Melawan Arus


Suatu malam di Surabaya. Sebagaimana biasa, karena tanki hampir kosong, dalam perjalanan pulang saya mampir ke SPBU. Ada sesuatu yang tidak biasa. Antrian panjang mobil dan motor. Saya coba SPBU yang lain….sama. Antrian luar biasa. Usut punya usut, ternyata malam itu adalah jam jam menjelang kenaikan harga BBM. Maka… masyarkat pun berlomba lomba memadati SPBU untuk mendapatkan bahan bakar dengan harga lama. Harga sebelum naik.

Suasana tidak biasa juga terjadi saat harga BBM akan diturunkan. Para pemilik SPBU berlomba lomba untuk mengosongkan persediaan. Baru akan mengisinya nanti ketika harga telah turun. Harapannya adalah agar tidak menanggung kerugian. Kulakan dengan harga mahal dan kemudian terpaksa harus menjual dengna harga lebih murah sesuai ketentuan pemerintah.

Dua suasana di atas menjadi rumus umum. Selalu begitukah? Belum tentu. Bahkan bisa berbalik. Peter Drucker sebagaimana yang dikutip oleh muridnya Si Cohen punya saran bagus: Apa yang dipikirkan oleh banyak orang belum tentu benar.

Maka…ada seorang pengusaha SPBU di Surabaya yang menerapkan pemikiran maha guru manajemen modern itu. Saat SPBU lain mengosongkan tanki dan menunggu harga turun, ia justru sebaliknya. Selama ini setiap hari SPBUnya bisa menjual sekitar 20 KL BBM. Maka, pada hari menjelang penurunan harga BBM, ia justru memenuhi tanki persediaannya dengan stok 3 kali kebutuhan normal harian. Ia kulakan 60 KL. Berlawanan arus dengan para pemain bisnis SPBU lain.

Apa yang terjadi? Ternyata pemikiran melawan arus ini tepat. Di saat SPBU lain kehabisan BBM karena sengaja mengurangi pembelian stok, SPBU miliknya dipenuhi pelanggan. Tanki berisi 60 KL yang biasanya baru habis dalam waktu tiga hari ludes dalam sehari. Persis pada saat harga bensin turun, stok itu pun habis. Ia meraup laba tiga kali lipat dibanding hari biasa. Laba tiga kali lipat pada saat orang lain labanya turun drastis karena memang sengaja mengurangi stok.

■■■■

Pembaca yang antusias, begitulah dunia bisnis. selalu dipenuhi dengan perubahan perubahan. Selalu dipenuhi dengan gejolak naik dan turun. Harga barang selalu bergejolak. Maka, orang yang pintar dalam bisnis akan selalu bisa memanfaatkan situasi. Saat kenaikan harga ia untung. Saat harga tetap ia juga untung. Bahkan saat terjadi penurunan harga, ia pun untung berlipat.

Yang Anda butuhkan adalah bagaiman berfikir terbalik. Berfikir berbeda dengan apa yang dipikirkan masyarkat umum. Apa yang diyakini oleh masyarakat banyak belum tentu benar. Demikian juga sebaliknya, apa yang ditinggalkan masyarakat banyak belum tentu jelek. Dibutuhkan keahlian untuk bisa membaca situasi. Membaca alur pemikiran para pemain bisnis pada umumnya dalam menanggapi perubahan yang terjadi.

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di situs Indonesia Energy Watch

Dhoby Ghaut-Gubeng: Kereta Yang Seperti Langit dan Sumur


Dhoby Ghaut-Gubeng

Oleh Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting dan penulis 8 buku2 bisnis, http://www.snfconsulting.com

Stasiun Gubeng Pebruari 2009. Tiga lembaran seribuan rupiah saya terima bersama tiket Surabaya-Caruban untuk ibunda tercinta. Sebelumnya saya menyodorkan uang Rp 20 ribu untuk petugas tiket. Segera saya baca jadual keberangkatan kereta di tiket. Pukul 14.35 kereta Sritanjung dijadulkan meninggalkan Stasiun Gubeng menuju Stasiun Caruban.

Stasiun Gubeng 14.35 wib. Waktu telah berlalu. Stritanjung belum datang. Tidak terlihat sedikitpun kekecewaaan pada wajah ibu. Tampaknya ia sudah berdamai dengan Sritanjung. Keterlambatan seolah sudah menjadi menu wajib.

Kereta api adalah kendaraan faforit ibu manakala bepergian. Ibu yang sudah sepuh tidak tahan naik bus. Maka, jika tidak bersama anak-anaknya bermobil, dia selalu memilih kereta api. Jadi, keterlambatan jadual juga menjadi bagian penting dari kisah traveling ibu mengunjungi cucu cucunya yang di luar kota.

Saat berangkat dari Stasiun Caruban dua hari sebelumnya, ibu juga harus menunggu Sritanjung lima jam. Terjadual jam 11.30 tetapi baru berangkat jam 16.30. Walaupun kecewa harus menunggu 5 jam untuk perjalanan 3 jam, ibu tetap setia. Tidak ada alternatif lain dalam kamus traveling-nya.

•••••

Dhoby Ghaut Interchange Juli 2008. “Nex Train 2 Mins NE 17 Punggol” tertulis di layar besar di ruang tunggu stasiun. Persis dua menit kemudian, pintu kereta pun terbuka. Seluruh penumpang masuk menuju stasiun tujuan masing masing. Stasiun Punggol yang berkode NE 17 adalah stasiun terakhir pemberhentian kereta. Saya harus berhenti di NE 14 alias stasiun Hougang. Tiga stasiun sebelum Punggol, pemberhentian terakhir KRL ke arah timur laut negeri singa ini.

Pintu kereta menutup. Kereta segera berangkat. Perlahan kereta melaju. Dimanapun para penumpang duduk atau berdiri di kereta, ia akan dengan mudah bisa menyaksikan layar bertuliskan “Next station, NE 7 Little India”. Pada saat yang sama, tulisan itu dibacakan oleh suara otomatis dari sound system kereta. Penumpang tuna netra atau mungkin tidak bisa membaca karena suatu hal, bisa mendapatkan informasi akurat dari suara ini. Para penumpang yang memang akan turun di Little India bisa bersiap mendekat pintu. Begitu kereta berhenti dan pintunya terbuka, penumpangpun turun dengan tertib disusul dengan naikkan penumpang dari stasiun NE 7. Little India. Tidak perlu bertanya. Tidak perlu ragu.

Demikainlah rutinintas berulang dari stasiun ke stasiun. NE 8 Farrer Park, NE 9 Boon Keng, NE 10 Potong Pasir, NE Woodleigh, NE 12 Serangoon, NE 13 Kovan. Segalanya berjalan dengan tertib, aman dan lancar. Tepat waktu.

Next station NE 14 Hougang. Begitu tulisan itu terpampang di layar monitor, saya pun berdiri meninggalkan bangku. Mendekat menuju pintu kereta. Dengan tertib penumpang yang turun di Hougang meninggalkan kereta. Para penumpang yang akan naik menunggu sampai seluruh tidak ada lagi penumpang yang turun. Tertib, aman, lancar, tepat waktu.

•••••

Dhoby Ghaut-Gubeng ibarat langit dan sumur. Tidak cukup dengan langit bumi. Perbedaan yang sangat jauh. Disiplin versus molor. Maka jangan heran kalau kecelakaan kereta api terjadi dan terjadi lagi di negeri ini. Tabrakan tentu tidak bisa dihindari manakala dua kereta berjalan di atas rel yang sama dengan kecepatan berbeda. Apalagi bila arahnya berlawanan. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi kecuali akibat ketidakdisiplinan terhadap jadual perjalanan yang telah disusun rapi. Tidak mungkin jadual dibuat untuk tabrakan.

Maka, bisa dimaklumi bila kemudian masyarakat lebih suka naik motor atau kendaraan pribadi. Jalanan pun penuh. Kemacetan ada dimana mana. Orang energi membacanya dengan satu kata: pemborosan.

Bagaimana tidak boros kalau mobil yang mestinya bisa berisi empat penumpang atau lebih hanya dinaiki satu orang. Bagaimana tidak boros bila ratusan orang mestinya bisa diangkut dengan sebuah rangkaian gerbong kereta api harus naik motor sendiri sendiri. Boros bensin boros jalan. Maka….kemacetan pun makin menjadi jadi. Makin boros dan makin boros.

Maka…mari berbenah diri. Tidak usah menyalahkan orang lain. Mulai dari diri sendiri, mulai sekarang juga, mulai dari yang terkecil. Disiplin itu kata kuncinya. Kalau Anda janji ketemu jam 9 pagi misalnya, pastikan bahwa sepuluh menit sebelumnya Anda sudah datang. Bila ini sudah menjadi budaya masyarakat, suasana Gubeng, Gambir, atau stasiun-stasiun lain akan seperti Dhoby Ghaut dan Punggol. Allohu akbar!

tulisan ini pernah dimuat di situs Indonesia Energy Watch

Kado Terawet: Hitachi & Persahabatan Tulus


Jepang lanjutkan proyek di RI. Itulah headline harian Bisnis Indonesia tiga hari setelah bencana gempa bumi yang disusul dengan tsunami dan meledaknya reaktor nuklir di Jepang. Harian ini memberikan informasi cukup detail tentang proyek proyek jepang di negeri ini. Ada pembangunan akses jalan tol Tanjung Priok senilai Rp 722,2 Milyar. Ada pembangunan Mass Rapid Transport (MRT, kereta api bawah tanah) sepanjang 15,5 kilometer senilai Rp 12,7 Triliun. Ada proyek double track kereta api dari Manggarai ke Cikarang sepanjang 32 km senilai Rp 6 Triliun. Bencana besar tidak mempengaruhi proyek proyek jepang di negeri ini. Cermin sebuah kekuatan dan ketangguhan negeri matahari terbit ini.



Untuk kelancaran aktivitas seluruh anggota keluarga, jam dinding adalah kebutuhan dasar dalam sebuah keluarga. Sholat, bangun tidur, ke sekolah, bekerja, semuanya membutuhkan penunjuk waktu. Karenanya, salam sebuah rumah sering kali tidak cukup terpasang satu jam dinding. Penanda waktu ini paling tidak harus ada di ruang keluarga, kamar-kamar tidur tiap anggota keluarga, ruang tamu, bahkan dapur. Inilah kebutuhan pokok rumah tangga di jaman modern ini, termasuk rumah saya.

Untuk keperluan jam dinding rumah, seingat saya, sepanjang 18 tahun usia keluarga, saya atau istri belum pernah membelinya. Saat menikah, ada beberapa jam dinding kado dari kawan dan handai taulan. Jam itu kemudian dipasang di ruang ruang yang ada di rumah untuk menemani aktivitas keseharian. Perawatan rutin berupa penggantian batre terus menerus dilakukan.
kids friendship

Seiring perjalanan waktu, satu demi satu jam jam itu rusak. Tapi saya pun tetap tidak perlu membeli yang baru. Setelah itu ada saja jam dinding gratisan souvenir berbagai perusahaan. Cukup untuk mengganti jam-jam yang telah rusak. Bahkan kadang belum ada yang rusak, sudah mendapatkan yang baru lagi dan akhirnya saya berikan kepada orang lain.

Dari silih bergantinya jam dinding selama ini, ada satu yang menarik. Bila jam dinding pada umumnya sudah “datang dan pergi”, jam ini tidak pernah beranjak dari dinding rumah. Bukan karena sengaja diabadikan atau apa. Perawatan yang dilakukan selama ini sama dengan jam jam lain: mengganti batre. Yang jelas, hingga saya mengerjakan tulisan ini, jam warna hitam itu masih bisa menjadi penunjuk waktu yang tepat.

Kado terawet untuk persahabatan yang awet

Apa istimewanya? Saya juga tidak tahu persis. Yang jelas, jam dengan ornamen garis garis vertikal ini adalah kado nikah dari seorang sahabat yang juga kawan sekolah SMP di kampung halaman. Bila berpikir sedikit agak melow, awetnya jam Hitachi ini bisa menjadi penanda awetnya persahabatan hingga saat ini. Dan tentu saja saya berharap agar persahabatan itu tidak akan terputus ketika suatu saat jam ini nanti rusak.

Hitachi? Jepang dong? Ya, jam terawet ini adalah karya sebuah perusahaan besutan Namihei Odaira yang sejak tahun 1910 sudah memproduksi motor induksi. Hingga kini, Hitachi adalah sebuah perusahaan penghasil berbagai produk teknologi berkelas global dengan pendapatan ¥8,9 Triliun alias sekitar Rp 900 Triliun. Angka ini setara hampir satu setengah kali pendapatan pajak pemerintah RI. Angka ini di kalangan perusahaan teknologi global hanya kalah dengan Samsung Electronic dan Hewlett Packard. Angka 101 tahun tentu merupakan bukti ketangguhan perusahaan yang sahamnya tercatat di Tokyo dan New York Stock Exchange ini.



Bencana gempa bumi, tsunami dan ledakan nuklir telah kembali menunjukkan kualitas bangsa Jepang. Menunjukkan ketangguhan bangsa investor terbesar di negeri ini. Sebagaimana yang ditulis oleh Bisnis Indonesia, bencana dahsyat pun tidak mengetahui rencana investasinya pada fasilitas-fasilitas penting di negeri ini. Hitachi adalah salah satu pilar dari segudang pilar ketangguhan itu. Saya merasakannya melalui jam dinding Hitachi. Merasakannya melalui kado terawet. Anda mau seperti Hitachi?

Tulisan karya Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya, dengan judul “Kado Terawet”. Terima kasih kepada seorang sahabat pemberi kado ini yang tidak mau namanya diwebkan

Sekolah Internasional Vs. Bertaraf Internasional


Akhir Mei lalu saya kedatangan tamu. Dua orang kawan profesional dari negeri jiran. Satu seorang akademisi yang mengajar di Fakulti Pendidikan Universiti Malaya, UI-nya Malaysia. Satu lagi adalah praktisi pendidikan yang memimpin sebuah lembaga penyelenggara beberapa sekolah. Salah satu keperluannya datang kemari adalah untuk saling berbagi pengalaman tentang penyelanggaraan pendidikan dasar dan menengah.

Segeralah terpikir tentang majelis pendidikan dasar dan menengah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Otoritas persyarikatan (Muhammadiyah) yang menaungi lebih dari dari 900 sekolah di jawa timur. Gayung pun bersambut. Majelis dikdasmen PWM pun secara kilat mengundang beberapa kepala sekolah untuk datang pada pertemuan persahabatan pendidikan yang hangat.

Pembicaraan sangat antusias. Kedua pihak dengan serius saling mendengarkan pengalaman masing masing. Bahkan setelah acara selesai kedua pihakpun masih semobil bersama untuk meninjau beberapa sekolah unggulan naungan majelis Dikdasmen.

Setelah kedua kawan kembali ke negerinya pikiran saya pun berkecamuk. Bagaimana menindaklanjuti antusiasme pertemuan? Jangan hanya sekedar hangat-hangat tahi ayam! Maka, muncullah ide sederhana: Sekolah Internasional.

Pemerintah punya proyek sekolah bertaraf internasional. Karena bukan orang yang sehari hari bergulat dengan pendidikan dasar dan menengah, tentu saya tidak begitu faham tentang sekolah bertaraf internasional. Namun demikian, secara logika sederhana, sekolah bertaraf internasional tentulah bukan sekolah intrnasional. Nah, di sini kawan-kawan majelis Dikdasmen dan para praktisi pengelola sekolah-sekolah dibawahnya punya sebuah peluang untuk melompat. Sekolah internasional. Benar-benar sekolah internasional. Bukan lagi sekolah bertaraf internasional. Bukan sekedar “bertaraf”.
Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah peta-dunia.jpg

Bagaimana caranya? Secara ide dasar sangat sederhana. Saya sudah menjajagi dari kawan pengelola sekolah di negeri jiran tadi. Mereka sangat terbuka untuk menerima siswa dari sekolah di negeri kita dengan pola sandwich program. Sebagai misal, siswa SMP kelas satu dan dua belajar di sekolah nanguan Dikdasmen. Saat kelas tiga, belajar dilanjutkan di sekolah di Malaysia. Saat ujian, mereka menempuh ujian di Malaysia dan Indonesia. Saat lulus SMP, mereka benar-benar siswa kelas internasional. Merasakan dua tahun belajar di Indonesia dan setahun belajar di Malaysia. Tentu saja dengan wawasasan keragaman budaya dan pendidikan antar bangsa.
Sebaliknya, pelajar dari Malaysia pun bisa mengikuti program serupa. Ada masa satu tahun mereka mengikuti proses pembelajar di sekolah kelolaan majelis dikdasmen di sini. Manfaat tambahannya, murid dari sekolah sini yang tidak berkesempatan untuk belajar di negeri jiran pun turut merasakan pergaulan dengan siswa internasional yang belajar di sekolahnya. Turut kecipratan.

Bila kerjasama ini diperluas dengan sekolah-sekolah islam di Singapura, Phillipina, Thailand, Australi, Brunei, Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Amerika, jadilah sebuah sekolah internasional yang sebenarnya. Sebuah sekolah yang benar-benar berisi siswa-siswa dengan pergaulan dan wawasan pendidikan antar bangsa.

Dalam bahasa marketing, sekolah internasional tentu jauh lebih menarik dari pada sekolah bertaraf internasional. Saya yakin, walaupun tidak semuanya, akan ada banyak orang tua yang rela membayar biaya transport, biaya hidup, dan biaya pendidikan putra putrinya selama setahun bersekolah di Luar negeri. Biaya pun akan sangat terjangkau mengingat tiket pesawat yang sangat murah. Surabaya-Kuala Lumpurpun bisa tidak sampai Rp 200 ribu. Biaya hiduppun bisa sangat murah bila mengadopsi konsep homestay. Siswa kita tinggal di rumah salah seorang siswa sekolah mitra di luar negeri. Sekolah internasioal yang murah dan jauh lebih menarik secara marketing dari pada sekolah bertaraf internasional. Inilah strategi bisnis. Anda tertarik merealisasikannya?

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi.  Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Baca Juga:
Belajar ke Luar Negeri Meneladani Nabi
Endowment Fund Insitusi Pendidikan
Kampus Sekolah Pesantren Jangan Berbisnis
Membaca Ilmuwan Praktisi
Sekolah Gelar Akademik dan Pendidikan Doktor Yang Sia-Sia
Sahabat di Sekolah Sahabat di Surga

CN 235: Bukan ATR 72 atau MA 60


CN 235

Oleh Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Tulisan ini saya buat di kamar hotel Graha Prima Pacitan menjelang subuh. Semula saya berencana untuk melakukannya kemarin petang sebelum tidur. Tetapi ternyata saya tidak mampu melakukannya. Badan sudah sangat letih setiba perjalanan panjang 8 jam dari Surabaya. Begitu masuk di kamar saya merebahkan badan di ranjang. Maksud hati ingin sekedar melepas lelah sejenak. Baju kantor berlogo SNF Consulting yagn saya kenakan dari surabaya sejak pagi pun masih melekat di badan. Malah ternyata tertidur hingga jam setengah tiga pagi. Ya sudah, begitu bangun, mandi dan sholat secukupnya saya segera menyalakan laptop dan sepuluh jemari pun menari nari dalam kesegaran badan dan pikiran menjelang subuh.

Sebegitu jauhkah Surabaya ke Pacitan sehingga perjalanannya begitu panjang dan melelahkan? Sebenarnya tidak jauh-jauh amat. Perkiraan saya hanya sekitar 250 kilometer. Andai saja mobil bisa dipacu dengan kecepatan rata rata 100 kilometer per jam mestinya saya hanya perlu duduk di bangku mobil selama 2,5 jam. Atau menjadi 3 jam total kalau ditambah dengan istirahat sholat dan makan di jalan. Mengapa kok 8 jam amat? Itulah indonesia. Jalan jalan di negeri ini memang jauh sekali dari ideal. Beda sekali misalnya dengna perjalanan darat Singapura Kuala Lumpur sejauh sekitar 400 kilometer yang cukup ditempuh dengan bus umum selama sekitar 4 jam melalu jalan tol mulus dan lebar.

Terus gimana solusinya? Ya mestinya dibangun jalan tol. Tapi kalau melihat kinerja negeri ini dalam mengelola fasilitas publik, kayaknya kita masih harus menunggu lama untuk mencapainya. Bahkan jalan tol yang sudah kita miliki pun jauh dari kualitas ideal. Disana sini jalan bergelombang atau berlobang. Lalu lintasnya pun terlalu padat. Berat untuk mencapai keceatan rata rata 100 kilometer perjam.

cn235_mpa07

Dalam kondisi seperti ini saya jadi teringat suatu saat saya menempuh perjalanan dari Denpasar ke Mataram. Kedua kota ini juga jaraknya kurang lebih sama dengan Surabaya Pacitan. Saat itu saya duduk di kabin pesawat Foker 50 berpenggerak dua baling baling masing masing di sayap kiri dan kanan pesawat. Berbeda dengan pesawat jet, pesawat baling baling tidak terbang terlalu tinggi. Saat terbang jelajah (terbang dengan ketinggian tetap, tidak menambah ketinggian maupun mengurangi ketinggian), saya masih bisa melihat dengan jelas pemandangan di bawah sana. Keindahan pulau bali dan nusa tenggara masih bisa dinikmati dengan jelas. Pesawat terbang jelajah pada ketinggian sekitar 4 kilometer di atas permukaan laut. Tidak sampai separuh ketinggian pesawat jet yang sekitar 10 km dari permukaan laut.

Terbang rendahnya pesawat Foker yang saya naiki justru menjadi kelebihannya. Bukan semata kelebihan karena saya bisa menikmati pemandangan dibawah sana. Yang lebih penting dari itu adalah efisiensinya. Dengan pesawat jet yang dituntut berketinggian jelajah sekitar 10 kilometer, jarak Denpasar Mataram hanya cukup untuk lepas landas, naik pada ketinggian jelajah, dan beberapa menit kemudian harus segera turun lagi untuk mendarat. Jelas sekali bahan bakar tersedot dalam volume besar untuk naik dan turun. Tidak untuk terbang jelajah. Pemborosan. Disinilah peran pesawat berpenggerak baling baling seperti Foker 50 yang saya naiki ketika itu, ATR 72 buatan Prancis yang saat ini dioperasikan oleh Wings Air, atau MA 60 yang saat ini dioperasikan oleh Merpati.

Menyebut 3 jenis pesawat bermesin turboprop alias baling baling ini, saya jadi teringat dengan CN 235 buatan IPTN ketika bekerja sama dengan CASA Spanyol. Kinerja pesawat ini ternyata luar biasa. Hingga saat ini, CN 235 telah diproduksi sebanyak lebih dari 230 unit. Bandingkan dengan Foker 50 yang 213 unit dan tidak mungkin bertambah lagi karena pabriknya sudah bankrut. Bandingkan pula dengan MA 60 Merpati yang buatan RRC yang baru diproduksi 41 unit dimana 15 diantaranya diopersian oleh Merpati dan sudah jatuh kecelakaan di Papua satu unit beberapa waktu lalu. CN 235 jelas lebih unggul. Bahkan hingga kini Turki masih mengopersikan 61 unit CN 235 untuk berbagai keperluan. USA, Perancis, dan puluhan negara hingga kini masih mengopersikan CN 235 baik untuk keperluan angkut militer maupun sipil. Sayang bangsa ini tidak percaya dengan produknya sendiri yang bahkan Amerika dan Perancis pun mempercayainya. Turki apalagi.

