Hotel Le Meredien Jakarta, 22 Juni 2019. Malam itu berkumpul dua generasi pengusaha. Para pendiri perusahaan sebagai generasi pertama dan anak anak-anak mereka sebagai generasi berikutnya. Mereka semua adalah para aktivis dan warga persyarikatan. Acaranya dalah Family Business Gathering Warga Muhammadiyah. Penyelenggaranya adalah Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Di panggung talk show, ada Bu Nurhayati Subakat yang tidak diragukan lagi sepak terjangnya di dunia bisnis melalui Wardah. Ada almarhum Pak Nadjikh yang tidak diragukan lagi kiprahnya dengan bendera Kelola Mina Laut. Mereka juga datang bersama generasi penerusnya.

Di luar panggung ada keluarga Pak Sulthon yang dikenal dengan Parahita. Ada keluarga Pak Sutrimo yang dikenal dengan Kacang Gangsarnya. Ada keluarga almarhum pak Marmin Siswoyo yang dikenal dengan bisnis ayam petelurnya. Dan masih banyak lagi.
Motornya tidak lain adalah almarhum Pak Nadjikh sebagai ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Debutnya sebagai pendiri Kelola Mina Laut ketika itu tentu menjadi magnet tersendiri.
Saya sendiri datang bersama si sulung dan suaminya. Ketika itu sulung saya baru saja menikah selulus dari kuliahnya di negeri Tiongkok. Tentu sebagaimana layaknya anak pendiri, dia berpeluang untuk melanjutkan perusahaan yang saya dirikan, SNF Consulting. Si sulung saya ajak agar bertemu dan berinteraksi dengan generasi penerus perusahaan-perusahaan lain yang juga hadir di forum itu.
&&&
Generasi pertama mendirikan. Generasi kedua menikmati. Generasi ketiga menghancurkan. Itu sering menjadi ungkapan tentang peralihan antar generasi dalam dunia bisnis. Sering juga disebut sebagai kutukan generasi ketiga. Haruskah seperti itu? Tentu saja tidak.
Suksesi di dunia bisnis terbagi menjadi dua kondisi. Kondisi pertama adalah jika pendiri masih memegang saham pengendali dalam perusahaan yang dirintisnya. Saham pengendali artinya adalah persentasenya lebih dari 50%.

Pada kondisi pertama seperti ini, ahli waris otomatis akan menjadi pemegang saham pengendali juga. Menjadi pemegang saham pengendali artinya menentukan hitam putihnya perusahaan. Menentukan hidup dan matinya perusahaan.
Contoh kegagalan alih generasi kondisi seperti ini misalnya saja adalah Sritex. Perusahaan ini sudah dinyatakan pailit oleh pengadilan. Bahkan dua anak pendiri sudah diputus bersalah atas apa yang dilakukannya selama mengelola bisnis warisan orang tuanya. Bahkan pengadilan sudah “memberi fasilitas” hotel prodeo selama sekian tahun.
Kondisi pertama ini mirip suksesi kerajaan. Anak raja otomatis akan menggantikan orang tuanya. Jika si anak memiliki kapasitas cukup maka kerajaan akan tetap eksis. Jika tidak, kerajaan akan hancur. Jatuhnya Andalusia ke Raja Ferdinand II adalah contoh ketidaksiapan generasi anak menggantikan ayahnya.
Kondisi kedua adalah jika perusahaan sudah tidak ada lagi pemegang saham pengendali. Contohnya adalah suksesi Microsoft. CEO dan sekaligus pendiri adalah Bill Gates. Setelah memegang tampuk pimpinan perusahaan selama 25 tahun sejak didirikan, Bill Gates mundur. Ketiga anaknya tidak ada yang masuk Microsoft. Si sulung Jennifer menjadi dokter, si nomor dua Rory menjadi akademisi, si sulung Phoebe menjadi aktivis dan konten kreator.
Pengganti Bill Gates adalah Steve Ballmer. Dia adalah profesional murni. Saat dia naik jabatan, nilai Microsoft adalah Rp 3900 triliun. Saat dia pensiun 14 tahun kemudian nilai Microsoft naik menjadi Rp 6200 Trilyun. Satya Nadela menggantikannya sejak 2014. Sampai saat ini sukses meningkatkan nilai microsoft menjadi sekitar Rp 65 500 triliun.
Mengapa anak-anak Bill Gates tidak menjadi CEO? Pertama karena mereka tidak berminat. Kedua karena yang menentukan siapa CEO adalah para pemegang saham melalui RUPS. Keputusan dilakukan melalu voting. Suara Bill Gates adalah sesuai dengan saham yang dipegangnya yaitu 1,3%. Bill Gates tidak lagi menjadi pesaham pengendali bukan karena ia menjualnya. Tapi Microsoft membesar dari duit para investor masuk melalui penerbitan saham baru secara teru- menerus.
Ballmer dan Nadela menjadi CEO karena sukses menapaki jalur karier dari nol. Naik level demi level melalu seleksi ketat sistem manajemen. Puncaknya adalah menjadi CEO. Tentu tidak sembarang orang bisa menapaki karier seperti mereka berdua.
&&&
Pembaca yang baik, Muhammadiyah adalah salah satu soko guru bangsa. Perannya di dunia pendidikan dan kesehatan sudah tidak diragukan lagi. Di bidang ekonomi masih merintis. Yang dilakukan almarhum Pak Nadjikh dengan merangkul para pebisnis dan generasi penerusnya tidak boleh berhenti. Harus terus dilanjutkan.
Kini tujuh tahun sudah acara di Le Meredien itu berlalu. Bekas semangatnya masih ada. Jejaringnya masih ada. Dibutuhkan orang-orang seperti Pak Nadjikh. Merangkul pebisnis. Memastikan suksesi bisnis mereka berjalan lancar baik dengan kondisi pertama maupun kondisi kedua. Ingat, ujung tombak kekuatan ekonomi adalah pada perusahaan-perusahaan yang produknya digunakan oleh masyarakat luas.
Artikel Karya ke 534 Iman Supriyono ini ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan edisi September 2026, terbit di Surabaya
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi