Pemerintah Yang Menenggelamkan Rumah Rakyatnya


Pagi tadi saya ada agenda meeting klien kantor saya, SNF Consulting. Lokasi meeting berada di kawasan Sedati, Sidoarjo. Meeting dijadwalkan dimulai jam 9 pagi. Tepat waktu adalah corporate culuture SNF Consulting. Maka, karena ada informasi adanya proyek perbaikan jalan di kawasan Sedati, saya sudah mempersiapkan berangkat 75 menit sebelum acara dimulai. Waktu yang sudah saya cek berdasarkan perkiraan Google Map. Itu pun sudah saya lebihi. Perjalanan normal hanya butuh waktu sekitar 45 menit.

Malang. Ternyata terjadi kemacetan luar biasa. Jam 09.27 saya baru tiba di kantor klien. Saya amati, penyebabnya adalah para pengendara motor yang cenderung tidak mau antri dengan baik. Saling serobot. Mendahului kendaraan  lain menggunakan ruang yang mestinya untuk kendaraan arah sebaliknya. Jadilah macet parah.

Sepanjang menunggu jalan macet di belakang kemudi, pikiran saya tertuju pada proyek yang memacetkan itu. Sebuah proyek pembetonan jalan. Sebagai orang yang pernah mengemnyam pendidikan insinyur, ada sesuatu yang mengganjal dari proyek itu. Pengecoran dilakukan dengan meninggikan badan jalan sekitar 30-40 cm. Selokan di kiri kanan jalan pun mengikuti. Tinggi bibir selokan sama dengan ketinggian jalan.

Maka, seluruh rumah di kiri kanan jalan menjadi lebih rendah dari badan jalan. Juga lebih rendah dari selokan. Maka, mereka mau tidak mau harus ikut meninggikan lantai rumah lebih tinggi dari badan jalan baru. Jika tidak rumah mereka akan kebanjiran saat musim penghujan. Praktis kira-kira harus meninggikan lantai rumah sekitar setengah meter.

Saya cek di Google Map, panjang ruas jalan yang dicor dengan proyek tersebut adalah sekitar 4,3 km. Jika persil di kiri kanan jalan rata-rata lebarnya adalah 10 meter, maka akan ada 860 rumah terdampak langsung. Belum yang berada di belakang yang terdampak langsung tersebut.

Masih ada dampak yang tidak ternilai. Di ruas jalan ada beberapa masjid yang secara fisik bangunannya berusia sudah tua. Sudah memiliki nilai sejarah. Dengan peninggian badan jalan, masjid pun jadi tenggelam. Untuk menanggulanginya masjid harus direhab total. Bangunan lama dihancurkan diganti dengan bangunan baru. Maka, nilai kesejarahan masjid akan hilang.

Pemerintah tidak boleh mengambil kebijakan yang merugikan rakyat banyak.

Coba kita hitung, jika satu rumah harus mengeluarkan dana Rp 200 juta untuk meninggikan rumah, untuk 860 rumah tersebut dibutuhkan dana Rp 172 miliar. Besar sekali. Bandingkan misalnya dengan anggaran untuk peningkatan seluruh jalan di kabupaten Sidoarjo tahun 2019 hanya 150 miliar. Biaya yang harus ditanggung masyarakat terdampak jauh lebih besar dari pada anggaran pemerintah. Pertanyaannya, apakah dampak seperti itu tidak dipikirkan? Apakah tidak ada analisis AMDAL?

Hal serupa pernah saya amati terjadi pada rumah pahlawan HOS Cokroaminoto yang berada di jalan Ngagel Jaya, Surabaya. Rumah pahlawan itu kini tenggelam oleh jalan Ngagel Jaya yang terus menerus ditinggikan.

Rumah saya sendiri pun terdampak hal serupa. Saya sudah protes ke pemkot Surabaya saat proyek berjalan. Sudah menulis surat ke walikota sebagaimana yang disarankan oleh staf di pemkot. Tapi proyek tetap saja berjalan dan rumah saya bernasib seperti rumah HOS Cokroaminoto.  Untungnya beberapa tahun belakangan ini pemerintah kota surabaya sudah mengoreksi kebijakan peninggian jalannya. Jadi rumah pahlawan itu tidak makin tenggelam. Moga rumah saya juga tidak makin tenggelam.

Dulu perbaikan aspal jalan dilakukan dengan menumpuki aspal yang rusak dengan lapisan aspal baru di atasnya. Otomatis badan jalan akan terus-menerus meninggi. Menenggelamkan bangunan di kiri kanan jalan. Kini cara itu dikoreksi. Perbaikan lapisan aspal jalan dilakukan dengan mengerok lapisan aspal yang rusak dengan mesin khusus.  Setelah itu baru diganti dengan lapisan aspal baru. Ketinggian jalan tidak berubah dengan perbaikan jalan. Jalan yang langganan banjir diatasi dengan memperdalam selokan di kiri kannnya menjadi sekitar 2 meter. Bukan dengan meninggikan badan jalan. Sebuah koreksi yang bagus walaupun sudah terlambat.

&&&

Anda pengambil keputusan proyek jalan? Ayo peduli terhadap nasib rakyat terdampak. Pedulikan bangunan-bangunan bersejarah terdampak. Biaya yang ditanggung rakyat terdampak bahkan lebih besar dari pada anggaran pemerintah untuk peninggian jalan itu. Andai proyek yang sudah jadi itu dikoreksi dengan pembongkaran dan mengembalikan ketinggian badan jalan seperti sedia kala, itu akan lebih baik. Biaya koreksi masih jauh lebih murah dibanding biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat terdampak. Apalagi dampak terhadap gedung bersejarah. Nilainya tidak terhitung. Mari kembali pada hati nurani. Agar tidak ada lagi pemerintah yang menenggelamkan rumah rakyatnya. Aamin.

Klik untuk bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga tulisan lain tentang Investment Company:

Kemustahilan Jokowi: Bunga Bank 3% Tanpa Investment Banking
Pandemi dan Dekorporatisasi BUMN
Investment Company BUMN
Investment Company berbasis lembaga keagamaan
Peran Investment Company untuk kemerdekaan ekonomi
Korporatisasi butuh Investment Company

Artikel ke-354 karya Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya pada tanggal 30 Oktober 2021

4 responses to “Pemerintah Yang Menenggelamkan Rumah Rakyatnya

  1. Memperdalam selokan/parit tdk ada artinya jika sampah masih saja dibuang seenak udel & sesuka hati. Jadi solusi instan yang bertahan agak lama dan hemat anggaran, adalah meninggikan badan jalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s