Xenia


Jalan kaki dari rumah ke kantor. Sehat dan asyik kan? Ini adalah kalimat pembuka diskusi pada sebuah situs jejaring sosial yang saya tulis pada suatu pagi akhir januari 2012 ini. Saya menuliskannya sesaat sebelum berangkat meninggalkan rumah menuju kantor SNF Consulting yang bisa ditempuh sekitar 7 menit jalan kaki santai dari rumah.

Ada banyak komentar menarik. Ada yang pingin melakukannya tetapi berat karena jarak dari rumah ke kantornya 23 kilometer. Ada yang menyebut nama Dahlan Iskan yang memang juga hobi jalan kaki dari rumah ke kantor sejak menjadi direktur PLN beberapa tahun lalu sebagai inspirasi. Ada yang selalu melakukannya karena rumah dan kantornya jadi satu. Masih banyak lagi komentar menarik lain.

Dari sekian komentar, ada satu yang menarik: Awas Xenia! Sebuah komentar yang mungkin bisa terasa tidak nyambung. Tetapi jadi nyambung karena beberapa hari sebelumnya di Jakarta telah terjadi sebuah peristiwa tragis: 13 orang diseruk Mobil Daihatsu Xenia saat sedang berjalan santai di trotoar kawasan Tugu Tani. Sembilan diantaranya meninggal dunia. Media hari-hari berikutnya salalu dihiasi dengan pemberitaan besar besar masalah ini.

&&&

Hijaunya pepohonan dan tanaman hias di kampus ITS sungguh menarik hati untuk menjadi tempat olah raga lari pagi. Apalagi rumah saya memang tidak jauh dari kampus teknologi seluas hampir 200 hektar ini. Udaranya sejuk. Suasananya segar. Hampir di tiap ruas jalan ada jalur pedestrian yang bagus. Berolah raga sekaligus menikmati suasana. Apalagi olahraganya ditemani orang terdekat: istri. Makin cocok saja.

Kampus ITS memang indah untuk lari pagi. Tetapi sebenarnya saya punya satu alasan lagi yang juga sangat penting: keselamatan. Ada poin penting dalam soal ini. Pertama, pemilihan olah raga lari pagi sudah mengandung unsur keselamatan. Saya tidak memilih misalnya bersepeda karena alasan ini. Bersepeda harus melalui jalan raya yang penuh dengan kendaraan yang bisa jadi kurang bersahabat dengan para pengendara sepeda. Kedua, lari pagi pun harus memilih lokasi yang aman. Kampus ITS memenuhi point ini. Bukan semata mata karena lalu lintasnya yang sepi. Tetapi yang lebih penting adalah karena jalur pedestriannya yang aman.

Aman seperti apa? Salah satunya dan yang membuat saya senang adalah desainnya. Trotoar atau pedestrian pada umumnya selalu dibuat persis di pinggir jalan. Tidak ada pemisah antara trotoar dengan badan jalan kecuali biasanya trotoar selalu dibuat dengan permukaan lebih tinggi dari pada badan jalan. ITS berbeda. Tidak seperti umumnya trotoar atau pedestrian. Di kampus tempat saya belajar teknologi 22 tahun lalu itu, walaupun tidak seluruhnya, trotoar atau pedestriannya tidak mepet jalan. Antara pedestrian dengan badan jalan dipisahkan taman selebar sekitar 1 meter. Taman itu dipenuhi dengan tanaman hias, rumput hias dan pohon pohon tanaman keras. Disamping berfungsi untuk keindahan, keberadaan taman ini juga akan melindungi pejalan kaki dari ancaman kendaraan yang melaju dengan kencang di jalan.

Pejalan kaki di pedestrian orchard road singapore terlindung dari laju kendaraan di jalan dengan taman dan pohon pohon besar

Lho bukankah trotoar atau pedestriannya sudah lebih tinggi? Ternyata lebih tinggi saja tidak cukup. Berita kecelakan Xenia pada bagian awal dari tulisan ini menunjukkan ketidakcukupannya. Sembilan nyawa harus melayang karena kelalaian seorang pengemudi Xenia yang sedang terpengaruh efek sabu. Dengan kecepatan tinggi, mudah sekali bagi roda sebuah mobil untuk melompati ketinggian trotoar dan kemudian tanpa ampun membantai para pejalan kaki yang sedang bersantai atau berolahraga di pedestrian atau trotoar.

Andai saja trotoar di kawasan Tugu Tani Jakarta itu didesain seperti di ITS, tentu tidak akan ada berita melayangnya 9 nyawa itu. Laju Xenia akan tertahan pepohonan. Tentu media tidak menghiasi dirinya dengan berita kecelakaan itu. Ini pulalah rupanya yang menjadi alasan mengapa desain pedestrian atau trotoar di Singapura misalnya pada umumnya juga seperti yang ada di ITS. Ada taman pemisah antara badan jalan dengan jalur pedestrian. Desain yang aman. Aman bagi pejalan kaki. Supaya tidak ada lagi anak anak yang kehilangan ayah beserta seluruh peluang nafkah dari sang ayah gara-gara kelalaian pengemudi seperti kasus Xenia di Jakarta itu. Semoga tidak ada lagi anak anak yang kehilangan kasih sayang ibunya gara gara kecelakaan saat jalan kaki di pedestrian. Semoga Xenia di Tugu Tani menjadi pelajaran. Semoga kelak segalanya jadi lebih baik. Amin.

Tulisan Iman Supriyono ini juga dimuat di majalah Baz, terbit di Surabaya

Berbisnis Sejak Mahasiswa: Kardus Kardus Besar


Asrama Mahasiswa ITS, Agustus 1990. Ini adalah hari-hari pertama saya sebagai seorang mahasiswa. Seperti kawan-kawan pada umumnya, tiap bulan saya mendapatkan jatah uang kuliah dan biaya hidup dari orang tua di desa. Rupiah hasil jerih payah ayah ibu Caruban, Madiun yang bekerja sebagai pengrajin makanan tradisional brem saya ambil tiap bulan berupa uang tunai dan masuk dompet.

Surabaya Agustus 1991. Saya sudah tidak tinggal di Asrama lagi. Ada ritme baru sebagai mahasiswa. Saya indekos di sebuah kampung tidak jauh dari kampus. Ada banyak pertimbangan untuk meninggalkan asrama. Salah satunya adalah supaya bisa berjualan brem. Ya, sejak tahun kedua bangku kuliah, jatah bulanan dari ayah ibu tidak lagi saya ambil berupa uang tunai yang masuk dompet. Saya mengambilnya berupa brem. Dompet berubah menjadi kardus-kardus besar. Kue dari sari tape ketan ini kemudian saya jual dengan konsinyasi di toko-toko di Surabaya. Hasil penjualannya baru saya belikan nasi dan lain-lain keperluan seorang mahasiswa.

Ayah ibu yang mengajarkan bisnis sejak mahasiswa

Pembaca yang baik, saat ini Anda sedang membaca artikel yang saya tulis di kabin pesawat Boeing 737 ER dari Surabaya menuju Batam awal Maret 2011. Di perut pesawat gress Lion Air ini saya terkenang kembali indahnya kehidupan sebagai seorang mahasiswa.

Saya tidak sedang menjadi sentimentil. Kenangan saya pada kehidupan mahasiswa dulu terpicu oleh maksud perjalanan saya kali ini. jika saya dulu pulang pergi dari Caruban-Surabaya dengan membawa kardus-kardus besar berisi brem, di bagasi di bawah kabin pesawat ini saya juga menyimpan kardus-kardus besar. Maksudnya sama. Hanya berbeda barang.

Di bagasi, saya menyimpan tiga kardus besar berisi baju renang muslimah. Ini bentuk lain dari uang sekolah sulung saya. Saya membawanya ke Batam dan selanjutnya naik kapal very dari dermaga Batam Center menuju dermaga Skupang di Johor, Malaysia. Lewat Batam karena tidak ada penerbangan langsung Surabaya-Johor. Di negeri seberang, Sulung saya sudah siap untuk menjual baju-baju itu. Selanjutnya, uangnya akan dimanfaatkannya untuk biaya pendidikan dan kehidupannya sebagai seorang pelajar tahun kedua di sekolah setingkat SMA di kota yang berbatasan langsung dengan Singapura ini.

Dulu diajari ayah ibu untuk berbisnis sejak mahasiswa, kini mengajari anak-anak untuk berbisnis sejak mahasiswa

Ya, saya sedang berperan seperti ayah saya tahun 1991 yang lalu. Mengirimi dagangan untuk mengajar si sulung menjadi entrepreneur. Atau paling tidak belajar menjadi entreprenur kecil-kecilan sejak tahun kedua pendidikannya di rantau. Dari aktivitas jualan baju renang ini, labanya sudah cukup untuk uang sekolah dan biaya hidup di negeri jiran sekitar Rp 2 juta perbulan. Jadi, paling tidak juga belajar menjadi mandiri. Hal terpenting dalam pendidikan yang saya ajarkan kepada anak-anak setelah dasar-dasar agama.

Saya lakukan apa yang dulu dilakukan ayah ibu karena telah merasakan manfaatnya yang besar. Berjualan dan menghasilkan uang sendiri sambil menuntut ilmu menjadikan saya lebih banyak bergaul dengan masyarakat, berkomunikasi dengan para pedagang, praktek seni mencari uang, praktek pemasaran, praktek manajemen, dan belajar hidup yang sesungguhnya. Ini semua sulit diperoleh seandainya saya menerima uang tunai dari ayah ibu dan hidup hanya bergulat dengan buku. Karenanya saya sangat berterima kasih kepada ayah ibu dan bersyukur kepada-Nya atas model pendidikan yang luar biasa ini. bentuknya adalah dengan melakukan hal yang sama untuk si buah hati. Normalnya, kardus-kardus besar ini bisa dikirim melalui jasa ekspedisi. Kali ini kardus-kardus besar itu saya kirim sendiri karena kebetulan lagi senggang dan ingin bercengkerama dengan si sulung di rumah indekosnya di Johor Bahru. Merasakan kembali nikmatnya kardus-kardus besar. Bukan dompet!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca juga….
Perceraian entrepreneur muda
Fokus bagi entrepreneur
Menemukan rumus laba

Tulisan karya Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah yatim, terbit di Surabaya.

Anggrek


Anggrek

Oleh Iman Supriyono, konsultan bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Desa Kaliabu, Caruban, Madiun tahun 80-an. Jika hendak ke kota, ada dua jalur alternatif yang biasa dilalui warga desa. Jalur pertama melalui jalan utama desa dan jalur kedua melalui jalan desa sebelah. Jalur pertama rutenya lebih pendek dari jalur kedua tetapi tidak semua orng menyukai jalur ini. Penyebabnya adalah karena ada dua hanbatan yaitu dam alias bendungan sungai dan stasiun kereta api. Di kedua hambatan itu sepeda harus diangkat untuk bisa meleluinya. Maka jalur pertama ini hanya mungkin ditempuh oleh mereka yang berjalan kaki atau paling banter naik sepeda angin. Mereka yang naik speda motor atau dokar sebagai moda angkutan umum ketika itu harus melelui alternatif kedua.

Jika naik sepeda, jalur pertama saya sukai karena melewati stasiun. Bukan hanya karena kereta apinya yang memang menarik bagi anak desa. Lebih dari itu adalah karena di halaman stasiun terdapat taman kecil nan cantik. Rumputnya indah rapi menghijau. Ada kolam kecil yang dihiasi sebuah relief dan patung artistik. Pohon penitian dipotong cantik menyembul ditengah hamparan rumput jepang yang lembut. Dalam hati saya, tentu taman seperti itu sangat mahal. Benar benar memesona.

Saya pun terobsesi memiliki taman seperti itu. Atas hasrat itu, saya menyulap sebagian halaman rumah saya didesa menjadi “taman” meniru gaya taman di stasiun. Tentu sebagai orang desa sederhana, saya tidak mungkin mendapatkan rumput jepang lembut yang entah belinya dimana. Juga tidak mungkin menyewa tukang membuat relief yang cantik. Saya hanya mencari tanaman liar di sekitar rumah untuk membangun sebuah “taman” seperti di stasiun itu. Taman dalam tanda kutip. Tidak pantas untuk disebut taman sebenarnya hehehe…..

•••

Kayoon Surabaya 2011. Sore itu saya sengaja mampir ke pasar bunga di kawasan tengah kota surabaya itu untuk memenuhi pesanan seorang kawan sekolah SMP. Pesanannya adalah anggrek untuk souvenir bagi Bu Prayogo. Beliau adalah guru Bahasa Inggris SMP yang terlewat tidak terundang saat acara reuni SMP beberapa waktu sebelumnya. Anggek itu dititipkan melalui saya karena saya akan mewakili kawan kawan panitia untuk bertandang ke rumah beliau sebagai sedikit penebus rasa bersalah karena keteledoran panitia reuni itu.

anggrek

anggrek alias orchid

Sore itu adalah kedatangan pertama saya ke toko anggrek. Saya blank tentang anggrek. Kedatangan saya murni hanya karena memenuhi amanah titipan kawan. Saya tidak tahu mana angrek yang baik mana yang tidak baik. Mana yang indah mana yang tidak indah.

Dari penjaga toko saya tahu bahwa harga anggrek termurah adalah Rp 25 ribu. Yang mahal banyak yang harganya pada kisaran Rp 100 ribu. Bahkan ada satu dua anggrek langka yang harganya pada kisaran Rp 200 ribu. Setelah bertanya tanya kepada pedagang dan menelpon kawan yang memesan, saya memilih yang berharga Rp 60 ribu. Segeralah saya pulang membawa sebatang anggrek dengan bunga mekar warna merah ungu untuk keesokan harinya saya bawa ke Caruban menuju rumah bu guru.
•••

Saat saya menulis artikel ini, di ruang tamu SNF Consulting, kantor konsultan tempat saya beraktivitas, satu demi satu kuncup anggrek itu mekar. Warnanya putih bersih dengan titik ungu ditengahnya. Saya membelinya dari toko angrek di pasar bunga Kayoon tempat saya membeli anggrek untuk souvenir Bu Prayogo beberapa bulan lalu. Tidak terasa, itu adalah anggrek ke-6 yang saya beli dari toko itu. Saya menemukan keindahan seperti yang saya rasakan dari taman di Stasiun Caruban pada masa kecil dari anggrek. Anggrek seolah menjadi pengobat dahaga akan taman indah di halaman depan rumah di desa saat kecil.

Yang menarik, setiap kali saya datang ke toko di Kayoon itu, selalu ada beberapa orang yang juga membeli anggrek. Setiap lewat di jalan kayoon, saya juga selalu melihat toko itu dikunjungi orang. Kesimpulan sederhananya, toko itu memiliki konsumen yang cukup. Anggrek memiliki pasar tersendiri. Sebuah potensi bisnis tersendiri. Membidik pasar orang kota yang ingin menikmati keindahan alami di rumah atau kantornya dengan cara praktis. Membidik penghobi anggrek yang ingin menikmati keindahan dari kuncup mekarnya. Membidik para penikmat anggrek sebagai sebuah simbul kelembutan. Pasar tersendiri bagi para petani anggrek. Pasar tersendiri juga bagi para pedagang anggrek. Anggrek….Anda tertarik?

Tulisan ini dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya

Didik Calon Entrepreneur Agar Kita Tidak Seperti Maori, Aborigin dan Indian: Pabrik Notaris


Pabrik Notaris

Oleh Iman Supriyono, Konsultan Bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

University Inn Hotel 10 Desember 2011. Di hotel milik Universitas Muhammadiyah Malang ini saya mengikuti acara economic Outlook yang digelar oleh forum dekan fakultas ekonomi dan sekolah tinggi ilmu ekonomi Perguruan Tinggi Muhammadiyah se Indonesia.

Saya tertarik sekali dengan analisis Hendri Saparini, salah satu pembicaranya. Membaca data yang ada, Ekonom Indef menyimpulkan bahwa sepuluh dua puluh Indonesia akan tumbuh sebagai super power ekonomi dunia. Melihat trend statistik, menurut ekonomi berjilbab ini, prediksi ini tidak terbantahkan.

Ekonomi Indonesia akan tumbuh luar biasa. Sayangnya, ada catatan yang sangat menghkhawatirkan. Catatan itu adalah tentang siapa yang berperan besar dalam ekonomi yang tumbuh itu. Menurut analisis Saparini Juga, ternyata yang berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi itu bukanlah anak negeri.

Segera saya membayangkan Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat. Tiga negera ini saat ini secara ekonomi memang sangat maju. Tetapi yang menyedihkan adalah, ekonomi yang maju itu bukan milik orang Maori, Aborigin dan Indian sebagai penduduk asli negeri-negeri itu. Anak negeri ketiga raksasa ekonomi itu tidak punya peran. Bahkan secara populasi pun mereka tinggal berada pada angka belasan persen dari total penduduk nasional.

SNF Consulting: Untuk entrepreneur yang selalu ingin belajar dan membantu orang lain bisa belajar…..Membesarkan Perusahaanya

•••

Ditinggalkan oleh orang terdekat menghadap-Nya berkesan luar biasa. Demikian pula ketika saya ditinggalkan oleh seorang guru. Dinggalkan oleh guru dalam kehidupan. Dialah Pak Abdul Rachim atau yang biasa dipanggil dengan Pak Rohim. Ya, bulan lalu beliau meninggal dunia setelah sebulan menderita sakit serius.

Sedih? Tentu karena selama ini Pak Rohim telah saya rasakan perannya sebagai guru sebenarnya. Tetapi ada yang melegakan juga dari kepergian beliau: Yang menyolatkan banyak sekali. Saya tidak tau persis jumlahnya. Tapi Masjid Aqshol Madinah yang besar dan megah di komplek pesantren Hidayatullah itu hampir penuh. Satu shaff berisi kira kira untuk 50-60 orang. Saat itu kira kira ada 10-an shaff. Jadi ada sekitar 500 orang yang menyolatkannya.

Tidak banyak orang yang jenazahnya disholatkan oleh orang sebanyak ini. Tentu ada sesuatu yang istimewa. Pak Rohim memang saya rasakan
istimewa. Salah satunya dan yang fenomenal adalah konsistensinya untuk selalu mendidik orang lain. Sebagai salah satu gambaran, saat beliau menghadap-Nya, ada 7 orang yang telah sukses dididiknya menajadi notaris. Salah satunya adalah Pak Budi Pahlawan, notaris di Surabaya yang saat ini juga ketua majelis wakaf dan kehartabendaan PWM Jatim, menggantikan amanah mengurusi legalitas asset-asset Muhammadiyah yang sebelumnya dipegang Pak Rohim

Bahkan ada yang sangat fenomenal: Notaris Abdul Kirom. Mengapa fenomenal? Kirom, demikian ia biasa dipanggil adalah salah seorang pembantu rumah tangga Pak Rohim. Kerjanya adalah bersih bersih mobil, taman, kamar mandi dan sejenisnya. Semuanya dilakukan sambil sekolah di Fakultas hukum dan kemudian sekolah notaris yang tentu biayanya tidak murah. Kini ia telah buka kantor sendiri sebagai notaris dan PPAT di Sidoarjo. Pembantu menjadi notaris!

•••

Kekhawatiran Hendri Saparini tidak akan terjadi andai saja para pengusaha mau bekerja keras mendidik orang lain untuk menjadi pengusaha. Tentu tidak mudah. Tetapi bukan berarti tidak mungkin. Walaupun bidangnya agak berbeda, Pak Rohim memberi teladan luar biasa. Walaupun pejabat negara, seorang Notaris mau tidak mau harus punya karakter entrepreneur karena ia bekerja tanpa gaji dari pemerintah. Bahkan ia harus menggaji staf- stafnya. jadi pada dasarnya notaris adalah entrepreneur juga. Saya belum pernah menjumpai notaris yang mampu mendidik 7 orang orang disekitarnya menjadi notaris. Andai saja para pengusaha negeri ini bisa meneladani Pak Rohim dan mendidik orang orang disekitarnya untuk menjadi pengusaha seperti dirinya, dua puluh tahun lagi indonesia yang maju itu tetaplah milik kita. Milik anak negeri.

Aborigin sebagai anak negeri Australia

Kita tidak akan bernasib seperti Maori, Aborigin atau Indian. Kita akan menjadi bangsa yang kuat di tangan anak negeri. Maka…wahai para pengusaha…. didiklah anak negeri. Jadilah gurunya para pengusaha. Agar anak negeri berperan besar bagi kemajuan Indonesia yang tak terelakkkan. Paling tidak….agar menjadi catatan kebaikan saat ajal menjemput. Agar banyak orang yang datang medoakan. Agar banyak orang yang menyolatkan. Seperti Pak Rohim yang “pabrik notaris”. Menjadi pabrik pengusaha. Bisa!

Tulisan ini dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Emas Perak Forex: Investasi atau Spekulasi?


Sobat, ini jawaban saya atas pertanyaan tentang emas perak (atau komoditas apapun)  dan forex dari seorang sahabat FB. Moga bermanfaat.

Man Rodly:
pak bagaimana menurut Anda tentang bisnis speedline?
maksud saya investasi di speedline.inc

Iman Supriyono:
saya ndak tau apa itu speedline.inc. Ada url web nya?

emas perak

Man Rodly:
Itu lo pak yang katanya usahanya dalam bidang jual beli emas/mata uang dollar, euro. Webnya http://speedlineinc-indonesia.com/

Iman Supriyono:
Sudah saya buka. Jual beli emas atau perak atau mata uang itu murni spekulasi. Paling banter sifatnya hedging (menjaga nilai, khusus u emas). Bukan investasi.

Man Rodly:
Sebelumnya saya minta maaf pak,mengganggu. Saya masih belum paham kok murni spekulasi. Tolong dijelaskan. Terima kasih

Iman Supriyono:
Ciri spekulasi: tidak ada pertambahan nilai (value added) dari asset yg kita beli. Berkarakter zero sum game. Misal: ada 1000 orang masing masing punya uang Rp 1 jt dan emas 5 gram. Jadi total seluruh aset mereka adalah uang Rp 1 miliar dan emas 5 000 gram alias 5 kg.  Kemudian mereka saling bertransaksi. Pada akhir transaksi, jumlah uang tetap Rp 1 miliar. Jumlah emas tetap 5 kg. Yang pinter uang dan/atau emasnya jadi bertambah. Yang ndak pinter duit dan/atau emasnya berkurang bahkan habis. Tapi nilai totalnya tetap 1 miliar dan emas 5 kg. Ndak ada pertambahan nilai. Itulah zero sum game. Seperti itulah karakter spekulasi.

Man Rodly:
Oh…ya saya faham. Terus bagaimana kalo kita punya leader yang sudah ahli dalam bidang itu…pasti bertambah kah? kalau jujur.

Iman Supriyono:
Bertambah karena ada orang lain yang berkurang. Totalnya tetap zero. Itulah spekulasi

Man Rodly:
Oh… jadi pasti ada yang dirugikan, gak adil dong…tapi anehnya kok MUI menghalalkannya bisnis seperti itu dengan syarat tidak ada unsur spekulasi padahal sudah jelas2 ada unsur spekulasinya??

Iman Supriyono:
Memang bisa berfungsi hedging. Contoh: emas ndak pernah turun nilainya sepanjang sejarah. Tapi juga ndak naik. Yang naik turun adalah nilai mata uang. Maka kalo orang menyimpan emas nilainya tetap terjaga.Tapi kalo si penyimpan seorang muslim, tiap tahun nilai real emasnya akan turun 2,5% karena harus membayar zakat. Disini terselip pesan implisit Islam: jangan suka menimbun harta tanpa guna. Emas sekalipun. Putarlah harta agar bermanfaat bagi sesama. Jika harta diputar seperti dijadikan tanah pertanian lalu ditanami, maka zakatnya diambil dari hasil panennya. Bukan dari asetnya yang berupa tanah.

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Baca Juga:
Investasi aman ROI 4000%
Entrepreneur, amankan uang investor
RPD sebagai peredam risiko investasi
Investasi aman ROI 445%
ROI-ROE Untuk tumbuh pesat
Agar kita merdeka secara ekonomi

Pelajari investasi aman ROI tinggi di KELAS KORPORATISASI

N250 menabung saham

Triumph: Bra Busana Muslimah?


Islamic economic outlook adalah tajuk sebuah acara akhir tahun itu. Materinya standar: prediksi tahunan masa depan ekonomi syariah di tanah air. Hadirnya direktur utama sebuah bank syariah menjadikan acara yang digelar di sebuah hotel milik jaringan Accor di Surabaya itu semakin mantap dalam konteks perkembangan riil sektor keuangan.

bra triumph: busana muslimah juga kan?

Acara ini juga menjadi sebuah penanda tentang makin bergaungnya ekonomi syariah. Masyarakat begitu antusias menyambutnya. Dimulai dari berdirinya bank Muamalat, kini bank bank swasta besar seperti BCA pun masuk ke bisnis syariah. Bahkan bank asing pun demikian. HSBC sebagai bank terbesar di dunia yang sudah beberapa tahun beroperasi di tanah air pun kini masuk ke bisnis bank syariah.

Demikian pula di sektor asuransi. Dimulai dari hadirnya asuransi Takaful, asuransi syariah berkembangn dengan penuh gairah. Asuransi asing pun mulai berlomba lomba masuk ke bisnis asuransi syariah. Prudential misalanya, sangat getol berekspansi pada segmen syariah melalui Pru Syariah. Beberapa kawan enerjik aktivis dakwah antusias sekali bergabung sebagai team marketingnya asuransi yang berdiri dan berkantor pusat di London pada tahun 1948 ini.

Audiens tampak antusias ketika digambarkan pertumbuhan perbankan dan asuransi syariah. Tapi kemudian seolah terbelalak ketika digambarkan bahwa gegap gempita perkembnagan ekonomi syariah belum tercerminkan secsara riil dalam bentuk kekuatan asset. Trend perbankan syariah yang bahkan sudah diikuti dengan dibukanya jurusan ekonomi syariah di beberapa perguruan tinggi terkemuka belum terwujud sampai skala asset. Baru berada pada tataran opini publik dan akademis dan belum menyentuh skala ekonmi riil. bank syariah hanya berperan skitar 3% dari asset toal perankan nasional. Kecil sekali.

&&&

Dannis. Logo dengan tulisan warna kuning dengan font berkarakter anak anak ini begitu kuat dikenal sebagai merek busana muslim khususnya anak anak. Saya yakin Anda juga mengenalnya. Materi iklannya muncul dimana mana. Khususnya di media media bersegmen muslim apa itu majalah, koran, situs internet, radio dan sebagainya. Seolah menggambarkan betapa busana muslim telah menjadi trend.

Dannis tidak sendirian. Merek merek busana muslim lain pun tumbuh begitu gegap gempita. Munculnya sinetron dan film bernuansa Islami telah turut mendukung gegap gempita ini. Saat lagi booming film ayat ayat cinta yang dibintangi Rianti Cartwright misalnya, jilbab rianti pun ikut menjadi trend. Gambaran tentang gegap gempitnya bisnsi busana muslim. Seperti yang terjadi pada bank dan asuransi syariah.

Ditengah gegap gempita itu, suatu saat saya berkesmpatan mengisi sebuah seminar bersama Bu Cici, bos Dannis. Topiknya tentang entrepreneurship di kalangan muslimah. Di forum yang berkonsep talkshow saya tanyakan kepada audiens yang semuanya perempuan: Bra itu busana muslimah bukan? Para muslirmah membutuhkan bra tidak? Audiens pun tampak terheran heran dengan pertanyaan saya. Ada yang saling pandang. Ada yang ketawa ketiwi. Ada yang bengong.

Nampaknya para muslimah itu tidak siap dengan untuk menjwab pertanyaan saya. Bukan itu saja. Secara umum ummat Islam juga tidak siap mejawab pertanyaan saya. Apalagi merealisasikan bisnis busana muslimah bagian dalam ini. Maka, yang mengambil kesempatan diantaranya adalah Triumpth. Triumph yang sudah mulai eksis di jerman sejak tahun 1886 kini meyani kebutuhan pakaian dalam kaum muslimah (dan wanita non muslimah juga hehehe) di seluruh dunia. Triumph menjadi naungan nafkah lebih dari 36 ribu karyawan. Trimph juga telah melayani kebutuhan pakaian dalam para wanita di lebih dari 120 negara termasuk indonesia. Termasuk muslimahnya.

Maka…mari kita luaskan cakrawala. Ekonmi syariah bukan hanya bank dan asurani. Nanti kita akan kerdil. Hanya 3% kontribusinya! Bisnis garam, kedelai, ayam goreng, pesawat terbang, truk, bus, hotel, angkot, tas kresek, lampu listrik, kabel…itu ekonomi syariah juga. Celana dalam, bra, kaos dalam….itu busana muslim juga. Busana muslim atau muslimah bagian dalam tentu saja. Jangan biarkan Triumph melaju sendiri!

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI

Tulisan ini juga dimuat di majalah Baz edisi Januari 2012, terbit di Surabaya

Dijamin Halal: Khao San Road


Waktu sudah cukup larut saat saya tiba di sebuah hotel di kawasan Khao San Road Bangkok jelang Ramadhan itu. Sejak berada di Bandara Kuala Lumpur sengaja saya tidak makan. Tujuan saya adalah supaya bisa makan malam di Negeri Gajah Putih itu. Saya yakin ada sesuatu yang menarik dan inspiratif tentang kuliner di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Budha itu. Maka, begitu selesai mandi, segeralah saya keluar hotel mencari makanan.

My Lovely Wife @ McD Robinson Denpasar

Kao San Road memang tidak pernah tidur. Walaupun jam sudah menunjukkan tanda pergantian hari, toko dan resto tidak tutup. Justru makin ramai dikunjungi para turis. Wajah wajah bule mendominasinya. Saya amati satu demi satu resto yang ada untuk mencari makanan yang cocok.

Dari ujung ke ujung sudah terlalui. Tetapi saya tidak menemukan satupun makanan yang saya yakini cocok dengan kriteria utama saya: dijamin halal. Maka, akhirnya saya hanya berani menyantap yang saya yakin kehalalannya: telur panggang. Ya, di Khao San Road banyak penjaja telur kaki lima. Bukan telur asin rebus seperti yang biasa saya jumpai di tanah air. Yang dijajakan adalah telur panggang. Telur bulat dipanggang. Saya pun membelinya beberapa butir. Ditambah buah siap santap. Cukup untuk memenuhi kebutuhan energi sampai keesokan harinya saat waktu makan pagi. Saya pun segera kembali ke hotel merebahkan badan yang memang sudah sangat lelah setelah perjalanan Kuala Lumpur Bangkok.

•••

Denpasar pada suatu hari. Selepas sholat magrib bersama istri saya keluar hotel mencari makan malam. Sebagai seorang muslim kriteria yang tidak boleh ditawar adalah kehalalanan. Sadar berada di daerah mayoritas non muslim, saya pun harus hati hati memastikan kehalalan. Kebetulan ada seorang gadis berjilbab melintas. Dari gayanya berjalan yang mantap dan tidak tolah toleh, saya yakin ia familiar dangan kawasan itu. Segeralah saya bertanya kepadanya tentang restoran atau warung makan di kawasan itu yang dijamin halal.

becak bankok

Tuk tuk, kendaraan beroda tiga khas kota Bangkok

“Jalan ini lurus saja. Nanti sekitar 200 meter ada perempatan jalan. Di sebelah kiri perempatan itu ada resto yang dijamin halal”. Sebuah jawaban yang cukup jelas dan membantu.

Saya pun segera melangkah. Tidak butuh waktu terlalu lama saya sudah sampai pada perempatan jalan dimaksud. Saya pun segera menengok ke kiri jalan. Betul sekali. Ada sebuah restoran besar yang memajang tulisan besar besar pula: Dijamin Halal-Majelis Ulama Indonesia. Saya pun yakin dan makan di resto yang saya yakin Anda juga sangat mengenalnya: McDonald’s.

truk air chao phraya

“Truk air” di Chao Phraya, sungai yang melintas di kota Bangkok

•••

Pembaca yang baik, kebutuhan makanan halal tidak bisa ditawar lagi oleh kaum muslimin. Telur panggang di Bangkok menjadi “pelarian” untuk kebutuhan ini. Memang tidak ideal tetapi itulah yang mungkin. Setelah mencari cari di sekitar hotel, keesokan harinya barulah saya menemukan warung makanan arab di dekat sebuah masjid. Menu yang lebih cocok untuk kebutuhan dari pada sekedar telor panggang.

Syirkah korporatisasi1

Sebuah perusaan resto akan tumbuh pesat mampu melayani pasar berbagai bangsa seperti McD jika melakukan syirkah modern yang berbasis ekuitas alias korporatisasi

Kebutuan ini dalam kaca mata bisnis dibaca sebagai sebuah peluang pasar. Pasar yang bahkan bisa menjadi sangat fanatik. Tidak akan berbelanja makanan kecuali yang halal. Inilah yang ditangkap oleh McD di negeri negeri mayoritas muslim atau negeri yang terdapat penduduk muslim dalam prosentase yang dianggap signifikan. Indonesia, Malaysia dan Singapura oleh McD termasuk yang kelompok ini. Maka, jaringan resto siap saji global ini memastikan kehalalannya melalui kerja sama dengan MUI atau otoritas keislaman sejenis. Di Singapura misalnya “stempel halal” McD diperoleh dari MUIS alias Majelis Ugama Islam Singapura. Orang Islam pun tidak perlu ragu untuk menyantapnya. Seperti yang saya alami di Denpasar. McD yang asal usulnya tidak berasal dari kaum muslimin justru menjadi penolong saya di Denpasar. Bahkan menu burger yang menurut resep aslinya menggunakan daging babi sudah dikoreksi dan diganti daging sapi yang halal. Dijamin oleh MUI!  Apakabar resto Anda?

*)Artikel karya Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah Baz, terbit di Surabaya, dengan judul “Dijamin Halal”, ditambah dan diedit kembali

Chairul Tanjung Akuisisi Carrefour: Gembira, Sedih & Perjuangan Ekonomi Yang Makin Berat


chairul tanjung carrefour: gembira dan sedihCT Akuisisi Carrefour: Gembira dan Sedih

Oleh Iman Supriyono, Konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com .Tulisan ini adalah salah satu sub bab dari buku karya ke-8 penulis, “Anda Jago Kandang Atau Kelas Dunia?”

Surabaya, Pertengahan April 2010. Suasana pagi begitu segar di jogging track kampus ITS. Kicauan burung-burung menambah indahnya suasana. Sebuah pagi yang sempurna untuk menemani olah raga rutin kegemaran.

Satu setengah jam sudah berlalu saat kaki kembali menginjak halaman rumah. Dengan cucuran keringat segar, segelas air putih menemani suasana paling nikmat untuk membaca koran. Badan segar. Hati ceria. Otak pun segar untuk menerima informasi dari tiga koran langganan: Kompas, Jawa Pos, dan Bisnis Indonesia.

Mata pun tertuju pada sebuah judul menarik: Chairul Tanjung mengakuisisi Carrefour Indonesia! Kompas, Jawa Pos dan Bisnis Indonesia kompak menjadikannya sebagai berita penting. Ditulis besar-besar.

Berita tentang Carrefour selalu menarik. Ada banyak alasan. Pertama, Carrefour adalah ritel papan atas negeri ini. Bahkan sejak tahun 2008, ia ranking pertama dengan omset Rp 10,68 Triliun. Meninggalkan Matahari yang omsetnya Rp 9,03 trilyun.

Kejayaan ini masih berlanjut hingga 2009. Carrefour mendulang omset Rp 10,6 Trilyun mengungguli Matahari Rp 10,28 Trilyun. Prestasi luar biasa untuk sebuah toko yang namanya saja sulit diucapkan oleh sebagian besar orang Indonesia.

Tampilan 1 Omset Juara Ritel
Sumber: majalah.tempoiteraktif.com

Kedua, Carrefour sudah membuktikan eksistensinya dalam jangka panjang. Orang SNF Consulting harus antusias dengan perusahaan seperti ini. Perusahaan ini sudah berdiri sejak 3 Juni 1957 di dekat sebuah perempatan jalan di Paris. Carrefour adalah bahasa perancis untuk perempatan jalan.

Ketiga, Carrefour adalah perusahaan kelas dunia. Visi SNF Consulting sebagai kantor konsultan yang dipercaya perusahaan-perusahaan kelas dunia memacu saya untuk menyimaknya secara mendalam. Ritel nomor dua di dunia setelah Wallmart ini telah beroperasi di berbagai negara di dunia. Indonesia adalah salah satunya. Lebih dari 50 gerai Carrefour beroperasi di negeri ini sebagai bagian dari 8 023 gerainya di seluruh dunia.

Keempat, Carrefour berbisnis ritel. Ini adalah bidang yang sangat tradisional. Siapa pun bisa memasuki sektor ini. Entry barrier nya rendah. Di gang-gang kecil kampung selalu ditemui toko-toko kelontong yang menjual aneka kebutuhan sehari-hari. Gula, garam, beras, sayur-mayur, sabun, minyak goreng dan sejenisnya. Bidang inilah yang dimasuki raksasa ritel yang secara global beromset lebih dari Rp 900 Trilyun ini dengan sukses. Pendatang asing yang mengalahkan pemain-pemain lokal tentu sangat menarik perhatian.

Maka, berita CT, sapaan Chairul Tanjung, mengakuisisi 40% saham Carrefour Indonesia sangatlah menarik. Apalagi ia menjadi pemegang saham. Peristiwa langka. Pengusaha nasional menguasai raksasa ritel dari Prancis!

Kenapa menarik? Campur aduk! Itulah kecamuk hati dan pikiran saya. Tentang CT, saya termasuk orang yang dilayani dengan baik olehnya. Saya adalah nasabah Bank Mega miliknya. Pelayanannya memuaskan! Tentu saya senang bila bank yang melayani saya bisa tumbuh dan berkembang.

Lalu campur aduknya di mana? Campur aduk bagaimana? Senangnya hati saya bercampur dengan kegalauan yang mendalam. Kegalauan akan makin parahnya fenomena penguasaan pasar lokal oleh pemain-pemain besar luar negeri. Sementara itu kita sama sekali tidak bisa sebaliknya. Kita sama sekali tidak bisa bermain di pasar luar negeri.

Pejuang Pejuang Bisnis

Kegalauan saat membaca berita akuisisi Carrefour oleh CT muncul karena ada suatu harapan yang bisa pupus. Harapan akan kemenangan dalam bersaing melawan pebisnis multinasional yang fokus ke satu bidang. Pebisnis-pebisnis global yang spesialis.

Untuk menghalau keresahan inilah buku ini ditulis. Sebuah harapan besar untuk menjadikan pebisnis nasional menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Tidak kalah bertanding di kandang sendiri.

Bahkan bukan hanya itu, harapan yang lebih besar lagi adalah eksistensi pebisnis nasional di manca negara. Ya….semacam “serangan balasan” terhadap kehadiran produk dan merek manca negara di negeri ini. Paling tidak agar “skor” kita ndak sama sekali nol. Kalau “gawang” kita sudah kebobolan 5, 6, 7 atau bahkan lebih, jangan sampai kita sama sekali tidak “memasukkan bola” ke “gawang lawan”. Syukur-syukur bila di akhir permainan kita mampu lebih banyak “memasukkan bola” ke gawang lawan.

CT masuk sebagai pemegang saham Carrefour. Pada satu sisi, ini adalah sebuah prestasi yang menyenangkan. Tetapi, ada sisi lain yang justru menyedihkan. Dengan ekspansi pada bisnis ritel, makin mengguritalah derajat konglomerasi bisnis yang dikendalikan oleh CT. Televisi, mall, kedai busana, bank, ritel, dan sebagainya. Apapun dikerjakan. Ada apa dengan konglomerat?

Makna asalnya, konglomerat adalah orang yang berbisnis bermacam-macam. Tidak harus kaya raya. Asalkan bisnisnya bermacam-macam bidang, ia sudah disebut konglomerat. Seorang pengusaha kelas kampung yang memiliki warung nasi, warnet, sawah, persewaan tenda, dan peternakan sudah bisa disebut konglomerat.

Sayang, konglomerat sering dipakai sebagai sebutan untuk orang yang kaya-raya. Dengan penggunaan istilah yang salah ini, menjadi konglomerat dipandang sebagai sebuah prestasi bisnis luar biasa. Menjadi orang terpandang. Menjadi tokoh nasional.

Bahkan tidak jarang prestasi sebagai “konglomerat” ini berlanjut dengan karir politik. Para “konglomerat” tampak begitu mudah menggapai karir politik: menjadi ketua partai, menjadi menteri, menjadi wakil presiden, menjadi anggota dewan dan sebagainya.

Akibatnya, banyak orang berlomba-lomba menjadi konglomerat. Bisnis apa saja diambil. Pabrik semen, pabrik mobil, pabrik macam-macam, menanam sawit, televisi, bank, media, properti, ritel, transportasi. Seluruh peluang diambil. Energi dan modalnya habis untuk menangkap seluruh peluang di dalam negeri. Agar menguasai berbagai bidang. Agar mudah mengalihkannya menjadi kekuatan politik.

Maka, minat untuk menjayakan negeri ini melalui produk dan merek global menjadi tidak menarik lagi. Puas dengan prestasi dalam negeri. Puas menjadi jago kandang. Tidak ada upaya ekstra keras untuk berprestasi dalam percaturan bisnis global.

Padahal, kebutuhan akan adanya orang-orang yang setia dan concern pada sebuah bisnis sampai berkelas dunia sudah sangat mendesak. Kalau pada jaman Belanda dan Jepang negeri ini diserang dan dikuasai secara fisik, hingga kini penguasaan itu masih berlanjut. Tentu bukan secara fisik atau militer. Penguasaan dilakukan melalui sektor ekonomi. Bentuknya berupa ketergantungan kita pada aneka produk dan merek luar negeri.

Cobalah datang ke supermarket. Amatilah produk-produk yang dijual di sana. Aneka produk dan merek asing membanjiri. Produk keseharian seperti sabun, shampo, pasta gigi, beras, gula, garam, aneka kue, kedelai, kacang-kacangan. Juga produk teknologi seperti komputer, televisi, perkakas rumah tangga mesin-mesin dan sebagainya. Produk dan merek asing benar-benar mengusai.

Kita tidak boleh tinggal diam. Pada jaman Belanda ada orang-orang seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, Pangeran Diponegoro, dan sebagainya. Kini, ketika penguasaan fisik oleh asing telah berganti menjadi penguasaan ekonomi, kita butuh para pejuang gaya baru. Bukan pejuang bersenjata. Bukan pula pejuang yang mengorbankan darah dan jiwanya. Kita butuh pejuang yang mampu menghasilkan produk. Menghasilkan barang atau jasa yang bisa menjadi pengganti produk dan merek asing. Syukur kalau bisa diekspor.

Kita juga tidak bisa mengusir dominasi asing ini dengan demonstrasi atau pengerahan massa. Yang bisa kita lakukan adalah melawannya dengan barang atau jasa yang lebih unggul. Bila kalah bersaing dan tidak laku, produk dan merek asing otomatis akan angkat kaki.

Siapa yang bisa menjadi pahlawan seperti ini? Siapa lagi kalau bukan para pengusaha. Para entrepreneur. Bukan yang lain. Di pundak para pengusahalah beban perjuangan menjayakan negeri ini diletakkan. Permasalahannya, adakah pengusaha yang tergerak dan kemudian tampil ke depan untuk keperluan ini?

Maka, kemungkinan CT untuk mengambil peran ini makin berat. Derajat konglomerasi bisnisnya makin melebar. Kekuatan, kecerdasan, kapasitas manajerial, dan modalnya tersebar ke berbagai sektor. Padahal, setiap sektor yang dimasuki tentu bersaing head to head dengan perusahaan sejenis dari berbagai penjuru dunia. Jadi, CT melalui berbagai macam perusahaannya memiliki banyak “lawan”. Setiap lawan fokus pada satu bidang saja. Lawan kelas global. Lawan berat!

Pembaca yang baik, saya menyebut CT bukan karena sentimen negatif. (Maaf pak CT, saya baru ketemu Anda sekali tapi sudah berani nyentil macam-macam. Tapi … hingga kini saya nasabah Bank Mega kok! Hehehe) Pembahasan ini murni sebagai salah satu contoh saja. Sulit bagi saya membahas dengan jelas kecuali dengan menyebut contoh. Kenyataannya, di negeri ini banyak sekali memiliki CT-CT lainnya. Anda bagaimana?

Baca selengkapnya pada buku karya ke 8 Iman Supriyono, “Anda Jago Kandang atau Kelas Dunia?”

Hero-Giant: He Loves You So Much


Suatu petang selepas isya pada tahun 2006. Ketika itu sebenarnya saya tidak sengaja membeli buku inspiratif ini. Saya sedang menemani istri berbelanja barang-barang keperluan rumah di sebuah gerai hipermarket Giant tidak jauh dari rumah kami di Surabaya. Saat seluruh kebutuhan telah masuk keranjang dan datang ke kasir untuk membayarnya, di depan mata terpampang setumpuk buku warna hijau cantik. Karena Giant bukan toko buku, maka sebenarnya bisa dibilang buku ini “salah kamar”. Tetapi melihat judulnya, saya langsung tertarik untuk memasukkannya ke keranjang belanjaan.

Mengapa menarik? Tidak lain karena buku ini ditulis oleh Nurhajati Kurnia. Siapa itu? Apa hubungannya dengan Giant? Tidak lain adalah karena Nurhayati bersama suaminya, Mendiang MS Kurnia, telah berjibaku merintis grup Hero-Giant sebagai ritel modern pertama di Indonesia. Begitu sampai di rumah dan membacanya, saya benar-benar terinspirasi dengan buku berjudul “Memoar Pendiri Grup Hero-Perintis Ritel Modern Indonesia” ini sejak halaman-halmaan awal.

Banyak hal diceritakan dalam buku ini mulai rintisan bisnis toko kelontong gerobak kaki lima, jadi toko kelontong kecil, perkenalan dengan Mr Charles Turton si ekspatriat yang menginspirasi pendirian minimarket pertama, jatuh bangun dan aneka kesulitan yang dihadapi masa masa awal dan sebagainya. Yang sangat menarik, dalam setiap bagian tulisan, ada nuansa cinta luar biasa Nurhajati, si penulis, kepada mendiang MS Kurnia, suaminya. Nuansa cinta mendalam itulah yang selalu memberi spirit dan inspirasi dua sejoli ini untuk membangun Hero hingga seperti saat ia menulis buku ini. Memberi kekuatan di saat menghadapi kesulian. Memberi kelembutan di saat menghadapi kerasnya dunia bisnis. Cinta yang mendalam dalam sebuah ikatan keluarga maupun perusahaan. Buku ini seolah juga menjadi prasasti cinta Nurhajati kepada MS Kurnia yang telah terlebih dahulu menghadap-Nya.

••••

“Saudara Iman apa sudah benar benar cinta dengan Saudari Anni?”, tanya Pak Penghulu pada suatu pagi segar. Kalender saat itu menunjukkan angka 8 bulan Nopember tahun1993. Yang ditanya adalah mempelai pria yang tidak lain adalah saya sendiri.

“Belum Pak”, jawab saya apa adanya.

“Lho belum cintak kok mau menikah?”

“Ya Pak, kami menikah bukan karena cinta. Kami menikah tanpa pacaran. Kami menikah karena ingin cinta-Nya”, begitulah kurang lebih dialog sebelum sebuah ikatan suci dinyatakan syah oleh para saksi pagi itu.

Awal Nopember 2011 saya menceritkan peristiwa itu pada seorang sahabat. Saya ceritakan juga bagaimana liku-liku perjalanan membangun cinta selama 18 tahun ini. Dari nol-karena memang kami tidak pernah pacaran-sampai kondisi yang saya sangat bangga seandainya ditanya kembali oleh Pak Penghulu itu saat ini. Perjalanan membangun cinta seiring dengan perjuangan kami membangun bisnis yang juga berawal dari nol. Jalan terjal, naik turun, panas oleh sengatan matahari, dingin oleh hembusan embun malam, semua terlalui dengan indah.

Bersama dalam menggapai cita: Melepas penat bersama di Bromo

Baca lebih lanjut

Kedelai: De-tempe-isasi, De-tahu-isasi


Caruban di suatu malam. Hari itu saya sedang bertandang ke kampung halaman. Sebagai pemudik, menyantap makanan kampung halaman adalah salah satu “ritual” yang “harus” dijalani. Jadah bakar adalah santapan malam itu. Kue berbahan ketan dan kelapa ditumbuk halus lalu dibakar ini menjadi menu spesial. Kue yang di daerah lain juga disebut tetel ini menemani bincang santai dengan ayah ibu di ruang tamu.

jadah tempe sketch

Jadah tempe: kedelainya impor

Jadah hangat dengan bagian-bagian gosong adalah sebuah kenikmatan luar biasa. Aroma arang kayu pun merasuk kuat di sekujur “tubuh” warisan kuliner nenek moyang ini. Jika sudah demikian, keberadaan tempe goreng menjadi “kebutuhan mutlak”. Sebuah pasangan menu murah meriah penuh sensasi kenikmatan. Saya jadi teringat sebuah gending jawa yang mengangkat menu ini sebagai tema: jadah tempe….eee..eee…

♦♦♦

Menurut Wikipedia, kedelai adalah tanaman yang aslinya berasal dari Asia Timur. Tanaman ini kemudian menyebar ke berbagai penjuru. Kini kedelai adalah salah satu komoditas global yang berperan luar biasa dalam kehidupan. Kedelai memenuhi kebutuhan umat manusia untuk makanan maupun non makanan. Total produksi kedelai dunia pada tahun 2006 adalahh 221,5 juta metric ton. Betapa pentingnya komoditas ini bisa dibandingkan dengan produksi beras global yang menurut Wikipedia sebesar 380 ton lebih. Artinya, volume produksi kedelai yang bukan bahan makanan pokok ini ternyata lebih dari separo produksi beras yang merupakan makanan pokok pada banyak bangsa.

panen kedelai amerika serikat

Perlu dicatat, tidak ada satu bangsapun yang menjadikan kedelai sebagai bahan makanan pokok. Kedelai memang bukan sumber karbohidrat sehingga tidak memungkinkan menjadi makanan pokok. Tetapi, kedelai adalah sumber protein yang juga sangat dibutuhkan tubuh manusia selain karbohidrat. Bahkan keberadaan protein dalam menu makanan keseharian menjadi unsur pokok untuk kualitas fisik seseorang. Jangan berharap anak-anak kita menjadi cerdas tanpa konsumsi protein yang cukup dalam makanan kesehariannya.

Begitu pentingnya kedelai, maka bangsa-bangsa pun berlomba memproduksinya. Bersaing teknologi pertanian untuk menanamnya. Dan hingga kini…pemenangnya adalah: Amerika Serikat. Lengkapnya, berikut ini adalah delapan besar negara produsen kedelai dunia setelah USA sebagai juara pertama: Brazil, Argentina, China, India, Paraguay, Canada, dan Bolivia pada urutan terakhir.

Ada yang menarik: dari delapan besar, tujuh di antaranya berada di benua Amerika. Inilah barang kali penyebab adanya keraguan akan catatan sejarah yang nenyatakan bahwa habitat asli kedelai adalah Asia Timur. Seorang kawan doktor Biologi lulusan Jerman menyatakan bahwa habitat Asli kedelai adalah Amerika. Keyakinan ini lebih cocok dengan logika bahwa tanaman apapun akan lebih bagus tumbuh di habitat aslinya. Amerika yang kini menjadi sumber pasokan kedelai dunia diyakini sebagai habitat asli kedelai.

Atau kalau dalam logika saya sebagai orang awam di bidang biologi dan pertanian, Asia Timur maupun Amerika sama-sama beriklim subtropis. Bangsa2 raja kedelai juga memiliki wilayah yang beriklim subtropis. Sesuatu yang sangat masuk akal.

Dalam pikiran para entrepreneur, tidak terlalu penting untuk mencari dari mana asal-usul kedelai yang benar. Yang penting, kita tahu bahwa negeri ini memiliki kebutuhan kedelai yang sangat tinggi. Menurut BPS yang juga dikutip oleh Supadi dari Departemen Pertanian, Sejak tahun 1975 kita adalah bangsa pengimpor kedelai. Bahkan sejak tahun 2001 hingga kini, kebutuhan kedelai nasional lebih banyak dipenuhi oleh petani Amerika daripada petani lokal. Kita mengimpor lebih dari satu juta ton per tahun. Produksi lokal tidak sampai 1 juta ton. Bila harga per kilogram Rp 10 000 saja, dibutuhkan uang lebih dari Rp 10 Trilyun. Dalam kacamata para entrepreneur: ada peluang pasar Rp 10 trilyun pertahun. Luar biasa!

Sayang, para petani kita tidak banyak yang berpikir sebagai entrepreneur.  dan yang sudah bermindset entrepreneur pun belum banyak yang kemudian melakukan korporatisasi pertanian. Aktivitasnya menghasilkan kedelai, membayar tenaga kerja buruh tani, dan kemudian menjual produk pertanian hasil panen tidak dianggap sebagai bisnis. Pertanian lebih dianggap sebagai sebuah tradisi turun-temurun. Melakukan aktivitas pertanian tidak sebagai korporasi.  Jauh sekali dari pemenuhan kebutuhan kedelai.

Logo SNF Consulting dengan tagline korporatisasi efek star

Korporatisasi pertanian. Kita membutuhkannya

Ada lagi yang harus kita renungkan. Dengan membaca data tentang perkedelaian, kita jadi tahu bahwa tempe dan tahu berbahan baku impor. Tanamannya pun bukan berhabitat asli dari negeri ini. Jadi benar-benar impor sejak akar akarnya. Bagaimana menyelesaikan ketergantungan pada kedelai impor? salah satunya adalah dengan menurunkan tingkat konsumsi tempe dan tahu. Mungkin bisa disebut de-tempe-isasi atau de-tahu-isasi. Paling tidak sebelum korporatisasi pertanian kita bisa berjalan dan mendatangkan hasil.  Akal sehat mengatakan memang harus dilakukan, walau tentu saja berat. Jadah tempee…eee…eeee

Baca juga:
Korporatisasi pertanian edamame
Korporatisasi peternakan

Artikel ini ditulis oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting,  pernah dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya dengan judul “Kedelai” dan kemudian menjadi bagian dari buku karya ke 8 penulis “Anda Jago Kandang atau Kelas Dunia?” dengan pengeditan sesuai dengan suasana terkini