Memfotokopi Saratoga


Sejuknya udara pagi menemani langkah kaki saya dari City View Hotel menuju Masjid Raya Al Akbar, Sorong.  Tidak sampai tiga ratus langkah. Hotel itu memang sangat dekat  dengan masjid terbesar di kota multikultural itu. Dan itulah yang menjadi alasan saya untuk memilih hotel ini selama kunjungan ke kota di “kepala burung” pulau Papua ini.

Sebagaimana biasa, begitu memasuki masjid, tujuan pertama saya adalah kotak infak. Saya sudah mempersiapkan uang untuk itu. Tidak terlalu banyak. Hanya dua puluh ribu. Tapi saya menjaga agar setiap ke masjid untuk salat jamaah lima waktu, selalu bersiap uang untuk infak. Kebiasaan ini muncul setelah saya baca sebuah artikel tentang pajak.

Kok tentang pajak? Iya. Saya pernah membaca sebuah artikel bahwa masjid butuh biaya. Biaya listrik, air, kebersihan, depresiasi dan sebagainya. Bisa dihitung kira kita berapa beban yang harus ditanggung oleh seseorang yang memanfaatkan fasilitas masjid untuk salat. Maka, orang yang tidak membayar infak saat ke masjid artinya dia sedang ditraktir oleh orang lain yang membayar infak lebih. Dan tentu saja yang orang yang mentraktir lebih baik dari pada y ang ditraktir. Logika serupa juga sama untuk fasilitas umum berupa jalan jembatan keamanan dan lain-lain yang semua ditanggung oleh pajak.

Setelah dari kotak infak, saya langsung menuju barisan terdepan. Masih banyak ruang kosong di situ. Beberapa orang sudah melakukan salat sunah. Saya pun segera menyusul.

Saya menganggap salat sunah antara azan dan iqamat sangat penting. Mengapa? Karena antara azan dan iqamat adalah saat mustajab doa. Saat di mana doa akan dikabulkan oleh Allah Azza wa jalla. Apalagi jika doa itu dipanjatkan saat sujud yang juga saat mustajab doa. Maka, saya selalu berusaha di mana pun agar bisa hadir di masjid untuk bisa salat sunah antara azan dan iqamah. Di mana pun.

&&&

Kopi kapal api pagi itu nikmat sekali. Saya menyeruputnya di teras.  Masjid berkubah warna perak ini memang menyediakan dispenser air panas dan aneka kopi saset di terasnya. Para jamaah bisa menikmatinya sewaktu waktu. Saya memilih kopi kapal api karena itu merupakan satu-satunya kopi hitam yang tersedia. Untuk kopi ideal saya memang kopi hitam tanpa gula. Jika tidak ada yang tanpa gula paling tidak adalah kopi hitam. Kapal api saya pilih dengan alasan ini.

Yang lebih nikmat bukan kopinya. Tapi dengan siapa ngopinya. Pagi ini mendapatkan teman ngopi luar biasa. Namanya Sulaksono. Panggilannya Laks. Dia adalah pendiri Laks Capital. Saya ngobrol dengan dia karena yang bersangkutan adalah pembicara kuliah subuh di pagi itu. Dan yang menarik, topiknya adalah tentang dana abadi alas dana wakaf masjid. Sebuah topik yang baru di sini walau di negara-negara maju sudah menjadi hal yang biasa.

Maka, selepas kuliah subuh, saya langsung datangi dia dan memperkenalkan diri. Saya kenalkan tentang Karponak, perusahaan bakso yang saya dirikan dan saya pimpin. Saya ceritakan juga kedatangan saya ke Sorong adalah dalam rangka proses masuknya Karponak untuk mendirikan gerai-gerai bakso di kota ini. Saya sampaikan pula bahwa Karoponak sudah biasa menerbitkan saham baru melalui skema private placement. Dan Laks juga mengatakan bahwa sebagai investment company perusahaan yang didirikannya juga sudah bisa masuk sebagai pemegang saham berbagai perusahaan melalui skema yang sama. Klop.

Maka pembicaraan di teras masjid pagi itu benar-benar gayeng. Laks menceritakan perjalanan bisnisnya sampai pada titik di mana Laks Capital memiliki aset investasi sebesar sekitar 5 triliun rupiah. Sebuah nilai yang cukup besar untuk ukuran Indonesia.

&&&

“Laks Capital didirikan dari dua reruntuhan bisnis mas Karpo”

Demikian Laks memulai menceritakan asal muasal bisnisnya.

“Tahun 90 saya mengikuti tes beasiswa STAID. Ini adalah program pak Habibie. Sebagai anak desa, saya sangat ingin menjadi orang seperti pak Habibie. Karenanya saya ikuti seleksi itu. Saya belajar habis-habisan tiap hari sejak masuk SMA negeri di Nganjuk, sebuah kabupaten di Jawa Timur. Karena orang tua single parrent, maka saya belajar secara mandiri. Tidak ada kursus. Untuk belajar bahasa Inggris  misalnya, saya membuat klub bahasa inggris di SMA. Anggotanya adalah kawan-kawan sesama peminat bahasa Inggris. Kegiatannya hampir tiap hari ngerumpi satu jam setelah selesai pelajaran sekolah. Ngrumpinya di kantin, musala, taman atau di mana saja di sekolah. Tapi dipastikan dengan bahasa Inggris”

“Untuk belajar matematika, fisika, dan kimia saya mengoleksi soal-soal latihan yang banyak sekali. Saya fotokopi soal-soal dari kawan-kawan. Saya beli soal-soal di pasar buku bekas. Pinjam buku kakak kelas. Atau saya catat dari soal-soal di buku teman-teman. Tiap hari saya kerjakan paling tidak lima soal dengan bab yang acak. Semua soal saya selesaikan dengan membaca teorinya. Begitu tiap hari sejak kelas satu. Singkat kata, saya diterima kuliah di Nanyang Technological Institute, Singapura, tahun 1990 di jurusan Teknik Elektro. Betapa bangganya saya dan ibu ibu. Anak desa Jatirejo, Nganjuk, kuliah di kampus mentereng di negeri Singa. Beasiswa pak Habibie lagi”

“Tahun pertama proses belajar lancar. Semua target-target akademis maupun kegiatan ekstra kurikuler yang dibebankan ke saya sebagai mahasiswa tahun pertama tercapai. Saya bekerja keras siang malam untuk itu. Saya tidak mau drop out. Juuga tidak mau dikeluarkan dari asrama jika target ekstra kurikuler tidak tercapai”

“Tahun kedua saya  lalui dengan lancar pula. Tapi ada sebuah kejadian yang membuat nasib berubah 180 derajat. Menjelang ujian akhir tahun kedua, saya mengalami kecelakaan saat kegiatan olah raga. Saya terjatuh dan mengalami cedera otak parah. Sebagian besar memori saya hilang. Dan karenanya saya harus rela melepas kampus kebanggaan. Saya pun pulang ke kampung halaman di Nganjuk dengan perawatan dari ibu. Setahun lebih saya tidak ada aktivitas apapun selain fokus pada terapi cedera otak”

“Begitu kondisi membaik, saya berpikir lagi tentang apa yang bisa saya lakukan untuk hidup saya. Cita-cita menjadi insinyur elektro pupus. Tapi masih ada sedikit ketrampilan yang pernah saya pelajari di kampus negeri singa itu. Maka, berbekal beberapa unit personal computer, saya mendirikan kursus komputer di kawasan Darmawangsa, Surabaya. Namanya Laks Computer. Saya memilih Surabaya karena tentu saja pasarnya lebih luas. Apalagi Darmawangsa banyak mahasiswa Unair dan tidak terlalu jauh dari ITS. Pasar yang empuk. Di samping saya juga tidak ingin membebani ibu di rumah. Saya menyewa sebuah rumah”

“Singkat cerita, kursus saya sukses. Jaman itu memang komputer termasuk barang baru. Tahun 1995 saya punya uang tabungan Rp 400 juta. Bayangkan ketika itu harga nasi pecel di Surabaya masih Rp 150 seporsi. Sudah punya uang sebesar itu”

“Dengan kesuksesan itu, saya pun mulai menolong beberapa teman. Salah satunya teman dari Lamongan yang dulu saya kenal saat SMA sama-sama menjadi peserta lomba pelajar teladan tingkat jawa timur. Saya mewakili kabupaten Nganjuk. Dia mewakili Kabupaten Lamongan”. Ketemu kembali di Darmawangsa karena dia kuliah Unair. Dia melanjutkan bisnis hatchery bandeng orang tuanya di kampungnya”

“Singkat cerita, bisnisnya butuh tambahan modal. Karena teman baik maka saya pinjami uang. Sedikit demi sedikit akhirnya sampai pada angka Rp 200 juta sekian. Pada saat itulah bisnisnya berhenti dan untuk mengembalikan uang saya, dia serahkan bisnis hatchery bandengnya ke saya. Saya pun masuk pada bisnis yang bagi saya hal baru itu”

“Uang tabungan saya yang masih Rp 300 jutaan pun sedikit demi sedikit masuk bisnis baru itu. Karena saya tidak punya keahlian, lama-lama uang tabungan habis. Bisnis baru benar-benar menguras energi. Dan karena sudah kepalang basah, saya pun utang sana sini. Sampai saya akhirnya punya utangRp 500 juta. Dan bisnis hatchery pun akhirnya mati dengan menyisakan utang sebesar itu”

“Saya pun drop. Benar-benar stress. Ngleleng”

“Orang mungkin hanya melihat Laks dari kondisi kesuksesnnya saat ini. Tapi pagi itu saya mendatpatkan cerita bagaimana jatuh bangun Laks di dunia bisnis.”