Maka, tepat menjelang adzan subuh di Pacitan ini saya membayangkan. Andai saja bangsa ini percaya kepada CN 235, perjalanan Surabaya Pacitan cukup ditempuh dalam waktu tidak sampai setengah jam. Hanya perlu membangun bandar udara kecil di Pacitan. CN235 tidak perlu landas pacu sepanjang lebih dari 3 kilometer seperti juanda. Sepertiganya saja sudah cukup. Inilah kelebihan lain pesawat buatan Pak Habibie ini. Cocok untuk terbang antar berbagai kota di negeri ini yang jaraknya seperti Surabaya Pacitan atau Denpasar Mataram. Semoga…..

tulisan ini dimuat di Majalah BAZ, terbit di Surabaya

Bisnis Resto: Sekoteng from Scott Road


Sekoteng from Scott Road

Oleh: Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Keperluan saya bersama seorang sahabat sebenarnya adalah naik MRT di Stasiun NS 22 Orchard. Tetapi, karena kawan ini lapar, berdua akhirnya mencari cari warung makan. Selayang pandang sana sini di sekitar pintu masuk stasiun, perhatian tertuju pada sebuah warung menarik. Pondok Jawa Timur. Sebuah warung makan yang menyediakan aneka menu jawa timur akhirnya terpilih untuk bersantap malam.

Ritual berikutnya standar: membaca daftar menu. Kawan perjalanan memilih nasi campur. Karena perut kenyang, saya hanya memperhatikan daftar minuman. Akhirnya pilihan jatuh pada sebuah menu yang menarik. Sekoteng.

Sekoteng menarik karena dua hal. pertama karena suasana malam dan badan capek tentu sangat menyegarkan kalau tenggorokan ini diseka dengan minuman panas. Kedua adalah karena nama minuman itu mirip mirip dengan nama jalan tempat restoran berada. Scott road. Pas. Sekoteng alias Scotteng@scott road. Mak sruput!

•••••

“Assalamu’alaikum pak Iman. Saya ingin mencoba usaha bisnis restoran dari uang warisan orang tua. Bagaimana menurut Bapak tentang prospek dari bisnis ini ?”. pertanyaan seorang pembaca ini bisa jadi juga menjadi pertanyaana Anda. pertanyaan tentang sebuah bisnis yang usianya kurang lebih seusia umat manusia juga. Bisnis makanan.

Bisnis seperti ini memiliki beberapa karanter menonjol. Diantaranya: persaingan yang ketat, pendatang baru muncul dan muncul lagi, tidak ada hambatan (entry barrier) yang besar bagi orang yang akan memasuki bisnis seperti ini, tingkat permintaan yang relatif stabil, tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi ekonomi masyarakat, tidak terpengaruh oleh perkembangan tekonologi apapun, tidak lekang oleh waktu. Relatif stabil.

Berbeda kontras dengan bisnis baru seperti handphone atau sejenisnya yang memiliki karakter karakter kebalikannya yang juga menonjol. Di antaranya: tidak ada pesaing bagi perusahaan yang menjadi pionir tekonologi, hambatan masuk relatif besar karena menyangkut inovasi teknologi, sebentar muncul dan sebentar tergantikan oleh tekonologi lain yang lebih baru.

Karena karakter bisnis yang sudah mapan, bisnis warung makanan atau restoran juga punya pola, strategi, dan tata cara yang sudah pakem dan mapan. Promosinya, marketingnya, operasionalnya, pengelolaan keuangannya, strateginya, dan semua tetek bengeknya juga cenderung memiliki karakter yang sudah baku.

Dengan demikian, apakah bisnis restoran atau warung makan bisa dengan mudah mengantarkan Anda untuk sukses? Nah…memang segalanya sudah baku. Namun demikian, bukan berarti begitu mudahnya untuk Anda lakukan dan kemudian sukses. Seandainya kondisinya seperti ini, akan ada banyak sekali orang kaya di sekitar kita. Bukankah banyak sekali orang disekitar Anda yang menjalani bisnis sepeerti ini? kalau memang mudah, kan mereka akan segera sukses dan kaya raya?

Kenyataannya, banyak sekali orang yang memulai bisnis warung makanan puluhan tahun yang lalu dan hingga kini juga tidak kunjung ada perkembangan. Ada banyak penjual bakso gerobak dorong yang memulai bisnisnya puluhan tahun lalu dan kemudian kini harus mengakhiri bisnisnya karena usiah lanjut dalan kondisi tetap dengan satu gerobak dorongnya. Bahkan banyak pula diantaranya yang tidak kuat bertahan. Tutup karena tidak mampu menghasilkan omset yang mampu memenuhi kebutuhan finansial opersionalnya.

Lalu apakah dengan demikian bisnis restoran begitu sulit? Tidak juga. Bisnis restoran mudah sekali bagi yang sudah bisa. Sebaliknya, bisnis restoran sangat sulit bagi yang belum bisa. Ini persis dengan keahlian mengemudikan pesawat raksasa Airbus 380 yang mampu mengangkut 500 lebih penumpang. Nyatanya ada pilot yang sanggup melakukannya degnan sangat sempurna. Berkali kali melakukan penerbangan dan pendaratan tanpa cacat sedikitpun. Sangat mudah baginya.

Tetapi apakah keahlian seperti itu dapat diperoleh dengan mudah? Tentu tidak. Diperlukan sebuah prosese pembelajaran. Dimulai dari sama sekali tidak bisa menerbangkan pesawat. Belajar teori dengan seksama. Setelah itu belajar menerbangkan pesawat latih kecil bermesin satu didampingi seorang instruktur terampil. Terus menerus meningkatkan jam terbang. Belajar menerbangkan pesawat yang lebih besar tahap demi tahap. Beberapa tahun kemudian barulah sang pilot mahir dan diberi kepercayaan menerbangkan pesawat terbesar di dinia dan bertanggung jawab terhadap keselamatan lebh dari 500 nyawa.

Demikian juga berbisnis restoran. Diperlukan proses pembelajaran. Dimulai dari memahami pengetahuan dasar tentang bisnis restoran. Mirip dengan belajar teori tentang bagaimana menerbangkan pesawat. Walaupun tentu saja tidak harus selalu berarti belajar teori secara formal di sebuah kelas atau sekolah. Setelah itu dicoba untuk melakukannya. Menguasai keahlian sedikit demi sedikit. Suatu saat keahlian menjalankan restoran besar akan benar-benar dikuasai. Mampu membangun, mempertahankan dan mengembangkan sebuah restoran yang besar dengan cabang puluhan, rasusan, bahkan ribuan di seluruh dunia.

Kalau begitu lama dong? Tidak juga. Tergantung daya belajar Anda. Tergantung semangat belajar. Yang sungguh sungguh dengan mencurahkan seluruh waktu dan perhatian bahkan uang akan jauh lebih cepat dari pada yang sambil lalu atau setengah setengah.

Fungsi modal? Uang tanpa keahlian yang cukup akan dengan mudah melayang. Membuka restoran dan ternyata sepi tentu akan segera tutup. Atau bila modal masih cukup, bisa juga resotran yang ada diubah konsepnya. Misalkan saja semula restoran jawa diubah menjadi restoran padang, mandarin, arab atau yang lainnya. Intinya, dibutuhkan modal baru untuk membuat konsep baru. Itupun tidak jaminan bahwa konsep baru ini langsung diterima masyarakat. Bisa saja ternyata juga sepi dan dibutuhkan modal baru lagi untuk membuat konsep yang baru lagi.

Lho…bagaimana kalau tidak punya uang tetapi pingin belajar? Ada cara yang gampang. Ikut saja bekerja pada restoran yang sudah ada dan terbukti laris. Pelajarilah dengan seksama dari hari ke hari. Dari tahun ke tahun sambil menerima gaji sebagai karyawan. Suatu saat keahlian akan benar-benar di tangan.

Apa tandanya keahlian sudah ditangan? Anda sudah dipercaya untuk memimpin sebuah restoran tempat Anda bekerja. Dan Anda harus bisa membuktikan bahwa dengan Anda pegang, restoran itu tambah maju atau minimum tidak makin sepi. Anda juga sudah dipercaya untuk membangun cabang baru dari restoran tempat Anda bekerja. Juga terbukti berhasil. Bukan hanya sekali berhasil. Tetapi berkali kali berhasil.

Lama dong? Relatif. Kalau pingin lebih cepat dan memang Anda punya modal, bisa juga mengambil cara kombinasi. Sebagian belajar pada orang lain dan sebagian langsung praktek. Belajar pada orang lain tidak sampai benar-benar mahir. Paling tidak sudah mengerti dasar dasarnya. Setelah itu langsung praktek membuat resotoran sendiri kecil kecilan. Tidak terlalu besar sedemikian hingga kalau restoran ini ternyata sepi Anda masih memiliki kesempatan untuk beberapa kali memperbaikinya. Merenovasinya sampai akhirnya restoran Anda laris.

Suatu saat, bahkan Anda harus membuka cabang di luar negeri. Termasuk di Scott Road dekat stasiun MRT Orchard Road. Agar suatu saat saya dan para pembaca lain yang sedang berkunjung ke negeri singa bisa menikmati masakan Anda. Bisa mengobati rasa rindu kampung halaman. Minimal melalui menu restoran Anda. Lengkap dengan sekoteng from Scott Road. Bagaimana?

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Muzaki, terbit di Surabaya

Papeda Pencit: Tentang Utang


Jayapura akhir 2006. Di kota yang dihiasi Danau Sentani acara utama saya sebenarnya adalah memberi seminar di Telkom. Tapi dalam hati, ini justru acara biasa. Acara rutin. Yaa..memang ini adalah salah satu rutinitas pekerjaan saya sebagai konsultan. Maka saya harus mencari acara istimewa.

Kata orang, bepergian ke luar kota terasa belum lengkap kalau belum menyantap makanan khasnya. Saya setuju dengan ungkapan ini. Itu pula semangat saya ketika saya berkunjung ke ibu kota propinsi kaya emas ini. Wisata kuliner. Apa yang istimewa? Disana ada papeda, bubur sagu, makanan khas daerah itu.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah papeda.jpg

Setelah seharian menyelesaikan urusan pekerjaan, habis magrib tibalah giliran acara “inti”: menikmati papeda. Makanan yang tidak pernah saya nikmati sebelumnya. Kenikmatan luar biasa. Saya tidak tahu apakah saya sedang menikmati papeda terlezat di Papua atau bukan, tetapi, yang jelas saya sedang menikmati makanan ini untuk kali pertama. Yaa…mungkin seperti temanten baru lah….

@@@

Papeda menginspirasi saya untuk menjawab pertanyaan dari Bu Fatika di Ponorogo. “Assalamualaikum. Trimakasih pd mjlh muzaki yg memberilan rubrik konsltasi keuangan. Saat ini saya mengalami kebingungn dalam hal mengatur keuangan bisnis saya. Saya pernah meminjam uang dari bank, setengah untuk modal bisnis dan setengah lagi untuk investasi. Saya lakukan seperti itu untuk jaga-jaga jika terjadi kemacetan dalam bisnis saya. Pinjaman tersebut sudah selesai. Kini, saya masih punya hutang kepada sales. Saya ingin pinjam uang lagi sebesar 150 juta di bank dengan rekening koran untuk membangun toko dan rumah. Untuk pengembangan bisnis, saya jual lagi investasi saya sebelumnya. Sedangkan untuk membayar pinjaman ke bank dari hasil bisnis sekarang. Apakah langkah-langkah tersebut salah? Jika salah, bagaimana cara yang benar untuk menjalankan usaha dan rencana yang baik agar terhindar dari lilitan hutang dan budak uang.sebelumnya terimakasih banyak atas jawabannya. Fatika, Ponorogo”

Pembaca yang budiman, meminjam uang bagi para pengusaha adalah sebuah kewajiban. Fardlu ‘ain. Mengapa demikian? Logikanya sederhana. Kita sebagai masyarakat, ummat, dan negeri tentu tidak suka berada dalam keterpurukan ekonomi terus menerus. Islampun menuntut ummat ini untuk memiliki kekuatan. Kekuatan ekonomi masyarakat muncul dari bisnis, dari perusahaan-perusahaan. Kekuatan ekonomi negeri adalah gabungan dari kekuatan ekonomi seluruh perusahaan-perusahaan besar dan kecil. Pemerintah memperooleh pendapatan dari memungut pajak perusaan-perusahaan dan dari para pelaku ekonomi pada umumnya.

Bagaimana mengembangkan perusahaan? Tentu dengan menambah modal kerja dan alat-alat yang dibutuhkan. Dari mana uangnya? Ada dua: dari laba dan dari utang. Hanya mengandalkan laba untuk mengembangan bisnis akan menyebabkan kecepatan bisnis berkurang. Kurang cepat. Mengandalkan utang tanpa adanya laba juga tidak mungkin. Tidak akan ada orang mau memberi pinjaman kepada sebuah perusahaan kecuali ada jaminan bahwa perusahaan akan menghasilkan laba yang bisa dipakai untuk membayar utang-utangnya.

Misalnya saja Anda adalah tukang bakso dorong yang menjual bakso dengan sebuah gerobak. Bila satu gerobak lengkap dengan peraslatan berharga Rp 4 juta dan tiap bulan Anda mampu menyisihkan laba (setelah dipotong seluruh kebutuhan termasuk kebutuhan keluarga) Rp 200 ribu, maka dibutuhkan waktu 20 bulan untuk bisa berekspansi membeli sebuah gerobak baru. Lain halnya kalau dengan utang. Begitu bakso dorong Anda sudah diterima pasar kualitasnya standar, segera saja pinjam uang Rp 4 juta. Dengan dua gerobak, tentu saja pendapatannya bisa dua kali lipat. Dengan Rp 400 ribu perbulan, utang bisa dilunasi dalam waktu 10 bulan. Tidak usah menunggu 20 bulan.

Apa salahnya kalau sabar menunggu sampai laba terkumpul? Ketahuilah bahwa kita memiliki tangung jawab yang lebih dari sekedar mencari nafkah untuk diri sendiri. Bila kembali pada contoh pedagang bakso gerobak tadi, satu gerobak mungkin sudah lebih dari cukup untuk memenuhi tanggung jawab memberi nafkah untuk diri dan keluarga. Tetapi ini adalah tanggung jawab minimum. Masih ada tanggung jawab lebih besar: menolong orang lain. Bermanfaat bagi sesama.

Ketahuilah bahwa ada sekitar 40 juta orang menganggur di negeri ini. Ada sekitar 750 ribu orang lulusan perguruan tinggi yang menganggur di negeri ini. Mereka adalah orang yang membutuhkan pertolongan dengan segera. Pertolongan berupa memberi pekerjaan dan gaji bulanan. Tidak bisa ditunda-tunda. Tidak ada yang bisa memberikan pekerjaan kecuali para pengusaha yang bisnisnya berkembang. Pengusaha yang mampu mengembangkan skala bisnisnya terus menerus.

Jadi, bila seorang pengusaha memiliki kealian, produk yang bagus dan terbukti sudah diteima pasar, ia wajib mendayagunakan keahliannya itu untuk menolongn para penganggur. Tidak boleh menunggu terkumpulnya laba. Para penganggur butuh pertolongan segera. Caranya tidak ada lain kecuali dengan mengembangkan bisnis melalui pinjaman. Melalui bank atau lainnya.

Apa yang dilakukan oleh Bu Fatika di Ponorogo ada baiknya dan ada juga buruknya. Baiknya: ia telah meminjam uang untuk mengembangkan usaha. Dengan cara seperti inilah para pengusaha berkontribusi dan bermanfaat bagi sesama. Khoirunnaasi anfa’uhum linnaas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Memberi pekerjaan adalah kemanfaatan yang sulit diberikan oleh mereka yang bukan pengusaha.

Buruknya: utang yang mestinya dipakai sepenuhnya untuk mengembangkan bisnis ternyata disalahgunakan untuk kebutuhan konsumtif. Membangun rumah adalah kebutuhan konsumtif yang mengganggu para pengusaha dalam mengembangkan bisnisnya. Modal yang mestinya bermanfaat untuk mengembangkan bisnis yang bisa menampung tenaga kerja baru dan berkontribusi untuk perkembangan ekonomi ummat terampas dengan pembelian rumah.

Buruknya pembelian rumah ini bisa digambarkan dengan papeda. Perlu Anda ketahui, papeda dibuat dari tepung sagu. Tepung sagu diambil dari bagian dalam pohon sagu yang sudah cukup tua, ditumbuk, dilarutkan ke dalam air, dikeringkan, tersisa tepung sagu. Pohon yang belum cukup tua tidak akan menghasilkan tepung sagu yang berkualtias. Atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan tepung sagu.

Jadi, membeli rumah seperti yang dilkan oleh bu Fatika ibarat manebang pohon sagu yang belum cukup umur. Memang mungkin itu adalah pohon sagu yang tumbuh di pekarangan kita sendiri dan karenanya telah menjadi hak milik sendiri. Tetapi, akan lebih baik menunggu cukup umur sehingga bisa menghasilkan tepung yang banyak dan diolah menjadi papeda yang nikmat.

Pohon sagu muda tidak bisa diambil tepungnya seperti buah mangga yang belum cukup umur. Orang jawa menyebutnya pencit. Dimakan masam, bahkan mungkin pahit. Dan yang jelas, dengan memetik pencit, kita kehilangan kesempatan untuk memetik buah mangga ranum yang harum. Menikmati jus mangga yang dingin dan lezat tentu jauh lebih menarik daripada pencit yang masam, pahit dan bikin batuk. Jadi…mari kita menungg saat sagu sudah tua. Saat mangga sudah tua. Berpuasa sampati saat berbuka tiba. Menikmati buka pasa. Menikmati papeda. Menikmati jus mangga. Bukan pencit. Anda tahan berpuasa?

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Muzzaki, terbit di Surabaya sekitar tahun 2006 dengan Judul “Papeda Pencit”

Catatan 2023:
Utang adalah satu-satunya cara untuk pertumbuhan bisnis yang lebih cepat bagi pelaku bisnis perorangan. Tapi utang mengandung risiko yang makin besar seiring dengan meningkatnya rasio antara utang dengan modal sendiri (ekuitas). Bagaimana untuk tumbuh lebih cepat tanpa menanggung risiko makin tinggi akibat utang? Caranya adalah bertranformasi dari bisnis perorangan menjadi korporasi. Menjalani delapan tahap corporate life cycle untuk akhirnya menjadi korporasi sejati.

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Ketika Rumput Pekarangan Tetangga Tampak Lebih Hijau: Krupuk Warna Warni Abunawas


Krupuk Warna Warni Abunawas

Oleh Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Konon, Abunawas memiliki seorang istri yang sangat cantik. Paling cantik di kampungnya. Begitu cantiknya sehingga siapapun kaum lelaki pasti akan mengaguminya. Bapak-bapak tetangga Abunawas yang sudah beristri bahkan bukan hanya mengagumi. Mereka suka memandang berlama-lama kecantikan nyonya Abunawas. Bahkan ada yang usil menggoda manakala wanita tercantik yang tidak lain adalah istri Abunawas lewat.

Melihat ulah tetangganya ini, tentu saja Abunawas tidak suka. Ia merancang sebuah cara untuk menasihati para tetangganya. Untuk itu ia mendapatkan ide yang sangat jitu. Dengan skenario ide itulah pada suatu hari Abunawas mengundang seluruh tetangganya yang sudah beristri.

Begitu seluruh undangan berkumpul, Abunawaspun meminta para pembantunya untuk segera mengeluarkan hidangan yang telah dipersiapkan. Kali ini Abunawas menghidangkan krupuk istimewa kepada para tamunya. Satu orang satu piring. Mak Nyuus….begitulah krupuk hidangan Abunawas kali ini.

Ada yang menggelitik para undangan. Memang krupuk yang disantapnya benar-benar nikmat. Namun demikian, para undangan penasaran dengan krupuk yang dinikmati undangan lain. Penasaran ini timbul karena memang setiap orang mendapatkan sepiring krupuk dengan warna tertentu yang berbeda dengan warna krupuk tamu lainnya. Si A mendapatkan krupuk merah, si B krupuk kuning, si C hijau, si D biru….dan seterusnya.

Si A yang mendapatkan krupuk merah mencicipi krupuk kuning milik si B dan sebaliknya. Si A juga mencicipi krupuk hijau miliki si C dan sebaliknya. Demikianlah, semua orang akhirnya mencicipi krupuk warna lain di piring kawan-kawannya sesama tamu.

Ternyata, seluruh krupuk yang berwarna warni tadi rasanya sama. Jadilah para tamu protes kepada Abunawas. Memang mereka merasakan krupuk yang istimewa dan luar biasa nikmat. Tetapi mereka protes mengapa krupuk yang rasanya sama saja kok diberi warna bermacam macam. Mereka protes karena Abunawas telah membuat kecele para tetangganya.

Mendapatkan protes seperti itu, Abunawas lega. Memang protes seperti itulah yang menjadi skenarionya. Ia pun berdiri dan berbicara. “Bapak-bapak tetanggaku semua, krupuk aneka warna rasa sama itu adalah sebuah cermin. Toh semuanya sama nikmatnya. Sebenarnya saya yang lebih protes kepada Bapak-bapak. Mengapa Bapak-Bapak suka memandangi dan menggoda istri saya. Bukankah bapak-bapak semua telah beristri? Bukankah istri saya dan istri bapak-bapak rasanya juga sama?”

@@@

“Assalamualaikum. Saya seorang pegawai di sebuah perusahaan. Alhamdulillah, saya memiliki sebuah mobil. namun jarang dipakai. Saya berencana menyewakan mobil tersebut. Tapi, ada saudara yang menyarankan mobil itu dipakai untuk berjualan makanan seperti yang terlihat di beberapa ruas jalan di Surabaya. Menurut Pak Iman, manakah yang lebih menguntungkan, menyewakan mobil atau menggunakan untuk jualan makanan keliling? Terus terang, saya tertarik untuk memanfaatkan mobil itu agar mendatangkan keuntungan daripada sekedar untuk jalan – jalan sama keluarga. Terima kasih atas masukannya”. Demikian pertanyaan Pak Anwar, salah seorang pembaca majalah kita yang berada di Surabaya ini.

Kalau Anda membaca rubrik ini edisi bulan lalu, disana telah saya gambarkan bahwa untuk menggapai kesuksesan yang optimal, seseorang harus memilih suatu bidang dan kemudian fokus. Fokus seperti inilah yang mampu mengantarkan kerja keras seseorang menuju kesuksesan.

Pak Anwar, pengirim pertanyaan di atas, adalah seorang pegawai sebuah perusahaan. Bila sudah mantap dengan pilihan karir sebagai seorang pegawai pada sebuah perusahaan, langkah selanjutnya adalah fokus dan berkonsentrasi pada pekerjaan agar karir berkembang. Bekerja habis-habisan.

Secara finansial, fokus pada pekerjaan sebagai seoang pegawai perusahaan harus didukung dengan kebijakan anggaran yang disiplin menabung. Tiap bulan harus ada sebagian gaji yang ditabungkan. Orang-orang yahudi menguasai ekonomi dunia salah satunya adalah karena ia biasa berdisiplin untuk menyisihkan 10% pendapatan tiap bulan untuk ditabung dan selanjutnya untuk investasi.

Nah, kembali pada pertanyaan tentang mobil, agar bisa tetap fokus pada pekerjaan, pendayagunaan mobil untuk menghasilkan pendapatan harus diposisikan sebagai investasi, bukan bisnis. Bedanya, bisnis dikerjakan sendiri sedangkan investasi dikerjakan orang lain.

Menyewakan mobil bisa bermakna investasi bila pengelolaanya dilakukan oleh orang lain. Mobil dipercayakan kepada orang lain yang memiliki bisnis rental dan sudah terbukti berjalan dengan baik paling tidak selama dua tahun. Sistemnya bisa bagi hasil atau mungkin disewakan dengan sistem bulanan. Jadi Pak Anwar menyewakan mobil kepada rental profesional dengan tarip bulanan dan rental tersebut yang akan mencari konsumen bersama-sama dengan mencarikan konsumen untuk mobil lain yang selama ini juga sudah dikelolanya.

Menggunakan mobil untuk berjualan makanan pun juga harus diposisikan sebagai investasi, bukan bisnis. Mengelola sendiri usaha jualan makanan dengan mobil berarti berbisnis. Kulakan bahan makanan, mencari pekerja, mencuci piring, melakukan pencatatan keuangan, dan sebagainya adalah aktivitas yang harus dilakukan dalam mengelola usaha jualan makanan bermobil sebagai bisnis.

Menggunakan mobil untuk berjualan makanan sebagai investasi berarti mencari partner. Partner itulah yang akan mengerjakan seluruh operasional bisnis dan Pak Anwar adalah investor. Mobil milik Pak Anwar dimanfaatkan sebagai saran berjualan nasi dan diperhitungkan sebagai investasi. Imbalan investasi bisa disusun dengan skema bagi hasil dengan porsi seseuai kesepakatan.

Memposisikan mobil sebagai investasi sebagaimana penjelasan di atas berlaku kalau Pak Anwar sebagai pemilik mobil sudah mantap untuk memilih karir sebagai seorang pegawai perusahaan. Segala sesuatunya akan jagi lain kalau Pak Anwar merasa tidak pas dengan posisinya sebagai seorang karyawan. Jika demikian halnya, maka pemanfaatan mobil dilakukan dalam kerangka rintisan bisnis. Pak Anwar memulai bisnis kecil kecilan dengan memanfaatkan mobil (bisa berupa persewaan mobil atau jualan makanan, pilih salah satu). Nanti, kalau bisnis sudah cukup menghasilkan uang sebagai pengganti gaji dari perusahaan, Pak Anwar bisa keluar dan kemudian konsentrai (fokus) menggenjot bisnisnya agar membesar.

Lalu…menyewakan mobil atau berjualan makanan? Baik memposisikan sebagai bisnis maupun sebagai investasi, keduanya bisa dipilih dengan pertimbangan utama: penguasan. Sebagai investasi, mana partner yang dianggap lebih menguasai bisnisnya dan lebih kredibel. Kalau partner rental lebih kredibel pilihlah rental, kalau partner dalam penjualan makanan lebih kredibel, pilihlah berjualan makanan.

Sebagai bisnis, kalau Pak Anwar lebih menguasai medan bisnis rental, pilihlah rental. Sebaliknya kalau penguasaan medan bisnis penjulan makanan lebih unggul, pilihlah penjulan makanan dan tekuni.

Yang penting, ketika seseorang telah menentukan pilihan, harus tahan untuk menepis godaan-godaan untuk melirik pilihan orang lain. Apa yang dilakukan orang lain nampak lebih mudah menghasilkan duit dari pada apa yang kita lakukan. Istri orang lain nampak lebih cantik dari pada istri sendiri. Ini bahaya. Bahaya tidak bersyukur atas nikmat-Nya, juga bahaya karena kehilangan daya fokus. Anda sudah memilih? Sudah fokus?

tulisan ini pernah diumuat di majalah Lagzis, terbit di sby

Marketer, Selebritis Atau Intel?


Yulianto Sochebu.  Orang perhotelan dan pariwisata tentu sangat mengenalnya. Kini ia adalah ketua PHRI Jawa Timur. Organisasi ini mewadahi insan perhotelan dan restoran untuk bersinergi mencapai kemajuan bersama.

Beberapa tahun yang lalu, Pak Yul, demikian saya biasa memanggil, adalah general manager Natour Simpang Hotel Surabaya. Di hotel yang kini bernama Inna itu Pak Yul terbilang sukses. Atas keberhasilan itu kemudian ia dipromosikan untuk memimpin hotel hotel lain yang lebih besar dalam jaringan Inna. Kini ia berposisi di kantor pusat hotel yang jaringan nya tersebar ke berbagai kawasan di Indonesia itu.

Pada saat masa kepemimpinannya di Inna Simpang, saya sempat menjadi konsumennya. Beberapa kali saya membutuhkan ruang dan kamar untuk penyelenggaraan acara yang saya gelar. Jadilah saya lumayan dekat dengan beberapa orang karyawan anak buah Pak Yul. Dari cerita mereka, saya mendapatkan informasi menarik tentang pak Yul. Informasi tentang bagaimana Pak Yul sukses memimpin hotel yang berada di jantung kota pahlawan ini. Apa rahasianya? Pak Yul kenal dengan siapapun. Seolah tidak ada orang yang tidak dikenalnya. Pergaulannya luas sekali.

♦♦♦♦

Iwan Fals, Titiek Puspa, Rhoma Irama, Inul Daratista, Ebiet G Ade, Ahmad Dhani, Kris Dayanti, Rossa, Opick, Pasha Ungu, Gita Gutawa, Bunga Citra Lestari, Dian Sastro, Giring Nidji. Anda tentu mengenal deretan nama nama ini. Walaupun tidak semuanya Anda kenal, saya yakin sebagian besar nama itu Anda kenal.

Bahkan ada banyak orang yang bukan sekedar mengenal namanya. Ada yang sampai hafal betul dengan segala detail. Hafal dan bahkan mengoleksi seluruh lagu yang pernah dinyanyikannya, hafal sejarah perjalanan hidupnya, hafal tanggal lahirnya, hafal nama keluarganya. Mengapa? Karena mereka memang sangat dikenal. Artis sukses. Selebritis.

Bagaimana kalau pertanyaannya dibalik? Apakah mereka para selebritis itu mengenal Anda? Saya yakin jawabannya akan kompak. Para selebritis itu tidak mengenal Anda. Memang begitulah sifat yang melekat pada para selebritis: dikenal banyak orang tetapi tidak mengenal banyak orang. Jutaan orang menghafal dengan sangat baik deretan nama nama di atas. Tetapi, para pesohor itu tentu tidak mengenal jutaan orang penggemarnya.

Enakkah menjadi selebritis? Mungkin kita bisa belajar dari orang lain yang karakternya kebalikan dari para selebritis. Jika selebritis dikenal banyak orang tetapi tidak mengenal banyak orang, orang ini kebalikannya. Mengenal banyak orang tetapi tidak dikenal banyak orang. Adakah orang seperti ini? Ada. Siapa? Mereka adalah para intel alias agen rahasia. Dalam menjalankan pekerjaanya, seorang intel dituntut untuk mengenal banyak orang dengan baik dan detail. Tetapi, ia sendiri tidak boleh dikenal banyak orang. Intel harus selalu menjaga kerahasiaannya. Namanya juga dinas rahasia.

Intelijen

Intelijen: kenal banyak orang tetapi tidak mau dikenali orang lain

♦♦♦♦

Pembaca yang budiman, profesi apapun membutuhkan pemasaran. Keahlian ini akan menjadi pemicu prestasi tinggi untuk bidang pekerjaan apapun. Apalagi kalau profesi kita memang pemasar atau pengusaha. Pemasaran akan menjadi cara terpenting untuk mencapai keberhasilan profesi. Pemasaran akan menjadi keahlian terpenting untuk mengundang uang.

Apa hubungannya dengan selebritis dan intel? Pemasaran membutuhkan gabungan dari keduanya. Gabungan yang seperti apa? Ada dua kemungkinan. Pertama adalah orang yang berkarakter tidak dikenal banyak orang (seperti intel) dan tidak kenal banyak orang (seperti selebritis). Tidak dikenal banyak orang dan tidak mengenal banyak orang. Seimbang dalam pengertian negatif. Kurang pergaulan. Nah, karakter ini tentu sangat tidak cocok untuk pemasaran. Apapun profesi kita.

Kemungkinan kedua adalah dikenal banyak orang (seperti selebritis) dan kenal banyak orang (seperti intel). Dikenal banyak orang dan mengenal banyak orang. Sangat mudah bergaul. Supel. Siapapun dikenalnya dan siapapun mengenalnya. Seimbang dalam pengertian yang positif. Sangat dibutuhkan untuk pemasaran. Apapun profesi kita.

Pembaca yang budiman, suatu saat saya pernah menelepon Pak Yul, orang yang saya ceritakan pada pembukaan tulisan ini. saya menelponnya setelah lama sekali tidak menelepon. Terdengar nada yang menunjukkan bahwa nomor telepon Pak Yul sedang aktif. Tetapi beberapa kali dering tidak diangkatnya. Saya Pun menghentikan telepon tersebut. Nanti akan mencobanya lagi.

Tetapi apa yang terjadi, sebelum saya menelponnya kembali ternyata Pak Yul yang terlebih dahulu mengontak saya melalui SMS. Ia menyatakan minta maaf tidak bisa mengangkat telepon karena suatu hal dan kemudian juga menanyakan siapa saya. Dia sudah tidak menyimpan nomor saya di telepon selulernya. Mungkin ia pernah berganti telepon seluler dan belum sempat memasukkan kembali nama saya.

Apa yang menarik? Ternyata Pak Yul benar benar berkarakter marketer. Tidak menyepelekan setiap kontak dengan orang lain. Orang lain yang nomornya tidak dikenal pun diperhatikan. Bukan sebaliknya, tidak mau mengangkat telepon apabila nomor yang masuk ke handphonenya tidak dikenal.

Dengan cara begitu, Pak Yul tidak pernah kehilangan kontak. Aset untuk mengenal banyak orang dan sekaligus dikenal banyak orang. Tidak bergaya selebritis. Juga tidak bergaya intel. Ia menggabungkan gaya selebritis dan intel dalam pengertian positif. Dikenal dan mengenal banyak orang. Seimbang. Persis seperti pendiri Zara yang kurang lebih mengatakan bahwa seorang entrepreneur sejati itu seumur hidupnya hanya tiga kali dikornkan. Atau diviralkan dalam konteks kekinian. Kapan itu? Saat lahir diviralkan oleh ayah ibunya. Saat menikah divirialkan oleh ayah ibunya, kawan-kawan dekatnya dan dirinya sendiri. Dan saat meninggal diviralkan oleh keluarga yang ditinggalkannya. Selebihnya hanya dikenal oleh orang yang juga mengenalnya. Anda bagaimana?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya, dengan sedikit pengeditan

Bermobil 4 Jam untuk 100 km Krian-Legundi-Pucuk-Lamongan-Babat: Jadi Gubernur


Jadi Gubernur

oleh: Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Jam 4 sore saya sudah meninggalkan rumah di kawasan Sukolilo Surabaya. Tujuan saya adalah Babat, kota kecamatan di wilayah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Perjalanan kali ini agak lain. Jalur utama Surabaya Babat yang lewat gresik dan Lamongan terputus total karena banjir. Jalur alternatif yang melalui pantai utara juga macet luar biasa karena jembatan di kawasan Sembayat rusak. Yang berfungsi tinggal satu jalur. Kendaran dari kedua arah harus bergantian melewati jalur yang masih berfungsi. Terjadi kemacetan yang luar biasa parah. Inilah informasi yang saya terima baik melalui radio, internet, maupun kawan kawn yang kebetulan melewati jalur tersebut.

Karena acara sudah direncanakan jauh jauh hari, saya tidak bisa menundanya. Maka, jam 4 sore persis saya sudah meninggalkan rumah. Berdasarkan berbagai pertimbangan dan informasi, akhirnya saya memutuskan untuk melalui jalur alternatif melalui Krian-Legiundi-Pucuk-Lamongan-Babat. Jalur hampir 100 km inilah rute yang paling bagus berdasarkan informasi dari berbagai sumber. Tentu saja dibandingkan dengan rute normal yang sedang bermasalah baik karena banjir maupun jembatan rusak.

Surabaya Krian terlalui seperti perjalanan selama ini. Lalu lintas cukup padat. Ketika kepadatan lalu lintas berkurang, mobilpun tidak bisa dipacu dengan kecepatan tinggi karena disana sini jalannya bergelombang. Tetapi bagi saya Surabaya Krian memanglah begitu. Tetap seperti yang sebelumnnya sering saya lalui.

Yang menarik justru ketika mulai musuk kawasan Legundi. Saya baru pertama kali melalui jalur itu. Kondisinya luar biasa: jalan berlubang sana sini. Mobil harus berjalan ekstra pelan-pelan dan ekstra hati hati. Bahkan sering kali harus berhenti berbagi jalan yang masih bisa dilalui jika berpapsan dengan mobil lain. Hampir sepanjang perjalanan yang ada adalah jalan rusak. Maka, jarak tempuh yang tidak sampai 100 kilometer memakan waktu 4 jam. Jam 8 malam saya baru tiba di Babat.



Tak ada gading yang tak retak. Inilah nampaknya pepatah yang cocok untuk menggambarkan kondisi jalan di berbagai penjuru negeri ini. Tidak ada jalan yang tak berlobang. Tidak ada jalan yang tidak bergelombang. Tidak ada jalan yang tidak rusak. Jalur Surabaya-Babat lewat Legundi adalah salah satu contohnya. Kondisi jalan jalan di Sulawesi, Sumatera, Papua, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, kurang lebih pun demikian. Kurang lebih sama. Beberapa hari lalu saya juga dibuat benar benar teler dalam perjalanan Surabaya-Lumajang. Jarak sejauh 150 kilimeter ditempuh dalam waktu 7 jam.

Perjalanan ini sangat kontras misalnya dibandingkan jalur Kuala Lumpur Johor Bahru yang sekitar 300 km ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam. Jalanan mulus nyaris tanpa lobang dan gelombang. Mobil dengan santai bisa dipacu dengan kecepatan rata rata 100 km/jam lebih. Perjalanan pun nyaris tanpa menginjak pedal rem.

Karena pernyataan saya “tiada gading yang tak retak” di atas, ada seorang kawan yang menimpali. Katanya, paling tidak saya harus jadi gubernur agar bisa memimpin pemeritahan negeri ini agar kondisi jalan raya tidak seperti yang saat ini. Tidak seperti Surabaya-Babat, atau Surabaya-Tuban. Agar jalan raya bisa mulus seperti jalur Kuala Lumpur-Johor Bahru.

Jadi gubernur? Tidak. Saya ingin berkontribusi melalui apa yang saya tekuni selama ini sampai akhir hayat: menjadi konsultan. Membesarkan SNF Consulting, perusahaan konsultan yang saya dirikan, mencapai visinya menjadi berkelas dunia. Dipercaya perusahaan perusahaan berkelas dunia.. Dibutuhkan fokus luar biasa untuk mencapai sebuah cita-cita besar. Saya tidak ingin terbelokkan. Apalagi ke bidang politik. Aku berlindung kepada-Nya dari godaan syetan dan politik….hehehe…

Terus bagaimana memperbaiki kualitas jalan? Tentu tidak mungkin kita bisa menyelesaikan seluruh permasalahan masyarakat. Di sektor politik dan pemerintahan sudah banyak orang yang berkecimpung disana. Pada merekalah harapan untuk perbaikan jalan sebagai sarana publik. Kalau Kuala Lumpur-Johor Bahru bisa mulus, kenapa Surabaya-Babat dan Surbaya-Lumajang tidak? Kenapa Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Papua, Nusa Tenggara dan sebagainya tidak? Pasti ada cara. Sesuai peran sebagai konsultan, saya memberi inspirasi melalui tulisan. Tidak perlu tidak usah menjadi gubernur. Biarlah kawan-kawan poliitisi dan birokrat yang mencari cara itu. Sama-sama fokus di bidangnya masing masing. berlomba lomba menuju kebaikan. Fastabiqul khoirot. Pak Gubernur, bisa kan?

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya