Category Archives: Uncategorized

Kuliner Global: Hui dan Padang


Setelah 3 jam melaju, kereta ekspress itu berhenti di peron yang tampil seperti bandara modern itu.  Bersama rombongan, saya pun segera turun dari kereta. Menutup perjalanan darat sekitar 900 kilometer dari Shenzhen dengan naik taksi menuju hotel yang sebelumnya telah dipesan melalui internet. Karena badan yang begitu lelah, sesampai di hotel pun saya segera mandi, sholat magrib isya secara jama’, lalu tertidur pulas.

Begitu terbangun keesokan hari, salah satu aktivitas yang mesti dijalani adalah makan pagi. Mencari makanan halal di kota yang secara administratif berada di bawah propinsi Guangdong itu tentu tidak semudah di Surabaya atau Jakarta. Maka, bersama rombongan saya pun merencanakan untuk sekalian keluar menuju kampus Shaoguan University. Di kampus yang berjarak sekitar setengah jam perjalanan bus umum itu terdapat warung makanan muslim.

Gaya membuat mie khas resto Hui di RRC. Gambar dari http://www.pustakapanganku.blogspot.co.id

Setelah sejenak jalan-jalan di kampus seluas lebih dari 150 hektar itu, saya dan rombongan pun saatnya makan pagi. Pergilah kami ke sebuah warung di sebuah komplek pertokoan kecil di samping pintu gerbang kampus. Seorang berpeci putih menyambut. Setelah duduk dan melihat daftar menu, kami pun memesan makanan. Waktu menunggu makanan terhidang jadi menyenangkan karena proses penyajiannya menarik. Atraksi memproses adonan tepung menjadi mie khas suku Hui menjadi sajian yang lebih istimewa sebelum makanan terhidang di kampus dimana salah satu rombongan menimba ilmu itu.

&&&

Makanan halal adalah kebutuhan pokok kaum muslimin dimanapun berada. Jika Anda bepergian di negara yang mayoritas muslim, mencari makanan halal tentu bukan masalah. Di Malaysia misalnya, Anda dengan mudah menemukan warung halal hampir di setiap komplek pertokoan atau perdagangan.

Bagaimana jika bepergian di negara yang kaum muslimin berposisi minoritas? Tentu membutuhkan seni tersendiri. Kala melancong ke RRC, Anda akan sangat terbantu dengan keberadaan suku Hui.  Suku yang secara statistik hanya sekitar 2% penduduk RRC ini memang bisa dikatakan selalu hadir di kota manapun di negeri tirai bambu ini. Hadir dengan warungnya yang khas dan halal. Mirip dengan restoran padang yang selalu Anda jumpai dimanapun berada di negeri merah putih ini.
Masakan padangMenjadikan kuliner nusantara mendunia tidak cukup dengan kata-kata. Mesti melalui korporatisasi.

Apa yang dilakukan oleh resto Hui dan Padang pada dasarnya memang kebutuhan masyarakat modern. Masyarakat yang dengan mudah bisa bepergian kesana kemari di berbagai penjuru membutuhkan kehadiran resto yang hadir dimana mana. McDonald’s & KFC adalah contoh jaringan resto yang pada dasarnya adalah seperti Hui dan Padang. Hadir dimana mana dengan cita rasa yang diterima oleh masyarakat luas.

Bedanya, jika Hui dan Padang bersifat tradisional dan tiap tiap resto hadir secara personal, McD dan KFC hadir dengan konsep manajemen modern. McD dan KFC tampil di dimana mana di seluruh dunia dengan format korporasi dan manajemen modern. Tentu saja tidak tiba tiba McD dan KFC tampil seperti sekarang ini. Ada proses yang panjang yang harus dilalui.

Hui dan Padang punya potensi yang besar untuk tampil di berbagai bangsa seperti McD dan KFC. Syaratnya tentu saja adalah korporasi dan manajemen modern. Jika saat ini masih tampil secara perorangan dengan dan terpisah antara satu resto dengan resto lainnya, dibutuhkan peran entrepreneur yang bisa melakukan proses manajerial bisnis untuk menjadikannya sekelas McD dan KFC.

Bagaimana kira-kira prosesnya? Ada dua kemungkinan. Yang pertama adalah melalui proses penyatuan dari para pebisnis resto yang ada. Istilah kerennya disebut merger. Walaupun di bidang berbeda, apa yang dilakukan oleh 10 ribu lebih peternak susu di New Zealand bisa dicontoh. Mereka menyatu dengan mendirikan koperasi. Semula ada sekitar 400 an koperasi, pemilik merek susu Anmum dan Anlene itu kini menjadi satu koperasi dengan aset, omset dan merek kuat di seluruh dunia. Hui dan Padang bisa menyatu menjadi koperasi dan kemudian tampil di berbagai penjuru dunia dengan satu manajemen, satu merek dan satu kekuatan.

Alternatif kedua adalah melalui cara seperti yang ditempuh oleh Djoko Susanto melalui Alfamart. Mendirikan sebuah perusahaan di bidang ritel modern dan kemudian memperluasnya dengan melibatkan dana masyarakat melalui lantai bursa dan waralaba. Siapapun yang berminat bisa bergabung dengan Alfamart melalui dua cara itu.  McD dan KFC melakukan juga melakukan mekanisme ini.

Hui dan Padang, bagaimana? Kita tunggu jawaban dari kawan kawan pemain dan peminat bisnis resto untuk melakukannya. Hadir di seluruh dunia dengan puluhan ribu outlet resto halal. Dengan merek kuat dan kualitas standar. Agar kemanapun bepergian, kita bisa menikmati menu  halal tanpa kesulitan. Di Shaoguan dan dimanapun berada. Hui dan Padang….ayoo!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca Juga:
Korporatisasi langkah demi langkah
Corporate life cycle

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Mobil Nasional Fin Komodo: Langkah Selanjutnya


Langkah Selanjutnya

Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Obrolan ini terjadi di Cimahi, pinggiran kota Bandung. Tepatnya di ruang pertemuan -biasa disebut keminggris sebagai “ruang meeting”- sebuah perusahaan prinsipal mobil nasional bermerek Fin Komodo. Tokoh sentralnya adalah cak Ibnu si “komandan pasukan” mobil yang hadir dengan konsep off road itu. Peserta obrolan lainnya adalah cak Leo Herlambang yang sudah malang melintang menjadi CEO profesional di berbagai perusahaan,  kang Ari yang sedang memimpin sebuah perusahaan produsen panel elektrik, dan ning Izza yang baru saja menyelesaikan pendidikan sarjananya Jianxi University  dan kini berkarir di sebuah BUMN milik pemerintah Tiongkok.  Keberadaan Ning Izza menjadikan suasana obrolan menjadi lintas generasi.

Obrolan makin seru lagi karena persis sebelum masuk ruang pertemuan tersebut, saya, cak Leo, Kang Ari dan Ning Izza baru saja merasakan serunya mobil bandel itu. Merasakan bagaimana menggeber mobil bertransmisi otomatis tersebut melalui medan ekstrim di persawahan kawasan Cimahi yang konturnya berbukit-bukit. Mobil tetap nyaman medan penuh lobang  dan berbatu. Kaki-kakinya tetap menapak sempurna dengan suspensinya sangat nyaman walau melalui medan bergelombang semak belukar.

Cak Ibnu mengawali pembicaraan dengan menyebut beberapa contoh beberapa pendahulu mobil  nasional. Ada Maleo dari Pak Habibie, ada Perkasa dari Texmaco, ada Timor, ada MR 90, ada kancil. Semuanya berakhir dengan kegagalan. Mati. Belajar dari kegagalan itu, cak Ibnu berfikir lain. Alih-alih bermain langsung head to head dengan Toyota, Honda, Daihatsu, Suzuki dan merek-merek populer lain, Cak Ibnu dengan bendera PT Fin Komodo Teknologi masuk pada mobil off road. Bukan mobil untuk jalan beraspal.

Hasil gambar untuk fin komodo

Fin Komodo: tangguh dan handal di medan berat. Foto: wikimapia.org

Pilihannya tepat. Perusahaan besutan insiyur yang berpengalaman menggawangi desain pesawat N250-nya pak Habie saat masih bekerja di IPTN itu kini telah cukup eksis sebagai sebuah perusahaan. Tiap tahun memproduksi dan menjual lebih dari 100 unit mobil seharga sekitar Rp 100 juta itu.  Perhitungan kasar saya, volume penjulan seperti itu sudah cukup ntuk menopang seluruh biaya operasinal perusahaan plus arus kas yang cukup untuk terus berinvestasi pengembangan produk lebih lanjut.

Yang menarik adalah cerita kakak kelas saya di teknik mesin ITS ini tentang bagaimana ia memandang bisnis otomotif yang kini digelutinya. Ada perbedaan antara membangun industri dan membangun pabrik. Apa yang dilakan PT Astra International dengan bisnis mobil Toyota misalnya adalah membangun pabrik. Semua konsep dari desain, manufaktur mobil dengan segala SOP-nya sampai pemasaran sudah ditentukan oleh pihak Toyota sebagai prinsipal. Membangun pabrik cukup waktu sekitar 3 tahun untuk beroperasi normal.

Logo SNF Consulting dengan tag line korporatisasi

Hal yang serupa dilakukan juga oleh Kang Ari yang pagi ini sangat semangat berdiskusi. Ia memproduksi suku cadang peralatan elektronik yang dipesan oleh perusahaan prinsipal. Desain, spesifikasi dan SOP sudah ada dan tinggal menjalankan. Begitu selesai pabrikasi semua produk sudah langsung dibeli oleh si prinsipal. Dengan konsep ini, hanya dalam beberapa tahun perusahaan besutan kang Ari mampu menghidupi ratusan karyawan beserta keluargaanya.

Berbeda sekali dengan membangun industri. Cak Ibnu siap untuk melalui proses lebih dari 20 tahun sejak tahun 2006. Segala sesuatunya dimulai dari nol.  Dari sama sekali tidak ada apa-apa. Masa awal perjuangan membangun industri sudah dijalaninya dengan segenap daya upaya. Dilalui dengan segenap pengorbanan.

$$$

Apa yang dilalui Cak Ibnu dengan Fin Komodonya setali tiga uang dengan apa yang dilalui Mas Najib Hamid dengan Matan, majalah kita ini. Kuduanya hadir dengan sebuah idealisme membangun merek baru. Membangun platform dan menjadi prinsipal.   Keduanya telah menjalani proses mengerjakan segala sesuatu dari A sampai Z tanpa siapa-siapa.  Saat ini, dengan oplah belasan ribu eksemplar, Matan sudah bisa berada pada arus kas yang cukup stabil sebagai sebuah perusahaan. Sama seperti Fin Komodo.

Kini, keduanya berada pada tahapan untuk langkah selanjutnya. Next step.  Saya menyebutnya korporatisasi. Memanfaatkan kondisi arus kas yang sudah cukup stabil untuk membangun sistem manajemen dan tumbuh menjadi merek diterima di pasar yang lebih luas. Aspek keuangan adalah bagian penting dari sistem manajemen ini. Aspek keuangan yang mampu mendukung belanja modal yang cukup untuk ekspansi pasar mencapai posisi crowding effect. Hadir secara masif di pasar agar menjadi bagian dari gaya hidup. Tentu tetap dengan semangat juang seperti yang dimiliki oleh cak Ibnu dan Mas Najib sebagai “kepala pasukan” yang telah merintisnya dengan segenap jiwa. Semangat juang yang harus tertransfer dengan baik kepada generasi korporatisasi seumuran Ning Izza dalam obrolan lintas generasi di Cimahi pagi itu. Generasi yang akan melakukan korporatisasi sebagai langkah selanjutnya. Bisa!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Saksikan Video aksi Fin Komodo

*)Tulisan ini juga dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

 

 

Wakaf Uang


Harvard Management Company alias HMC. Pada tahun 2016, perusahaan investasi milik Harvard University ini melaporkan nilai aset sebesar USD 35,7 Milyar alias Rp 375T dengan kurs   Rp 13 300,-. Dalam 20 tahun terakhir, aset ini rata-rata mendatangkan imbal hasil sebesar 10,4% per tahun. Kontribusi besar bagi biaya operasional kampus bergengsi ini.

Veritas original sketch
Coretan tangan logo Harvard University bertuliskan “veritas” yaitu bahasa Latin yang berarti kebenaran. Coretan ini dibuat pada tahun 1836 bertepatan dengan peringatan 2 abad perguruan tinggi tertua di USA itu. Foto dari http://www.harvard.edu

Berupa apa saja aset sebesar itu? Sebagian besar, 49%, berupa saham di berbagai perusahaan yang melakukan proses korporatisasi. Ini yang menjadikan Harvard sebagai sebuah institusi pendidikan memiliki hubungan dekat dengan dunia bisnis. Terbesar kedua, 14,5%, adalah aset  properti yang disewakan. Sisanya berupa obligasi, sumber daya alam dan skema investasi aman lainnya.

Dari manakah Harvard memiliki aset sebesar itu? Tentu bukan hasil sulapan. Dana sebesar ini dikumpulkan dari dolar demi dolar endowment fund sejak 1974. Endowment fund adalah sumbangan dari para simpatisan dengan akad sebagai dana abadi alias wakaf.

&&&

Endowment fund alias wakaf. Keduanya  mengandung pengertian yang secara ekonomi sama. Orang yang menyumbangkan asetnya dengan maksud agar dikelola dan hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan sosial. Asetnya sendiri mesti dijaga tetap tidak dikurangi sepeser pun.

Yang sudah sangat populer di masyarakat adalah wakaf berupa sebidang tanah. Masyarakat menyerahkan sebidang tanah kepada lembaga sosial. Tanah tersebut kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan sosial lembaga penerimanya.

Tanah wakaf hanya boleh dimanfaatkan. Tidak boleh dijual atau dikurangi nilai atau luasannya. Karena begitu populernya, wakaf tanah memunculkan masalah lain. Tanah tidak bisa termanfaatkan secara optimal atau bahkan terbengkalai karena tidak ada dana yang cukup untuk mendirikan bangunan diatasnya sebagai sarana kegiatan sosial.

Solusinya? Wakaf uang. Ya…wakaf berupa uang seperti di HMC. Uang wakaf dikelola sebagai dana investasi dengan portofolio aman. Hasil investasi barulah digunakan untuk biaya aktivitas sosial.

Potensi wakaf uang sungguh raksasa. Di Indonesia ada 800 ribu masjid lebih. Jika tiap masjid bisa menyediakan kotak wakaf (selain kotak infaq yang selama ini sudah ada) dan tiap bulan terkumpul dana wakaf Rp 1 juta per masjid, tiap tahun akan terkumpul dana wakaf Rp 10 T. setara dengan sekitar 16% saham Semen Indonesia dengan dividen sekitar Rp 281 per tahun. Dalam 4 tahun, potensi wakaf ini sudah bisa menggantikan 38% saham Semen Indonesia yang kini dipegang investor asing.

Di dekat rumah saya ada sebuah supermarket sangat ramai milik sebuah koperasi pesantren. Luas tanah supermarket yang telah berdiri sejak tahun 90-an ini adalah sekitar 2 ribu meter persegi dengan harga pasaran tanah minimum Rp 10 juta per meter persegi. Coba bayangkan kalau tanah ini dibeli oleh institusi pengelola wakaf seperti HMC dan langsung disewakan kembali kepada koperasi pesantren tersebut. Memang koperasi pesantren akan menanggung biaya sewa yang akan sedikit lebih besar dari pada biaya depresiasi jika aset dimiliki sendiri. Biaya sewa ini akan diterima lembaga pengelola wakaf dan disalurkan untuk kebutuhan sosial.

IMG_20190806_131318
Masjid mesti memberi kemudahan kepada jamaah yang berwakaf dengan pembayaran secara elektronik

Tapi, bagi pengelola supermarket,  uang Rp 20 Miliar lebih akan diterima dan bisa digunakan untuk membangun 20 mini market baru.  Kelak kalau sudah beroperasi normal, 20 mini market baru itu pun bisa dijual juga dengan skema jual & sewa kembali yang dalam dunia bisnis dikenal sebagai REIT atau DIRE ini. Bisnis mini market koperasi pesantren pun akan cepat menjamur seperti Alfamart atau Indomaret.

Korporatisasi

Wakaf ibarat pedang bermata dua. Menyelesaikan masalah sosial sekaligus masalah ekonomi. Undang-undangnya pun telah siap. Di sisi lain telah banyak lembaga pengumpul zakat infaq shodaqoh yang telah puluhan tahun dipercaya dan sukses mengumpulkan dana triliunan dari uang receh masyarakat.  Tinggal sedikit modifikasi, kapasitas ini akan menjadi seperti Harvard Management Company. Sedikit demi sedikit mengubah kotak infaq di masjid-masjid menjadi kotak wakaf. Semoga.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Bagaimana sebuah perguruan tinggi mengumpulkan aset wakaf? Ikuti link ini. Bagaimana masjid mengumpulkan aset wakaf? Ikuti link ini.

*)Tulisan karya Iman Supriyono ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

DIRE: Siloam, Lippo & Lippo Way


Lippo. Perusahaan properti besutan Mochtar Riady ini belakangan ini menjadi topik hangat diskusi netizen. Banyak yang berdiskusi membicarakan hal-hal kurang sedap tentang perusahaan publik beraset Rp 47T ini.  Perusahaan properti dengan aset dan omzet terbesar di tanah air. Jauh diatas Ciputra yang asetnya 29 T.

Salah satu topik diskusi adalah bagaimana perusahaan properti pemilik jaringan rumah sakit Siloam itu bisa tumbuh sedemikian pesatnya. Tentang pertanyaan ini, desas-desus mengabarkan adanya praktek-praktek negatif.

Atas desas-desus ini, beberapa netizen menanyakan kepada saya tentang kebenarannya. Saya sampaikan bahwa dalam menerima informasi, kita diajari untuk memperhatikan dua hal: sanad dan matan. Dalam tinjauan sanad, sebuah informasi barulah bisa dijadikan pedoman jika orang atau organisasi yang menjadi sumber atau pembawa informasi jelas dan memiliki kredibilitas.  Tinjauan matan mengajari kita bahwa konten atau materi pun harus diperiksa validitasnya. Tanpa sanad dan matan yang valid, sebuah informasi tidak bisa dijadikan pedoman apalagi disebar-sebarkan kepada orang lain.

Terlebih jika informasinya bersifat negatif. Menyebarkan informasi negatif tentang seorang atau sebuah organisasi yang tidak valid adalah fitnah. Dan kita tentu saja harus menjaga diri untuk tidak memfitnah siapapun. Bahkan kita juga tidak boleh memfitnah orang atau organisasi yang kita benci sekalipun.

Maka, ketika melihat Lippo sebagai sebuah perusahaan tumbuh pesat, akan lebih baik jika kita membaca data  yang valid dan kemudian mengambil pelajaran untuk kita jadikan inspirasi dalam bisnis yang kita geluti sehari-hari.

Lippo berdiri tahun 1990 dengan modal setor Rp 1 juta.  Dua tahun setelah pendiriannya, pemegang saham Lippo menyetor tambahan modal senilai Rp 20 M.  Karena memang sektor properti adalah bisnis padat modal, tahun 1993, Lippo mengkonversi utangnya menjadi modal sedemikian hingga total nilai modal setor menjadi Rp 58 M. Dengan memperhatikan inflasi, dalam hitungan saya, uang sejumlah ini setara dengan kurang lebih Rp 1,5T nilai saat ini.  Modal setor tersebut terus menerus ditambah oleh pemegang saham sedemikian hingga pada posisi terakhir mencapai Rp 4T dengan total ekuitas Rp 22T.

Dari angka modal setor 1 juta menjadi Rp 4T bisa kita baca bahwa dari waktu-ke waktu Lippo selalu ditambah setoran  modal. Siapa yang menyetor? Apakah pendiri atau pihak lain? Data terkhir menunjukkan bahwa pihak pendiri hingga kini tinggal memegang sekitar 30% saham. Artinya, pendiri selalu memberikan kesempatan kepada  pihak lain untuk ikut berperan menyetor modal kepada perusahaan baik melalui penempatan personal (private placement) maupun melalui pasar modal dengan IPO (initial public offering, pencatatan saham di lantai bursa untuk pertama kali) maupun right issue (melepas saham baru setelah IPO). Itulah sumber modal pertama sebagai bahan bakar pertumbuhan Lippo.

Logo SNF Consulting dengan tag line korporatisasi

Sumber kedua adalah “puasa”nya para pemegang saham. Sebagaimana angka di atas, dari modal sendiri Rp 22 T, “hanya” Rp 4 T yang berasal dari setoran modal. Selebihnya, Rp 18T adalah berupa laba perusahaan yang tidak diambil oleh pemegang saham. Termasuk dalam kategori laba adalah selisih antara harga pasar dengan harga nominal saat Lippo melepas saham baru. Dalam bahasa akuntansi, selisih ini dicatat sebagai agio saham.

Baca juga: Korporatisasi langkah demi langkah

Dua sumber di atas bisa disebut bersifat konvensional. Ada lagi sumber baru yang disebut REIT (real estate investment trust) atau dalam bahasa Indonesia disebut DIRE (dana investasi real estate). Dalam bahasa sederhana, DIRE adalah menjual aset properti yang sudah beroperasi dengan baik kepada pihak lain sekaligus menyewa kembali aset tersebut untuk tetap dipergunakan perusahaan dalam melayani konsumen. Sebagai contoh adalah RS Siloam Surabaya. Gedung di rumah sakit di Gubeng ini telah dijual kepada Firt REIT senilaI SGD 16,8 juta (Rp 164M,  kurs sekarang) pada tahun 2006. Lippo selanjutnya  menyewa gedung tersebut. Harga sewa tahunan terakhir adalah SGD 3,2 juta (Rp 31M). Uang penjualan digunakan untuk membangun rumah sakit baru.

Hingga saat ini, dari 30 rumah sakit yang dioperasikan oleh Lippo (melalui anak perusahaan PT Siloam Hospital) 13 diantaranya telah di-DIRE-kan. Artinya, DIRE telah berkontribusi membangun 13 dari 30 rumah sakit laris ini.  Mekanisme sama juga dilakukan Lippo terhadap aset mal-mal-nya.

DIRE adalah sumber cepat pertumbuhan Lippo. Menjual aset properti yang bisnisnya telah berjalan dengan baik untuk disewa kembali. Uang hasil penjualan digunakan untuk membangun properti sejenis yang baru lalu dioperasikan untuk  pertumbuhan omzet perusahaan. Kelak, bila properti baru ini telah beroperasi normal akan di-DIRE-kan lagi untuk pertumbuhan selanjutnya. Begitu seterusnya. Pembaca yang baik, Anda sudah mendapatkan pelajarannya kan? Ayo segera tumbuh pesat!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga: Menang Melawan Si Curang

*)Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya, dengan judul ”DIRE”

Garam: Kuat Dengan Ekonomi Berjamaah


China, USA, India, Canada, Jerman, Australia, Meksiko, Chile. Brasil,  UK, Ukraina,  Prancis, Turki, Spanyol, Polandia. Itulah daftar urutan lima belas negara produsen garam terbesar dunia dalam catatan United States Geological Survey tahun 2015. Lembaga milik pemerintah USA ini juga menyebut bahwa total produksi garam dunia adalah 273 juta ton. Lima belas negara produsen garam terbesar berkontribusi sebesar 231 Juta ton alias 85% produksi garam dunia. Seluruh negara lain diluar daftar tersebut berkontribusi sebesar 42 juta ton alias 15% produksi garam dunia.  Sebagai jawara pertama, China berkontribusi 70 juta ton alias 26% produksi dunia. USA sebagai juara kedua memproduksi 48 juta ton alias 18% produksi dunia.

Dalam urusan garam, tidak ada negeri yang  menarik didiskusikan melebihi Australia. Kenapa? Karena negeri tetangga ini adah pemasok kebutuhan garam di negeri tercinta.  Tiap tahun, ibu pertiwi dialiri garam dari Australia lebih dari 2 juta ton.  Ini menjadi semakin menarik karena angka itu menyerap sekitar 20% produksi garam negeri kanguru yang 11 juta ton per tahun. Dengan harga Rp 500 ribu per ton saja, berarti RI mengeluarkan uang lebih dari 1 triliun untuk membeli garam dari Australia. Padahal, panjang garis pantai Indonesia jauh melebihi garis pantai Australia.

&&&

DSL. Inilah urutan juara  pertama produsen garam negeri Kanguru dengan kapasitas produksi 4,7 juta ton alias sekitar 42% total produksi nasional Australia.  Setelah DSL urutan berikutnya adalah Cargill, Mitsui (SBS) dan WA Salt. Semua empat besar produsen garam australia adalah anak perusahaan pemain global, kecuali WA Salt yang merupakan pemain lokal Australia.

shalat berjamaah2

ShAlat berjamaah pahalanya 27 derajat. Ekonomi berjamaah kekuatannya berlipat ganda

Siapa DSL? Juragan garam yang berdiri sejak tahun  1967 ini adalah anak perusahaan dari Rio Tinto. Perusahaan spesialis tambang logam dan mineral berbasis di Inggris ini memiliki saham 68% DSL. Pemegang saham lainnya adalah Marubeni (22%) dan Sojitz (10%).

Rio Tinto adalah perusahaan publik yang tercatat di London Stock Exchange. Sebagai perusahaan publik penuh (fully public company), Rio Tinto tidak ada pemegang saham pengendali. Pemegang saham terbesar adalah Aluminium Corp of China Ltd., sebuah perusahaan  milik pemerintah RRC dengan 13,2%. Posisi kedua adalah BlackRock Investment Management, sebuah perusahaan investasi berbasis di Amerika serikat dengan 3,48%. Posisi pesaham terbesar ketiga adalah The Vanguard Group, sebuah perusahaan investasi berbasis di Amerika Serikat dengan kepemilikan 2,51%.  Itulah tiga besar pemegang saham perusahaan raja garam, mineral dan logam yang seluruh sahamnya bernilai sebesar Rp 967 triliun.

Logo SNF Consulting dengan tagline korporatisasi efek star

Rio Tinto adalah perusahaan fully public company, tidak ada pesaham pengendali, hasil dari proses korporatisasi

&&&

Ada dua jenis barang yang beredar di masyarakat: ber merk dan komoditas. Garam termasuk jenis komoditas. Karakter utama jenis ini adalah bahwa produsen tidak bisa menentukan harga. Produsen sepenuhnya mesti mengikuti harga pasar. Dengan kondisi seperti ini, kunci utama keunggulan bersaing adalah dalam efisiensi.

Bagaimana efisien? Volume produksi adalah kuncinya. Itulah kenapa raja garam Australia adalah perusahaan-perusahaan raksasa dengan volume produksi jutaan ton. Dengan cara inilah garam Australia  bisa menembus pasar global, termasuk pasar Indonesia. Mengalahkan produsen garam lokal yang pada umumnya perorangan atau perusahaan kecil-kecil sehingga kalah efisien. Harga garam lokal kalah murah dengan harga garam impor dari Australia.

SNF Quote kapitalis2

Untuk kuat, industri garam nasional mesti mengadopsi konsep ekonomi berjamaah dalam konteks manajemen modern melalui korporatisasi

Bagaimana menjadi besar? Mari belajar dari DSL-Rio Tinto, si juara pertama produsen garam Australia. Menjadi besar artinya adalah modal besar.  Siapa sumber modal besar hampir 1000 Triliun Rio Tinto? Perusahaan yang mengawali debutnya di Rio Tinto (bahasa Spanyol yang artinya Sungai Merah) Spanyol ini mengumpulkannya dari jutaan orang dari berbagai penjuru dunia.  Pengumpulan dilakukan secara langsung melalui lantai bursa maupun melalui perusahaan-perusahaan investasi maupun wakaf. Dikumpulkan melalui konsep ekonomi berjamaah modern alias korporatisasi. Mengumpulkan modal melalui skema ekuitas, bukan utang. Mengumpulkan uang dari jutaan orang  untuk menjadi sebuah perusahaan berkapasitas produksi besar, efisien, dan menguasai pasar garam dunia. Seperti DSL-Rio Tinto. Garam!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup WA SNF Consulting atau Gabung Grup Telegram SNF Consulting 

Baca juga:
Ekonomi berjamaaah alias korporatisasi langkah demi langkah
Peternakan dengan ekonomi berjamaah
Pertanian dengan ekonomi berjamaah

*)Artikel ini ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting, pernah pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya, dengan judul “Garam” dengan ditambah dan diedit kembali

 

Sequoia: Jangan Jadi Entrepreneur Tanpa Ide Baru


Google, WhatsApp, Instagram, Apple, Dropbox, LinkedIn, YouTube, Cisco, Oracle, Airbnb, PayPal.  Anda kenal nama-nama ini? Jika tidak, mohon maaf, Anda adalah generasi masa lalu hehehehe. Ini adalah deretan perusahaan top dunia. Google atau yang kini rebranding nama perusahaannya menjadi Alphabet, adalah perusahaan terbesar ke 27 dunia dalam hal omset, laba, aset, dan kapitalisasi pasar. Omset perusahaan raja internet ini adalah USD 77,2 Milyar atau RP 1024T. Dengan omset itu, perusahaan besutan Larry Page dan Sergey Brin ini mengantongi laba USD 17 Miliar atau Rp 226T. Omset tersebut dicapai dengan aset senilai USD 149,7 Milyar (Rp 1987T). Dengan kinerja seperti itu, nilai pasar (seluruh saham) perusahaan yang melantai di New York Stock Exchange ini adalah USD 500,1 Milyar (Rp 6 639 T).

Saat menggunakan Google untuk mencari sebuah informasi di internet, Anda tidak pernah diminta membayar serupiah pun.  Anda baru akan diminta membayar kalau memasang iklan. Saat ada orang mengetik key word tertentu, iklan Anda akan dimunculkan. Sampai disitu Anda pun belum diminta untuk membayar. Baru setelah ada yang mengklik link iklan Anda, Google meminta Anda membayar.