“Setelah bangkrut, saya banyak melakukan perenungan. Saya mengikuti saran seorang kawan yang pernah mengalami kondisi serupa untuk nglempoh. Nglempoh adalah bahasa jawa yang artinya bertindak seperti orang lumpuh. Menanggalkan semua atribut gengsi, saya kembali ke titik nol untuk kembali berjalan. Saya memulai kembali bisnis kursus komputer yang terbengkalai. Memulai dari titik nol sebagaimana dulu saya memulai bisnis kursus komputer. Mengulang dari nol. Itulah esensi konsep nglempoh. Back to zero

“Tahun 1997 bisnis perlahan jalan kembali. Sedikit demi sedikit utang saya lunasi. Dan saat bisnis kursus komputer habis ditelan perkembangan teknologi IT terbaru, saya masih memiliki beberapa tabungan untuk bertahan hidup. Plus gedung tempat kursus yang sudah terbeli”

&&&

Laks melanjutkan cerita tentang orang tuanya.

“Orang tua adalah seorang petani di lahan warisan kakek saya. Luasnya tidak sampai sehektar. Bapak saya tipe petani yang mau maju. Dia hitung-hitung tidak mungkin jadi orang kaya kalau hanya bertani dengan lahan secuil. Maka, saat saya SMP bapak saya menjual lahan pertanian warisan itu. Uangnya digunakan untuk menyewa lahan seluas sekitar 10 hektar. Masih ada sisa digunakan untuk modal menanam padi pada lahan yang disewanya. Hasil panen dipakai untuk menambah lahan sewa dan seterusnya”

“Saat saya kelas 1 SMA bapak meninggal. Saat itu adik saya masih SMP. Maka ibu lah yang melanjutkan usaha pertanian ayah. Tapi dengan dipegang ibu usaha pertanian meredup. Saat saya lulus SMA lahan pertanian tinggal tidak sampai lima hektar”

“Tahun 2025 ibu saya meninggal. Ada 4 hektar sawah milik ibu ketika itu. Karena kami dua bersaudara, dan saya maupun adik saya tidak mungkin melanjutkan bisnis pertanian ibu, maka sawah itu kami jual. Saya kebagian 2 hektar dan dijual laku Rp 3 miliar. Uang itulah yang saya gunakan untuk mendirikan Laks Capital pada tahun itu juga. Modal setornya Rp 5 miliar. Yang 2 miliar adalah hasil menjual gedung bekas kursus komputer saya yang sudah tidak terpakai. Bisnis kursus komputer sudah almarhum.”

“Sebagai pendiri dan CEO pertama, modal setor itu diinvestasikan dengan portofolio yang juga menjadi standar perusahaan investasi mana pun. Ilmu tentang ini saya peroleh dari banyak membaca di laman korporatisasi.com.  Separuh yaitu Rp 2,5 miliar sebagai saham. Ketika itu Laks Capital masuk pada 4 perusahaan yang sudah pada tahap revenue and proft driver, tahap kelima dalam siklus hidup perusahaan. Sebesar 30% yaitu Rp 1,5 diinvestasikan pada sukuk ORI. Sisanya diinvestasikan pada investasi non saham non obligasi. Umumnya berupa pembiayaan proyek. Termasuk pembiayaan kambing kurban”

Pembicaraan pun diselingi dengan diskusi tentang kopi. Ternyata pak Laks juga penggemar kopi hitam. Pekerjaannya yang menuntut untuk terus pergi ke berbagai tempat selalu diikuti dengan kebiasaannya mengoleksi kopi dari berbagai daerah juga. Termasuk di Papua ini. Kopi papua menjadi standar daftar belanjaannya.

Luar biasa sekali pak Laks ini. Kehadirannya di Sorong ini adalah dalam rangka membantu pemerintah provinsi setempat untuk mengelola tambang minyak yang ada di lepas pantai Sorong. Pak Laks dimintai bantuan Pemprov karena memang selama ini banyak investee pak Laks Capital yang berekspansi bisnis di Sorang. Jadi Pak Laks sering wira-wiri Jakarta Sorong. Jakarta adalah tempat tinggal pak Laks saat ini. Karena kebiasaannya salat jamaah di mana pun berada, maka saat di Sorong akhirnya kenal dekat dengan takmir masjid raya. Dan atas kedekatan itulah akhirnya pagi ini Pak Laks diminta mengisi kuliah subuh tentang pengelolaan dana abadi dari sumber wakaf.

“Terus menerbitkan saham melalu private  placement juga dilakukan oleh Laks Capital. Sejak tahun 2016 Laks Capital melakukan private placement. Investor yang kemudian menjadi pemegang sahamnya banyak dari kalangan sekolah, pesantren, kampus dan masjid-masjid besar. Mereka mengumpulkan wakaf uang dari para donatur. Kebanyakan mereka melakukan setelah mendengar ceramah saya. Karena sejak merintis bisnis kursus komputer di Darmawangsa saya adalah aktivis masjid Nuruzzaman kampus B unair, maka saya banyak dekat dengan banyak pengurus masjid. Dari situlah mereka kemudian membangun aset dana abadi dengan pengelolaan modern seperti yang dilakukan lembaga-lembaga keagamaan di USA. Saya bukan mahasiswa Unair tapi karena banyak pelanggan kursus komputer adalah mahasiswa Unair maka saya dekat dengan para mahasiswa kampus mentereng itu. Termasuk mahasiswa aktivis UKKI di masjid Nurruzaaman”

Pak Laks menceritakan bahwa aktif di masjid Nurruzzaman, ia banyak membina adik-adik mahasiswa yang berminat menjadi entrepreneur. Banyak adik-adik binaan itu yang  kini telah sukses dengan kariernya. Beberapa guru besar. Bahkan ada yang menjadi rektor. Mereka itulah yang juga menjadi investor saat Laks Capital menerbitkan saham baru melalui skema private placement.

“Saat ini aset Laks Capital adalah sekitar Rp 5 triliun. Tentu saja dihitung berdasarkan nilai pasar atas aset-aset investasinya sesuai dengan IFRS. Portofolionya terdiri dari aset saham di berbagai perusahaan senilai sekitar Rp 2,5 triliun. Kemudian sukuk sekitar Rp 1,5 triliun. Dan aset lain-lain termasuk properti yang disewakan senilai sekitar Rp 500 miliar. Selalu dijaga agar komposisinya 50, 30 dan 20”

“Dengan aset seperti itu, tahun ini Laks Capital memperoleh pendapatan dividen dan bagi hasil atas investasi sukuk maupun lain-lain semuanya senilai sekitar Rp 250 miliar. RUPS tempo hari memutuskan bahwa dividen adalah Rp 100 miliar. Hak pribadi saya sekitar Rp 60 miliar karena saya pegang sekitar 60% saham. Yang lainya dibagi kepada sekitar 150 pemegang saham Laks Capital lain sesuai proporsi sahamnya”

“Karena saya meyakini Laks Capital adalah makhluk hukum alias mukallaf dalam bahasa fikih, konsekuensinya  bahwa aset Rp 5 triliun itu bukan milik saya. Tapi  milik Laks Capital. Yang menjadi milik saya adalah lembaran-lembaran saham. Zakat atas aset berupa lembaran saham adalah dikiaskan dengan kebun kurma tanpa pembiayaan pengairan. Maka, tahun ini saya membayar zakat sebesar Rp 6 miliar. Saya sebar ke berbagai lembaga amil resmi. Lumayan saya memperoleh bukti pembayaran yang bisa mengurangi pendapatan kena pajak saya.”

Laks berkisah. Inspirasi di balik Laks Capital dalah Saratoga Investama. Tahun 2024 ini perusahaan besutan Sandiaga Uno dan Edwin Soeryadjaya itu menerima dividen dari perusahaan-perusahaan investeenya sebesar sekitar Rp 4 triliun. Padalah dulu saat didirikan Edwin dan Sandi hanya menyetor Rp 130 miliar. Sebagian besar asetnya berasal dari tambahan modal disetor yaitu Rp 5 triliun lebih. Uang ini berasal dari selisih antara nilai nominal dan nilai pasar saat penerbitan saham.

Saat saya tanya kemungkinan masuknya Laks Capital pada PT Karponak Dimana Mana yang saya pimpin, dia menyampaikan bahwa selama ini Laks Capital sangat ketat dalam menyeleksi calon investee. Persis seperti yang dilakukan Saratoga. Tiap tahun ada lebih dari 100 proposal masuk ke Saratoga. Tapi yang dijadikan investee tidak lebih dari 2 atau 3 perusahaan saja. Anggapan orang bahwa Saratoga membeli perusahaan buruk untuk diperbaiki dan kemudian dijual lagi itu salah besar. Saratoga hanya pegang saham persentase kecil agar laporan keuangan investee tidak dikonsolidasikan ke Saratoga. Konsolidasi adalah perkara rumit untuk perusahaan dengan investee ratusan seperti Saratoga. Tidak mungkin pemegang saham kecil mengontrol manajemen.

Edwin dan Sandi pendiri Saratoga

Saat saya tanya apa kriteria untuk menjadi investee Laks Capital, dia menyebut ada 8 poin. Pertama adalah bahwa perusahaan telah menemukan RPD (revenue and profit driver) sebagai satuan terkecil pertumbuhan aset perusahaan dan pengaman risiko bagi para investor. Kedua, uang dari investor digunakan untuk scale up pada RPD tersebut. Scale up ditandai dengan pertumbuhan aset jauh lebih besar dari pada laba. Ketiga, perusahaan memiliki road map dengan pertumbuhan aset, omzet, laba par value, book value, market value, intangible asset, dan ROI pemegang saham secara eksponensial. Keempat, perusahaan terus berproses menjalani tahap demi tahap dari 8 tahap siklus hidup perusahaan (corporate life cycle) untuk menjadi korporasi sejati yang memiliki 3 karakter: hadir di pasar lebih dari 100 negara agar dari satu negara rata-rata berkontribusi tidak lebih dari 1% omzet perusahaan, tidak ada pemegang saham pengendali sehingga bisnis murni berjalan sesuai sistem, dan cost of capital 2-3% (per tahun). Kelima, laporan keuangan teraudit oleh akuntan publik yang dipercaya dan ditunjuk oleh para investor yaitu para pemegang saham melalui RUPS. Dalam laporan keuangan teraudit terdapat peran aktuaris. Keenam, skema investasi adalah ekuitas melalui private placement (sebelum IPO) maupun rights issue (setelah IPO) sampai menjadi korporasi sejati. Ketujuh, perusahaan memiliki rencana IPO setelah market value lebih dari Rp 10 T agar terhindar dari IPO Trap. Kedelapan, perusahaan melakukan penghematan dilusi. Artinya, saat menerbitkan saham baru baik private placement, IPO maupun rights issue, perusahaan melakukannya dengan persentase sekecil mungkin untuk mendapatkan uang sesuai kebutuhan ekspansi. Sekali penerbitan saham bisa hanya 2%, 3% atau 5%. Paling banter sekitar 10%. Dengan demikian, titik kritis korporatisasi yaitu saham pendiri hanya 50% dilalui saat sistem manajemen sudah kuat.

Mantab betul. Pak Laks benar-benar memfotokopi Saratoga sebagai awalan. Selanjutnya, seperti yang dia ulang-ulang ceritakan, mau menjadi seperti Larry Fink pendiri Blackrock, perusahaan investasi terbesar dunia dengan aset sekitar Rp 190 ribu triliun. Larry Fink masih setia menjadi CEO dan president pada perusahaan yang didirikannya sampai usia 72 tahun saat ini. Laks tidak mau seperti Sandi yang usia 47 tahun saat aset Saratoga baru Rp 50 triliun sudah meninggalkan perusahaan yang diririkannya. Laks mau sampai akhir hayat tetap setia dengan Laks Capital. Laks ingin memfotokopi Blackrock.

Cerpen ini adalah karya ke-481 Iman Supriyono yang ditulis SNF House of Management, Surabaya, pada tanggal 12 Juli 2025. Cerpen ini adalah sekuel ketiga dari rencana novel korporatisasi.
Baca sekuel sebelumnya:
Si Tukang Bakso Triliuner
Perampok Budiman

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Maslondre: Allah Sebagai Pemegang Saham


Madiun 23 Desember 2023. Pagi itu saya sebagai ketua ACR menandatangani pendirian PT Maslondre Layani Interbangsa di depan Notaris Eka Sari Sulistyowati. Ini adalah badan hukum yang didirikan untuk tranformasi Master Laundry Indonesia (MLI) dari usaha  perorangan menjadi korporasi.  Pendirian PT adalah langkah awal bagi bisnis laundri yang gerai pertamanya terlah hadir di Jalan Trunojoyo Madiun sejak tahun 2010 untuk melakukan korporatisasi.

Korporatisasi adalah proses tranformasi dari usaha perorangan menjadi korporasi sejati yang memiliki tiga tanda. Pertama adalah tidak adanya pemegang saham pengendali sehingga seluruh keputusan manajemen murni didasarkan pada pertimbangan bisnis tanpa like dislike. Kedua, menguasai pasar lebih dari 100 negara sehingga omzet dari satu negara berkontribusi rata-rata tidak lebih dari 1%. Ketiga, jika perusahaan butuh modal untuk ekspansi maka investor mau masuk dengan hanya diberi ROI 2-3% per tahun. Nama Maslondre Layani Interbangsa adalah peneguhan dari visi besar perusahaan ini.

Yang menarik, ACR adalah badan hukum perkumpulan yang bergerak dalam bidang dana abadi alias wakaf untuk beasiswa. Uang yang disetor oleh ACR untuk memiliki lembaran-lembaran saham Maslondre adalah uang yang dikumpulan oleh para anggota dengan niat wakaf. Secara legal formal uang itu adalah iuran anggota. Tapi, di hati yang  paling dalam para anggota, uang itu harta wakaf. Harta yang dimaksudkan untuk diinvestasikan dengan portofolio terbaik yang hasilnya digunakan untuk beasiwa anak-anak cemerlang yang membutuhan dukungan finansial. Para anggota hanya berharap pahala jariyah semata.  Jadi status uang itu adalah milik Allah SWT.

Kepada sang pendiri MLI, Rema Arif, saya sampaiikan bahwa sejak hari ini, Allah Azza Wajalla telah menjadi pemegang saham Maslondre. Saya menandatangani akta pendirian PT di depan  notaris hanyalah mewakili badan hukum perkumpulan ACR. Sesuai anggaran dasarnya, seluruh perbuatan hukum ACR termasuk menyetor modal ke PT diwakili oleh ketuanya.

&&&

Pembaca yang baik, ada banyak orang yang pernah menonton sebuah video viral tentang Sholah Athiyah. Dia adalah seorang pebisnis sukses di Mesir. Bukan hanya sukses secara skala finansial, tapi juga sukses dalam berkontribusi sosial. Saat meninggalnya, pemakamannya dihadiri oleh setengah juta orang yang datang untuk mendoakan dan memberi penghormatan terakhir.

Dalam video itu dibahas bahwa rahasisa sukses bisnisnya adalah menjadikan Allah SWT sebagai pemegang saham. Semula hanya 10%, tapi akhirnya lebih dari 50%. Inilah daya tarik video itu sehingga banyak orang membagikan video itu di berbagai plafform media sosial. Di Tiktok misalnya, pada akun @puzzleterakhir video itu telah ditonton oleh 4,6 juta orang.

Sayangnya, di video itu tidak dibahas skema legalnya. Tidak dibahas apa yang dimaksud dengan Allah sebagai pemgang saham secara legal formal. Nah, akta Notaris Ika di atas adalah bentuk legal memposisikan Allah SWT sebagai pemegang saham dalam dunia bisnis modern. Dana yang ditanamkan oleh ACR sebagai saham di Maslondre adalah milik Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang memiliki harta itu. Saya sebagai ketua atau pengurus lain tidak memilikkinya. Demikian juga adik-adik penerima beasiswa. Saya hanya wakil legal atas dana itu. Adik-adik hanya penerima dividen dari Maslondre dengan bentuk beasiswa rutin bulanan yang mereka terima. Maka, sejak pagi itu Allah SWT adalah pemegang saham PT Maslondre Layani Interbangsa yang kini memiliki 7 gerai. Moga terus berkembang menjadi ribuan bahkan lebih gerai sebagaimana visinya.

Artikel ke-480 karya Iman Supriyono ditulis ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan edisi Juli 2025 dengan beberapa perubahan.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:
Hayyu x ACR: Perusahaan Dakwah
Kumowani: Blunder Nazir Sebagai Start Up
ACR X Hayyu: RUPS dan Dividen Pertama
Wakaf ACR: Fulbright Dari Timur
Wakaf Korporat: Model Bisnis Sociopreneur
Wakaf Uang
RPD: Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Agar Rp 10 T Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Alumni: Sahabat di Sekolah Sahabat di Surga
Kesalahan Wakaf Saham dan Perbaikannya
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Wakaf Modern: Keabadian Amal dan Pertumbuhan Ekonomi

Yayasan Paripurna: Siklus Hidup


Dalam realitas kedupan modern, yayasan adalah sebuah makhluk hukum alias legal entity. Yaitu sesuatu yang secara hukum memiiki kedudukan sama dengan manusia. Bisa melakukan perbuatan hukum seperti menjual, membeli, membuat perjanjian, memiliki aset dan sebagainya.

Yayasan yang diperlakukan sebagai sebuah makluk hukum akan menjalani siklus hidupnya. Ada 6 tahap. Tahap pertama adalah berdiri yaitu para pendiri menandatangani akta pendirian di depan notaris.

Para pendiri tentu sudah memiliki maksud atau tujuan didirikannya yayasan. Dan untuk mencapai tujuan itu tentu dibuthkan biaya. Bahkan membuat akta notaris pun membutuhkan biaya. Padahal yayasan belum beroperasi. Belum ada pendapatan. Itulah mengapa tahap kedua adalah rugi. Artinya, biaya belum tertutup oleh pendapatann dari kegiatan yayasan.

Siklus hidup yayasan: puncaknya adalah yayasan paripurna

Selanjutnya, pengurus akan bekerja keras agar yayasan segera memperoleh pendapatan. Pada yayasan pendidikan misalnya adalah bekerja keras agar memperoleh murid yang cukup. Pegurus akan melakukan product and market fit. Terus memodifikasi layanan agar sesuai kebutuhan pasar. Makin sesuai maka pendapatan akan naik. Pada titik tertentu jumlah pendapatan sudah sama persis dengan beban finansial. Pada saat itulah terjadi tahap ketiga yaitu break event point alias BEP.

Prose product and market fit terus dilanjutkan.  Tanda makin sesuai dengan pasar adalah pendapatan yang makin meningkat. Jika yayasan sekolah berarti muridnya makin banyak. Maka, tahap berikutnya, tahap keempat, adalah laba. Artinya, pendapatan yayasan sudah lebih besar dari pada seluruh biaya yang harus ditanggung.

Yayayasan bersifat nirlaba. Maksunya bukan berarti tidak boleh laba. Ingat bahwa laba artinya adalah pendapatan lebih besar dari total biaya. Maka, yayasan secara operasional memang harus laba. Sama dengan perseroan terbatas. Bedanya, laba yaysan tidak boleh diambil oleh siapa pun. Tidak seperti laba PT yang  boleh diambil oleh pemegang saham sebagai dividen. Itulah mengapa yayasan tidak mengenal tahap scale up dengan mendatangkan investor melalui penerbitan saham baru seperti pada PT.

Laba tetap berada di yayasan dan tercatat secara akuntansi sebagai laba ditahan. Inilah yang terus akan menjadi bahan bakar bagi yayasan untuk tumbuh dalam pendapatan, aset, dan laba. Pada yayasan sekolah, tanda fisiknya adalah murid yang makin banyak, gedung bertambah, guru makin banyak, karyawan makin banyak dan sebagainya.

Karyawan yang makin banyak secara alami mengakibatkan struktur organisasi yang juga tumbuh. Semula hanya 2 tingkatan yaitu manajemen puncak (pengurus) dan karyawan yang langsung menangani pekerjaan (frontliner). Seiring pertumbuhan jumlah karyawan akan menunculkan manajemen lini pertama, lalu manejemen menengah, lalu manajemen menengah pun bertambah. Suatu saat akan mencapai tahap tahap kelima yaitu terbentuknya sistem manajemen. Cirinya: jika ada karyawan atau pengurus pensiun atau berhenti bekerja karena alasan apa pun, penggantinya adalah salah satu dari bawahan langsungnya. Artinya, kesenjangan kemampuan antara level jabatan sudah sangat kecil. Seperti di militer. Jendral bintang empat yang pensiun penggantinya adalah salah satu jendral bintang tiga. Bintang tiga pensiun penggantinya adalah salah satu bintang dua dan seterusnya samapia ke bawah. Tidak pernah mencari pengganti dari luar.

Setelah sistem manajemen, tahap keeenam alias tahap terakhir adalah yayasan paripurna. Cirinya ada dua. Petama, jumlah pembina sebagai otoritas tertinggi yayasan cukup banyak untuk regenerasi dalam menjaga visi dan program yayasan. Kedua, memiliki dana abadi (endowment fund) yang hasil investasinya cukup untuk menanggung beban finansial yayasan. Contoh yayasan yang sudah seperti ini adalalah Massacusets Institute of Technology (MIT) yang berbadan hukum non profit corporation seperti pada tulisan saya sebelumnya. Anda pengelola yayasan? Sudah berada pada tahap mana?

Artikel ke-479 karya Iman Supriyono ditulis ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan edisi Juni 2025 dengan beberapa perubahan.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:
Hayyu x ACR: Perusahaan Dakwah
Kumowani: Blunder Nazir Sebagai Start Up
ACR X Hayyu: RUPS dan Dividen Pertama
Wakaf ACR: Fulbright Dari Timur
Wakaf Korporat: Model Bisnis Sociopreneur
Wakaf Uang
RPD: Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Agar Rp 10 T Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Alumni: Sahabat di Sekolah Sahabat di Surga
Kesalahan Wakaf Saham dan Perbaikannya
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Wakaf Modern: Keabadian Amal dan Pertumbuhan Ekonomi
Penyesalan Pemilik Aset
Investee Wakaf Berkualitas
Beasiswa LPDP: Dana Abadi atau Dana Menguap?
Hayyu x ACR: Perusahaan Dakwah
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Djarum Masuk Hermina ROI 1,93%, Kok Mau?


Keluarga Djarum membeli saham RS Hermina dengan ROI 1,93% per tahun, kok mau? Dari mana asal perhitungan ROI (return on invesment) itu? Mengapa mau dengan ROI serendah itu? Saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan format poin-poin.

  1. Sebagimana diberitakan di media PT Dwimuria Investama Andalan membeli 559 185 300 lembar saham PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) dengan harga Rp 1 875 atau total  senilai Rp 1 triliun.
  2. Yang dibeli dari Hermina adalah saham treasuri yang diperoleh dari buy back saham. Harga peroleannya adalah Rp 452 miliar. Dengan harga Rp  1 triliun maka Hermina mendapatkan keuntungan sebesar Rp 548 miliar. Cukup untuk membangun atau mengakusisi paling tidak 2 rumah sakit tipe C.  Jadi Hermina diuntungkan dengan transaksi ini.
  3. Sebagaiman dinyatakan dalam situs resmi Bank BCA, PT Dwimuria Investama Andalan adalah pemegang saham 54,94% saham bank papan atas tersebut. Dengan kedudukan sebagai pemegang saham pengendali BCA, maka PT Dwimuria Investama Andalan harus menyampaikan keterbukaan informasi tentang siapa pemegang sahamnya. Di situs BCA dinyatakan bahwa Robert Budi Hartono dan Bambang Hartono adalah pemegang saham PT Dwimuria Investama Andalan
  4. Robert Budi Hartono dan Bambang Hartono adalah anak dari Oei Wie Gwan, orang yang pada tahun 1951 mengakusisi perusahaan rokok NV Murup yang hampir pailit. NV Murup memiliki merek rokok Djarum Gramofon. Merek ini yang kemudian disingkat menjadi Djarum sampai saat ini.
  5. Dengan demikian, berbagai berita yang berkembang bahwa grup Djarum masuk ke bisnis kesehatan sebenarnya yang masuk adalah PT Dwimuria Investama Andalan. Selanjutnya tulisan ini akan fokus pada PT Dwimuria Investasma Andalan yang disingkat dengan Dwimuria
  6. Seusuai laporan keuangannya, nilai nominal saham PT Medialoka Hermina adalah Rp 20 per lembar. Sesuai laporan teraudit 2024 nilai buku perusahaan adalah Rp 4,45 triliun alias Rp 290 per lembar. Dengan demikian nilai intangible aset dalam pembelian saham oleh Dwimitra adalah Rp 1585 per lembar saham.
  7. Harga pasar saham Hermina saat transaksi terjadi adalah Rp 1420 per lembar saham. Maka Dwimuria membelinya dengan harga 32% di atas harga pasar.
  8. Laporan keuangan Hermina teraudit 2024 menyebut laba per lembar saham adalah Rp 36,11. Dengan demikian ROI Dwimuria adalah 1,93% dalam satu tahun. Investasi Rp 1 875 mendapatkan hak laba Rp 36,11. Muncul pertanyaan, kok kecil sekali? Lebih kecil dari deposito. Kok mau?
  9. Untuk bisa menjawab pertanyaan itu, kita harus melihatnya dari asal usul uang itu. Pada laporan keuangan BCA 2024, diperoleh bahwa laba adalah Rp 54,9 triliun. Dari laba tersebut yang dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen adalah Rp 34,2 triliin. Dengan demikian Dwimuria menerima Rp 18,8 triliun. Uang ini sifatnya uang dingin. Hasil dari memperlakukan BCA sebagai cash cow.
  10. Pertanyaannya, ditaruh dimana uang sebesar itu? Tentu tidak mungkin didepositokan. Aset dengan angka triliun pastilah diinvestasikan berupa saham di berbagai perusahaan. Hermina adalah satu pilihannya. Sebagai perusahaan investasi, doktrin “jangan taruh telor pada satu keranjang” tentu dipegang oleh Dwimuria. Beberapa waktu lalu juga dikabarkan berinvestasi pada saham Bakmi GM sebagai bentuk pelaksanaan doktrin ini.
  11. Saham menjadi pilihan logis karena nilainya tidak termakan inflasi. Bahkan tumbuh. Sedangkan deposito atau obligasi nilainya termakan inflasi. Data historis pertumbuhan majemuk rata-rata nilai pasar saham Hermina (CAGR, compounded average growth rate) dalam 7 tahun sejak IPO adalah 14,8%. Jika ditarik rentang waktu lebih panjang, sejak berdiri tahun 1985, selama 40 tahun CAGR-nya adalah 11,2%. Belum lagi ditambah dividennya tiap tahun. Angkanya jauh di atas bunga obligasi, deposito maupun laju inflasi. Jadi investasi di Hermina ini secara historis sangat menguntungkan.
  12. Tahun ini Hermina membagi dividen Rp 10,5 per lembar saham. Dividen ini setara dengan 0,56% dari nilai pembelian saham oleh Dwimuria. Ini adalah tambahan dari CAGR yang sebesar 14,8% atau 11,2% di atas.
  13. Sesuai namanya, Dwimuria adalah sebuah perusahaan investasi. Tapi laporan keuangan terauditnya yang dipublikasikan terkait dengan posisinya sebagai pemegang saham pengendali BCA belum mencerminkan posisinya sebagai perusahaan investasi. Karena memegang saham BCA lebih dari 50% maka laporan keuangan BCA dikonsolidasikan pada laporan keuangan Dwimuria. Akibatnya, laporan keuangan Dwimuria tidak jauh berbeda dengan laporan keuangan bank BCA.
  14. Ini menjadikan kinerja investasi seperti yang dilakukan pada Hermina “tenggelam” oleh laporan keuangan BCA. Aset BCA Rp 1 449 triliun. Aset Dwimuria Rp 1676 triliun. Dengan konsolidasi BCA maka Dwimuria menjadi sebuah operationg company. Bukan lagi sebagai investing company. Itulah kenapa perusahaan-perusahaan investasi raksasa seperti Blackrock, Fidelity, State Street, Vanguard dan lain-lain tidak mau menjadi pemegang saham pengendali di perusahaan manapun. Saratoga pun demikian. Dengan cara seperti ini,  saham perusahaan manapun yang dipegang bersifat investasi yang tidak dikonsolidasikan. Kinerja investasinya pun bisa dievaluasi dengan baik.
Pengelola dana abadi dan dana wakaf bekerja sebagai investing company seperti Dwimuria

Pembaca yang baik demikianlah kedudukan pembelian saham Hermina oleh Dwimuria. Dwimuria mendaptkan investee yang pertumbuhannya bagus, Hermina mendapatkan uang untuk ekspansi. Hasil ekspansi akan dinikmati oleh pemgang saham termasuk Dwimuria yang memegang sekitar 3% saham Hermina. Anda sudah mendapatkan pelajaran?

Artikel ke-478 karya Iman Supriyono ditulis ditulis di Surabaya pada tanggal 29 Juni 2025

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Harvard University Versus Presiden Trump


Harvard University sedang menghadapi kebijakan presiden Trump yang tidak menguntungkan. Bantuan pemerintah ke kampus berbadan  hukum non profit corpoation dihentikan. Yang terbaru lisensi untuk menerima mahasiswa asing dicabut. Memang kemudian kampus melakukan pembelaana hukum di pengadilan. Paling tidak untuk sementara, keputusan pengadilan berpihak kepada Harvard.

Pertanyaannya, mengapa Harvard sangat percaya  diri menghadapi kebijakan presiden? Mari kita lihat dari kaca mata finansial. Bagaimana sesungguhnya kekuatan kampus yang berdiri tahun 1636 itu?

Dalam laporan keuangan resmi tahun 2024, biaya operasional adalah USD 6,4 milar alias IDR 104 triliun. Biaya sumber daya manusia menyedot 52% angka tersebut. Porsi terbesar kedua adalah pembayaran jasa dari pihak luar sebesar 14%. Biaya macam-macam selain 2 itu menyedot 34%.

Total pendapatan adalah USD 6,5 miliar alias IDR 106 triliun. Ada surplus sekitar IDR 2 triliun.  Sumber pendapatan dari uang kuliah mahasiwa berkontribusi 21% dari total pendapatan kampus. Hasil investasi dana abadi (endowment fund) berkontribusi 37%.  Jauh lebih besar dari pada uang kuliah mahasiwa. Sponsor dari pemerintah federal hanya berkontribusi 11% dari total pendapatan. Donasi langsung dari berbagai pihak berkontribusi 8%. Sponsor non pemerintah berkontribusi 5%. Lain-lain di luar yang telah disbut berkontribusi 18%.

Kontributor terbesar adalah dari hasil investasi dana abadi. Berapa nilai dana abadi Harvard? Per 30 juni 2024 adalah USD 53,325 miliar alias IDR 867 triliun. Dengan demikian return on ivestment (ROI) dari seluruh portofolio investasi adalah sekitar 5 sampai dengan 5,5% dari nilai pasar.

Andai pemerintah federal menghentikan sponsornya, Harvard akan kehilangan 11% dari pendapatan yaitu sebesar IDR 11,6 triliun. Karena pendapatan tahun 2024 masih surplus (laba secara akuntansi) sebesar IDR 2 triliun, penghentian sponsor dari pemerintah akan berakibat Harvard mengalami defisit (rugi) sebesar IDR Rp 9,5 triliun.

Apakah itu bahaya? Semuanya akan aman apabila Harvard mampu melakukan efisiensi 9%. Apakah efisiensi sebesar ini begitu sulit bagi Harvard? Dari berbagai berita media, sikap Harvard yang kokoh mnghadapi kebijakan pemerintah menunjukkan keyakinan mereka terhadap prinsip dasar “veritas” yang bermakna kebenaran. Keyakinan ini secara finansial bisa dibaca bahwa mereka yakin kampus akan mampu menanggung risiko andaikan dana sponsor dari pemerintah benar-benar dihentikan.

&&&

Apa pelajaran bagi kita khususnya para pengelola pendidikan? Yang paling pokok adalah kekuatan endowment fund alias dana abadi alias dana wakaf. Dana wakaf yang diiinvestasikan ke berbagai perusahaan harus menjadi pilar utama kekuatan keuangan institusi pendidikan. Apalagi kita berada pada negara yang senasib dengan negara di mana Harvard berada: rasio pajak rendah. Hanya belasan persen. Berbeda dengan negara-negara Eropa yang mendekati 50%. Masyarakat kita pasti akan menolak jika pajak dinaikan sampai rasio pajak 50%.

Jadi kampus dan lembaga pendidikan mana pun harus serius dalam memupuk dana abadi alias dana wakaf. Sumbernya adalah sumbangan alumni, orang tua mahasiwa dan masyarakat luas sebagai bentuk dukungan terhadap misi pendidikan yang memang berwatak sosial. Wakaf adalah pengokoh jati diri sosial lembaga pendidikan. Jika belum mau menyumbang, artinya orang-orang belum mengakui watak sosial sebuah lembaga pendidikan. Sobat insan pendidikan, sudahkah masyarakat mengakui watak sosial lembaga pendidikan tempat Anda berkarya?

Artikel ke-477 karya Iman Supriyono ditulis ditulis di teras masjid Al Falah Surabaya selepas sholat ashar tanggal 25 Mei 2025.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:
Hayyu x ACR: Perusahaan Dakwah
Kumowani: Blunder Nazir Sebagai Start Up
ACR X Hayyu: RUPS dan Dividen Pertama
Wakaf ACR: Fulbright Dari Timur
Wakaf Korporat: Model Bisnis Sociopreneur
Wakaf Uang
RPD: Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Agar Rp 10 T Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Alumni: Sahabat di Sekolah Sahabat di Surga
Kesalahan Wakaf Saham dan Perbaikannya
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Wakaf Modern: Keabadian Amal dan Pertumbuhan Ekonomi
Penyesalan Pemilik Aset
Investee Wakaf Berkualitas
Beasiswa LPDP: Dana Abadi atau Dana Menguap?
Hayyu x ACR: Perusahaan Dakwah
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

MIT: Guru Dibayari Murid?


Pada laporan keuangan teraudit 2023 Massacusets Instutte of Technologi memiliki aset USD  38,6 miliar. Setara dengan Rp 648 triliun. Coba tebak, berupa apakah komponen terbesar dari aset jumbo kampus teknologi nomor wahid dunia tersebut?

Pasti banyak yang menduga aset terbesarnya adalah berupa gedung dan peralatan laboratorium canggih. Mengingat ini adalah kampus yang memang luar biasa di dunia teknologi. Kampus yang telah beroperasi sejak 1861 ini telah menghasilkan 105 penerima hadiah nobel. Bisa dibayabngkan keunggulan dalam bidang risetnya. Kecanggihan alat-alat riset teknologinya.

Tapi mari kita buka lebih lanjut laporan keuangannya. Per 30 Juni 2023 kampus yang menempati lahan seluas 68 hektar ini mencatatkan nilai aset berupa gedung, bangunan dan peralatan senilai USD 5 miliar alias Rp 84 triliun yaitu 13% dari total aset. Jadi kampus yang bermoto “mens and manus” alias “otak dan tangan” ini bukanlah tipe lembaga pendidikan yang bermegah-megah dalam bangunan.

Lalu apa komponen aset terbesarnya? Tidak lain adalah berupa investasi senilai USD 30,7 miliar alias Rp 516 triliun. Aset investasi menyedot 80% total aset kampus yang juga biasa disebut MIT ini. Besar sekali. Tentu kebijakan ini dibuat bukan melalui ketidaksengajaan. Manajemen kampus ranking 1 QS Top University itu tentu tahu bahwa yang namanya investasi mengandung risiko.

Mari kita lihat lebih detail. Berupa apa sajakah aset investasi kampus yang terletak di Cambridge Massachusets ini? Komponen terbesar yaitu sebesar Rp 361 triliuin alias 70% adalah berupa ekuitas di berbagai perusahaan. Ekuitas artinya MIT menyetor uang kepada perusahaan-perusahaan saat perushaan-perusahaan tersebut menerbitkan saham baru. Atau bisa juga membeli saham saat ada pemegang saham perusahaan-perusahaan tersebut menjual saham yang mereka pegang. Dengan demikian maka MIT kemudian mendapatkan dividen dari laba perusahaan-perusahaan tersebut.

Selebihnya, 30% dari aset investasi adalah berupa aset-aset non ekuitas antara lain berupa real estate yang disewakan, obligasi alias surat utang, surat utang pemerintah sejenis ORI yang diterbitkan pemeritah Indonesia, uang di bank dan sebagainya.

Murid membayari guru? Hindari!

Bagimana kondisi keuangan operasional kampus? Total kebutuhan biaya operasional adalah Rp 74 triliun. Komponen terbesarnya adalah biaya SDM sebesar 52% dari total biaya. Jadi untuk keperluan gaji dosen dan tenaga pendidikan ini kaampus membelanjakan uang Rp 38 triliun dalam setahun.

Dari mana sumber pembiayaannya? Total pendapatan adalah Rp 80 tiliun. Mungkin Anda segera menebak bahwa uang kuliah para mahasiswa adalah sumber utama pendapatan jumbo tersebut. Benarkah? Ternyata tidak. Laporan keuangan menunjukkan bahwa total uang kuliah yang dibayarkan mahasiwa mulai dari s1 sampai s3 hanya berkontribusi 9% alias sekitar Rp 7 triliun. Komponen terbesar pendapatan justru datang dari hasil investasi yang berkontribusi 28% alias sekitar Rp 22 triliun. Selebihnya sebesar 40% adalah sumbangan dari berbagai lembaga donor.

%%%

Guru dibayari murid. Ini adalah kondisi yang banyak terjadi pada lembaga-lembaga pendidikan di negeri ini. Kondisi yang menjadikan pendidikan seolah-olah bersifat transasksional. Guru menjual ilmu dan murid membelinya. Sesuatu yang tentu saja mesti dihindari.

Hubungi: bit.ly/snfconsulting

Nah, MIT contoh kampus yang mampu menghindarinya. Kuncinya adalah kemampuan kampus dalam menggalang donasi dari para alumni dan simpatijsan untuk dana abadi yang kemudian diinvestasiikan dengan portofolio yang tepat  Kampus-kampus, sekolah-sekolah dan pesantren-pesantren negeri ini mesti mencontohnya. Agar tidak terjebak pada  fenomena guru dibayari murid. Agar lembaga pendidikan mampu tampil kokoh dengan prestasi moncer dengan basis sosial yang kuat. Donasi dana abadi adalah peneguh jati diri kampus dan lembaga pendirikan sebagai institusi sosial. Bukan institusi bisnis.

Artikel ke-476 karya Iman Supriyono ditulis ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan edisi Mei 2025 dengan beberapa perubahan.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:
Hayyu x ACR: Perusahaan Dakwah
Kumowani: Blunder Nazir Sebagai Start Up
ACR X Hayyu: RUPS dan Dividen Pertama
Wakaf ACR: Fulbright Dari Timur
Wakaf Korporat: Model Bisnis Sociopreneur
Wakaf Uang
RPD: Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Agar Rp 10 T Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Alumni: Sahabat di Sekolah Sahabat di Surga
Kesalahan Wakaf Saham dan Perbaikannya
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Wakaf Modern: Keabadian Amal dan Pertumbuhan Ekonomi
Penyesalan Pemilik Aset
Investee Wakaf Berkualitas
Beasiswa LPDP: Dana Abadi atau Dana Menguap?
Hayyu x ACR: Perusahaan Dakwah
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

Salat di Baitul Muttaqin Infak di Al Falah


Masjid Baitul Muttaqin, suatu pagi. Fajar telah terbit di masjid yang tidak jauh dari kampus ITS itu. Saat ada di rumah, saya memang memilih masjid yang dikelola oleh persyarikatan Muhammadiyah ini untuk sholat subuh berjamaah. Masjid yang tidak terlalu jauh dari rumah. Tidak sampai 5 menit naik motor atau mobil.

Setiap masuk masjid kita selalu menyerap biaya. Air, listrik, kebersihan, depresiasi bangunan dan sebagainya. Itu semua butuh uang. Dan tentu saja biaya mesti diserap oleh orang-orang yang mendapatkan manfaatnya. Termasuk saya pagi itu.

Maka, demi melihat kotak infak, sebagai orang yang sehari-hari bekerja terkait dengan keuangan langsung teringat biaya masjid. Maka saya pun menuju kotak infak itu.  Paling tidak agar saya tidak membebankan listrik, air, kebersian, dan depresiasi masjid yang saya manfaatkan kepada orang lain.

Tapi ternyata tidak membawa dompet. Dan tentunya juga tidak membawa uang tunai. Saya pun langsung mengeluarkan gadged dan membuka aplikasi pembayaran QRIS dari sebuah bank. Dan, masjid Baitul Muttaqin tidak menyedikan pembayaran infak melalui QRIS.

Saya tetap ingin membayar. Akhirnya saya pun membuka file di gadged yang berisi jepretan QRIS beberapa masjid. Pilihan saya jatuh pada masjid Al Falah, di Surabaya juga. Jadi, pagi itu saya mengalihkan urunan biaya perawatan masjid dari masjid Baitul Muttaqin kepada Masjid Al Falah. Semata karena Masjid Baitul Muttaqin tidak menyediakan fasilitas pembayaran infak dengan QRIS sedangkan masjid Alfalah Surabaya menyediakannya.

&&&

Dulu saat kuliah, jika pulang kampung ke Caruban, Madiun, saya suka naik bus berangkat malam dari Surabaya. Sampai di Caruban menjelang subuh. Nah, dalam perjalanan dari tempat turun bus ke rumah bapak ibu di kampung, saya biaya melihat beberapa orang yang menggendong daun jati dibawa ke pasar untuk dijual. Lengkap dengan obor sebagai sarana penerangan. Itu adalah rutinitas kehidupan jelang subuh di kampung halaman saya tahun 90-an.

Bagaimana sekarang? Tidak ada lagi. Teknologi adalah penyebabnya. Dulu daun jati dipakai sebagai pembungkus barang belanjaan di pasar. Kini semua tergantikan dengan kertas atau plastik. Dan karenanya pasar tidak membutuhkan lagi daun jati seperti dulu. Maka, pemandangan orang-orang penjual daun jati jelang subuh pun kini hilang. Bisnis daun jati sebagai pembungkus terdisrupsi oleh bisnis kertas dan plastik.

Pebisnis yang baik, disrupsi semacam itu akan terus terjadi dan terjadi lagi setiap ada teknologi baru. Ingat bagaimana Kodak yang dulu jaya kemudian lenyap seiring penemuan teknologi kamera digital. Ingat bagaimana bisnis perangko juga hilang seiring dengan perkembangan teknologi telekomunikasi. Ingat bagaimana bisnis delman kini pun lenyap seiring dengan perkembangan teknologi tranportasi bermesin.

Kotak infak pun mesti mengadopsi teknologi

Apa yang harus kita lakukana? Yang jelas perkembangan teknologi tidak bisa dibendung. Orang tidak bisa dihalangi untuk menggunakan teknologi terbaru dan meninggalkan teknologi lama. Maka, yang harus dimiliki oleh para pebisnis adalah kemampuan mengadopsi teknologi baru. Apa yang saya ceritakan saat mau berinfak di masjid Baitul Muttawin adalah sebuah contoh. Bahkan bukan hanya urusan bisnis. Urusan infak saja ternyata sebuah masjid dituntut untuk mengadopsi teknologi yang ada. Keterlambatan atau bahkan tidak mau mengadopsi teknologi akan menurunkan daya saing. Konsumen atau pelanggan akan pergi beralih ke pesaing. Akibatnya bisnis bisa lenyap. Maka, teruslah mengadopsi tekonoligi.

Artikel ke-475 karya Iman Supriyono ditulis ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan edisi April 2025 dengan beberapa perubahan.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Letusan IPO Trap 2024


Ada 41 perusahaan yang melantai pada tahun 2024. Dalam kerangka corporate life cycle, IPO adalah sebuah langkah dari perjalanan penjang untuk menjadi sebuah korporasi sejati yang memiliki paling tidak 3 penanda: menguasai pasar lebih dari 100 negara, tidak ada pemegang saham pengendali dan cost of capital 2-3% (per tahun).  Maka, sangat mendasar untuk mengevaluasi apakah perusahaan-perusahaan yang melantai pada tahun 2024 berada pada jalur yant tepat untuk menuju ke sana.

Salah satu penghambat sebuah perusahaan tercatat untuk melalui perjalanan menjadi korporasi sejati adalah terjadinya IPO Trap. Penanda utamanya adalah terjadinya penurunan harga saham sedemikian rupa sehingga perusahaan tidak bisa melakukan right issue dengan harga lebih tinggi dari pada saat IPO. Right issue secara terus menerus dengan harga yang terus naik adalah adalah langkah yang mesti ditempuh untuk menjadi korporasi sejati

Berikut ini catatan harga saham 41 emiten yang melantai pada tahun 2024. Harga dicatat pada akhir Maret 2025. Emiten berkode ASLI diperdagangkan pada hari pertama di lantai bursa pada harga Rp 89 kini menjadi Rp 50. CGAS dari Rp 492 menjadi Rp 83. NICE dari Rp 560 menjadi Rp 258. MSJA IPOdari Rp 382 menjadi Rp 308. SMLE dari Rp 222 menjadi Rp 102. ACRO dari Rp 123 menjadi Rp 58. MANG dari Rp 81 menjadi Rp 34. GRPH dari Rp 108 menjadi Rp 50. SMGA dari Rp 120 menjadi Rp 52. UNTD dari Rp 232 menjadi Rp 77.

TOSK dari Rp 130 menjadi Rp 50.  MPIX dari Rp 334 menjadi Rp 62. ALII dari Rp 340 menjadi Rp 356. MKAP dari Rp 246 menjadi Rp 252.  MEJA dari Rp 101 menjadi Rp 444. LIVE dari Rp 172 menjadi Rp 146. HYGN dari Rp 156 menjadi Rp 123. BAIK dari Rp 158 menjadi Rp 85. VISI dari Rp 132 menjadi Rp 183. AREA dari Rp 113 menjadi Rp 454.

MHKI dari Rp 408 menjadi Rp 92. ATLA dari Rp 212 menjadi Rp 50. DATA dari Rp 314 menjadi Rp 1050. SOLA dari Rp 150 menjadi Rp 50. BATR dari Rp 89 ke Rp 62. SPRE dari Rp 146 menjadi Rp 167. PART dari Rp  131 menjadi Rp 97.  GOLF Rp 230 menjadi Rp 192. ISEA dari Rp 352 menjadi Rp 51.  BLES dari Rp 258 menjadi Rp 185.

GUNA dari Rp 298 menjadi Rp 290. LABS dari Rp 196 menjadi Rp 115. DOSS dari Rp 254 menjadi Rp 125. NEST dari Rp 272 menjadi Rp 300. PTMR Rp 131 menjadi Rp 130. VERN Rp 200 menjadi Rp 90. DAAZ dari Rp 2670 menjadi Rp 3610. BOAT dari Rp 138 menjadi Rp 111.  NAIK dari 260 menjadi 545. AADI dari Rp 7975 menjadi Rp 6525. MDIY dari Rp 1700 menjadi Rp 1320

Mari kita lihat secara keseluruhan. Dari 41 perusahaan yang IPO tahun 2024, ada 31 perusahaan yang harga sahamnya mengalami penurunan dibanding hari pertama melantai. Hanya 10 alias 24% yang tidak mengalami penurunan. Sisanya, 76% mengalami penurunan. Sebuah angka yang memprihatinkan. Bisa disebut letusan IPO Trap.

Apakah yang menurun tidak akan naik? Apakah yang naik tidak akan turun? Tidak juga. IPO 2024 didominasi oleh perusahaan-perusahaan yang secara market cap memang masih sangat mudah diombang ambingkan oleh pasar. Seperti sampan yang berlayar di samudra luas yang ombaknya setinggi 5 meter atau lebih.  Jauh sekali dari angka yang relatif aman yaitu market cap Rp 10 triliun. Fluktuasi tidak terkendali inilah yang menjadikan perusdahaan kesulitan melakukan rights issue secara terus menerus.

Apa solusinya? Yang sudah terlanjur IPO ya namanya sudah terjalanjur mau apa lagi. Ada stupidity cost yang harus ditanggung. Yang mesti waspada adalah yang berencana akan IPO. Pastikan IPO dilakukan saat perusahaan sudah cukup besar. Paling tidak market cap Rp 10 triliun. Jika PER nya 20 maka laba palingt idak Rp 500 miliar. Jika PER 10 maka paling tidak laba Rp 1 triliun. Sebelum itu, lakukan proses korporatisasi dengan penerbitan saham secara terus menerus melalui private placement pra IPO. Inilah jalur yang semestinya untuk menjadi korporasi sejati. Fokus untuk menjadi qualified investee. Semoga 2025 ini lantai bursa bisa belajar dari ledakan IPO Trap 2024. Semoga lebih baik. Semangat!!!

Artikel ke-474 karya Iman Supriyono ditulis SNF Consulting House of Management, Surabaya, 10 April 2024

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Idul Fitri: Rumah Mbah Saidin


Kaliabu,  1 Syawal 1446 Hijriah. Selepas sholat asyar berjamaah di masjid di wilayah Kabupaten Madiun itu saya berjalan kaki menuju rumah ibu. Ditemani syahdunya matahari senja, saya berhenti di depan rumah alhamarhum mbah Saidin. Rumah tetangga ibu yang kini dibiarkan kosong. Anak-anak mbah Saidin sudah punya rumah sendiri-sendiri.

Rumah mbah Saidin adalah tipikal rumah tradisional jawa. Rumah bestruktur kayu jati. Rumah ini masih dalam struktur yang sama sejak saya kanak-kanak. Soko guru sebagai struktur utama tidak berubah. Yang berbeda adalah dindingnya. Dulu berdinding anyaman bambu yang dalam bahasa setempat disebut gedhek. Tapi sekitar saat saya SMP  rumah-rumah di itu pada diperbaiki. Gedhek diganti dengan tembok batu bata. Demikian pulalah rumah mbah Saidin.

Dan saya masih ingat betul. Perbaikan dinding seperti itu adalah merupakan hasil kerja keras bagi warga desa Kaliabu pada umumnya. Demikian juga pada Mbah Saidin. Bersama almarhum mbah Sayem, sang istri, Mbah Saidin bekerja keras untuk perbaikan rumah itu. Menanam jagung dan singkong di ladang dekat rumah, bekerja menggarap sawah tetangga yang disebut tandur, matun atau derep, bekerja sebagai tukang bungkus pada industri rumah tangga makanan tradisional brem, dan bekerja berjualan brem dengan pikulan ke luar kota adalah sebagaian dari kerja keras itu. Itulah modal mengubah dinding gedhek menjadi batu bata.

Nah, sore itu saya melihat hasil kerja keras Mbah Saidin menjadi rumah kosong. Dinding batu bata yang telah lapuk termakan usia itu menjadi saksi. Sebagian sudah jebol dan diganti dinding seng. Itulah harta yang dulu diperoleh mbah Saidin dan Mbah Sayem dengan kerja keras luar biasa.

&&&

Pembaca yang baik, rumah kosong Mbah Saidin adalah renungan bagi kita selepas sebulan berpuasa. Renungan tentang harta yang hari-hari ini mugkin sedang atau telah kita perjuangkan dengan pengorbanan terbaik kita. Bahkan mungkin mengesampingkan waktu kebersamaan dengan keluarga dan anak-anak. Bahkan bisa jadi dengan tidak tidak mempedulikan halal haram, naudzubilllah.

Bagaimana nasib harta itu kelak saat kita sudah dipanggil-Nya? Apakah harta itu bermanfaat bagi sesama sehigga terus mengirimkan pahala yang mengalir kepada kita di negeri abadi? Ataukah sebaliknya, menjadi harta terabaikan karena tidak ada manfaatnya? Menjadi rumah kosong? Menjadi tanah mangkrak? Atau menjadi rebutan ahli waris?

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu lalu kamu berkata, “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” Peringatan salah satu ayat Al Qur’an ini semoga menyadarkan kita. Bahwa orang meninggal menyesal bukan karena shalat, puasa, atau haji. Sumber penyesalan adalah harta yang masih tersisa saat meninggal. Harta yang tidak bermanfaat bagi sesama. Tentu saja juga tidak mengirimkan pahala yang terus mengalir.  Apalagi jika menjadi bahan sengketa.

Penulis bersama cucu tercinta

Menyesal seribu sesal. Menyesal semenyesal-menyesalnya. Semoga kita bisa menghindarinya. Selamat idul fitri. Selamat berbahagia bersama keluarga.  Mohon maaf dari lubuk hati paling dalam penulis untuk Anda para pembaca tercinta. Semoga kelak kita tidak termasuk orang-orang yang menyesal tentang harta kita saat sewaktu-waktu dipanggil-Nya.

Artikel ke-473 karya Iman Supriyono ditulis di Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, Caruban, Madiun, pada tanggal 1 Syawal 1446 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 31 Maret 2025

Investor Pra IPO: Tajir Dengan Private Placement


Edukasi untuk menjadi investor sudah semakin marak. Kita syukuri. Lantai bursa kini ramai oleh investor. Data Kustodian Sentral Efek pada akhir Januari 2025 menunyebut 15.161.166 investor. Semoga terus tumbuh.

Tapi tahukah Anda bahwa banyak ada fenonema IPO trap di lantai bursa? Mari baca data. Berikut i ini adalah data 10  emiten yang IPO pertama dari total 41 emiten yang IPO tahun 2024.. Saya sebut harga pada hari pertama perdagangan dan harga saat artikel ini ditulis. Emiten berkode ASLI diperdagangkan pada hari pertama di lantai bursa pada harga Rp 89 kini menjadi Rp 50. CGAS dari Rp 492 menjadi Rp 83. NICE dari Rp 560 menjadi Rp 258. MSJA dari Rp 382 menjadi Rp 308. SMLE dari Rp 222 menjadi Rp 102. ACRO dari Rp 123 menjadi Rp 58. MANG dari Rp 81 menjadi Rp 34. GRPH dari Rp 108 menjadi Rp 50. SMGA dari Rp 120 menjadi Rp 52. UNTD dari Rp 232 menjadi Rp 77.

Perhatikan baik baik. Semua perusahaan tersebut mengalami apa yang disebut sebagai IPO Trap yang salah satu cirinya adalah terjdinya penurunan harga saham lebih rendah dari pada saat diperdagangkan hari pertama. Akibatnya perusahaan akan kesulitan untuk tumbuh lebih lanjut melalui proses korporatisasi sampai menjadi korporasi sejati. Langkah untuk terus menerus menerbitkan saham melalui righs issue  sebagai sarana scale up terkunci mati. Terjebak oleh IPO. Pertumbuhannya terhenti.

Lalu, bayangkan Anda menjadi investor perusahaan-perusahaan seperti itu. Maka, harapan Anda bahwa investasi itu akan menghasilkan pertumbuhan nilai yang tinggi dengan pertumbuhan ROI dan dividen yang tinggi hanyalah angan angan belaka. Kecewa.

Lalu bagaimana sebaiknya? Ketahuilah bahwa orang orang terkaya di negeri ini maupun di berbagai penjuru dunia dipenuhi oleh mereka mereka yang berinvestasi pada perusahaan jauh hari sebelum IPO. Mereka adalah para pendiri perusahaan atau para investor yang masuk sebagai pemegang saham perusahaan jauh sebelum IPO.

Sekedar contoh. Anthoni Salim misalnya. Sebagaimana orang orang kaya kelas dunia yang lain, bentuk aset Anthoni Salim adalah berupa lembaran-lembaran saham. Salah satunya adalah saham PT Infofood CPB Sukses Makmur Tbk. Hari ini harga per lembar saham Rp 10 725 per lembar saham. Saat didirikan, harga sahan Indofood Rp 50. Artinya, kekayaan Anthoni Salim yang berupa saham Indofood Sukses Makmur saat ini adalah 72x lipat dari saat perusahaan ini didirikan.

Laba per lembar saham pada laporan tahun 2023 adalah Rp 599. Artinya ROI Anthoni salim sebagai pemegang saham pendiri adalah 1198%. Dividennya adalah Rp 200 per lembar saham yang artinya adalah 200% dari nilai investasi sebagai pendiri.

Contoh yang lain, harga saham Siloam Hospital saat didirikan adalah Rp 12,5 per lembar. Harga pentutupan transaksi hari pertama di lantai bursa adalah Rp 1228. Investor pra IPO melalui skema private placement bisa memperoleh saham dengan rentang harga antara Rp 12,5 dengan Rp 1228.

Misalkan Anda berinvestasi pada harga Rp 20 per lembar pada Siloam melalui private placement pra IPO. Laba per lembar saham sesuai laporan keuangan 2023 adalah Rp  92,92. Maka ROI Anda adalah 464%. Dividen adalah Rp 20 per lembar saham alias 100% dari dana yang Anda investasikan. Harga saham saat artikel ini ditulis adalah Rp 2500 per lembar. Maka, nilai investasi Anda sudah naik 125 kali lipat. Jika misalnya Anda berinvestasi Rp 1 miliar maka saat ini nilainya Rp 125 miliar.

&&&

Pembaca yang baik, menarik sekali untuk menjadi investor pra IPO. Bagaimana caranya? Tentu saja Anda tidak bisa membeli sahamnya di lantai bursa. Anda harus membelinya langsung dari perusahaan melalui skema private placement. Caranya? Minta penawaran dari pendirinya. Nego harganya. Jika sudah cocok maka investor private placement akan menandatangani perubahan akta perusahaan di depan notaris. Nama Anda akan tercatat sebagai salah satu pemegang saham di akta perusahaan.

Apa syarat untuk bisa menjadi invesor pra IPO dengan skema private plaement? Paling tidak ada dua syarat. Pertama adalah adanya kepercayaan alias  trust antara para pihak. Anda dipercaya oleh pendiri. Anda juga percaya kepada para pendrii. Kepercayaan timbal balik. Tentu saja kepercayaan seperti ini tidak bisa muncul seperti membalik telapak tangan. Butuh proses panjang dalam sebuah jejaring para pendiri. Grup Korporatisasi dari SNF Consulting adalah salah satu sarananya.

Syarat kedua adalah Anda harus benar-benar faham tentang korporasi. ini sangat fundamental. Anda harus faham proses korporatisasi. Faham siklus hidup perusahaan. Faham tentang par value, book value, market value, agio saham, dan intangible asset. Baca banyak-banyak artikel-artikel di web ini atau jika ingin lebih mudah bisa masuk kelas korporatisasi. Itu semua adalah syarat yang harus Anda penuhi untuk mendapatkan cuan tinggi sebagai investor pra IPO melalui skema private placement. Anda siap?

Artikel ke-472 karya Iman Supriyono ditulis di Surabaya pada tanggal 28 Maret 2025

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi