Haji Isam sedang menjadi sorotan. Banyak narasi yang menggambarkan kekuatan pelaku bisnis asal Kalimantan Selatan ini. Apa lagi di media sosial. Bagian dari sembilan haji. Bahkan banyak narasi bahwa lantai bursa pun bisa diguncangnya. Banyak yang bertanya-tanya tentang seberapa kekuatannya. Saya termasuk yang ditanya tentang itu. Sekuat apakah Haji Isam? Seberapa sakti?
Di dunia politik, banyak narasi yang dipercaya kebenarannya dengan hanya berbasis teori konspirasi. Bahkan berbekal teori konspirasi, publik bisa digerakkan untuk mencapai tujuan politik tertentu.
Namanya juga teori. Teori adalah sesuatu yang belum bisa dibuktikan. Jika sudah bisa dibuktikan akan berubah status menjadi hukum.
Berbeda dengan politik, teori konspirasi tidak akan ada gunanya di dunia bisnis. Bisnis itu tentang uang yang bisa diverifikasi, dikonfirmasi dan divalidasi. Maka, bicara tentang Haji Isam dalam sudut pandang politik bisa liar. Tapi tidak bisa terkonfirmasi. Sebaliknya, bicara Haji Isam dalam tinjauan bisnis mesti berbasis data yang terkonfirmasi. Terauidit oleh kantor akuntan yang terpercaya.
Bicara Haji Isam secara bisnis artinya adalah bicara PT Jhonlin Agro Raya Tbk. Inilah satu-satunya perusahaan tercatat di lantai bursa terkait dengan Haji Isam.
Memang ada nama-nama entitas lain. Ada Jhonlin Air Transport. Ada Jhonlin Baratama. Ada Jhonlin Agro Lestari. Ada Eshan Agro Sentosa. Yang disebut terakhir ini adalah pemegang 87% saham Jhonlin Agro Raya Tbk. Dengan demikian eksistensinya terwakili dengan data dari PT Jhonlin Agro Raya.
Jhonlin Agro Lestari sudah dimerger dengan PT Jhonlin Agro Raya. Dengan demikian segala sumber dayanya telah menjadi satu dengan angka-angka laporan PT Jhonlin Agro Raya.
Entitas-entitas lain perkiraan saya relatif kecil. Argumentasinya, ketika seorang pengusaha akan meng-IPO kan perusahaan-perusahaan yang didirikannya, dia cenderung dipaksa untuk memilih entitas terbesar. Yang memaksa adalah ekosistem lantai bursa.
Dengan argumentasi ini, membicarakan kekuatan Haji Isam akan terwakili dengan membicarakan PT Jhonlin Agro Raya Tbk.
&&&
PT Jhonlin Agro Raya Tbk, JAR, berdiri pada tahun 2014 sebagai sebuah perusahaan perkebunan sawit. Tahun 2019 memulai pembangunan pabrik biodiesel. Pabrik tersebut selesai dibangun dan beroperasi tahun 2021 yang ditandai dengan pengapalan perdana produknya. Ketika itu presiden datang untuk meresmikannya.
Tahun 2022 perusahaan ini IPO. Kode sahamnya adalah JARR. Ketika itu perusahaan mengantongi uang Rp 362 miliar. Sebuah skala yang relatif kecil dalam konstalasi lantai bursa tanah air. Apa lagi di level global.
Dari prospektusnya kita bisa tahu bahwa aset perusahaan tahun 2019 sampai tahun 2021 berturut-turut adalah Rp 472 miliar, Rp 1,1 triliun, dan Rp 2,4 triliun. Per akhir Maret 2022 adalah Rp 3,3 triliun. Aset ini relatif kecil di dunia persawitan. Bandingkan dengan pemain utama di industri ini yaitu PT Sinarmas Agro yang asetnya Rp 40,3 triliun per akhir 2021.
Omzetnya tahun 2019-2021 berturut-turut adalah Rp 11 miliar, Rp 21 miliar dan Rp 620 miliar. Kecil sekali dibanding omzet Sinarmas Agro tahun 2021 yang sebesar Rp 57 triliun.
Secara operasional sepanjang periode tersebut secara berurutan adalah menderita rugi Rp 6 miliar, rugi Rp 23 miliar dan laba Rp 16 miliar. Bandingkan dengan laba Sinarmas Agro tahun 2021 yang sebesar Rp 2,8 triliun.
Tahun 2022 aset akhir tahun adalah Rp 3,5 triliun. Naik signifikan dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan aset juga mengerek omzet menjadi Rp 4,6 triliun. Naik 7,4 kali dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan omzet juga berdampak pada pencapaian laba sebesar Rp 42 miliar. Naik 2,6 kali.
Tahun 2023 sampai 2025 aset akhir tahun secara berturut-turut adalah Rp 3,7 triliun, Rp 4,1 triliun dan Rp 4 triliun. Aset tersebut menghasilkan omzet masing-masing Rp 4,4 triliun, Rp 3,9 triliun dan Rp 4,3 triliun. Omzet tersebut menghasilkan laba berturut-turut sebesar Rp 77 miliar, Rp 261 miliar dan Rp 268 miliar.
Saat ini nilai pasar JAR adalah Rp 21,8 triliun. Apakah ini wajar atau tidak? Kita bisa melihatnya dari rasio nilai pasar terhadap laba atau biasa disebut PE ratio. Saat ini adalah 81,6. Ini tidak wajar. Nilai PE sebesar ini artinya investor hanya mendapatkan ROI 1,2% (per tahun). Itu pun tidak semua diterima sebagai dividen. Dividen terbaru adalah 0,28% dari nilai saham. Ini kecil sekali dan tidak wajar.

Bandingkan dengan Sinarmas Agro sebagai pemain utama. Nilai pasarnya Rp 19,7 triliun. PE nya adalah 4,8. Para investor menerima dividen 3,9% dari nilai saham yang dipegangnya. Nilai pasar, angka PE dan dividen Sinarmas Agro juga tidak wajar. Terlalu rendah. Wajarnya mestinya nilai pasar bisa 3x lipat. Demikian juga PE nya. Dividennya sekitar 1/3 nya.
Artinya, dibandingkan dengan kewajaran Sinarmas Agro sebagai pemain utama, JAR sangat jauh. Harga saham JAR terlalu mahal. ROI terlalu kecil. Dividen juga terlalu kecil. Harga saham tidak mencerminkan kondisi bisnis sesungguhnya. Suatu saat pasti akan terkoreksi.
&&&
Kita sudah mendapatkan gambaran tervalidasi tentang JAR. Tentu saja demikian pula dengan Eshan Agro Sentosa sebagai pemegang saham pengendali JAR.

Bagaimana kekuatan Haji Isam? Walaupun tidak 100% menggambarkan, tapi bisa diwakili dengan PT Eshan Agro Sentosa yang merupakan pemegang saham pengendali JAR. Eshan terwakili dari angka-angka JAR di atas. Bagaimana pendapat Anda?
Artikel Karya ke 537 Iman Supriyono ini ditulis di Solo pada tanggal 22 Oktober 2026
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
wah yang versus LTK hingga RKAB belum keluar ceritanya pak?