Rusdi Kirana & First to Fly Boeing 737 900 ER: di Jogja Juga!


first to fly boeing 737 9004r

Di Jogja Juga!

Oleh Iman Supriyono, konsultan bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Tampangnya tampak gagah. Warnanya yang biru putih membuatnya jelas berbeda. Badanya bongsor. Tambahan winglet pada ujung kedua sayapnya menjadikan pesawat ini makin tampak menonjol di lahan parkir Bandara Hasanuddin. Itulah kali pertama saya melihat Boeing 737 900ER. Pesawat yang menjadikan Lion Air sebagai maskapai first to fly. Lion air adalah maskapai pertama yang menerbangan pesawat gagah ini. Posisinya seperti Singapore Airlines-populer disebut SQ- yang dipercaya sebagai maskapai first to fly untuk Airbus A380. Lion oleh Boeing, SQ oleh Airbus. Lion pesawat kapasitas sekitar 200 penumpang. SQ pesawat berkapasitas lebih dari 500 penumpang. Lion dan SQ sama sama first to fly.

Memandang B 737 900 ER membuat ingatan tertuju pada Rusdi Kirana. Dialah yang membidani dan membesarkan Lion hingga hari ini. Ada banyak hal menarik dari Rusdi dan Lion. Tetapi ada satu hal yang saya ingin ungkap lewat tulisan ini.
Dalam sebuah wawancara degan media, Rusdi punya kebiasaan kerja yang luar biasa. Tiap hari pada umumnya ia baru meninggalkan kantor pada sekitar jam 2 pagi. Sebuah gambaran akan semangat kerja yang luar biasa. Bekerja dengan jam kerja lebih dari dua kali lipat jam kerja orang pada umumnya. Kebiasaan ini tentu tidak bisa dipisahkan dari Lion air yang berprestasi seperti yang sekarang bisa disaksikan oleh siapapun. First to fly B 737 900ER.

♦♦♦♦

Pagi itu udara Jogja hangat. Pertengahan musim kemarau. Mungkin banyak orang menyebutnya panas. Bagi saya hangat saja. Toh suhunya masih pada kisaran 30-an derajad celcius. Kalo sudah dekat dekat 100 baru disebut panas. Maka….jam 8 pagi saya putuskan untuk berolah raga. Tidak perlu terlalu serius. Cukup jalan agak cepat aja menyusuri keramaian jalanan. Kehangatan sinar mentari turut mempercepat cucuran keringat. Segar!

Bagi banyak orang, bersantai di hotel menunggu jadual mungkin terasa lebih asyik. Bisa sambil baca koran, nonton teve, sambil menikmati teh atau kopi hangat. Tetapi saya memilih yang lain memilih berkeringat. Salah satu alasanya adalah ingatan saya tentang Lion Air dan Rusdi Kirana.

Bila pingin sukses, seorang wirausahawan dituntut untuk mengerahkans segala daya dan kekuatan. Tidak jarang pengusaha dituntut untuk bekerja lebih dari dua kali lipat jam kerja normal. Rusdi Kirana telah membuktikannya di Lion Air. Kerja kerasnya berbuah pertumbuhan maskapai penerbangan besutannya. Dari tidak ada apa apa menjadi makapai nomor satu di kelasnya. Bahkan dilihat dari jumlah penumpang, Lion bersaing ketat dengan Garuda sebagai maskapai yang jauh lebih berpengalaman.

Untuk bisa bekerja keras, tentu saja badan harus bisa diajak kompromi. Stamina harus prima. Salah satu kebutuhan untuk menjaga stamina adalah olah raga. Kata seorang kawan dokter, dibutuhkan minimal dua kali seminggu berolah raga masing masing satu jam untuk membakar lemak di dalam tubuh. Lemak yang tiap hari masuk melalui makanan dan minuman akan menyumbat pembuluh darah dan menjadikan stamina menurun jika tidak dibakar. Bahkan pada kondisi lebih parah akan mengakibatkan stroke. Maka, walaupun sedang bepergian di luar kota, olah raga dua kali seminggu harus jalan. Sesuatu yang logis. Sesuatu yang sangat ilmiah.

Walaupun sangat ilmiah dan logis, nyatanya tidak banyak orang yang mau disiplin berolah raga. Maka, sebenarnya ada cara lain untuk tetap bestamina prima tanpa harus berolah raga. Bagaimana? Gampang. Cukup dengan tidak mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung lemak. Jangan makan tempe goreng, daging, susu, mentega, telor, sayur yang bersantan, daging, ikan dan sejenisnya.

Saya masih suka menyantap peyeknya pecel, tempe goreng dipenyet sambal tomat trasi, daging empal, ikan patin, alpukat, masakan padang, sayur lodeh manisah, kacang goreng, segelas susu hangat, roti bakar lengkap dengan mentega keju, dan sebagainya. Saya juga masih ingin kerja keras seperti Rusdi Kirana atau para pengusaha sukes lain. Jika dikaruniai umur panjang hingga 90-an tahun, saya juga ingin seperti Almarhum Pak Muhammad Noer mantan Gubernur Jatim yang masih memimpin 5 yayasan. Atau seperti mendiang “nabinya ilmu manajemen” Peter Drucker yang masih berkarya hingga detik detik terakhir kehidupannya. Maka….tidak ada cara lain kecuali berolah raga. Dimanapun kapanpun. Di Jogja juga!

tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

 

Daun Jati: Tekun Kerja Keras Tak Cukup


Jam empat sore saya sudah meninggalkan hotel. Jika jalan lancar, biasanya sekitar jam 9 malam sudah sampai rumah di bagian timur kota Surabaya. Artinya, perjalanan kali ini melewati jam makan malam.

Ada beberapa tempat favorit makan malam pada jalur Tuban Surabaya. Nah, sore itu saya dan romongan memilih sebuah warung tenda di depan Pasar Baru Tuban dengan menu istimewa: Kepalan Manyung. Menu yang selalu saya rindukan manakala lama tidak pergi ke Tuban.

Karena jika sedang di Tuban sering makan menu lezat ini, sebenarnya kepala manyung bukanlah sesuatu yang baru. Sudah menjadi semacam rutinitas memanjakan lidah. Tetapi naluri kepenulisan saya muncul ketika melihat ada seorang ibu tua asyik menjajakan dagangannya di teras pasar. Dagangannya ini yang menarik bagi saya: daun jati.

Kanapa daun jati menarik? Ada banyak alasan. Yang pertama, masa kanak-kanak saya tinggal di sebuah desa tepi hutan jati pada jaman dimana plastik belum sepopuler saat ini. Praktis daun jati menjadi salah satu barang penting masa itu. Daun jati adalah pembungkus nasi pecel hangat dengan aroma khas. Daun jati juga pembungkus tempe yang juga tiada dua. Aroma daun jati yang terkena panas hasil fermentasi jamur tempe memberikan aroma nikmat. Masih banyak lagi fungsi daun jati sebagai pembungkus aneka makanan maupun bahan makanan di kampung halmaan ketika itu. Pendek kata, daun jati memiliki nilai ekonomi yang sangat strategis.

Itulah kenapa salah satu hisaan masa kanak kanak saya adalah pengalaman mencari daun jati di hutan dan kemudian menjualnya ke warung warung untuk pembungkus aneka makanan. Anak ingusan yang belajar mencari uang dengan berjualan daun jati. Pengalmaan yang sangat indah yang ternyata kelak saya rasakan sebagai pendidikan entrepreneurship luar biasa ala anak desa.

Segeralah saya mencari cara yang manis untuk berbicang dengan pedangan daun jaati itu. Saya pun mengeluarkan uang lembaran seribuan rupiah untuk membeli daun jagi. Maksud saya, daun jati mau saya bawa pulang ke surbaya sebagai bahan cerita kepada anak anak saya tentang perkembangan tekonolgi pengemasan. Dari kemasan daun jati menajdi kemasan plastik. Nah, ternyata betul. Seribu rupiah untuk membeli daun jati menjadi pembuka komunkkasi yang manis dengan sang ibu tua pedangannya yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Mbok Siti.

Puluhan tahun bekerja keras dengan tekun pun tidak cukup

Mbok Siti sudah sejak umur 15 tahun berdang daun jati di pasar itu. Kalau sekarang ia berumur sektiar 60 tahun, berarti ia telah berdagang selama 45 tahun. Selama hampir setengah abad itu Mbok Siti menjalani ritme aktivitas sebagai berikut: jam lima pagi berangkat ke hutan untuk memetik daun jati dengan galah. Sampai sekitar jam 8 ia sudah mendapatkan seeikat besar daun jati untuk digendong pulang ke rumah. Sampai di rumah ia segera berangkat ke hutan lagi untuk mencari segendongan daun jati lagi. Tahap kedua pencarian daun jati ini terselesaikan sekitar tengah hari.

Setiba di rumah, Mbok Siti segera bergegas mencari mobil tumpangan untuk membawa dua ikat daun jati ke pasar. Ia tidak mungkin menggendong dua ikat daun jati yang ketika saya coba angkat kira kira seberat 50-60 kg itu. Untuk pengangkutan ini Mbok Siti harus membayar sekitar Rp 10 ribu. Itupun tidak semuah kendaraan umum yang lewat mau ditumpangi Mbok Siti.

Jam 5 sore Mbok siti sudah tiba di pasar dan kemudian menjajakan barang dagangannya sampai sektiar jam 5 pagi. Praktis seluruh aktivitasnya mulai dari memetik sampai menjual daun jati dikerjakan dalam waktu 24 jam penuh. Maka, begitu daun jati habis terjuial iapun pulang ke rumah untuk istirahat secukupnya. Keesokan harinya, jam 5 pagi ia harus berangkat memulai lagi siklus pekerjaaannya.

Berapa pendapatan Mbok Siti? Setiap putaran, omset penjualan 2 ikat daun jati adalah sekitar Rp 50 ribu. Dipotong ongkos transport dan makan selama berjualan kira kira ia masih menyisakan uang Rp 35 ribu hasil kerja 24 jam. Dengan ritme seperti itu, dua hari sekali Mbok Siti menerima uang Rp 35 ribu alias Rp 17.500 sehari. Hanya senilai sekitar setengah UMR!

Rp 17.500 sehari! Itulah kehidupan Mbok Siti selama hampir setengah abad. Menjalani hidup yang secara finansial makin sulit dan berat. Mengapa omset penjualannya tidak meningkat? Mengapa pasarnya tidak diperluas? Mengapa tidak diekspor? Mengapa Mbok Siti yang pekerja sangat keras tidak prestasi ekonominya tetap kelas bawah? Pelajaran apa yang bisa Anda petik? Apa bedanya dengan pengalaman masa kanak kanak saya yang juga berjualan daun jati sebagi sebuah pembelajaran entrepreneurship yang saya rasakan luar biasa? Semoga kita bisa memetik pelajarannya: daun jati! Bahwa kerja keras dan ketekunan puluhan tahun saja tidak cukup. Dibutuhkan ilmu. Berproses menapaki satu demi satu dari 8 langkah corporate life cycle.

Tulisan karya Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya

Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram  atau Grup WA KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi

Atau ikut KELAS KORPORATISASI

Baca juga:

Bagaimana Merintis Bisnis?
Corporate Life Cycle
Modal Alfamart Mengejar Indomaret

Modal Murah Mitra Keluarga Menyalip Siloam
Pedal Gas Revenue and Profit Driver
RPD Sebagai Faktor Kali
RPD Sebagai Peredam Risiko Investasi Wakaf
Giant Tutup: Sulitnya Menemukan Kembali RPD
Deep Dive Sang CEO Mengamankan RPD
RPD Sebagai Salah Satu Tahap Corporate Life Cycle

Kampus Penuh Hikmah Puasa


Suatu sore selepas buka puasa di Babat. Saya sedang berada di kota Wingko untuk pekerjaan di sebuah perusahaan klien SNF Consulting. Sebuah berita ramai dibicarakan orang: Pasar Baureno terbakar! Baureno adalah kota kecamatan di wilayah Kabupaten Bojonegoro yang tidak jauh dari Babat, Lamongan. Berita terbakarnya pasar Baureno pun sudah ramai dibicarakan di Babat jauh sebelum keesokan harinya koran lokal Radar Bojonegoro bisa dibaca masyarakat. Sebuah berita yang menarik karena banyak pedagang di pasar itu yang barang dagangannya dipasok oleh perusahaan klien SNF consulting tadi.

Jam 1 siang keesokan harinya saya dan rombongan lokasi kebakaran. Setelah sekilas melihat pasar yang nyaris 100% luluh lantak dan masih menyisakan kepulan api, segeralah meluncur ke seorang pedagang mitra klien SNF tadi. Nyaris seluruh bagian rumahnya penuh dengan barang dagangan yang ditumpuk begitu saja. Ada panci, perlak, sapu, piring, magic jar, lemari plastik, piring, cendok, dan msih banyak lagi. Ada yang utuh terselamatkan. Ada yang sudah gosong terkena api. Kata sang pedagang, ia berhasil menyelamatkan sekitar separuh dagangannya. Separuhnya hangus. Itu adalah hasil kerja keras seluruh keluarga bahu membahu. Ada yang mengambil di pasar. Ada yang menjaga tumpukan barang barang di jalan raya depan pasar.

Yang menarik, banyak pedagang lain yang kehilangan seluruh barang dagangannya. Ada yang memang terbakar dan tidak ada kesempatan menyelamatkan. Ada yang lebih tragis: sebenarnya mereka sudah mengeluarkan barang dagangan dan menumpuknya di jalan raya depan pasar. Tetapi karena lengah dan tidak ada yang menjaga, barang-barang itu dijarah oleh masyarakat yang turut beramai ramai menyaksikan kebakaran. Menonton kebakaran sambil menjarah. Dan yang lebih menarik, semua itu dilakukan pada bulan ramadhan!

&&&

Suatu pagi menjelang pembukaan Kajian Ramadhan 1432 di ruang tamu Rektorat UMM. Rombongan Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) PWM Jatim memfasilitasi pertemuan antara rektor UMM dengan seorang mantan pimpinan sebuah bank besar untuk peluang sebuah proyek kerjasama internasional. Pak Nadikh, ketua MEK, sangat antusias untuk dealnya proyek itu. Apalagi kedua belah pihak, rektor maupun mantan pimpinan bank itu, adalah sahabat dekatnya. Pembicaraan pun berlangsung akrab dan hangat.

