam sekolah para pedagang masih melanjutkan berjualan di tempat-tempat keramaian. Tempat anak-anak berkumpul. Demikian hari-hari mbah Anu dan kawan-kawan seprofesinya sampai sore dan kemudian kembali ke pondok mboro untuk beristirahat.

Jika dagangan di kotak sudah habis, mbah Anu dan kawan-kawan akan pulang kembali ke kampung halamannya untuk bertemu keluarga beberapa hari.  Selanjut akan kembali kulakan ke juragan dan lungo lagi.

&&&

Aktivitasnya sama. Tapi cara mengelola uangnya berbeda. Itulah gambaran mbah Anu dengan kawan-kawan seprofesinya. Untuk makan sehari-hari misalnya, kawan-kawan mbah anu biasa mengambil lauk pauk ayam atau daging. Minumnya es teh atau es campur. Mbah Anu berbeda. Mbah anu suka makan dengan lauk pauk tahu tempe. Minum air putih. Berhemat.

Nah, karena berhemat, setiap dagangan habis dan pulang ke kampung halamannya, mbah anu bisa membeli seekor kambing. Tentu saja sebagian akan dipakai untuk kebutuhan hidup sehari-hari keluarga. Uang kawan-kawan mbah anu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Sekali lungo biasanya butuh waktu sekitar sebulan. Dengan demikian, tiap bulan kambing mbah Anu pun bertambah. lama-lama kambingnya banyak. Bertambah karena membeli. Juga bertambah karena kambing-kambing itu pada beranak.  Lama-lama beberapa ekor kambing dijual untuk dibelikan sapi. Sapi pun beranak pinak.

Selanjutnya, beberapa sapi dijual. Uangnya digunakan untuk membeli alat-alat produksi. Mbah Anu pun memproduksi sendiri dagangannya. Statusnya pun berubah menjadi juragan. Memproduksi barang dagangan bukan hanya untuk dijual sendiri. Tapi juga dijual oleh para pedagang kawan-kawan mbah Anu. Bahkan mbah  Anu juga menjual  dagangannya dengan kemasan bermerek.

Kini, setelah sekitar 40 tahun menekuni bisnis, mbah anu adalah orang terkaya di kampung halamannya. Sawahnya luas. Mobilnya bagus-bagus. Anak-anaknya dikuliahkan di fakultas kedokteran. Ada yang sudah menjadi dokter spesialis laris di daerahnya. Para menantu pun dokter. Bahkan dokter spesialis juga. Anak terakhirnya masih kuliah di fakultas kedokteran sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Surabaya. Uang pangkalnya hampir setengah milyar.

&&&

Pembaca yang baik, yang dilakukan mbah Anu tidak berbeda dengan kawan-kawan seprofesinya. Yang berbeda adalah manajemen keuangannya. Kawan-kawan mbah Anu memperlakukan bisnis sebagai sapi perah. Semua laba habis untuk keperluan non bisnis. Mbah Anu tidak. Mbah Anu hanya menggunakan sebagian laba untuk keperluan hidup sehari-hari. Sebagian lainnya untuk pengembangan bisnis. Bisnis berkembang dan mbah Anu pun menjadi orang terkaya di kampungnya.

Bisnis mbah Anu kini berada pada tahap ke 4 dari 8 proses korporatisasi. Jika dilanjutkan dengan 4 langkah berikutnya, bisnis mbah Anu bisa berkembang menjadi perusahaan fast moving consumer good seperti Nestle yang kini bernilai CHF 186 miliar alias IDR 3700 triliun lebih. Atau seperti Danone yang kini bernilai EUR 49 miliar atau IDR 900 triliun lebih. Menjadi korporasi sejati rahmatan lil alamin. Semoga.

Karya ke-488 Iman Supriyono yang ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan, terbit di Surabaya, edisi September 2025

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

One response to “Dari Pikulan Ke Juragan

  1. tulisan yang selalu menginspirasi, saya pegawai biasa pun dapat mengambil hikmah sederhana yakni wajib punya tabungan agar nanti bisa dipakai beli “kambing” atau “sapi” seperti cerita diatas.

    terima kasih

Tinggalkan Balasan ke Miss Sigi Batalkan balasan