MIT: Guru Dibayari Murid?


Pada laporan keuangan teraudit 2023 Massacusets Instutte of Technologi memiliki aset USD  38,6 miliar. Setara dengan Rp 648 triliun. Coba tebak, berupa apakah komponen terbesar dari aset jumbo kampus teknologi nomor wahid dunia tersebut?

Pasti banyak yang menduga aset terbesarnya adalah berupa gedung dan peralatan laboratorium canggih. Mengingat ini adalah kampus yang memang luar biasa di dunia teknologi. Kampus yang telah beroperasi sejak 1861 ini telah menghasilkan 105 penerima hadiah nobel. Bisa dibayabngkan keunggulan dalam bidang risetnya. Kecanggihan alat-alat riset teknologinya.

Tapi mari kita buka lebih lanjut laporan keuangannya. Per 30 Juni 2023 kampus yang menempati lahan seluas 68 hektar ini mencatatkan nilai aset berupa gedung, bangunan dan peralatan senilai USD 5 miliar alias Rp 84 triliun yaitu 13% dari total aset. Jadi kampus yang bermoto “mens and manus” alias “otak dan tangan” ini bukanlah tipe lembaga pendidikan yang bermegah-megah dalam bangunan.

Lalu apa komponen aset terbesarnya? Tidak lain adalah berupa investasi senilai USD 30,7 miliar alias Rp 516 triliun. Aset investasi menyedot 80% total aset kampus yang juga biasa disebut MIT ini. Besar sekali. Tentu kebijakan ini dibuat bukan melalui ketidaksengajaan. Manajemen kampus ranking 1 QS Top University itu tentu tahu bahwa yang namanya investasi mengandung risiko.

Mari kita lihat lebih detail. Berupa apa sajakah aset investasi kampus yang terletak di Cambridge Massachusets ini? Komponen terbesar yaitu sebesar Rp 361 triliuin alias 70% adalah berupa ekuitas di berbagai perusahaan. Ekuitas artinya MIT menyetor uang kepada perusahaan-perusahaan saat perushaan-perusahaan tersebut menerbitkan saham baru. Atau bisa juga membeli saham saat ada pemegang saham perusahaan-perusahaan tersebut menjual saham yang mereka pegang. Dengan demikian maka MIT kemudian mendapatkan dividen dari laba perusahaan-perusahaan tersebut.

Selebihnya, 30% dari aset investasi adalah berupa aset-aset non ekuitas antara lain berupa real estate yang disewakan, obligasi alias surat utang, surat utang pemerintah sejenis ORI yang diterbitkan pemeritah Indonesia, uang di bank dan sebagainya.

Murid membayari guru? Hindari!

Bagimana kondisi keuangan operasional kampus? Total kebutuhan biaya operasional adalah Rp 74 triliun. Komponen terbesarnya adalah biaya SDM sebesar 52% dari total biaya. Jadi untuk keperluan gaji dosen dan tenaga pendidikan ini kaampus membelanjakan uang Rp 38 triliun dalam setahun.

Dari mana sumber pembiayaannya? Total pendapatan adalah Rp 80 tiliun. Mungkin Anda segera menebak bahwa uang kuliah para mahasiswa adalah sumber utama pendapatan jumbo tersebut. Benarkah? Ternyata tidak. Laporan keuangan menunjukkan bahwa total uang kuliah yang dibayarkan mahasiwa mulai dari s1 sampai s3 hanya berkontribusi 9% alias sekitar Rp 7 triliun. Komponen terbesar pendapatan justru datang dari hasil investasi yang berkontribusi 28% alias sekitar Rp 22 triliun. Selebihnya sebesar 40% adalah sumbangan dari berbagai lembaga donor.

%%%

Guru dibayari murid. Ini adalah kondisi yang banyak terjadi pada lembaga-lembaga pendidikan di negeri ini. Kondisi yang menjadikan pendidikan seolah-olah bersifat transasksional. Guru menjual ilmu dan murid membelinya. Sesuatu yang tentu saja mesti dihindari.

Hubungi: bit.ly/snfconsulting

Nah, MIT contoh kampus yang mampu menghindarinya. Kuncinya adalah kemampuan kampus dalam menggalang donasi dari para alumni dan simpatijsan untuk dana abadi yang kemudian diinvestasiikan dengan portofolio yang tepat  Kampus-kampus, sekolah-sekolah dan pesantren-pesantren negeri ini mesti mencontohnya. Agar tidak terjebak pada  fenomena guru dibayari murid. Agar lembaga pendidikan mampu tampil kokoh dengan prestasi moncer dengan basis sosial yang kuat. Donasi dana abadi adalah peneguh jati diri kampus dan lembaga pendirikan sebagai institusi sosial. Bukan institusi bisnis.

Artikel ke-476 karya Iman Supriyono ditulis ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan edisi Mei 2025 dengan beberapa perubahan.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Baca juga:
Hayyu x ACR: Perusahaan Dakwah
Kumowani: Blunder Nazir Sebagai Start Up
ACR X Hayyu: RUPS dan Dividen Pertama
Wakaf ACR: Fulbright Dari Timur
Wakaf Korporat: Model Bisnis Sociopreneur
Wakaf Uang
RPD: Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Agar Rp 10 T Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Alumni: Sahabat di Sekolah Sahabat di Surga
Kesalahan Wakaf Saham dan Perbaikannya
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Wakaf Modern: Keabadian Amal dan Pertumbuhan Ekonomi
Penyesalan Pemilik Aset
Investee Wakaf Berkualitas
Beasiswa LPDP: Dana Abadi atau Dana Menguap?
Hayyu x ACR: Perusahaan Dakwah
Peredam Risiko Investasi Wakaf
Wakaf Modern Untuk Keabadian Amal dan Kemerdekaan Ekonomi
Konversi Kotak Infaq ke Kotak Wakaf
Kesalahan Wakaf Saham Dan Perbaikannya
Wakaf Untuk Beasiswa: Fulbright Dari Timur
Wakaf Moncer dengan Puasa Infaq
Wakaf Para Alumni untuk Adik Kelasnya
Wakaf Agar Rp 10 Triliun Tidak Melayang Tiap Tahun
Wakaf Uang
Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Umat dan Bangsa
Korporatisasi: Asal Muasal

2 responses to “MIT: Guru Dibayari Murid?

  1. Ping-balik: Yayasan Paripurna: Siklus Hidup | Korporatisasi

  2. Ping-balik: Yayasan Versus Perkumpulan: Sekolah Kampus Ikatan Alumni | Korporatisasi

Tinggalkan komentar