Keberadaan Google memporak porandakan dunia  periklanan. Sebagai pelaku bisnis, saya masih merasakan dulu misalnya untuk memasang iklan spot ukuran panjang satu kolom tinggi 5 cm di sebuah koran dibutuhkan dana sekitar Rp 5 juta. Itupun hanya sekali tayang. Padahal untuk mempromosikan sebuah produk tentu tidak cukup sekali tayang langsung laris. Butuh beberapa kali tayang. Anggaran iklan ketika itu pun tinggi.

&&&

Sequoia. Itulah perusahaan yang dengan kapasitasnya “menemukan” orang seperti Larry Page dan Serge Brin pada tahun 1988 dengan ide barunya. Sequoia, sebuah perusahaan venture capitalist, sejak tahun 1972 mengasuh anak-anak muda dengan ide-ide baru. Google, Whatsapp, Instagram, dan nama-nama yang saya sebut diatas adalah sebagian kecil dari karya “anak asuh” Sequoia. Kini  banyak “anak asuh” itu telah membesar dan go public. Total nilai sekitar USD 1,4 Triliun atau Rp 18 585 Triliun.

Sequoia logo

Logo Sequoia

Google menyumbang Rp 6 639 Triliun dari angka itu. Dari komposisi pemegang sahamnya, pemilik YouTube ini bisa disebut perusahaan yang sudah “matang” alias sudah “jadi”. Ada dua kelompok pemilik saham Google yaitu individu dengan total 24,7% dan institusional dengan total 75,25. Lima pesaham institusional tertinggi adalah Vanguard (7,6%), BlackRock (6,6%), FMR (5,335%), State Street (4,62%), dan Price T Rowe (4,01%).  Kelimanya adalah perusahaan investasi. Google (Alphabet) adalah sebuah fully public company.  Tidak ada lagi pemegang saham pengendali.

Mengamati konsep bisnis Sequoia, bisa disimpulkan bahwa ada dua jalur karir bagi anak-anak muda USA. Yang pertama adalah bagi anak-anak muda yang punya ide “gila” seperti Brin dan Page pendiri Google itu. Anak-anak yang punya ide bisnis benar-benar baru akan diasuh oleh venture capitalist seperti Sequoia. Dibina dan disuntik modal sejak awal. Setelah cukup kuat, perusahaan didorong untuk terus berkembang dengan dana publik melalui lantai bursa. Dana publik ini dihimpun melalui perusahaan-perusahaan investasi seperti 5 pesaham institusional terbesar Google itu.

Jalur karir kedua adalah anak muda yang tidak memiliki ide bisnis baru. Jenis ini jumlahnya lebih banyak dan tidak kalah strategis. Mereka juga terdiri dari orang-orang pintar berkualitas kelas atas lulusan perguruan-perguruan tinggi top dunia. Kelompok kedua ini akan berkarir dan bekerja keras membesarkan perusahaan-perusahaan yang sudah ada.  Merekalah yang disebut corpopreneur. Hasil karya mereka, saat ini dari 2000 perusahaan terbesar dunia (berdasarkan omset, laba, aset dan kapitalisasi pasar), 540 berasal dari USA.  Sebagian besar adalah perusahaan-perusahaan gaya lama seperti McD, Coca Cola, Citibank, ExxonMobil, dan sejenisnya. Sebagian kecil adalah pemain baru seperti Google tadi.  Inilah yang menjadikan USA sebagai negara dengan PDB seperempat PDB dunia.

Logo SNF Consulting dengan tagline korporatisasi efek star

Korporatisasi adalah pertemuan antara entrepreneur dan corpopreneur

Dengan dua jalur karir pemudanya, USA saat ini merajai bisnis dunia. Kedepan pun, nampaknya USA akan tetap unggul.  Dengan banyaknya venture capitalist dan investment company raksasa nya, USA adalah bangsa yang paling serius menyemai dan menumbuhkan perusahaan perusahaan baru alias start up company.

Kita mesti belajar dari USA. Anak-anak muda yang punya ide baru mesti didorong menjadi entrepreneur dengan start up company. Sementara itu, yang tidak punya ide baru mesti didorong bekerja keras membesarkan perusahaan yang sudah ada. Dorong mereka berkarir sampai puncak yaitu menjadi CEO.  Juga beri kesempatan menjadi pesaham saat perusahaan melepas saham baru untuk memenuhi kebutuhan modal ekspansi pasar.

kid creative drawing

Kreativitas adalah jantungnya entrepreneurship

Yang tidak punya ide baru berperan membesarkan perusahaan yang ada agar menjadi kelas dunia. Yang punya ide baru didukung dengan bimbingan dan modal. Untuk itu kita butuh banyak investment company yang mengumpulkan dana ratusan ribu triliun dari masyarakat seperti Vanguard, BlackRock, FMR, State Street dan Price T Rowe yang menyuntik modal besar untuk Google. Kita juga butuh pengasuh anak-anak muda seperti Sequoia.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup WA SNF Consulting atau Gabung Grup Telegram SNF Consulting 

Artikel ini ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting, pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Korporatisasi: Fokus


Surabaya, 21 Februari 2017. Selepas sholat jamaah asyar di mushola lantai 17, saya segera kembali ke lantai 9.  Di ruang tamu SNF Consulting, kantor saya,  tiga orang telah duduk manis. Seorang ibu dengan dua putranya yang memang telah janjian melalui telepon. Bertiga akan  tentang bisnisnya yang menurutnya telah “memenjarakan” dirinya. Disebut memenjarakan karena sekeluarga semuanya harus full ngurusi bisnis. Ditinggal sedikit saya sudah eror.

Si ibu punya empat unit bisnis. Masing-masing bersifat ritel (langsung melayani end user). Bisnis pertama adalah toko obat. Ini adalah rintisan sejak awal. Melayani konsumen yang membeli obat bebas (obat non resep, OTC). Berada di sebuah kota kecil yang intensitas kebersamaannya tinggi, bisnis pertamanya ini memiliki pelanggan pelanggan loyal dan menghasilkan laba yang bagus.

Setelah memiliki uang yang cukup dari bisnis pertama, si ibu memutuskan membangun bisnis kedua  berupa apotek. Motivasinya adalah melengkapi bisnis pertama. Melayani konsumen yang kurang lebih sama yaitu warga sekitar yang membutuhkan obat dengan resep dokter. Bisnis kedua ini pun relatif lancar dan menghasilkan laba yang menyenangkan.

Berikutnya, laba dari bisnis obat, baik yang resep maupun non resep dikumpulkan dan kemudian digunakan untuk membuka bisnis baru berupa toko perlengkapan bayi (baby shop). Toko ini pun mendapatkan sambutan yang juga cukup  bagus dari pasar warga sekitar dan menghasilkan laba.

pengukir kayu edit

Fokus dibutuhkan untuk hadirnya sebuah karya besar. Korporasi yang memberi manfaat luas kepada umat manusia lintas bangsa adalah karya besar seorang entrepreneur pendiri perusahaan

Selanjutnya, laba dari ketiganya dipakai untuk bisnis baru lagi berupa klinik kecantikan. Sebuah bisnis yang sama sekali berbeda karakter dengan bisnis-bisnis sebelumnya yang hanya bersifat perdagangan. Klinik kecantikan membutuhkan layanan yang intensif. Bisnis ini pun menguntungkan hingga saat ini.

Masalahnya adalah beban pekerjaan. Si ibu, sang suami dan anak pertama yang sudah lulus kuliah setiap hari berkutat berbagi mengelola empat bisnis tersebut. Si suami mengelola toko obat dan apotek.  Hari-hari waktunya habis untuk operasional bisnis toko obat dan apotek-nya. Si anak sulung mengelola bisnis perlengkapan bayi. Si ibu mengelola bisnis klinik kecantikan. Masing-masing sudah menyita sebagian besar waktu keseharian.  Karyawan yang ada murni hanya menjadi pembantu. Tidak bisa dilepas tanpa kehadiran pemilik. Inilah masalah si ibu bersama keluarga dalam menjalani bisnis sehari-hari.

&&&

Pembaca yang baik, apa yang dilakukan oleh si Ibu dengan empat gerainya adalah bisnis perseorangan. Sebagai sebuah awalan, hal itu bukanlah masalah. Perusahaan besar manapun pada umumnya dimulai dari bisnis perseorangan dengan beberapa karyawan yang berfungsi murni hanya sebagai pembantu. Bahkan banyak yang dimulai sendirian. Single fighter.

Image result for apotek k24

Fokus tambah outlet: Dibutuhkan paling tidak sekitar 30 outlet yang dikelola sendiri untuk bisa dibangun sistem manajemen retail yang kuat seperti K24 ini.

Dengan bisnis sederhana seperti itu, uang dan kekayaan bisa diperoleh. Banyak orang punya rumah mewah, mobil mewah, pergi haji, menyekolahkan anak ke jenjang pendidikan tertinggi dan sebagainya dengan bisnis sesederhana itu.

Tetapi….jaman berubah. Satu demi satu bisnis perorangan tergusur oleh bisnis korporasi besar bermerek dan bersistem manajemen kuat. Yang kasat mata misalnya adalah bisnis ritel toko-toko kelontong di gang-gang kampung. Satu demi satu dipaksa tutup terkalahkan oleh jaringan minimarket dengan merek dan sistem manajemen kuat yang hadir dengan puluhan ribu gerai dimana-mana. Kalah karena tidak mampu memperoleh crowding effect. Kalah dalam perebutan SDM di era career choice effect.  Kalah dalam era monopolistik. Maka, yang dialami si ibu dengan dua anak di atas sebenarnya adalah sesuatu yang mesti dijawab dengan perbaikan. Perbaikan sistem manajemen adalah agenda paling mendesak.

ikan kecil ikan besar korporatisasi1

Fokus akan memungkinkan munculnya sebuah ikan besar.

Bagaimana melakukannya? Sistem manajemen itu bisa dianalogikan sebagai anyaman bilah-bilah bambu. Salah satu syarat utama anyaman adalah jumlah bilah bambu yang cukup. Satu, dua, tiga atau empat bilah bambu tentu tidak dapat dianyam. Anyaman baru akan kuat jika dibuat dengan  puluhan bahkan ratusan bilah bambu. Bilah-bilah bambu saling mengikat satu sama lain sehingga membangun sebuah anyaman yang kokoh awet.

62+ Gambar Rumah Gedek Bambu Terbaru - Gambar rumah

Sistem manajemen ibarat anyaman bambu vertikal dan horisontal

Analog anyaman, sistem manajemen baru bisa dibuat dengan baik jika ada karyawan dengan jumlah yang cukup untuk membentuk struktur organisasi dengan banyak level.  Ada banyak level jabatan dari pimpinan puncak sampai staf terbawah akan saling mengikat dengan standard operating procedure (SOP) untuk menjadi sebuah “anyaman”. Jika karyawan sedikit, tentu tidak bisa dibuat banyak level jabatan.

Sistem manajemen2

Tanpa fokus, akan sulit membangun sistem manajemen dengan level jabatan yang banyak.  Sistem manajemen belum terbentuk saat pendiri meninggal. Keberlangsungan bisnis terancam.

Bagaimana si ibu tadi bisa membangun sistem manajemen? Jika mau, si ibu harus memilih satu dari empat unit bisnisnya dan menjual 3 yang lain. Hasil penjualan 3 unit bisnis dipakai untuk membuat gerai baru untuk unit bisnis yang dipilih. Misalkan memilih klinik kecantikan, ia mesti menjual apotek, baby shop, dan toko obat. Hasil penjualannya dipakai untuk membuat 3 gerai klinik kecantikan baru. Dengan demikian ia akan memiliki 4 klinik kecantikan. Bertransformasi dari konglomerasi (multi bidang) menjadi fokus satu bidang.

tranformasi konglomerasi menjadi investment company3

Konglomerasi: saatnya bertransformasi

Dengan fokus, barulah bisa dibuat struktur organisasi yang walau masih sangat sederhana bisa “dianyam” dengan SOP untuk menjadi sistem manajemen dalam bentuk yang juga masih paling sederhana. Sistem manajemen paling sederhana seperti ini mustahil bisa dibuat pada sebuah jenis bisnis yang masing-masing hanya memiliki satu gerai seperti selama ini.

Hidup itu pilihan. Tetapi kita harus ingat bahwa waktu hidup itu terbatas. Untuk membangun perusahaan yang terus eksis dari generasi ke generasi dibutuhkan sistem manajemen yang cukup. Dan…waktu kita membangun sistem berpacu dengan datangnya ajal. Jika ajal datang sebelum sistem manajemen terbentuk, perusahaan akan kacau dan terancam hancur. Maka, bekerja keras untuk membangun satu saja perusahaan bersistem manajemen sebelum ajal menjemput adalah upaya stratejik untuk membangun amal jariyah. Perusahaan yang terus menerus menebar manfaat bagai umat manuisia berbagai bangsa.
ajal entrepreneur2

Pertanyaan sering muncul, bagaimana dengan nasihat “jangan letakkan telurmu pada satu keranjang”. Jangan salah persepsi. Nasihat itu bukan untuk bisnis. Bukan untuk pengelolaan sebuah perusahaan. Tetapi  untuk investasi. Penerapan prinsip  itu adalah pada sebuah  investment company.  Bukan untuk sebuah perusahan operasional alias operating company.
Penanda sejarah korporatisasi1

Pelajaran penting dari uraian di atas adalah…. Memilih dan menekuni satu bidang usaha lalu memperbesarnya dengan banyak gerai adalah prasyarat untuk dibangunnya sistem manajemen yang kuat.  Prasyarat untuk dilakukannya proses korporatisasi. Prasyarat untuk menang menghadapi persaingan bisnis dengan raksasa-raksasa global yang juga telah jauh lebih dahulu melakukan spesialisasi dan korporatisasi. Korporatisasi atau mati. Anda siap?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup WA SNF Consulting atau Gabung Grup Telegram SNF Consulting 

Tulisan dari Iman Supriyono, CEO SNF Consulting, ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya, dengan edit dan penambahan.

 

212: Buang Duit Versus Investment Company


Tujuh juta orang. Masing-masing menyetor seratus ribu rupiah tiap bulan dengan disiplin. Tiap bulan terkumpul Rp 700 Miliar.  Tiap-tiap tahun terkumpul 8,4 Triliun. Uang itu nilainya lebih besar dari harga 5,062 miliar lembar saham PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. (Sari Roti) yang harga perlembarnya saat ini berkisar pada angka Rp 1500 ini. Ya..angka itu lebih besar dari harga seluruh saham   (kapitalisasi pasar, nilai seluruh perusahaan) Sari Roti yang sebesar  Rp 7,5 Triliun.

212

Tujuh juta orang. Masing masing membutuhkan satu porsi nasi dan satu botol air minum untuk makan siang. Dengan harga nasi Rp 18 ribu per porsi dan air minum per botol Rp 2 ribu, ada potensi omset Rp 140  miliar untuk sekali makan. Ini adalah gambaran kumpulan 7 juta orang sebagai pasar. Tentu  masih ada banyak potensi lain.

Itu potensinya. Pertanyaannya adalah, bagaimana menjadikan potensi itu menjadi sebuah kenyataan? Ada beberapa informasi berseliweran melalui media sosial untuk menangkap potensi itu. Ada yang berencana mendirikan sebuah koperasi. Bahkan daftar pengurusnya sudah beredar pula di media sosial. Ada yang  berencana membuat minimarket atau supermarket. Koordinasi juga sudah dilakukan melalui pertemuan-pertemuan.  Ada yang akan membuat pabrik roti. Sama….informasinya juga sudah beredar secara deras melalui  media sosial dan grup-grup chatting. Itu yang informasinya masuk melalui gadget saya. Diluar itu mungkin masih akan banyak ide untuk menangkap potensi itu.

&&&

Vanguard Investment Company didirikan tahun 1975 oleh John C Bogie di Amerika Serikat. Bogie adalah orang yang sejak lulus kuliah menekuni bekerja di bidang investasi. Dengan keahlian pendirinya yang tidak diragukan di bidang investasi itu,  Vanguard meraih kepercayaan yang luar biasa dari para Investor. Saat ini, dalam usianya yang  ke 41, Vanguard dipercaya oleh lebih dari 20 juta orang untuk mengelola dana investasi senilai lebih dari Rp 40 ribu Triliun.

monas 212 edit

Monas saat aksi  212

Apa yang dilakukan perusahaan berkaryawan lebih dari 14 ribu itu?  Sebagaimana layaknya sebuah investment company, Vanguard menginvestasikan dana yang dikelolanya dengan konsep portofolio.  Menyebar risiko investasi pada berbagai instrumen investasi.

Jika beberapa waktu lalu Anda mendengar kabar tentang akuisisi Yahoo oleh Verizon, maka Vanguard berada di balik transaksi itu. kenapa? Vanguard adalah investment company dibalik berita itu. Vanguard adalah salah satu pemegang saham besar dari kedua perusahaan tersebut.  Di Verizon, Vanguard adalah pemegang saham terbesar  dengan 6,46%.  Pemegang saham lain persentase kepemilikannya lebih kecil. Di Yahoo, Vanguard pegang 5,73%. Saham di Yahoo ini adalah persentase terbesar kedua setelah  TCI Fund Management yang memegang 9,04% saham.

&&&

Pembaca yang baik, investment company adalah format yang paling cocok untuk mewadahi potensi ekonomi dari jutaan orang. Ada beberapa argumen untuk ini. Yang utama, investment company berfokus pada keamanan dana. Warren Buffett, salah satu dedengkot investment company global dalam laporan tahunan Berkshire Hathaway menyatakan bahwa sebuah investment company tidak tertarik dengan prospek. Investment company hanya tertarik pada kinerja. Maka, haram bagi sebuah investment company menanamkan uangnya pada perusahaan baru (start up) kecuali dalam porsi kecil. Umumnya tidak lebih dari 1% dari total dana kelolaannya.  Investment company  menanamkan nyaris seluruh uangnya pada perusahaan yang telah terbukti memiliki kinerja ekselen dalam jangka panjang.

Selain  memilih tempat investasi yang aman, sebuah perusahaan investasi mestilah menanamkan dananya pada banyak perusahaan dan banyak instrumen investasi. Menanamkan dananya sesuai dengan konsep portofolio. Jangan taruh telur pada satu keranjang. Demikian doktrin yang umum bagi sebuah perusahaan investasi. Itulah mengapa kepemilikan Vanguard di yahoo, verizon atau pun perusahaan lain berada dalam persentase yang kecil-kecil. Tidak memegang saham dominan apalagi pengendali.

Potensi pengumpulan dana Rp 8,4 Triliun dalam setahun seperti yang saya narasikan di awal tulisan ini masih bisa diperbesar. Jika Vanguard bisa mengumpulkan 20 juta investor dari 170 negara, semangat 212 bisa menjadi momentum untuk bisa melakukan seperti apa yang telah dilakukan oleh Vanguard. Mengumpulkan dana dari masyarakat luas dan kemudian digunakan untuk berinvestasi di sebagai perusahaan yang sudah terbukti mapan di pasar.

Salah satu yang bisa dibeli sahamnya adalah Sari Roti. Meneladani Utsman bin Affan yang atas perintah Rasulullah dulu membeli “saham” sebuah sumur di Madinah. Pembelian yang mengakhiri ketergantungan konsumen muslim ketika itu kepada sumur milik Yahudi. Selanjutnya, dengan meningkatkan jumlah orang maupun setoran dana investasinya, bukan hanya Sari Roti yang sahamnya dibeli. Masih ada ratusan perusahaan yang sahamnya mesti dibeli. Dan juga masih banyak perusahaan milik kaum muslim yang sudah lama eksis di pasar tapi masih kecil membutuhkan gelontoran dana untuk berekspansi dengan cepat. Perusahaan yang melakukan korporatisasi untuk bisa berekspansi dengan investasi lebih dari 5x laba.  Ini semua adalah pekerjaan sebuah investment company. Semoga semangat 212 bisa terwujud menjadi investment company raksasa. Seperti Vanguard.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup WA SNF Consulting atau Gabung Grup Telegram SNF Consulting 

Baca tulisan lain tentang investment company dan cara mendirikan investment companay dari nol

*)Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Catatan Maret 2020:
Gerai-gerai 212 mart bagaimanapun juga adalah sebuah start up. Butuh energi besar untuk merawatnya menjadi sebuah perusahaan besar dan mapan. Tidak sedikit yang saat ini mulai menunjukkan tanda-tanda kehabisan nafas. Ini yang  harusnya dikoreksi. Mestinya dulu tidak membuat perusahaan atau brand baru seperti 212 mart itu. Besarkan saja brand yang sudah ada seperti Sakinah yang didirikan oleh Pesantren Hidayatullah atau Basmallah yang didirikan oleh Pesantren Sidogiri. Saatnya membangun investment company untuk membesarkan Sakinah, Basmalah, dan perusahaan-perusahaan milik umat yang lain. Tidak perlu membuat yang baru. Bahkan pada saatnya nanti bisa membiayai start up sekelas Gojek atau Traveloka dengan aman. Agar start up kita tidak dikuasai asing. Mari bekerja keras untuk kejayaan umat dan bangsa di kancah percaturan bisnis antar bangsa yang suasananya mirip pertandingan sepak bola ini.

Jahiliah atau Ilmiah?


Jahiliah: butuh bukti fisik luar biasa dan diluar nalar (mukjizat, seperti mukjizat banjir bandang zaman Nabi Nuh) untuk meyakini, berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Ilmiah: cukup dengan ilmu (dengan karakter prediktif yang melekat padanya) orang sudah bisa yakin, berbuat atau tidak berbuat sesuatu.

Maka, ketika ilmu kedokteran, agama, dan keuangan misalnya menyatakan bahwa merokok itu buruk, orang ilmiah sudah meninggalkan rokok. Ketika ilmu kedokteran menyatakan bahwa olahraga adalah wajib untuk menjaga kesehatan, orang ilmiah sudah langsung disiplin berolahraga. Ketika ilmuwan manajemen menyatakan bahwa menjalankan perusahaan sesuai kurva korporatisasi adalah keharusan, seorang pimpinan perusahaan yang berjiwa ilmiah langsung melakukan proses korporatisasi.

Kalau yang masih jahiliah? butuh mukjizat sekelas banjir bandang Nabi Nuh untuk tidak merokok atau disiplin berolahraga atau melakukan korporatisasi.

Bagi Anda yang muslim, ini juga bisa menjelaskan perbedaan antara mukjizat Nabi Muhammad SAW yaitu berupa Al Qur’an (yang berupa teks ilmiah), berbeda dengan mukjizat nabi-nabi terdahulu seperti menghidupkan orang mati pada nabi Isa, dibakar tidak mempan nabi Ibrahim, atau membelah laut pada Nabi Musa. Itulah kenapa Nabi Muhammad SAW selalu disebut mengubah dari jaman jahiliyah menjadi zaman terang benderang (ilmiah) di berbagai ceramah, pidato maupun tulisan. Anda bisa menangkapnya kan?

Pingin sukses? Ingin menguasai ekonomi? Pingin ekonomi tidak dikuasai asing? Pingin badan tidak kegemukan? Pingin berkuasa? Pingin masuk surga? Pingin punya perusahaan besar? Atau pingin apa saja? Semua ada ilmunya.

Masalahnya satu saja:
Anda jahiliyah atau ilmiah?

Mau lebih mantap? Mau menguji keilmiahan? Baca juga ini: jahiliah atau ilmiah di jalan toll

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup WA SNF Consulting atau Gabung Grup Telegram SNF Consulting 

Tulisan ini adalah pengembangan dari tulisan yang diposting di account FB penulis setelah diedit kembali dan diunggah ulang di web ini.

Investasi Saham: Garden Palace


Tidak jauh dari kantor saya, berdiri sebuah hotel megah. Hotel berbintang empat dengan 370 kamar.  Salah satu Hotel di jantung kota Surabaya yang mampu menampung ratusan tamu. Tentu lengkap dengan fasilitas ruang pertemuan yang sesuai.  Cocok untuk acara-acara besar yang menghadirkan ratusan orang. Satu dari tidak banyak hotel yang berkapasitas seperti ini.

Maka tidak heran jika beberapa bulan lalu kawan kawan majelis ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar pertemuan nasional di kota pahlawan, hotel berlantai 24 ini dipilih menjadi rujukan. Mantap karena ruang pertemuannya bisa menampung hingga 600 orang. Saya pun senang karena untuk datang ke acara tersebut tidak perlu buang waktu banyak di jalan. Tinggal geser beberapa menit jalan kaki.

Siapa yang diuntungkan dengan pemilihan hotel yang berdiri sebagai perusahaan sejak tahun 1970 tersebut? Yang jelas panitia beruntung karena menemukan tempat yang nyaman. Para peserta dapat menghadiri salah satu sesi acara tersebut di Grahadi cukup jalan kaki. Apalagi jalur pejalan kakinya juga nyaman berkeramik rapi indah dinaungi pepohonan rindang.

Siapa lagi yang beruntung? Tentu saja pihak perusahaan pemilik hotel tidak jauh dari balai kota Surabaya itu.  PT Mas Murni Indonesia Tbk., itulah pemilik dan pengelola hotel yang juga memiliki unit bisnis resto dan developer perumahan tersebut. Dalam laporan tahunan terakhir, perusahaan yang saham terbesarnya dipegang oleh PT Asabri (persero, memegang 20% saham) ini mencatatkan omset sebesar Rp 78 Milyar dengan laba 2 Milyar. Walau tidak istimewa, dalam 3 tahun terakhir perusahan yang di lantai bursa tercatat dengan kode MAMI ini selalu mencatatkan laba.

Itulah gambaran hotel yang sahamnya 43% dipegang masyarakat itu.  Nah, coba tebak berapa harga seluruh sahamnya? Saat pertanyaan ini saya lempar di sebuah forum, jawabannya beragam. Ada yang menjawab skala Triliun bahkan belasan Triliun. Ada yang menjawab ratusan milyar. Ada yang menjawab puluhan Milyar. Berapa jawaban yang tepat? Berdasar laporan tahunan 2015, ada 3,3 milyar lebih lembar saham yang beredar. Harga saham per lembar pada hari ini adalah Rp 50,-. Maka, jika dikalikan, ketahuilah bahwa harga seluruh saham adalah Rp 165 Miliar lebih. Angka ini jauh dibawah aset bersih (ekuitas) perusahaan yang sebesar Rp 597M.

$$$

“Assalamualaikum Wr. Wb. Pada majalah Al Falah edisi 339 bulan Juni 2016 saya membaca artikel finansial yang ditulis oleh Bpk. Iman Supriyono yang membahas masalah saham. Saya tertarik tapi saya sama sekali buta dengan hal tersebut. Bagaimana cara memulainya dan dari mana memulainya. Saya sama sekali tidak paham. Bagaimana saya bisa mendapatkan penjelasannya? Atas bantuan dan perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamualaikum Wr. Wb”,  itulah email dari Yusef Kartika Sari, pembaca tulisan saya beberapa waktu lalu. Sebuah pertanyaan yang mewakili kondisi masyarakat awam yang memang pada umumnya tidak memiliki dan tidak paham tentang saham.

Untuk bisa membeli saham sebuah perusahaan terbuka, yang pertama kali harus dilakukan adalah datang dan mendaftar ke perusahaan sekuritas. Ada banyak alternatifnya seperti BNI Securities, Mandiri Securities, MNC Securities, Phintraco Securities dan masih banyak lagi. Ada beberapa syarat administrasi yang harus dipenuhi disamping uang deposit minimal dengan jumlah tertentu yang besarnya berbeda-beda antara tiap perusahaan. Uang tersebut akan disimpan di sebuah rekening bank atas nama Anda dan kemudian akan digunakan untuk bertransaksi membeli saham.  Juga untuk menampung dana jika Anda menjual saham atau menerima dividen. Perusahaan sekuritas juga akan memberikan user ID dan password untuk mengakses web untuk bertransaksi membeli dan menjual saham.

Pertanyaannya, saham apa yang mesti dibeli? Untuk menjawab ini, Anda mesti belajar membaca laporan keuangan perusahaan.  semua perusahaan publik laporan keuangan triwulanan dan tahunannya tersedia untuk umum.  Belajarnya dapat dilakukan dengan mudah  melalui internet. Atau jika merasa tidak cukup dengan internet, Anda bisa mengikuti program-program workshop atau kursus singkat tentang hal ini.

Room boy

Memiliki saham artinya berkontribusi modal bagi sebuah perusahaan

Apa yang yang diperoleh dengan memiliki saham? Yang pertama adalah hak suara dalam keputusan penting perusahan.  Karena pemegang saham adalah pemilik perusahaan, Anda akan menerima undangan setiap ada rapat umum pemegang saham. Di forum tertinggi perusahaan ini, Anda akan memiliki hak suara sesuai proporsi kepemilikan saham dalam menerima/menolak laporan keuangan, memilih direksi, memilih komisaris, dan penggunaan laba, termasuk dividen yang akan dibagikan.

Yang kedua adalah manfaat finansial.  Setiap  tahun pemegang saham akan menerima dividen sesuai keputusan RUPS yang ditransfer ke rekening investasi. Bukan hanya itu, jika perusahaan bagus maka harga saham akan meningkat. Jika dijual, akan ada selisih antara harga beli dengan harga jual. Selisih yang biasa disebut sebagai capital gain inilah yang akan dinikmati oleh para investor.

Salah satu alternatif perusahaan yang sahamnya bisa dibeli adalah Garden Palace hotel yang saya ceritakan diatas. Cukup Rp 50 per lembar atau Rp 5000 per lot sebagai satuan terkecil pembelian saham. Karena harga Rp 50 per lembar adalah harga terendah di lantai bursa, perusahaan selalu laba, dan nilai seluruh sahamnya  masih jauh dibawah nilai aset bersih, besar kemungkinan kelak harganya akan naik dan Anda bisa menikmati capital gain.  Tertarik?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca Juga: Halal Haram Saham

Ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting