Ini adalah penjualan Toyota sejak tahun 2003 sampai tahun 2025 dalam juta unit mobil: 6,11 – 6,72 – 7,41 – 7,97 – 8,52 – 8,91 – 7,56 – 7,23 – 7,31 – 7,35 – 8,87 – 9,12 – 8,97 – 8,68 – 8,97 – 8,96 – 8,98 – 8,96 – 9,00 – 7,65 – 8,23 – 8,82 – 9,44 – 9,36. Pertumbuhan majemuk rata-rata tahunan (CAGR) adalah 1,96%.
Tahun 2025, perusahaan terbesar No. 17 dunia (berdasar omzet, laba, aset dan nilai pasar) ini masih menduduki posisi tertinggi dalam penjualan unit mobil global. Di atas VW Groups si nomor dua. Mengalahkan Hyundai si nomor tiga.
Coba cermati sekali lagi urutan angka unit penjualan Toyota selama 23 tahun terakhir itu. lalu simpulkan sendiri. Toyota mengalami disrupsi oleh mobil listrik atau tidak?
&&&
Sekarang coba kita pelajari. Mengapa Toyota begitu digdaya? Mengapa tak tergoyahkan? Akio Toyoda, chairman Toyota menyampaikan pada annual report tarbaru, “Making things mean making people”. Membuat apapun artinya adalah membuat kualitas manusia. Itulah palajaran dari cucu sang pendiri perusahaan yang berawal dari bisnis mesin tenun ini.

Teknologi bisa terdisrupsi. Aset bisa usang. Tapi manusia yang berkualitas selalu bisa menghadapi kondisi apapun untuk tetap eksis.
“Toyota’s DNA is rooted in “good thinking, good products.” Each individual thinks for themselves and, through knowledge, ingenuity, and kaizen, pursues monozukuri that delivers high quality at low cost. Returning to this origin, we will unite as one team to further enhance productivity and translate our strength at the genba into greater competitiveness”. Ini adalah penjabaran Kaji Sato, sang presiden, tentang apa yang dimaksud sang chairman. Pemikiran yang baik, produk yang berkualitas, monozukuri yang menghasilkan produk berkualitas dengan harga yang rendah. Itulah manusia Toyota.
&&&
Perusahaan itu punya dua “kaki”. Kiri dan kanan. Lemah salah satu akan langsung menurunkan kemampuan bergerak. Kuat salah satu tidak akan ada gunanya. Keduanya harus setara.
Aset dan manusia. Itulah “kaki” perusahaan. Itulah “kaki” Toyota. Yang disampaikan Akio Toyoda dan Kaji Sato menggambarkan bagaimana kekuatan “kaki” berupa manuasia di Toyota.
Lalu bagaimana “kaki” finansialnya? Per 31 Maret 2026 asetnya adalah JPY 105,5 triliun alias IDR 11 639 triliun. Naik 13% dari periode sama tahun sebelumnya. Omzetnya JPY 50,7 triliun alias IDR 5,593 triliun. Naik 6% dari periode sebelumnya. Omzet tersebut menghasilkan laba bersih JPY 3,99 triliun alias IDR 440 triliun. Dalam kaca mata pemegang saham saat ini, omzet itu menghasilkan ROI 9%. Sangat bagus dalam kaca mata investor ekuitas.
Total utang Toyota adalah JPY 64,5 alias IDR 7116 triliun. Utang jangka panjangnya adalah JPY 30,9 triliun alias IDR 3409 triliun. Dengan ekuitas JPY 41 triliun alias IDR 4323 triliun maka rasio utang (DER) Toyota adalah 1,57. Angka ini naik tipis dari tahun sebelumnya sebesar 1,53. Dua tahun sebelumnya adalah 1,55.
Angka rasio utang tiga tahun terakhir ini juga tidak jauh berbeda dengan angka 20 tahun lalu. Tahun 2006 rasio utangnya adalah 1,65. Jadi itulah memang angka rasio utang yang sudah menjadi model bisnis Toyota dalam jangka panjang.
Maka, kita bisa menyimpulkan bahwa “kaki” finansial Toyota juga kokoh. Setara dengan “kaki” SDM yang kokoh. Itulah modal Toyota untuk mempertahankan posisi sebagai produsen mobil nomor satu dunia paling tidak dua dekade takhir ini. Menghadapi ancaman disrupsi mobil listrik.
Pembaca yang baik, Anda pelaku bisnis? Bagaimana “dua kaki” perusahaan tempat Anda berkarya?
Artikel Karya ke 529 Iman Supriyono ini ditulis di Kereta Sancaka dalam perjalanan Solo-Surabaya pada tanggal 27 Juli 2026
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi