Sukuk ORI atau saham? Saya akan menggambarkannya dengan sebuah contoh. Ada investor, sebut saja si Kae, dengan uang Rp 200 juta pada tahun 2009. Dalam rangka “jangan taruh telur pada satu keranjang” maka Kae membagi uangnya menjadi 2 bagian. Rp 100 juta pertama dipakai untuk membeli sukuk ritel SR 001. Rp 100 juta kedua dipakai untuk membeli saham Alfamart.
SR001 memberi imbal hasil 12% per tahun. Dengan uang investasi Rp 100 juta mendapatkan Rp 12 juta per tahun. Dengan demikian maka ROI nya investasi tersebut adalah 12%.
Untuk Rp 100 juta kedua, kebetulan tahun itu Alfamart IPO dengan harga Rp 400 per lembar saham. Dengan Rp 100 juta maka diperoleh 250 ribu lembar. Ketika itu nilai nominal per lembar saham adalah Rp 100. Dengan demikian Alfamart menerima agio saham sebesar Rp 300 per lembar saham.
Berdasar laporan keuangan teraudit, laba per lembar saham ketika itu adalah Rp 54,53. Dengan demikian untuk 250 ribu lembar ada hak laba sebesar Rp 13 632 500. Dengan demikian ROI adalah 13,6%.
Tapi tidak semua hak laba dibagikan. Ketika itu RUPS memutuskan bahwa yang dibagikan hanya 17%. Laba bersih perusahaan Rp 186 miliar dividennya hanya Rp 32 miliar. Dengan demikian maka dividen yang diterima oleh si Kae adalah 17% dari 13,6% yaitu 2,3%. Hanya menerima 2,3 juta. Kalah jauh dibanding sukuk ORI.
Tahun-tahun berikutnya sukuk ORI akan terus memberi ROI 12%. Tidak ada perubahan.
Bagaimana dengan saham? Dividen akan diputuskan berdasarkan laba dan RUPS dari tahun ke tahun. Kita bisa telusuri. Sementara laba Alfamart terus naik. Dividen demikian juga.
Tapi untuk menyingkat pengamatan, saya akan langsung mengajak Anda untuk melihat kinerja investasi Kae pada tahun 2025. Kae mencairkan investasinya pada tahun 2025. Baik ORI maupun saham Alfamart.
Yang sukuk ORI diasumsikan periodenya terus berjalan sampai tahun 2025. Artinya, jika sukuk telah jatuh tempo, si Kae akan membeli sukuk sejenis dan diasumsikan ROI nya sama yaitu tetap 12%. Maka, pada tahun 2025 Kae masih menerima Rp 12 juta alias ROI tetap sama. Dan dari pencairan sukuk Kae menerima uang Rp 100 juta utuh.
Bagaimana dengan saham Alfamart? Pada tahun 2013 Alfamart melakukan stock split 1:10. Artinya, saham yang semula bernilai nominal Rp 100 dibagi menjadi 10 lembar dengan masing-masing bernilai nominal Rp 10. Dengan demikian si Kae semula memegang 250 ribu lembar dengan nilai nominal Rp 100 menjadi memegang 2,5 juta lembar dengan nilai nominal Rp 10. Hanya beda satuan.
Tahun 2025 laba per lembar saham Alfamart adalah Rp 82,16. Dengan demikian hak laba Kae adalah 2,5 juta dikalikan Rp 82,16 yaitu Rp 205 juta. Hak labanya adalah 205%.
Tapi tidak semua laba dibagikan sebagai dividen. RUPS memutuskan bahwa dividen adalah 40%. Dari laba perusahaan Rp 3,46 triliun hanya Rp 1,41 triliun yang dibagikan sebagai dividen. Dengan demikian Kae menerima dividen 40% dari Rp 82,16 yaitu Rp 33 per lembar saham. Dengan 2,5 juta lembar saham maka Kae menerima dividen Rp 83 juta. Dengan demikian, jika dihitung dari investasi tahun 2009 Rp 100 juta maka Kae menerima 83%. Jauh di atas ORI yang tetap 12%.
