Category Archives: Uncategorized

IPO Trap: Dua Putra Utama Makmur


Intan berduri. Ini adalah judul film layar lebar keluaran 1972 yang dibintangi oleh Benyamin Sueb dan Rima Melati.  Sebuah film yang bercerita tentang Jamal (Benyamin Sueb), suami Saleha (Rima Melati) yang menemukan sebongkah intan di perangkap ikan  yang sehari-hari menjadi gantungan nafkah keluarganya. Singkat cerita, bongkahan intan inilah yang kemudian  menjadikannya sebagai orang kaya raya secara tiba-tiba. Bisa dibayangkan bagaimana konyolnya. Orang yang super miskin kemudian tiba-tiba menjadi super kaya raya. Ketika itu, saya yang masih kanak-kanak menonton film itu yang diputar melalui layar TVRI di rumah tetangga.

Tapi saya tidak hendak beralih profesi menjadi peresensi film hehehe. Saya hanya ingin menulis tentang sebuah fenomena yang bisa dianalogikan dengan apa yang dialami oleh si Jamal dalam film yang menjadikan pemainnya menerima penghargaan pemeran pria terbaik dan pemeran wanita terbaik dalam Festival Film Indonesia tahun 1973 itu. Fenomena yang saya menyebutnya sebagai IPO Trap.

Pembaca yang baik, untuk menjadi besar, sebuah perusahaan membutuhkan dua hal: inovasi dan uang. Inovasi saja tidak cukup. Uang saja juga tidak cukup. Embraer Brazil bisa menjadi produsen pesawat komersial terbesar ketiga dunia karena memiliki keduanya. Embraer hanya kalah oleh Boeing dan Airbus. Pemerintah Brazil membuka kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk ikut menyetor modal ke perusahaan yang kurang lebih sebaya dengan PTDI alias IPTN alias Nurtanio ini. Itulah yang membedakannya dengan PTDI yang hingga kini tetap belum bisa bicara di pasar pesawat terbang komersial dunia.

Bagaimana cara Embraer mendapatkan setoran modal dari masyarakat? Initial Public Offering alias IPO adalah pintu pembukanya. Perusahaan yang telah memenuhi syarat tertentu dapat melakukan IPO dan kemudian menerima uang setoran dari masyarakat luas. Setelah IPO perusahaan bisa terus-menerus melepas saham baru (rights issue) untuk mendapatkan tambahan modal dari masyarakat luas. Menguangkan intangible asset menjadi modal murah. Modal murah nyaris tanpa batas sampai sekuat perusahaan berekspansi. Itulah yang dilakukan oleh Embraer hingga saat ini.

jebakan tikus edit2

IPO Trap: Seperti tikus yang masuk perangkap. Tikus mendapatkan makanan yang ternyata menjebaknya

Dengan porsi tambahan modal yang tepat, IPO dan rights issue menjadi sarana luar biasa bagi pertumbuhan perusahaan. Sekali lagi porsinya harus tepat. Jika tidak, perusahaan bisa mengalami apa yang disebut IPO Trap. Jebakan IPO. Narasinya adalah seperti apa yang dialami oleh Jamal dalam film Intan Berduri di atas.

IPO Trap1

IPO Trap bisa dicegah dan dihindari dengan road map yang tepat

Gambaran tentang IPO Trap adalah seperti yang dialami oleh PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM). Perusahaan hasil laut itu melakukan IPO tahun 2015 dengan melepas 40,12% sahamnya. Melepas langsung 40,12% ini adalah tanda tidak adanya rencana korporatisasi berkelanjutan. Sudah bisa merupakan langkah yang menuju IPO trap.

Dengan 40,12% saham diterbitkan, uang Rp 921 Miliar pun diperolehnya. Nilainya sangat besar dibanding apa yang sebelumnya dimiliki perusahaan berbasis di Pati ini.  Aset perusahaan naik dari Rp 311M  di awal tahun menjadi Rp 1,575T di akhir tahun. Terjadi kenaikan aset 5x lipat. Sesuatu yang luar biasa. Bisa disebut sebagai “orang kaya baru”.

Apa yang terajdi kemudian? Memang omzet DPUM  meningkat drastis. Dari Rp 302 M tahun 2014 menjadi Rp 732 M tahun 2015 dan Rp  967 M tahun 2016. Laba pun naik. Akan tetapi, laba adalah sesuatu yang bersifat nominal. Catatan belaka. Penjualan senilai tersebut ternyata banyak menghasilkan piutang. Barang dikirim ke pembeli tetapi pembayaran belum terjadi. Akibatnya arus kas operasional perusahaan pun minus.  Jika tahun 2014 arus kas operasional positif Rp 13 M, tahun 2015 justru minus Rp 98M dan kemudian minus Rp 202 M tahun 2016. Minusnya arus kas operasi tidak bisa tidak harus ditutup dengan menambah utang. Itu jugalah yang dilakukan oleh DPUM.  Sepanjang triwulan I tahun 2017, perusahaan mendapatkan tambahan utang bank sebesar Rp 662 Milyar.

IPO sebagai tujuan utama dan IPO Trap1

IPO Trap: banyak yang bermindset bahwa IPO adalah tujuan utama.

Pembaca yang baik, itulah IPO Trap. Tambahan dana dari IPO mestinya adalah sesuatu yang baik. Tetapi karena terlalu besar maka perusahaan mengalami seperti yang dialami oleh Jamal dalam film Intan Berduri. Tidak tepat dalam mendayagunakan uang dan berakibat buruk terhadap kinerja finansial-nya.  Pelajarannya, perusahaan tidak boleh menerima uang dalam jumlah yang diluar kapasitas manajemen. Agar uang tersebut dapat dikelola dengan baik.  Agar terhindar dari jebakan. Agar tidak mengalami IPO Trap.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Ditulis oleh Iman Supriyono,  CEO SNF Consulting. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Kurva & Gergaji Korporatisasi: Boeing Vs. PTDI


William E Boeing mendirikan Boeing Company tahun 1916. Ketika itu usianya 35 tahun. Dengan usia kepala tiga,  wajar jika Boeing Company bukanlah bisnis pertamanya. Sebelum sudah malang melintang di bisnis pertambabangan yang diwarisi dari orang tuanya. Wajar jika Boeing Company dimulai dengan pembelian sebuah galangan kapal yang kemudian difungsikan untuk sarana produksi pesawat.

Perusahaan umumnya didirikan atau dirintis dari sesuatu yang sederhana dan seadanya. Demikian juga Boeing. Pabrik pesawat dimulai dari galangan kapal. Yang membedakan adalah langkah selanjutnya. Ada langkah yang membuat perusahaan jadi sukses dan membesar seperti Boeing Company saat ini. Ada juga yang stagnan dan bahkan akhirnya mati.

Gergaji korporatisasi

Model Gergaji Korporatisasi dari SNF Consulting

Ada banyak yang membedakan. Salah satunya adalah apa yang saya sebut sebagai pola gergaji korporatisasi. Boeing sepanjang sejarah perjalanannya menerapkan pola gergaji korporatisasi. Hasilnya adalah sebuah perusahaan yang tiap hari rata-rata mengirim lebih dari 2 pesawat terbang berbadan lebar ke pembelinya di seluruh dunia. Perusahaan yang kapasitas produksinya sudah full booked hingga lima tahun kedepan.

