Ummi, sejak awal kita sepakat bahwa pernikahan bukan hanya antara kau dan aku. Lebih dari itu, pernikahan ini adalah antara keluargaku dan keluargamu. Dan untuk ini, abi benar-benar bersyukur memilikimu. Kau pandai menjalin persaudaraaan dengan kakak adikku. Kau cakap berinteraksi dengan ayah ibuku.
Karena kau perempuan, tentu saja interaksi dengan saudara-saudaraku yang perempuanlah yang lebih menonjol. Dan karena kedekatan tempat tinggal, yang paling kompak tentu saja dengan adik perempuanku si nomor 4 yang rumahnya tidak sampai sejam perjalanan bermobil dari rumah kita. Kau biasa memanggilnya dengan panggilan sayang anak-anakmu kepada adikku itu, Amah Bud.
Sesungguhnya, kedekatan itu sudah kau bangun sejak Amah Bud kuliah. Kebetulan dia adalah adik kelas kita di ITS. Adik kelas sangat jauh. Selisih 9 tahun dengan kita. Karena kita juga tinggal di kawasan tidak jauh dari kampus kita itu, maka, jadilah Amah Bud praktis seperti “ikut” kita saat kuliah.
Apalagi masuknya ke ITS pun atas arahan dan bimbingan kita. Mulai dari pemilihan jurusan sampai bagaimana belajar mempersiapkan diri untuk bisa tembus ujian masuknya. Praktis selama proses pembelajaran juga rajin berdiskusi dengan kita. Bahkan saat menulis tugas akhir alias skripsi untuk kelulusannya pun berdiskusi dengan kita. Aku masih ingat di Jurusan Biologi itu ia membuat tugas akhir tentang obat nyamuk.
Kedekatan Amah Bud denganmu itu kau wariskan dengan sempurna ke anak-anak kita. Jika sedang ada masalah, anak-anak kita itu mengadu kepada amah Bud seperti mengadu kepada ibunya sendiri. Bahkan ketika masalah itu begitu berat dan mereka perlu bantuan orang lain diluar bapak ibunya, Amah Bud adalah tempat yang nyaman bagi mereka untuk mencurahkan masalahnya.
Bukan hanya kau yang merasa dekat dengan amah Bud. Tetapi juga sebaliknya. Amah Bud juga merasa sangat dekat denganmu. Ini jelas terbaca pada saat adikku itu dilamar seorang pemuda. Ketika itu, dia mantap bulat untuk menyerahkan keputusannya kepadamu. Adikku percaya penuh pada ketajaman jiwamu. Pada kekuatan hatimu. “Jika menurut mbak Anni iya aku akan memutuskan iya. Jika mbak Anni tidak, aku akan menolaknya”. Demikian sikapnya.
Kau bersama dua adik perempuanku
Setelah mempertimbangkannya dengan seksama, kau memutuskan iya. Subhanallah, ayahku, ibuku, aku, kakakku, adik-adikku semua percaya kepada keputusanmu. Dan itulah yang dijalani oleh Amah Bud hingga kini. Kini dua buah hati nan cantik shalihah terlahir dari pernikahan yang keputusannya didasarkan pada ketajaman hatimu itu. Semoga keputusan itu akan mengantarkan keluarga Amah Bud untuk juga mengikuti jejakmu kelak ketika sewaktu-waktu dipanggil-Nya. Menghadap-Nya dengan cara yang indah. Menyebut nama Sang Khaliq pada kalimat terakhirnya. Menghadap-Nya dengan wajah berseri-seri. Pada hari Jumat yang di agama kita adalah penanda husnul khotimah. Aamin.
Kau ringan sekali membantu adikku itu manakala ia membutuhkan. Saat-saat kau sudah sakit berat dan adikku itu ada masalah, kau dengan ringan hati bersamaku datang ke rumahnya. Kau turun dari mobil dengan berat untuk naik ke undak-undakan di depan rumahnya itu. Dengan penderitaan sakit yang sebenarnya tak tertahankan. Ragamu terasa berat. Tetapi hatimu terasa ringan untuk membantunya. Kau adalah kakak sejati baginya.
Sebaliknya, saat-saat sakitmu, adikku itulah orang yang paling banyak membantuku merawatmu. Mengantarmu ke rumah sakit dan gantian denganku menjagamu. Mengurusi penyewaan ranjang pasien untukmu ketika kau minta keluar dari rumah sakit dan memilih perawatan di rumah. Mencarikan tenaga profesional untuk perawatanmu di rumah. Dan tentu saja menjaga Jo dan kakak-kakaknya agar tetap dalam kondisi baik dalam segala hal manakala kita berdua tinggal di rumah sakit.
Saat-saat sakitmu makin memberat, adikku itulah yang menjadi temanku mengambil berbagai keputusan penting tentangmu. Mengambil keputusan-keputusan penting tentang perawatanmu pada detik-detik terakhirmu berada di dunia ini. Dan akhirnya, air mata adikku itupun meleleh deras manakala kau pergi. Larut bersama air mata anak-anakmu. Larut bersama air mataku. Kau pergi dipangkuanku, di pangkuan anak-anakmu, dan di pangkuan adikku itu.
Dalam kondisiku galau sepeninggalmu, adikku itu yang membesarkan hatiku. Disampaikanya bahwa kau telah meninggalkan dunia dengan cara yang sangat baik. “Justru kita yang ditinggalkan ini yang tanda tanya. Bisakah kita meninggal dunia dengan amal jariyah sebanyak yang Mbak Anni telah lakukan? Bisakah kita meninggal dengan cara yang sangat indah seperti Mbak Anni?”. Subhanallah. Ummi, air mataku kembali meleleh deras saat sepuluh jemariku menulis obituari kedelapan untukmu ini. Allahumarhamha. Duhai Dzat yang menggenggam jiwaku, berilah aku husnul khotimah saat Engkau takdirkanku menyusul almarhumah kelak. Berikan juga itu untuk anak-anakku. Pula untuk adikku itu. Aamin yaa Rabb.
*)Artikel ke-305 karya Iman Supriyonoini ditulis kantornya di Surabaya pada tanggal 14 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari kedelapan untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020.Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.
Ummi, kita memulai kehidupan bersama dari nol. Kau mahasiswi semester 7. Aku mahasiswa semester 7 juga. Sama-sama di kampus ITS. Sebuah kampus yang sangat kita nikmati lingkungan egaliter dan apa adanya. Tidak perlu jaim. Itu semua menjadikan kau dan aku biasa hidup sederhana.
Tetapi hidup sederhana itu sejatinya adalah jiwamu sejak kanak-kanak. Sejak kelas 1 SD kau sudah terpisah dari orang tua. Praktis kau sudah biasa pegang uang saku pribadi dari orang tuamu. Itupun nilainya pasti terbatas karena kondisi ekonomi ketika itu. Kesederhanaan itu adalah kamu.
Ummi, kesederhanaan adalah kamu. Adalah jiwamu sejak kecil. Bersamaku, kesederhanaan itu kau tampilkan dengan begitu baiknya. Kesederhanaan yang merupakan pilihan hidup. Kesederhanaan yang dilakukan dengan kesadaran penuh. Kau pilih secara sadar dengan percaya diri. Itu yang kusuka. Itu yang kau mau. Itu yang kumau.
Bersamaku, jiwa itu kau munculkan dalam aneka kreasi penghematan. Sulung kita hafal betul menu mujair belek. Mujair adalah ikan yang semua orang kenal. Belek adalah bahasa jawa yang artinya belah. Mujair yang dibelah menjadi dua bagian tipis-tipis. Pada masa awal kebersamaan kita sebagai mahasiwa, kita tetap konsen dengan gizi untuk anak-anak. Kita ingin mereka menjadi generasi yang cerdas otaknya, kuat fisiknya, dan tentu saja kokoh dalam ketakwaannya. Nah, kebutuhan gizi itu kau penuhi dengan cara yang sangat berhemat.
Mujair adalah ikan yang populer. Ikan tambak. Rumah kita memang tidak jauh dari kawasan tambak pantai timur Surabaya. Maka awal-awal pernikahan kita mujair adalah menu populer nomor satu. Kau suka beli yang ukuran kecil sehingga harganya murah. Mujair itu kemudian kau belah tipis menjadi dua. Kau goreng kering sehingga bisa dinikmati sebagai ikan krispi dengan harga super murah. Tentu lengkap dengan sayur dan buah buahan yang juga bergizi tinggi nan sederhana.
Mujairnya murah. Mujair ukuran kecil lebih murah lagi. Dan kau bisa membelinya dengan lebih lebih lebih murah murah murah lagi dengan kemaduraanmu. Pedagang ikan di pasar pagi sekitar kita umumnya orang Madura. Kau membeli dengan bahasa Madura yang bagimu adalah bahasa ibu. Tentu para pedagang itu langsung menyikapimu sebagai tretan tibi alias sudara sendiri. Harga pun jatuh. Muraaah….
Nah, mujair hanya salah satu yang populer. Masih banyak ikan laut lain yang kau bisa beli dengan harga super murah. Itu tadi, kau beli yang ukuran kecil yang orang-orang sudah tidak suka. Belinya di tretan tibih. Jadilah anak-anak kita kaya protein. Jauh sebelum orang orang berkampanye makan ikan laut. Dan kini kita menikmatinya dengan prestasi akademik anak-anak kita yang membanggakan. Kita menikmatinya dengan kesehatan fisik mereka yang membahagiakan.
&&&
Ummi, biaya sekolah adalah sesuatu yang menyedot anggaran tinggi pada keluarga modern ini. Begitu juga keluarga kita. Apalagi kita pasang target yang tinggi. Kita ingin anak kita sejak SMA sudah sekolah di luar negeri. Kita melarang anak-anak kita kuliah sarjana di dalam negeri. Disitu jiwa sederhanamu muncul. Disitu jurus penghematanmu keluar.
Sebagian besar anakmu kau sekolahkan di SD negeri yang terjangkau bersepeda pancal dari rumah. Sekolah negeri nyaris tanpa biaya. Pelajaran agamanya kau cukupi sendiri sebagai guru Al-Qur’an. Antar jemputnya naik motor. Terlalu ribet kalau harus naik mobil. Kita hanya mengantar mereka naik mobil kalau pagi hujan deras. Naik motor hemat dan tidak ribet. Apalagi jaraknya dekat. Jalan kaki pun masih terjangkau. Jalan kaki itu yang dilakukan anak-anak kita kalau kondisi emergency.
Dan masih ada lagi pilihan hidupmu terkait motor dan mobil untuk keluarga kita. Untuk kau dan aku. Sepanjang 27 tahun kebersamaan kita, sudah tak terhitung berapa motor dan mobil yang pernah kita beli. Tapi sepanjang itu pula kita sama sekali tidak pernah membeli motor atau mobil baru. Kita selalu membeli yang tangan kedua. Motor dan mobil second hand. Kita suka pilih motor dan mobil yang berusia beberapa tahun. Harganya jauh lebih murah dari pada beli baru. Kualitasnya kita pilih yang masih standar seperti baru Pelajaran keinsinyuran mesinku dari ITS masih berguna untuk memilih motor atau mobil second yang kualitasnya baik.
Ummi juga nyaris tidak pernah memberi uang saku kepada anak-anak. Aku sangat mendukung itu. Kau ajari anak-anak untuk makan pagi yang cukup. Lalu ke sekolah bawa bekal makanan dari rumah. Makanannya kau kontrol kesehatan dan nilai gizinya. Jadilah ini penghematan dan sekaligus higienis.
Makanan sederhana, praktis, kaya gizi, dan tentu dijamin halal. Tentang ini junior kita pernah menulis di media sosial pengalaman hidupnya. Dalam suasana mudik idul fitri kita pernah jalan-jalan semobil di hutan-hutan lereng gunung Wilis. Di perjalanan kita bersama menikmati pecel pincuk daun pisang di sebuah warung kecil. Nikmat luar biasa. Apalagi bagi lidahku yang aseli Madiun ini. Begitu nikmatnya, sampai kita lupa menghitung sebiji pisang goreng yang kita makan. Dan malangnya, kita ingatnya ketika sudah tiba di rumah di Surabaya.
Maka, kita diskusikan itu dengan anak-anak. Dan kita sepakati dengan anak-anak rencana kita tahun depan saat mudik idul fitri. Kita akan kembali lagi ke warung itu. Untuk menikmati pecel lagi dan membayar sebiji pisang goreng yang kita lupa membayarnya. Dan idul fitri tahun berikutnya, kita jalankan rencana itu dengan baik. Anak-anak kita mencatatnya sebagai pelajaran tentang menjaga agar yang masuk ke mulut kita terjaga 100% halal. Bahkan untuk sebiji pisang goreng yang harganya tak seberapa.
Hasilnya, kau dan aku benar-benar bersyukur manakala mendengar sulung kita yang bekerja sebagai procurement di sebuah perusahaan multinasional. Dia cerita bagaimana para pemasok selalu menawari fasilitas ini dan itu. Menawari uang. Dan kita bersyukur bahagia bahwa semua tawaran itu ditolaknya dengan baik. Junior kita yakin tanpa ragu bahwa itu bukan haknya sebagai pegawai seorang karyawan. Dia bisa tampil kokoh mewakili perusahaan untuk mendapatkan harga terbaik. Anti menerima fasilitas dari pemasok. Bosnya begitu senang dan bangga dengan junior kita. Kisah sebiji pisang goreng itu selalu dikenangnya.
&&&
Biaya baju keluarga adalah contoh lain caramu berhemat. Cara lain ekspresi kesederhanaanmu. Apalagi kalau hari raya. Membeli baju untuk anak-anak sebanyak anak kita tentu mahal. Apalagi kau dan aku masih mahasiswa. Saat aku masih merintis berkarir sebagai seorang entrepreneur. Itu yang kau antisipasi dengan sangat cerdik. Saat anak-anak kita masih kecil-kecil, kau memutuskan ikut kursus menjahit. Bukan kursus untuk menjadi seorang pebisnis busana. Tapi kursus dalam rangka berhemat. Kau ikuti kursus itu sampai kau punya ketrampilan menjahit yang cukup.
Mesin jahit bekas: caramu berhemat sebagai ekspresi jiwa sederhanamu. Allahummarhamha
Langkah selanjutnya adalah membeli mesin jahit bekas di Pasar Turi ketika itu. Sekali lagi ini bukan untuk bisnis. Kau hanya mau menjadi guru Al-Qur’an. Kau tidak mau berbisnis atau bekerja apapun. Mesin jahit itu kau gunakan untuk membuat sendiri baju-baju untuk anak-anak. Maka, jika orang-orang umumnya membeli baju untuk anak-anaknya, kau membeli kain. Membelinya pun di toko kain yang terkenal murahnya itu. Toko kain kiloan di Kertajaya itu.
Kau juga tidak mau belajar menjahit model macam-macam. Hanya model dasar gamis polos. Variasi hanya mengandalkan warna dan motif kain. Tanpa model busana berlebih walau akhirnya aku mengganti mesin jahit sederhana itu dengan yang modern dan bisa menjahit motif macam-macam. Mana sempat kau belajar untuk itu. Mana sempat kau melakukannya. Waktumu lebih banyak kau curahkan untuk menjadi guru Al-Qur’an. Sebuah karir pilihanmu yang aku dan anak-anakmu yakin menyebabkanmu meninggalkan dunia ini dengan sangat indah. Kata-kata terakhirmu menyebut nama Tuhanmu. Wajahmu berseri-seri saat aku menutupnya dan mengangkat ragamu menuju masjid untuk disholatkan.
Model baju gamis panjang standar itu ternyata menjadi kebiasaan keenam anak perempuanmu. Anak-anak kita. Mereka juga tidak pernah nampak mengenakan baju model macam-macam. Persis seperti kau sebagai ibunya. Sederhana. Percaya diri dan nyaman dengan kesederhanaan itu.
&&&
Percaya diri dengan kesederhanaan itu ternyata juga terbawa ke berbagai aspek kehidupan. Percaya diri dengan bekal makan dari rumah menjadikan anak anak kita memanfaatkan waktu istirahatnya bukan ke kantin. Tetapi ke perpustakaan. Makannya cukup menikmati dari kotak yang dibawanya dari rumah. Sudah biasa hidup berbeda dengan sebagian besar kawan-kawannya.
Kebiasaan hidup berbeda itu benar-benar kita nikmati saat menikahkan sulung kita. Jika orang suka menikahkan anaknya dengan mengangkat tema kemegahan ala ratu dan raja, kita tidak. Kita dan si sulung memilih mengangkat tema kesakralan sebuah pernikahan suci. Kita rancang prosesi pernikahan anak kita dengan detail. Undangan kepada mereka kita sampaikan sepenuhnya melalui media elektronik lengkap dengan link konfirmasi kehadiran melalu google doc. Hemat biaya cetak undangan. Jumlah yang hadir pun sudah pasti. Di undangan sudah tertulis run down acara menit demi menit. Total persis satu jam. Kita eksekusi itu semua dengan tepat on time.
Sesuai run down di undangan, jam enam pagi kita sekeluarga sudah di pintu masjid. Tidak ada buku tamu. Tidak ada kotak amplop. Tidak ada petugas penerima tamu. Penerima tamunya adalah kau, aku dan semua anak-anak kita. Kita berikan big hug kepada tamu-tamu itu. Tamu laki laki denganku. Tamu perempuan denganmu. Banyak diantara mereka yang datang sekeluarga bersama anak-anak mereka. Memang kita mengundang mereka sekeluarga. Bukan hanya ayah ibunya. Sekaligus sebagai media rekreatif keluarga mereka.
Setelah itu tamu-tamu langsung kita persilahkan masuk masjid. Melalui undangan kita mohon mereka yang muslim untuk melaksanakan sholat dhuha. Sambil menunggu kedatangan tamu lain dan acara ijab kabul dilaksanakan.
Sesuai undangan jam 7 pagi persis rangkaian acara ijab kabul dimulai. Sesuai undangan juga jam 8 persis acara ijab kabul berakhir. Undangan kita persilahkan langsung menikmati menu makan pagi sederhana. Jumlahnya diperkirakan cukup untuk seluruh undangan yang telah mengkonfirmasi kehadirannya melalui google doc. Nasi krawu bungkus daun pisang, nasi cumi Madura, nasi jagung, pisang rebus, kacang rebus, jadah alias tetel, wajik dan aneka panganan tradisional lain. Alhamdulillah mereka semua senang. Mereka semua menikmati acara kita. Beberapa tamu menulis tentang itu dan viral di media massa. Kita masih bisa membacanya hingga saat ini.
Yang menarik, kau, dan tentu aku mengamininya, sangat percaya diri dengan model acara yang tidak umum itu. Yang kita sajikan memang kesakralan dan kesederhanaan. Tapi itu semua murni suguhan dari kita. Sebagaimana yang kita sampaikan lewat undangan, tanpa mengurangi rasa hormat kepada para tamu, kita mohon mereka untuk tidak memberikan cendera mata berupa amplop, karangan bunga atau apapun. Kita jamu tamu murni dengan dana keluarga kita. Dan alhamdulillah tamu yang memenuhi masjid Manarul Ilmi ITS yang besar itu semua senang. Semua terkesan. Semua menikmati suguhan kesederhanaan, kesakralan dan tepat waktu kita. Semua bahagia.
Ummi, masih banyak apa yang kau lakukan dengan kesederhanaanmu. Banyak teknik penghematan yang kau praktekkan. Tidak mungkin abi menuliskan semuanya. Maka, aku akhiri obituari ketujuh ini dengan apresiasi setinggi-tingginya untukmu belahan jiwaku. Terimakasih tak terhingga untuk 27 tahun kebersamaan yang luar biasa. Terimakasih untuk keteladanan yang indah. Terimakasih untuk kepercayaan diri pada kesederhanaan. Terimakasih untuk keteladanan hanya mengambil yang 100% halal. Terimakasih untuk semuanya. Terimalah ridho dari suamimu untukmu. Bawalah itu sebagai bekal menghadap Tuhanmu. Pakailah itu untuk masuk Surga dari pintu manapun yang kau suka sebagaimana hadis Nabimu. Kelak aku dan anak-anakmu pasti akan menyusul. Bahagialah disisiNya. Duhai Penggenggam Jiwaku, beri kekuatan aku dan anak-anakku untuk meneladani dan meneruskan kebaikannya. Allahummarhamha…..
*)Artikel ke-304 karya Iman Supriyonoini ditulis rumahnya di Surabaya pada tanggal 11 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari ketujuh untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020.Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.
Ummi, mengasuh 8 anak tentu tidak mudah bagi sebagian besar orang. Tapi kau tidak pernah takut. Kau tidak pernah mengeluh. Bahkan kau tidak pernah takut punya anak berapapun. Anak kedelapan kita lahir tiga tahun lalu. Saat usiamu 46 tahun.
Kau sama sekali tidak takut ketika dokter mengatakan bahwa risikomu terlalu tinggi. Kau juga tidak takut saat dokter menyampaikan bahwa air ketuban kandunganmu terlalu sedikit. Kau tetap mencoba untuk melahirkan normal. Tapi dokter kandungan yang juga kawan sekolahmu itu akhirnya kita ikuti. Persalinan dilakukan secara operasi. Sesuatu yang belum pernah terjadi kepadamu sebelumnya. Bahkan terhadap si kembar yang beratnya saat lahir 3,2 dan 3,3 kg pun alhamdulillah tetap dengan persalinan normal.
Kepada abi banyak orang menanyakan. Bagaimana mengasuh anak sebanyak itu terutama ketika masih kecil-kecil? Sedangkan orang lain mengasuh dua anak saja sudah sangat pusing. Nah, untuk pertanyaan ini, ummi punya jawaban yang manjur. Punya cara yang tepat. Yang membuatmu tetap bisa menjadi aktivis dengan seabreg kegiatan walaupun harus mengasuh banyak anak. Kuliahpun lulus dengan baik saat sudah ada 3 buah hati yang kau asuh plus hamil buah hati keempat.
Ummi, alhamdulillah kau sendiri punya latar belakang masa kanak-kanak yang mengkondisikanmu untuk mandiri. Sejak SD kelas satu sudah harus terpisah dari ayah ibu. Meninggalkan ibu dan kota kelahiranmu di Pamekasan untuk tinggal bersama nenekmu di Surabaya. Itupun bukan nenek langsung. Bukan ibu dari ibumu. Tapi saudara sebapak dari nenek langsungmu. Kisahmu, sejak SD itu kau sudah berani naik kendaraan umum sendiri Surabaya Pamekasan dan sebaliknya. Sejarah hidupmu mendukung pembelajaran kemandirian untuk anak-anakmu.
Itulah yang membuatmu santai saja ketika melepas si sulung dan 2 adiknya pergi pulang ke sekolah dan asramanya di Johor Bahru, Malaysia, sendirian. Bahkan terkadang harus berangkat dengan penerbangan malam. Tiba di bandara tujuan tengah malam bahkan dini hari. Yang penting dipastikan bahwa anak-anak tidak keluar bandara sampai pagi datang.
Si Jo -Joang Dimarga Albar- sedang makan pagi sendiri
Bahkan kau juga tanpa ragu melepas junior keempat kita yang baru lulus SMP untuk belajar bahasa Thailand di Bangkok. Berangkat dari Surabaya sendirian. Kita lepas dari bandara. Untuk dijemput kakaknya di bandara Singapura. Lalu diantar dan ditinggal oleh kakaknya di Bangkok.
Di bangkok ia harus sendirian pergi ke Laos untuk perpanjangan ijin tinggal selama belajar. Perpanjangan berikutnya juga harus pergi sendiri ke Kamboja. Anak gadis lulusan SMP berkelana sendiri lintas negara naik kendaraan umum jalur darat. Kau melepasnya dengan tulus dan yakin. Tentu dengan doamu yang tiada henti.
Dalam hal ini, kau ini seperti ibundanya KH Hasyim Asyari remaja. Atau seperti Ibundanya KH Ahmad Dahlan remaja. Atau seperti ibundanya Bung Hatta remaja. Mereka melepas buah hatinya untuk perjalanan dan tinggal ribuan kilometer dari rumah untuk belajar. Berbekal keyakinan dan doa. Memang kau telah lebih diringankan dengan tersedianya sarana telekomunikasi modern yang tidak dijumpai pada jaman tokoh-tokoh besar itu. Tapi kekuatan seorang ibu seperti kau ini langka di era ini.
Ummi, itu semua juga bukan sesuatu yang instan. Sejak bayi aku merasakan apa yang kau lakukan untuk buah hati kita itu. Aku ingat saat kau praktikum dan aku juga harus kuliah atau bekerja, kau menitipkan anak-anak balita kita pada sahabat-sahabatmu. Dan alhamdulillah sahabat-sahabatmu pada seneng karena anak-anak kita tidak rewel. Sepeninggalmu, seorang sahabatmu menawarkanku untuk dengan senang hati dititipi bungsu kita si Jo-Joang Dimarga Albarr- jika sewaktu-waktu aku membutuhkannya. Subhanallah…
Tidak banyak digendong. Itulah langkah awalmu untuk kemandirian buah hati kita. Kau tidak akan menggendong anak-anak kecuali memang sangat dibutuhkan. Praktis di rumah anak-anak biasa bermain sendiri sejak bayi. Saat aku menulis ini di belakangku ada si Jo yang sedang asyik bermain mobil-mobilan setelah abi mandikan.
Untuk memberi kesempatan anak belajar mandiri seperti itu butuh pengorbanan. Rumah berantakan adalah hal biasa. Abi masih ingat persis bagaimana dulu saat si sulung selalu ngobrak-abrik buku-buku di rak. Ditata lagi. Dibongkar lagi. Ditata lagi. Dibongkar lagi. Demikian juga adik-adiknya.
Abi juga masih ingat bagaimana beras yang mestinya untuk dimasak dipakai mainan anak-anak dan bercampur pasir. Kau menghadapi itu semua dengan kesabaran seorang ibu. Sebagai pendidikan kemandirian bagi buah hati kita. Itu istimewamu.
Agak besar sedikit, kau bisakan anak-anak kita mulai belajar makan sendiri. Ini juga butuh kesabaran ekstra. Makanan akan tercecer disana sini. Lantai rekat oleh ceceran nasi. Sebuah ketidaknyamanan sendiri bagi kau. Tapi kau mengalah. Merelakan menerima ketidaknyamanan untuk kemandiran anak-anak kita. Sebuah proses kemandirian yang sangat baik bagi anak seusia 3 tahun. Pagi ini pun Jo makan pagi sendiri. Tidak perlu disuapi.
Kebiasaan anak-anak yang asyik mencari aktivitas dan makan sendiri itu diperkuat dengan kebiasaanmu untuk berani meninggalkan anak-anak dirumah sendiri sementara kita pergi. Tentu bukan pergi yang sampai menginap. Maka, ketika kemarin aku berada di kantor sementara di rumah hanya ada si Jo dan si Disa yang SD kelas empat adalah meneruskan apa yang kau lakukan. Tentu abi tetap memonitor mereka melalui telepon sebagaimana yang juga biasa kau lakukan. Tetap dengan emergency plan yang sudah biasa kita ajarkan kepada mereka.
Ummi, kau memilihkan sekolah SD yang dekat dari rumah untuk semua anak-anak kita. Bukan dekat dalam pengertian terjangkau jalan kaki. Tetapi dekat dalam pengertian terjangkau naik sepeda pancal. Maka, pada umumnya anak-anak kita sudah berangkat dan pulang sendiri ke sekolahnya sejak kelas 3 SD. Menjadi anak SD yang mandiri mengelola waktu mereka. Jam berapa harus bangun, jam berapa harus mandi, jam berapa harus berangkat. Mereka mengelola sendiri aktivitas mereka. Tentu semua sudah kau pikirkan strategi keamanannya di tengah santernya isu penculikan anak. Tentu kau melepas mereka dengan doa. Alhamdulillah mereka melalui masa-masa itu dengan aman sentosa.
Sampai anak ketiga, kau masih memilihkan SMP yang dekat rumah untuk anak-anak kita. Terjangkau naik sepeda pancal. Praktis di SMP mereka tinggal melanjutkan saja apa yang sudah mereka biasa lakukan sejak SD. Tapi sejak anak keempat, mereka bahkan lulus SD sudah meminta masuk pesantren. Jauh meninggalkan rumah dan orang tuanya untuk belajar di luar kota.
Kepada anak-anak yang belajar di pesantren, kau pun menyikapinya sebagai sebuah proses kemandirian. Kau tidak mau tiap bulan mengunjungi anak-anak. Cukup seperlunya saja. Bagimu, percuma saja sekolah di pesantren di luar kota jika orang tua masih sibuk ngurusi mereka. Tidak optimal untuk proses pembelajaran.
Dan hasilnya alhamdulillah kita sangat bersyukur. Di hari-hari terakhirmu, kita pernah diskusi asyik tentang anak-anak kita. Ketika aku bertanya, kau puas tidak dengan apa yang ada pada anak-anak kita hari ini? Alhamdulillah kau sangat puas dan bersyukur dengan mereka berdelapan. Akupun demikian. Mereka rukun-rukun. Kompak. Mandiri-mandiri. Sekolahnya bagus-bagus. Yang sudah lulus kuliah juga dicari oleh pekerjaan. Dan yang lebih penting…mereka semua dekat dengan masjid. Kau sekarang menikmatinya sebagai doa anak sholeh. Allahumarhamha….
*)Artikel ke-303 karya Iman Supriyonoini ditulis rumahnya di Surabaya pada tanggal 10 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari keenam untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020.Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.
Ummi, begitu kau sakit, abi makin takjub dengan sahabat-sahabatmu. Begitu kau meninggal, ketakjuban itu makin menjadi-jadi. Mereka begitu cintanya kepadamu. Perhatiannya luar biasa. Perhatian yang penuh ketulusan. Perhatian yang tanpa pamrih. Kecuali untuk menggapai ridho-Nya.
Yang paling sederhana adalah perhatian melalui kiriman makanan. Walau aku tidak pernah menulis status medsos apapun yang mengabarkan sakitmu, perlahan-lahan sahabat-sahabatmu tahu juga. Begitu tahu, perhatian itu mulai muncul. Makanan terus mengalir deras ke rumah kita. Bahkan datangnya berlebih. Aku dan anak-anakmu harus terus berbagi aneka makanan itu kepada orang lain. Aneka makanan terus menumpuk di rumah.
Bahkan sampai hari ini, aku dan anak-anakmu masih terus menikmati makanan kiriman dari sahabat-sahabatmu. Mbak Um dan buah hatinya di rumah juga ikut menikmatinya. Mbak Um sudah seperti keluarga kita. Bahkan kau sudah berpesan dan pesan itu dipegang oleh perempuan Madura itu. Kau memintanya untuk tetap bekerja di rumah kita. Membantu kita dalam membesarkan anak-anak. Suami mbak Um adalah orang yang berada di barisan depan dalam proses pemakamanmu.
Ummi, perhatian sahabat-sahabatmu bukan sebatas makanan. Ketika sakitmu semakin berat, ada beberapa dari mereka mengundang abi masuk sebuah grup WA yang dibuat khusus untuk memantau perkembanganmu. Mereka memperhatikanmu seperti saudara kandungmu memperhatikanmu. Seperti saudara-saudara kandungku memperhatikanmu. Seperti anak-anak kita memperhatikanmu. Maka, update perkembanganmu pun terus abi bagikan kepada mereka. Disamping kepada anak-anakmu, saudara-saudara kandungmu, dan saudara-saudara kandungku. Sampai ketika kau sudah tidak bisa berkomunikasi jelang subuh Jumat 25 Desember itu. Sampai ketika kau menghembuskan nafas terakhirmu. Bahkan sampai saat ini. Mereka sudah seperti keluarga kita.
Sahabatmu sahabatku juga. Sahabatku sahabatmu juga. Bahkan kita pun seperti dua sahabat. Sahabat yang tanpa batas.
Mereka bukan hanya peduli kepadamu. Tetapi juga kepada anak-anakmu. Dan itu bukan hanya mereka lakukan saat ini. Itu sudah mereka lakukan sejak kelahiran anak pertama kita. Kau tentu masih sangat ingat bagaimana sulung kita dulu diasuh mereka saat kau harus berada di lab untuk praktikum teknik kimia yang menyibukkan itu. Sementara aku juga harus menghadapi urusan kampusku. Sekaligus urusan mencari nafkah. Sekaligus urusan masjid ITS yang juga kau hadapi sebagai pengurus inti.
Mereka begitu baiknya kepadamu. Sampai seolah abi dan anak-anakmu sama sekali tidak boleh terbebani oleh sakitmu. Oleh kepergianmu. Mental maupun material. Mereka turut menanggung beban itu. Sama sekali tanpa pamrih duniawi. Kau hanya seorang guru Al Qur’an. Tidak ada jabatan, bisnis, atau sejenisnya yang bisa dipamrihkan kepadamu. Murni sebuah persahabatan karena Rabb-Mu.
Dan yang lebih mengharukan adalah….kau telah tuntas mentransfer semua sahabat-sahabat baikmu itu kepadaku. Mulai sahabat SD mu di Tembok Dukuh I, Surabaya. Sahabat biru putihmu di SMP 3 Surabaya. Sahabat abu-abumu di SMA 5 Surabaya. Sahabat kuliahmu di Teknik Kimia ITS. Sahabat-sahabatmu di pendidikan Al Qur’an. Dan tentu saja sahabat kita di masjid manarul ilmi ITS. Terima kasih luar biasa untuk hal ini. Kau jagonya silaturahim.
Beberapa sahabatmu menyampaikan kepada abi. Abi akan tetap diundang jika ada kumpul-kumpul sahabatmu. Seperti yang selama ini kita lakukan. Aku selalu kau ajak hadir jika ada kumpul-kumpul sahabat-sahabatmu. Dan sebaliknya juga. Aku juga selalu mengajakmu hadir jika ada kumpul-kumpul sahabatku. Sahabatmu adalah sahabatku juga. Sahabatku adalah sahabatmu juga. Kita menyatu.
Ummi, ada saatnya kita menghadapi masalah dan pertengkaran berat. Saat itulah abi merasakan bahwa sahabatku dan sahabatmu yang menyatu itu menjadi katalisator terbaik. Menjadi perekat agar kebersamaan kita tidak retak sedikitpun. Bagaimana bisa retak kalau ikatan kita dikuatkan oleh banyak sekali sahabatmu. Oleh banyak sekali sahabatku. Oleh banyak sekali sahabat kita. Itulah mengapa kau tidak pernah kuatir kepadaku kemanapun aku pergi. Aku pun juga begitu. Bahkan ke luar negeri pun sahabat kita menyatu. Sahabatmu adalah sahabatku juga. Sahabatku adalah sahabatmu juga. Alangkah indahnya hidup ini. Alhamdulillah….. Allahumarhamha….
Ummi, melepas kepergianmu memang berat. Tetapi kebaikanmu kepada sahabat-sahabatmu itu meringankanku. Meringankan anak-anak kita. Sepergimu mereka bertestimoni. Kau pandai sekali menjalin persahabatan. Kau adalah sahabat yang ringan tangan membantu. Kau adalah sahabat terbaik. Sahabat tersetia. Sahabat yang menyenangkan. Sahabat yang akan terus dikenang. Sahabat yang akan terus didoakan kebaikannya. Aku memohon kepada Dzat yang menguasai jiwaku. Aku memohon kepada Dzat yang menguasai jiwamu. Duhai Ar-Rahman, berikan kekuatan kepada aku dan anak-anakku untuk melanjutkan segala kebaikannya dalam menjalin persahabatan karena-Mu. Jadikan kebaikan bersahabat itu sebagai amal jariahnya. Aamin
*)Artikel ke-302 karya Iman Supriyonoini ditulis di kantornya, SNF Consulting, Jalan Pemuda Surabaya pada tanggal 7 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari keempat untuk almarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020.Ummi adalah panggilan keluarga untuk almarhumah. Abi adalah panggilan keluarga untuk penulis.
Ummi, sampai hari ke-12 ku tanpamu, memori keberduaan kita masih terus menghiasi otakku. Apalagi hari ini si bungsu Jo, Joang Dimarga Albar, mengalami diare. Pagi-pagi abi sudah merencanakan ke kantor. Ada meeting jam 10 pagi ini. Tapi demi melihat Jo diare, abi urungkan ke kantornya. Meeting abi hadiri melalui Zoom. Praktis seharian ini abi di rumah. Apalagi junior kedua dan keempat kita yang ini masih di rumah sedang ada acara keluar. Praktis aku di rumah hanya dengan si bungsu satu kakaknya yang juga masih kecil. Hari ini, rumah kita terasa sepi sekali tanpamu. Allahummarhamha….
Alhamdulillah jelang magrib diare si Jo sudah sembuh. Junior kedua dan keempat pun sudah pulang. Maka, selepas sholat jamaah abi kirim wa ke H2A. Di grup WA keluarga kita itu abi sampaikan bahwa abi mau tetap berada di masjid sampai isya. Abi ingin menghibur diri di masjid terakhir yang kau singgahi sebelum kau menuju peristirahatan terakhirmu di TPU Keputih.
Ummi, di komplek pesantren Hidayatullah itu memori indah bersamamu pada berbagai masjid muncul silih berganti di kepalaku. Tempat termulia di muka bumi yang sepanjang 27 tahun menjadi pengikat hatimu dan hatiku. Juga pengikat hati kita dengan para junior. Maka, sesampai di rumah langsung kuraih laptop. Sepuluh jemariku pun menari-nari menuliskan memori indah kebersamaan kita di berbagai masjid.
Yang pertama tentu saja Masjid Manarul ilmi. Hampir sepanjang tahun pertama kebersamaan kita berdua dilalui di masjid kampus ITS itu. Bagaimana tidak, kita menjadi pengurus inti di masjid megah itu mulai September 1993. Kau jadi sekretaris departemen keputrian. Aku sekretaris umum. Kita menikah Nopember 1993. Praktis sisa masa setahun pengabdian sebagai pengurus inti di masjid kampus ITS itu kita lalui berdua.
Di masjid kampus ternama itu itu secara fisik kita memang terpisah. Pengurus putra selalu terpisah tabir dengan pengurus putri dalam setiap forum. Tentu saja kita tidak bisa berduaan secara fisik di masjid itu. Tetapi masjid itu menyatukan hati kita. Bahkan menjadi tempat bermain yang paling menyenangkan bagi anak-anak kita hingga saat ini.
Masjid Aqshol Madinah di komplek Pesantren Hidayatullah Surabaya. Inilah masjid terakhir yang disinggahi almarhumah sebelum dikebumikan di TPU Keputih Surabaya
Masjid kampus di kawasan timur Surabaya itu bahkan juga kita pilih sebagai tempat menikahkan si sulung kita dua tahun lalu. Sebuah acara yang sangat membahagiakanmu. Membahagiakanku. Membahagiakan bagi si sulung dan suaminya. Betapa tidak, pada hari itu, masjid sebesar itu dipenuhi oleh sahabat-sahabat kita dari berbagai kalangan. Mereka semua membaur. Tidak pandang CEO tidak pandang buruh pabrik. Tidak pandang profesor tidak pandang mahasiswa. Tidak pandang ustadz tidak pandan non muslim. Semua membaur menikmati menu sarapan pagi yang kita siapkan. Banyak sekali sahabat-sahabat kita yang memberi apresiasi membahagiakan atas acara itu.
Ummi, masjid memang menjadi penaut hati kita. Kau tentu ingat ketika kita kita berdua sedang dalam perjalanan pulang dari Pasuruan untuk sebuah urusan. Kita bertengkar hebat karena suatu masalah. Suasananya sangat emosional. Maka, berdua kita putuskan masuk masjid dengan hati dongkol. Mengambil air wudhu lalu sholat di dalamnya. Dan, selepas sholat, kemarahan kita pun mereda. Sampai di rumah kita sudah kembali damai.
Ada masjid agung Pamekasan. Masjid di kota kelahiranmu ini begitu sempurna mengikat hati kita. Kebetulan rumah ibumu tidak jauh dari masjid itu. Maka, praktis jika kita ke Pamekasan, masjid itu menjadi tempatku menunaikan sholat fardhu.
Memang sholat wajib berjamaah di masjid dalam agama kita hanya ditekankan kepada kaum lelaki. Tetapi dimanapun kau selalu mengkondisikan agar aku bisa sholat fardhu berjamaah di masjid. Kalo berada di luar kota, kedekatan dengan masjid selalu menjadi kriteria pertama pemilihan hotel. Sesekali saja ummi ikut sholat berjamaah. Tetapi itu semua sudah lebih dari cukup untuk menyatukan hati kita.
Saat ibumu sudah meninggal dan rumahnya sudah di jual, kita suka menginap di hotel dekat masjid itu. Menikmati suasana masjid terbesar dan termegah di Madura itu dari dekat. Tentu lengkap dengan menikmati menu-menu khas kegemaranmu. Nase jejen, es sudi mampir, rujak madura. Sebuah nostalgia yang tidak mungkin abi lupakan walaupun kau telah pergi.
Ummi, banyak sekali daftar masjid yang sering kita singgahi. Masjid pengikat hati kita. Masdjid agung Jombang, masjid Jami’ Al Ariefiyah Caruban, Masjid Agung Nganjuk, Masjid Agung Blitar, Masjid Agung Kediri, Masjid Agung Madiun, Masjid agung Malang, Masjid Agung Magetan, masjid Ummul Mukminin Bratang Surabaya, masjid di MERR, Masjid Assakinah Putra Bangsa, masjid Masithoh Wisma Permai, Masjid Al Akbar, Masjid Al Falah, Masjid Al Jihad, dan masih banyak lagi.
Hari-hari ramadhan adalah kenangan yang juga tidak mungkin aku lupakan. Sudah sejak dulu kala sepanjang ramadhan kau selalu memasak nasi persiapan buka puasa lebih banyak dari biasanya. Bukan karena kita makan lebih banyak. Tetapi karena kau selalu mengirim nasi bungkus untuk buka puasa di masjid. Sebulan penuh. Sejak hari pertama ramadhan sampai akhir bulan. Sesekali aku yang mengantarkannya ke masjid. Sesekali anak-anak kita. Atau kita juga banyak meminta takmir masjid untuk mengambilnya ke rumah.
Bahan dalam suasana sakitmu ramadhan lalu, tradisi ini tidak kau tinggalkan. Kau sudah tidak bisa mempersikannya sendiri karena sakitnmu. Tapi kau terus memastikan agar Mbak Um, orang yang tiap hari membantumu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah kita, untuk menyiapkan nasi bungkus itu. Jumlahnya pun seperti yang selama ini biasa kau siapkan. Istiqomahmu bahkan dalam keadaan sakit itu seolah menjadi pesanmu kepadaku dan anak anakmu untuk meneruskan tradisi keluarga itu. Walau kau telah tiada.
Kenangan i’tikaf sekeluarga lengkap di Masjid Arroyan Galaxi Gumi Permai, Ramadhan sebelum si sulung menikah
Allahummarhamha. Ummi, momen ramadhan juga akan selalu abi kenang. Sudah menjadi tradisi keluarga kita untuk menghabiskan sepuluh hari terakhir ramadhan di masjid. Kita melakukannya sejak tahun pertama pernikahan kita. Masjid Arroyan di Galaxi Bumi Permai menjadi pilihan kita bertahun-tahun belakangan ini. Sudah menjadi tradisimu, kau memberiku kesempatan kepadaku untuk 24 jam berada di masjid. Kau yang membereskan semua urusan rumah di siang hari. Malam harinya kau bersama anak anak menyusul ke masjid. Kau sendiri yang nyetir mobil bersama anak-anak menyusulku. Menikmati hari-hari terakhir ramadhan bersama keluarga di masjid.
Ummi, kita sepakat agar semua anak-anak belajar jauh meninggalkan rumah. Tiga junior pertama kita melakukannya sejak lulus SMP. Tiga setelah itu bahkan melakukannya sejak lulus SD. Mereka yang sudah kuliah semua belajar di berbagai kampus di luar negeri. Nah, dalam kondisi seperti itu kau akan merasa aman jika mereka telah tertaut dengan masjid.
Maka, hari jumat itu kau pasti sedang merasa aman. Bahkan bahagia. Berbunga-bunga. Memang abi memutuskan agar anak lelaki kita yang sedang kuliah di Vietnam National University itu tidak pulang. Cukup hanya meminta agar dia bersholat jenazah untukmu.
Dan hari itu abi berkaca-kaca demi membaca pesan di grup H2A. Si nomor 3 itu tidak sekedar sholat ghaib. Tetapi berhasil meminta takmir masjid kota Hanoi untuk menyelenggarakan sholat ghoib untukmu. Air mata abi meleleh merasakan bahwa anak lelaki tertua kita itu hatinya tetap tertaut dengan masjid. Walau berada di negeri komunis. Tidak mungkin dia bisa meminta sholat ghaib di masjid satu-satunya di Kota Hanoi itu kecuali memang memiliki kedekatan dengan takmirnya. Ummi, itu hasil didikanmu. Jumat siang itu kau menikmatinya sebelum dimakamkan di TPU Keputih. Aku merasakannya melalui ekspresi wajahmu sebelum aku menutupnya dengan kain putih bersih selepas sholat jumat itu. Wajahmu begitu berseri-seri. Allahumarha….
*)Artikel ke-301 karya Iman Supriyonoini ditulis di rumahnya di Surabaya pada tanggal 6 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari keempat untuk alamarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020.
Ummi, pagi ini abi sudah mulai ngantor. Pertama kali abi berangkat ke kantor tanpa berpamitan dengan menciummu. Tanpa permintaan maaf yang selalu kau ikuti dengan permintaan maaf serupa saat melepasku berangkat kemana saja. Bayangan kebersamaan kita selama 27 tahun itu masih terus datang di otakku. Air mataku masih terus melelah saat mengingatnya. Tapi kehidupan harus terus berjalan.
Sesampai di kantor abi buka laptop warna biru itu. Dan, panggilan jiwa itu kembali hadir. Panggilan jiwa untuk memadu hati denganmu. Walau hanya lewat tulisan. Moga ini sedikit mengobati dukaku. Moga ini nanti akan dibaca si Jo, buah hati ke delapan kita yang belum faham arti kematian saat Ummi pergi untuk selamanya. Dibaca sebagai pelajaran emas si Jo dari umminya.
Ummi, yang abi selalu akan ingat adalah proses pernikahan kita. Walau sama-sama aktivis masjid kampus, kita tidak pernah berinteraksi secara personal. Satu-satunya interaksi adalah melalu rapat-rapat pengurus. Kau adalah sekretaris departemen keputrian. Aku sekretaris umum. Itupun sangat terbatas. Rapat-rapat pengurus selalu diselenggarakan dengan tabir pemisah laki-laki dan perempuan. Praktis aku hanya bisa mendengar suaramu. Apalagi ketika itu kau memang bercadar.
Sudah dalam perencanaan hidupku ketika itu untuk menikah muda. Targetku sebenarnya umur 20 tahun. Itu adalah demi mendengar penjelasan dari kawan fakultas kedokteran bahwa masa keemasan reproduksi manusia adalah antara umur 20 sampai dengan 30 tahun. Maka angka 20 menjadi targetku.
Agak meleset dari target. Aku baru siap menikah pada umur 22 tahun. Siap dalam pengertian secara ekonomi mampu mandiri tanpa tergantung orang tua. Siap juga dalam pengertian sudah mengantongi ijin ayah ibuku untuk menikah. Jadilah aku “hunting” untuk mencari calon istri.
Abi ingat ketika itu oleh guru ngajiku disodori 5 kandidat. Data abi terima berupa CV lengkap dengan foto. Lalu aku baca dan aku pertimbangkan secara seksama. Ternyata kelimanya tidak ada yang mendatangkan kemantapan jiwaku. Kukembalikanlah 5 CV itu kepada guru ngajiku.
Guru ngajiku pun putar otak. Kutunggu-tunggu tidak ada kandidat alternatif. Tetapi akhirnya solusi tiba. Dia meminta seorang kawannya untuk menyodorkan alternatif. Dan kawannya itu tidak lain adalah guru ngajimu. Si kawan menyodorkan sebuah CV. Dan itu adalah kamu.
Masih ingat aku disodori CV itu sekitar magrib. Dan subhanallah. Aku sudah mantab untuk memilihnya sejak membaca namamu. Malamnya aku mencoba sholat istikhoroh. Tetapi sebenarnya sholat itu tidak ada gunanya. Istikhoroh adalah sholat untuk orang yang sedang ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Sedang hatiku sudah bulat ke dirimu.
Maka, segeralaah aku kabarkan kepada guru ngajimu itu. Aku memilihmu tanpa ragu. Dan segaralah kau mengirim surat kilat khusus kepada ayahmu yang tinggal di Balikpapan. Dengan segala pertimbangannya akhirnya ayahmu pun setuju aku menikahimu.
Acara selanjutnya adalah pertemuan keluarga. Prosesnya dilakukan di rumah guru ngajimu. Yang juga senior kita di kampus ITS. Yang datang dari pihak keluargaku adalah ayah dan kakak adikku. Mereka pun mantap memberi restu aku untuk menikahimu.
Ayahku sempat bergurau. “Mana calon istrimu? Kok tidak ada?”. Aku sempat bingung juga. “Lho yang itu tadi”. Jawab ayahku “Itu tadi kan hanya bajunya”. Memang ketika itu kau mengenakan cadar sehingga yang nampak hanya baju yang menutupi seluruh tubuhmu kecuali sepasang mata. Itupun ditutupi oleh sepasang kaca mata minusmu yang cukup tebal.
Kebersamaan 27 tahun yang berakhir dengan saling ridho. Allahummarhamha….
Ummi, 8 Nopember 1993 kita sah menjadi suami istri. Sekitar sebulan sejak aku mengantongi ijin nikah dari ayah ibuku. Akad nikah dilakukan dengan sangat sederhana di kantor KUA Gubeng. Tidak ada pesta-pesta. Selepas itu kita masing-masing langsung ke kampus untuk urusan akademis. Abi masih ingat selepas magrib hari itu aku datang ke rumah kosmu. Kamu menerimaku di ruang tamu. Aku bawa sebungkus nasi sayur lodeh dengan lauk pauk ikan pindang. Malam itu kita pertama kali makan sepiring berdua. Sebuah kebiasaan yang terus kita nikmati sepanjang 27 tahun kebersmaan kita.
Setelah makan malam yang indah itu, kita pergi ke rumah guru ngajimu berdua. Naik motormu yang plat nomornya KT itu. Itulah pertama kali sejak kuliah di ITS aku naik motor berboncengan dengan perempuan bukan mahramku. Dan itu adalah kamu. Kau berpegangan erat pada pinggangku. Betapa hatiku berdebar kencang luar biasa. Campur aduk berbagai perasaan.
Aku juga masih ingat tanggal 10 Nopember itu kita untuk kali pertamanya hidup serumah. Hari ketiga kebersamaan itu mulai kita nikmati sebuah rumah kontrakan sederhana di Kejawanputih Tambak No. 107. Disitulah kita benar-benar merasakan hidup sebagai sebuah keluarga. Aku menjadi lelakimu. Kau menjadi perempuanku. Sepenuhnya.
Ketika itu lalu lintas di jalan depan rumah masih sangat sepi. Seberang jalan adalah tambak. Jadi kita seperti tinggal di vila tepi laguna. Indah sekali untuk menikmati keberduaan kita. Tanpa siapa-siapa. Keindahan sejoli muda-mudi yang sebelumnya hanya bisa aku baca di novel-novel atau aku tonton di film-film menjadi milik kita. Berdua.
&&&
Hari-hari hari selanjutnya adalah realitas kehidupan. Kau dan aku berjuang untuk tetap lulus kuliah. Kau sambil mengasuh buah hati yang telah hadir tidak sampai setahun sejak pernikahan kita. Aku mencari nafkah. Kau menjalankan amanahmu sebagai sekretaris keputrian di Masjid Manarul Ilmi. Aku menjadi sekretaris umum. Praktis kita adalah pasangan orang tua yang sangat sibuk. Bersyukur kau punya banyak sahabat yang bisa dititipi untuk mengasuh buah hati kita manakala kondisi tidak memungkinkan untuk kau ajak.
Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari penyesuaian. Kita dari keluarga dengan latar belakang yang sangat berbeda. Aku jawa Madiun. Kau Madura Pamekasan. Kau keras kepala. Aku juga. Disitulah pertengkaran selalu muncul menghiasi indahnya keberduaan kita. Sesuatu yang sangat alami dalam sebuah rumah tangga manapun.
Pertengkaran dalam keluarga adalah hal biasa. Aku menggapnya dalam rangka saling memahami dan menyesuaikan. Mari kita bertengkar seperlunya. Dan…..sepanjang hidup kita berdua 27 tahun ini, sudah tak terhitung berapa kali kita bertengkar. Ada pertengkaran remeh-temeh sekedar tentang menu makanan. Ada yang sangat serius bahkan mengancam keretakan rumah tangga kita.
Yang remeh-temeh misalnya adalah ktika kau menyiapkan dadar jagung untuk menu makan kita. Kita sudah sepakat bahwa empat sehat lima sempurna adalah menu standar untuk kita. Dadar jagung bagiku tidak ada bedanya dengan nasi. Kita harus berhemat untuk kebutuhan gizi keluarga dengan anggaran terbatas ala suami istri mahasiswa. Dadar jagung bagiku adalah menu yang tidak memenuhi kebutuhan protein. Maka aku buang dadar jagung itu. Dan kau pun menangis.
Untuk yang remeh temeh seperti itu biasanya usia pertangkaran kita tidak akan berdurasi lama. Setelah emosi reda aku segera membicarakannya baik-baik denganmu. Aku juga segera minta maaf. Dan malamnya kita sudah damai sebagai suami istri. Seperti kala kita menjalani malam-malam pertama di rumah kontrakan kita itu.
Masalah yang berat dan menguras energi misalnya adalah keikutsertaamnu sebagai kader inti sebuah partai tanpa ijinku. Begitu tau aku marah besar. Keputusanmu itu mengandung konsekuensi besar. Maka kau salah ketika mengambil keputusan itu tanpa ijin suamimu. Aku protes ke senior-seniormu di partai itu. Aku layangkan surat resmi. Aku datangi mereka. Aku bertengkar dengan mereka. Aku diboikot oleh mereka. Aku larang kau ikut kegiatan mingguan partai itu.
Permasalahan itu sangat serius. Solusinya pun memakan waktu yang cukup lama. Berbulan-bulan. Tapi…ini yang aku syukuri. Akhirnya kau tetap lebih memilih aku sebagai suamimu. Kau keluar dari partai itu. Dan kita pun saling memaafkan. Kembali bersatu sebagai suami istri yang kompak. Allahumarhamha….
&&&
Ummi, kita bukan malaikat. Maka, pertengkaran adalah hal yang biasa. Yang aku syukuri adalah, kita terbiasa saling memaafkan. Kita mencari cara untuk terus mengokohkan ikatan hati. Masih ingat ketika anak-anak masih kecil, kita sering curi-curi waktu keluar rumah berdua saat mereka tidur. Sekedar mencari angin sambil menikmati bubur kacang ijo atau bakso. Tetap sepiring berdua.
Dan yang sangat sangat aku syukuri adalah, saat sakitmu memberat, kita sempat berdiskusi serius tentang masalah-masalah yang masih ada di antara kita. Masih ada satu masalah besar tersisa. Begitu besarnya sampai-sampai maasalah itu sempat hampir-hampir meretakkan ikatan rumah tangga kita.
Awalnya masih alot. Kau masih bertahan pada pendapat dan sikapmu. Akupun demikian. Tapi, setelah kita berkonsultasi intens kepada seorang ustadz tentang sakitmu, hatimu luluh. Aku juga. Kau sepenuhnya memaafkan aku. Dan akupun demikian. Maka sejak hari itu, kau telah ridho dengan semua tentangku. Dan sebaliknya, akupun telah ridho dengan semua tentangmu. Kosong kosong. Kita pun berangkulan berciuman penuh haru. Air mataku meleleh. Air matamu juga.
Hari-hari sejak permaafan penuh haru itu, kondisi kesehatanmu terus memburuk. Pengobatan TB Kelanjar oleh dokter internis senior itu memang menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Sakit nyeri berat yang selama ini kau rasakan di tulang punggung telah hilang. Tetapi kondisi fisikmu terus melemah. Akhirnya pun kateter tidak pernah lepas darimu. Tabung oksigen juga selalu di sampingmu. Selang infus selalu terpasang. Aneka obat untuk memperbaiki kondisimu dimasukkan lewat infus. Termasuk tranfusi darah 3 bag. Tapi itu tidak banyak membantu.
Dalam dua bulan terakhir kehidupanmu, sebagaian kau jalani di kamar rumah sakit. Karena kondisi pandemi, hanya aku yang boleh selalu menemanimu di kamar itu. Maka, disitulah aku merasa sakitmu justru menyatukan kita. Kita mengaggap kamar itu sebagai hotel. Belum pernah kita tinggal di hotel berdua dalam rentang waktu sepanjang itu.
Iya…di kamar VIP Rumah sakit Al Irsyad itu kita hanya ada kita tinggal berdua. Saat malam sesekali kau minta pintu kamar rumah sakit itu dikunci. Agar kita bisa menikmatinya berdua sebagai sepasang suami istri. Disini kita bersyukur. Sakitmu justru berhikmah mengokohkan tautan hati antara kita. mengokohkan kembali cinta kita.
Sepuluh hari di rumah sakit kau merasa jenuh. Pingin kembali ke rumah bareng anak-anak. Maka akupun menandatangani permohonan pulang atas kemauan sendiri. Malam itu kau pulang dengan ambulan. Tetap dengan infus dan kateter terpasang. Di rumah sudah disiapkan bed pasien. Jadi kepulanganmu itu pada dasarnya adalah memindahkan fasilitas rumah sakit ke kamar rumah kita. Tetap dengan kateter, infus, tabung oksigen, dan visit suster pagi sore untuk mengontrol kondisimu.
Yang amat sangat aku syukuri, sejak kita saling bermaafan haru dalam saakitmu itu, kita sama sekali tidak pernah bertengkar lagi. Itu terjadi sampai jumat 25 Desember 2020 jam 9.23 pagi ketika engkau menghembuskan nafas terakhir. Jadi, kau menghembuskan nafas terakhir dalam sepenuh ridhoku. Akupun kau tinggal dalam sepenuh ridhomu. Saling ridho sebagai suami istri. Itulah bekalmu menghadapNya. Kalimat terakhirmu jelas menyebut nama Tuhanmu. Allah…Allah….Allah. Agama kita menajari bahwa ridho suamimu akan memberimu fasilitas untuk masuk ke firdausnya melaui pinti manapun yang kau suka. Kau pun meninggalkanku dan anak anakmu dengan wajah berseri-seri. Selamat menikmati kebahagiaan di sisiNya wahai kekasihku. Allhummarhamha…..
*)Artikel ke-300 karya Iman Supriyonoini ditulis di kantor SNF Consulting di Surabaya pada tanggal 5 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari ketiga untuk alamarhumah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020.
Ummi…. demikian aku dan anak-anakmu memanggilmu. Abi, panggilanmu dan anak-anakmu untukku, masih ingat persis salah satu alasanku mantab memilihmu sebagai bagian penting dari hidupku. Ketika itu, tahun 1993, kita sama-sama aktivis kampus. Sama-sama semester 7. Sama-sama aktif di unit kegiatan kerohanian Islam yang di kampus kita disebut Jamaah Masjid Manarul Ilmi. Kita sama-sama di Fakultas Teknologi Industri ITS. Hanya beda jurusan, kau di Teknik Kimia. Aku di teknik Mesin.
Tentu saja agama dalah pertimbangan utama dan pertama aku memilihmu. Tetapi ada yang membuatku sangat mantab. Kau lulusan SMP Negeri 3 Surabaya alias SMP Praban dengan Nilai Ebtanas Murni 52. Orang seumuran kita pasti tau apa arti angka 52 pada jaman itu. Kau lulusann SMA Negeri 5 Surabaya dengan Nilai Ebtanas Murni 54. Semua orang seumuran kita juga tahu apa arti angka itu. Istilah anak muda sekarang, kau bukan remaja kaleng-kaleng. Kau remaja hebat.
R.A. Anni Muttamimah, demikian nama di dokumen resminya, saat akad nikah di KUA Gubeng, 8 Nopember 1993. Ketika itu almarhumah mengenakan cadar yang memang dikenakannya dalam keseharian masa lajangnya. Sesuai rencana pribadinya, cadar itu kemudian dilepasnya dan kemudian tampil dengan hijab yang menampakkan wajah beberapa saat setelah menikah.
Syarat kelulusaanmu di kampus pun tidak main main. Abi masih ingat persis ketika itu umi menyusun dua karya tulis. Pertama adalah apa yang di kampusmu disebut sebagai tugas akhir. Isinya adalah perencanaan sebuah pabrik kimia penuh hitungan matematik setebal lebih dari 500 halaman. Kedua adalah apa yang di kampusnmu disebut sebagai latihan penelitian alias skripsi. Ummi membuat simulasi software sebuah reaksi kimia yang dibukukan setebal sekitar 100 halaman. Jadi total sekitar 600 halaman. Dan….kau mengerjakannya sambil mengasuh 3 junior kecil kecil plus hamil anak keempat. Semuanya kau selesaikan dengan baik sampai diwisuda. Menjadi seorang insinyur teknik kimia alumni Istitut Teknologi Sepuluh Nopember alias ITS. Istilah anak muda sekarang, kau bukan SDM kaleng-kaleng. Kau insinyur bergengsi.
Dengan kalifikasimu itu, mestinya kau bisa berkarir di perusahaan multinasional besar. Bisa mendapatkan gaji dan fasilitas berkelas. Bisa berkarir moncer. Dengann gaji itu kau bisa membayari baby sitter atu day care bagi anak-anak kita.
Tetapi itu bukan pilihanmu. Sejak awal kau memilih berkarir sebagai seorang guru Taman Pendidikan al-Qur’an. Guru TPQ. Guru yang gaji bulanannya hanya cukup untuk sekali isi bensin mobil. Bahkan mengajar privat mengaji di rumah-rumah yang biasanya honornya lebih besar pun kau tidak mau. Kau hanya mau mengajar di TPQ. Atau murid-murid mu datang ke rumah kita. Murid harus menunjukkan kesungguhannya dengan mendatangi TPQ atau mendatangi guru. Bukan guru yang mendatanagi murid. Itu prinsipmu. Sekali lagi, kau tidak pernah berpikir uang untuk pekerjaan itu.
Ummi memilih karir tidak bergengsi dimata orang banyak. Tetapi kau memilihnya dengan mantab. Tidak ada terbesit sedikitpun rasa rendah diri dari pilihan karirmu itu. Bahkan kau sangat pede. Tidak ada sedikitpun keraguan. Abi tau persis. Ummi tidak mau berkarir apapun selain itu. Itulah yang kau jalani dengan penuh dedikasi selama lebih dari 20 tahun hingga kepergianmu menghadap-Nya. Mendidik ribuan murid-muridmu dari nol menjadi bisa membaca Al Qur’an dengan standar kuaitas tinggi. Dalam bahasa setengah berkelakar kita sepakat. Kau nyari pahala. Aku nyari duit. Nanti hasilnya kita bagi-bagi hehehe.
Makin lama makin asyik kau berkarir dalam pendidikan Al Qur’an. Bermula dari guru. Lalu kepala TPQ. Lalu berkembang mengurusi TPQ se kecamatan. Terakhir kau adalah pengurus super aktif TPQ metode Qiroaty se wilayah kota Surabaya. Selain mengajar, kerjamu adalah rapat dan rapat. Bahkan nyaris tidak ada akhir pekan tanpa rapat ini dan itu. Dan…. kau melakukan pekerjaan full sosial itu dengan totalitas luar biasa. Hari-hari terakhir dengan TB kelenjarmu yang berat pun tetap minta diantar mengikuti rapat. Tidak kalah dengan totalitas kawan-kawanmu para insinyur teknik kimia yang berkarir di perusahaan-perusahaan multinasional.
Kebiasaanmu, kau selalu mengajak anak-anak balita di aktivitas padatmu itu. Maka, pembelajaran Al Qur’an bagi anak-anak kita adalah proses yang alami. Proses seorang anak bermain mengikuti ibunya. Hasilnya adalah anak-anak yang kita selalu syukuri kualitasnya. Satu demi satu lulus terbaik dari kampus-kampus ternama berbagai bangsa. Bahkan bangsa-bangsa komunis. Tetapi tetap dengan agama yang kokoh. Itulah karyamu.
Ummi, kepergianmu adalah duka luar biasa bagi abi dan kedelapan junior-juniormu. Tetapi menyaksikan kehidupan dan caramu pergi, kami semua rela. Sekitar jam 3 pagi tanggal 25 desember itu kau mulai tidak bisa diajak komunikasi. Tetapi dari mulutmu jelas terucap, “Allah…..Allah….Allah….”. Kau terus menyebut nama Tuhanmu tanpa putus. Suaramu perlahan melemah dan kemudian menghilang. Lalu kau pun seperti orang yang tidur pulas.
Jam 09.23, kau menghembuskan nafas terakhir di hadapanku dan enam dari delapan anak-anakmu. Allahummarhamha. Proses nazakmu tidak sampai bilangan menit. Begitu cepat. Begitu mudah. Begitu tenang. Begitu indah. Kau tinggalkan dunia dengan wajah yang justru nampak lebih muda. Ekspresi wajah yang berseri-seri. Abi merasakannya karena kita telah hidup bersama 27 tahun. Itulah juga kesan sahabat-sahabat yang menyaksikan wajahmu sebelum dikebumikan.
Dalam sambutanya selepas shalat jenazahmu selepas shlat jum’at di masjid dekat rumah kita, pendiri TPQ tempatmu mengabdi menyampaikan dengan suara penuh haru. Karirmu tidak terkenal di bumi. Tetapi terkenal di langit. Makin bercucuranlah air mataku. Allahummarhamha. Air mata anak anak kita. Air mata ridho. Ridho melepasmu yang sepanjang hidupmu terus memproduksi amal jariyah. Ridho melepasmu di hari Jumat. Hari yang dalam agama kita adalah tanda kematian yang husnul khotimah. Akhir yang baik. Moga kelak kita berkumpul kembali dengan penuh kebahagiaan di sisi-Nya. Di firdausNya. Aamin.
*)Artikel ke-299 karya Iman Supriyonoini ditulis di Surabaya pada tanggal 4 Januari 2021. Tulisan ini merupakan obituari kedua untuk alamarhumaah R.A. Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada hari Jumat tanggal 25 Desember 2020.
Masjid rest Area 519A jelang ashar 3 Januari 2020. Ummi, sebenarnya abi sudah sholat ashar. Tadi di masjid agung Ngawi jamak dhuhur. Kali ini abi mampir ke masjid ini dan membuka lapptop adalah dalam rangka pememenuhi panggilan hati. Panggilan hati yang masih membayangkan dengan jelas betapa berseri-serinya wajahmu selapas jumatan itu. Ya, selepas jumatan setelah jasadmu disucikan di rumah. Wajahmu benar-benar berseri-seri. Persis seperti ekspresimu saat diperjalanan lelah dan kita sama-sama masuk masjid menjelang adzan. Mendididik buah hatik kita akan pentingnya shalat berjamaah tepat waktu di masjid. Di hari jumat itu ummi berseri-seri masuk masjid untuk disholatkan dan menunggu tuntasnya penggalian liang lahat untukmu.
Pertama kali mengantarkan junior kita ke pesantren tanpamu
Panggilan hati itu juga muncul demi milihat bangku depan kiri mobil kita yang kosong. Jelas terbayang di benakku bahwa ummi selalu menikmati sesi-sesi melepas anak-anak masuk pesantren. Di bangku kiri depan itu. Kali ini adalah pertama kalinya bangku itu kosong tanpamu. Pertama kali abi harus mengantar anak-anak masuk pesantren tanpamu. Tanpa ummi.
Allahumarhamha. Ummi, memang bangku itu kini melompong tanpamu. Tetapi percayalah, abi sedang dan insyaallah akan terus bekerja keras memastikan tercapainya cita-cita kita. Cita- cita pendidkan terbaik di berbagi bangsa untuk delapan buah hati kita.
Ketika umi meninggalkan abi dan kedelapan buah hati, alhamdulillah si nomor dua baru saja pulang setelah lulus dari kampusnya. Insyaallah seperti pesanmu si nomor dua akan melanjutkan pendidikan profesinya untuk menjadi seorang aktuaris. Bahkan kau bukan sekedar berpesan. Kau telah menyiapkan anggaran untuk pendirkan profesi aktuaris buah hati nomor dua kita.
Abi masih ingat sekali betapa ummi harus pontang panting bekerja keras dengan segala kesulitan saat mengantar si nomor dua masuk sekolah menengahnya di Johor Bahru. Ummi pontang panting dengan si nomor dua di Johor. Abi pontang-panting di Surbaya bersama adik-adiknya. alhamdullilah kerja keras ummi itu tidk sia-sia. Si nomor dua telah lulus kuliah bachelor aktuaria nya di kampus pilihanya sendiri, Universiti Sains Islam Malayasia. Dan telah berada di rumah menemanimu saat hari hari terakhirmu di dunia yang fana ini. Dua adiknya juda sedang menjalani pendidikan sarjananya di negeri yang berbeda. Ummi, kau tau, abi tidak pernah main-main dalam hal ini. Dalam cita-cita pendidikan untuk 8 junior kita ini.
Ummi, selama ini kau selalu bekerja keras agar para junior telah lancar membaca Al Qur’an sebelum masuk TK. Mengingat ini, kembali aku benar-benar bersyukur mendapatkan kau sebagai pendamping hidup. Sampai junior nomor tujuh kau telah menuntaskannya. Kini estafet itu ada di tangan abi untuk si nomor 8 yang baru berusia 3 tahun saat kau tinggalkannya untuk selamanya.
Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Abi sedangbekerja keras untuk tetap mengerjakan apa yang selama ini telah kau kerjakan dan memang menjadi cita-cita kita berdua. Bekerja keras agar si Jo-Joang Dimarga Albarr- telah lancar membaca Al Qur’an sebelum pendidikan TK nya. Insyaallah tetap dengan standar tinggimu sebagai seorang guru Al Quran sepanjang lebih dari 20 tahun ini. Wahai Tuhan seru sekalian alam, mudahkanlah cita-cita kami berdua ini. Aamin Yaa Rabb.
*)Artikel ke-298 karya Iman Supriyonoini ditulis di Masjid Rest Area 519A pada tanggal 3 Januari 2021 dalam perjalanan pulang mengantar si buah hati kembali masuk pesantren. Tulisan ini merupakan obituari untuk alamarhumaah Anni Muttamimah, istri penulis, yang meninggal pada tanggal 25 Desember 2020.
Warren Buffett, CEO perusahaan investasi ternama Berkshire Hathaway (BH), memutuskan untuk masuk sebagai pemegang saham Coca Cola tahun 1988. Ia tidak memutuskan dalam kapasitas sebagai pribadi. Ia memutuskannya sebagai CEO BH, perusahaan yang didrikkannya. Dengan demikian yang masuk menjadi investor pada perusahaan minuman global itu adalah BH.
Ketika itu harga saham Coca Cola adalah sekitar USD 2,3 per lembar saham. Dari berbagai sumber menyebut sampai akhir 1988 BH telah menggelontorkan USD 1,8 miliar alias IDR 26 triliun (kurs hari ini). Pada akhir tahun 1989 harga saham Coca Cola adalah berada pada posisi sekitar USD 4,74.
Hingga kini BH masih memegang saham Coca Cola. Hari ini, menjelang akhir tahun 2020, harga saham Coca Cola adalah USD 52,81. Dengan demikian, nilai aset BH itu telah naik 11,14 kali lipat dalam waktu 31 tahun. Dengan kata lain, uang USD 1,8 miliar akhir tahun 1989 yang diinivestasikan ke Coca Cola itu saat ini bernilai USD 20,52 miliar alias IDR 292 triliun (kurs hari ini).
Tahun terakhir hak laba tiap lembar saham Coca Cola adalah sekitar USD 3,7. Dengan demikian jika dihitung dari nilai investasi USD 4,74 per lembar saham imbal hasil investaasi (ROI) BH dari investasi saham Coca Cola saat ini adalah 78%.
Kesabaran investor berbuah manis
Besar atau kecil? Mari kita bandingkan bagaimana jika tahun 1989 itu BH memutuskan untuk menempatkan dananya sebagai deposito? Nilai aset akan tetap USD 1,8 miliar. Tidak berubah secara nominal. Tetapi menurun secara nilai karena tergerus inflasi. Berapa imbal hasilnya? Deposito USD hari ini imbal hasilnya adalah tidak sampai 1% per tahun. Jauh dari angka 78% yang kini dinikmati oleh BH dengan menjadi pemegang saham Coca Cola.
Bagaimana jika dibandingkan denagn deposito Rupiah? Nilai nominal uang juga tidak berubah. Tetapi nilai riilnya sangat menurun karena inflasi Rupiah jauh lebih tinggi dibanding USD. Berapa imbal hasilnya? Saat ini imbal hasil deposito Rupiah adalah sekitar 5% per tahun. Tetap masih kalah jauh dibanding ROI saham Coca Cola yang dimiliki BH.
Jadi, kekayaan BH, perusahaan yang didirikan oleh Warren Buffett diperoleh dari kesabaran berinvestasi jangka panjang pada saham berbagai perusahaan. Coca cola salah satunya. Sabar tidak tergiur oleh deposito Rupiah yang jauh lebih besar dari pada imbal hasil saham yang dalam jangka pendek memang sangat rendah. Bedanya, imbal hasil investasi (ROI) saham terus tumbuh seiring dengan pertumbuhan perusahaan. Nilai aset juga tumbuh seiring dengan pertbuhan nilai perusahaan. Sebaliknya imbal hasil depotiso akan tetap. Bahkan nilai asetnya tergerogoti oleh inflasi. Sebagai investor, Anda pilih mana? Sabar berinvestasi jangka panjang seperti Warren Buffett? Atau memiih imbal hasil yang sekilas nampak tinggi pada deposito?
Sheryl Kara Sandberg. Sering dipanggil Sheryl Sandberg. Di dunia bisnis Tidak banyak perempuan seperti dia ini. Tidak banyak juga lelaki yang seperti dia. Dia memang sosok luar biasa.
Keluarbiasaannya dimulai sejak tahun 2001. Tahun ketika ia mulai bekerja di Google sebagai vice president. Posisi karyawan tertinggi itu diraihnya setelah keberhasilan di karir sebelumnya. Tetapi kala itu Google baru berusia 3 tahun. Jadi sebenarnya ketika itu bisa dikatakan bahwa dia tidak hebat-hebat amat. Google adalah perusahaan kecil. Dia tertarik karena sebuah visi untuk menyediakan informasi gratis bagi siapa pun. Google memberinya tempat.
Tanggung jawabnya di Google adalah penjualan iklan. Jika melihat Google sekarang, pekerjaan itu bisa dikerjakan oleh siapapun. Tidak perlu orang hebat untuk melakukananya. Tetapi itu adalah 19 tahun lalu. Ketika Google belum apa-apa. Ketika orang masih memilih Yahoo untuk e-mail. Butuh orang hebat untuk menjual jasa iklan Google.
Sheryl mengerjakan tugasnya dengan baik. Akuisisi Google terhadap Youtube tahun 2006 adalah salah satu kesuksesan yang tidak bisa dilepaskan dari Sheryl. Tentu saja bukan sekedar akuisisi. Tetapi lebih bagaimana menjadikan Youtube sebagai sumber pundi-pundi uang baru Google.
Kasih sayang ibu
Setelah sukses berada di puncak karir sebagai karyawan di Google, tahun 2008 Sheryl dipinang Facebook. Posisinya adalah chief operating officer. Orang kedua setelah CEO. Namun demikian, dalam terminologi tata kelola perusahaan di USA, dia belum masuk jajaran Board of Director. Belum direktur dalam terminologi tata kelola perusahaan di Indonesia.
Karena prestasinya, tahun 2012 dipercaya masuk sebagai jajaran Board or Director Facebook. Menjadi direksi. Namanya tercantum pada akta perusahaan. Posisi itu diperoleh setelah empat tahun berkarir di perusahaan besutan Mark Zuckerberg itu. Sebagai BOD tentu saja kompensasinya sangat tinggi. Ia pun masuk jajaran milyader dunia sejak tahun 2014. Dua tahun setelah menjabat BOD. Ingat ini adalah miliarder dalam mata uang USD alias dalam Rupiah sudah pada bilangan puluhan triliun. Triliuner.
&&&
Sheryl Sandberg saya pilih sebagai tokoh yang bisa menjadi inspirasi terkait dengan hari ibu. Wanita trilyuner dunia itu adalah ibu dari 2 orang anak. Bahkan ia kemudian menjadi single parent setelah ayah dari 2 buah hatinya itu menginggal pada usia 47 tahun pada tahun 2015.
Saat suaminya meninggal, perempuan kelahiran than 1969 ini sudah sukses berkarir. Tetap sambil membesarkan dua buah hatinya. Tanpa mengurangi rasa hormat untuk para ibu yang memilih mengurusi keluarganya sepenuh waktu, apa yang dilakukan oleh Sheryl bisa menjadi inspirasi bagi para ibu yang memilih mengurusi rumah tangga sambil menapaki jalur karir.
Bahwa mengasuh anak dan menjadi ibu tidak serta merta menghambar karir seseorang. Ada cara untuk berkarir sampai puncak dengan tetap memegang tanggung jawab sebagai seorang istri dan seorang ibu bagi anak-anaknya.
Dan karirnya pun bukan sembarang karir. Karirnya menyangkut sebuah layanan yang bisa dinikmati secara gratis oleh umat manusia sedunia. Siapa sekarang yang tidak menggunakan Google? Siapa yang tidak menggunakan YouTube? Hampir semua orang di dunia menggunakanya. Bahkan di negara yang secara resmi dilarang pun. Masyarakat tetap menggunakanya dengan berbagai cara. Dan mereka menggunakan Google tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Artinya, jika dipandang secara lebih luas, apa yang dilakukan Sheryl adalah memberi manfaat kepada umat manusia tanpa pandang suku, bangsa, ras, agama atau identitas apapun. Memberi manfaat kepada siapa saja umat manusia. Jika dilakukan dengan niat ihlas semata-mata untuk menggapai ridho-Nya, itu adalah sebuah pengamalan era modern dari hadits Nabi SAW. Khoirunnasi anfaahum linnas. Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagai sesamanya. Bermanfaat bagi umat manusia seluruh dunia. Juga tetap berperan sebagai ibu bagi putra putrinya. Selamat hari ibu…..