Mengapa Gudang Garam Kalah Oleh Sampoerna?


Akar sejarah PT Gudang Garam Tbk, GG,  bermula pada tahun 1956 ketika Tjoa Ing-Hwie atau Surya Wonowidjojo membeli lahan dengan luas sekitar 1.000 meter persegi milik Muradioso di Jl. Semampir II/l, Kediri. Di atas lahan tersebut, Tjoa Ing-Hwie lalu mulai memproduksi rokok sendiri.

Sementara itu, akar sejarah PT Hanjaya MandalaSampoerna Tbk., HMS, berawal pada tahun 1913 ketika Liem Seeng Tee memproduksi sigaret keretek tangan bermerek Dji Samm Soe di rumahnya di Surabaya, Jawa Timur.

Sampoerna lebih senior. Tapi keduanya dimulai dari sesuatu yang sederhana. Bagaimana kondisinya kini? Mari kita lihat perkembangan dua dasawarsa terakhir.

Tahun 2005 HMS diakuisisi oleh Philips Morris Internasional.  Ketika itu omzet perusahaan berkantor pusat di Rungkut, Surabaya ini beromzet Rp 25,7 triliun. Labanya Rp 2,4 T. Laba tersebut diperoleh dari aset Rp 11,9 triliun yang berasal dari utang sebesar Rp 7,1 triliun dan ekuitas Rp 4,6 triliun.

Ketika itu omzet GG  Rp 24,8 triliun. Labanya Rp 1,9 triliun. aset Rp 22,1 triliun yang diperoleh dari utang Rp 9 triliun dan ekuitas Rp 13,1 triliun. Tampak bahwa perusahaan ini unggul dalam aset dibanding HM Sampoerna. Struktur modalnya juga lebih kokoh dengan rasio utang dibawah 1 yaitu 0,69 . Sementara rasio utang Sampoerna di atas 1 yaitu 1,54.

Altria mengakuisisi HMS dengan nilai sekitar Rp 18 triliun. Pada tahun itu Altria beromzet USD 97,9 miliar dengan laba USD 10,7miliar. Omzet dan laba tersebut diperoleh dari aset sebesar USD 106 miliar yang berasal dari utang USD 23,9 miliar dan ekuitas USD 35,7 miliar.

Kini, 21 tahun kemudian, bagaimana kondisi mereka? Sebuah pertanyaan menarik terlebih beberapa waktu lalu tersiar kabar bahwa Gudang Garam mengalami kinerja yang kurang menggembirakan. Viral di media sosial. Bagaimana sebenarnya? Mari kita lihat datanya.

Laporan keuangan teraudit 2025 belum keluar. Maka mari kita lihat tahun 2024. Tahun tersebut omzet GG adalah IDR 98,6 triliun. Pertumbuhan rata-rata tahunan (CAGR) sejak 2005 adalah 7,53%. Pertumbuhan tersebut kalah dengan HMS. Omzet 2024 adalah IDR IDR 118 triliun. Jauh meninggalkan GG dengan CAGR 8,35%.

Aset GG 2024 adalah IDR 84,9 triliun yang berasal dari utang IDR 23 triliun dan ekuitas IDR 61,9 triliun. Rasio utang 0,37. Sampoerna tetap lebih berani berutang. Asetnya IDR 54,3 triliun dengan utang IDR 25,9 triliun dan ekuitas IDR 28,4 triliun. Rasio utang yang secara umum disebut aman pada angka  0,91.

Mengapa dalam dua dasawarsa terakhir ini GG kalah dengan HMS?  HMS fokus dalam bisnis rokok. Asetnya sepenuhnya untuk bisnis rokok. Hanya IDR 9,4 triliun alias 17% persen asetnya berupa aset tetap. Selebihnya adalah aset untuk bisnis berupa kas, piutang, persediaan dan sejenisnya sebesar 83%.  Sementara GG tidak fokus. Penyumbang lebih dari 50% PDB kota dan kabupaten Kediri ini mengalokasikan IDR 14,3 triliun alias 17% asetnya untuk konsesi bandara dan jalan tol. Tidak ada hubungannya dengan rokok. Bahkan bandaranya sepi.  Sementara aset tetapnya sebesar IDR 22 triliun alias 26% aset. Jadi yang berupa aset bisnis kas, piutang dan persediaan terkait bisnis rokok hanya 57%.

Adai GG fokus, aset 57% aset tersebut lebih dari cukup untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan rokok di luar negeri. Seperti yang dilakukan oleh Philips Morris di Indonesia. GG akan menjadi perusahaan multinasional di bidang rokok dari Indonesia. Omzetnya lebih besar dari HMS. Menjadi korporasi sejati. Mengibarkan sang merah putih di berbagai negara. Tapi peluang itu tidak diambil oleh GG.

Fokus. Begitulah bisnis yang unggul. Begitu diakuisisi Philips Morris, HMS melepas bisnis properti yang ketika itu bernama Taman Dayu. Mengoreksi langkah sebelumnya yang tidak fokus. Anda pelaku bisnis? Sudah mendapatkan pelajaran dari GG versus HMS?

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Karya ke-503 Iman Supriyono ini ditulis di Bandar Lampung pada tanggal 13 Februari 2026.

Baca juga:
Palugada versus Fokus: Astra versus Hyundai

Tinggalkan komentar