Aleksandrovskiy Sad: Menjaga ROA


Moskwa akhir April 2019.  Berada di kawasan sekitar Gereja Katedral Santo Basil adalah seperti berwisata ke masa lalu. Semua yang ada di depan mata adalah bangunan yang telah berumur. Istana Kremlin yang kokoh itu, pusat perbelanjaan, toko-toko, perkantoran, dan semua yang ada adalah karya arsitektural masa lalu.

Wisata ke masa lalu makin terasa ketika masuk stasiun kereta bawah tanah di kawasan Aleksandrovskiy sad alias Taman Alexander. Ornamen di eskalator, lampu-lampunya, lantainya, pilar-pilar bangunannya dan sepanjang mata memandang semuanya adalah hasil karya masa lampau. Membaca sejarah kereta bawah tanah, memang Moscow sudah mulai mengoperasikan kereta bawah tanah pertama kali pada tahun 1935.

Suasana berbeda baru terasa keluar dari stasiun bawah tanah Vystavochnaya di kawasan Moscow City. Semua bangunan baru. Mal, perkantoran, toko-toko, gedung pencakar langit, dan semua yang ada di depan mata adalah bangunan modern. Nuansanya tidak berbeda dengan gedung-gedung pencakar langit yang ada di kawasan Sudirman, Thamrin atau CBD Jakarta.

&&&

Kawasan stasiun kereta bawah tanah Aleksandrovskiy Sad dan Moscow City adalah dua kontras yang menarik. Satu sisi ada sebuah kebijakan kokoh untuk tetap mempertahankan bangunan warisan sejarah lintas abad. Jika hanya memandang ini, maka Moskwa bisa dipandang sebagai sesuatu yang tidak bergerak. Stagnan. Sesuatu yang tidak bisa mengikuti perkembangan jaman modern.

Akan tetapi, Moskwa seolah tidak mau membiarkan kesan itu muncul. Kawasan Moscow City adalah jawabannya. Dari keduanya justru ada sebuah pelajaran sangat menarik. Kemampuan mengikuti perkembangan jaman dilakukan secara bersama dengan kemampuan menjaga warisan sejarah. Ada yang dijaga tetap. Ada yang diubah sesuai dengan selera kekinian.

&&&

Mudahkah menjaga sesuatu agar tetap? Tidak mudah.  Urusan yang terlihat sepele saja kita sulit melakukannya. Misalnya saja adalah menjaga agar ketinggian badan agar tetap. Di Surabaya misalnya, karena ketinggian badan jalan Ngagel Jaya tidak dijaga tetap, rumah pahlawan nasional Cokroaminoto yang berada di sisi timur salah satu jalan utama Surabaya itu kini berposisi lebih rendah dari badan jalan. Akibatnya tentu saja air dari jalan dengan mudah membanjiri halaman dan lantai rumah. Untuk menyelamatkannya tentu harus direnovasi. Jika direnovasi tentu tidak bisa lagi bernilai sejarah seperti bangunan-bangunan di stasiun kereta api bawah tanah Taman Alexander dan sekitarnya. Jadi, walaupun secara konsep kita ini menghargai para pahlawan, tetapi melindungi rumah bersejarah mereka dari genangan air saja tidak bisa.  Nasib bangunan bersejarah di berbagai lokasi negeri ini akan sama dengan nasib rumah pahlawan Cokroaminoto  di Ngagel Jaya Surabaya jika kita tidak mampu menjaga ketinggian badan jalan.

Menikmati terik mentari di sekitar Sint Basil Catedral Moskwa dengan nuansa masa lalunya. Foto pribadi penulis.

Di dunia bisnis, penanda bahwa sebuah perusahaan sudah bisa didorong tumbuh eksponensial adalah ketika perusahaan itu sudah mampu mempertahankan apa-apa yang mesti dipertahankan. Sebagai contoh, fenomena tumbuh pesatnya Warunk Upnormal beberapa waktu lalu. Kini banyak gerainya pada tutup. Mengapa tutup? Tentu banyak alasan. Tapi perjalanan saya dari Moskwa memberi pelajaran penting. Warunk Upnormal tidak mampu menjaga apa-apa yang mestinya dijaga tetap.

Dalam kaca mata konsumen, yang harus dijaga tetap misalnya adalah desain gerai, menu, dan cita rasa, harga, standar layanan dan sejenisnya. Dari kaca mata manajemen, yang harus dijaga tetap adalah apa yang di dunia keuangan disebut return on asset alias ROA. Laba dibanding aset. Ini adalah salah satu penanda bahwa perusahaan telah menemukan Revenue and Profit Driver (RPD).

Misalkan sebuah perusahaan asetnya Rp 100 miliar dengan laba Rp 10 miliar per tahun. ROA 10%. Untuk scale up maka investor menyuntikkan dana misalnya sebesar Rp 50 miliar. Total aset menjadi Rp 150 miliar.  Ekspansi seperti ini akan aman jika perusahaan mampu mempertahankan ROA tetap 10%. Artinya labanya menjadi Rp 15 miliar. 

Misalkan tahun berikutnya investor menyuntikkan dana lagi Rp 100 miliar sehingga asetnya menjadi Rp 250 miliar.  Laba harus menjadi Rp 25 miliar sehingga ROA tatap 10%. Jika perusahaan sudah mampu menjaga ROA, maka jangan ragu untuk tumbuh pesat. Jangan ragu untuk scale up. Seperti hadirnya kota modern di kawasan Moscow City tanpa menghilangkan  warisan sejarah di stasiun kereta api bawah tanah Aleksandrovskiy Sad dan sekitarnya.  Bagaimana jika belum mampu? Jangan paksakan. Lakukan perbaikan dahulu agar tidak seperti tutupnya banyak gerai Warunk Upnormal. Perusahaan Anda bagaimana? Sudah mampu menjaga ROA? Sudah siap tumbuh eksponensial?

Tulisan ke-404 Iman Supriyono ini ditulis untuk dan dimuat di Majalah Matan, edisi April 2023, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga catatan perjalanan inspiratif lainya:
Mie Sedaap Manila
Jamaah Salahuddin: Intangible Asset
Sudu: Miri Municipal Council
Manokwari: Menang Tanpa Pesaing
Moscow: Korporasi USA
Osh: Pasar Tradisional Kyrgistan
Uzbekistan: Agar Rupiah Laku Dimana-Mana
Ho Chi Minh: Kota Tanpa Mal
Pnom Penh: Hyundai
Makkah: Koperasi KPF
Singapura: Totalitas Melayani
Kuala Lumpur: TKI
Anjing Bangkok: Sahabat atau Musuh
Khao San Road: 7 Pagi 11 Malam
Palembang: Kewaspadaan Korporat
Nha Hang: Hijrah Tumbuh Berpresati
Tanjung Selor Tarakan: Cessna Grand Caravan
Simpadan Ligitan: Tuban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s