Investasi Kambing Kurban ACR: Keseimbangan Utang -Ekuitas


Bandar Lampung, 14 Januari 2026. Diskusi di kompleks kandang kambing dan sapi PT Agri Prima Integra malam itu menarik sekali. Bahwa kita sebagai bangsa agraris besar kalah telak di bidang peternakan kambing maupun sapi dengan Australia. Indonesia adalah pengimpor sapi dan kambing dari negeri kanguru itu.

Kawan diskusi saya tidak lain adalah sang direktur dan pendiri perusahaan penyedia sapi dan kambing kurban maupun akikah itu. itulah mengapa diskusinya tidak sekedar urusan data dan logika. Tapi langsung dengan orang yang telah bertahun-tahun menekuni bisnis peternakan kambing dan sapi.

Saya cerita tentang Australian Agricultutal Company. Sebuah perusahaan peternakan yang telah berusia 200 tahun. Pada laporan tahunan 2025, perusahaan yang juga dikenal sebagai AACo itu mencatatkan omzet sebesar AUD 643 juta alias IDR 7,3 triliun. Omzet tersebut dihasilkan dari hasil ternak di lahan seluas 6,5 juta hektar dengan sekitar 465 ribu ekor sapi. Tiap tahun memanen sekitar 52 ribu ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan pasar. Itulah yang menjadikan perusahaan ini bernilai pasar AUD 838 juta alias IDR 9,5 triliun.

&&&

Kokohnya Australia di industri peternakan tidak bisa dipisahkan dari peran investor.  Berikut ini adalah 10 pemegang saham terbesar AACo: Terbesar adalah Bryan A Glinton dengan , Tattarang, Neil Bruce Family, Barry Lambert, Donald Mc Gauchie, Warbug Invest, Rathvale, Joy Wilma Lillian Lambert, dan Lenard James Norris, dan terkecil adalah  Wykala dengan 0,1161%. Mereka adalah perusahaan-perusahaan investasi atau investor perorangan. Karena perusahaan ini berdiri dengan keputusan pemerintah kolonial Inggris maka bisa dipastikan mereka semua adalah murni investor. Bukan entrepreneur pendiri perusahaan.

Penulis bersama Direktur PT Agri Prima Integra menandatangani perjanjian investasi

Bagaimana dengan industri peternakan tanah air? Malam itu saya datang sebagai ketua ACR, http://www.acrku.org, sebuah badan hukum perkumpulan pemberi beasiswa. Dana beasiswanya berasal dari hasil investasi aset dana abadi organisasi. Malam itu, ACR sedang mengikat kerja sama investasi penyediaan modal untuk kambing kurban bagi PT Agri Prima Integra. Saya datang untuk menandatangani perjanjian sebagai ketua ACR.

Skema investasi adalah bagi hasil. ACR menyediakan dana untuk membeli kambing yang dipersiapkan untuk kurban. Prima Integra melakukan pembelian, mengelola dan menjual kambing-kambing tersebut. Pada saat akhir perjanjian, Agri Prima akan mengembalikan dana investasi tersebut beserta bagi hasilnya.

Transaksi yang dalam perjanjian disebut sebagai syirkah tersebut mau tidak mau akan dicatat oleh Agri Prima sebagai utang. Para akuntan sering membahasakannya sebagai “kas pada utang”. Nanti saat pengembalian akan dibalik. Utang pada kas dan bagi hasil. Artinya, skema investasi ACR malam itu adalah berupa utang piutang.

Sebagai pengelola dana abadi modern, ACR memang mengelola asetnya dengan proporsi fifty fifty. Separuh aset diinvestasikan melalui skema ekuitas melalui private placement. separuh sisanya melalui skema utang piutang. Kedua skema tetap dilakukan dengan prinsip “tidak menaruh telur pada satu keranjang”. Maka, Agri Prima adalah salah satu dari investee ACR yang berskema utang piutang.

Mengapa harus fifty fifty? Agar keduanya saling melengkapi. Utang piutang bagus untuk cash flow saat ini tapi termakan inflasi. Saham tidak bagus untuk cas flow saat ini. Tapi dividen maupun nilainya tumbuh. Pertumbuhan ini akan menanggulangi dampak inflasi dari skema utang piutang. Pengelola dana abadi terbesar dunia juga menggunakan skema seperti ini. Harvard University misalnya menggunakan porsi 50-50 ini. MIT menggunakan 70% ekuitas dan 30% utang piutang.

Pembaca yang baik, tahun ini adalah kali ketiga ACR berinvestasi pada PT Agri Prima. Tentu harapannya akan terus berlanjut seiring pertumbuhan perusahaan peternakan itu. Harapannya kelak Agri Prima akan melakukan proses korporatisasi untuk scale up seperti AACo. Dengan demikian ACR bisa berinvestasi dengan skema saham. Saat ini ACR memiliki 4 investee dengan skema saham. Terakhir adalah Apotek Tito Kita yang juga berada di provinsi Lampung. Rencananya ke depan akan terus ditumbuhkan. Seiring tumbuhnya anggota sebagai donatur. Tentu juga akan berdampak pada jumlah penerima beasiswa yang kini 14. Bismillah.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

𝘒𝘢𝘳𝘺𝘢 𝘬𝘦-500 𝘐𝘮𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘱𝘳𝘪𝘺𝘰𝘯𝘰 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘥𝘪 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘣𝘢𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 19 𝘑𝘢𝘯𝘶𝘢𝘳𝘪 2026

Tinggalkan komentar