Harga saham Alfamart akhir tahun 2005 adalah Rp 1 900. Dengan demikian saat Kae mencairkan dengan cara menjual sahamnya akan mendapatkan 2,5 juta lembar masing-masing Rp 1900 yaitu Rp 4,75 miliar.
Apa arti angka Rp 100 juta dari menjual sukuk ORI dan Rp 4,75 miliar dari menjual saham? Ada variabel inflasi pada mata uang rupiah. Evaluasinya bisa dibandingkan dengan harga emas.
Harga emas tahun 2009 adalah sekitar Rp 350 ribu per gram. Dengan demikian uang Rp 100 juta setara dengan 286 gram.
Tahun 2025 harga emas adalah sekitar Rp 2,5 juta per gram. Dengan demikian Rp 100 juta setara dengan 40 gram. Maka, uang hasil penjualan sukuk ORI telah kehilangan nilainya dari 286 gram tinggal 40 gram emas. Kehilangan 86% nilai. Yang tersisa tinggal 14%.
Bagaimana hasil penjualan saham? Rp 4,75 miliar setara dengan 1,9 kilogram emas. Naik 6,6 kali lipat dibanding 286 gram pada tahun 2009.
&&&
Pembaca yang baik, Anda mengelola investasi? Mungkin bisa investasi pribadi. Atau mungkin pengelola dan abadi lembaga-lembaga pendidikan. Atau mungkin nazir wakaf. Anda sudah bisa membandingkan antara investasi sukuk ORI yang berskema utang piutang versus saham yang berskema ekuitas?
Masyarakat awam banyak berpendapat bahwa investasi sukuk, obligasi, atau deposito adalah investasi yang aman. Memang betul, aman secara nilai nominal. Tapi hilang secara pasti dari nilai daya beli. Sebagaimana contoh di atas, dalam waktu 16 tahun kehilangan nilai 86%.
Dan yang harus diperhatikan juga adalah ROI tetap 12% itu pun mengalami penurunan daya beli. Rp 12 juta tahun 2009 artinya adalah setara dengan 32,3 gram. Rp 12 juta tahun 2025 artinya adalah 4,8 gram. Sama, mengalami penyusutan nilai sebesar 86%.

Bagaimana dengan dividen Rp 83 juta tahun 2025? Nilainya setara dengan 33 gram emas. Tujuh kali lipat dibanding 4,8 gram yang diterima dari sukuk ORI. Itulah perbedaan mencolok antara investasi berbasis utang piutang dengan berbasis ekuitas alias saham.
Bagaimana portofolio investasi Anda? Jika Anda masih berinvestasi seperti persepsi masyarakat awam dengan menaruh semua aset ke sukuk, obligasi, deposito atau apapun yang berskema utang piutang, artinya Anda secara konsisten menurunkan nilai aset investasi tanpa bisa dihindari.
Bagaimana dengan aset emas? Emas memang tidak akan mengalami penurunan nilai. Tapi emas ada biaya penyimpanan dan ada margin pedagang saat aset itu dijual. Paling tidak pedagang akan mengambil margin 5-10%. Dan yang lebih penting, emas tidak menghasilkan ROI berupa bagi hasil ataupun dividen. Jadi emas bukan alternatif investasi. Butuh biaya dan ada penurunan nilai akibat margin pedagang saat dijual.

Lalu bagaimana solusinya? Itulah mengapa para investor besar selalu mempraktekkan “jangan taruh telur pada satu keranjang”. Tidak semuanya di sukuk. Tidak juga semua di saham. Harvard Management Company, pengelola dana abadi Harvard University, membaginya fifty-fifty. Separuh aset diinvestasikan melalui skema utang piutang. Separuhnya dengan saham. Maka, keduanya kemudian saling mengisi. Sukuk alias utang piutang bisa memenuhi kebutuhan kas jangka pendek. Saham mengkompensasi dampak inflasinya dalam jangka panjang. Itulah kenapa lembaga pengelola dana abadi (dana wakaf) beasiswa ACR www.acrku.org yang saya pimpin juga mencontoh Harvard. Separuh sukuk dan sejenisnya. Separuhnya saham. Bagaimana investasi yang Anda kelola?
Artikel Karya ke 523 Iman Supriyono ini ditulis di Surabaya pada tanggal 22 Juni 2026
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi