Saya menulis artikel ini dengan laptop bermerek HP besutan HewlettPackard Enterprise. Sebuah perusahaan yang kini berada di peringkat 379 dalam hal omzet, laba, aset dan nilai pasar. Omzetnya USD 31,15 miliar alias IDR 528 triliun. Tidak tahu sudah berapa ratus artikel yang saya tulis dengan laptop ini. Termasuk yang Anda baca ini. Sebuah manfaat yang luar bisa.
Siapa yang berperan untuk hadirnya perusahaan yang produknya dipakai masyarakat di berbagai penjuru dunia itu? Yang pertama berperan tentu saja adalah pendirinya. Tidak lain adalah Bill Hewlett dan David Packard yang mendirikannya pada tahun 1939. Saat itu saya belum lahir.
Lalu siapa lagi? Tentu saja adalah para penyedia modal yaitu para pemegang saham. Ini 10 besarnya saat ini: Vanguard Fiduciary Trust Co (14,44 %), The Vanguard Group, Inc. (14,22 %), BlackRock Advisors LLC (8,79 %), STATE STREET CORPORATION (5,76 %), Dodge & Cox (3,77 %), Geode Capital Management LLC (2,99 %), Ishares (DE) InvAG mit Teilgesellschaftsvermogen (2.58 %), PRIMECAP Management Co. (1,93 %), Merrill Lynch Internasional (1,92 %) dan Invesco Advisers, Inc. (1,67%). Mereka adalah perusahaan-perusahaan investasi. Perusahaan yang kerjanya menerima dana dari masyarakat untuk diinvestasikan di berbagai perusahaan.
Jika daftar pemegang saham itu kita perpanjang, ada Ensign Peak Advusors, Inc. di sana. Peruasan investasi dari The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints, LDS Church, gereja mormon berpusat di Amerika. Berdasar laporan di lantai bursa, gereja yang beroperasi di berbagai penjuru dunia ini memiliki 133,426 lembar saham. Per akhir tahun 2024 saham tersebut bernilai USD 3 204 893 alias IDR 54 miliar. Kecil dibanding dari total nilai investasi sekitar IDR 2000 triliun yang dimilikinya.
Dana itu adalah dana abadi yang berasal dari sumbangan para jemaat gereja. Dalam terminologi umat Islam disebut wakaf. Dana yang dikelola dengan diinvestasikan pada sekitar 1600 perusahaan di berbagai bidang. HP adalah salah satunya.

Jadi, HP sebagai perusahaan yang produknya saya nikmati hari ini tidak bisa dilepaskan dari keterbukaan Bill Hewlett dan David Packard untuk menerima dana investor. Termasuk investor sosial seperti LDS Church.
&&&
Anda pelaku bisnis? Anda entrepreneur? Anda bisa bersikap seperti Bill Hewlett dan David Packard. Membuka diri seluas-luasnya untuk masuknya investor. Termasuk investor sosial dari pengelola endowment fund alias dana wakaf. Perusahaan yang Anda dirikan pun bisa menjadi rahmatan lil alamin alias bermanfaat bagi seluruh alam seperti laptop HP yang saat ini saya pakai menulis.
Bagaimana caranya? Siapkan perusahaan mengikuti 8 tahap siklus hidup perusahaan. Perusahaan yang Anda dirikan akan siap menerima dana investor jika sudah pada tahap ke 6 dari 8 tahap itu. HP saat ini sudah pada tahap ke-8 yaitu korporasi sejati. Menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Bagaimana jika perusahaan tidak membuka diri? Tentu tidak bisa menjadi korporasi sejati. Tidak bisa menjadi rahmatan lil alamin. Tidak bisa menerima dana endowment fund. Tidak bisa menerima dana wakaf. Menolak wakaf. Menutup peluang untuk menjadikan Allah SWT sebagai pemegang saham. Naudzubillah. Semoga kita bisa berkontribusi untuk penguatan wakaf.
Karya ke 510 Iman Supriyono ini ditulis di Masjid Arroyan Surabaya selepas tarawih 24 Ramadhan 1447 KHGT
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Baca Juga
Family Office dan Wakaf
Wakaf menanam pohon: Lily Endowment
Wakaf dan Dana Abadi Sebagai Investing Company ala Saratoga
Fulbright Dari Timur: Wakaf ACR
Satu Lagi Dari Wakaf ACR: Apotek Titokita
Wakaf Pembiayaan Kambing Kurban
Wakaf Untuk Pensiunan Marbot dan Imam
Allah Sebagai Pemgang Saham Legal Formal
NUS: Kampus Berjati Diri Sosial Dengan Wakaf
NTU: Si Muda Mengalahkan Seniornya Dengan Wakaf
Berapa Indeks Wakafisasi Kampus Anda?
Isy kariman au Mut syahiidan
Ping-balik: Wakaf dan Endowment Fund, Sama atau Beda? | Korporatisasi
Ping-balik: Takmir Masjid: Yayasan atau Perkumpulan? | Korporatisasi