Category Archives: Uncategorized

Sukses: Melawan Takut & Trauma


Entrepreneur kita sudah terlalu banyak. Catatan BPS, ada 57 895 721 pengusaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dari 118,19 juta orang angkatan kerja. Artinya, persentase entrepreneur kita sudah  49%. Dari 100 orang, ada 49 orang yang entrepreneur. Sisanya, 51 orang, adalah karyawan.

Entrepreneur seperti apa puluhan juta orang itu? Entrepreneur yang bisnisnya hanya merekrut 1 karyawan. Betul, 49 entrepreneur dengan 51 karyawan. Perusahaan gurem. Jangan harap ada pabrik mobil, gadged, komputer, robot,  pesawat, pertanian modern, sampo, sabun, atau pabrik apapun dengan perusahaan yang rata-rata hanya punya 1 karyawan.

Itulah kenyataan di dunia bisnis kita. Maka, jangan lagi memperunyam keadaan dengan berkampanye menambah jumlah entrepreneur. Jangan lagi ada seminar motivasi entrepreneur. Jangan lagi ada mata kuliah yang memacu orang menjadi entrepreneur. Akan makin bikin ekonomi kita terpecah-pecah menjadi perusahaan-perusahaan gurem. Pasar kita akan makin dikuasai korporasi asing yang kokoh dengan karyawan puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang. Dikuasai perusahaan asing dengan merek kuat yang dipakai di seluruh dunia. Dikuasai perusahaan terkorporatisasi. Perusahaan yang mengikuti corporate life cycle secara sempurna sampai tahap ke-8.

Irisan bawang merah mentah yang bikin trauma. Saya lawan. Kini menjadi nikmat.

Terhadap fakta seperti di atas, akan ada banyak orang yang takut. “Ya sudah, saya merintis karir di perusahaan besar saja”. Tetapi, pasti ada satu dua yang berbeda. Ditakut-takuti justru tidak takut. Bisa melawan ketakutan. Dan inilah yang dibutuhkan di dunia bisnis nasional. Entrepreneur yang bisa melakukan korporatisasi dan menyatukan dunia bisnis kita yang kecil-kecil dan terpecah belah. Kata kuncinya: melawan ketakutan!

&&&

Melawan takut. Bahkan melawan trauma. Ketakutan yang sudah menancap dalam dalam di jiwa masuk alam bawah sadar. Untuk ini saya punya pengalaman kecil. Sangat penting sebagai sikap mental.

Saya lahir di sebuah desa tepi hutan di Kabupaten Madiun. Sebagaimana orang orang pada umumnya, kelahiran saya ditolong oleh mbah dukun. Bukan bidan. Apalagi dokter kandungan. Jika bayi dan anak anak sakit, cukup dibacakan jampi-jampi yang ditiupkan ke segelas air oleh mbah dukun. Air itu diminumkan ke si sakit. Dan sembuh. Tentu saja ada yang tidak sembuh dan mati heheheh.

Ada sebuah tradisi desa yang juga dilakukan oleh ibu saya. Jika sakit panas, anak-anak selalu dikompres dengan irisan bawang merah mentah dicampur dengan minyak goreng. Demikian  juga saya. Aromanya tajam tidak enak dan sangat mengganggu. Ngalek-ngalek kata orang jawa. Bikin trauma. Jadi kalau sakit, saya ingin sekali segera sembuh karena paling tidak suka dengan aroma irisan bawang merah mentah berpadu minyak goreng itu.

Nah, begitu hijrah di Surabaya, saya mendapati sesuatu yang menarik. Jika makan sate, orang orang selalu menyertainya dengan irisan bawang merah banyak-banyak.  Menarik karena sesuatu yang saya menganggapnya sangat mengganggu dan traumatis justru dimakan dengan lahapnya oleh orang-orang. Bagaimana bisa?

Tetapi saya adalah orang yang suka tantangan. Maka, saya putuskan untuk menjadikannya sebagai tantangan. Bagaimana mengubah diri dari trauma bawang merah mentah menjadi penggemarnya. Seperti orang-orang surabaya. Saya pun memulai. Memaksakan makan sate dengan bawang merah  mentah. Pertama memakannya mual. Hampir muntah. Hanya seiris dua iris dan saya hentikan. Saya tidak kuat.

Beberapa waktu kemudian saya makan sate lagi. Saya coba lagi dengan seiris dua iris bawang merah mentah. Masih sama. Tidak kuat meneruskannya. Mual. Hampir muntah. Demikian seterusnya. Saya terus mencoba dan mencoba lagi. Makin lama makin banyak yang bisa saya makan. Dan kini…..saya sudah seperti orang orang Surabaya. Jika makan sate selalu dengan bawang merah banyak banyak. Nikmat sekali……. Konon juga menjadi penawar kolesterol.

&&&

Melawan takut. Melawan trauma. Dari takut menjadi berani. Dari trauma menjadi nikmat. Itulah yang memenuhi kriteria entrepreneur sejati. Entrepreneur pendiri korporasi dengan produk yang dipakai di berbagai negara. Pendiri korporasi penanda sejarah. Bukan yang bermental UKM atau UMKM.

Dunia bisnis kita butuh entrepreneur yang jika ditakut-takuti justru tertantang. Dan ini saya kira berlaku umum. Termasuk bagi para pegawai di berbagai perusahaan yang sampai pada level CEO perusahaan besar. Dari takut memutuskan menjadi berani dan akhirnya menikmati. Sukses. Trauma irisan bawang merah mentah menjadi pelajaran. Dari trauma, berani melawan trauma, memulai dari sedikit, terus melawan mual, melawan muntah, akhirnya terasa nikmat. Sukses. Bagaimana Anda? Apa ketakutan Anda? Apa trauma Anda? Jadikan sebagai training mental Anda. Putuskan sekarang juga untuk menjadi berani. Menjadi sukses! Bisa!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-280 ini ditulis pada tanggal 23 Agustus 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting, dipersembahkan spesial untuk seseorang yang sangat diharapkan kebaikannya yang mengalami kasus trauma serupa.

Subsidi Pupuk: Pecah Belah Petani oleh Pemerintah


Impor hasil tani bagi sebuah  negara agraris adalah sebuah ironi. Tetapi itu terus terjadi dan terjadi lagi. Mengapa? Ada banyak penyebab. Salah satu penyebab utama adalah masalah efisiensi. Pertanian kita kalah efisien dengan pertanian negara-negara asal impor. Pertanian beras kita kalah efisien dengan pertanian beras vietnam. Pertanian kedelai kita kalah efisien dengan dengan pertanian kedelai Amerika Serikat. Pertanian tebu kita kalah efisien dengan pertanian tebu Thailand. Pertanian bawang putih kita kalah efisien dengan Cina. Itulah sekedar menyebut beberapa contoh.

Akibatnya, beras di Indonesia lebih mahal dari pada beras di Vietnam. Kedelai di Indonesia lebih mahal daripada di USA. Gula di Indonesia lebih mahal dari pada di Thailand. Bawang putih di Indonesia lebih mahal dari pada bawang putih Cina. Dan… hukum ekonomi pun terjadi. Beras, kedelai, gula dan bawang putih mengalir deras ke Indonesia. Terjadilah ironi itu. Negeri agraris mengimpor produk pertanian untuk mengisi perut rakyatnya.

Mengapa mereka efisien? Mengapa kita tidak efisien? Banyak penyebab. Salah satu yang utama adalah masalah economy of scale. Ekonomi skala. Pertanian beras, kedelai, tebu dan bawang putih kita terpecah pecah menjadi lahan kecil kecil yang dimiliki dan dikelola perorangan.

Benarkah? Mungkin akan ada yang mendebatnya. Tapi bandingkan misalnya dengan pertanian sawit. Indonesia adalah eksportir hasil sawit terbesar dunia. Mengapa? Karena pertanian sawit kita terkonsolidasi. Pertanian yang bersatu. Petani sawit kita didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar dengan lahan ratusan ribu bahkan jutaan hektar. Astra Agro Lestari misalnya menanam sawit di 285 ribu  hektar.

Pertanyaannya, mengapa pertanian beras, kedelai, tebu dan bawang putih kita terpecah-pecah menjadi lahan kecil-kecil? Tentu banyak penjelasan. Salah satunya adalah kebijakan pecah belah yang dilakukan oleh pemerintah. Lho, pemerintah melakukan kebijakan pecah belah? Begitu mungkin pertanyaan banyak orang. Mungkin juga Anda. Tidak percaya.

Sabung ayam edit

Jangan pecah belah petani. Satukan mereka menjadi korporasi seperti SunRice

Tapi mari kita lihat. Permentan nomor 01 tahun 2020 misalnya. Kebijakan kementerian pertanian tentang subsidi pupuk. Sekedar menyebut contoh, pupuk urea non subsidi harganya Rp 5900/kg. Dengan subsidi jadi Rp 1800/kg. Pupuk NPK non subsidi Rp 10 000/kg. Disubsidi menjadi Rp 2300/kg. Artinya, pemerintah memberi pupuk NPK dari pabrikan dengah harga non subsidi, lalu menjualnya kepada petani dengan harga subsidi. Membeli pupuk NPK dengan harga Rp 10 000/kg lalu menjualnya kepada petani dengan harga Rp 2300/kg. Subsidi Rp 7 700/kg tentu saja dari APBN.

Siapa saja yang boleh membeli pupuk subsidi? Permentan tersebut memberi syarat. Salah syaratnya adalah luas lahan maksimum 2 hektar. Artinya, hanya petani yang lahannya tidak lebih dari 2 hektar yang boleh membeli pupuk subsidi dengan harga diskon 77%  tersebut.

Apa efeknya? Si A yang memiliki lahan 100 hektar harus membeli pupuk NPK dengan harga Rp 10 ribu/kg. Si B yang memiliki lahan 2  hektar membeli pupuk yang sama dengan harga Rp 2 300/kg. Diskon 77%. Maka, akibat logisnya, para petani yang  memiliki  lahan diatas 2 hektar akan mencari cara agar memecah-mecah lahannya menjadi maksimal 2 hektar. Sementara petani yang memiliki lahan maksimal 2 hektar tidak akan tertarik untuk menyatukan lahannya dengan petani lain menjadi 100 hektar misalnya.

Nah, pertanian dengan luas lahan maksimal 2 hektar itu tidak efisien. Supaya efisien mestinya adalah seperti Astra Agro Lestari yang lahannya 285 ribu hektar. Dengan lahan seluas itu maka mesin-mesin pertanian modern seperti pesawat terbang untuk menyemprotkan pestisida bisa dibeli dan dioperasikan dengan efisien.

Bagaimana menjadi 285 ribu hektar? Caranya adalah melalui apa yang disebut korporatisasi pertanian. Para petani pemilik lahan menyatukan diri menjadi sebuah korporasi seperti yang dilakukan oleh para petani beras Australia melalui perusahaan perberasan SunRice yang beromzet Rp 11 Triliun dan menguasai pasar beras dunia.

Bagaimana supaya petani kita berbondong-bondong berkonsolidasi seperti SunRice? Permentan harus diubah. Syarat pembelian pupuk subsidi diubah menjadi lahan minimum. Bukan lahan maksimum. Misal: pupuk subsidi baru boleh dibeli oleh petani yang lahannya minimum 10 hektar. Maka petani akan berbondong bondong menyatukan diri agar lahannya menjadi 10 hektar.

Cara legal yang paling optimal adalah dengan membentuk badan hukum PT. SunRice dulunya adalah kelompok tani yang kemudian berubah menjadi koperasi dan selanjutnya menjadi PT. SunRice berpengalaman bahwa koperasi jauh lebih powerful dibanding kelompok tani. Dan setelah puluhan tahun dijalani, PT jauh lebih powerful dibanding koperasi.

Setelah semua petani menjadi perlahan 10 hektar, ubah lagi Permentannya. Jadikan syarat pembelian menjadi 100 hektar. Maka, tiap 10 PT yang berlahan 10 hektar akan melakukan konsolidasi melalui akuisisi dan merger menjadi 100 hektar.

Setelah semua menjadi 100 hektar, ubah lagi syarat pembelian pupuk subsidi menjadi 1000 hektar dan seterusnya. Akan terjadi konsolidasi seperti di pertanian sawit. Akan muncul SunRice-SunRice baru dari Indonesia. Terjadi perbaikan economy of scale besar-besaran.  Pertanian beras menjadi efisien. Petani menjadi pemegang saham perusahaan-perusahaan perberasan raksasa seperti SunRice. Petani menjadi sejahtera. Pertanian korporasi. Dan setelah efisien, subsidi pupuk bisa dicabut tanpa merugikan petani. Kenapa? Karena hasil efisiensi karena economy of scale sudah jauh lebih menguntungkan dari pada nilai subsidi pupuk.

Saatnya berubah. Kebijakan pecah belah petani mesti diubah menjadi kebijakan pro konsolidasi. Kebijakan yang menyatukan petani. Bersatu  kita efisien. Berpecah-belah kita boros. Bersatu kita teguh. Bercerai berai kita jatuh. Bersatu kita mengekspor produk pertanian. bercerai berai kita mengimpornya.  Bagaimana, pemerintah mau berubah?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-279 ini ditulis pada tanggal 13 Agustus 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.

Kelas Korporatisasi rumah sakit

Tidak hanya pertanian. Rumah sakit pun perlu melakukan konsolidasi melalui korporatisasi. ikuti KELAS KORPORATISASI RUMAH SAKIT malam ini. Daftar https:wa.me/6281358447267

Wardah, Dahlan Iskan & Konsolidasi Kosmetik Nasional


“Saya tidak bisa membayangkan apakah orang seperti keluarga Wardah sampai hati untuk goreng-goreng saham. Atau akuisisi sini akuisisi sana. Kalau perlu secara curang – yang penting harga saham naik terus. Saya tidak bisa membayangkan apakah Nurhayati tega sengaja menjatuhkan harga saham untuk menipu publik”

Itulah kutipan tulisan Dahlan Iskan dalam tulisan berjudul “Wardah Sasmi”. Pada artikel yang ditulis setelah wawancara dengan Nurhayati itu, diungkap bahwa dengan berbagai alasan Wardah tidak mau masuk lantai bursa. Kutipan diatas menunjukkan dukungan Pak Dahlan, demikian saya biasa memanggil, terhadap keputusan Wardah untuk tidak masuk lantai bursa.

Mengibarkan merah putih

Saatnya  menerjemahkan semangat juang membela merah putih melalui korporasi. Di era korporasi, ekonomi antara negara itu seperti permainan sepak bola. Pemenang adalah bangsa yang lebih banyak memasukkan “gol” produk dan  perusahaannya ke negara lain daripada sebaliknya.

Sebagai pendiri Wardah, Bu Nur, demikian saya biasa memanggilnya, memang jauh sekali dari karakter curang atau goreng-goreng saham. Jadi jika lantai bursa identik dengan goreng-goreng saham dan kecurangan, memang Wardah tidak akan cocok. Pertanyaannya, benarkah goreng-goreng saham dan curang identik dengan masuknya suatu perusahaan di lantai bursa? Apakah akuisisi merupakan sebuah keserakahan? Mari kita lihat secara seksama. Supaya lebih terstruktur, saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin:

  1. Sebuah perusahaan bisa eksis jika menghasilkan produk yang bisa memberikan manfaat alias benefit untuk masyarakat. Masyarakat memang harus membeli produk itu. Tetapi pembeli akan melakukan evaluasi. Pembelian ulang akan terjadi jika customer mendapatkan benefit jauh lebih besar dari uang (cost) yang digunakan untuk membelinya.
  2. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Demikian terjemah sebuah hadits shahih. Dengan tinjauan benefit-cost, perusahaan yang terus tumbuh dalam omset, aset, laba dan ekuitas pada dasarnya adalah tumbuh juga dalam memberikan manfaat bagi umat manusia.
  3. Ada pendiri perusahaan yang berbisnis sekedar mencari uang. Ada yang berbisnis untuk membangun kemanfaatan bagi sesama. Sepanjang berinteraksi dengan Bu Nur dan Pak Subakat, tampak jelas sekali bahwa Wardah bukan tipe yang disebut pertama. Bu Nur berbisnis bukan sekedar untuk mencari uang. Berbisnis adalah ibadah dan memberi manfaat untuk sesama. Sumbanganya ke berbagai kepentingan sosial besar sekali
  4. Kemanfaatan dalam hadits tersebut tidak dibatasi oleh sekat sekat negara, bangsa, etnis, agama, atau sekat apapun. Untuk mencapai itu, tentu tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan konsolidasi kekuatan yang luar biasa. Konsolidasi yang juga telah dilakukan oleh pesaing wardah seperti Unilever atau L’oreal misalnya sepanjang sejarah mereka.
  5. Konsolidasi seperti apa? Di republik ini ada 2 perusahaan kosmetik yang didirikan dan dikelola oleh anak bangsa yaitu Sariayu dan Mustika Ratu. Keduanya kini berada dalam kondisi yang tidak bagus
  6. Mustika Ratu mengalami kerugian terus menerus dari tahun 2016 sampai tahun 2018. Tahun 2019 baru membukukan laba sebesar Rp 132 juta. Tetapi omzetnya sepanjang periode tersebut turun. Penjualan tahun 2016 Rp 344 miliar, turun 20% dibanding tahun sebelumnya yang Rp 428 miliar. Tahun 2019 penjualan Rp 305 miliar alias masih turun 29% dibanding tahun 2015.
  7. Sariayu setali tiga uang. Tahun 2019 membukukan rugi sebesar Rp 114 miliar. Dua tahun sebelumnya juga rugi. Tahun 2016 laba Rp 8 miliar tapi 2015 juga rugi Rp 14 miliar. Omzet tahun 2015 Rp 694 miliar. Tahun 2019 omset masih berada posisi Rp 502 miliar alias turun 28% dibanding posisi tahun 2015.
  8. Banyak penjelasan yang bisa diberikan terhadap menurunnya kinerja Mustika Ratu dan Sariayu. Tetapi poin penjelasan paling penting adalah bahwa keduanya beroperasi dibawah economic of scale. Pendapatannya tidak cukup untuk menopang seluruh biaya perusahaan. Omzet yang menurun dalam 4 tahun terakhir adalah kinerja yang paling harus diperhatikan. Perusahaan makin kehilangan kekuatan dalam persaingan. Dalam kondisi seperti ini, konsolidasi adalah alternatif terbaiknya.
  9. Nah, dalam kondisi seperti itu,  konsolidasi kekuatan sesama anak bangsa adalah solusi. Bersatu kita teguh. Bhineka tunggal ika. Unilever yang kini begitu digdaya adalah hasil dari proses konsolidasi panjang melalui merger dan akuisisi puluhan perusahaan sepanjang sejarah sejak kelahirannya tahun 1929. L’oreal pun idem ditto. Wardah adalah perusahaan yang tepat untuk memimpin konsolidasi kekuatan nasional di bidang kosmetik melalui akuisisi dan merger.
  10. Apakah akuisisi merupakan keserakahan? Bagi banyak orang dipandang demikian. Tetapi pandangan ini terjadi karena ketidakpahaman tentang korporasi. Faktanya sama sekali tidak. Kita bisa mempelajarinya dari sejarah panjang berbagai perusahaan. Termasuk Unilever dan L’oreal. Akuisisi adalah bentuk konsolidasi yang menguntungkan semua pihak yang terlibat. Untuk menggambarkannya mari kita umpamakan Wardah mengakuisisi Sariayu dan Mustika Ratu untuk membentuk sebuah perusahaan kosmetik besar. Perusahaan yang mampu mengibarkan sang merah putih tinggi-tinggi di berbagai negara. Seperti Unilever yang mengibarkan bendera Inggris dan Belanda dimana-mana termasuk di Indonesia. Seperti L’oreal yang mengibarkan bendera Perancis dimana-mana, termasuk di Indonesia.
  11. Mari kita hitung. Harga 100% saham Mustika Ratu hari ini adalah Rp 58 miliar. Dengan laba seperti tersebut diatas maka ROI bagi pemegang saham adalah 6,64%. Artinya, misalkan Anda saat ini membeli saham Mustika Ratu senilai Rp 100 juta, Anda akan mendapatkan hak laba Rp 6,64 juta sesuai dengan laba tahun 2019.
  12. Wardah sampai saat ini belum tercatat di lantai bursa sehingga belum ada data yang tersedia untuk publik. Tapi untuk kepentingan ini kita bisa mengambil asumsi. Asumsi saya ambil berdasarkan selentingan informasi di berbagai media. Misalkan omzet Wardah 2019 adalah Rp 5 triliun dengan laba Rp 100 miliar. sekali lagi ini adalah angka asumsi. Nah, akuisisi yang bermakna konsolidasi artinya Wardah membeli 100% saham Mustika Ratu.
  13. Akuisisi biasanya terjadi pada harga diatas harga pasar. Harga pasar Mustika Ratu hari ini Rp 58 miliar. Misalkan transaksi terjadi pada harga Rp 200 miliar. Nah, uang itulah yang akan diterima oleh semua pemegang saham Mustika Ratu Termasuk pemegang saham pendiri. Karena tujuannya adalah konsolidasi, maka uang itu tidak kemana-kemanakan. Tetapi digunakan untuk membeli saham wardah..
  14. Misalkan, Wardah saat ini terdiri dari 100 000 lembar saham yang masing-masing nilainya di akta adalah Rp 1 juta. Sekali lagi ini angka asumsi. Modal setor total adalah Rp 100 miliar. Semua  dipegang oleh keluarga Bu Nur.
  15. Bu Nur dan keluarga sama sekali tidak perlu menjual saham yang dimilikinya. Yang akan dibeli oleh mantan pemegang saham Mustika Ratu adalah saham yang baru diterbitkan oleh Wardah. Jumlah lembar yang akan diterbitkan adalah sedemikian rupa sehingga hak laba mantan pemegang saham Mustika Ratu tetap sebesar Rp 132 juta. Dengan demikian tidak ada perubahan ROI bagi mereka.
  16. Misalkan laba wardah setelah mengakuisisi akan menjadi Rp 210 miliar. Naik Rp 10 miliar dari hasil efisiensi, sinergi dan pengambangan pasar setelah memiliki merek-merek dari Mustika Ratu. Maka, Wardah harus menerbitkan 63 lembar saham baru untuk dibeli oleh mantan pemegang saham Mustika ratu. Dengan demikian total lembar saham Wardah akan menjadi 100 063 lembar. Keluarga Bu Nur tetap memegang 100 000 lembar. Sama sekali tidak berkurang.  Mantan pemegang saham Mustika Ratu memiliki 63 lembar. Nilai saham tersebut tetap Rp 200 miliar alias Rp 3,174 miliar per lembar saham. Tidak ada perubahan nilai dari uang yang diterima saat menjual saham Mustika Ratu.
  17. Dengan laba Rp 210 miliar seperti disebut diatas, hak mantan pemegang saham Mustika Ratu akan menjadi 63/100063 dikalikan Rp 210 miliar yaitu Rp 132 juta. Selanjutnya, keluarga bu Nur akan mendapatan hak laba sebesar 100 000/100 063 dikalikan Rp 210 miliar yaitu Rp 209 868 miliar.
  18. Salah satu keuntungan dari keluarga Bu Nur adalah nilai perusahaan yang meningkat. Dengan harga per lembar saham Rp 3,174 milar di atas, nilai aset 100 000 lembar saham keluarga Bu Nur setelah akuisisi adalah menjadi Rp 317 triliun.
  19. Dengan jumlah lembar saham seperti di atas, hak laba mantan pemegang saham mustika ratu tidak dikurangi. Sama persis dengan yang diterima sebelum diakuisisi. Bahkan setelah akuisisi akan makin berkembang pesat seperti perkembangan Wardah yang lagi naik daun.
  20. Hak laba keluarga Bu Nur mengalami naik Rp 9,668 miliar dibanding sebelum mengakuisisi. Penambahan ini adalah hasil dari sinergi.
  21. Tentu saja angka jumlah lembar saham untuk mantan pemegang saham Mustika Ratu bisa dinegosiasikan. Misalnya saja Wardah bisa menerbitkan 200 lembar saham baru untuk mantan pemegang saham Mustika Ratu. Jika angka ini yang dipakai maka hak laba mantan pemegang saham Mustika Ratu akan menjadi 300/100300 dikalikan Rp 210 miliar alias Rp 628 juta. Tentu merupakan keuntungan luar biasa jika ini terjadi bagi pemegang saham Mustika Ratu. Hak laba keluarga Bu Nurhayati akan menjadi 100 000/100 300 dikalikan Rp 210 miliar yaitu Rp 209,372 miliar.  Masih naik juga.
  22. Nah, jika demikian, akuisisi Mustika Ratu oleh Wardah jauh dari stigma negatif seperti serakah, goreng-goreng saham, mencaplok dan sejenisnya. Yang terjadi adalah bersatu untuk menghasilkan sinergi yang akan dinikmati bersama baik oleh pemegang saham kedua perusahaan. Juga untuk pemangku kepentingan yang lain seperti pemerintah dan masyarakat indonesia. Pemerintah menikmati karena ada kenaikan setoran pajak dari laba perusahaan pasca akuisisi dibanding dua perusahaan sebelum akuisisi. Juga karena serapan tenaga kerja karena ekspansi setelah akuisisi.  Masyarakat akan bangga karena dengan akuisisi konsolidasi ini berikutnya Wardah akan mudah melakukan hal serupa untuk perusahaan-perusahaan kosmetik di berbagai negara di seluruh dunia. Seperti yang juga selalu dilakukan oleh Unilever dan L’oreal
  23. Akuisisi Sariayu juga kurang lebih seperti terhadap Mustika Ratu itu. Salah satu pekerjaan konsultan manajemen seperti SNF Consulting, kantor dimana sehari hari saya berkarya, memang  membantu akuisisi seperti seperti itu. Bahkan biasanya untuk lebih powerful akuisisi akan ditindaklanjuti dengan merger.
  24. Apakah dengan demikian Wardah harus IPO? Belum. Ukuran Wardah masih kurang besar untuk masuk lantai bursa. Masih rawan terkena IPO Trap. Wardah mesti terus-menerus menerbitkan saham baru baik untuk akuisisi maupun tumbuh secara organik dengan membangun pabrik. Juga untuk meluncurkan merek-merek baru di berbagai kategori. Di dalam maupun luar negeri di berbagai bangsa.
  25. Penerbitan saham mesti dilakukan di luar lantai bursa. Seperti yang terus-menerus juga dilakukan oleh Gojek misalnya. Seperti juga oleh Unilever dan L’oreal pada awal-awal sejarahnya. IPO baru dilakukan setelah ukurannya cukup besar. Paling tidak sudah dekat-dekat Unilever Indonesia yang kini omzetnya Rp 43 triliun. Setelah IPO masih terus-menerus menerbitkan saham untuk terus tumbuh. Penerbitan saham baru berhenti setelah Wardah hadir di lebih dari 150 negara seperti Unilever.
  26. Pembeli saham baru tersebut bisa mantan pemegang saham perusahaan yang diakuisisi. Seperti contoh terhadap Mustika Ratu di atas. Bisa juga masyarakat luas. Termasuk oleh lembaga sosial seperti Muhammadiyah dimana Bu Nur juga aktif didalamnya. Muhammadiyah bisa mengumpulkan dana wakaf  dari anggota yang jumlahnya puluhan juta untuk digunakan membeli saham baru Wardah. Menguatkan pilar ketiga Muhammadiyah.
  27. Dengan demikian tiap tahun Muhammadiyah aka menerima dividen sesuai dengan jumlah lembar saham yang dipegangnya. Dana dividen digunakan untuk biaya kegiatan sosial. Termasuk pendidikan gratis atau murah untuk anak bangsa.  Ini membuat donasi yang selama ini sudah biasa dilakukan oleh Bu Nur atau Wardah menjadi mengikat dan permanen karena berupa dividen atas saham wakaf. Wardah akan benar-benar dekat dengan customer kosmetik halal yang selama ini menjadi positioningnya
  28. Jika itu dilakukan, Wardah akan menjadi seperti L’oreal yang menguasai pasar lebih dari 70 negara. Akan menjadi seperti Unilever yang menguasai pasar lebih dari 150 negara. Akan menjadi fully corporatized company yang sepenuhnya berjalan sesuai sistem manajemen. Pemegang sahamnya kecil-kecil. Tidak ada pemegang saham yang bisa mendiktekan kemauan pribadinya. Semua bekerja sesuai sistem. Direksi akan menjadi benar-benar berfungsi. Jauh dari fenomena pseudo director seperti yang jamak terjadi pada perusahaan keluarga atau BUMN. Saat ini Wardah sedang dalam perjalanan. Berada pada stage ke 5 dari 8 stage corporate life cycle.
  29. Wardah membesar melampaui sekat-sekat negara. Memberi manfaat untuk sesama dari berbagai bangsa. Menguatkan ekonomi umat. Memberi tempat untuk dana wakaf. Mengibarkan sang merah putih tinggi-tinggi di berbagai negara. Membanggakan Indonesia. Melayani dunia. Meneruskan semangat Panglima Sudirman yang juga kader Muhammadiyah. Meneruskan semangat Bung Tomo dengan pekiknya yang terkenal. Allahuakbar! Merdeka!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-278 ini ditulis pada tanggal 11 Agustus 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.

Ngawur Tentang Resesi: Tarik Uang di Bank?