Dealkah proyek itu? Ternyata tidak. Mengapa? Pak Muajir, rektor UMM, tidak bisa menerimanya karena sang mantan petugas bank tersebut adalah dosen pada sebuah perguruan tinggi lain. Dalam pandangannya, sangat tidak etis seorang dosen sebuah perguruan tinggi memiliki proyek bagus tidak diberikan kepada perguruan tinggi tempatnya berkarya. Pak Rektor sangat menjaga etika itu. Beliau bahkan berkali kali menegaskan keyakinannya bahwa penjagaan etika seperti inilah yang menjadikan UMM besar dan makin berkibar. UMM adalah PTS penerima proyek penelitian terbesar nasional. Bahkan untuk gabungan PTN dan PTS, UMM masih berada di urutan ke 8. Saat ini sudah ada 12 ribu calon mahasiswa yang antri masuk UMM. Itupun tidak akan diterima semua dengan alasan juga etika juga. Tidak etis UMM menyapu bersih seluruh mahasiswa sementara banyak PTS lain yang untuk mendapatkan 50 mahasiswa pun sangat sulit.
&&&&

Pembaca yang baik, inti dari puasa adalah pembelajaran pengendalian diri. Kebakaran di Baureno menjadikan kita merenung. Penjarahan terhadap pedangan korban kebakaran pada suasana ramadhan sangat bertentangan dengan nilai nilai puasa. Sesuatu yang merugikan orang lain. Juga merugikan diri sendiri karena menghilangkan kepercayaan orang lain. Jangan mengharap sukses manakalah kepercayaan tidak ada.

Sebaliknya, dialog menjelang Kajian Ramadhan dengan Rektor UMM menguatkan kita untuk makin kokoh berpegang pada etika. Mengendalikan diri dalam menghadapi dilema kehidupan. Tetap berpegang pada kebenaran walaupun sekilas tampak merugikan. UMM maju karena kemampuan mengendalikan diri untuk tetap berada pada nilai nilai keutamaan. Itulah hasil Ramadhan. Itulah UMM. Kampus penuh hikmah puasa!

Tulisan Iman Supriyono ini dimuat di majalah Matan, edisi idul fitri 1432 H, terbit di Surabaya

Iuran Kelas Lee Kuan Yew


From Third World To First. Bukunya sangat tebal. Jumlah halamannya: 778. Kofi Annan, George Bush, Margaret Thatcher, Jacques Chirac, Paul Keateng adalah beberapa dari banyak nama beken dunia yang memberi

endorsement untuk buku ini. Tentu bukan buku sembarangan. Sebuah buku penuh pelajaran berharga karya Lee Kwan Yew, tokoh di balik sukses luar biasa negeri kecil Singapura.

Banyak gambaran kesuksesan negeri yang luasnya seperti kota Surabaya ini. Sektor ekonomi adalah salah satu keberhasilan yang menonjol. Jika dihitung berdasarkan PDB, rata-rata warga Singapura mampu mencari uang sekitar Rp 30 juta perbulan. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya sekitar Rp 2 juta perbulan. Padahal Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Sementara Singapura tidak punya apa-apa.

Kehebatan ekonomi negeri singa bahkan sampai masuk ke pelosok negeri ini. Coba saja perhatikan dunia perbankan. Di manapun berada, Anda akan dengan mudah menemukan keberadaan kantor bank DBS Buana dan OCBC NISP. Keduanya adalah metamorfosa dari Bank Buana dan bank NISP. Keduanya kini telah dimiliki dan dikelola oleh bank DBS dan OCBC, bank raksasa dari negeri singa.

Coba pula perhatikan berita tentang sakitnya tokoh-tokoh penting negeri ini. Hampir pasti selalu terkait dengan Singapura. Mengapa? Orang orang kaya negeri ini merasakan layanan medis yang bagus dari rumah sakit rumah sakit di Singapura. Maka, jangan heran misalnya baru baru ini kita membaca penyanyi terkenal Franky Sihalatua yang berobat di Singapura General Hospital. Sebelumnya banyak sekali tokoh nasional yang berobat ke Mount Elizabeth atau Gleneagles Hospital di Singapura.

Bagaimana negeri yang merdeka 20 tahun setelah indonesia ini kini bisa tampil begitu hebat? Membalik keadaan dari tidak ada apa-apa menjadi nomor satu? Lee Kwan Yew menjawabnya melalui buku berbahasa Inggris ini.

Kami tidak punya apa apa. Satu-satunya modal kami adalah kepercayaan. Maka, kami tidak boleh menghambur-hamburkan kepercayaan itu dengan korupsi dan mismanagement. Inilah prinsip dasar yang ditulis oleh Lee dalam bagian awal bukunya. Modalnya satu saja: kepercayaan. Dan yang lebih penting, bagaimana menjaga kepercayaan itu agar tidak pudar dan justru makin meningkat.



Bayangkan suasana berikut. Karena ada kerja bakti di sekolah, Anda bersama kawan-kawan sekelas membayar iuran Rp 5.000 tiap siswa untuk membeli nasi bungkus. Bendahara kelas yang diberi kepercayaan mengelola uang tersebut membeli nasi seharga Rp 4.500,-. Sisa uang Rp 500 per bungkus diambil sendiri secara diam diam.

Andai saja Anda adalah salah satu murid di kelas itu. Selama ini Anda percaya begitu saja kepada bendahara. Husnudhon. Percaya tentang kejujurannya sebagai teman sekalas. Percaya niatnya untuk suka rela tanpa pamrih dalam ikatan persahabatan teman-teman sekelas. Tiba-tiba suatu saat Anda mendapatkan informasi akurat tentang pengambilan sisa uang Rp 500,- tersebut. Bagaimana sikap Anda? Apakah selanjutnya Anda masih bisa percaya kepada bendahara kelas itu?

Sebuah negara pada dasarnya adalah sebuah “kelas besar”. Masing-masing “warga kelas” juga membayar “iuran” berupa aneka pajak dan retribusi. Bahkan pembayarannya dilakukan sebelum uang itu diterima. Seorang karyawan akan menerima gaji setelah dipotong pajak penghasilan yang besarnya 5-30% tergantung dari besarnya gaji. Uang itu diambil dulu sebagai “iuran kelas” sebelum diterima oleh si karyawan. Besarnyapun tidak tanggung -tanggung. Bisa sampai 30% alias hampir sepertiga gaji. Maka, “iuran kelas” nya pun luar biasa besar. Ratusan bahkan ribuan trilyun!

“kelas besar” pun melakukan “pembelian nasi bungkus”. Tentu saja angkanya juga trilyunan: membangun jalan raya, jembatan, gedung-gedung pencakar langit, bendungan, pelabuhan, bandara, dan sebagainya. Bagaimana kalau “bendahara kelas besar” itu juga mengambil uang “iuran kelas” secara diam-diam? Masihkah “warga kelas” percaya?

Itulah yang dijaga dengan ketat oleh Lee Kwan Yew. Maka, jangan heran dengan prestasi ekonominya. Bahkan bukan hanya prestasi ekonomi. Secara umum masyarakatnya juga lebih disiplin. Biarpun jam 2 malam sepi sendirian, seorang pengendara tetap akan berhenti bila lampu lalu lintas menyala merah. Mereka taat karena percaya kepada pemasang lampu merah. Siapa lagi kalau bukan Lee Kwan Yew dan penggantinya beserta anak buahnya. Itulah salah satu pelajaran penting dari From Third World To First. Dari negara ketiga menjadi negara pertama di dunia.

Maka, saya setuju sekali dengan cara RRC menyelesaikan ulah para “bendahara kelas” yang menodai kepercayaan: hukuman mati. Inilah yang menjadikan RRC bangkit menyalip Indonesia. Tetapi tentu saja harus ada sedikit penyesuaian. Bila di RRC hukuman mati dilakukan dengan ditembak, di Indonesia cukup memakai cutter kecil aja. Itupun pake cutter bekas yang sudah karatan. Biaya kecil untuk memotong leher para “bendahara kelas” yang menodai kepercayaan. Ini kira-kira baru seimbang dengan penghianatan terhadap pengorbanan lebih dari 200 juta “warga kelas” negeri ini melalui “iuran kelas” berupa pajak. Dirgahayu Indonesiaku?

tulisan ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya.

Jangan Sampai Salah Persepsi Pada Nabi: Mencintai Orang Miskin


mencintai orang miskin

mencintai orang miskin

Mencintai Orang Miskin

Oleh Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Melalui pesawat telepon, Fulan Satu mencetakan kesulitan ekonominya. Ia adalah seorang pedagang roti. Setiap pagi Fulan mengambil roti dan menjualnya keliling. Nilai seluruh barang dagangan yang biasa dibawanya tiap hari adalah sekitar Rp 500 ribu. Dengan cara inilah ia menghidupi diri dan keluarganya

Suatu saat, sebagaimana yang dicerikakannya melali pesawat telepon, keluarganya membutuhkan uang mendadak. Karena tidak ada alternatif lain, ia pun terpaksa memakai uang yang biasa dipakai untuk modal berjualan roti. Akhirnya, sudah beberapa hari ia tidak bias lagi berjualan roti. Praktis sendi ekonomi keuarganya kacau balau.

Melalui pesawat telepon, fulan kemudian menyatakan keinginannya untuk datang dan berkonsultasi. Ia ingin menyelesaikan permasalahannya. Ia ingin bangkit lagi. Ia ingin berdagang roti seperti biasanya. Sayapun mempersilakan Fulan untuk datang.

Sebagaimana waktu yang dijanjikan, fulang datang. Pertemuan dengannya saya manfaatkan untuk menggali lebih lanjut informasinya. Berkenalan lebih dalam tentang iri dan usaha jualan rotinya. Singkat kata, Ia memang membutuhkan suntikan dana agar sendi ekonominya berputar kembali. Ketika pulan, saya pun memberikan uang yang dibutuhkannya untuk melanjutkan usaha jualan rotinya. Janjinya, ia akan mengembalikan uang itu pada saat tertentu.

♦♦♦♦

Ia adalah seorang pedangan kue gorengan tidak jauh dari rumah saya. Tiap malam, Fulan Dua, sebut saja begitu, menjajakan pisang goreng, singkong goreng, ote ote, tempe goreng, dan sejenisnya di sebuah kios sederhana di pinggir jalan kampung. Dengan cara inilah ia membiayui kebutuhan hidup istri bersama seorang anaknya.

Suatu saat, sebagaimana yang diceritakan pada saya, ia terpukul bukan kepalang. Peralatan untuk memasak kue gorengannya hilang dicuri orang. Maka, praktis seluruh aktivitas bisnsinya terhenti. Sumber pendaptan keluarga pun terputus. Ekonomi keluarganya korat karit.

Beban permasalahan yang dirasakannya berat mendorongnya untuk mendatangi saya. Intinya, ia memerlukan bantuan. Ia butuh dipinjami uang yang cukup untuk membeli perlengkapan dapur yang hilang. Tanpa pikir panjang, saya langsung meminjaminya. Tidak terlalu banyak memang. Tetapi dengan uang itu ia sudah bisa mendapatkan kembali “cangkul” bisnsisnya yang hilang.

♦♦♦♦

Suatu sore sepulang sholat magrib dari masjid saya sedang bersantai di rumah. Ngobrol santai sana sini dengan keluarga. Tiba tiba pintu diketuk oleh seseorang. Begitu saya buka, yang datang adalah seorang lelaki paruh baya. Fulan tiga, sebut saja begitu, menceritakan kesulitan hidupnya. Anaknya yang nomor tiga dirawat di rumah sakit dengan sakit cukup serius: muntah darah.

Ia pun menceritakan lebih detail tentang latar belakang kelaurganya, anak anaknya, tempat tinggalnya, proses membawa anaknya ke rumah sakit, dan…..tentu saja tentang kesulitan finansialnya. Ia tidak memiliki kemampuan ekonomi yang cukup untuk membayar biaya rumah sakit.

Atas kesulitan itu, ia perlu bantuan. Ia minta sumbahan uang seiklasnya. Saya pun tergerak untuk membantunya. Rp 20 ribu saya berikan secara tunai. Karena fisiknya yang masih kuat dan latar belakang, saya berjanji akan memberinya lagi uang Rp 100 ribu keesokan harinya dengan syarat: setelah ia membersihkan rerumputan liar yang tumbuh di sebuah tanah kosong di samping dan belakang rumah saya. Ia pun berjanji untuk datang.

♦♦♦♦

Wasis Sulaiman, kawan yang pimpinan PT Indosat di Medan pernah bercerita tentang renungannya. Renungan tentang Nabi Muhammad SAW. Orang Islam selalu diajari bahwa Nabi SAW sangat mencintai orang miskin. Pak Wasis-semikian saya biasa memanggilnya- risau terhadap orang islam yang mengagungkan kemiskinan. Bahkan hidup miskin dengan alasan agar dicintai nabinya.

Renungan pak Wasis dilatar belakangi oleh orang orang seperti Fulan Satu, Fulan Dua dan Fulan Tiga di atas. Ada apa dengan para fulan itu? Ketiganya kompak tidak pernah lagi datang ke saya sebagaimana yang telah dijanjikannya. Menghilang.

Dalam renungan Pak Wasis, inilah salah satu karakter negatif orang miskin di antara banyak karakter negatif lain: tidak bisa dipercaya, tidak suka belajar, kata katanya tidak bisa dipegang, sulit diatur, jorok, menjengkelkan, suka “menduduki” tempat tempat umum dengan lapak lapak dagangannya, dan sebagainya. Tentu banyak orang miskin yang tidak seperti ini. Tetapi Fulan Satu, Fulan Dua dan Fulan Tiga ternyata juga punya banyak kawan.

Nabi menyintai orang miskin. Bukan karena orang miskin itu hebat sehingga kita harus menjadi miskin. Tetapi, justru karena nabi lah yang hebat. Tidak dibutuhkan orang hebat untuk menyintai orang kaya yang cerdas, pintar, menepati janji, rapi, wangi, perlente, janjinya selalu tetap karena di back up bank garansi, dan sebagainya. Maka, kita harus meneladani nabi yang hebat. Hebat karena terhadap orang miskin-termasuk yang menjengkelkanpun- nabi masih sangat dalam cintanya. Tentu bukan dengan mempertahankan karakter buruk yang sering identik dengan orang miskin. Tetapi dengan mengajarinya menajadi orang yang kata katanya bisa dipegang, menjaga kebersihan, tidak menempati lahan lahan yang bukan hakmiliknya, dan sebagainya. Terpercaya. Jika sudah seperti ini, tentu akan mudah bagi mereka untuk dipercaya para pemilik uang. Kalau bekerja karirnya akan menanjak. Kalau berjualan dagangannya akan laris. Tidak miskin lagi!

tulisan ini pernah dimuat di majalah Yatim, terbit di Surabaya

Poligami: Muda Segar Cantik


Perbincangan ini terjadi setelah seminggu saya beraktifitas di Fakultas Kedokteran Gigi Unair untuk sebuah pekerjaan SNF Consulting. Di fakultas yang berdiri sejak jaman Belanda ini saya merasakan suasana yang berbeda dengan aktivitas keseharian selama ini. Suasananya terasa seperti dua puluh tahun lalu. Suasana remaja di kala mahasiswa.

Perasaan itu kemudian saya angkat sebagai bahan diskusi di situs jejaring sosial dunia maya. “Serasa muda lagi setelah seminggu beraktifitas di FKG Unair. Seperti 20 tahun yang lalu”. Begitulah persisnya kalimat pancingan diskusi yang saya tulis.

Ternyata banyak sekali kawan-kawan yang merespon. Yang menarik adalah respon yang mengarah pada kecantikan para mahasiswi kedokteran gigi yang pada umumnya memang berasal dari kalangan menengah atas. Ke kampus naik mobil bagus. Tidak perlu berkusut masai karena terpaan udara knalpot jalanan ala pengendara sepeda motor. Lebih punya kesempatan untuk merawat diri supaya tampak lebih segar dan cantik.

“Bu Iman harus siaga I nih….hahahaha….”. ini adalah tanggapan seorang kawan yang berprofesi sebagai seorang guru dan kebetulan masih bujang.

Begitu asyiknya berbagai komentar sejenis ini, istri saya yang biasanya tidak aktif berdiskusi online pun tertarik untuk berkomentar.

“Tenang…saya percaya sama Pak Iman. Kalau memilih pasti yang cantik, muda dan segar. Betul kan pak?”. Inilah kalimat yang ditulis oleh ibu dari 7 anak-anak saya.

“Lho pak…. ada lampu hijau niih. Ayo cepat….Jangan lupa undangannya!”. Sahut kawan yang lain.

Yang lebih menarik, seorang ibu yang kebetulan juga sahabat saya sekaligus sahabat istri ikut nimbrung pula. Ia mengacungkan jempol untuk komentar istri saya. Katanya…ia salut dan pingin bisa bersikap seperti istri saya. Walaupun ia belum mampu untuk itu. Hehehe…..



Pembaca yang antusias, menikah lagi adalah topik yang selalu menarik untuk dibicarakan. Yang pro bersemangat menyebarkannya sebagai solusi terhadap berbagai masalah. Ada pula yang mengampanyekannya sebagai sunah rasul. Yang kontra menentangnya dengan alasan kesetaraan gendar. Bapak-bapak para suami sering membincangkannya sebagai bahan gojlokan dengan kawan-kawan.

Iman Anni akad nikah

Mas Iman bagaimana? Menurut saya, menikah lagi bukanlah keputusan yang sepele. Jauh lebih rumit dari pada ketika 18 tahun lalu saya memutuskan menikah. Banyak sekali PR yang harus dibereskan. Beberapa diantaranya: hak anak-anak tertunaikan dengan baik. Hak istri yang telah 18 tahun ikut banting tulang demi eksistensi keluarga harus dipastikan tertunaikan dengan ekselen. Bersama istri, kami juga masih mewajibkan diri untuk menyekolahkan 7 anak semuanya sejak SMA di luar negeri. Tentu pakai duit yang tidak sedikit. Bahkan masih banyak lagi PR yang harus dikerjakan.

Dan faktanya, ada beberapa kawan dekat saya yang berpoligami dan gagal. Ada yang akhirnya bercerai dengan istri kedua. Ada juga yang bahkan bercerai dengan istri pertama. Yang lebih tragis lagi, ada yang akhirnya bercerai dengan istri pertama dan istri kedua sekaligus. Kehilangan semuanya. Bukan karena poligami yang salah. Semata karena keputusan poligami diambil dengan cara yang tidak komprehensif.

kasihku

muda segar cantik juga

Maka….jawab saya….. “Terima kasih kawan-kawan atas dukungannya. Wes….aku tak nyanyi lagune Nindi wae….(sudahlah….biarkan saya menyanyi lagunya Nindi saja)…..hatiku hanya ada satuu….sudah untuk mencintaimu…. (sambil menghadiahkan sekuntum bunga indah kepada ibu dari 7 anak saya)”. Itulah kalimat penutup diskusi internet itu. Alhamdulillah….istri saya masih muda segar dan cantik juga. Sesuatu yang relatif. Allahu Akbar!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Yatim, terbit di Surabaya.

Chatsworth Road: Upacara Nostalgia


Chatsworth Road di suatu sore. Niat saya sebenarnya adalah untuk mencari informasi tentang pendidikan di Singapura. Menggali berbagai celah yang mungkin untuk bisa masuk ke sekolah setingkat SMA bagi si buah hati yang baru lulus SMP di tanah air. Tetapi apa daya, begitu mengetuk pintu gerbang, petugas keamanan dengan logat melayunya menjelaskan bahwa kantor sedang libur. Sebagaimana kantor kantor di tanah air, tanggal 17 Agustus 2009 adalah hari libur untuk Kedutaan Besar Republik Indonesia di Chatsworth Road, Singapura.

Tetapi ada informasi menarik dari petugas keamanan. Jam 4 sore akan ada upacara penurunan bendera. Selain dihadiri oleh para staf KBRI, upacara juga boleh diikuti oleh warga masyarakat indonesia di negeri Singa ini. sesuatu yang menarik. Upacara tujuh belasan di negeri seberang. Saya pun putuskan untuk mengikutinya.

Benar benar nostalgia. Saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan mengiringi menurunkan bendera, ingatan saya terbang kesana kemari. Tentang masa kecil di kampung halaman yang para peserta upacaranya bertelanjang kaki tak bersepatu. Tentang saat menjadi petugas upacara serupa masa masa remaja. Tentang keterharuan mendengarkan lagu perjuangan saat ikut test beasiswa ke luar negeri dan gagal. Tentang keengganan ikut upacara masa masa mencari jati diri di kala mahasiswa. Tentang tanah air dengan segala suasananya.

Tentang suasana tanah air ini bahkan saya merasakan keterharuan yang dalam. Melayanglah ingatan saya bolak balik Surabaya-Singapura. Di Surabaya jalanan dipadati pengendara motor penuh sesak. Di Singapura sepeda motor hanya ada satu dua saja. Orang orang lebih suka bepergian kemanapun dengan menggunakan bus atau kereta listrik. Kereta listrik dan bus yang sejuk nyaman jauh lebih murah dari pada biaya naik sepeda motor.

Pagi dan sore hari awal dan akhir jam kerja di Surabaya bisa dipastikan jalanan akan padat oleh sepeda motor. Sepeda motor bisa dikredit nyaris tanpa uang muka. Cicilannya pun sangat murah bahkan untuk kantong masyarakat yang hanya mengandalkan gaji UMR kelas buruh pabrik sekalipun. Apalagi bila dibandingkan dengan ongkos dan waktu yang terbuang dalam ketidaknyamanan sarana transportasi publik. Belum lagi risiko kecopetan. Maka….kredit sepeda motor adalah solusi jitu. Inilah yang mengakibatkan sepeda motor menyemut di jalan. Kepadatan akan sangat meningakt luar biasa pada jam berangkat dan pulang kerja. Macet.

Pagi dan sore hari awal dan akhir jam kerja di Singapura sungguh berbeda. Jalanan tetap lancar. Tidak tampak kepadatan yang menyolok. Kepadatan justru dirasakan di kabin dan stasiun kereta. Bahkan terkadang penumpang yang sudah antri di dekat pintu kereta harus menunggu kedatangan kereta beriktunya. Kereta penuh penumpang.

Daya tarik kereta bukan hanya karena murah dan nyamannya. Tetapi juga frekuensinya. Kereta yang jaringannya bisa memotong kepadatan bangunan pusat kota dengan terowongan bawah tanah itu datang tiap beberapa menit. Tidak sampai sepuluh menit menunggu, kereta pasti sudah datang dengan tepat waktu. Ini menjadikan perjalanan berangkat dan pulang kantor maupun ke tempat tempat lain bisa diprogram. Tidak ada risiko terlambat karena harus menunggu kereta.

Setelah keluar dari stasiun kereta terdekat, penumpang bisa melanjutkan perjalanan dengan bus kota. Karena bus dan kereta sudah dikelola secara terpadu, penumpang cukup menggunakan satu kartu prabayar untuk seluruh jalur bus dan kereta api. Praktis sekali. Tarinya pun jauh lebih murah dibanding pembayaran tunai.

Singapura-Surabaya jauh berbeda. Yang membuat saya makin terharu adalah fakta bahwa Surabaya telah merdeka pada tahun 1945. Semantara itu, Singapura baru meredeka 20 tahun berikutnya alias tahun 1965. Sesuatu yang sungguh menyedihkan. Merdeka duluan tetapi kalah dalam pembangunan fasilitas layanan publik.

Banyak yang menjadikan jumlah penduduk banyak sebagai alasan terlambatnya pembangunan Surabaya dan kota kota besar lain di tanah air. Faktanya, penduduk yang besar adalah pasar yang sangat baik bagi investasi transporatsi kereta bawah tanah atau bus kota yang nyaman. Penduduk yang banyak jualah yang menjadikan negeri ini masuk anggota G-20 alias kelompok 20 negara yang ekonominya terbesar di dunia. Kita masuk G-20 bersama Amerika, Jepang, Inggris dan raksasas ekonomi lain. Singapura tidak masuk.

Batin ini menangis. Menangisi para siswa yang suka curang dalam ujian. Menangisi para mahasiswa yang suka titip absen. Menangisi para pejabat yang menghambur hamburkan uang negara. Para pegawai yang suka menerima “hadiah” alias sogokan dari para pemasok atau kontraktor proyek. Menangisi aksi “damai” pelanggaran lalu lintas. Menangisi moral anak bangsa yang telah rusak. Karakter yang telah “memakan” uang jatah membangun jaringan kereta bawah tanah. Dan….hiduplah Indonesia Raya…… di akhir lagu kebangsaanpun seolah berubah menjadi pertanyaan. Hidupkah Indonesia Raya? Chatsworth road…..moga bisa menjadi renungan untuk berubah. Anda bagaimana?

Diskusi lebih lanjut? Gabung Grup Telegram  atau Grup WA SNF Consulting

Tulisan Iman Supriyono ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya

Baca juga catatan perjalanan inspiratif lainya:
Jamaah Salahuddin: Intangible Asset
Sudu: Miri Municipal Council
Manokwari: Menang Tanpa Pesaing
Moscow: Korporasi USA
Osh: Pasar Tradisional Kyrgistan
Uzbekistan: Agar Rupiah Laku Dimana-Mana
Ho Chi Minh: Kota Tanpa Mal
Pnom Penh: Hyundai
Makkah: Koperasi KPF
Singapura: Totalitas Melayani
Kuala Lumpur: TKI
Anjing Bangkok: Sahabat atau Musuh
Khao San Road: 7 Pagi 11 Malam
Palembang: Kewaspadaan Korporat
Nha Hang: Hijrah Tumbuh Berpresati
Tanjung Selor Tarakan: Cessna Grand Caravan
Simpadan Ligitan: Tuban

Ironi Dunia Pendidikan: Guru Yang Terpaksa Menipu


Guru Yang Terpaksa Menipu

oleh Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Sore itu seminar baru saja selesai. Kepada saya datang serang peserta yang ingin berrkonsultasi. Fulaah, sebut saja begitu, adalah seorang guru di sebuah SMK negeri. Beberapa bulan terakhir, ia ditunjuk menjadi bendaharawan sekolah. Sebagai seorang yang berjiwa pengabdian, dia meerima tugas itu dengan tulus. Tanpa harapan kompensiasi finansial. Semuanya dikerjakan dengan iklas.

Yang ia tanyakan adalah tentang apa yang dikerjakannya. Bukan pekerjaan mengajar atau mendidik. Tetapi pekerjaan tambahan sebagai seorang bendahara di sekolahnya.

Dalam posisinya sebagai bendahara, membuat laporan keuangan adalah pekerjaan rutin. Ia harus mencatat setiap uang yang masuk dan melaporkanya seperti apa yang terjadi. Untuk tugas ini tentu saja dia bisa menmgerjakannya dengan baik. Sesuatu yang gampang. Tetapi tentu bukan ini yang ditanyakan. Bukan ini kesulitannya.

Pertanyaan Bu Fulanah adalah tentang laporan keuangan fiktif. Sekolah sering kali menerima dana dari luar. Untuk itu, sekolah harus membuat laporan. Sementara,, sering kali antara jumlah yang diterima dengan pengeluaran tidak cocok. Jumlah yang senyatanya diterima kurang dari jumlah yang harus dilaporkan. Akhirnya, Bu Fulanah harus mencari cari bukti pembelian palsu. Kuitansi palsu berisi pembelian buku, spidol, kertas, ongkos transportasi dans ebagainya. Sederet buktu bukti palsu menjadi pekerjaannya sehari hari.

Untuk keperluan ini, salah satu yang dilakannya adalah minta kuitansi kosongan di toko tempatnya membeli suatu barang. Saat membeli buku misalnya, ia minta kepada toko dua kuitansi. Satu kuitansi berisi pembelian buku. Satu kuitansi kosong digunakan untuk menulis bukti pembelian fiktif. Tujuannya adalah untuk melengkapi laporan penggunaan uang yang sebenarnya tidak digunakan.

Bahkan ada yang lebih memberatkan Bu Fulanah. Karena ia tidak familiar dengan komputer, untuk menyusun laporang keuangan sering kali ia meminta tolong buah hatinya. Maka, si buah hati pun akhirnya jadi tahu tentang laporan tipu tipu pekerjaan ibunya. Bu Fulanah bersedih karena malah si buah hatinya yang menegur ibundanya. Menegur agar sang ibunda tidak membuat laporan tipu tipu seperti itu.

Dalam hatinya berkecamuk. Mestinya si buah hati harus mendapatkan teladan kejujuran yang baik. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Si buah hati yang sudah punya keyakinan terhadap kebenaran dan kejujuran justru harus membatu ibunya melakukan kecurangan dan penipuan. Hatinya miris.

Hati Bu Fulanah gundah. Satu sisi ia harus mengajari murid muridnya dengan keluhuran budi pekerti. Hal yang sama juga harus diajarkan kepada buah hatinya. Sisi lain ia harus melakukan perbuatan tipu tipu. Dua hal yang sangat kontras. Menyiksa. Bagimana menghadapinya?
♦♦♦
Dalam proses belajar mengajar di sekolah, guru selalu berpedoman pada kurikulum. Apa yang harus disampaikan dari waktu ke waktu selama proses pembelajar telah ditentukan dengan jelas. Apa yang akan dicapai oleh murid sudah ditentukan dengan jelas. Semuanya tertulis dan dinyatakan dengan tegas dalam kurikulum.

Dengan kerangka kurikulum, secara periodik terjadi tatap muka antar guru dengan murid. Pada umumnyua tatap muka akan terjadi seminggu sekali atau lebih. Tatap muka secara periodik ini akan memunculkan interaksi intensif antara guru dan murid. Interaksi intnsif inilah yang kemudian justru menjadi transfer nilai secara alami.

Guru yang kreatif akan menyalurkan eneri kreatifnya kepada para murid. Guru yang punya jiwa kepemimpinan bagus akan memberikan teladan kepada muridnya bagaimana memimpin orang. Guru yang taat beribadah akan memancarkan energi ketakwaannya kepada murid. Guru yang jujur akan mentransfer kejujurannya kepada murid muridnya. Tranfer terjadi melalui mimik, bahasa tubuh, perbuatan, intonasi, nada bicara, keteladanan dan saran sarana interaksi lain. inilah ayng dalam istilah pendidikan disebut hidden curriculum. Kurikulum tersembunyi.

Pendidikan pada dasarnya adalah proses membangun karakter anak didik. Proses ini makin urgen pada tingkat penddiikan dasar hingga menengah. Dalam konteks ini, hidden curriculum jauh lebih efektif dari pada kurikulum formal. Hidden curriculum menyentuh langsung ke hati sanubari anak didik melalui tatap muka dalam penyampaian kurikulum formal.

Nah, bagaimana seorang Fulanah bisa membangun karakter mental anak didiknya sementara ia sendiri harus melakukan pekerjaan yang sangat tidak berkarakter? Tentu tidak mungkin. Maka, saran saya kepada Bu Fulanah adalah meninggalkan pekerjaan tipu tipu. Pekerjaan yang akan menghancurkan missi pendidikan dan niat tulusnya. Mendidik sebagai ibadah. Bagaimana caranya? Tulis laporan apa adanya. Tidak usah tipu tipu. Bila dipaksa oleh atasan untuk tipu tipu? Tunjukkan karakter kokoh. Tidak ada kata terpaksa dalam kamus guru berkarakter. Inilah saatnya membuktikan pribadi guru yang sesungguhnya. Untuk ditranfer melalui hidden curriculum kepada para murid. Bisa!

tulisan ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya

Istri Lebih Pintar Nyari Duit: Keluarga Tetap Harmonis dan Kokoh


perempuan pekerja keras

perempuan pekerja keras

Istri Lebih Pintar Nyari Duit

oleh Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Guyonan ini terjadi beberapa saat setelah seorang sahabat, sebut saja Budi, belum lama melangsungkan akad nikahnya dengan wanita pujaan hatinya, sebut saja Wati. Guyonan terjadi saat pasangan sejoli itu hadir dalam sebuah acara yang juga dihadiri oleh Pak Suherman Rosyidi, dosennya di Universitas Airlangga. Dosen fakultas ekonomi yang akrab dipanggil Pak Herman ini memang dikenal kaya dengan aneka guyonannya.

“Budi memang pintar bisa nikah dengan Wati”, begitu dosen yang mengajar di jurusan ekonomi syariah ini membuka guyonan. Yang disebut namanya tersenyum senyum sambil menunggu kata kata apa yang akan keluar dari orang yang mendidiknya kala masih menempuh pendidikan sarjana ekonominya.

“Yang bodoh itu kan Wati. Kok mau maunya dia sama Budi”, begitu lanjut Pak Dosen lulusan Australia ini. Sontak semua isi ruangan tertawa ngakak. Demikian juga Si Budi dan Wati. Semuanya larut dalam keterpingkalan karena guyonan dosen yang juga dikenal sangat kritis ini.

&&&

Studio FM 93,8 untuk sebuah talk show mingguan. Topik malam itu adalah tentang istri yang lebih pintar mencari uang dibanding suaminya. Kondisi dimana suami istri sama sama bekerja dan kemudian karir sang istri lebih berkembang dari pada sang suami. Suatu topik yang menarik karena jika tidak disikapi dengan baik bisa berujung pada keretakan rumah tangga bahkan perceraian.

Sebagai nara sumber acara, saya memang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk sesuai apa yang pernah saya pelajari. Tetapi tidak jarang juga jawaban itu datang dari pendengar yang mau berbagi pengalaman menghadapi permasalahan serupa. Seorang ibu, sebut saja Tati, berkisah tentang pengalamannya berkorban demi kekokohan rumah tangga pada tahun ketiga pernikahannya. Ia yang bekerja pada perusahaan asing dan akan dipromosikan ke Jakarta dengna gaji menggiurkan terpaksa harus mundur dari karir demi keluarganya. Ia lebih memilih memberi kesempatan kepada suaminya yang sejak beberapa saat sebelum menikah terkena PHK merintis usaha kecil kecilan di Surabaya. Ia tinggalkan karir cemerlangnya di perusahaan asing dan kemudian hidup sederhana bersama orang terkasihnya. Singkat cerita Tati sukses membina rumah tangga termasuk dalam aspek ekonomi. Apakah setiap orang bisa seperti Tati? Tentu tidak. Tidak selalu solusi ala Tati bisa diterapkan. Ada kondisi tertentu yang tidak bisa meniru apa yang dilakukan Tati.

Lain Tati, lain pula Lina, bukan nama sebenarnya. Toto, sang suami, bukan nama sebenarnya, sejak awal merintis karir sebagai pengusaha pemasok pabrik. Bersamaan dengan itu Lina bekerja di sebuah perusahaan. Karirnya Lina di perusahaan bagus. Gajinya jauh lebih besar dari pendapatan suaminya.

Saat melihat ada peluang menjadi pengusaha di bidang yang selama ini ditanganinya di perusahan tempatnya bekerja, Lina memutuskan untuk keluar dan merintis usaha sendiri. Ia tidak mulai dari nol karena perusaan termpatnya bekerja kemudian menjadi pembeli produknya. Kini, penghasilan Lina dari bisnisnya jauh melampoi penghasilan Toto.

Bagaimana hubungan Toto-Lina? Mereka tetap harmonis dan bahkan sangat harmonis. Ekonominya juga sangat mapan. Anaknya disekolahkan di luar negeri dengan biaya belasan juta rupiah perbulan. Apa rahasia Lina? Tentu banyak. Salah satunya adalah komunikasi yang sangat cair. Bukan sekedar cair antara Lina dan Toto. Tetapi juga cair dengan kolega masing masing. Lina bersahabat dengan sahabat-sahabat suaminya. Sebaliknya, Toto juga bersahabat dengan sahabat-sahabat istrinya. Saya dan istri merasakan itu. Kami bersahabat dengan mereka berdua. Bahkan saya juga bersahabat dengan buah hati mereka.

Namanya bisnis suatu saat bisa berubah. Saat ini memang bisnis Lina lebih moncer. Tetapi dengan berjalannya waktu bisa saja suatu saat nanti akan terbalik. Makanya tidak Toto tidak risau dengan apa yang terjadi saat ini. Demikian pula Lina. Keduanya tetap suami istri yang kokoh. Tetap keluarga yang kokoh. Siapapun yang lebih pintar nyari duit. Toh duit bukan unsur utama yang menjadikan mereka saling memilih untuk membangun sebuah keluarga.

&&&

Ingat Lina saya jadi ingat guyonan pak Herman. Toto pintar sekali karena bisa menikah dengan Lina yang baik dan sangat piawai nyari duit. Bukan hanya itu, Suami Lina juga pintar mengkondisikan istrinya sedemikian hingga penghasilan Lina yang lebih tinggi tidak mengganggu keharmonisan keluarga. Mereka berdua adalah pasangan yang kokoh. Ekonomi kokoh. Suami lina pintar. Bukan karena Lina bodoh seperti guyonan pak herman…heheheh

tulisan ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya

Aziz Badjabir: Guru Yang Mengangkat Harkat Murid Katroknya


Tahun 90-an saya adalah seorang mahasiswa di kampus ITS Surabaya. Tepatnya di jurusan Teknik Mesin. Sebuah kampus yang saya rasakan bersuasana mirip STM atau yang sekarang menjadi SMK bidang teknik. Hampir semua mahasiswanya laki laki. Hanya satu dua saja mahasiswa perempuan yang “tersesat” masuk jurusan ini.

Cowok bangeets. Jangan berharap ada semerbak bau parfum disini. Jangan berharap penampilan parlente disini. Kaos oblong dan blue jeans seolah menjadi “seragam wajib” kampus di Sukolilo ini. Maka…satu dua cewek yang ada pun ikut “seragam wajib” ini. terpaksa tampil maskulin. Atau bahkan mungkin dipaksa oleh lingkungan untuk tampil tomboy.

Salah satu ciri kampus model “cowok bangeets” ini adalah dalam selera makan. Makan apa adanya di warung sederhana sekitar kampus. Yang penting perut bisa terisi. Yang penting bisa cukup untuk energi belajar. Yang penting cukup untuk mengerjakan tugas kuliah dan praktikum yang datang silih berganti. Termasuk tugas menggambar yang ketika itu belum mengenal software gambar teknik di komputer. Lembur semalam suntuk.

Berkenaan dengan makanan ini, ada sebuah peristiwa yang sangat terkenang sepanjang hidup. Suatu saat saya sebagai ketua kelompok kajian Islam di jurusan teknik mesin menghadap ketua jurusan. Tujuannya adalah untuk mengurus sebuah kegiatan. Setelah berbincang sana sini tentang kegiatan itu, ketua jurusan waktu itu, Pak Aziz Badjabir memberikan sebuah kejutan: mengundang saya untuk makan malam di rumahnya. Saya boleh mengajak seorang kawan untuk acara makan malam itu.

Maka, pada jam yang telah disepakati, saya datang ke rumah Pak Jabir-demikian dia biasa dipanggil. Di meja makanan di rumahnya yang asri….saya merasakan kelezatan yang luar biasa. Biasa makan di warung dengan menu asal kenyang……diundang makan seorang dosen ketua jurusan. Tentu saja ini menjadi menu istimewa. Begitu istimewanya sampai sampai peristiwa itu masih terkenang hingga saat ini. Lebih dari lima belas tahun sesudahnya.

■■■■

Suatu malam di di bulan Maret 2009. Sebuah kabar duka tertulis di halaman facebook saya. Melalui situs perkawanan dunia maya ini seorang kawan mengabarkan bahwa baru saja Pak Aziz Badjabir meninggal dunia. Segeralah kenangan saya tertuju pada suasana di meja makan awal tahun 90-an. Seorang dosen yang dengan akrab mengundang mahasiswanya yang anak desa untuk makan malam. Makan malam dengan kelezatan luar biasa.

iman katrok

Anak desa diajak makan malam dosen. Tentu sebuah kebahagiaan luar biasa

Saat itu semangat hidup saya melambung. Merasa diperhatikan oleh dosen. Merasa benar benar dianggap murid oleh seorang guru yang pakar di bidang mesin pendingin. Tangan dingin beliau menyentuh hati saya sebagai seorang mahasiswa dari udik. Sentuhan untuk berkarya dan berprestasi. Tidak boleh kalah bahkan harus melampaui kawan kawan mahasiswa yang berasal dari kota.

■■■■

Pembaca yang baik, suatu saat nanti saya dan Anda akan menyusul Pak Jabir. Menghadap kepada Sang Pencipta. Kita tidak tahu kapan waktunya. Yang kita tahu, peristiwa itu pasti akan terjadi pada diri kita siap ataupun tidak.

Menghadapi peristiwa itu, yang harus kita lakukan adalah berlomba lomba menabung catatan kebaikan. Mengundang makan malam sebagai sarana menyentuh hati seseorang adalah salah satu yang lebih dari lima belas tahun lalu dilakukan oleh Pak Jabir. Sesuatu yang menyentuh lembut di sanubari saya sebagai salah seorang muridnya.

Barangkali inilah salah satu alasan jawaban Nabi SAW saat ditanya tentang islam apa yang paling baik. Jawabnya…..memberi makan dan menyebarkan salam. Kepada orang yang sudah dikenal maupun kepada orang yang belum dikenal. Ternyata, memberi makan bukan hanya mengandung arti menyelamatkan orang dari kelaparan. Memberi makan juga bermakna mendidik. Memberi makan juga mengandung makna menyentuh sanubari. Ngobrol santai di meja makan sambil menginspirasi orang lain untuk hidup lebih baik. Tentu saja sesuai dengan kriteria yang tunduk pada kehendak Sang Pencipta segala macam makanan. Selamat jalan Pak Jabir….. doa kami para muridmu menyertai.

Tulisan ini pernah dimuat di majalah BMH news, terbit di surabaya, dengan judul “Aziz Bajabir”