Muhammadiyah di Era Borderless Economy


Ekonomi adalah tentang produksi barang dan jasa. Bangsa atau umat yang unggul adalah umat produsen barang dan jasa. Bangsa atau umat yang lemah adalah umat konsumen. Bagaimana bangsa dan umat tercinta ini? Produsen atau konsumen? Kuat atau lemah?

Mari kita lihat datanya. Berdasarkan data PBB, total produksi barang dan jasa dari semua negara di dunia adalah sekitar USD 100 triliun atau sekitar IDR 1,8 kuintriliun. Angka inilah yang juga disebut sebagai produk domestik bruto (PDB) atau gross domestic product (GDP) seluruh negara di dunia. Bahasa orang bisnis: omset seluruh pelaku ekonomi di semua negara di dunia.

Secara garis besar, produsen barang dan jasa ada 2 yaitu orang dan perusahaan. Untuk data perusahaan majalah Forbes selalu menampilkan 2000 perusahaan terbesar dunia. Ukurannya adalah omzet, laba, aset dan nilai pasar. Nilai pasar adalah nilai jual 100% sahan perusahaan tersebut.

Data Forbes tahun 2026 menyebut  bahwa total omzet dari 2000 perusahaan terbesar dunia adalah USD 56 triliun. Bandingkan dengan data PDB dunia di atas. Perhatikan: 56 dari 100 triliun barang dan jasa dunia dihasilkan hanya oleh 2000 perusahaan terbesar dunia. Ingat: lebih dari 50% produksi barang dan jasa yang dikonsumsi semua pelaku ekonomi dunia dihasilkan hanya oleh 2000 perusahaan terbesar dunia.

Bagaimana peran Indonesia? Ada 9 perusahaan dari Indonesia yang masuk daftar tersebut. Sembilan dari 2000 artinya adalah 0,45%. Bandingkan dengan USA yang berkontribusi 595 atau 29,75%. Cina yang 310 perusahaan atau 15,5%. Korea Selatan yang 66 alias 3,3%. India yang 68 alias 3,4%. Bahkan kita kalah dengan Singapura si negeri berpenduduk sekitar 5 juta yang berkontribusi 13 perusahaan alias 0,65%.

BRI, Bank Mandiri, BCA, BNI, Chandra Asri Petrochemical, Telkom Indonesia, Bayan Resources, DCI Indonesia dan PT Barito Pacific. Itulah perusahaan asal RI yang masuk daftar Forbes 2026 tersebut.  

&&&

Kekuatan ekonomi artinya adalah kemampuan memproduksi barang dan jasa. Kemampuan mencetak omzet. Pertanyaannya, lalu bagaimana pilar ekonomi persyarikatan? Bagaimana organisasi yang sering disebut beraset terbesar di Indonesia ini berperan?

Di balik semua perusahaan pasti ada pemegang saham. Tulisan saya bulan lalu menjelaskan bagaimana kegagalan Bank Persyarikatan. Pelajaran terpentingnya adalah bahwa bank-bank besar selalu tidak ada pemegang saham pengendali. KB Bank yang mengambil alih Bank Persyarikatan juga tidak ada pemegang saham pengendali. Pemegang saham pengendali artinya sahamnya diatas 50% dan mengontrol perusahaan. Menjadi penentu hitam putih perusahaan. Sebaliknya, pemegang saham dibawah 50% artinya murni investor.

Jika kita telusuri pemegang saham perusahaan-perusahan dalam daftar Forbes 2000 kita akan mendapati bahwa mereka adalah perusahaan-perusahaan tanpa pemegang saham pengendali. Pemegang saham terbesar JPMorganChase, perusahaan terbesar dalam daftar itu, adalah Vanguard Capital Management LLC. Sahamnya hanya 6,2%. Dari sepuluh pemegang saham terbesar, urutan terbawah adalah State Street Global Adisor Australia dengan saham 1,7%.

Jika kita perpanjang daftarnya, salah tahu pemegang sahamnya adalah Ensign Peak Advisor dengan 0,11%. Ensign Peak Advisor adalah perusahaan investasi dari The Church of Jesus Christ of The Later Day Saint alias LDS Church. Gereja beraliran mormon dan berpusat di USA dan punya banyak gereja di Indonesia.

Perusahaan terbesar kedua Forbes adalah Amazon. LDS Church pegang 0,08%. Terbesar ketiga adalah Berkshire Hathaway besutan Warren Buffet. LDS Church pegang 0,04%. Terbesar keempat adalah Alphabet. LDS Church pegang 0,09%. Data ini menggambarkan bagaimana sebuah organisasi keagamaan berperan besar dalam ekonomi modern. Era borderless economy produk perusahaan dinikmati oleh masyarakat melampaui batas-batas negara.

Bagaimana Muhammadiyah? Tentu tidak perlu ikut membesarkan Google. Google sudah besar. Ada ribuan anggota Serikat Usaha Muhammadiyah. Mereka adalah ibarat Serge Brin bagi Alphabet alias Google. Perusahaan yang produknya dinikmati oleh masyarakat luas seluruh penjuru dunia. LDS Church tidak memosisikan diri bersaing dengan Serge Brin dengan membuat Google tandingan. Tapi justru mendorong anak muda kreatif itu dengan menggelontorkan uangnya. Nilai sahamnya saat ini sekitar IDR 34 triliun. Jika LDS Church masuk 10 tahun lalu maka uang yang digelontorkan adalah sekitar IDR 2 triliun. Uang itu dikumpulkan dari donasi dana abadi (Islam: wakaf) para jemaat.

Andai sejuta warga persyarikatan berwakaf Rp 1 juta, akan terkumpul Rp 1 triliun dana. Lakukan tiap tahun agar para entrepreneur Muhammadiyah yang bisa didorong untuk tumbuh menjadi perusahaan-perusahaan sekelas Google. Muhammadiyah tidak perlu menjadi pesaing pelaku bisnis. Cukup mendukungnya dengan menjadi investor.

Tentu butuh waktu. Serge Brin butuh 28 tahun sejak mendirikan Google sampai sekuat hari ini. Tinggal ikuti perjalanannya 28 tahun ke depan. Seperti Google. Saat itulah Indonesia kokoh dalam borderless economy. Paling tidak seperti Korea Selatan yang juga merdeka tahun 1945 tapi kini kekuatan korporasinya 7x Indonesia. Muhammadiyah saatnya memulai berperan. Jangan kalah dengan LDS Church yang tiap tahun menerima dividen sekitar IDR 20 triliun dari sekitar 1700 perusahaan yang sahamnya dipegang. Membesarkan ekonomi entrepreneur warga Muhammadiyah sekaligus menerima dividen. Idealnya, seluruh biaya operasional sosial dakwah Muhammadiyah cukup dibayari dari dividen. Aamin.

Artikel Karya ke 530 Iman Supriyono ini ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan edisi Agustus 2026, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Tinggalkan komentar