Pendidikan adalah sebuah perjuangan. Bukan peluang bisnis. Murid adalah penuntut ilmu. Bukan pelanggan. Guru adalah pendidik, bukan tukang ngajar.
Ini adalah kutipan dari KH Fathur Rohman, pengasuh Pesantren Elkisi, Mojokerto. Tulisan itu dipajang dalam baliho besar di lapangan pesantren yang pagi medio juli 2026 itu sedang punya hajat besar. Saya datang sebagai salah satu wali murid dari pesantren yang berdiri tahun 2010 itu.
Konsep luar biasa. Pertanyaannya, bagaimana menerjemahkan prinsip dasar itu secara teknis? Karena menyangkut peluang bisnis, tentu penerjemahannya harus menyangkut aspek finansial.
&&&
Apa peluang bisnis? Ciri utama peluang bisnis adalah menarik para investor untuk menempatkan asetnya. Tujuannya untuk mendapatkan imbal hasil alias return. Itu kata kuncinya.
Jika pendidikan dipandang sebagai peluang bisnis, maka para investor akan menempatkan asetnya. Aset itu kemudian digunakan menyelenggarakan sekolah. Mengurus perijinan, membeli lahan, membangun gedung, menyediakan bangku, alat tulis, modal kerja, dan sejenisnya. Modal kerja digunakan untuk biaya operasional seperti menggaji guru, pembayaran listrik, air dan sebagainya. Lalu murid menggunakan fasilitas itu untuk belajar. Atas penggunaan fasilitas itu murid kemudian berkewajiban membayar uang sekolah. Jika uang sekolah yang dibayarkan oleh murid lebih besar dari pada seluruh biaya yang dikeluarkan oleh sekolah, maka sekolah akan memperoleh laba.

Singkatnya: ada laba. Pendapatan sekolah dari uang sekolah murid lebih besar dari seluruh biaya. Laba dibandingkan dengan nilai investasi disebut return on invesment alias ROI.
&&&
Lalu bagaimana pendidikan yang bukan merupakan peluang bisnis? Kita bisa belajar dari Harvard University. Laporan keuangan tahun 2025 kampus swasta tersebut menyebut biaya operasionalnya adalah USD 6,79 miliar alias IDR 122 triliun. Total uang pembayaran dari mahasiswa adalah USD 1,44 miliar alias IDR 26 triliun. Ada defisit alias rugi IDR 96 triliun. Inilah contoh bahwa pendidikan bukan peluang bisnis. ROI nya negatif. Tidak menarik bagi investor.
Secara lebih detail, biaya gaji dosen dan karyawan adalah USD 2,76 miliar alias IDR 50 triliun. Bahkan untuk gaji dosen dan karyawan pun ada defisit IDR 24 triliun. Maka, murid sama sekali bukan peluang bisnis.
Lalu bagaimana kampus yang berdiri sejak tahun 1636 itu tetap bisa beroperasi normal? Bisa menggaji pada dosen dan karyawan. Bahkan gajinya tinggi. Mari kita buka laporan keuangan lebih lanjut.

Sejak berdiri, kampus top dunia itu bukan bisnis. Bentuk badan hukumnya pun non profit corporation. Dalam terminologi hukum Indonesia adalah ormas berbadan hukum perkumpulan. Seperti Muhammadiyah atau NU. Karana sejak awal berwatak sosial, para donasi pun berbondong bondong mengulurkan tangannya. Sampai saat ini.
Dalam neracanya, total aset kampus adalah USD 82,4 miliar alias IDR 1479 triliun. Yang menarik, yang berupa aset tetap (tanah dan bangunan) hanya USD 9,6 miliar alias IDR 172 triliun. Hanya 12% dari total aset. Aset terbesarnya adalah berupa investasi yaitu USD 67,7 miliar alias IDR 1215 triliun. Setara dengan 82% dari aset. Investasinya sebagaian besar adalah berupa saham di berbagai perusahaan baik perusahaan listed maupun non listed. Harvard University turut membesarkan perusahaan-perusahaan yang produknya dipakai masyarakat dunia seperti Microsoft, Google, Meta dan sebagainya.
Aset investasi itulah yang mendatangkan imbal hasil berupa dividen dan sejenisnya sebesar USD 2,8 miliar alias IDR 50 triliun. Inilah yang dana yang digunakan untuk penopang utama biaya operasional kampus.
Dari mana asal aset investasi itu? Tentu saja bukan dari laba operasional. Sekali lagi, kampus selalu rugi kalau hanya mengandalkan pendapatan operasional berupa pembayaran uang kuliah mahasiswa. Jadi aset investasi itu bukan dikumpulkan dari laba operasional kampus.
Lalu dari mana? Tidak lain adalah sumbangan dari masyarakat. Coba Anda buka web kampus yang telah menghasilkan 161 penerima hadiah nobel itu. Kampus membuka peluang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menyumbang dana abadi.

&&&
Pendidikan bukan peluang bisnis. Pendidikan adalah perjuangan. Murid bukan pelanggan. Ini adalah obat mujarab bagi carut marutnya kondisi bangsa. Ketika korupsi, kolusi, konflik kepentingan telah berurat berakar, semua berharap pada dunia pendidikan.
Tentu bukan pendidikan yang diperlakukan sebagai bisnis. Bukan pendidikan yang diperlakukan sebagai investasi. Melainkan pendidikan sebagai sebuah perjuangan. Perjuangan untuk perbaikan masyarakat dan bangsa. Saya merasakannya di Pondok Pesantren Elkisi.
Artikel Karya ke 528 Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya pada tanggal 25 Juli 2026
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Baca Juga
Dana Abadi Yale: Kedermawaanan 300 Tahun
Investasi Wakaf Bagaiama Kalau Rugi?
Semangat Tumbuah Dalam Keprihatinan Panjang
Wakaf “Menjual” Dari Nol
Takmir Masjid Yayasan atau Perkumpulan?
Wakaf dan Endowment Fund, Sama atau Beda?
Perusahaan Yang Menolak Wakaf
Family Office dan Wakaf
Wakaf menanam pohon: Lily Endowment
Wakaf dan Dana Abadi Sebagai Investing Company ala Saratoga
Sekolah Sahabat Alam: Bertumpu Pada Dana Abadi