Seperti apakah pola gergaji korporatisasi itu? Sebegitu sakti kah hingga membuat Boeing Company menjadi perusahaan pabrikan pesawat terbang terbesar di dunia? Nah…mari kita pelajari. Tentu Anda sudah tahu gergaji.  Kekuatan gergaji ada pada gigi-gigi alias gerigi-nya. Semakin tajam gerigi-nya, makin kuatlah gergaji.

Saat sebuah perusahaan berbadan hukum PT didirikan, para pendiri akan menyatakan di dalam akta berapa modal yang disetor-nya masing-masing. Inilah modal sendiri alias ekuitas perusahaan. Tidak ada utang. Utangnya nol. DER-nya nol. DER, debt to equity ratio, adalah perbandingan antara utang dengan modal sendiri. Sebuah ukuran seberapa besar beban utang perusahaan.  Sebagai contoh, perusahaan yang didirikan dengan modal disetor 100 kemudian memiliki utang 10 maka DER-nya adalah 0,1.

Seiring berjalannya waktu, perusahaan yang baik akan tumbuh. Salah satu pendorong pertumbuhannya adalah tarikan pasar. Perusahaan yang produknya sudah diakui kualitasnya oleh pasar akan butuh tambahan modal. Utang adalah salah satu sumber tambahan modal. Utang dagang dari pemasok adalah yang tidak bisa dihindarkan sebelum utang-utang dari pihak lain.

Makin kencang pertumbuhan perusahaan, makin kencang-lah kebutuhan akan tambahan modal utangnya.  DER pun akan terus menerus meningkat. Semula nol. Naik 0,1….0,2….1….2 dan seterusnya. Tapi ini tidak akan bisa dilakukan terus-menerus. Ada ambang batasnya. Tanda bahwa perusahaan telah mencapai ambang batas DER adalah adanya kesulitan arus kas. Perusahaan serasa sesak napas. Kesulitan membayar utang atau kewajiban sesuai jatuh tempo.

Saat mencapai ambang batas, sebuah perusahaan bisa memilih dua hal: tetap tumbuh dengan tambahan modal setor baru atau menghentikan pertumbuhan. Boeing memilih tetap tumbuh. Konsekuensi-nya adalah harus membuka keran setoran modal dari pesaham baru. Hasilnya adalah penurunan DER secara drastis. Naiknya pelan pelan…diturunkan secara drastis.  Jika digambar akan membentuk pola seperti gerigi gergaji

Setoran modal baru akan menyegarkan nafas perusahaan. DER kembali rendah. Tapi tuntutan pertumbuhan secara perlahan akan kembali menaikkan DER karena utang bertambah. Suatu saat akan mencapai ambang batas lagi dan harus diturunkan lagi. Demikian pola gerigi gergaji ini akan terus menerus berulang. Untaian gerigi-nya akan makin panjang. Konsekuensi-nya adalah penurunan persentase saham pendiri secara terus-menerus. Terdilusi. Suatu saat saham pendiri akan kurang dari 50%. Perusahaan sudah tidak ada pesaham pengendali lagi. Inilah yang terjadi pada Boeing. Pesaham terbesar-nya adalah Vanguard dengan kepemilikan 9,4%. Vanguard adalah sebuah perusahaan investasi yang uangnya dikumpulkan dari jutaan orang.

Dengan gergaji korporatisasi, perusahaan akan membentuk kurva korporatisasi sebagaimana gambar dari Sarapan Pagi berikut ini

SAPA0472 Kurva Korporatisasi

SAPA0603 Kurva Korporatisasi Tanpa Korporatisasi

Modal tidak terbatas hasil dari pola gergaji korporatisasi. Itulah yang membedakan Boeing dengan PTDI misalnya. Keduanya sama-sama memiliki SDM handal di bidang  pesawat terbang. Bedanya, Boeing membuka diri untuk masuknya dana pesaham baru seluas-luasnya. PTDI tidak. Sampai saat ini pemerintah RI sebagai pendiri tidak memberi kesempatan kepada publik untuk ikut setor modal. Boeing berpola gergaji korporatisasi. PTDI tidak.  Boeing mampu membiayai seluruh biaya pengembangan berbagai tipe pesawat. N250 PTDI yang sudah diuji terbang terpaksa  harus berhenti karena kehabisan modal. Dibutuhkan tidak kurang dari Rp 20 T untuk membuatnya masuk ke pasar secara luas seperti produk-produk Boeing. Itulah Boeing dengan gergaji korporatisasinya. Perusahaan tempat Anda berkarya bagaimana?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya dengan tambahan dan diedit kembali

DHL: Benchmark BUMN & Direksi Titipan


“Aku tukang pos rajin sekali. Surat kubawa naik sepeda. Tidak kupilih miskin dan kaya. Siapa saja aku datangi. Kring kring pos”. Anak-anak TK jaman dulu pasti mengenal lagu ini. Bahkan saya yang tidak pernah menempuh pendidikan TK pun hafal karena sering mendengar anak-anak TK menyanyikan lagu ini. Ketika itu lagu ini setara dengan lagu-lagu anak-anak legendaris seperti Bintang Kecil, Balonku Ada Lima, atau  Naik Kereta Api.

Tapi kali ini saya  tidak sedang membahas lagu anak-anak TK. Saya sedang menulis tentang perusahaan tempat para tukang pos bernaung: Kantor Pos. Ketika itu pak pos adalah sesuatu yang sangat berperan dalam kehidupan masyarakat. Saya sendiri masih ingat masa-masa dimana kedatangan pak pos adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu. Dan mau tidak mau saya harus mengakui bahwa keterampilan menulis saya yang saat ini sedang Anda, para pembaca, nikmati, adalah sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari peran pak pos. Ya… korespondensi dengan sahabat pena adalah hobi saya sebelum adanya surat elektronik. Saya punya sahabat-sahabat pena yang  rajin saling berkirim surat. Saya pernah menulis 8 halaman folio dengan tulisan tangan untuk sebuah surat.

DHL Head office sun set

Kantor pusat DHL, diedit dengan pixlr.com

Bagaimana kini? Dunia telah berubah. Sudah belasan tahun saya tidak pernah lagi berkorespondensi dengan surat. Komunikasi tergantikan dengan email dan whatsapp atau telegram atau sejenisnya. Bagi saya itu tidak ada masalah. Tapi bagi kantor pos itu jelas masalah. Pendapatan dari pengiriman surat dan kartu lebaran atau sejenisnya menurun drastis. Sudah tidak ada lagi orang yang menunggu-nunggu datangnya pak pos demi surat balasan dari sahabat yang jauh diseberang sana seperti saya rasakan dahulu. Sudah tidak ada lagi anak-anak muda yang datang ke Kantor Pos demi membeli perangko.

&&

Deutsche Post DHL. Ini kantor pos juga. Tapi bukan sembarang kantor pos. Dia adalah kantor pos yang justru tumbuh mendunia di tengah kebanyakan kantor pos di berbagai negara yang harus mengalami penurunan. Sebagai gambaran, dalam laporan tahunan tahun 2016 DHL membukukan pendapatan EUR 57,3 Milyar Euro alias Rp 913 T dengan laba EUR 2,6 Milyar alias Rp  41 Triliun. Pos Indonesia pada periode yang sama mengantongi pendapatan Rp 4,9 T dengan laba Rp 203 Milyar. Pendapatan dan laba DHL tersebut diperoleh dari pasar di 220 negara (termasuk Indonesia) dengan 508 ribu karyawan. Sedangkan pendapatan dan laba Pos Indonesia diperoleh dari Indonesia saja dengan 24 ribu karyawan.
Brosur studi kelayakan sederhana

Bagaimana sebuah perusahaan pos milik negara seperti Pos Jerman bisa berkembang pesat dan bahkan menguasai pasar dunia termasuk pasar di Indonesia?  Ada dua syarat untuk mencapainya. Pertama adalah core competence yang secara teknis berupa revenue & profit driver.  Perusahaan harus menemukan ulang core competence-nya setiap ada perubahan lingkungan bisnis. Seperti saat ada perubahan dengan hilangnya budaya berkirim surat menjadi surat elektronik yang dialami pos. DHL sukses merumuskan ulang kompetensi intinya. Sekitar 75% pendapatan DHL diperoleh dari bisnis Time Definite International yaitu layanan pengiriman internasional dengan waktu tertentu.

Apakah cukup dengan core competence? Tidak. Ada syarat kedua yaitu modal. Untuk keperluan ini DHL sebagai perusahaan yang semula dimiliki 100% oleh pemerintah membuka diri terhadap setoran modal dari luar dengan terus-menerus menerima setoran modal dari publik melalui penerbitan saham baru (rights issue). Melakukan korporatisasi. Dengan masuknya modal dari masyarakat luas tersebut otomatis proporsi saham pemerintah Jerman mengalami dilusi. Mengalami penurunan persentase dengan kompensasi nilai yang terus meningkat.  Saat ini saham pemerintah Jerman tinggal 20,9%. Dengan proporsi ini hak pemerintah jerman atas laba DHL adalah Rp 8,6 Triliun. Nilai laba ini adalah 42x hak pemerintah RI atas laba Pos Indonesia.

&&&

Manfaat lain dari proses yang akhirnya membuat perusahaan menjadi tidak ada pemegang saham pengendali adalah berjalannya sistem manajemen. Promosi jabatan sejak level paling bawah sampai CEO dilakukan murni dengan pertimbangan kinerja. Tidak ada lagi pemegang saham yang bisa menjadi raja dan memutuskan sesuatu semau sendiri. Semua pemegang saham hanya  bisa mengusulkan. Termasuk dalam pemilihan direksi dan komisaris. Usulan kemudian dipilih melalui voting para pemegang saham.

Kepentingan utama para pemegang saham adalah kinerja perusahaan. Maka dalam voting mereka akan memilih kandidat yang memiliki track record baik. Telah membuktikan kinerja dan loyalitasnya kepada perusahaan jangka panjang. Bukan orang cabutan atau titipan karena proses politik yang masuk melalui pintu pemegang saham pengendali. Pemerintah yang merupakan pemenang politik sebagai pemegang saham pengendali tentu berkepentingan  melakukan balas budi kepada kontributor kemengannya.

&&&

Korporatisasi terpaksa1

Pembaca yang baik, begitulah dunia bisnis saat ini. Perusahaan-perusahaan, milik pemerintah maupun swasta,  mesti memiliki core competence dengan dukungan setoran modal terus-menerus dari masyarakat melalui lantai bursa. Seperti DHL. Memang proporsi kepemilikan saham pendiri akan menurun. Tetapi hasilnya akan berkali-kali lipat. Mengapa? Saat pesaham baru menyetor modal, pasti akan ada yang namanya agio saham sebagai kompensasi untuk pesaham lama. Agio saham ini kedudukannya persis seperti laba ditahan yang akan dinikmati semua pesaham, termasuk saham pendiri. Maka, pemegang saham pendiri perusahaan mesti memilih. Tetap memiliki 100% saham tetapi kerdil dan pasarnya digerogoti pemain global  atau membuka diri untuk masuknya modal publik.  Masuknya modal publik berakibat proporsi kepemilikan saham menurun sampai tidak lagi menjadi pesaham pengendali. Terjadi proses korporatisasi terus-menerus sampai menjadi fully public company. Imbalannya adalah menguasai pasar seluruh dunia dengan hasil berlipat-lipat. Tidak ada direksi atau komisaris titipan yang hari-hari ini sedang ramai diperbincangkan warganet. Bagaimana BUMN Indonesia? Anda pilih mana? Mau menjadi seperti DHL?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga: Sendyakala BUMN

Oleh Iman Supriyono, konsultan dan CEO SNF Consulting,  http://www.snfconsulting.com

 

Disrupsi: Ojo Kagetan Ojo Gumunan


Disrupsi. Kata yang diadopsi dari bahasa inggris ini belakangan ini begitu terkenal di kalangan pebisnis. Perkembangan teknologi internet yang demikian pesat menyebabkan ancaman bagi para pelaku bisnis yang tidak adaptif. Perusahaan perfotoan Kodak Film misanya yang menghilang seiring dengan populernya foto digital adalah contoh perusahaan yang terdisrupsi. Tidak bisa beradaptasi. Tapi Fuji Film tetap eksis dengan beradaptasi yang tepat.

Apakah disrupsi merupakan sebuah fenomena yang benar-benar baru? Tidak.  Jauh sebelum zaman kemunculan internet, di sekitar pasar Caruban, kota kecil tempat saya lahir, banyak dijumpai dokar alias delman. Itulah kendaraan utama masyarakat untuk pergi pulang ke pasar. Begitu marak orang memiliki sepeda motor, delman pun menghilang dari peredaran. Inilah fenomena disrupsi jauh sebelum internet muncul.

Hasil gambar untuk western union logo

Western Union: Ketahanan menghadapi disrupsi atau substitusi lintas abad

Secara konseptual pun disrupsi bukan sesuatu yang baru. Tahun 1979 Michael Porter telah menulis sebuah konsep yang disebutnya Five Forces. Tulisan di Harvard Business Review ini menjelaskan bahwa sebuah perusahaan bisa terancam eksistensinya oleh persaingan dari lima kekuatan. Masing masing adalah kekuatan perusahaan sejenis, perusahaan pemasok, perusahaan konsumen, pendatang baru dan produk substitusi. Perusahaan bisa habis oleh pesaing kuat yang produk sama persis. Perusahaan yang bahan bakunya diperoleh dari pemasok tunggal akan gulung tikar jika pemasoknya mogok. Perusahaan yang memiliki konsumen tunggal akan jatuh jika konsumen tersebut berpaling. Perusahaan juga bisa jatuh karena ada pendatang baru yang banting harga dalam jangka panjang. Pun perusahaan juga bisa mati karena ada produk substitusi. Hilangnya delman terjadi karena motor telah  muncul sebagai produk substitusi. Delman tersubstitusi alias  terdisrupsi oleh sepeda motor.

$$$

Western Union-selanjutnya disebut WU- hadir di dunia sejak tahun 1851 dengan layanan telegram. Ketika itu teknologi telegram sebagai cara penyampaian pesan jarak jauh bener-benar inovasi yang luar biasa. Pesan atau berita yang membutuhkan waktu berhari-hari jika dikirim dengan surat akan tiba dalam hitungan detik jika dikirim dengan telegram.  WU pun menjadi perusahaan yang kuat.

mesin ketik

Mesin ketik terdisrupsi oleh komputer

Sebagai teknologi telegragram pun tidak abadi. Belakangan tergantikan dengan internet. Tahun 2006 WU sudah resmi  menutup layanan telegramnya. Apakah WU habis tersubstitusi? Tidak. Jauh sebelum layanan telegram ditutup, WU telah lebih dulu meluncurkan layanan baru yaitu pengiriman uang sejak tahun 1871. Uang dari pengirim tidak benar-benar dikirim secara fisik oleh WU.  Yang dikirim hanya informasinya. Uangnya diambilkan dari kantor WU di tempat tujuan. Layanan teknologi keuangan (fintech, financial technology) ini hingga kini tetap menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan berbasis di Amerika Serikat ini.

Pertanyaannya, dalam suasana maraknya inovasi fintech terbaru, apakah WU akan terdisrupsi alias tersubstitusi? Dalam lima tahun terakhir, pendapatan dan laba WU cenderung stagnan. Bahkan pada tahun 2016 labanya turun drastis sebesar 70%.  Melihat angka ini, tampaknya ada tanda-tanda disrupsi atau substitusi pada perusahaan berlogo warna hitam kuning ini.

Tetapi, jika membaca arus kas investasinya, tahun 2006 WU masih membelanjakan USD 271,1 juta untuk investasi. Angka ini adalah 107% dari labanya tahun berjalan sebesar USD 253,2 juta. Belanja investasi yang lebih besar dari laba adalah tanda adanya optimisme pengelola perusahaan yang layanannya tersedia nyaris di setiap jengkal tanah di muka bumi ini.

$$$

Ojo gumunan ojo kagetan. Jangan gampang takjub. Jangan gampang terkejut. Pepatah jawa ini bagus sekali untuk menghadapi fenomena yang belakangan disebut disrupsi. Disrupsi sendiri yang seolah olah hal baru sebenarnya adalah “barang” lama.  Paling tidak adalah “Barang” keluaran tahun 1979 walaupun disebut dengan istilah berbeda. Maka janganlah kita terpesona amat dengan hiruk pikuk orang mengucap kata disrupsi.

Sebagai fenomena, disrupsi atau substitusi dalam dunia bisnis juga bukan hal baru. Paling tidak Western Union telah merasakannya dalam perjalanan panjang hampir dua abad. Di dunia ini segalanya terus berubah. Tidak ada yang abadi. Jika pun ada, yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Ojo gumunan. Ojo kagetan. Yang penting kita selalu optimis, terus berinovasi dan selalu siap-termasuk persiapan finansial- dengan manajemen risiko yang memadai menghadapi perubahan apapun. Seperti Western Union. Bisa!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*) Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Kuliner Global: Hui dan Padang


Setelah 3 jam melaju, kereta ekspress itu berhenti di peron yang tampil seperti bandara modern itu.  Bersama rombongan, saya pun segera turun dari kereta. Menutup perjalanan darat sekitar 900 kilometer dari Shenzhen dengan naik taksi menuju hotel yang sebelumnya telah dipesan melalui internet. Karena badan yang begitu lelah, sesampai di hotel pun saya segera mandi, sholat magrib isya secara jama’, lalu tertidur pulas.

Begitu terbangun keesokan hari, salah satu aktivitas yang mesti dijalani adalah makan pagi. Mencari makanan halal di kota yang secara administratif berada di bawah propinsi Guangdong itu tentu tidak semudah di Surabaya atau Jakarta. Maka, bersama rombongan saya pun merencanakan untuk sekalian keluar menuju kampus Shaoguan University. Di kampus yang berjarak sekitar setengah jam perjalanan bus umum itu terdapat warung makanan muslim.

Gaya membuat mie khas resto Hui di RRC. Gambar dari http://www.pustakapanganku.blogspot.co.id

Setelah sejenak jalan-jalan di kampus seluas lebih dari 150 hektar itu, saya dan rombongan pun saatnya makan pagi. Pergilah kami ke sebuah warung di sebuah komplek pertokoan kecil di samping pintu gerbang kampus. Seorang berpeci putih menyambut. Setelah duduk dan melihat daftar menu, kami pun memesan makanan. Waktu menunggu makanan terhidang jadi menyenangkan karena proses penyajiannya menarik. Atraksi memproses adonan tepung menjadi mie khas suku Hui menjadi sajian yang lebih istimewa sebelum makanan terhidang di kampus dimana salah satu rombongan menimba ilmu itu.

&&&

Makanan halal adalah kebutuhan pokok kaum muslimin dimanapun berada. Jika Anda bepergian di negara yang mayoritas muslim, mencari makanan halal tentu bukan masalah. Di Malaysia misalnya, Anda dengan mudah menemukan warung halal hampir di setiap komplek pertokoan atau perdagangan.

Bagaimana jika bepergian di negara yang kaum muslimin berposisi minoritas? Tentu membutuhkan seni tersendiri. Kala melancong ke RRC, Anda akan sangat terbantu dengan keberadaan suku Hui.  Suku yang secara statistik hanya sekitar 2% penduduk RRC ini memang bisa dikatakan selalu hadir di kota manapun di negeri tirai bambu ini. Hadir dengan warungnya yang khas dan halal. Mirip dengan restoran padang yang selalu Anda jumpai dimanapun berada di negeri merah putih ini.
Masakan padangMenjadikan kuliner nusantara mendunia tidak cukup dengan kata-kata. Mesti melalui korporatisasi.

Apa yang dilakukan oleh resto Hui dan Padang pada dasarnya memang kebutuhan masyarakat modern. Masyarakat yang dengan mudah bisa bepergian kesana kemari di berbagai penjuru membutuhkan kehadiran resto yang hadir dimana mana. McDonald’s & KFC adalah contoh jaringan resto yang pada dasarnya adalah seperti Hui dan Padang. Hadir dimana mana dengan cita rasa yang diterima oleh masyarakat luas.

Bedanya, jika Hui dan Padang bersifat tradisional dan tiap tiap resto hadir secara personal, McD dan KFC hadir dengan konsep manajemen modern. McD dan KFC tampil di dimana mana di seluruh dunia dengan format korporasi dan manajemen modern. Tentu saja tidak tiba tiba McD dan KFC tampil seperti sekarang ini. Ada proses yang panjang yang harus dilalui.

Hui dan Padang punya potensi yang besar untuk tampil di berbagai bangsa seperti McD dan KFC. Syaratnya tentu saja adalah korporasi dan manajemen modern. Jika saat ini masih tampil secara perorangan dengan dan terpisah antara satu resto dengan resto lainnya, dibutuhkan peran entrepreneur yang bisa melakukan proses manajerial bisnis untuk menjadikannya sekelas McD dan KFC.

Bagaimana kira-kira prosesnya? Ada dua kemungkinan. Yang pertama adalah melalui proses penyatuan dari para pebisnis resto yang ada. Istilah kerennya disebut merger. Walaupun di bidang berbeda, apa yang dilakukan oleh 10 ribu lebih peternak susu di New Zealand bisa dicontoh. Mereka menyatu dengan mendirikan koperasi. Semula ada sekitar 400 an koperasi, pemilik merek susu Anmum dan Anlene itu kini menjadi satu koperasi dengan aset, omset dan merek kuat di seluruh dunia. Hui dan Padang bisa menyatu menjadi koperasi dan kemudian tampil di berbagai penjuru dunia dengan satu manajemen, satu merek dan satu kekuatan.

Alternatif kedua adalah melalui cara seperti yang ditempuh oleh Djoko Susanto melalui Alfamart. Mendirikan sebuah perusahaan di bidang ritel modern dan kemudian memperluasnya dengan melibatkan dana masyarakat melalui lantai bursa dan waralaba. Siapapun yang berminat bisa bergabung dengan Alfamart melalui dua cara itu.  McD dan KFC melakukan juga melakukan mekanisme ini.