Hari ini di media sosial dan grup-grup WA maupun telegram beredar link tulisan tentang resesi. Komentar-komentar yang muncul menunjukkan kekhawatiran yang luar biasa tentang hal ini. Bahkan beredar pula anjuran tentang penarikan uang di bank. Apa sebenarnya resesi? Bagaimana kita menyikapinya? Saya akan menjelaskannya dalam bentuk poin poin
stress depresi edit

  1. Ada perbedaan pandangan mengenai definisi resesi. Menurut saya, yang paling pas adalah definisi berikut ini: secara angka, suatu wilayah atau negara disebut mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya minus. Atau definisi yang lebih tegas bahwa yang disebut resesi adalah jika pertumbuhan ekonomi minus berlangsung paling tidak dua triwulan berturut turut.
  2. Alat ukur pertumbuhan ekonomi gross domestic product (GDP) atau produk domestik bruto (PDB)
  3. Sederhananya, PDB adalah jumlah total omzet (revenue, penjualan) semua pelaku ekonomi yang berada di wilayah atau negara tersebut, baik pelaku ekonomi perorangan maupun perusahaan, baik pelaku ekonomi lokal maupun pelaku ekonomi dari luar negeri atau luar wilayah yang diukur
  4. Jadi misalnya dalam konteks Indonesia, omzet PT Unilever Indonesia akan menjadi komponen dari PDB Indonesia walaupun perusahaan tersebut merupakan anak perusahaan dari Unilever di Inggris/Belanda
  5. Jika Anda seorang pegawai, gaji Anda adalah salah satu komponen PDB Indonesia. Demikian juga gaji WNA yang bekerja di Indonesia
  6. Dengan demikian, secara angka, resesi terjadi jika pada suatu wilayah terjadi penurunan PDB dibanding periode sebelumnya.
  7. Dalam periode tahunan, tidak ada perbedaan persepsi mengenai apa yang dimaksud “periode sebelumnya”. Tinggal membandingkan PDB pada tahun tertentu dengan PDB persis tahun sebelumnya. Misal: PDB tahun 2020 dengan tahun 2019.
  8. Untuk periode triwulan, terdapat kemungkinan dua perbandingan. Bisa dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Bisa juga dibandingkan dengan triwulan persis sebelumnya.
  9. Ini gambaran angkanya. Menurut BPS, pada triwulan I tahun 2020 PDB Indonesia adalah Rp2.703,1 triliun (diukur dengan nilai mata uang konstan tahun 2010). Menurut BPS, angka tersebut naik 2,97% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Secara perhitungan matematis, artinya, PDB Indonesia triwulan pertama 2019 adalah Rp 2.625,1 triliun. Angka pertumbuhan yang positif ini artinya adalah pada triwulan pertama tahun 2020 di Indonesia tidak terjadi resesi. Pembandingnya adalah triwulan yang sama tahun sebelumnya
  10. Menurut BPS, jika dibandingkan dengan triwulan persis sebelumnya (triwulan terakhir 2019) PDB Indonesia mengalami penurunan 2,41%. Artinya, omset para pelaku ekonomi di Indonesia pada triwulan pertama tahun 2020 turun 2,41% dibanding triwulan terakhir 2019. Dengan perbandingan ini, pada triwulan pertama tahun 2020 ini di negeri ini telah terjadi resesi.
  11. Pertanyaannya, sebagai pelaku ekonomi, apa yang Anda rasakan pada triwulan pertama tahun 2020 yang baru saja berlalu? Apakah saat itu Anda mengalami masalah yang begitu beratnya? Apakah sebegitu menderita? Apakah Anda stress? Mau bunuh diri? Saya kira secara umum akan mengatakan tidak. Biasa-biasa saja. Dan memang seperti inilah pelaku ekonomi. Omset turun itu hal yang biasa saja. Tinggal bagaimana menyesuaikan pengelolaan arus kas sesuai kondisi
  12. Nah, kembali kepada pertanyaan di pembukaan tulisan ini. Dengan pengertian resesi seperti di atas. Dengan pengalaman resesi pada triwulan pertama 2020. Adakah yang perlu ditakutkan jika triwulan ini terjadi resesi? Jika tahun  ini terjadi resesi? Jawaban yang normal: biasa saja.
  13. Apalagi jika Anda telah membaca tulisan saya tentang analogi nilai rata rata kelas ini. resesi itu hal biasa bagi para “siswa” yaitu pelaku ekonomi. Karena memang resesi bukan ukuran kinerja seorang “siswa”. Tapi ukuran kinerja “wali kelas” yaitu pemerintah.
  14. Maka bagaimana seandainya triwulan ini terjadi resesi? Haruskah kita berbondong bondong mengambil uang di bank? Kalau Anda menjawab “ya”  untuk pertanyaan ini, berarti Anda belum paham penjelasaan di atas  heheheh. Baca lagi dweh.

Demikian penjelasan saya tentang resesi. Jadi bagaimana kalau terjadi resesi? Woles saja kalau Anda adalah “siswa” alias pelaku ekonomi.  Baru harus kebakaran jenggot jika Anda adalah “wali kelas” alias alias pemegang otoritas kebijakan ekonomi  negeri ini. Berarti kinerja anda sebagai “wali kelas” buruk. Anda bisa diberhentikan dari posisi “wali kelas” oleh “kepala sekolah” heheheh.

Diskusi tentang Korporatisasi? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-277 ini ditulis pada tanggal 3 Agustus 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting.

Ajal Saat Rapat


Surabaya di suatu sore. Rapat klien SNF Consulting yang membahas strategi itu segera dimulai begitu shalat ashar kelar.  Semua peserta telah kembali dari masjid yang tinggal jalan kaki menyeberang jalan dari tempat rapat. Segera rapat dibuka kembali oleh pimpinan rapat. Agenda pertama adalah mendengarkan presentasi progress pekerjaan oleh Pak Imam, begitu panggilannya sehari-hari.

Pak Imam berdiri mendekat layar. Dengan mantap dipaparkannya berbagai agenda penting yang menjadi tugasnya. Tentang upaya-upaya pemasaran. Tentang program promosi. Tentang pertumbuhan pendapatan. Di tengah-tengah keasyikan presentasi, tiba-tiba ia memegang dada dan menyampaikan bahwa dirinya tidak kuat. Lalu terjatuh.

Karena posisi duduk yang paling dekat dengan posisinya, segera saya meraihnya. Lalu membopongnya bersama peserta rapat lain. Lalu dengan mobil yang ada membawanya ke rumah sakit terdekat Dan…setelah berbagai upaya pertolongan dilakukan di rumah sakit, dokter menyatakan bahwa ia telah meninggal. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

&&&

Kematian memang datang sewaktu-waktu. Pasti terjadi pada setiap orang. Tetapi tidak ada satupun yang bisa memastikan kapan akan terjadi. Nah, selepas ashar tiga tahun lalu itu saya mengalami peristiwa kematian yang paling dramatis terjadi pada seorang kawan. Kematian dalam sebuah rapat perusahaan. Persis di depan saya.

Satu sisi, saya dan seluruh peserta rapat benar-benar shock. Tetapi, sisi lain, juga ada perasaan lega. Mengapa? Karena peristiwa itu terjadi setelah yang bersangkutan mengerjakan sholat berjamaah di masjid. Tidak ada pekerjaan lain yang dilakukan si Fulan ini setelah shalat berjamaah kecuali sebuah kebaikan: rapat untuk memajukan perusahaan yang pendiriannya memang diniatkan sebagai sebuah bentuk ibadah. Bukan sekedar mencari uang.

Satu sisi adalah shock. Sisi lain adalah munculnya untaian hikmah. Pertama, bahwa para direksi, karyawan dan segenap personil perusahaan bisa menghadapi kematian saat sedang mengerjakan tugas perusahaan. Maka, rugi sekali jika pendiri, direksi, karyawan dan segenap personil perusahaan tidak meniatkan apa  yang dikerjakan di perusahaan sebagai ibadah. Tidak mendirikan perusahaan dengan niat ibadah. Tidak berangkat bekerja dengan niat ibadah. Membiarkan tarikan nafas saat bekerja bukan untuk ibadah.

Niat ibadah mesti dibenamkan dalam misi dan kemudian dijabarkan dalam corporate culture. Dengan demikian, niat ibadah akan terus-menerus ditanamkan dan diperkuat pada jiwa setiap personil. Merancang jadwal rapat agar setiap karyawan bisa melaksanakan sholat berjamaah secara on time seperti yang terjadi pada almarhum Imam adalah salah satu aplikasi teknis dari corporate culture.

Kedua, niat ibadah mesti diterjemahkan dalam apa yang akan dicapai oleh perusahaan. Secara teknis, visi perusahaan memang harus singkat, padaat, berisi, inspiratif dan menggerakkan. Visi yang bertenaga dan berbobot. Dalam kerangka ini, niat ibadah dituangkan menjadi visi memberi manfaat bagi umat manusia tanpa pandang suku, ras, agama dan bangsa.

Burung mati edit

Ajal datang sewaktu-waktu. Siapkan diri untuk itu….

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Terjemah Hadits ini sangat relevan bagi visi sebuah perusahaan. Memberi manfaat bagi sesama artinya adalah bahwa produk perusahaan bisa dinikmati umat manusia dimanapun berada. Dunia ini terdapat lebih dari 200 negara. Perusahaan mesti memasukkan kemanfaatan produk untuk mereka semua sebagai bagian dari visinya.

Ketiga, bahwa perusahaan mesti bekerja keras untuk memastikan kesejahteraan ahli waris personil yang meninggal tidak terlalu terganggu dengan kepergian si almarhum. Artinya, perusahaan mesti memastikan bahwa setiap personilnya memiliki financial planning yang memasukkan variabel  ajal yang datang sewaktu-waktu. Memang perusahaan memiliki kewajiban pasca kerja kepada karyawan. Tetapi itu tidak cukup. Mesti dibarengi dengan edukasi personal finance yang yang memadai kepada setiap personil pada level manapun.

Meninggal saat rapat memang membuat seluruh peserta rapat shock. Tetapi di dalamnya juga mengandung hikmah besar. Paling tidak tiga hikmah di atas. Anda para pengelola perusahaan, jangan menunggu kejadian seperti yang dialami almarhum Imam terjadi pada perusahaan Anda. Mari berbenah untuk kebaikan semua personil. Ayo!

Baca juga:
Surga: ketika bekerja bisnis dan ibadah menyatu
Perusahaan Dakwah

Diskusi tentang Korporatisasi? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-276 ini ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting, juga dimuat di Majalah Matan edisi Agustus 2020, terbit di Surabaya.

Menulis 32 Tahun: Majalah Kiprah


SMA 1 Caruban 1988. Papan kayu seukuran papan tulis. Politur coklatnya sudah kusam. Pelindungnya berupa anyaman kawat sudah berkarat. Sangat sederhana. Tetapi saya suka sekali berlama-lama menatapnya. Berdiri serius membaca tulisan yang menempel nyaris memenuhi seluruh permukaannya.

Awal duduk di bangku kelas 2 saya terpilih menjadi ketua 0SIS. Dalam semangat memajukan organisasi intra sekolah itu, pikiran saya tertuju pada papan sederhana itu. Mengapa tidak diubah menjadi majalah cetakan? Demikian ide dasarnya. Irine Cornelia Indhira Nigraha, kawan sekolah “penguasa” majalah dinding itu pun antusias. Segeralah saya bersama kawan-kawan pengurus OSIS, termasuk si “penguasa” majalah dinding itu,  menyusun proposalnya.

Salah satu yang membuat antusias adalah bahwa sekolah idaman anak-anak Caruban itu memiliki mesin stensil. Ketika itu mesin stensil adalah sarana yang menjadi jantung proses pembelajaran di sekolah. Bahan-bahan ujian semua dicetak di mesin yang master cetakannya mesti diketik atau dilukis dengan pena khusus.

Nah, proposal pun jadi. Termasuk didalamnya kebutuhan dana bulanan agar bisa mencetak majalah dengan kertas CD stensilan. Tentu saja termasuk biaya master stensil lengkap dengan tinta korektornya yang warna pink dengan bau khas itu. Setelah dikoreksi dan disetujui Pak Sumardi, wakil kepala sekolah urusan kesiswaan, pengurus OSIS pun langsung maju ke kepala sekolah. Tidak butuh waktu lama, Pak Hadi Soejatno, kepala sekolah ketika itu, menyetujuinya. Tentu saja lengkap dengan anggaran dana bulanan agar majalah itu bisa diterima dan dibaca seluruh siswa. Sebagai pengaju proposal, saya ditunjuk oleh sekolah untuk menjadi pimpinan redaksi. Singkat kata, majalah itu mulai terbit tahun 1989. Sampai akhir masa tugas saya sebagai pemred dan ketua OSIS, majalah itu terbit 5 edisi dalam 5 bulan berturut-turut.

&&&

Lantai 9 Gedung Sinarmas Land, 20 Maret 2018. Pagi itu hati saya berbunga-bunga. Penyebabnya adalah kedatangan 2 redaktur majalah Kiprah. Kedatangannya adalah dalam rangka wawancara untuk majalah yang terbit pertama kali pada tahun 1989 itu. Saya diwawancarai seputar bagaimana asal muasal majalah itu sampai terbit pada tahun pertamanya.

Mesin stensil

Mesin stensil manual: Dengan mesin yang harus diengkol dengan tangan secara manual inilah dulu saya dan kawan-kawan Majalah Kiprah belajar menulis dan mengelola penerbitan beserta aspek finansialnya

Ditanyakan juga tentang manfaat dari aktif menjadi redaktur majalah itu pada 32 tahun lalu. Saya sampaikan bahwa sejak menjadi redaktur dan harus terus menulis agar majalah bisa terbit bulanan, saya tidak berhenti menulis. Selain menulis untuk majalah Kiprah, saat SMA saya tiap hari juga menulis di buku harian. Menulisnya dalam bahasa Inggris. Topiknya apa saja yang penting bisa menulis dan bisa mempraktekkan kemampuan bahasa Inggris.

Saat kuliah juga rajin menulis. Menulis buku harian tetap berjalan.  Saya pernah menjadi juara menulis artikel opini di Harian Surabaya Pos. Pada lomba yang digelar koran terbesar pada masanya itu, saya menjadi juara pertama. Hadiahnya adalah piala yang sampai hari ini masih disimpan dengan baik oleh bapak ibu saya di rumah. Plus uang Rp 250 ribu. Tentu ketika itu sangat besar karena uang kuliah di ITS saat itu hanya Rp 120 ribu per semester. Tidak sampai separuh dari uang hadiah itu saya belikan mesin ketik. Tentu akhirnya membuat saya semakin rajin menulis di era yang komputer masih menjadi barang mewah dan langka itu.

Kunjungan redaksi majalah kiprah

Kunjungan dan wawancara adik-adik redaksi majalah Kiprah 20 Maret 2018, alias 30 tahun sejak majalah sekolah itu pertama kali terbit.

Sampai  hari ini saya masih menulis tiap  hari. Yang berbeda hanya kontennya. Dulu menulis masalah sosial kemasyarakatan. Lomba di Surabaya Pos itu topiknya tentang perjuangan Palestina. Saya masih menyimpan guntingan korannya.  Kini menulis tentang sejarah dan strategi korporasi. Sudah ada 11 buku terbit dan lebih dari 2000 artikel saya tulis.

Menulis tentang korporasi membuat saya banyak belajar. Menemukan banyak hal. Salah satunya adalah apa yang kemudian saya sebut sebagai korporatisasi. Korporatisasi adalah proses transformasi dari perusahaan perorangan atau keluarga menjadi korporasi modern yang produknya dipakai oleh masyarakat dunia dari berbagai bangsa. Proses inilah yang kemudian menjadi andalan layanan SNF Consulting, consulting firm yang saya dirikan. Korporatisasi dibutuhkan oleh berbagai perusahaan klien SNF Consulting. Wawancara dengan adik-adik redaktur Kiprah pagi itu juga berlangsung di ruang tamu SNF Consulting, tempat yang biasa digunakan untuk menerima tamu para direksi perusahaan yang sedang atau akan melakukan proses korporatisasi. Semua berawal dari majalah Kiprah. Semua berawal dari menulis. Jika dihitung,  berarti saya telah mengantongi 32 tahun “jam terbang” menulis.

&&&

Bersyukur sekali saya menjadi pemred majalah Kiprah. Ngomong besarnya, keahlian menulis itulah yang kini menjadi sarana membangun kemanfaatan untuk masyarakat luas di bidang manajemen korporasi.  Ngomong sederhananya, keahlian itulah yang kini menjadi sarana untuk nafkah istri dan delapan anak-anak saya. Alhamdulilah 4 diantaranya sudah lulus dan sedang proses belajar di kampus luar negeri di negara-negara yang berbeda-beda. Empat lainya sedang persiapan mengikuti jejak kakak-kakaknya.

majalah kiprah 2019

Cover Majalah Kiprah edisi 2019

Bersyukur sekali saya menjadi pemred majalah Kiprah – OSIS bersama Suraji, Lailin, Yuni Puji, Iriene, Kustin, Intan, Suraji, Nanang, Gatot, Hari, Joko, Endah, Triana, Decky, Gesti, Jety, Yanto, Sapta,  dan masih banyak lagi.  Tentu juga bersyukur berkesempatan menempuh pendidikan di sekolah yang tanggal 1 Agustus nanti memperingati ulang tahunnya yang ke-50 itu. Bersyukur karena menjadi murid Pak Mardi, Pak Hadi Soejatno, Bu Lilik, Pak Alex, Bu Lasmini, Pak Tedjo, Pak Joko, Pak Paryanto, Pak Muhadi, Bu Andi, Bu Maria, Bu Warti, Pak Kasijoen, Pak Wasis, Pak Sinarwadi, Pak Sadirin, dan semua bapak ibu guru ketika itu. Semoga adik-adik sampai kapanpun tetap bisa merasakan apa yang saya rasakan. Dirgahayu almamaterku…..

Diskusi tentang Korporatisasi? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-275 ini ditulis pada tanggal 28 Juli 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Corporate Life Cycle


Ada perusahaan yang hanya seumur jagung. Ada yang hidup terus eksis lintas abad. Yang seumur jagung dan mati saat ukurannya masih kecil tidak terhitung. Mati saat pendiri belum sempat merekrut karyawan. Atau kalaupun sempat merekrut karyawan jumlahnya relatif sedikit. Yang seperti ini tidak akan masuk radar pemberitaan media. Baik radar media mainstream, media internet, maupun radar para pegiat media sosial.

Yang seumur jagung tetapi mati saat ukurannya sudah besar biasanya akan masuk radar pemberitaan. Heboh dan viral di media sosial sedunia. Contoh yang seperti ini adalah pailitnya start bike sharing OFO dari Tiongkok. Pak Dahlan Iskan pernah menuliskannya. Saya juga menulis disini.

Yang berumur panjang lintas abad bahkan sanggup melawan disrupsi yang brutal banyak sekali. Misalnya adalah Western Union. Perusahaan asal USA ini lahir sebagai perusahaan operator telegram. Lahir dengan membangun jaringan kabel telegram. Ketika muncul teknologi email dimana layanan telegram menjadi tidak relevan, ia sudah sukses membuat layanan pengiriman uang yang kemudian tetap eksis hingga saat ini. Saya menulis khusus tentang perusahaan berbasis di USA ini disini.

Corporate Life Cycle

Pertanyaannya, mengapa ada yang berumur jagung? Mengapa ada yang berumur lintas abad? Untuk menjawabnya perlu pemahaman tentang siklus hidup korporasi. Corporate life cycle (CLC). CLC adalah hasil dari riset panjang SNF Consulting, kator saya, terhadap berbagai perusahaan di berbagai negara baik yang telah berusia lintas abad mapun yang masih relatif baru. Saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin.

  1. Ada 8 tahap dalam siklus hidup korporasi. Pertama adalah tahap kelahiran. Seorang atau beberapa orang pendiri sepakat melahirkan sebuah perusahaan baru. Untuk industri tertentu yang diatur secara ketat, pendirian harus dengan badan hukum yang memenuhi persyaratan ketat. Contohnya adalah industri perbankan. Tanpa memenuhi syarat-syarat pendirian, sebuah bank tidak boleh beroperasi. Melanggarnya merupakan tindakan pidana. Bank gelap.
  2. Sebaliknya, bisa juga perusahaan berdiri pada industri yang tidak diatur ketat. Jasa potong rambut alias barbershop Tidak harus berbadan hukum. Kalaupun ada syarat perijinan ringan sekali.
  3. Tahap kedua adalah tahap rugi. Begitu beroperasi, umumnya sebuah perusahaan akan mengalami tahap ini. Bisa jadi sama sekali tidak memiliki pendapatan. Atau bisa juga memiliki pendapatan tetapi tidak cukup untuk menanggung seluruh biayanya. Besar pasak daripada tiang.
  4. Memang akan ada kemungkinan perkecualian untuk tahap ini. Baru beroperasi langsung mengantongi laba. Misalnya ada resto yang baru dibuka langsung ramai. Pengunjung banyak. Omzet besar. Perusahaan pun mengantongi laba. Tetapi tentu saja sifatnya perkecualian. Bukan rumus umum
  5. Pada tahap ini, perusahaan dapat mengalami perbedaan kondisi berdasarkan industrinya. Perusahaan bisa berada pada industri yang sudah mapan atau berada pada industri yang sama sekali baru. Untuk perusahaan yang berada di industri yang sudah mapan, pendiri harus bertahan dengan segala kesulitannya. Tidak bisa mengharapkan investor. Tidak bisa mengharapkan Venture Capitalist (VC) untuk hadir menolongnya. Tidak bisa mengharapkan investment company (IC) untuk menyuntik modal terus menerus
  6. Kemungkinan untuk mendapatkan tambahan kekuatan bertahan masa rugi adalah dengan menggandeng co founder. Orang yang sama-sama berjiwa entrepreneur yang mau mencurahkan sumber dayanya, diri maupun uangnya, seperti layaknya founder
  7. Sebaliknya, jika perusahaan berada pada industri yang sama sekali baru, VC akan tertarik untuk masuk. Menyuntik dana dan melakukan pembinaan manajemen. Selanjutnya VC akan menjadi pemberi referensi terpercaya untuk masuknya IC. Perusahaan bisa terus-menerus menerbitkan saham dan akan ada banyak IC yang masuk walaupun perusahaan masih rugi. Silakan baca tulisan khusus start up di web ini.
  8. Tahap kedua adalah tahap kritis eksistensi perusahaan. Tahap penentu hidup mati. Perusahaan  yang berada pada industri  mapan harus berlomba antara ketahanan para founder-co founder dengan pencapaian tahap ketiga. Perusahaan akan bubar jika daya tahan founder-co founder habis sebelum mencapai tahap ketiga.
  9. Perusahaan yang berada pada industri baru harus berlomba antara kepercayaan investor dengan pencapaian tahap ketiga. Perusahaan akan bubar jika kepercayaan IC habis sebelum mencapai tahap ketiga.
  10. Tahap ketiga adalah break event point. Pada tahap ini, perusahaan sudah memperoleh pendapatan yang sama dengan total biaya yang harus ditanggungnya. Tidak rugi. Tetapi juga tidak laba. Perusahaan sudah bisa hidup sendiri tanpa tambahan dana dari luar
  11. Tahap keempat adalah memperoleh laba. Laba dicapai dengan proses pembelajaran menangkap dan melayani konsumen dengan produk yang sesuai. Banyak sekali variabel yang merupakan atribut produk baik barang maupun jasa. Perusahaan mesti melakukan trial and error. Melakukan iterasi semua variabel menyesuaikan dengan segmen konsumen yang dibidik. Hasilnya adalah pendapatan yang lebih besar dari pada seluruh total biaya perusahaan. Selisihnya inilah yang merupakan laba perusahaan.
  12. Tahap keempat adalah titik persimpangan bagi sebuah perusahaan. Ada pendiri perusahaan yang visinya sekedar mencari kekayaan. Ada pendiri perusahaan yang bervisi besar. Bagi yang mendirikan perusahaan sebagai sarana mencari kekayaan belaka, maka, laba akan dinikmati sesuai dengan visinya. Mobil mewah, rumah mewah, perjalan ke tempat-tempat wisata di berbagai penjuru dunia, menyumbang panti asuhan, mendirikan sekolah, membangun tempat ibadah adalah contoh pemanfaatan laba perusahaan bagi yang menjadikan perusahaan sebagai sarana mencari kekayaan. Apakah ini salah? Tidak juga. Tetapi jika sebuah bangsa pengusaha-pengusahanya bersikap seperti ini, maka ekonomi bangsa itu akan dikuasai perusahaan-perusahaan dari bangsa lain yang pengusahaanya bervisi besar. Jika sebuah umat atau komunitas pengusaha-pengusahanya bervisi seperti itu, ekonomi umat atau komunitas itu akan dikuasai umat atau komunitas lain. Hanya menjadi bangsa, umat atau komunitas konsumen.
  13. Bagi pendiri perusahaan yang bervisi besar, laba tidak dinikmati. Pendiri mencukupkan diri hidup dari gaji. Hidupnya sederhana. Visinya mendirikan perusahaan bukan sekedar mencari uang. Tetapi perusahaan sebagai sarana  untuk membngun kemanfaatan luas bagi umat manusia tanpa pandang suku, agama maupun bangsa. Bagi yang bervisi seperti ini, laba adalah energi dan sumber daya finansial untuk melangkah menuju tahapan kelima
  14. Tahapan kelima adalah menemukan revenue and profit driver alias RPD. Sebagai gambaran misalnya sebuah perusahan yang bergerak di bidang restoran. Gerai pertama yang dirintisnya semula rugi, lalu mencapai BEP, lalu mencapai laba sebagai hasil proses pembelajaran panjang. Kesuksesan mendirikan gerai yang mencapai laba bagi perusahaan yang bervisi besar dipandang secara skeptis sebagai sebuah kebetulan. Bukan merupakan rumus umum keberhasilan. Maka, laba segera dijadikan sumber daya untuk melangkah membangun gerai kedua. Segala variabel yang telah diterapkan dan sukses pada gerai pertama dicobakan pada gerai kedua. Tetapi yang terjadi pada umumnya adalah kegagalan. Apa apa yang telah dilakukan dari gerai pertama tidak serta merta sukses ketika diterapkan pada gerai kedua. Artinya, variabel yang telah ditemukan dan ditentukan value atau besarannya pada gerai pertama hanyalah bersifat kebetulan. Pada gerai kedua semua variabel harus di set ulang. Dilakukan proses trial and error lagi. Dilakukan proses iterasi lagi. Tanda keberhasilannya adalah dicapainya laba pada gerai kedua.
  15. Begitu tercapai laba pada gerai kedua, perusahaan yang bervisi besar akan segera melangkah untuk membangun gerai ketiga. Prosesnya sama dengan gerai kedua. Trial and error lagi. Iterasi tiap variabel lagi. Sampai suatu saat gerai ketiga pun mendapatkan laba. Dan seterusnya sampai ditemukan rumus umum pembukaan gerai. Cirinya adalah tingkat keberhasilan yang tinggi. Lebih dari 90%. Atau tingkat kegagalan yang rendah. Dibawah 10%. Artinya, jika perusahaan membangun 10 gerai baru, 1 gerai gagal dan tutup, 9 gerai sukses.
  16. Sebagai gambaran, jumlah gerai Starbucks global per 30 september 2018 adalah 29 324 gerai. Sepanjang tahun Starbuck mendirikan 2 492 gerai dan menutup 560 gerai. Dengan demikian pada tanggal 30 September 2019 total jumlah gerai adalah 31 256 gerai. Jumlah gerai ditutup sepanjang tahun adalah 22% dari gerai dibuka. Perbandingan ini tidak tepat karena tidak semua gerai yang ditutup adalah gerai baru. Andai saja Starbuck sama sekali tidak menutup gerai, maka jumlah gerai pada 30 september 2019 adalah 31 816 alias tumbuh 8,5%. Tetapi yang ditutup adalah 560 gerai alias 1,9% gerai. Dengan demikian pertumbuhan neto adalah 6,6% gerai. Angka kegagalan 1,9% gerai tutup ini bisa menjadi benchmark bagi kriteria RPD.
  17. Tahap keenam adalah scale up. Dengan selesainya tahap kelima, sebuah perusahaan sudah menemukan pedal gas” nya yaitu berupa RPD. Pada tahap keenam perusahaan tinggal “menginjak dalam-dalam” pedal gasnya. Caranya adalah dengan melakukan korporatisasi yaitu dengan menerbitkan saham secara terus-menerus dimulai dari luar lantai bursa, kemudian IPO di lantai bursa, dan kemudian menerbitkan saham terus menerus (rights issue) di lantai bursa. Menerbitkan saham pada dasarnya perusahaan sedang menguangkan intangible asset yang dimilikinya. Dengan kata lain, perusahaan sedang melakukan korporatisasi.
    Pelajari lebih lanjut tentang korporatisasi melalui KELAS KORPORATISASI
    testimoni-kelas-korpo-vera-2
  18. Ciri utama tahap ini adalah perusahaan menggelontorkan kas untuk investasi lebih dari 5x laba. Investasinya bisa dilakukan secara organik yaitu mendirikan sendiri aset RPD nya atau bisa juga secara anorganik dengan melakukan merger atau akuisisi perusahaan lain yang memiliki RPD sama.
  19. Tahap ketujuh adalah terbentuknya sistem manajemen yang matang. Tanda kematangannya adalah adanya struktur organisasi efektif dan efisien dengan jumlah level jabatan cukup sedemikian hingga gap kapasitas antara level jabatan menjadi rendah. Dengan rendahnya gap, jika ada personil yang pensiun, meninggal atau mundur pada level jabatan manapun, termasuk direktur utama (CEO), maka level jabatan di bawahnya siap mengganti tanpa ada gejala apapun. Perusahaan terus eksis dari generasi ke generasi.
  20. Tahap kedelapan adalah perusahaan ter korporatisasi sempurna (fully corporatized). Cirinya ada 3. Ciri pertama adalah perusahaan sudah tidak ada pemegang saham pengendali. Yang dimaksud pemegang saham pengendali adalah pemegang saham yang memiliki lebih dari 50% saham. Dengan demikian, pada perusahaan seperti ini sudah tidak ada lagi pemegang saham yang bisa memutuskan sesuatu secara mutlak tanpa ada yang bisa menghalanginya. Tidak ada lagi pemegang saham yang bisa mengambil keputusan seperti seorang raja yang memiliki otoritas “sabda pandita ratu”. Tidak ada “raja” yang kata-katanya menjadi“undang-undang” bagi perusahaan
  21. Ciri kedua adalah telah menguasai pasar sebagian besar negara-negara di dunia. Perlu diketahui bahwa di dunia ini ada lebih dari 200 negara. Sebuah perusahaan sudah mencapai tahap ini jika sudah menguasai pasar lebih dari 150 negara. Dengan demikian rata-rata kontribusi pasar sebuah negara terhadap omzet perusahaan akan kurang dari 1%. Artinya, perusahaan seperti ini akan aman dari risiko politik di suatu negara. Jika ada gejolak politik di suatu negara dan bisnis di negara itu hancur maka perusahaan akan kehilangan omzet kurang dari 1%. Bahkan perang dunia pun tidak akan berpengaruh besar terhadap perusahaan. Selama ini yang namanya perang dunia sesungguhnya medan perangnya tidak akan lebih dari 20 negara.
  22. Ciri ketiga adalah bahwa perusahaan ter memiliki cost of capital antara 2 – 3 % (per tahun). McD misalnya, pada tanggal 11 Juni 2021 memiliki cost of capital sebesar 2,9 %. Jika McD menerbitkan saham pada tanggal tersebut untuk keperluan ekspansi, investor hanya menuntut ROI sebesar  2,9%.
  23. Kapan investor masuk? Investor akan masuk pada 2 kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah saat perusahaan sudah pada tahap keenam yaitu saat perusahaan melakukan scale up. Sekitar 99% dana investor (investment company) dimasukkan kepada perusahaan pada tahap ini. Kemungkinan kedua adalah pada tahap kedua saat perusahaan masih rugi dan berjuang untuk mencapai BEP. Investor akan mau masuk pada tahap ini dengan alokasi sekitar 1% dana yang mereka miliki jika perusahaan berada pada industri dengan model bisnis yang sama sekali baru. Contohnya adalah Gojek, Ruang Guru, Traveloka dan sejenisnya.
  24. Mengapa disebut silklus? Karena setelah mencapai langkah ke 4, 5, 6, 7 bahkan 8 perusahaan bisa melorot lagi menjadi langkah kedua dan berjuang lagi untuk menapaki langkah-berikutnya. Salah satu penyebabnya adalah disrupsi seperti yang pernah dialami oleh Western Union misalnya.

Demikianlah delapan tahapan dalam siklus hidup korporasi alias corporate life cycle. Perusahaan Anda sudah sampai pada tahap keberapa?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting
Pastikan Anda paham Corporate Life Cycle dengna ikut Tes kelayakan insan korporasi

*)Artikel ke-274 ini ditulis pada tanggal 21 Juli 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Baca Juga
RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
RPD Sebagai Pedal Gas
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle
Faktor kali alias RPD
Merger Akuisisi Sebagai Transaksi RPD
Funneling Marketing Untuk RPD

Korporasi


air
turun dari langit
mengalir ke sungai
juga ke lembah
diikuti buih di permukaannya

leburan logam
dari tungku tanur
dituang ke cetakan
juga diikuti buih di permukaanya

air dan leburan logam terpakai
buih terbuang
yang bermanfaat akan bertahan
yang tidak akan terbuang
ditinggalkan

*)Tulisan ke-273 oleh Iman Supriyono.  Pertama kali dipublikasikan tanpa judul sebagai motto di buku “Anda Jago Kandang atau Kelas Dunia”, buku ke-8 karyanya yang terbit tahun 2010.  Puisi ini terinspirasi oleh Al Qur’an 13:17.  “Korporasi” ditambahkan sebagai judul pada posting ini.

Pizza Hut Terancam Bangkrut?


Pizza Hut terancam bangkrut. Begitu judul tulisan di finance.detik.com yang banyak saya jumpai di media sosial. Bersamaan dengan itu di jalan-jalan kota Surabaya saya beberapa kali menjumpai personil Pizza hut menjajakan produk mereka di pinggir jalan menggunakan motor delivery. Rp 100 ribu untuk 4 pizza. Banting  harga di pinggir jalan. Keduanya saling menguatkan kesan bahwa raja pizza global itu sedang bermasalah. Apa yang sebenarnya terjadi? Benarkah jaringan resto global itu sedang bermasalah? Mari kita cermati dengan seksama. Saya akan menuliskannya dalam bentuk poin-poin
burung mati

  1. Berikut ini adalah latar belakan sejarah Pizza Hut: Resto Pizza Hut pertama kali dibuka tanggal 31 Mei 1958 di Wichita, Kansas, USA oleh dua bersaudara mahasiswa Wichita State University Dan dan Frank Carney. Bersaudara ini meminjam uang dari ibunya sebesar USD 600. Nama Pizza Hut dipilih karena papan nama yang tersedia hanya cukup untuk 8 huruf. Enam bulan berikutnya gerai kedua didirikan. Dalam setahun keduanya sudah mendirikan 6 restoran Pizza Hut.  Tahun 1960 logo atap merah mulai digunakan.  Tahun 1971 Pizza Hut menjadi restoran pizza terbesar dunia dalam hal jumlah gerai dan penjualan. Pizza Hut diakuisisi oleh PepsiCo tahun 1977. Tahun 1986 merayakan pembukaan gerai ke 5000 di Dallas, Texas, USA. Tahun 1994 menjadi resto pertama di USA yang melayani order melalui internet. Tahun 1997 Pizza Hut bersama Taco Bell dan Kentucky Fried Chicken di spin off oleh PepsiCo. Ketiganya menjadi perusahaan mandiri dengan bendera Tricon Global Restaurant Inc.  Tahun 2002 Tricon Global Restaurant Inc. di-rebranding menjadi Yum! Brands. Nama Yum! Brands tetap dipakai hingga saat ini

    Berkas:FirstPizzaHut.jpg

    Gerai pertama Pizza Hut

  2. Dengan informasi tersebut, kini Pizza Hut adalah anak perusahaan Yum! Brands, selanjutnya disebut YB. Dengan demikian, mengkonfirmasi berita tentang kebangkrutan tersebut tidak bisa tidak kita harus melihatnya dari induknya, YB yang merupakan perusahaan publik
  3. YB kini adalah perusahaan restoran dengan jumlah gerai terbesar di dunia yaitu lebih dari 50 ribu gerai tersebar di lebih dari 150 negara dengan 4 merek globalnya yaitu KFC, Pizza Hut, Taco Bell dan Habit Burger Grill. Habit Burger baru di akuisisi pada tanggal 18 Maret 2020 seharga USD 375 juta
  4. Tanggal 14 Mei 2020 YB mengumumkan pembagian dividen triwulanan sebesar USD 0,47 per lembar saham. Pada tanggal tersebut diumumkan juga bahwa transfer dividen adalah tanggal 12 Juni 2020. Dividen triwulanan tersebut adalah sebesar 0,54% dari harga saham saat ini yang sebesar USD 86,56. Angka dividen tersebut masih tergolong wajar untuk dividen triwulanan perusahaan-perusahaan global
  5. Sebelumnya YB juga mengumumkan kinerja finansial untuk triwulan pertama yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2020. Dipublikasikan bahwa omzet mengalami penurunan sebesar 3%. Penurunan tersebut berasal dari penurunan gerai yang sama (same store, gerai yang telah ada sebelum periode laporan) sebesar 7% yang dikompensasikan dengan kenaikan akibat adanya gerai baru sebesar 4%. Lebih detail, KFC mengalami penurunan omzet 2%, Pizza Hut turun 9%, Taco Bell naik 4%. Dalam hal jumlah gerai, YB mendirikan 65 unit bersih (setelah dikurangi gerai yang ditutup) plus mengakuisisi 276 gerai Habit Burger.
  6. Gerai Pizza Hut per 31 Maret 2020 berjumlah 18 533 gerai. Angka tersebut naik 0,36% dari posisi tanggal yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 18 466 gerai.
  7. Dari catatan kinerja tersebut menunjukkan bahwa YB berada dalam kondisi aman. Akuisisi Habit Burger adalah penanda signifikan bahwa perusahaan masih memiliki kondisi kas yang sehat.
  8. Lalu mengapa ada kabar bahwa Pizza Hut bangkrut? Maksud berita itu tidak lain adalah bangkrutnya NPC International Inc. Bloomberg misalnya memberitakan pengajuan kebangkrutan ini pada tanggal 5 Juli 2020. NPC adalah sebuah perusahaan franchisee Pizza Hut dan Wendy’s yang berdiri tahun 1962. Kini mengoperasikan 1227 gerai Pizza Hut dan 393 gerai Wendy’s. Semua gerai tersebut berada di USA. Saat ini proses kebangkrutannya masih diproses di pengadilan
  9. Apa efek kebangkrutan tersebut bagi YB? Akibat paling berat yang mungkin dari kebangkrutan NPC adalah dijualnya gerai-gerai milik NPC untuk melunasi utang-utangnya. Jika dijual, masih ada franchisee lain yang bisa membeli. Atau juga YM sendiri bisa membeli gerai-gerai tersebut. Hal ini dimungkinkan karena total gerai NPC hanya 6,6% dari total gerai PH. Dengan proporsi itu, jika tidak ada franchisee lain yang mau membeli, YB bisa membelinya sendiri. Jika kas internal tidak memungkinkan, YB bisa menerbitkan saham baru. Jika menerbitkan 10% saham baru saja, saat ini YB bisa memperoleh dana sekitar USD 2,6 miliar alias sekitar IDR 37 triliun. Ini adalah hal mudah bagi YB.
  10. Dari penjelasan tersebut bisa disimpulkan bahwa berita bahwa Pizza Hut terancam bangkrut itu tidak sesuai dengan kenyataan.
  11. Namun demikian, kebangkrutan NPC memberi  pelajaran yang menarik. Bahwa perusahaan franchisee memiliki kelemahan sangat krusial yaitu tidak memiliki intangible asset berupa merek.  Ketiadaan intangible asset terpenting ini mengakibatkan perusahaan tidak memiliki kesempatan untuk menguangkan intangible asset untuk mendapatkan kas segar dengan cost of capital yang murah seperti perusahaan yang memiliki merek.

    Kelas Visi Korporasi

    Pahami lebih dalam dunia korporasi. Ikuti KELAS VISI  KORPORASI dari SNF Consulting. Daftar https://wa.me/6281358447267

    Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

*)Artikel ke-272 ini ditulis pada tanggal 6 Juni 2020 oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Pernikahan Menawan: Tepat Waktu-Simple-Khidmat


Anwar djaelani edit1PENULIS TAMU. Penulis tamu kita kali ini adalah Cak Anwar Djaelani. Tulisan ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 24 juni 2018. Judul asli tulisan yang diunggah di http://www.anwardjaelani.com ini adalah “Pernikahan Menawan Putri Iman”. Tulisan gaya reportase ini viral dalam beberapa hari setelah diunggah. Selamat menikmati.


Iman menikahkan putri sulungnya di Masjid Manarul Ilmi ITS. Acara di Sabtu 23/06/2018 itu, berhasil “Mengembalikan kebersahajaan dan kejujuran dari sebuah prosesi pernikahan,” kata Ismail Nachu – Ketua ICMI Jatim. Kemudian, hadir di acara itu, “Terasa seperti dikembalikan ke zaman Rasulullah Saw,” kesan Ustadzah Yulyani – aktivis dakwah dan pengusaha. Tak berlebihan kah apresiasi itu?

Mudah dan Indah

Iman, sapaan dari  dri Iman Supriyono. Dia, Konsultan Manajemen Senior di SNF Consulting. Bagi sahabat dan relasinya, Iman –yang telah menulis 10 buku dan ratusan artikel itu- punya sisi menonjol: Agamis, menomorsatukan efisiensi, dan tak lelah berkampanye agar kita selalu tepat waktu.

Maka, seperti apakah konsep dan pelaksanaannya saat dia menikahkan Izza, putri sulungnya? Banyak ketidaklaziman yang Iman lakukan. Misal, cara mengundang. Iman tak mencetak kartu undangan. Sebagai gantinya, secara pribadi dia kirim via Whatsapp (WA) berupa Pdf dari kartu undangan. Formatnya, cukup menarik.

Di undangan itu, banyak tertera hal yang tak biasa. Misal, undangan ditulis dalam empat bahasa (Indonesia, Arab, Inggris, dan Cina). Digunakannya bahasa Cina karena Izza pernah kuliah S1 di “Chinese Literature Jiangxi Normal University”, setelah dia menyelesaikan SMP Luqman Al-Hakim Surabaya dan SMA Al-Hidayah di Johor – Malaysia.

Izza_Hadirin-memenuhi-masjid

Hadirin yang memenuhi masjid bahkan sampai ke teras

Di undangan, ada rincian acara dari menit ke menit. Juga, kabar bahwa tamu tak perlu membawa hadiah dalam bentuk apapun. Tak hanya itu, ada yang “mengejutkan”, yaitu adanya kalimat agar tamu datang sebelum acara dimulai pada pukul 7.00 dan Tuan Rumah sudah siap pada pukul 6.00.

Undangan yang “disebar” pertengahan Ramadhan 2018 itu, beberapa hari setelahnya, diikuti kiriman WA berikutnya. Bahwa. “Untuk membantu keluarga mempelai mengorganisasikan acara, mohon dibantu mengisi konfirmasi kehadiran pada link: https://goo.gl/forms/wxJO6UOQioU8w9zi2. Hasilnya?

Dari semua yang terundang, yang mengkonfirmasi kehadiran 517 orang dan dengan tambahan keterangan bahwa ada yang menyatakan akan hadir sendirian, berdua, bertiga, dan ada yang bersepuluh. Ada juga yang tidak memberikan konfirmasi, tetapi hadir yaitu dari kalangan keluarga dekat.

Lalu, tibalah, Sabtu 23 Juni 2018. Pukul 6.00, Iman, istri, dan sejumlah anaknya bersiap menerima tamu di tangga masjid ITS sisi utara. Masya-Allah, para tamu berangsur berdatangan. Setelah bersalaman, tamu melewati teras sebelum masuk ke Ruang Utama Masjid ITS. Di teras itu, tampak Photo Booth yang sederhana. Di semacam “pembatas ruang”, sehelai kain putih disampirkan. Di kain itu ditambahkan beberapa bunga dan tulisan “Izza dan Muchlis”, nama panggilan kedua calon mempelai.

Izza_Setelah-ijab-kabul

Mempelai setelah ijab qabul

Hadirin memenuhi masjid, terpisah laki dan perempuan Undangan laki-laki dan perempuan dipisah oleh pembatas. Sisi kanan atau utara untuk laki-laki dan di sisi sebelahnya untuk perempuan. Terlihat, rata-rata tamu, begitu masuk masjid langsung menunaikan shalat Tahiyatul Masjid dan Dhuha.

Sahabat dan relasi Iman memang banyak. Maka, tamu-pun terdiri dari banyak kalangan. Misal, ada yang berprofesi sebagai Satpam, pendidik, dan pengusaha. Tapi, dari sekitar 1400 orang yang hadir, yang banyak tampak -antara lain- adalah aktivis dakwah dan pendidik. Sekadar menyebut, ada Ustadz Abdurrahman – Hidayatullah dan Ustadz Nurcholis Huda – Muhammadiyah. Ada juga Prof. Triyogi Yuwono (Mantan Rektor ITS), Prof. Mukhtasor (Fakultas Kelautan ITS), Prof. Sutardi (Fakultas Teknik Mesin ITS), dan Prof. Zainuddin Maliki (Mantan Rektor UMS).

Izza_meja-jamuan

Meja hidangan dengan nasi bungkus daun

Kecuali itu, ada pula dari kalangan pengusaha. Misal, tampak Muh. Najikh (Dirut PT Kelola Mina Laut), Purnomo (Direktur PT Pertani Persero), Dothy (Direktur Pelabuhan Teluk Lamong) dan Ari Tri Priyono (Direktur PT Riscon Realty).

Sambil menunggu acara dimulai, antara para tamu akrab berbincang-bincang. Ada suasana “Halal biHalal” karena memang masih di pekan kedua bulan Syawal.

Pada pukul 7.00, Iman-pun masuk Ruang Utama masjid. Dia duduk di depan mihrab tempat akad-nikah akan dilakukan. Lalu, tepat pk 7.10 Pembawa Acara memulai.

“Kepada Bina Izzatu Dini binti Iman Supriyono dan Muchlis Munibullah bin Slamet Riyadi, ketahuilah! Bagi pengantin baru, perlahan mulai terbuka berbagai kelemahan pasangannya. Ini, bisa menjadi masalah besar. Maka, agar menjadi pasangan yang beruntung, senantiasalah ingat niat awal. Bahwa, niat menikah itu semata-mata untuk mendapat ridho Allah”, nasihat Ustadz Amun Rowie dari Pesantren Hidayatullah. Setelah itu, tepat pukul 7.30, ijab-kabul berlangsung. Ringkas, total hanya 20 menit.

Setelah itu, dua sambutan, dari keluarga mempelai laki-laki dan perempuan. Dari perempuan, Iman sendiri yang menyambut.  Iman berharap kepada mempelai dan yang hadir, agar bisa “Melanjutkan pertemanan atau persaudaraan antar-orangtua yang hadir dengan generasi baru yaitu kedua mempelai”.

Pukul 7.55 Pembawa Acara menyilakan hadirin untuk menikmati jamuan yang disediakan di teras sisi timur masjid. Ada sejumlah meja dengan aneka makanan sederhana. Nasi dan lauknya, disediakan dalam kemasan terbungkus: Ada yang berbungkus daun, mika, dan kertas bungkus coklat seperti yang biasa kita lihat. Menunya, ada nasi krawu, nasi campur, nasi uduk, nasi jagung, nasi jajan, dan nasi bakar. Ada juga penganan seperti kacang rebus, pisang rebus, lemper, dan lain-lain. Untuk minum, ada air mineral gelas ber-merk “Santri” dan Sari Apel ukuran kecil. Kesemuanya, ditata rapi di atas tampah bambu, memberikan kesan tradisional.

Atas jamuan itu, para tamu sangat menikmatinya. Setelah mengambil menu, mereka duduk dalam lingkaran-lingkaran kecil. Rata-rata mereka makan dengan tangan, tanpa sendok. Sambil makan, mereka bertukar bicara ringan. Sesekali tampak, sebagian lalu pindah ke lingkaran yang lain untuk meluaskan silaturrahim. Akrab!

“Nuansa kebersamaan kuat karena banyak Ustadz, Guru Besar, aktivis, mahasiswa, dan masyarakat umum makan bersama. Mereka lesehan di teras masjid.  Sungguh pemandangan yang jarang kita temukan di Walimahan pada biasanya,” kata Misbahul Huda – penulis buku “Bukan Sekadar Ayah Biasa” dan Motivator Leadership Spiritual.

Meski masih ada sedikit catatan korektif, namun secara keseluruhan acara telah berlangsung sangat baik. Islami, sebab –misalnya- tak ada yang makan sambil berdiri. Tak ada yang mengambil makanan lebih dari yang dibutuhkannya. Tak ada sisa makanan yang terbuang. Juga, terasa beradab, sebab tamu bisa rileks berbicara –menyambung silaturahim- karena tak ada gangguan suara musik yang menggelegar.

Berkah, Berkah!

Banyak tamu yang terkesan dengan format acara pernikahan putri Iman. “Konsep acaranya sangat efektif, khusyu’, penuh khidmat, dan berusaha secara maksimal menerapkan prinsip-prinsip pernikahan secara syar’i,” tutur Ustadz Jauhari Sani – Direktur Yayasan Dana Sosial al-Falah (YDSF).

Izza_Keluarga-Iman-bersama-mempelai

Mempelai bersama adik kakak dan ayah ibu mempelai putri berpose di photo booth

Kembali ke paragraf pertama tulisan ini. Berikut kutipan lengkap dari Ismail Nachu, Ketua ICMI Jatim. Bahwa, acara itu berhasil “Mengembalikan kebersahajaan dan kejujuran dari sebuah prosesi pernikahan sebagai pondasi penting dalam membangun rumah tangga, yang selama ini terasa hilang terseret budaya populer yang hedonistik dan penuh pencitraan alias tak sejati”.

“Saya bahagia dan terharu hadir di pernikahan ini. Hadir di acara ini serasa dikembalikan ke masa-masa Rasulullah Saw, sederhana dan penuh kekhusyu’an. Damai dalam keberkahan. Tuan Rumah telah menghadirkan konsep pernikahan yang Islami. Saya suka sekali dan kabar tentang ini langsung saya kirim ke anak-anak saya yang masuk usia pernikahan. Bagaimana respon mereka? Suka,” kata Yulyani – Muslimah yang aktif di dunia usaha, sosial, dan politik ini.

Alhasil, “Acara pernikahan yang saya hadiri hari ini sangat berkesan dan bisa memberikan inspirasi bagi banyak orang. Bagi yang belum menikah, jangan takut menikah karena tidak mampu menyelenggarakan resepsi yang megah, misalnya. Menikah itu mudah dan murah. Hal yang penting, kita hanya berharap berlimpah berkah,” simpul Ustadzah Anandyah Retno Cahyaningrum – pengamat masalah pendidikan dan keluarga.

*)Artikel ini ditulis oleh Anwar Djaelani sebagai penulis tamu di web ini.