Anak Usaha UGM Melantai: Amankah dari IPO Trap?


Ini menarik. Swayasa adalah anak usaha (subsidiary) kampus pertama yang menerbitkan saham baru melalui lantai bursa. Makin menarik karena 31 dari 41 perusahaan yang IPO tahun 2024 mengalami gejala IPO trap. Harga sahamnya setelah setahun jatuh dari harga hari pertama melantai. Tahun 2025 setali tiga uang. Empat belas dari 26 perusahaan yang IPO tahun 2025 mengalami gejala sama.

Mengapa disebut IPO trap? Perusahaan yang harga sahamnya jatuh dari harga hari pertama IPO akan bermasalah dalam pertumbuhan. Sulit mencari dana dari lantai bursa lagi. Dan yang paling penting, merugikan baik pemegang saham pra IPO maupun pemegang saham setelah IPO.

Pemegang saham pra IPO rugi bukan saja karena harga saham yang turun. Tapi juga mengalami penurunan ROI atas investasi sahamnya. pertumbuhan omzet, laba, aset dan nilai pasar perusahaan lambat. Bahkan tercekik.

Pemegang saham setelah IPO bukan saja rugi karena harga sahamnya turun. Tapi juga rugi karena ekspektasi ROI-nya tidak tercapai. Pertumbuhan omzet, laba, aset dan nilai pasar perusahaan lambat. Bahkan tercekik.

Nah, bagaimana dengan IPO PT Swayasa Prakarsa Tbk.? Saya akan mengupasnya dalam format poin-poin.

  1. Paling tidak ada tiga aspek untuk memprediksikan apakah gejala IPO trap akan terjadi atau tidak. Aspek pertama adalah kemampuan historis perusahaan untuk menjaga ROA. Menjaga ROA stabil artinya perusahaan mampu memanfaatkan setiap persentase pertumbuhan aset untuk menumbuhkan omzet dan laba dengan persentase sama.
  2. Apakah Swayasa mampu? Kita lihat laporan keuangan sebagaimana diungkap di prospektus. Aset akhir tahun 2024 adalah Rp 29,2 miliar. Laba tahun tersebut adalah Rp 3,5 miliar. Dengan demikian ROA tahun tersebut adalah 12,0%. Tahun berikutnya aset naik 14% menjadi Rp 33,4 miliar. Tapi omzet justru turun 30% menjadi Rp 7,1 miliar. Laba turun 60% menjadi Rp 1,4 miliar. Dengan demikian ROA turun menjadi 4,2%. Dari data ini maka Swayasa belum mampu menjaga ROA. Dari aspek pertama maka Swayasa terancam IPO trap.
  3. Aspek kedua adalah penggunaan dana hasil IPO. Agar dana yang masuk mampu meningkatkan omzet dan laba, maka dana tersebut harus dibelanjakan pada aset yang menjadi pemicu omzet dan laba alias revenue and profit driver (RPD).
  4. Mari kita lihat rencana penggunaan dana hasil IPO. Ada 3 pos penggunaan dana hasil IPO. Pos pertama adalah untuk modal kerja sebesar Rp 15,8 miliar. Pertanyaannya, apakah modal kerja ini akan meningkatkan omzet? Mari kita cermati. Yang paling besar yaitu Rp 5 miliar untuk pembelian bahan baku elektromedis dan non elektromedis. Manajemen tidak menjelaskan dampak pembelian bahan baku ini terhadap peningkatan omzet di prospektusnya.  Idealnya, uang Rp 5 milyar itu menghasilkan tambahan omzet Rp 1 miliar agar ROA sama dengan tahun 2025 dengan margin laba sama. Atau menghasilkan peningkatan omzet Rp 1,7 miliar jika berpatokan pada ROA tahun 2024 dengan margin laba sama.
  5. Rp 4,6 miliar akan digunakan untuk operasional perusahaan berupa gaji karyawan, pembelian kebutuhan, lisensi, transportasi, dan utilitas kantor. Apakah ini akan meningkatkan omzet? Manajemen tidak memberi penjelasan. Tapi Anda yang paham bisnis bisa dengan mudah menilainya.
  6. Rp 2,3 miliar akan digunakan untuk membeli peralatan penunjang produksi berupa dehumidifier, forklift, box kontainer, dan sebagainya. Bisakah ini meningkatkan omzet dan laba? Manajemen juga belum memberi argumen. Yang jelas, penambahan aset akan menambah biaya depresiasi dan menurunkan laba. Kecuali diimbangi dengan peningkatan omzet dengan margin laba tetap. Atau jika mendorong efisiensi maka omzet tidak naik walaupun laba naik.
  7. Rp 2 miliar untuk upaya peningkatan pemasaran produk dan jejaring seperti business matching, pameran, event, dan sejenisnya. Ini bisa berprospek menghasilkan pertumbuhan omzet, bisa juga tidak. Tergantung kemampuan konversi perusahaan selama ini.
  8. Pos kedua yaitu belanja modal sebesar Rp 12,2 miliar. Rp 10,7 miliar untuk membangun gedung baru. Apakah gedung baru ini mampu menaikkan omzet Rp 2,3 miliar agar ROA sama dengan tahun 2025? Mestinya tidak mungkin karena pasar tidak akan peduli gedung perusahaan seperti apa.
  9. Rp 1 miliar dari pos kedua akan digunakan untuk membeli kendaraan logistik, kendaraan operasional dan kendaraan armada sales. Mampukah meningkatkan omzet untuk menjaga ROA? Jika tidak mampu mestinya perusahaan tidak perlu beli. Cukup menyewa saja.
  10. Pos ketiga adalah pembayaran utang sebesar Rp 12 miliar. Bisakah ini meningkatkan omzet? Tentu tidak. Apalagi utang yang dibayar adalah utang pada pihak terafiliasi. Pertanyaan kritisnya, pihak terafiliasi saja akan menarik uangnya dari bisnis Swayasa. Bagaimana pihak luar  percaya pada Swayasa?
  11. Jadi dari aspek kedua Swayasa belum memberi argumentasi yang menunjukkan kemampuannya menghindari IPO Trap.
  12. Aspek ketiga adalah ukuran perusahaan. Jika IPO ini sukses menggaet dana sesuai prospektus sebesar Rp 45,2 miliar, maka market value perusahaan adalah Rp 140 miliar. Ini adalah angka yang sangat rawan permainan bandar.  Seluruh saham yang dilepas di IPO bisa dibeli para bandar dan kemudian dipermainkan sesuai kepentingan bandar. Bukan sesuai kepentingan Swayasa.
  13. Angka aman dari permainan bandar adalah market value sekitar Rp 10 triliun. Atau paling tidak sekitar Rp 5 triliun. Jadi dari aspek ketiga Swayasa rawan IPO Trap.
  14. Kalaupun aspek pertama dan kedua di atas aman, kebutuhan modal Rp 45,2 miliar itu harusnya masih diselesaikan dengan penerbitan saham secara private placement. Bukan di lantai bursa. Lakukan ini secara terus menerus sampai market value cukup baru nanti IPO.
  15. Memperhatikan akun ekuitas di neracanya, Swayasa belum memiliki akun tambahan modal disetor. Artinya, Swayasa belum pernah menerima dana investor dalam penerbitan saham yang harganya di atas nilai nominal.  Maknanya, Swayasa belum pernah memetik intangible assetnya. Jadi IPO ini adalah pengalaman pertama. Dan langsung di lantai bursa. Dengan kualitas tiga aspek seperti penjelasan di atas.

Pembaca yang baik, Swayasa didirikan oleh UGM. Kampus ternama yang memiliki fakultas ekonomi. Memiliki jurusan manajemen ternama baik di level sarjana, magister, magister manajemen, maupun doktor. Pertanyaan sederhananya, apakah tiga aspek di atas tidak dikritisi oleh mereka sebelum dieksekusi? Ingat, semua kinerja Swayasa akan terkonsolidasi pada laporan keuangan UGM sebagai induk. Ini risiko besar. Itulah kenapa kampus top seperti Harvard atau MIT tidak pernah mau berbisnis. Bahaya bagi integritas kampus. Sebagai gantinya mereka mengumpulkan dana abadi untuk berinvestasi.

Berbisnis arti teknisnya adalah kampus memegang saham perusahaan mana pun dengan persentase di atas 50%. Dengan demikian kampus mengonsolidasikan laporan keuangan perusahaan yang sahamnya dipegang. Baik buruk bisnis akan berdampak langsung pada kinerja laporan keuangan kampus. Jika kinerja bisnis buruk maka keberadaan fakultas ekonomi akan langsung tercoreng.

Kita doakan semoga UGM aman dari aksi korporasi anak usahanya

Berinvestasi arti teknisnya adalah kampus memegang saham perusahaan mana pun dengan persentase di bawah 50%. Dengan demikian kampus tidak mengkonsolidasikan laporan keuangan perusahaan yang sahamnya dipegang. Cukup mencatatnya sebagai investasi. Investasinya pun menggunakan prinsip “jangan taruh telur pada satu keranjang”. Saham MIT pada Microsoft misalnya hanya nol koma sekian persen.

Pembaca yang budiman, kesimpulannya, Swayasa sangat riskan mengalami IPO Trap. Tapi ini kan hanya analisa saya. Analisis saya bisa salah. Saya yakin analisa pihak UGM tidak seperti analisis saya. Perbedaan analisis adalah hal biasa. Biarlah waktu yang akan bicara. Kita tunggu saja kinerja Swayasa tahun depan. Dan tentu saja tahun-tahun ke depan. Kita doakan semoga UGM aman dari dampak aksi korporasi anaknya.

Artikel Karya ke 533 Iman Supriyono ini ditulis di resto kereta Sancaka dalam perjalanan dari Solo ke Surabaya pada tanggal 27 Agustus 2026. Iman Supriyono adalah direktur dan pendiri SNF Consulting.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Tinggalkan komentar