Hui dan Padang, bagaimana? Kita tunggu jawaban dari kawan kawan pemain dan peminat bisnis resto untuk melakukannya. Hadir di seluruh dunia dengan puluhan ribu outlet resto halal. Dengan merek kuat dan kualitas standar. Agar kemanapun bepergian, kita bisa menikmati menu  halal tanpa kesulitan. Di Shaoguan dan dimanapun berada. Hui dan Padang….ayoo!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca Juga:
Korporatisasi langkah demi langkah
Corporate life cycle

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Mobil Nasional Fin Komodo: Langkah Selanjutnya


Langkah Selanjutnya

Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Obrolan ini terjadi di Cimahi, pinggiran kota Bandung. Tepatnya di ruang pertemuan -biasa disebut keminggris sebagai “ruang meeting”- sebuah perusahaan prinsipal mobil nasional bermerek Fin Komodo. Tokoh sentralnya adalah cak Ibnu si “komandan pasukan” mobil yang hadir dengan konsep off road itu. Peserta obrolan lainnya adalah cak Leo Herlambang yang sudah malang melintang menjadi CEO profesional di berbagai perusahaan,  kang Ari yang sedang memimpin sebuah perusahaan produsen panel elektrik, dan ning Izza yang baru saja menyelesaikan pendidikan sarjananya Jianxi University  dan kini berkarir di sebuah BUMN milik pemerintah Tiongkok.  Keberadaan Ning Izza menjadikan suasana obrolan menjadi lintas generasi.

Obrolan makin seru lagi karena persis sebelum masuk ruang pertemuan tersebut, saya, cak Leo, Kang Ari dan Ning Izza baru saja merasakan serunya mobil bandel itu. Merasakan bagaimana menggeber mobil bertransmisi otomatis tersebut melalui medan ekstrim di persawahan kawasan Cimahi yang konturnya berbukit-bukit. Mobil tetap nyaman medan penuh lobang  dan berbatu. Kaki-kakinya tetap menapak sempurna dengan suspensinya sangat nyaman walau melalui medan bergelombang semak belukar.

Cak Ibnu mengawali pembicaraan dengan menyebut beberapa contoh beberapa pendahulu mobil  nasional. Ada Maleo dari Pak Habibie, ada Perkasa dari Texmaco, ada Timor, ada MR 90, ada kancil. Semuanya berakhir dengan kegagalan. Mati. Belajar dari kegagalan itu, cak Ibnu berfikir lain. Alih-alih bermain langsung head to head dengan Toyota, Honda, Daihatsu, Suzuki dan merek-merek populer lain, Cak Ibnu dengan bendera PT Fin Komodo Teknologi masuk pada mobil off road. Bukan mobil untuk jalan beraspal.

Hasil gambar untuk fin komodo

Fin Komodo: tangguh dan handal di medan berat. Foto: wikimapia.org

Pilihannya tepat. Perusahaan besutan insiyur yang berpengalaman menggawangi desain pesawat N250-nya pak Habie saat masih bekerja di IPTN itu kini telah cukup eksis sebagai sebuah perusahaan. Tiap tahun memproduksi dan menjual lebih dari 100 unit mobil seharga sekitar Rp 100 juta itu.  Perhitungan kasar saya, volume penjulan seperti itu sudah cukup ntuk menopang seluruh biaya operasinal perusahaan plus arus kas yang cukup untuk terus berinvestasi pengembangan produk lebih lanjut.

Yang menarik adalah cerita kakak kelas saya di teknik mesin ITS ini tentang bagaimana ia memandang bisnis otomotif yang kini digelutinya. Ada perbedaan antara membangun industri dan membangun pabrik. Apa yang dilakan PT Astra International dengan bisnis mobil Toyota misalnya adalah membangun pabrik. Semua konsep dari desain, manufaktur mobil dengan segala SOP-nya sampai pemasaran sudah ditentukan oleh pihak Toyota sebagai prinsipal. Membangun pabrik cukup waktu sekitar 3 tahun untuk beroperasi normal.

Logo SNF Consulting dengan tag line korporatisasi

Hal yang serupa dilakukan juga oleh Kang Ari yang pagi ini sangat semangat berdiskusi. Ia memproduksi suku cadang peralatan elektronik yang dipesan oleh perusahaan prinsipal. Desain, spesifikasi dan SOP sudah ada dan tinggal menjalankan. Begitu selesai pabrikasi semua produk sudah langsung dibeli oleh si prinsipal. Dengan konsep ini, hanya dalam beberapa tahun perusahaan besutan kang Ari mampu menghidupi ratusan karyawan beserta keluargaanya.

Berbeda sekali dengan membangun industri. Cak Ibnu siap untuk melalui proses lebih dari 20 tahun sejak tahun 2006. Segala sesuatunya dimulai dari nol.  Dari sama sekali tidak ada apa-apa. Masa awal perjuangan membangun industri sudah dijalaninya dengan segenap daya upaya. Dilalui dengan segenap pengorbanan.

$$$

Apa yang dilalui Cak Ibnu dengan Fin Komodonya setali tiga uang dengan apa yang dilalui Mas Najib Hamid dengan Matan, majalah kita ini. Kuduanya hadir dengan sebuah idealisme membangun merek baru. Membangun platform dan menjadi prinsipal.   Keduanya telah menjalani proses mengerjakan segala sesuatu dari A sampai Z tanpa siapa-siapa.  Saat ini, dengan oplah belasan ribu eksemplar, Matan sudah bisa berada pada arus kas yang cukup stabil sebagai sebuah perusahaan. Sama seperti Fin Komodo.

Kini, keduanya berada pada tahapan untuk langkah selanjutnya. Next step.  Saya menyebutnya korporatisasi. Memanfaatkan kondisi arus kas yang sudah cukup stabil untuk membangun sistem manajemen dan tumbuh menjadi merek diterima di pasar yang lebih luas. Aspek keuangan adalah bagian penting dari sistem manajemen ini. Aspek keuangan yang mampu mendukung belanja modal yang cukup untuk ekspansi pasar mencapai posisi crowding effect. Hadir secara masif di pasar agar menjadi bagian dari gaya hidup. Tentu tetap dengan semangat juang seperti yang dimiliki oleh cak Ibnu dan Mas Najib sebagai “kepala pasukan” yang telah merintisnya dengan segenap jiwa. Semangat juang yang harus tertransfer dengan baik kepada generasi korporatisasi seumuran Ning Izza dalam obrolan lintas generasi di Cimahi pagi itu. Generasi yang akan melakukan korporatisasi sebagai langkah selanjutnya. Bisa!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Saksikan Video aksi Fin Komodo

*)Tulisan ini juga dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

 

 

Wakaf Uang


Harvard Management Company alias HMC. Pada tahun 2016, perusahaan investasi milik Harvard University ini melaporkan nilai aset sebesar USD 35,7 Milyar alias Rp 375T dengan kurs   Rp 13 300,-. Dalam 20 tahun terakhir, aset ini rata-rata mendatangkan imbal hasil sebesar 10,4% per tahun. Kontribusi besar bagi biaya operasional kampus bergengsi ini.

Veritas original sketch
Coretan tangan logo Harvard University bertuliskan “veritas” yaitu bahasa Latin yang berarti kebenaran. Coretan ini dibuat pada tahun 1836 bertepatan dengan peringatan 2 abad perguruan tinggi tertua di USA itu. Foto dari http://www.harvard.edu

Berupa apa saja aset sebesar itu? Sebagian besar, 49%, berupa saham di berbagai perusahaan yang melakukan proses korporatisasi. Ini yang menjadikan Harvard sebagai sebuah institusi pendidikan memiliki hubungan dekat dengan dunia bisnis. Terbesar kedua, 14,5%, adalah aset  properti yang disewakan. Sisanya berupa obligasi, sumber daya alam dan skema investasi aman lainnya.

Dari manakah Harvard memiliki aset sebesar itu? Tentu bukan hasil sulapan. Dana sebesar ini dikumpulkan dari dolar demi dolar endowment fund sejak 1974. Endowment fund adalah sumbangan dari para simpatisan dengan akad sebagai dana abadi alias wakaf.

&&&

Endowment fund alias wakaf. Keduanya  mengandung pengertian yang secara ekonomi sama. Orang yang menyumbangkan asetnya dengan maksud agar dikelola dan hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan sosial. Asetnya sendiri mesti dijaga tetap tidak dikurangi sepeser pun.

Yang sudah sangat populer di masyarakat adalah wakaf berupa sebidang tanah. Masyarakat menyerahkan sebidang tanah kepada lembaga sosial. Tanah tersebut kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan sosial lembaga penerimanya.

Tanah wakaf hanya boleh dimanfaatkan. Tidak boleh dijual atau dikurangi nilai atau luasannya. Karena begitu populernya, wakaf tanah memunculkan masalah lain. Tanah tidak bisa termanfaatkan secara optimal atau bahkan terbengkalai karena tidak ada dana yang cukup untuk mendirikan bangunan diatasnya sebagai sarana kegiatan sosial.

Solusinya? Wakaf uang. Ya…wakaf berupa uang seperti di HMC. Uang wakaf dikelola sebagai dana investasi dengan portofolio aman. Hasil investasi barulah digunakan untuk biaya aktivitas sosial.

Potensi wakaf uang sungguh raksasa. Di Indonesia ada 800 ribu masjid lebih. Jika tiap masjid bisa menyediakan kotak wakaf (selain kotak infaq yang selama ini sudah ada) dan tiap bulan terkumpul dana wakaf Rp 1 juta per masjid, tiap tahun akan terkumpul dana wakaf Rp 10 T. setara dengan sekitar 16% saham Semen Indonesia dengan dividen sekitar Rp 281 per tahun. Dalam 4 tahun, potensi wakaf ini sudah bisa menggantikan 38% saham Semen Indonesia yang kini dipegang investor asing.

Di dekat rumah saya ada sebuah supermarket sangat ramai milik sebuah koperasi pesantren. Luas tanah supermarket yang telah berdiri sejak tahun 90-an ini adalah sekitar 2 ribu meter persegi dengan harga pasaran tanah minimum Rp 10 juta per meter persegi. Coba bayangkan kalau tanah ini dibeli oleh institusi pengelola wakaf seperti HMC dan langsung disewakan kembali kepada koperasi pesantren tersebut. Memang koperasi pesantren akan menanggung biaya sewa yang akan sedikit lebih besar dari pada biaya depresiasi jika aset dimiliki sendiri. Biaya sewa ini akan diterima lembaga pengelola wakaf dan disalurkan untuk kebutuhan sosial.

IMG_20190806_131318
Masjid mesti memberi kemudahan kepada jamaah yang berwakaf dengan pembayaran secara elektronik

Tapi, bagi pengelola supermarket,  uang Rp 20 Miliar lebih akan diterima dan bisa digunakan untuk membangun 20 mini market baru.  Kelak kalau sudah beroperasi normal, 20 mini market baru itu pun bisa dijual juga dengan skema jual & sewa kembali yang dalam dunia bisnis dikenal sebagai REIT atau DIRE ini. Bisnis mini market koperasi pesantren pun akan cepat menjamur seperti Alfamart atau Indomaret.

Korporatisasi

Wakaf ibarat pedang bermata dua. Menyelesaikan masalah sosial sekaligus masalah ekonomi. Undang-undangnya pun telah siap. Di sisi lain telah banyak lembaga pengumpul zakat infaq shodaqoh yang telah puluhan tahun dipercaya dan sukses mengumpulkan dana triliunan dari uang receh masyarakat.  Tinggal sedikit modifikasi, kapasitas ini akan menjadi seperti Harvard Management Company. Sedikit demi sedikit mengubah kotak infaq di masjid-masjid menjadi kotak wakaf. Semoga.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Bagaimana sebuah perguruan tinggi mengumpulkan aset wakaf? Ikuti link ini. Bagaimana masjid mengumpulkan aset wakaf? Ikuti link ini.

*)Tulisan karya Iman Supriyono ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

DIRE: Siloam, Lippo & Lippo Way


Lippo. Perusahaan properti besutan Mochtar Riady ini belakangan ini menjadi topik hangat diskusi netizen. Banyak yang berdiskusi membicarakan hal-hal kurang sedap tentang perusahaan publik beraset Rp 47T ini.  Perusahaan properti dengan aset dan omzet terbesar di tanah air. Jauh diatas Ciputra yang asetnya 29 T.

Salah satu topik diskusi adalah bagaimana perusahaan properti pemilik jaringan rumah sakit Siloam itu bisa tumbuh sedemikian pesatnya. Tentang pertanyaan ini, desas-desus mengabarkan adanya praktek-praktek negatif.

Atas desas-desus ini, beberapa netizen menanyakan kepada saya tentang kebenarannya. Saya sampaikan bahwa dalam menerima informasi, kita diajari untuk memperhatikan dua hal: sanad dan matan. Dalam tinjauan sanad, sebuah informasi barulah bisa dijadikan pedoman jika orang atau organisasi yang menjadi sumber atau pembawa informasi jelas dan memiliki kredibilitas.  Tinjauan matan mengajari kita bahwa konten atau materi pun harus diperiksa validitasnya. Tanpa sanad dan matan yang valid, sebuah informasi tidak bisa dijadikan pedoman apalagi disebar-sebarkan kepada orang lain.

Terlebih jika informasinya bersifat negatif. Menyebarkan informasi negatif tentang seorang atau sebuah organisasi yang tidak valid adalah fitnah. Dan kita tentu saja harus menjaga diri untuk tidak memfitnah siapapun. Bahkan kita juga tidak boleh memfitnah orang atau organisasi yang kita benci sekalipun.

Maka, ketika melihat Lippo sebagai sebuah perusahaan tumbuh pesat, akan lebih baik jika kita membaca data  yang valid dan kemudian mengambil pelajaran untuk kita jadikan inspirasi dalam bisnis yang kita geluti sehari-hari.

Lippo berdiri tahun 1990 dengan modal setor Rp 1 juta.  Dua tahun setelah pendiriannya, pemegang saham Lippo menyetor tambahan modal senilai Rp 20 M.  Karena memang sektor properti adalah bisnis padat modal, tahun 1993, Lippo mengkonversi utangnya menjadi modal sedemikian hingga total nilai modal setor menjadi Rp 58 M. Dengan memperhatikan inflasi, dalam hitungan saya, uang sejumlah ini setara dengan kurang lebih Rp 1,5T nilai saat ini.  Modal setor tersebut terus menerus ditambah oleh pemegang saham sedemikian hingga pada posisi terakhir mencapai Rp 4T dengan total ekuitas Rp 22T.

Dari angka modal setor 1 juta menjadi Rp 4T bisa kita baca bahwa dari waktu-ke waktu Lippo selalu ditambah setoran  modal. Siapa yang menyetor? Apakah pendiri atau pihak lain? Data terkhir menunjukkan bahwa pihak pendiri hingga kini tinggal memegang sekitar 30% saham. Artinya, pendiri selalu memberikan kesempatan kepada  pihak lain untuk ikut berperan menyetor modal kepada perusahaan baik melalui penempatan personal (private placement) maupun melalui pasar modal dengan IPO (initial public offering, pencatatan saham di lantai bursa untuk pertama kali) maupun right issue (melepas saham baru setelah IPO). Itulah sumber modal pertama sebagai bahan bakar pertumbuhan Lippo.

Logo SNF Consulting dengan tag line korporatisasi

Sumber kedua adalah “puasa”nya para pemegang saham. Sebagaimana angka di atas, dari modal sendiri Rp 22 T, “hanya” Rp 4 T yang berasal dari setoran modal. Selebihnya, Rp 18T adalah berupa laba perusahaan yang tidak diambil oleh pemegang saham. Termasuk dalam kategori laba adalah selisih antara harga pasar dengan harga nominal saat Lippo melepas saham baru. Dalam bahasa akuntansi, selisih ini dicatat sebagai agio saham.

Baca juga: Korporatisasi langkah demi langkah

Dua sumber di atas bisa disebut bersifat konvensional. Ada lagi sumber baru yang disebut REIT (real estate investment trust) atau dalam bahasa Indonesia disebut DIRE (dana investasi real estate). Dalam bahasa sederhana, DIRE adalah menjual aset properti yang sudah beroperasi dengan baik kepada pihak lain sekaligus menyewa kembali aset tersebut untuk tetap dipergunakan perusahaan dalam melayani konsumen. Sebagai contoh adalah RS Siloam Surabaya. Gedung di rumah sakit di Gubeng ini telah dijual kepada Firt REIT senilaI SGD 16,8 juta (Rp 164M,  kurs sekarang) pada tahun 2006. Lippo selanjutnya  menyewa gedung tersebut. Harga sewa tahunan terakhir adalah SGD 3,2 juta (Rp 31M). Uang penjualan digunakan untuk membangun rumah sakit baru.

Hingga saat ini, dari 30 rumah sakit yang dioperasikan oleh Lippo (melalui anak perusahaan PT Siloam Hospital) 13 diantaranya telah di-DIRE-kan. Artinya, DIRE telah berkontribusi membangun 13 dari 30 rumah sakit laris ini.  Mekanisme sama juga dilakukan Lippo terhadap aset mal-mal-nya.

DIRE adalah sumber cepat pertumbuhan Lippo. Menjual aset properti yang bisnisnya telah berjalan dengan baik untuk disewa kembali. Uang hasil penjualan digunakan untuk membangun properti sejenis yang baru lalu dioperasikan untuk  pertumbuhan omzet perusahaan. Kelak, bila properti baru ini telah beroperasi normal akan di-DIRE-kan lagi untuk pertumbuhan selanjutnya. Begitu seterusnya. Pembaca yang baik, Anda sudah mendapatkan pelajarannya kan? Ayo segera tumbuh pesat!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga: Menang Melawan Si Curang

*)Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya, dengan judul ”DIRE”

Garam: Kuat Dengan Ekonomi Berjamaah


China, USA, India, Canada, Jerman, Australia, Meksiko, Chile. Brasil,  UK, Ukraina,  Prancis, Turki, Spanyol, Polandia. Itulah daftar urutan lima belas negara produsen garam terbesar dunia dalam catatan United States Geological Survey tahun 2015. Lembaga milik pemerintah USA ini juga menyebut bahwa total produksi garam dunia adalah 273 juta ton. Lima belas negara produsen garam terbesar berkontribusi sebesar 231 Juta ton alias 85% produksi garam dunia. Seluruh negara lain diluar daftar tersebut berkontribusi sebesar 42 juta ton alias 15% produksi garam dunia.  Sebagai jawara pertama, China berkontribusi 70 juta ton alias 26% produksi dunia. USA sebagai juara kedua memproduksi 48 juta ton alias 18% produksi dunia.

Dalam urusan garam, tidak ada negeri yang  menarik didiskusikan melebihi Australia. Kenapa? Karena negeri tetangga ini adah pemasok kebutuhan garam di negeri tercinta.  Tiap tahun, ibu pertiwi dialiri garam dari Australia lebih dari 2 juta ton.  Ini menjadi semakin menarik karena angka itu menyerap sekitar 20% produksi garam negeri kanguru yang 11 juta ton per tahun. Dengan harga Rp 500 ribu per ton saja, berarti RI mengeluarkan uang lebih dari 1 triliun untuk membeli garam dari Australia. Padahal, panjang garis pantai Indonesia jauh melebihi garis pantai Australia.

&&&

DSL. Inilah urutan juara  pertama produsen garam negeri Kanguru dengan kapasitas produksi 4,7 juta ton alias sekitar 42% total produksi nasional Australia.  Setelah DSL urutan berikutnya adalah Cargill, Mitsui (SBS) dan WA Salt. Semua empat besar produsen garam australia adalah anak perusahaan pemain global, kecuali WA Salt yang merupakan pemain lokal Australia.

shalat berjamaah2

ShAlat berjamaah pahalanya 27 derajat. Ekonomi berjamaah kekuatannya berlipat ganda

Siapa DSL? Juragan garam yang berdiri sejak tahun  1967 ini adalah anak perusahaan dari Rio Tinto. Perusahaan spesialis tambang logam dan mineral berbasis di Inggris ini memiliki saham 68% DSL. Pemegang saham lainnya adalah Marubeni (22%) dan Sojitz (10%).

Rio Tinto adalah perusahaan publik yang tercatat di London Stock Exchange. Sebagai perusahaan publik penuh (fully public company), Rio Tinto tidak ada pemegang saham pengendali. Pemegang saham terbesar adalah Aluminium Corp of China Ltd., sebuah perusahaan  milik pemerintah RRC dengan 13,2%. Posisi kedua adalah BlackRock Investment Management, sebuah perusahaan investasi berbasis di Amerika serikat dengan 3,48%. Posisi pesaham terbesar ketiga adalah The Vanguard Group, sebuah perusahaan investasi berbasis di Amerika Serikat dengan kepemilikan 2,51%.  Itulah tiga besar pemegang saham perusahaan raja garam, mineral dan logam yang seluruh sahamnya bernilai sebesar Rp 967 triliun.

Logo SNF Consulting dengan tagline korporatisasi efek star

Rio Tinto adalah perusahaan fully public company, tidak ada pesaham pengendali, hasil dari proses korporatisasi

&&&

Ada dua jenis barang yang beredar di masyarakat: ber merk dan komoditas. Garam termasuk jenis komoditas. Karakter utama jenis ini adalah bahwa produsen tidak bisa menentukan harga. Produsen sepenuhnya mesti mengikuti harga pasar. Dengan kondisi seperti ini, kunci utama keunggulan bersaing adalah dalam efisiensi.

Bagaimana efisien? Volume produksi adalah kuncinya. Itulah kenapa raja garam Australia adalah perusahaan-perusahaan raksasa dengan volume produksi jutaan ton. Dengan cara inilah garam Australia  bisa menembus pasar global, termasuk pasar Indonesia. Mengalahkan produsen garam lokal yang pada umumnya perorangan atau perusahaan kecil-kecil sehingga kalah efisien. Harga garam lokal kalah murah dengan harga garam impor dari Australia.

SNF Quote kapitalis2

Untuk kuat, industri garam nasional mesti mengadopsi konsep ekonomi berjamaah dalam konteks manajemen modern melalui korporatisasi

Bagaimana menjadi besar? Mari belajar dari DSL-Rio Tinto, si juara pertama produsen garam Australia. Menjadi besar artinya adalah modal besar.  Siapa sumber modal besar hampir 1000 Triliun Rio Tinto? Perusahaan yang mengawali debutnya di Rio Tinto (bahasa Spanyol yang artinya Sungai Merah) Spanyol ini mengumpulkannya dari jutaan orang dari berbagai penjuru dunia.  Pengumpulan dilakukan secara langsung melalui lantai bursa maupun melalui perusahaan-perusahaan investasi maupun wakaf. Dikumpulkan melalui konsep ekonomi berjamaah modern alias korporatisasi. Mengumpulkan modal melalui skema ekuitas, bukan utang. Mengumpulkan uang dari jutaan orang  untuk menjadi sebuah perusahaan berkapasitas produksi besar, efisien, dan menguasai pasar garam dunia. Seperti DSL-Rio Tinto. Garam!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup WA SNF Consulting atau Gabung Grup Telegram SNF Consulting 

Baca juga:
Ekonomi berjamaaah alias korporatisasi langkah demi langkah
Peternakan dengan ekonomi berjamaah
Pertanian dengan ekonomi berjamaah

*)Artikel ini ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting, pernah pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya, dengan judul “Garam” dengan ditambah dan diedit kembali

 

Sequoia: Jangan Jadi Entrepreneur Tanpa Ide Baru


Google, WhatsApp, Instagram, Apple, Dropbox, LinkedIn, YouTube, Cisco, Oracle, Airbnb, PayPal.  Anda kenal nama-nama ini? Jika tidak, mohon maaf, Anda adalah generasi masa lalu hehehehe. Ini adalah deretan perusahaan top dunia. Google atau yang kini rebranding nama perusahaannya menjadi Alphabet, adalah perusahaan terbesar ke 27 dunia dalam hal omset, laba, aset, dan kapitalisasi pasar. Omset perusahaan raja internet ini adalah USD 77,2 Milyar atau RP 1024T. Dengan omset itu, perusahaan besutan Larry Page dan Sergey Brin ini mengantongi laba USD 17 Miliar atau Rp 226T. Omset tersebut dicapai dengan aset senilai USD 149,7 Milyar (Rp 1987T). Dengan kinerja seperti itu, nilai pasar (seluruh saham) perusahaan yang melantai di New York Stock Exchange ini adalah USD 500,1 Milyar (Rp 6 639 T).

Saat menggunakan Google untuk mencari sebuah informasi di internet, Anda tidak pernah diminta membayar serupiah pun.  Anda baru akan diminta membayar kalau memasang iklan. Saat ada orang mengetik key word tertentu, iklan Anda akan dimunculkan. Sampai disitu Anda pun belum diminta untuk membayar. Baru setelah ada yang mengklik link iklan Anda, Google meminta Anda membayar.

Keberadaan Google memporak porandakan dunia  periklanan. Sebagai pelaku bisnis, saya masih merasakan dulu misalnya untuk memasang iklan spot ukuran panjang satu kolom tinggi 5 cm di sebuah koran dibutuhkan dana sekitar Rp 5 juta. Itupun hanya sekali tayang. Padahal untuk mempromosikan sebuah produk tentu tidak cukup sekali tayang langsung laris. Butuh beberapa kali tayang. Anggaran iklan ketika itu pun tinggi.

&&&

Sequoia. Itulah perusahaan yang dengan kapasitasnya “menemukan” orang seperti Larry Page dan Serge Brin pada tahun 1988 dengan ide barunya. Sequoia, sebuah perusahaan venture capitalist, sejak tahun 1972 mengasuh anak-anak muda dengan ide-ide baru. Google, Whatsapp, Instagram, dan nama-nama yang saya sebut diatas adalah sebagian kecil dari karya “anak asuh” Sequoia. Kini  banyak “anak asuh” itu telah membesar dan go public. Total nilai sekitar USD 1,4 Triliun atau Rp 18 585 Triliun.

Sequoia logo

Logo Sequoia

Google menyumbang Rp 6 639 Triliun dari angka itu. Dari komposisi pemegang sahamnya, pemilik YouTube ini bisa disebut perusahaan yang sudah “matang” alias sudah “jadi”. Ada dua kelompok pemilik saham Google yaitu individu dengan total 24,7% dan institusional dengan total 75,25. Lima pesaham institusional tertinggi adalah Vanguard (7,6%), BlackRock (6,6%), FMR (5,335%), State Street (4,62%), dan Price T Rowe (4,01%).  Kelimanya adalah perusahaan investasi. Google (Alphabet) adalah sebuah fully public company.  Tidak ada lagi pemegang saham pengendali.

Mengamati konsep bisnis Sequoia, bisa disimpulkan bahwa ada dua jalur karir bagi anak-anak muda USA. Yang pertama adalah bagi anak-anak muda yang punya ide “gila” seperti Brin dan Page pendiri Google itu. Anak-anak yang punya ide bisnis benar-benar baru akan diasuh oleh venture capitalist seperti Sequoia. Dibina dan disuntik modal sejak awal. Setelah cukup kuat, perusahaan didorong untuk terus berkembang dengan dana publik melalui lantai bursa. Dana publik ini dihimpun melalui perusahaan-perusahaan investasi seperti 5 pesaham institusional terbesar Google itu.

Jalur karir kedua adalah anak muda yang tidak memiliki ide bisnis baru. Jenis ini jumlahnya lebih banyak dan tidak kalah strategis. Mereka juga terdiri dari orang-orang pintar berkualitas kelas atas lulusan perguruan-perguruan tinggi top dunia. Kelompok kedua ini akan berkarir dan bekerja keras membesarkan perusahaan-perusahaan yang sudah ada.  Merekalah yang disebut corpopreneur. Hasil karya mereka, saat ini dari 2000 perusahaan terbesar dunia (berdasarkan omset, laba, aset dan kapitalisasi pasar), 540 berasal dari USA.  Sebagian besar adalah perusahaan-perusahaan gaya lama seperti McD, Coca Cola, Citibank, ExxonMobil, dan sejenisnya. Sebagian kecil adalah pemain baru seperti Google tadi.  Inilah yang menjadikan USA sebagai negara dengan PDB seperempat PDB dunia.

Logo SNF Consulting dengan tagline korporatisasi efek star

Korporatisasi adalah pertemuan antara entrepreneur dan corpopreneur

Dengan dua jalur karir pemudanya, USA saat ini merajai bisnis dunia. Kedepan pun, nampaknya USA akan tetap unggul.  Dengan banyaknya venture capitalist dan investment company raksasa nya, USA adalah bangsa yang paling serius menyemai dan menumbuhkan perusahaan perusahaan baru alias start up company.

Kita mesti belajar dari USA. Anak-anak muda yang punya ide baru mesti didorong menjadi entrepreneur dengan start up company. Sementara itu, yang tidak punya ide baru mesti didorong bekerja keras membesarkan perusahaan yang sudah ada. Dorong mereka berkarir sampai puncak yaitu menjadi CEO.  Juga beri kesempatan menjadi pesaham saat perusahaan melepas saham baru untuk memenuhi kebutuhan modal ekspansi pasar.

kid creative drawing

Kreativitas adalah jantungnya entrepreneurship

Yang tidak punya ide baru berperan membesarkan perusahaan yang ada agar menjadi kelas dunia. Yang punya ide baru didukung dengan bimbingan dan modal. Untuk itu kita butuh banyak investment company yang mengumpulkan dana ratusan ribu triliun dari masyarakat seperti Vanguard, BlackRock, FMR, State Street dan Price T Rowe yang menyuntik modal besar untuk Google. Kita juga butuh pengasuh anak-anak muda seperti Sequoia.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup WA SNF Consulting atau Gabung Grup Telegram SNF Consulting 

Artikel ini ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting, pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya