Melahirkan Pemimpin Bisnis Besar Dari Masjid


Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur, selepas subuh, 13 Ramadhan 1447 KHGT. Melahirkan pemimpin besar dari masjid. Sebuah judul ceramah subuh yang sangat menarik.  Menantang. Ustadz Nirwan Syahfrin sebagai penceramah menyebutnya sebagai topik berat. Disebut demikian karena realitasnya saat ini sekitar semilyar umat Islam di muka bumi ini berjalan tanpa pemimpin.

Memang tiap negeri muslim ada pemimpin masing-masing. Tapi tentu tidak bisa disebut pemimpin besar yang sesungguhnya. Mengapa? Karena besar itu relatif. Tentu saja kita harus membandingkan dengan jumlah umat yang merupakan seperlima penghuni planet bumi ini. Mereka tinggal di hampir semua negara yang berjumlah sekitar 200 ini. PBB mengakui ada 195 negara. Tapi ada beberapa negara seperti Palestina yang belum diakui sebagai negara dan masuk anggota PBB.

Sebagai seorang konsultan manajemen, tentu lebih tepat bagi saya untuk memandang masalah kepemimpinan umat ini dari kaca mata bisnis. Maka judul ceramah subuh itu saya adaptasi menjadi “Melahirkan pemimpin bisnis besar dari masjid”.

Kembali lagi bahwa besar itu relatif. Tergantung pembandingnya. Maka, kita harus mencari referensi. Majalah Forbes tahun ini telah merilis 2000 perusahaan terbesar dunia dari ukuran omzet, laba, aset dan nilai pasar. Total omzet 2000 perusahaan itu adalah USD 52,9 triliun alias IDR 8,9 kuintriliun. Kuintriliun artinya sejuta triliun. Angka itu setara dengan 52% dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh pelaku ekonomi di muka bumi.

Maka, melahirkan pemimpin bisnis besar artinya adalah melahirkan CEO atau dirut perusahaan yang omzet, aset, laba dan nilai pasarnya masuk pada 2000 perusahaan terbesar dunia itu.

Pertanyaannya, mungkinkah? Sebagaimana di bidang politik seperti diuraikan oleh penceramah berpendidikan doktor itu, di bidang bisnis saat ini realitasnya pun jauuuuuuuuuh di bawah itu. Tapi sejarah mencatat. Umat ini secara politik pernah jaya. Pernah menjadi super power. Tujuh abad. Maka, jika melahirkan pemimpin besar di dunia politik bukan tanpa preseden. Demikian pula di sektor bisnis.

&&&

Untuk menggambarkannya secara lebih konkrit bagaimana melahirkan pemimpin besar bisnis, saya akan mengajak Anda mengambil pelajaran dari Bill Gates. Pendiri Microsoft ini memulai debut bisnisnya pada tahun 1975. Ketika itu usianya baru 19 tahun. Seumur mahasiswa tahun pertama. Pelajaran pertamanya: pemimpin besar bisnis dilahirkan sejak muda. Sejak masa kuliah.

Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur

Bill Gates tidak sendirian dalam mendirikan perusahaan yang kini terbesar ke-9 dalam hal omzet, laba, aset dan nilai pasar itu. Ia melakukannya bersama sahabat masa kecilnya, Paul Allen. Jadi pelajaran yang kedua adalah: pemimpin besar bisnis tidak muncul sendirian. Dia lahir melalui kolaborasi.

Sebagai pendiri, tentu Bill Gates dan Paul Allen adalah pemegang seluruh saham Microsoft ketika itu. Seratus persen. Tapi hari ini saham keduanya secara persentase sangat kecil. Bil Gates memegang  1,38%. Kecil sekali dalam persen. Tidak masuk 10 besar. Tapi nilainya sekitar Rp 800 triliun. Dividen yang diterima sekitar Rp 6 triliun per tahun.

Kecilnya persentase saham Bill Gates bukan karena penjualan. Tapi karena Microsof terus menerus menerbitkan saham. Baik melalui private placement maupun. Bill Gates memegang  104 juta lembar. Nilai nominalnya sekitar USD 640 alias IDR 10 juta. Dengan demikian Bill Gates berkontribusi 0.00000012% terhadap aset Microsoft yang saat ini sebesar USD 533,9 miliar alias IDR 8997 triliun. Selebihnya adalah kontribusi para investor. Mereka menyuntik dana besar kepada Microsoft dengan imbalan saham baru yang diterbitkan Microsoft setiap membutuhkan tambahan modal untuk ekspansi.

Siapa para pemodal itu? Berikut ini adalah 10 pemegang saham terbesar Microsoft saat ini: Vanguard Fiduciary Trust Co., BlackRock Advisors LLC, STATE STREET CORPORATION, Fidelity Management & Research Co. LLC, Geode Capital Management LLC, JPMorgan Investment Management, Inc., BlackRock Life Ltd., T. Rowe Price International Ltd., Eaton Vance Management, dan Norges Bank. Semuanya adalah perusahaan-perusahaan investasi yang kerjanya mengumpulkan dana dari masyarakat, menginvestasikannya ke berbagai perusahaan, menerima dividen dan kemudian membagikan sebagian dividen tersebut kepada masyarakat yang mempercayakan dananya.

Masih ada lagi jenis investor yang lain: investor sosial. Mereka adalah perusahaan-perusahaan pengelola dana abadi (endowment fund) lembaga-lembaga sosial, keagamaan dan pendidikan. Contohnya adalah Ensign Peak Advisor yang mengelola dana dari LJS Church, sebuah ormas keagamaan berbasis USA beranggotakan para jemaat gereja beraliran Mormon.

Perusahaan investasi gereja yang mengelola aset sebesar USD 124 miliar itu menginvestasikan dananya sebagai saham di sekitar 1600 perusahaan. Salah satunya adalah Microsoft. Berdasarkan laporan kepada otoritas lantai bursa USA, perusahaan investasi gereja itu memiliki saham Microsof senilai USD 2,35 miliar alias IDR 38 triliun. Tahun ini lalu menerima dividen sebesar sekitar IDR 2 triliun. Uang dividen itulah yang digunakan sebagai biaya operasional gereja mereka di seluruh dunia. Kristen Mormon juga memiliki gereja di Indonesia.

Maka, pelajaran ketiga adalah bahwa pemimpin besar di dunia bisnis lahir dari dukungan para investor. Ada investor komersial yaitu perusahaan-perusahaan investasi. Ada investor sosial yaitu pengelola dana abadi lembaga-lembaga sosial keagamaan. Dalam terminologi islam disebut sebagai dana wakaf.

&&&

Tiga pelajaran dari sejarah Microsoft itulah penjelasan dari ceramah subuh di Masjdi Megah di Kota Wisata Cibubur pagi itu. Untuk bisa melahirkan pemimpin besar di dunia bisnis, masjid mesti menemukan para pemuda yang berjiwa entrepreneur dengan visi besar. berbisnis bukan sekedar mencari uang. Mereka saling berkolaborasi dalam membangun korporasi besar yang melayani kebutuhan barang dan jasa masyarakat di seluruh dunia. Korporasi rahmatan lil alamin.

Ini bisa dihadirkan  melalui aktivitas masjid yang menyasar anak muda. Masjid Darussalam misalnya sebagaimana informasi pak Budi, bendahara yayasan yang menaungi masjid tersebut, memiliki program beasiswa. Anak-anak muda penerima beasiswa yang berminat bisa diarahkan untuk menjadi entrepreneur.

Tidak cukup hanya membina secara mental dan kemampuan. Lebih dari itu, sebagaimana yang dilakukan oleh gereja Mormon, masjid mesti menggalang dana wakaf. Lalu sesuai karakternya, dana wakaf diinvestasikan melalui skema full profit and lost sharing yaitu penyertaan saham. Perusahaan yang didirikan oleh entrepreneur binaan menerbitkan saham. Dana wakaf masuk. Dananya digunakan untuk pengembangan perusahaan. Masjid Darussalam bisa langsung melakukannya karena memang sudah punya unit pengelola wakaf alias nazir.

Dengan memiliki saham, dana wakaf akan mendapatkan dividen. Tapi bukan hanya itu. pemegang saham akan menikmati kenaikan harga saham. Menikmati capital gain. Jadi aset LDS Church yang lebih dari 2000 triliun itu bukan berarti para jemaat gereja benar-benar berdonasi sebesar itu. Nilai saham LDS yang kini IDR 38 triliun itu adalah sebesar sekitar 5,9 juta lembar. Jika gereja itu masuk dengan harga 10 kali lipat dari harga saat Bill Gates setor modal, nilainya adalah USD 369 alias IDR 6,2 juta. Kecil sekali.

Nah, jika masjid melakukan hal serupa, 51 tahun yang akan datang akan hadir perusahaan sekelas microsoft. Seperti yang dilakukan LDS Church saat awal-awal kehadiran Microsoft di dunia bisnis. Saat itulah muncul pemimpin besar umat di dunia bisnis. Semoga. Ramadhan berkah. Aamin.

Bagi masjid, peran melahirkan pemimpin bisnis besar ini sekaligus solusi terhadap biaya operasional masjid. Saat ini biaya operasional bulanan masjid Darrusalam sekitar Rp 700 juta. Semuanya dipenuhi dari infak jamaah. Jika pekerjaan besar melahirkan pemimpin bisnis besar ini sukses, dana operasional itu terpenuhi dari dividen perusahaan-perusahaan raksasa yang muncul dari anak-anak muda binaan masjid. Aamin yaa Rabb.

Artikel ke 505 Iman Supriyono ini ditulis pada tanggal di Artotel Kota Wisata Cibubur pada tanggal 3 Maret 2026

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI

Baca juga:
Hayyu x ACR: Perusahaan Dakwah
Kumowani: Blunder Nazir Sebagai Start Up
ACR X Hayyu: RUPS dan Dividen Pertama
Wakaf Korporat: Model Bisnis Sociopreneur
Wakaf Uang
RPD: Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Agar Rp 10 T Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Alumni: Sahabat di Sekolah Sahabat di Surga
Kesalahan Wakaf Saham dan Perbaikannya
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Wakaf Modern: Keabadian Amal dan Pertumbuhan Ekonomi
Penyesalan Pemilik Aset
Investee Wakaf Berkualitas
Beasiswa LPDP: Dana Abadi atau Dana Menguap?
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Artikel ke-340 karya Iman Supriyono ini ditulis sambil WFH di Surabaya pada tanggal 14 Juli 2021

Tinggalkan komentar