Viral Tikus Resto: Peluang Bisnis Rp 210 T Ala Rentokil


Tikus menikmati sisa makanan di meja sebuah resto terkenal. Videonya beredar luas di media sosial. Makin mudah viral karena gerai resto itu ada di mana-mana. Resto terkenal.

Di perkotaan, spesies Rattus norvegicus ini memang hadir di mana-mana. Di rumah rumah-rumah kawasan kumuh. Di rumah-rumah kawasan mewah. Di hotel-hotel. Di mall mall. Di resto-resto. Di gudang-gudang. Di minimarket-minimarket. Dimana mana. Menjadi masalah di mana-mana.

Tikus wajar merajalela di kota karena ekosistem kota tidak memberi tempat bagi predator tikus. Ular atau elang yang memang predator tikus tidak bisa hidup di kota.

&&&

Sejarah Rentokil bermula ketika Profesor Harold Maxwell-Lefroy, seorang ahli entomologi brilian yang mengembangkan cairan perawatan kayu inovatif untuk memerangi kumbang penggerek kayu di atap Gedung Westminster Hall di Gedung Parlemen di London. Publisitas seputar penyelamatan gedung dan pembukaannya oleh Raja menarik banyak permintaan untuk merawat properti lain. Hal ini mendorongnya untuk mempekerjakan seorang asisten, Bessie Eades, untuk membantu memanfaatkan peluang bisnis tersebut.

Produk itu dinamai dan didaftarkan dengan merek dagang Rentokil.  Tahun 2025 Disinfectants and General Products Limited didirikan sebagai perusahaan dan menjual Rentokil. Tragisnya, Maxwell-Lefroy meninggal dunia pada tahun yang sama setelah secara tidak sengaja menghirup uap insektisida yang sedang diujinya di laboratoriumnya di Imperial College, London, sebelum ia dapat menyaksikan dampak penuh dari penemuannya.

Namun, warisannya tetap hidup melalui Bessie Eades, sang asisten, yang menyadari potensi komersial cairan kayu tersebut. Ia membeli haknya dari janda Maxwell-Lefroy dan meluncurkan kembali perusahaan tersebut sebagai Rentokil (Sales) Ltd pada tahun 1928 untuk memasarkan Rentokil Timber Fluid. Keputusan cerdas Eades untuk menjual langsung kepada publik, menekankan hubungan dengan Maxwell-Lefroy, dan mempromosikan efektivitas perawatan yang tahan lama, merupakan faktor penting dalam keberhasilan perusahaan baru tersebut.

Bessie Eades berkonsentrasi pada pengembangan produk baru, termasuk bubuk kumbang untuk dapur, berbagai pengobatan anti serangga, pengobatan anti ngengat, krim furnitur, dan pembasmi kuman yang dirancang khusus untuk telepon. Produk yang paling laris adalah insektisida yang awalnya bernama Kilit, yang kemudian dikenal dengan nama Rentokilit.

Pada tahun 1944 Rentokil merekrut Dr. Norman Hickin, seorang ahli entomologi dan komunikator yang terampil. Keahliannya dalam bidang kumbang penggerek kayu, ditambah dengan bakatnya dalam berbicara di depan umum dan menulis teknis, memainkan peran penting dalam membangun merek Rentokil.

Upaya Hickin untuk mengedukasi masyarakat tentang serangan rayap mengubah persepsi dan membuka area pertumbuhan yang signifikan bagi bisnis Rentokil.  Ia menciptakan alat penyemprot untuk menyuntikkan cairan kayu ke dalam lubang yang dibuat oleh kumbang dewasa ketika mereka meninggalkan kayu untuk kawin. Penemuan ini dipatenkan pada tahun 1948 dan terjual lebih dari satu juta unit pada tahun 1950-an.

Seiring dengan pertumbuhan Rentokil, perusahaan lain, British Ratin, juga menorehkan prestasinya di bidang pengendalian hama. Didirikan pada tahun 1927 oleh perusahaan Denmark Sophus Berendsen, British Ratin memasarkan rodentisida Ratin, yang telah ditemukan oleh seorang ilmuwan Denmark pada tahun 1906. Perusahaan ini menambahkan pengendalian serangga ke dalam penawarannya dan mengambil alih perusahaan pengendalian hama yang berbasis di London, Chelsea Insecticides, pada tahun 1941 untuk meningkatkan jangkauan keahlian dan perawatannya.

Pada tahun 1957, British Ratin dan Rentokil bergabung. Langkah strategis ini menyatukan dua pemimpin industri dan perusahaan memutuskan untuk mengubah namanya menjadi Rentokil. Pada Desember 1960, Rentokil yang baru lahir.

Di bawah bendera Rentokil Group, perusahaan ini memulai periode pertumbuhan dan diversifikasi yang pesat. Pada tahun 1961, Rentokil mengakuisisi perusahaan Skotlandia berusia 61 tahun, Thomas Harley Ltd. Akuisisi ini menambahkan racun tikus milik Thomas Harley, Rodine, dan penolak ngengat ke dalam jajaran produk Rentokil. Merek produk pengendalian hama tikus Rodine masih digunakan hingga saat ini, tetapi dengan formulasi modern.

Perusahaan ini memiliki pabrik untuk memproduksi produk-produk tersebut dan gerai distribusi di 47 negara. Manajer umumnya, Angus Fraser McIntosh, bekerja untuk Rentokil hingga pensiun. Ia menjabat enam periode sebagai presiden Asosiasi Pengendalian Hama Inggris dan dianugerahi OBE oleh Ratu Elizabeth II atas jasanya dalam pengendalian hama.

Dekade 1960-an Rentokil berekspansi secara internasional dengan akuisisi pertamanya di Kenya, diikuti oleh 21 negara di Eropa, Australasia, Asia Tenggara, Karibia, dan Afrika Selatan. Ekspansi global berlanjut pada tahun 1970-an, dengan model waralaba di 10 negara dan akuisisi di sembilan negara termasuk, untuk pertama kalinya, beberapa bisnis di Amerika Serikat, pasar pengendalian hama terbesar.

Komitmen Rentokil terhadap penelitian dan pengembangan ilmiah diperhatikan oleh editor majalah perdagangan AS, Pest Control, yang mengatakan, “Perusahaan Anda melakukan penelitian jauh lebih banyak dan memiliki fasilitas yang lebih baik daripada perusahaan lain yang saya kenal.” Komitmen ini semakin ditekankan pada tahun 1969 ketika sayap laboratorium khusus didirikan di kantor pusat Felcourt untuk tim ilmuwan, termasuk ahli biologi, ahli entomologi, dan ahli kimia.

Pekerjaan perusahaan dalam mengendalikan tikus di pusat-pusat kota di Bahrain difilmkan dengan kamera film rumahan, menunjukkan kekuatan film dalam mempromosikan bisnis. Hal ini menyebabkan pembentukan Unit Film pada tahun 1959, yang kemudian menghasilkan sejumlah besar film pendidikan dan film dokumenter pemenang penghargaan menggunakan teknik pembuatan film yang inovatif.

Selama tahun 1970-an, para ahli Rentokil juga mentransfer pengetahuan mereka yang luas ke dalam bentuk cetak. Mereka menghasilkan serangkaian buku teknis, yang disebut Perpustakaan Rentokil, tentang biologi dan pengendalian hama.

Akuisisi selalu memainkan peran penting dalam pertumbuhan Rentokil, memperluas kehadiran global ke negara-negara baru dan meningkatkan pangsa pasar. Antara tahun 2014 dan 2023 saja, hampir 400 akuisisi dilakukan di seluruh dunia. Ekspansi ini tidak akan berhasil tanpa penekanan berkelanjutan pada keunggulan layanan dan inovasi.

Investasi besar dilakukan di AS, pasar pengendalian hama terbesar, termasuk akuisisi JC Ehrlich, Presto-X, dan Western Exterminator, menjadikan perusahaan ini sebagai perusahaan terbesar ketiga di AS pada tahun 2012. Steritech diakuisisi dengan harga US$450 juta pada tahun 2015 dan Terminix dengan harga US$6,7 miliar pada tahun 2022. Hal ini menjadikan Rentokil sebagai perusahaan nomor 1 di AS dan perusahaan pengendalian hama terbesar di dunia.

&&&

Masalah satu orang menjadi peluang bagi orang lain. Masalah suatu perusahaan menjadi peluang bagi perusahaan lain. Tikus adalah contohnya. Menjadi masalah perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang resto.

Di pembukaan tulisan ini saya mengungkap berita viral tentang tikus di meja makan resto terkenal. Lalu saya tampilkan sejarah Rentokil yang saya ambil dari laman web resmi mereka. Keduanya menunjukkan betapa sebuah masalah bisa ditangkap menjadi sebuah bisnis besar.

Tahun 2025 omzet Rentokil adalah GBP 6,9 miliar alias IDR 167 triliun. Labanya adalah GBP 290 juta alias IDR 6,7 triliun. Omzet dan laba tersebut dihasilkan dari hasil pengelolaan aset perusahaan sebesar USD 9,5 miliar alias IDR 229 triliun. Nilai pasarnya adalah GBP 8,7 miliar alias IDR 210 triliun.

Menarik kan? Masih ada lagi yang lebih menarik. Karena ada klien SNF yang bergerak di bidang makanan juga, saya pernah kontak tim Rentokil Indonesia. Saya tanya tentang teknologi yang mampu mendeteksi keberadaan tikus dalam radius sekian meter. Dengan alat ini, harapannya jangan sampai ributnya baru setelah tikus berkeliaran di meja. Atau bahkan menjadi viral. Tapi sebelum itu sudah terdeteksi dan langsung diantisipasi.

Apa Jawaban Rentokil? Sampai saat ini perusahaan yang telah berusia lebih dari seabad itu belum memiliki alatnya. Upaya pencegahan sudah ada dengan zat kimia atau teknologi tertentu. Ini adalah upaya. Sebuah upaya apapun mesti diukur hasilnya. Alat yang saya maksud, jika ada, adalah sarana untuk mengukur hasil pencegahan yang dilakukan.

Karena belum ada, maka ini adalah peluang. Saya yakin banyak perusahaan akan membelinya jika ada. Maka ini adalah peluang. Siapa yang akan mengambil? Rentokil lagi? Atau Anda punya ide? Mau menjadi next Rentokil? Solusi tikus senilai IDR 210 triliun! Semoga!

Artikel Karya ke 538 Iman Supriyono ini ditulis di Kantor Pusat SNF Consulting di Surabaya pada tanggal 28 Oktober 2026. Selain artikel seperti ini, Iman juga menulis 1968 artikel pendek di web ini juga.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Tinggalkan Balasan