IPO RANS: Tanda Tanya Besar


Di tengah gonjang ganjing dunia bisnis dampak perang Iran, PT RANS Entertainment Indonesia melakukan IPO. Bukan hanya itu, lantai bursa negeri tercinta juga sedang dilanda serangkaian peristiwa yang mengganggu kepercayaan publik. Ada penyalahgunaan wewenang regulator, ada kebijakan MSCI, ada skandal emiten, ada delisting.

Dalam IPO ini RANS menerbitkan 2,5 miliar lembar saham baru. Nilai nominal per lembar adalah Rp 10. Saham tersebut ditawarkan ke publik dangan harga pasar Rp 170. Semuanya telah dieksekusi dan dengan demikian RANS telah menerima dana Rp 429 miliar dari proses korporatisasi tersebut.

Pertanyaannya, apakah aksi korporasi ini merupakan IPO yang berkualitas? Amankah bagi para investor? Amankah bagi para pendiri dan pemegang saham sebelum IPO? Saya akan mengulasnya dalam bentuk poin-poin.

  1. Sebelum IPO jumlah saham yang telah diterbitkan RANS adalah 10,1 miliar lembar. Dengan demikian setelah IPO total lembar saham yang telah diterbitkan adalah 12,6 miliar lembar. Dengan demikian para pemegang saham pra IPO akan memegang 10,1/12,6 miliar yaitu 80%. Dengan demikian terjadi dilusi terhadap semua pemegang saham pra IPO sebesar 20%
  2. Mari kita lihat data perusahaan sebelum IPO. Pertanyaan paling mendasar adalah tpakah RANS selama ini sudah mampu tumbuh berbasis aset? Akhir tahun 2023 asetnya Rp 517 miliar. Omzetnya sepanjang tahun adalah Rp 438 miliar dengan laba tahun berjalan Rp 84 miliar. ROA nya adalah 16%.
  3. Tahun 2024 asetnya naik 14% menjadi Rp 591 miliar. Dengan kenaikan aset tersebut ternya omzetnya justru turun menjadi Rp 410 miliar. Labanya naik menjadi Rp 97 miliar. ROA stabil pada angka 16%. Artinya, walaupun aset tidak menumbuhkan omzet, tapi tetap menumbuhkan laba. Sesuatu yang positif.
  4. Tapi jika diperiksa lebih dalam, tingginya laba terjadi karena adanya laba pelepasan entitas anak sebesar Rp 44 miliar. Jadi ROA yang stabil bukan karena kemampuan perusahaan mendayagunakan tambahan aset untuk menghasilkan omzet dan laba yang setara. Artinya, perusahaan belum pada tahap revenue and profit driver (RPD). Jika laba pelepasan entitas anak ini kita koreksikan, ROA perusahaan menjadi 9%. Turun drastis.
  5. Tahun 2025 aset turun menjadi Rp 461 miliar. Omzet pun Rp 353 miliar. Laba turun menjadi Rp 65 miliar. ROA-nya adalah 14%.
  6. Sepanjang tahun 2025, perusahaan melakukan private placement. Modal disetor akhir 2024 Rp 40 miliar naik menjadi Rp 101 miliar. Tapi ada yang menarik. Posisi tambahan modal disetor akhir 2024 adalah Rp 58 miliar, tidak berubah dari akhir tahun 2024. Akhir 2025 justru turun menjadi minus Rp 2 miliar. artinya, sepanjang tahun 2025 perusahaan menerbitkan saham baru dengan harga lebih rendah dari nilai nominal. Ini adalah sesuatu yang memunculkan tanda tanya besar. Inilah tanda tanya besar pertama. Mengapa? Penerbitan saham baru di bawah nilai nominal adalah sangat merugikan pemegang saham sebelumnya. Inilah mengapa tanda tanya  ini muncul.
  7. Sesuai prospektus, hasil IPO akan digunakan untuk: pembayaran utang Rp 30 miliar, pembangunan wahana bermain edukatif Rp 80 miliar, belanja operasional konser Rp 161 miliar, membangun usaha bidang AI dengan partner Rp 35 miliar, akuisisi PT Rans Kosmetika Indonesia Rp 85 miliar. Pertanyaannya, apakah penggunaan uang itu nanti akan meningkatkan omzet dan laba? Belum muncul pola yang disebut sebagai revenue and profit driver dalam rencana belanja ini.
  8. Dana hasil IPO akan meningkatkan aset menjadi 890 miliar. Naik 93% dibanding tahun sebelumnya. Itu adalah kenaikan murni dari dana hasil IPO. Belum kenaikan dari sumber lain. IPO berkualitas hanya bisa dilakukan oleh perusahaan yang sudah mampu tumbuh berbasis aset. Omzet dan laba tumbuh seiring pertumbuhan aset. ROA konstan. Jika ROA 2025 menjadi patokan, harusnya laba perusahaan tahun 2026 akan naik menjadi Rp 125 miliar.
  9. Jika kenaikan laba seperti itu tidak terjadi, maka para pemegang saham pra IPO akan dirugikan. Terdilusi dengan hak laba tidak naik.
  10. Pertanyaannya, kira-kira RANS mampu tidak menaikkan omzet 93%? Kalau melihat kinerja tiga tahun terakhir, ini adalah tanda tanya besar kedua.
Tanda tanya besar dalam IPO RANS

Mampukah manajemen RANS menjawab dengan baik dua tanda tanya besar itu? Biarlah waktu yang bicara. Jika bisa maka RANS akan menjadi seberkas cahaya bagi lantai bursa dan dunia bisnis tanah air. Jika tidak maka gangguan kepercayaan publik terhadap lantai bursa akan makin berat. Tentu saja kita berharap agar RANS mampu menjawab dua tanda tanya besar itu dengan baik. Bukan hanya untuk tahun 2026 ini. Tapi juga untuk tahun-tahun sesudahnya. Biarlah waktu yang berbicara.

Artikel Karya ke 527 Iman Supriyono ini ditulis di kereta Bima dalam perjalanan Surabaya Solo pada tanggal 22 Juli 2026

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Tinggalkan komentar