Terancam Saat Ke Masjid: Kewaspadaan Korporat


Hotel Amaris Palembang di pagi buta. Pagi itu azan di gadget saya berbunyi. Pertanda subuh sudah datang. Tanpa pikir panjang saya bersiap untuk keluar kamar mencari masjid terdekat. Info dari Google Map masjid terdekat berada pada jarak 350 meter dari hotel. Terjangkau dengan jalan kaki dari hotel di kawasan Demang Lebar Daun ini.

Jalan kakinya tidak masalah. Tapi saya pun berpikir tentang keamanannya. Mengapa? Karena saya pernah ada pengalaman buruk berjalan kaki di kota pempek ini.  Sekitar 3 tahun lalu. Ketika itu saya joging pagi. Sesuatu yang selalu saya lakukan minimal 2x seminggu selama 1 jam di mana pun berada.

Nah, karena saya sudah sering joging di kota yang terkenal dengan jembatan Amperanya itu, saya pikir segala sesuatunya baik-baik saja. Saya tidak dalam kondisi waspada ketika di perjalanan tiba-tiba ada orang naik motor berboncengan menghampiri saya dari belakang. Saya mengira itu teman saya yang sebelumnya sepakat untuk gabung joging. Ternyata bukan. Dua orang berboncengan itu adalah jambret. Dalam kondisi tidak waspada mereka merebut gadget yang ada di tangan saya. Lalu tancap gas. Semuanya berjalan dengan begitu cepat.

Maka pagi ini saya berangkat ke masjid dengan kewaspadaan. Agar pengalaman buruk tiga tahun lalu itu tidak terulang lagi. Beberapa poin kewaspadaan antara lain: mengenakan tas pinggang untuk menyimpan gadget dan dompet sekaligus berfungsi sebagai ikat pinggang untuk kain sarung yang saya akenakan, di perjalanan seminimal mungkin melihat gadget, kalau terpaksa melihat gadget posisi memegangnya harus dalam kondisi waspada, berjalan di sisi kanan jalan sehingga kendaraan yang lewat terpantau karena datang dari depan.

Di perjalanan tampak ada suara orang di kegelapan. Otomatis saya meningkatkan kewaspadaan. Saya amati mereka. Remang-remang terlihat dua orang berbadan besar. Satu duduk-duduk di atas jok sepeda motor. Satunya lagi duduk di kursi taman pinggir jalan. Yang duduk tampil menor khas waria. Saya pun berjalan dengan sikap lebih waspada. Posisi sarung saya tinggikan. Saya kencangkan kembali. Sedemikian hingga saya perkirakan bisa untuk melakukan manuver tendangan jika dibutuhkan. Hehehe….yang ini adalah sisa-sisa latihan dan melatih karate dan pencak silat masa remaja. Tapi alhamdulillah aman.

Sesampai di masjid yang ditunjukkan oleh Google ternyata pintu gerbangnya tertutup. Tampaknya masjid itu adalah di dalam kompleks sebuah sekolah SMK. Karena bukan jam kerja maka sekolah pun tutup. Dan saya pun melanjutkan perjalanan tanpa panduan Google. Murni berbekal feeling. Masuk sebuah gang perkampungan. Yakin akan ada masjid di kampung. Dan alhamdulillah akhirnya memang ada sebuah musala. Google memperkirakan jaraknya sekitar 800 meter dari hotel. Saya pun bisa ikut salat subuh berjamaah. Walaupun tertinggal satu rakaat. Alhamdulillah perjalanan salat sampai pulang kembali ke hotel dan menulis artikel ini dalam keadaan aman dan sentosa.

&&&

Mempelajari sejarah korporasi yang telah berusia puluhan tahun bahkan lintas abad, kita akan mendapati bahwa krisis adalah hal biasa. Paling tidak setiap dekade akan muncul krisis atau depresi. Tidak ada perusahaan yang kini tetap eksis di percaturan bisnis global yang tidak pernah menghadapi suasana krisis. Ada yang perusahaan yang siap. Ada yang tidak. Yang siapa kan tetap eksis. Yang tidak siap akan mati musnah dari bumi.

Nah, dalam suasana yang selalu dihiasi dengan krisisi itu yang dibutuhkan adalah kewaspadaan. Krisis karena pandemi ini adalah pelajaran yang sedang berlangsung. Mungkin perusahaan Anda terdampak berat olehnya. Tetapi bagaimanapun ini adalah pelajaran berharga. Persis seperti pengalaman saya kehilangan gadget tiga tahun lalu. Buahnya adalah kewaspadaan yang pagi ini saya lakukan dalam perjalanan salat subuh berjamaah.

Posisi waspada dalam memegang gadged.

Nah, bagi korporasi, kewaspadaan itu artinya adalah manajemen risiko. Mengidentifikasi segala risiko yang mungkin terjadi dan melakukan langkah antisipasi. Risiko terburuk dalam sebuah krisis adalah hilangnya pendapatan dari sumber yang selama ini menjadi tulang punggung perusahaan. Perusahaan harus waspada. Maka perusahaan mesti sudah mengantisipasi apa yang harus dilakukan jika beberapa tahun pendapatannya turun atau bahkan habis akibat krisis. Siapkan pengelolaan aset sedemikian hingga perusahaan masih ada nafas untuk menemukan kembali core competence baru yang sesuai dengan kondisi baru. Sesuai dengan normal baru.

Yang dilakukan oleh Fuji Film bisa menjadi contoh. Semula sukses dengan kamera film konvensional. Lalu habis begitu muncul kamera digital. Dalam kondisi jeblok mitigasi risiko Fuji berfungsi dengan baik. Sampai akhirnya berhasil menemukan kembali kompetensi baru di bidang medical imaging. Tidak sama sekali menghilangkan kompetensi lama. Tetap di imaging expert. Hanya sedikit menggeser dari imaging untuk kepentingan awam menjadi imaging untuk kepentingan dunia medis. Dan perusahaan yang di Surabaya berkantor di gedung yang sema dengan SNF Consulting ini tetap melaju.

Kewaspadaan. Saya mempraktikkannya saat berangkat salat subuh berjamaah pagi tadi. Fuji mempraktikkannya dengan sukses menghadapi perubahan teknologi munculnya kamera digital. Anda merasa terancam? Perusahaan Anda merasa terancam? Bagaimana kewaspadaan Anda? Bagaimana kewaspadaan perusahaan Anda?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga:
Korporatisasi Langkah Demi Langkah
Perusahaan Dakwah
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

*)Artikel ke-316 karya Iman Supriyono ini ditulis di Palembang pada tanggal 15 Maret 2021.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s